Anda di halaman 1dari 37

Makalah PBL Mandiri Blok 25 Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan

Disusun oleh: Olivia Ekaputri C 3/ 10.2009.077 Email: freakingreen_lilhot@yahoo.com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta 2012

BAB I Pendahuluan Latar Belakang


Persalinan preterm merupakan hal yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian perinatal sebesar 65%-75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya dicegah karena dampaknya yang negatif; tidak hanya kematian perinatal tetapi juga morbiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan.

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui. Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm, seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihidramnion, kelainan kongenital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi.1

Page | 1

Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengerti mengenai prematuritas dan dismaturitas 2. Mahasiswa mengetahui apa factor risiko terjadinya prematuritas 3. Mahasiswa mengerti dan memahami komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada anak prematur

Sasaran Belajar
1. Anamnesis 2. Pemeriksaan (fisik dan penunjang) 3. Working Diagnosis 4. Etiologi 5. Faktor Risiko 6. Terapi 7. Komplikasi 8. Pencegahan 9. Prognosis

Page | 2

BAB II Pembahasan Skenario


Seorang mahasiswi berusia 18 tahun G1P0A0 melahirkan dengan masa gestasi 36 minggu di rumah bersalin. Berat badan lahir (BBL) 2140 gram, panjang badan lahir (PBL) 45 cm. Apgar score 6/8.

Anamnesis
1. Data diri pasien Nama, usia, agama, pendidikan, pekerjaan. Hal ini sangat penting untuk mengetahui latar belakang ibu, usia, usia ibu merupakan salah satu faktor terjadinya prematuritas. Selain usia, agama, pendidikan, pekerjaan berhubungan dengan hal-hal yang mendukung ibu. 2. Riwayat kesehatan ibu sekarang dan terdahulu Apakah ibu menderita penyakit-penyakit tertentu sebelum masa kehamilan seperti : o Hipertensi o Diabetes melitus o Penyakit menular atau penyakit menahun lainnya Apakah ibu pernah mengalami abortus atau kehamilan prematur sebelumnya? Bagaimana riwayat kehamilan sebelumnya?

3. Riwayat masa kehamilan Apakah ibu menderita penyakit selama kehamilan? ISK, DM, Hipertensi, TORCH, dan penyakit lainnya. Apakah ibu mengonsumsi obat-obat tertentu selama kehamilan? Bagaimana nutrisi ibu selama masa kehamilan? Apakah terdapat hamil dengan hidramnion? Apakah kehamilannya ganda? Apakah terdapat perdarahan antepartum?
Page | 3

Apakah terdapat komplikasi kehamilan seperti preeklampsia, KPD? Apakah ibu memeriksaan kehamilannya secara rutin?

4. Riwayat penyakit keluarga Apakah di keluarga terdapat penyakit menahun atau penyakit menular?

Pemeriksaan
Pemeriksaan terdiri atas pemeriksaan fisik dan penunjang 1. Pemeriksaan Fisik 2. Pemeriksaan Penunjang Masa Kehamilan 1. Pemeriksaan Fisik - Pemeriksaan tanda-tanda vital - Pemeriksaan Obstetrik yang terdiri atas Inspeksi, Palpasi, dan Auskultasi. o Inspeksi 1. Bentuk perut 2. Bekas luka/ operasi 3. Perubahan warna Linea Nigra ( Linea Fusca), Striae Gravidarum (Striae Livide, Striae Alba) 4. Tumor o Palpasi Palpasi dilakukan dengan teknik Leopold. 1. Leopold 1 - Pasien tidur terlentang dengan lutut ditekuk - Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien menghadap kea rah kepala pasien - Uterus dibawa ketengah - Dengan kedua tangan menentukan letak tinggi fundus - Dengan satu tangan tentukan bagian apa dari anak yang terletak dalam fundus

Page | 4

2. Leopold 2 - Posisi pasien dan pemeriksa tetap - Kedua tangan pindah ke samping uterus - Dengan kedua belah jari-jari uterus ditekan ke tengah untuk menentukan dimana letak punggung anak : kanan atau kiri - Pada letak lintang dipinggir kanan kiri uterus terdapat kepala atau bokong 3. Leopold 3 - Posisi tetap - Pemeriksa memakai satu tangan menentukan apa yang menjadi bagian bawah (kepala atau bokong) - Bagian bawah coba digoyangkan, apabila masih bias, berarti bagian tersebut elum terpegang oleh panggul (bagian terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul) 4. Leopold 4 - Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada presentasi kepala - Pemeriksa menghadap kea rah kaki pasien - Dengankedua belah tangan, dirtentukan seberapa jauh kepala masuk ke dalam panggul - Bila posisi tangan konvergen berarti baru sebagian kepala masuk ke dalam panggul - Bila posisi tangan sejajar berarti separuh kepala telah masuk ke dalam rongga panggul - Bila posisi tangan divergen merarti sebagian besar kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul - Leopold 4 tidak dilakukan kalai kepala masih tinggi o Auskultasi Bias dilakukan dengan stetoskop kebidanan atau dengan Fetal Heart Detector ( Doppler) Pada auskultasi bisa didengar bermacam bunyi o Dari anak : bunyi jantung, bising tali pusat, gerakan anak o Dari ibu : bising arteri uterine, bising aort, bising usus
Page | 5

Dengan Doppler bunyi jantung anak dapat didengar sejak umur kehamlan 12 minggu Dengan stetoskop baru didengar pada kehamilan 26 minggu Normalnya, frekuensi bunyi jantung anak antara 120-160 per menit

2. Pemeriksaan Penunjang Tabel 1. Jenis Pemeriksaan Penunjang Antenatal Rutin. Usia Kehamilan Permulaan hamil Hb Ht Urinalisis Golongan darah dan rhesus Antibody screen Rubella antibody titer Syphilis screen Cervical cytology Hepatitis B screen 8-16 minngu USG Amniocentesis Chroionic villi sampling 16-18 26-28 Maternal serum alphafetoprotein Diabetes screening Hb Ht 28 Antibody test for Rh(-) Prophylactic administration of Rho (d) Immunoglobin 32-36 USG Testing for STD Hb Ht Pemeriksaan

Page | 6

Pasca Persalinan 1. Ibu Untuk ibu pasca melahirkan pastikan seluruh plasenta telah keluar,apabila tidak dapat menyebabkan perdarahan postpartum. Selain itu perhatikan gizi untuk masa laktasi. 2. Neonatus Sesaat setelah dilahirkan, seorang neonates melewati beberapa penilaian yang terdiri dari : a. APGAR b. Pernapasan c. Sirkulasi d. Kesadaran, reflex, tonus e. Gejala tertentu

Working Diagnosis (NKB SMK) 1. Klasifikasi Neonatus


a. Menurut Berat Lahir2 1. Berat lahir amat sangat rendah 2. Berat lahir sangat rendah 3. Berat lahir rendah 4. Berat lahir cukup 5. Berat lahir lebih : < 1000 gram : 1000 1500 gram : < 2500 gram : 2500 - 4000 gram : > 4000 gram

b. Menurut Masa Gestasi dan Berat Lahir3 Cukup bulan o NCB-SMK o NCB-KMK o NCB-LMK Kurang bulan o NKB-SMK o NKB-KMK o NKB-LMK
Page | 7

Lebih Bulan o NLB-SMK o NLB-KMK o NLB-LMK

c. Lubchenco Curve Kurva Lubchenco sampai saat sekarang ini masih digunakan oleh setiap praktisi dalam merawat bayi baru lahir. Kurva Lubchenco adalah kurva pertumbuhan yang disajikan dalam bentuk table. . Definisi tentang bayi prematur adalah setiap bayi baru lahir dengan berat lahir <2500 g. Definisi ini direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics dan World Health Assembly. Dokter ahli pediatrics dihadapkan pada masalah hubungan antara usia kehamilan dan pertumbuhan janin. Dengan Kurva Lubchenco diharapkan dapat menunjukkan hubungan pertumbuhan janin dan usia kehamilan. Dari Kurva Lubchenco dimungkinkan definisi yang lebih tepat lahir prematur dan

adopsi luas dari istilah "kecil untuk usia kehamilan", "besar untuk usia kehamilan", "kelambatan pertumbuhan intrauterine," dan janin dysmaturity. Hal ini juga membentuk dasar untuk memeriksa bayi dengan berat badan lahir lebih besar dari nilai persentil lebih 90% atau berat badan lahir kurang dari persentil kurang dari 10, sehingga dapat diprediksi masalah medis yang mungkin terjadi.

Gambar 1. Kurva Lubchenco.4

Page | 8

2. Konsep Dasar
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang BB < 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram). BBLR dapt dibagi menjadi 2 golongan : 1. Prematur murni. Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan BB sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKBSMK).

2. Dismaturitas Bayi lahir dengan BB kurang dari BB seharusnya untuk masa gestasi itu, berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya. (KMK).

Klasifikasi Bayi Prematur 1. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang intensif. 2. Bayi pada derajat prematur sedang (moderately premature): 31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup lebih jauh lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga lebih ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif. 3. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur. Sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.

Page | 9

Tanda dan Gejala 1. Sebelum bayi lahir Pada anamnese seringkali dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus dan lahir mati. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan Pertumbuhan BB ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya. Setelah bayi lahir 2. Setelah bayi lahir2 BBL kurang dari sama denga 2500 gram PBL sama dengan atau kurang dari 46 cm Kuku panjangnya belum melewati ujung jari Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm Lengkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm Rambut lanugo masih banyak Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga Tumit mengilap, telapak kaki halus Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. Testis belum turun ke dalam skrotum. Unutk bayi perempuan menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia mayora Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang katif dan pergerakannya lemah Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan reflex hisap, menelan, batuk masih lemah aau tidak efektif, dan tangisnya lemah Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemka masih kurang Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit

Page | 10

3. Pemeriksaan pada Neonatus


a. Di kamar bersalin Menilai adaptasi Perlu segera diperiksa di kamar bersalin adalah apakah bayi beradaptasi dengan baik atau memerlukan resusitasi. Bayi yang memerlukan resusitasi adalah bayi yang lahir dengan pernapasan tidak adekuat, tonus otot kurang, ada mekonium di dalam cairan amnion atau lahir kurang bulan.

Nilai yang digunakan untuk menilai adaptasi ini adalah nilai APGAR. Nilai Apgar masih dipakai untuk melihat keadaan bayi pada usia 1 menit dan 5 menit, tidak dipakai untuk menentukan apakah BBL perlu resusitasi apa tidak, tapi dapat digunakan untuk menilai respon resusitasi.

Nilai Apgar adalah suatu ekspresi keadaaan fisiologis BBL dan dibatasi oleh waktu. Gangguan biokimia harus cukup signifikan sehingga dapat mempengaruhi nilai Apgar. Banyak factor yang dapat mempengaruhi nilai Apgar, antara lain pengaruh obat-obatan, trauma lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia, hipovolemia, dan kelahiran premature. Bayi premature tanpa asfiksia dapat saja mendapat nilai Apgar yag rendah. Nilai Apgar masih dipakai untuk melihat keadaan bayi pada usia 1 menit dan 5 menit, nilai Apgar 5 menit dapat digunakan untuk menentukan prognosis.

Page | 11

Tabel 2. APGAR SKOR.5 TANDA Appearance 0 Biru,pucat 1 Badan pucat,tungkai biru Pulse Grimace Activity Tidak teraba Tidak ada Lemas/lumpuh < 100 Lambat Gerakan sedikit/fleksi tungkai Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur > 100 Menangis kuat Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan Baik, menangis kuat 2 Semuanya merah muda

Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2 Nilai tertinggi adalah 10 Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi Nilai 0 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi

Page | 12

Tabel 3. Penilaian Apgar. 5 Skor Apgar 1 menit pertama 0-4 Depresi berat, Skor Apgar 5 menit Berisiko tinggi untuk terjadinya disfungsi selanjutnya oada system saraf pusat dan organ lain 5-7 8-10 Depresi system saraf Normal 8-10 normal

memerlukan 0-7

resusitasi segera

Menilai kelainan congenital Pemeriksaan di kamar bersalin juga untuk menentukan adanya kelainan kongenital pada bayi terutama yang memerlukan penanganan segera. Pada anamnesis perlu ditanyakan apakah ibu menggunakan obat-obat teratogenik, terkena radiasi, atau inferksi virus pada trismester pertama. Juga ditanyakan aapakah ada kelainan bawaan pada keluarga. Di samping itu perlu diketahui apakah ibu menderita penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan janin, seperti Diabetes mellitus, asma bronchial dan sebagainya. Sebelum memeriksa bayi perlu diperiksa cairan amnion, tali pusat, dan plasenta. Setelah itu dilakukan pemeriksaan bayi secarra cepat dan menyeluruh.
1. Berat lahir dan masa kehamilan Kejadian kelainan kongenital pada bayi kurang bulan 2 kali lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi kecil untuk masa kehamilan kejadian tersebut sampai 10 kali lebih besar. 2. Mulut Pada pemeriksaan mulut perhatikan apakah terdapat labio-gnato-palatoskisis, harus diperhatikan juga apakah terdapat hipersalivasi yang mungkin disebabkan oleh adanya Page | 13

atresia esophagus. Pemeriksaan patensi esophagus dilakukan dengann cara memasukkan kateter ke dalam lambung, setelah itu cairan di dalam amnion di aspirasi. Bila terdapat cairan melebihi 30 ml pikirkan kemungkinan atresia usus bagian atas. Pada pemeriksaan mulut perhatikan juga terdapatnya hipoplasia otot depressor anguli oris. Pada keadaan ini terlihat asimetri wajah apabila bayi menangis, sudut mulut dan mandibula akan tertarik ke bawah dan garis nasolabialis akan kurang tampak pada daerah yang sehat ( sebaliknya pada paresis N.fasialis) . 3. Anus Perhatikan adanya anus imperforatus dengan memasukkan thermometer ke dalam anus. Walupun seringkali atresia yang tinggi tidak dapat dideteksi dengan cara ini. Bila ada atresia perhatikan ada fistula rekto-vaginal. 4. Kelainan pada garis tengah Perlu dicari kelainan pada garis tengah berupa spina bifida, meningomielokel, sinus pilonidais, ambigus genitalia, eksomfalos, dan lain-lain. 5. Jenis kelamin Biasanya orang tua ingin segera mengetahui jenis kelamin anaknya. Bila terdapat keraguan misalnya klitoris pada bayi perempuan atau terdapatnya hipospadia atau epispadia pada bayi laki-laki, sebaiknya pemberitahuan jenis kelamin ditunda sampai dilakukan pemeriksaan lain seoerti pemeriksaan kromosom.

b. Di ruang rawat Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam 24 jam untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan pada pemeriksaan di kamar bersalin. Pemeriksaan ini meliputi :
Page | 14

a. Aktivitas fisik Keaktifan BBL dinilai dengan melihat posisi dan gerakan tungkai dan lengan. Pada BBL cukup bulan yang sehat, ekstremitas berada dalam keadaaaan fleksi, dengan gerakan tungkai serta lengan aktif dan simetris. Bila ada asimetri pikirkan terdapatnya kelumpuhan dan patah tulang. Aktivitas fisik mungkin saja tidak tampak pada BBL yang sedang tidur atau lemah karena sakit atau pengaruh obat. Gerakan kasar atau halus (tremor) yang disertai klonus pergelangan kaki atau rahang sering ditemukan pada BBL, keadaan ini tidak berarti apa-apa. Berlainan halnya bila terjadi pada golongan umur yang lebih tua. Gerakan tersebut cenderung terjadi pada BBL yang aktif, tetapi bila dilakukan fleksi anggota gerak tersebut masih tetap bergerak-gerak, maka bayi tersebut menderita kejang dan perlu dievaluasi lebih lanjut. b. Tangisan bayi Tangisan bayi dapat memberikan keterangan tentang keadaan bayi. Tangisan melengking ditemukan pada bayi dengan kelainan neurologis, sedangkan tangisan yang lemah atau merintih terdapat pada bayi dengan kesulitan pernapasan. c. Wajah BBL Wajah BBL dapat menunjukkan kelainan yang khas, misalnya sindrom down, sindrom Pierre-Robin, sindrom de lange, dan sebagainya. d. Keadaan gizi Dinilai dari berat dan panjang badan, disesuaikan dengan masa kehamilan, tebal lapisan subkutis serta kerutan pada kulit. Edema pada bayi dapat memberikan kesan bayi dalam
Page | 15

status gizi baik karena kulitnya halus dan licin. Edema kelopak mata biasanya karena iritasi tetesan obat pada mata. Edema yang menyeluruh ditemukan pada bayi prematur, hiproteinemia, eritroblastosis fetalis, sindrom nefrotik congenital, sindrom Hurler atau sebab lain yang tidak diketahui. Edema setempat dapat disebabkan oleh cacat bawaan system limfe. Salah satu gejalan sindrom turner adalah edema yang terbatas pada salah satu atau lebih ekstremitas bayi perempuan. e. Pemeriksaan suhu Suhu tubuh BBL diukur pada aksila. Suhu BBL normal adalah antara 36,5-37,5 derjat celcius. Suhu meninggi dapat ditemukan pada dehidrasi, gangguan serebral, infeksi, atau kenaikan suhu lingkungan. Apabila ekstremitas dingin dan tubuh panas kemungkinan besar disebabkan oleh sepsis, perlu diingat bahwa sepsis/infeksi pada BBL dapat saja tidal disertai kenaikan suhu tubuh, bahkan sering terjadi hipotermi. f. Pemeriksaan anggota badan serta fungsi paru, jantung g. Pemeriksaan neurologis Macam-macam Reflek Primitif pada Bayi Baru Lahir 1. Reflek Ketuk Glabella : Reflek ini diperiksa dengan mengetuk secara berulang pada dahi. Ketukan akan diterjemahkan sebagai sinyal yang diterima oleh saraf sensori aferen yang akan dipindahkan oleh nervus trigeminal dan sinyal saraf eferen akan kembali ke otot orbicularis oculi melalui saraf facial yang akan menggerakkan reflek pada mata yaitu berkedip. Kedipan mata akan mucul sebagai reaksi terhadap ketukan tersebut namun hanya timbul sekali yaitu pada ketukan pertama. Jika kedipan mata terus berlangsung

Page | 16

pada ketukan-ketukan selanjutnya, maka disebut tanda-tanda Myerson, yang merupakan gejala awal penyakit Parkinson, dan hal tersebut tidak normal. 2. Reflek Mata Boneka : Reflek ini diperiksa sebagai salah satu cara untuk menentukan mati batang otak. Jika kepala diputar-putar (ditolehkan ke samping kanan dan kiri) maka bola mata akan bergerak. Namun jika pada pemeriksaan ini bola mata tetap berhenti atau tidak bergerak sama sekali berarti dimungkinkan ada kematian batang otak. 3. Reflek Rooting : Reflek ini ditunjukkan pada saat kelahiran dan akan membantu proses menyusui. Reflek ini akan mulai terhambat pada usia sekitar empat bulan dan berangsurangsur akan terbawa di bawah sadar. Seorang bayi baru lahir akan menggerakkan kepalanya menuju sesuatu yang menyentuh pipi atau mulutnya, dan mencari obyek tersebut dengan menggerakkan kepalanya terus-menerus hingga ia berhasil menemukan obyek tersebut. Setelah merespon rangsang ini (jika menyusui, kira-kira selama tiga minggu setelah kelahiran) bayi akan langsung menggerakkan kepalanya lebih cepat dan tepat untuk menemukan obyek tanpa harus mencari-cari. 4. Reflek Sucking : Reflek ini secara umum ada pada semua jenis mamalia dan dimulai sejak lahir. Reflek ini berhubungan dengan rreflek rooting dan menyusui, dan menyebabkan bayi untuk secara langsung mengisap apapun yang disentuhkan di mulutnya. Ada dua tahapan dari reflek ini, yaitu : a. Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir bayi dan disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara langsung menekan (mengenyot) puting dengan menggunakan lidah dan langit-langitnya untuk mengeluarkan air susunya.

Page | 17

b. Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air susu dari payudara ibu untuk ditelan oleh bayi. 5. Reflek tonick neck dan asymmetric tonick neck ini disebut juga posisi menengadah, muncul pada usia satu bulan dan akan menghilang pada sekitar usia lima bulan. Saat kepala bayi digerakkan ke samping, lengan pada sisi tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan menekuk (kadang-kadang pergerakan akan sangat halus atau lemah). Jika bayi baru lahir tidak mampu untuk melakukan posisi ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi dimungkinkan mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian, reflek tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang akan menyiapkan bayi untuk mencapai gerak sadar. 6. Reflek Palmar Grasping : Reflek ini muncul pada saat kelahiran dan akan menetap hingga usia 5 sampai 6 bulan. Saat sebuah benda diletakkan di tangan bayi dan menyentuh telapak tangannya, maka jari-jari tangan akan menutup dan menggenggam benda tersebut. Genggaman yang ditimbulkan sangat kuat namun tidak dapat diperkirakan, walaupun juga dimungkinkan akan mendorong berat badan bayi, bayi mungkin juga akan menggenggam tiba-tiba dan tanpa rangsangan. Genggaman bayi dapat dikurangi kekuatannya dengan menggosok punggung atau bagian samping tangan bayi. 7. Reflek Plantar : Reflek ini juga disebut reflek plantar grasp, muncul sejak lahir dan berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran. Reflek plantar ini dapat diperiksa dengan menggosokkan sesuatu di telapan kakinya, maka jari-jari kakinya akan melekuk secara erat.
Page | 18

8. Reflek Babinsky : Reflek babinsky muncul sejak lahir dan berlangsung hingga kira-kira satu tahun. Reflek ini ditunjukkan pada saat bagian samping telapak kaki digosok, dan menyebabkan jari-jari kaki menyebar dan jempol kaki ekstensi. Reflek disebabkan oleh kurangnya myelinasi traktus corticospinal pada bayi. Reflek babinsky juga merupakan tanda abnormalitas saraf seperti lesi neuromotorik atas pada orang dewasa.

9. Reflek Galant : Reflek ini juga dikenal sebagai reflek Galants infantile, ditemukan oleh seorang neurolog dari Rusia, Johann Susman Galant. Reflek ini muncul sejak lahir dan berlangsung sampai pada usia empat hingga enam bulan. Pada saat kulit di sepanjang sisi punggung bayi diigosok, maka bayi akan berayun menuju sisi yang digosok. Jika reflek ini menetap hingga lewat enam bulan, dimungkinkan ada patologis. 10. Reflek Swimming : Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisii air, ia akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Reflek ini akan menghilang pada usia empat sampai enam bulan. Reflek ini berfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia tenggelam. Meskipun bayi akan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun meletakkan bayi di air sangat berisiko.Bayi akan menelan banyak air pada saat itu. Disarankan untuk menunda meletakkan bayi di air hingga usia tiga tahun. 11. Reflek Moro : Reflek ini ditemukan oleh seorang pediatri bernama Ernst Moro. Reflek ini muncul sejak lahir, paling kuat pada usia satu bulan dan akan mulai mengjilang pada usia dua bulan. Reflek ini terjadi jika kepala bayi tiba-tiba terangkat, suhu tubuh bayi berubah secara drastis atau pada saat bayi dikagetkan oleh suara yang keras. Kaki dan tangan akan melakukan gerakan ekstensi dan lengan akan tersentak ke atas dengan telapak tangan ke
Page | 19

atas dan ibu jarinya bergerak fleksi. Siingkatnya, kedua lengan akan terangkat dan tangan seperti ingin mencengkeram atau memeluk tubuh dan bayi menangis sangat keras. Reflek ini normalnya akan menghilang pada usia tiga sampai empat bulan, meskipun terkadang akan menetap hingga usia enam bulan. Tidak adanya reflek ini pada kedua sisi tubuh atau bilateral (kanan dan kiri) menandakan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat bayi, sementara tidak adanya reflek moro unilateral (pada satu sisi saja) dapat menandakan adanya trauma persalinan seperti fraktur klavikula atau perlukaan pada pleksus brakhialis. Erbs palsy atau beberapa jenis paralysis kadang juga timbul pada beberapa kasus. Sebuah cara untuk memeriksa keadaan reflek adalah dengan melatakkan bayi secara horizontal dan meluruskan punggungnya dan biarkan kepala bayi turun secara pelan-pelan atau kagetkan bayi dengan suara yang keras dan tiba-tiba. Reflek moro ini akan membantu bayi untuk memeluk ibunya saat ibu menggendong bayinya sepanjang hari. Jika bayi kehilangan keseimbangan, reflek ini akan menyebabkan bayi memeluk ibunya dan bergantung pada tubuh ibunya. 12. Reflek Walking / Stepping : Reflek ini muncul sejak lahir, walaupun bayi tidak dapat menahan berat tubuhnya, namun saat tumit kakinya disentuhkan pada suatu permukaan yang rata, bayi akan terdorong untuk berjalan dengan menempatkan satu kakinya di depan kaki yang lain. Reflek ini akan menghilang sebagai sebuah respon otomatis dan muncul kembali sebagai kebiasaan secara sadar pada sekitar usia delapan bulan hingga satu tahun untuk persiapan kemampuan berjalan.

Page | 20

Gambar 2. Infantile reflexes.6

Gambar 3. Rooting reflex.6

Page | 21

Tabel 4. The New Ballard Score

Page | 22

Etiologi
1. Faktor Ibu o Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, penyakit lainnya adalah nefritis akut, DM, infeksi akut atau tindakan operatif dapat merupakan faktor etiologi prematuritas. o Usia Angka kegiatan prematuritas tertinggi adalah pada usia dibawah 20 tahun pada multi gravida yang jarak antar kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada usia ibu antara 26 30 tahun. o Keadaan sosial ekonomi Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang

2. Faktor kehamilan o Hamil dengan hidramnion o Hamil ganda o Perdarahan antepartum o Komplikasi kehamilan, pre eklamsi, KPD

3. Factor Janin

Cacat bawaan Infeksi dalam rahim Gangguan metabolisme janin. Gawat janin Eritroblastosis

Page | 23

Hidrops nonimun

4. Factor plasenta o Plasenta previa o Abrupsio plasenta 5. Factor uterus Uterus bikornus Serviks tidak kompeten (dilatasi premature)

6. Factor lainnya KPD Polihidramnion Iatrogenic Radiasi

Faktor Risiko
a. Mayor - Kehamilan multipel - Hidramnion - Anomali uterus - Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu - Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu - Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali - Riwayat persalinan preterm sebelumnya - Operasi abdominal pada kehamilan preterm - Riwayat operasi konisasi - Iritabilitas uterus

Page | 24

b. Minor - Penyakit yang disertai demam - Perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu - Riwayat pielonefritis - Merokok lebih dari 10 batang perhari - Riwayat abortus pada trimester II - Riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai satu atau lebih faktor risiko mayor; atau dua atau lebih faktor risiko minor; atau keduanya

Penatalaksanaan
Yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan siap sedia dengan tabung O2 pada bayi prematur makin pendek masa kehamilan, makin sulit dan makin sulit persoalan yang dihadapi dan makin tinggi angka kematian perinatal. Biasanya kematian disebabkan oleh pernafasan, infeksi cacat bawaan dan trauma pada otak.
1. Suhu tubuh

- Bayi dimasukkan dalam inkubator dengan suhu yang diatur - BB bayi dibawah 2 kg 35C - BB bayi 2 kg 2,5 kg 34C - Suhu inkubator diturunkan 1 0C setiap minggu, bayi dapat ditempatkan pada suhu lingkungan sekitar 24 27C.

2. Makanan

Umumnya bayi prematur belum sempurna reflek menghisap dan batuknya, kapasitas lambung masih kurang. Maka makanan diberikan dengan pipet sedikit demi sedikit namun sering. Sedangkan pada bayi smallpor date sebaiknya kelihatan seperti orang kelaparan, rakus dan makan yang harus diperhatikan adalah terdapat kemungkinan terjadinya pneomonia aspirasi. Kemungkinan cairan untuk BBL 120 150 ml/kg/hari atau 100 200 cal/kg/hari.
Page | 25

Pemberian dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan bayi untuk segera mungkin mencukupi kebutuhan cairan/ kalori diberi O2 dan pernapasan buatan kalau perlu melakukan resusitasi dan memasang androtrakea intubasi. Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter, sebaliknya dipakai kateter dari palietilen yang dapat ditinggalkan di lambung selama 4-5 hari tanpa iritasi. Kateter dari karet mudah menyebabkan iritasi dan infeksi :
1. Yang dipakai kateter No.8 untuk bayi < 1500 gram dan No.10 bayi > 1500 gr. 2. Panjang kateter yang dimasukkan bila melalui mulut ialah sama dengan ukuran dari

pangkal hidung ke processus xyphoidesus bila melalui hidung ditambah dengan jarak pangkal hidung ke liang telinga.
3. Mula-mula dicoba dahulu dengan air yang sudah dimasak apakah di kateter cepat

dilalui.
4. Setelah kateter dimasukkan dilihat apakah bayi menjadi sesak nafas/ tidak bila bayi

sesak mungkin kateter masuk trakea.


5. Kemudian cairan berukuran (misalnya tabung suntikan yang 10-20 ml) diletakkan

pada ujung kateter sebelah luar dan cairan susu dimasukkan ke dalam corong lalu dibiarkan mengalir ke lambung.
6. Setelah minum, bayi didudukkan atau diletakkan kepala di pundak si pemberi minum

selama 10-15 menit dan kemudian ditidurkan pada sisi kanan/ tengkurap.

3. Pencegahan infeksi
-Isolasi

BBLR dengan bayi infeksi dan tidak boleh dicampur

-Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi -Bersihkan tempat tidur segera setelah tidak terpakai -Perlengkapan tersendiri setiap bayi -Infeksi saluran nafas -Pemberian makanan bayi

Pada

jam

pertama

diberi

makan

penurunan

Bb

>

10

ASI dengan pipit/ sendok hari pertama 60 cc/kg/hari. 200 cc/kg/hari akhir minggu kedua. ASI mengandung lemak yang mudah dicerna.

Page | 26

Komplikasi
1. Sindroma aspirasi mekonium (kesulitan bernafas). Aspirasi mekonium terjadi jika janin mengalami stres selama proses persalinan berlangsung. Hal ini sering pada bayi lebih dari 40minggu, akan tetapi pada bayi premature sindroma ini terjadi dan lebih berbahaya apabila cairan ketubanya sedikit. Aspirasi mekonium terjadi jika janin mengalami stres selama proses persalinan berlangsung. Bayi seringkali merupakan bayi post-matur (lebih dari 40 minggu). Selama persalinan berlangsung, bayi bisa mengalami kekurangan oksigen. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya gerakan usus dan pengenduran otot anus, sehingga mekonium dikeluarkan ke dalam cairan ketuban yang mengelilingi bayi di dalam rahim. Cairan ketuban dan mekoniuim becampur membentuk cairan berwarna hijau dengan kekentalan yang bervariasi. Jika selama masih berada di dalam rahim janin bernafas atau jika bayi menghirup nafasnya yang pertama, maka campuran air ketuban dan mekonium bisa terhirup ke dalam paru-paru.

Mekonium yang terhirup bisa menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total pada saluran pernafasan, sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan pertukaran udara di paru-paru. Selain itu, mekonium juga menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran udara, menyebabkan suatupneumonia kimiawi. Cairan ketuban yang berwarna kehijauan disertai kemungkinan terhirupnya cairan ini terjadi pada 5-10% kelahiran. Sekitar sepertiga bayi yang menderita sindroma ini memerlukan bantuan alat pernafasan. Aspirasi mekonium merupakan penyebab utama dari penyakit yang berat dan kematian pada bayi baru lahir. Faktor resiko terjadinya sindroma aspirasi mekonium: -matur Pre-eklamsi diabetes hipertensi
Page | 27

Hipoksia intra-uterin (kekurangan oksigen ketika bayi masih berada dalam rahim). Gejalanya berupa: a. Cairan ketuban yang berwarna kehijauan atau jelas terlihat adanya mekonium di dalam cairan ketuban b. Kulit bayi tampak kehijauan (terjadi jika mekonium telah dikeluarkan lama sebelum persalinan) c. Ketika lahir, bayi tampak lemas/lemah d. Kulit bayi tampak kebiruan (sianosis) e. Takipneu (laju pernafasan yang cepat) f. Apneu (henti nafas) g. Tampak tanda-tanda post-maturitas (berat badannya kurang, kulitnya mengelupas). Jika mekoniumnya kental dan terjadi gawat janin, dimasukkan sebuah selang ke dalam trakea bayi dan dilakukan pengisapan lendir. Prosedur ini dilakukan secara berulang sampai di dalam lendir bayi tidak lagi terdapat mekonium. Jika tidak ada tanda-tanda gawat janin dan bayinya aktif serta kulitnya berwarna kehijauan, beberapa ahli menganjurkan untuk tidak melakukan pengisapan trakea yang terlalu dalam karena khawatir akan terjadipneumonia aspirasi. Jika mekoniumnya agak kental, kadang digunakan larutan garam untuk mencuci saluran udara. Setelah lahir, bayi dimonitor secara ketat. Pengobatan lainnya adalah: a. Fisioterapi dada (menepuk-nepuk dada) b. Antibiotik (untuk mengatasi infeksi) c. Menempatkan bayi di ruang yang hangat (untuk menjaga suhu tubuh) d. Ventilasi mekanik (untuk menjaga agar paru-paru tetap mengembang). Gangguan pernafasan biasanya akan membaik dalam waktu 2-4 hari, meskipun takipneu bisa menetap selama beberapa hari. Hipoksia intra-uterin atau hipoksia akibat komplikasi aspirasi
Page | 28

mekonium bisa menyebabkan kerusakan otak. Aspirasi mekonium jarang menyebabkan kerusakan paru-paru yang permanen. 2. Hipoglikemi simtomatik. 1. WHO : kadar gula darah < 47 mg/dL 2. Pada premature : cadangan glikogen rendah, asupan tidak adekuat, hipotermi, asfiksia 3. Gejala berupa a. Letargis b. Reflex hisap kurang c. Jitteriness d. Kejang e. Apneu f. Takipneu g. Sianosis h. hipotoni 4. Hipoglikemia asimtomatik cedera SSP 3. Asfiksia neonatorum - Asfiksia - Bila berlangsung lama cardiac output menurun, hipotensi, penurunan aliran darah otak - Harus diresusitasi dengan baik

Gambar 4. Resusitasi bayi baru lahir.7


Page | 29

4. Penyakit membran hialin. Penyakit membran hialin (PMH) sering ditemukan pada bayi prematur. Terutama apabila bayi tersebut lahir dari ibu yang menderita gangguan perfusi darah, uterus selama kehamilan misalnya ibu penderita diabetes, toksemia, hipotensi, secio sesarea atau perdarahan antepartum. Tanda-tanda PMH biasanya tampak dalam beberapa menit kelahiran yaitu : dispnea dan hiperpnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60 x/menit. Sianosis retraksi di daerah epigastrium, supra sentral, intercostal pada saat inspirasi. PMH disebut juga Respiratory Distress Syndrome (RDS), hal ini adalah salah satu problem dari bayi prematur menyebabkan bayi membutuhkan ekstra oksigen untuk membantu hidupnya.

Pada penyakit membran hialin dapat menyebabkan hipoksia yang menimbulkan kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolus. Kerusakan ini menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveolus dan terbentuk fibrin. Fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu lapisan yang disebut membran hialin. Kelainan dianggap terjadi karena faktor pertumbuhan atau pematangan paru yang belum sempurna antara lain : bayi prematur, terutama bila ibu menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu dengan : 1. Diabetes 2. Toxemia 3. Hipotensi 4. SC 5. Perdarahan antepartum. 6. Sebelumnya melahirkan bayi dengan PMH. Bayi penderita penyakit membran hialin biasanya bayi kurang bulan yang lahir dengan berat badan antara 1200 2000 g dengan masa gestasi antara 30 36 minggu. Jarang ditemukan pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 g dan masa gestasi lebih dari 38 minggu. Gejala klinis biasanya mulai terlihat pada beberapa jam pertama setelah lahir terutama pada

Page | 30

umur 6 8 jam. Gejala karakteristik mulai timbul pada usia 24 72 jam dan setelah itu keadaan bayi mungkin memburuk atau mengalami perbaikan. Apabila membaik gejala biasanya menghilang pada akhir minggu pertama.

Gangguan pernafasan pada bayi terutama disebabkan oleh atalektasis dan perforasi paru yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan keadaan klinis seperti : 1. Dispnea atau hiperpnea. 2. Sianosis. 3. Retraksi suprasternal, epigastrium, intercostal. 4. Rintihan saat ekspirasi (grunting). 5. Takipnea (frekuensi pernafasan . 60 x/menit). 6. Melemahnya udara napas yang masuk ke dalam paru. 7. Mungkin pula terdengar bising jantung yang menandakan adanya duktur arteriosus yang paten yang disertai pula timbulnya. 8. Kardiomegali. 9. Bradikardi (pada PMH berat). 10. Hipotensi. 11. Tonus otot menurun. 12. Edem.

Gejala PMH biasanya mencapai puncaknya pada hari ke-3. Sesudahnya terjadi perbaikan perlahan-lahan. Perbaikan sering ditunjukan dengan diuresis spontan dan kemampuan oksigenasi bayi dengan kadar oksigenasi bayi yang lebih rendah.

Kelemahan jarang pada hari pertama sakit biasanya terjadi antara hari ke-2 dan ke-3 dan disertai dengan kebocoran udara alveolar (emfisema interstisial, pneumotoraks), perdarahan paru atau interventrikuler.

Page | 31

Dasar tindakan pada penderita adalah mempertahankan penderita dalam suasana fisiologik yang sebaik-baiknya, agar bayi mampu melanjutkan perkembangan paru dan organ lain, sehingga ia dapat mengadakan adaptasi sendiri terhadap sekitarnya. Tergantung dari ringannya penyakit maka tindakan yang dapat dilakukan terdiri dari tindakan umum dan tindakan khusus. Tindakan umum ini terutama dilakukan pada penderita ringan atau sebagai tindakan penunjang pada penderita ringan atau sebagai tindakan penunjang pada penderita berat. Termasuk dalam tindakan ini adalah mengurangi manipulasi terhadap penderita dan mengusahakan agar penderita ada dalam suasana lingkungan yang paling optimal. Suhu bayi dijaga agar tetap normal (36,3 37C) dengan meletakkan bayi dalam inkubator antara 70 80%. Makanan peroral sebaiknya tidak diberikan dan bayi diberi cairan intravena yang disesuaikan dengan kebutuhan kalorinya. Adapun pemberian cairan ini bertujuan untuk memberikan kalori yang cukup, menjaga agar bayi tidak mengalami dehidrasi, mempertahankan pengeluaran cairan melalui ginjal dan mempertahankan keseimbangan asam basa tubuh. Dalam 48 jam pertama biasanya cairan yang diberikan terdiri dari glukosa/dekstrose 10% dalam jumlah 100 ml/KgBB/hari. Dengan pemberian secara ini diharapkan kalori yang dibutuhkan (40 kkal/KgBB/hari) untuk mencegah katabolisme tubuh dapat dipenuhi. Tergantung ada tidaknya asidosis, maka cairan yang diberikan dapat pula berupa campuran glukosa 10% dan natrium bikarbonat 1,5% dengan perbandingan 4 : 1. Untuk hal ini pemeriksaan keseimbangan asam basa tubuh perlu dilakukan secara sempurna. Disamping itu pemeriksaan elektrolit perlu diperhatiakn pula. Tindakan pencegahan utama sebenarnya adalah menghindari terjadinya kelahiran bayi prematur. Mengetahui maturitas paru dengan menghitung perbandingan lesitin dan sfengomielin dalam cairan amnion bila perbandingan antara lesitin dan sfengomielin kurang dari 2 maka berarti jumlah surfaktan pada penderita masih kurang. Pemberian kortikosteroid yang dilakukan pada persalinan prematur yang dapat ditunda selama 48 jam yang biasa dipakai berupa kortisol dengan dosis 12 mg/hari diberikan 2 hari berturut-turut.
Page | 32

Pemberian satu dosis surfaktan ke dalam trakea bayi prematur segera sesudah lahir atau selama umur 24 jam. Prognosis sindrom ini tergantung dari tingkat prematuritas dan beratnya penyakit. Pada penderita yang ringan penyembuhan dapat terjadi pada hari ke-3 atau ke-4 dan pada hari ke-7 terjadi penyembuhan sempurna. Pada penderita yang lanjut mortalitas diperkirakan 20-40 %. Dengan perawatan yang intensif dan cara pengobatan terbaru mortalitas ini dapat menurun. Prognosis jangka panjang sulit diramalkan. Kelainan yang timbul dikemudian hari lebih cenderung disebabkan komplikasi pengobatan yang diberikan dan bukan akibat penyakitnya sendiri. Pada fungsi paru yang normal pada kebanyakan bayi yang dapat hidup dari PMH, prognosisnya sangat baik. Keseluruhan mortalitas bayi BBLR yang dirujuk ke pusat perawatan intensif maupun secara mantap; sekitar 75% dari mereka yang berada di bawah 1.000 g bertahan hidup, dan mortalitas secara progresif menurun pada berat badan yang lebih tinggi, dengan lebih dari 95% bayi sakit yang bertahan hidup beratnya lebih dari 2.500 g. walaupun 85 - 90% dari semua bayi PMH, yang bertahan hidup setelah mendapat dukungan ventilasi dengan respirator adalah normal, harapan yang ada pada mereka yang beratnya diatas 1.500 g adalah jauh lebih baik; sekitar 80% dari mereka yang beratnya dibawah 1.500 g tidak mengalami sekuele neurologis atau mental. Prognosis jangka panjang untuk tercapainya fungsi paru yang normal pada kebanyakan bayi PMH yang berahan hidup adalah sangat baik. Namun bayi yang berhasil bertahan hidup dari kegagalan pernapasan neonatus yang berat dapat mengalami gangguan paru dan perkembangan saraf yang berarti. 5. Hiperbilirubinemia - Bayi premature : kadar puncak 10-12 mg/dl pada usia 5 hari - Imaturasi aktivitasenzim glukoronil tranferase, klirens bilirubin menurun - Bilirubin indirek bersifat neurotoksik terhadap bayi, terutama bayi premature Table 5. Tatalaksanan ikterus transfuse tukar pada NKB Usia (jam) <24 24-48 49-72 >72 Berat lahir <1500 g >10-15 >10-15 >10-15 >15 1500-2000 g >15 >15 >15 >17 >2000 g >16 >17 >17 >18
Page | 33

Tabel 6. Tatalaksana Ikterus terapi sinar pada NKB Usia (jam) <24 24-48 49-72 >72 6. PDA 7. 8. 45% pada BBL < 1750g 80% pada BBL <1000g Meningkat insiden pada RDS, asfiksia perinatal, PJB, congenital defek <1500 g Risiko Tinggi >4.1 >5 >7 >8.2 1500-2000 g Risiko Tinggi >4.1 >7 >9.1 >10 >2000 g >5 >8.2 >11.8 >14.1

Intravetricular/ Periventricular hemorrhage Perdarahan pada kapiler matriks germinal 30-40% pada bayi < 32 minggu Gejala : subtle, asimtomatik, catastrophic syndrome

GER Delayed gastric emptying, gangguan motilitas, tonus sfingter esofagus bawah rendah Gejala : muntah, esofagitis (tolak minum, gagal tumbuh), tanda apneu (aspirasi, obstruksi jalan napas)

9.

Feeding problem Kesulitan menghisap secara efektif sebelum 32 minggu Bayi gestasi 35-37 minggu toleransi minum kurang pada minggu pertama dan kedua

10.

Anemia of prematurity Usia eritrosit berkurang, pertumbuhan bayi premature lebih cepat, persediaan besi kurang, eritropoietin dibentuk pada kadar Hb yang lebih rendah

11.

Infeksi Defisiensi imunitas humoral dan selular Immunoglobulin rendah, aktifitas bakterisidal neutrofil rendah, efek sitotoksik limfosit rendah, kulit rapuh, dan membrane mukosa mudah cedera.

12.

Kejang
Page | 34

Pencegahan
Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm, tetapi hal ini bisa dilakukan dengan 1. Sistem skoring resiko, hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. 2. Memonitor aktifitas uterus. Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. 3. Pemeriksaan pelvic Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm. 4. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. 5. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler, ini disekresi oleh villi trofoblas. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus, menyebabkan kebocoran fibrinektin. Tes ini mempunyai sensitifitas 79,4% dan spesifitas 82,7%. Tingkat positif palsu 17%. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. 6. Gerakan pernafasan fetus. Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam. 7. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif.
Page | 35

8. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. 9. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. 11. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. 12. Dukungan social Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis.

Prognosis
Pada kasus ini, prognosisnya ad bonam. Prognosis bayi prematur ini tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi (makin mudah masa gestasi/ makin mudah berat bayi makin tinggi angka kematian), terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatus seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah dan gangguan lainnya.

Page | 36

BAB III Kesimpulan


Pada kasus ini ditemukan bahwa bayi yang baru lahir ini digolongkan ke dalam neonates kurang bulan sesuai masa kehamilan. Diketahui juga pada menit pertama apgar skornya sedikit dibawah normal, akan tetapi 5 menit kemudian menjadi normal, berarti proses adaptasi bayi berjalan baik.

Penanganan yang tepat dan teliti dapat menghindarkan berbagai kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada bayi premature.

Daftar Pustaka
1. Decherney AH, Nathan L, Godwin TM, Laufer N. Current obstetrics & gynecology. Tenth Edition. USA: McGraw-Hill Medical Lange; 2007. 2. Surasmi A, Handayani S, Kusuma IN. Perawatan bayi risiko tinggi. Jakarta: EGC;2003. 3. Johnston DI. Dasar-dasar pediatric. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2008. 4. Lubchenco curve. Greer FR. Diunduh dari

http://pediatrics.aappublications.org/content/102/Supplement_1/237.full, 27 Mei 2012. 5. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan bates. Edisi 8. Jakarta: EGC; 2009. 6. Infantile reflexes. Goldenring J. 12 Januari 2011. Diunduh dari

http://m.medlineplus.gov/ency/imagepages/17234.htm, 27 Mei 2012. 7. Resusitasi bayi baru lahir. Utomo MT. Diunduh dari

http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0 &pdf=&html=07110-skow264.htm, 27 Mei 2012. 8. Roberton DM, South MJ. Practical pediatric. Sixth edition. USA: Elsevier; 2007.

Page | 37