P. 1
Konsep Iman Kepada Qadha dan Qadar

Konsep Iman Kepada Qadha dan Qadar

|Views: 90|Likes:
Dipublikasikan oleh Mirna Mega Sari
Makalah Aqidah "Konsep Iman kepada Qadha dan Qadar"
Makalah Aqidah "Konsep Iman kepada Qadha dan Qadar"

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Mirna Mega Sari on Jun 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2013

pdf

text

original

A.

Konsep Iman kepada Qadha dan Qadar Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman yang wajib kita imani agar iman kita menjadi sah dan sempurna. Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: ”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud). Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Qadha artinya ketentuan Allah terhadap apa saja yang menimpa makhluk-Nya. Sedangkan qadar adalah perwujudan (kenyataan) dari ketetapan-ketetapan Allah SWT. Secara etimologi, qadha dapat diartikan sebagai pemutusan, perintah, dan pemberitaan. Sedangkan qadar yang berasal dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang artinya penentuan. Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada zaman azali. Adapaun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha). Percaya terhadap qadha dan qadar ini akan mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini, termasuk yang menimpa manusia tidak terlepas dari ketentuan Allah. Iman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman. Hal ini diungkapkan dalam jawaban Nabi Muhammad SAW terhadap pertanyaan jibril yang menyamar sebagai seorang laki-laki tentang iman.

‫ﻗﺎﻞ ﺟﺑﺭﻳﻝ ﻣﺎﺍﻹﻳﻣﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﺍﻥ ﺗﺅﻣﻥ ﺑﺎﷲ ﻭﻣﻼ ﺋﻛﺗﻪ ﻭﻛﺗﺑﻪ ﻭﺭﺳﻟﻪ ﻭﺑﺎﺍﻟﻳﻭﻡ ﺍﻷﺧﺭ ﻭﺗﺅﻣﻥ‬ ‫ﺑﺎﺍﻟﻗﺩﺭ ﺧﻳﺭ ﻩ ﻭ ﺷﺭ ﻩ‬
Artinya: “Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi SAW: apakah iman itu? Nabi menjawab: Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab, para rasul-Nya, hari akhir, dan Engkau beriman kepada qadha, baik dan buruk.” Ridha terhadap qadha dan qadar artinya menerima kejadian yang menimpa tidak hanya dirinya saja tapi juga yang lainnya dengan rasa senang, tabah dan lapang dada, serta tidak merasa kesal, tidak benci apalagi merasa tidak beruntung. Berdasarkan keimanan bahwa segala sesuatu yang menimpa diri kita terjadi atas kehendak Allah. Berdasarkan kesadaran bahwa kemampuan manusia terbatas, maka

tumbuhlah sikap hati untuk rela menerimanya dengan senang dan lapang dada. Rela terhadap ketentuan, kehendak, dan kekuasaan-Nya. Firman Allah ta’ala dalam sebuah hadit’s qudsi:

‫ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻣﻥ ﻟﻡ ﻳﺭ ﺽ ﺑﻗﺿﺎ ﺊ ﻭ ﻗﺩﺭﻱ ﻓﻟﻳﻟﺗﻣﺱ ﺭﺑﺎ ﺳﻭﺍﻱ‬
Artinya: ”Barang siapa tidak meridhai qadha-Ku dan tidak bersabar terhadap bencana yang Aku timpakan atasnya, baiklah ia mencari Tuhan selain Aku.” (HR Ath-thabrany) B. Makna Qadha dan Qadar 1. Makna qadha menurut Al-Qur’an a. Qadha, berarti: Hukum atau keputusan. Firman Allah dalam surat Annisa ayat 65:

َ‫ﻓ‬ ‫ﻼ‬ َ‫ك‬ َ‫ﺑ‬ ِّ‫ﺭ م‬ َ‫ﻭ‬ َ ‫ال‬ َ ‫ﻥ‬ َ ‫نكو‬ ُ‫ﻣ س‬ ِ‫ؤ ْم‬ ْ ‫ﻳ ف‬ ُ‫ى س‬ َ‫ت‬ َّ ‫ح‬ َ ‫ك‬ َ ‫مكو‬ ُ‫ك س‬ ِّ‫ح م‬ َ‫ﻳ‬ ُ‫مﺎ س‬ َ ‫ﻓي‬ ِ‫ر ْم‬ َ‫ج‬ َ‫ﺷ‬ َ ‫م‬ ْ ‫ه ف‬ ُ‫ن س‬ َ‫ي‬ ْ ‫ﺑ ف‬ َ‫م‬ َّ ‫ث‬ ُ‫ال س‬ َ ‫ﺍ‬ ْ ‫دﻭ ف‬ ُ‫ج س‬ ِ‫ﻳ ْم‬ َ ‫ﻓﻲ‬ ِ‫م ْم‬ ْ ‫ه ف‬ ِ‫س ْم‬ ِ‫سُ ْم‬ ‫أفنف‬ َ

ً ‫رﺟ‬ ‫ﺎ‬ َ‫ح‬ َ ‫مﺎ‬ َّ ‫ﻣ‬ ِّ‫ت م‬ َ ‫ي‬ ْ ‫ض ف‬ َ ‫ﻗ‬ َ‫ﺍ‬ ْ ‫مكو ف‬ ُ‫ل س‬ ِّ‫سم‬ َ‫ﻳ‬ ُ‫ﻭ س‬ َ ‫ﺎ‬ ً ‫ليم‬ ِ‫سْم‬ ْ ‫ﺗ ف‬ َ
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa; 1) Orang yang beriman harus mengembalikan semua perkara kepada hukumhukum yang telah ditetapkan. 2) Harus benar-benar ridha terhadap semua hukum-hukum atau keputusankeputusan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 3) Harus mentaati semua hukum-hukum tersebut. b. Qadha, berarti: Perintah. Firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 23:

‫ضى‬ َ ‫ﻗ‬ َ‫ﻭ‬ َ ‫ك‬ َ‫ﺑ‬ ُّ‫ﺭ ك‬ َ ‫ال‬ َّ ‫أ‬ َ‫ﺍ‬ ْ ‫دﻭ ف‬ ُ‫ب س‬ ُ‫ﻌ س‬ ْ ‫ﺗ ف‬ َ ‫ال‬ َّ ‫إ‬ ِ‫ﻩ ْم‬ ُ‫ﻳﺎ س‬ َّ ‫إ‬ ِ‫ْم‬
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” c. Qadha, berarti: Mengabarkan. Firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 4:

َ ‫ضف ْيَنﺎ‬ ‫ﻭ‬ َ ‫ﻗ‬ َ ‫ﻟى‬ َ‫إ‬ ِ‫نﻲ ْم‬ ِ‫ﺑ ْم‬ َ‫ﻞ‬ َ ‫ﺋي‬ ِ‫رﺍ ْم‬ َ‫ﺳ‬ ْ ‫إ ف‬ ِ‫ﻓﻲ ْم‬ ِ‫ب ْم‬ ِ‫تﺎ ْم‬ َ‫ك‬ ِ‫ﻟ ْم‬ ْ ‫ﻥ ﺍ ف‬ َّ ‫د‬ ُ‫س س‬ ِ‫ف ْم‬ ْ ‫ت ف‬ ُ‫ﻟ س‬ َ ‫ﻓﻲ‬ ِ‫ﺽ ْم‬ ِ‫ﺭ ْم‬ ْ ‫ﻷ ف‬ َ ‫نﺍ‬ ِ‫ي ْم‬ ْ ‫ﺗ ف‬ َ‫ر‬ َّ ‫ﻣ‬ َ

Artinya: “Dan telah Kami kabarkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali”.1 d. Qadha, berarti: Iradah (Kehendak). Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 47:

‫ضى‬ َ ‫ﻗ‬ َ‫ﺍ‬ ً ‫ﻣر‬ ْ ‫أ ف‬ َ ‫مﺎ‬ َ ‫فن‬ َّ ‫إ‬ ِ‫ﻓْم‬ َ‫ﻝ‬ ُ‫قكو س‬ ُ‫ﻳ س‬ َ‫ﻪ‬ ُ‫ﻟ س‬ َ ‫ﻛن‬ ُ‫ﻥ س‬ ُ‫ككو س‬ ُ‫ي س‬ َ‫ﻓ‬ َ ‫ذﺍ‬ َ‫إ‬ ِ‫ْم‬
Artinya: “Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.” e. Qadha, berarti: Mewujudkan sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan seindahindahnya, sesuai dengan hikmah mewujudkannya. Firman Allah dalam surat Fussilat ayat 12:

َ ‫ق‬ ‫ض‬ َ‫ﻓ‬ َ‫ن‬ َّ ُ‫س‬ ‫عه‬ َ‫ب‬ ْ ‫ﺳ ف‬ َ ‫ت‬ ٍ ‫ﻭﺍ‬ َ ‫مﺎ‬ َ‫ﺳ‬ َ ‫ﻓﻲ‬ ِ‫ن ْم‬ ِ‫ي ْم‬ ْ ‫ﻣ ف‬ َ ‫كو‬ ْ ‫ﻳ ف‬ َ
Artinya: “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa”. 2. Qadar mempunyai 3 makna: a. Ilmu yang amat luas meliputi segala apa yang akan terjadi dan semua yang berhubungan dengan itu, yang sekiranya kelak pasti sesuai dengan apa yang telah diketahui dan ditentukan sejak semula. b. Sesuatu yang dipastikan yang lahir dari penciptanya, dimana perwujudan itu sesuai dengan apa yang telah diketahui sebelumnya. c. Menertibkan atau mengatur dan menentukan sesuatu menurut batas-batasnya dimana akan sampai sesuatu kepadanya, seperti firman Allah surat :

Artinya: “Dan telah diatur dan ditentukan di dalamnya (bumi) rizki-rizki bagi penghuni bumi.” C. Hubungan Manusia dengan Takdir Allah

Keterangan: yang dimaksud membuat kerusakan dua kali adalah membunuh nabi Zakaria dan nabi Yahya.
1

Selagi manusia masih ada kelapangan jalan untuk memelihara hidupnya, wajiblah ia menempuh jalan-jalan yang bisa memelihara keselamatan hidupnya. Janganlah sekali-kali menempuh jalan yang terang-terang menimbulkan akan kerusakan bagi dirinya sendiri. Firman Allah:

‫ﻭال‬

ْ ‫قكو ف‬ ‫ﺍ‬ ُ‫ل س‬ ْ ‫ﺗ ف‬ ُ‫م س‬ ْ ‫ك ف‬ ُ‫دﻳ س‬ ِ‫ﻳ ْم‬ ْ ‫أ ف‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ﻟى ْم‬ َ‫إ‬ ِ‫ة ْم‬ ِ‫ك ْم‬ َ‫ل‬ ُ‫هس‬ ْ ‫ت ف‬ َّ ‫ﺍﻟ‬

Artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Beriman kepada qadha dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya. Rukun-rukun tersebut adalah: 1. Ilmu Allah Ta’ala Beriman kepada qadha dan qadar berarti harus beriman kepada Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu. Tidak ada makhluk sekecil apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan ataupun sudah diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di masa yang akan datang. 2. Penulisan Takdir Sebagai mukmin, kita harus percaya dan yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi baik di masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang, semuanya telah dicatat dan tidak ada sesuatupun yang terlupakan oleh-Nya. 3. Masyi’atullah dan qudrat Allah Seorang mukmin yang telah mengimani qadha dan qadar harus mengimani masyi’ah (kehendak Allah) dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun manusia tidak menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apapun yang tidak dikehendaki pasti tidak akan tejadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan dikarenakan Allah tidak mampu, melainkan karena Allah tidak menghendakinya. 4. Allah sebagai pencipta Ketika beriman terhadap qadha dan qadar, seorang mukmin harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, tidak ada khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Dia. Inilah empat rukun beriman kepada qadha dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat rukun ini diabaikan atau didustakan, niscaya kita tidak akan pernah sampai kepada gerbang keimanan yang sesungguhnya. Karena mendustakan rukun-rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qadha dan qadar. Dan ketika bangunan iman itu rusak, maka hal tersebut juga akan menimbulkan kerusakan pada bangunan tauhid itu sendiri. D. Macam-macam Takdir 1. Takdir umum (Takdir Azali)

Takdir mengenai segala sesuatu yang ditetapkan sebelum penciptaan langit, bumi, dan seluruh isinya. 2. Takdir Umuri Takdir yang diberlakukan atas manusia pada masa awal penciptaannya dan bersifat umum. Meliputi rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. 3. Takdir Samawi Takdir yang dicatat pada malam Lailatul qadar pada setiap tahun. 4. Takdir Yaumi Takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan sebagainya. E. Takdir dan Usaha Ahli Sunnah wal Jamaah percaya bahawa manusia itu bukanlah perlu menyerah saja kepada Allah s.w.t tanpa berbuat apa-apa kerana usaha adalah termasuk dalam takdir Allah s.w.t yaitu Allah s.w.t telah menetapkan dalam Alam ini setiap yang berlaku ada sebabnya, maka atas wujudnya sebablah manusia berusaha. Sabda Nabi s.a.w:

ِ Ÿ밀 ‫ل ا‬ َّ‫ه‬ ‫لل‬ َ ‫سلو‬ ُ‫ر لو‬ َ ‫ي ا‬ َ ‫للوا‬ ُ‫ق الو‬ َ ‫ف‬ َ ‫ر‬ ِ Ÿ밀 ‫ن ا‬ َّ‫ن ال ه‬ ْ ‫م ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ه‬ ُ‫د لو‬ ُ‫ع لو‬ َ ‫ق‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫و‬ َ ‫ة‬ ِ Ÿ밀 ‫ن‬ َّ‫ج ه‬ َ ‫ل‬ ْ ‫ن ا ا‬ ْ ‫م ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ه‬ ُ‫د لو‬ ُ‫ع لو‬ َ ‫ق‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫ب‬ َ ‫ت‬ ِ Ÿ밀 ‫ك‬ ُ‫د لو‬ ْ ‫ق ا‬ َ ‫و‬ َ ‫ل‬ َّ‫إ ه‬ ِ Ÿ밀 ‫د‬ ٍ ‫ح إ‬ َ ‫أ‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م ا‬ ِ Ÿ밀 ‫م‬ ْ ‫ك ا‬ ُ‫ن لو‬ ْ ‫م ا‬ ِ Ÿ밀 ‫م ا‬ َ ‫نى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ح ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ب ا ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ق‬ َ ‫د‬ َّ‫ص ه‬ َ ‫و‬ َ ‫قى‬ َ ‫ت‬ َّ‫وا ه‬ َ ‫طى‬ َ ‫ع‬ ْ ‫أ ا‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫م ا‬ َّ‫أ ه‬ َ ‫ف‬ َ } ‫أ‬ َ ‫ر‬ َ ‫ق‬ َ ‫م‬ َّ‫ث ه‬ ُ‫ر لو‬ ٌ ‫س ُث‬ َّ‫ي ه‬ َ ‫م‬ ُ‫ل لو‬ ٌّ ‫ك‬ ُ‫ف لو‬ َ ‫للوا‬ ُ‫ملو‬ َ ‫ع‬ ْ ‫ل ا ا‬ َ ‫ق ا‬ َ ‫ف‬ َ ‫ل‬ ُ‫ك لو‬ ِ Ÿ밀 ‫ت‬ َّ‫ن ه‬ َ ‫ل‬ َ ‫ف‬ َ ‫أ‬ َ { ‫ر ى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ع ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ل ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ه‬ ِ Ÿ밀 ‫ل‬ ِ Ÿ밀 ‫لو‬ ْ ‫ق ا‬ َ ‫لى‬ َ ‫إ‬ ِ Ÿ밀
Maksudnya: “Tidaklah ada seorang daripada kamu melainkan telah ditetapkan baginya tempat sama ada di syurga atau neraka”. Tanya Sahabat: ‘Wahai Rasulullah, tidak bolehkan jika demikian kami bertawakkal sahaja?’ Jawab baginda: “Berusahalah kerana setiap kamu dimudahkan baginya (berdasar apa yang ditetapkan padanya)”. Lalu Nabi s.a.w membaca : ‫نى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ح ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ب ا ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ق‬ َ ‫د‬ َّ‫ص ه‬ َ ‫و‬ َ ‫قى‬ َ ‫ت‬ َّ‫وا ه‬ َ ‫طى‬ َ ‫ع‬ ْ ‫أ ا‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫م ا‬ َّ‫أ ه‬ َ ‫ف‬ َ hingga firman Allah: ‫ر ى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ع ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ل ا‬ ِ Ÿ밀 [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim]. Maksudnya Nabi s.a.w menyatakan bahawa setiap manusia akan dimudahkan untuk berusaha ke arah takdir yang ditetapkan baginya. Ini sesuai dengan firman Allah s.w.t:

(7) ‫ر ى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ي ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ل ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ه‬ ُ‫ر لو‬ ُ‫س لو‬ ِّ‫ي ر‬ َ ‫ن‬ ُ‫س لو‬ َ ‫ف‬ َ (6) ‫نى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ح ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ب ا ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ق‬ َ ‫د‬ َّ‫ص ه‬ َ ‫و‬ َ (5) ‫قى‬ َ ‫ت‬ َّ‫وا ه‬ َ ‫طى‬ َ ‫ع‬ ْ ‫أ ا‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫م ا‬ َّ‫أ ه‬ َ ‫ف‬ َ (10) ‫ر ى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ع ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ل ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ه‬ ُ‫ر لو‬ ُ‫س لو‬ ِّ‫ي ر‬ َ ‫ن‬ ُ‫س لو‬ َ ‫ف‬ َ (9) ‫نى‬ َ ‫س‬ ْ ‫ح ا‬ ُ‫ل لو‬ ْ ‫ب ا ا‬ ِ Ÿ밀 ‫ب‬ َ ‫ذ‬ َّ‫ك ه‬ َ ‫و‬ َ (8) ‫نى‬ َ ‫غ‬ ْ ‫ت ا‬ َ ‫س‬ ْ ‫وا ا‬ َ ‫ل‬ َ ‫خ‬ ِ Ÿ밀 ‫ب‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م ا‬ َ ‫م ا‬ َّ‫أ ه‬ َ ‫و‬ َ
Maksudnya: “Jelasnya: adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala laranganNya), serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik, maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (syurga). Sebaliknya: orang yang bakhil (daripada berbuat kebajikan) dan merasa cukup dengan kekayaan dan kemewahannya, serta ia mendustakan perkara yang baik, maka Sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan”. [al-Lail: 5-10]

F. Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadar Allah Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah tersebut antara lain: 1. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian. Artinya: ”Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl ayat 53) 2. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah. Firman Allah SWT: Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS.Yusuf ayat 87) Sabda Rasulullah: yang artinya” Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sebiji sawi dari sifat kesombongan.” (HR. Muslim) 3. Memupuk sifat optimis dan giat bekerja Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu. Firman Allah: Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al- Qashas ayat 77) 4. Menenangkan jiwa Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi. Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.” ( QS. Al-Fajr ayat 27-30)

Kesimpulan Di muka telah dikemukakan serba ringkas bagaimana arti qadha dan qadar yang kita dapati dalam Al-Qur’an. Arti qadha menurut lughat, sesuai dengan pemakaian qadha yang terdapat dalam Al-Qur’an maka qadha lebih tepat diartikan: hokum yang ditetapkan Allah semenjak dahulu kala tentang apa-apa yang akan terjadi di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu, apa-apa saja yang akan terjadi tentu semuanya telah diketahui oleh Allah Ta’ala. Adapun arti qadar menurut lughat, yaitu merancang dan merencakan sesuatu yang akan diperbuat, dengan pikiran dan perhitungan yang seteliti-telitinya. Kalau demikian maka arti qadha dan qadar itu tidak seberapa perbedaannya, boleh dikatakan satu artinya. Sebab itu maka sering kita jumpai dalam Hadis Nabi penuturan qadha dan qadar bersama-sama dan kadang-kadang hanya menuturkan qadar saja. Jadi, tisak ada sesuatu apapun yang terjadi di alam ini, besar atau kecil, melainkan semua telah sesuai dengan pengetahuan Allah dan telah termaktub dalam kitab Allah, dan kita wajib berkeyakinan, bahwa segala bencana yang menimpa seseorang ada kalanya juga merupakan cobaan bagi seorang hamba.

Artinya: Katakanlah (Muhammad) sekali-kali tidak akan mengenai kami sesuatupun (dari kecelakaan dan bencana) melainkan semua itu telah ditentkan Allah untuk kami.”

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->