Anda di halaman 1dari 116

LOGO

TEKNOLOGI PENGOLAHAN
LIMBAH
Dr. Yuyun Yuniati, ST., MT
yuniati73@gmail.com
087852672100
DEFINISI LIMBAH
Hasil dari suatu proses
industri maupun
domestik yang sifatnya
tidak diinginkan.

PADAT
CAIR
GAS
SUMBER LIMBAH
Rumah tangga : daerah
pemukiman, perdagangan,
tempat rekreasi
Industri : berupa sisa hasil
proses produksi
Rumah sakit : hasil dari seluruh
kegiatan di RS.
HAZARDOUS WASTE
Definisi sesuai RCRA (Resource
Conservation and Recovery Act) :

Limbah padat atau kombinasi limbah
padat, yang karena jumlah,
konsentrasi, atau secara fisik dan
kimia, atau sifat penyebarannya
dapat : 1)menyebabkan peningkatan
kematian atau dampak serius
lain;2)menimbulkan bahaya besar
apabila tidak dikelola dengan benar.
LIMBAH B3
Menurut PP.RI No.18/ 1999.

Limbah B3 adalah sisa dari suatu kegiatan
yg mengandung bahan berbahaya dan/atau
beracun, yg krn sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya,baik
secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan/ atau merusakkan
linglungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia,
serta makhluk hidup lain.
Pencegahan pencemaran dapat dilakukan
dengan mereduksi sampah yang dihasilkan
dari suatu proses produksi
Reduksi zat pencemar dapat dilakukan
dengan cara modifikasi produk, mengganti
metode produksi sehingga lebih efisien,
mendaur ulang material yang digunakan
dalam proses produksi sehingga material
yang harus dibuang atau didisposal
berkurang, mengurangi jumlah material
yang tidak terlalu penting, atau cara lain.

Dengan cara demikian, kuantitas limbah yang
harus diolah atau ditimbun menjadi berkurang.
Semakin banyak limbah yang dihasilkan,
semakin banyak pula polutan yang mencemari
lingkungan.
KEUNTUNGAN PENCEGAHAN
PENCEMARAN (1)
Semakin efisien proses produksi semakin kecil
biaya untuk kebutuhan materi dan energi,
sehingga proses produksi semakin profitable dan
kompetitif
Peningkatan kesehatan masyarakat dan
perlindungan lingkungan
KEUNTUNGAN PENCEGAHAN
PENCEMARAN (2)
Menurunkan biaya pembelian
bahan baku
Proses produksi menjadi lebih kompetitif
Meningkatkan moral dan keamanan
pekerja
Menurunkan biaya pengolahan dan
disposal limbah
Modifikasi Produk (1)
Menggunakan material yang bisa didaur
ulang
Menggunakan material alam yang dapat
diperbaharui
Mendaur ulang produk dan limbah
Mengurangi penggunaan solven beracun
Mengganti solven beracun dengan
material lain
Menggunakan kembali material sisa
Mengurangi material pemaketan
Menggantikan solvent based ink dengan
coating water based
Memproduksi produk yang lebih tahan
lama
Perubahan metode
Perubahan bahan baku, misalnya
menggunakan bahan baku yang lebih
murni, atau bahan yang tidak
beracun
Peningkatan kinerja proses dan
perawatan, penanganan material,
penjadwalan, pemisahan proses dan
aliran limbah
Perubahan teknologi

Modifikasi Produk (2)
Peningkatan Kinerja
Pemisahan aliran limbah yang berbahaya
dan tidak
Melatih operator
Menutup tangki pelarut bila tidak
digunakan secara langsung
Menjadwalkan perawatan
Optimasi prosedur pemesanan dan
inventori
Menghindari kebocoran, tetesan, dan
ceceran
Menggunakan panci untuk menampung
tetesan
Meminimalkan ceceran pada saat
pengiriman
Konservasi energi listrik melalui
manajemen penerangan

Daur Ulang
Proses Daur ulang dapat dilakukan dalam suatu proses
produksi, di antara dua proses, atau setelah produk
sampai ke pasaran dan tidak digunakan lagi (pensiun)
Daur ulang mencakup menggunakan kembali material
yang telah digunakan dalam proses yang sama atau
proses lain.
Recovery atau reklamasi mencakup proses ekstraksi
material-material yang masih dapat digunakan lagi
pada proses yang sama atau berbeda.
Baik penggunaan kembali (reuse) atau pun recovery
dapat dilakukan dalam proses yang sama atau pun yang
lain. Penggunaan kembali dalam proses yang sama
lebih baik karena tidak akan muncul resiko dalam
pengangkutan.
Penggunaan material limbah sebagai suplemen bahan
bakar, menghemat pemakaian energi.
Pemisahan gas-cair: destilasi,
evaporasi, absorpsi gas
Pemisahan padat-cair: filtrasi,
sentrifugasi, sedimentasi
Pemisahan cair-cair: ekstraksi cair-
cair, dekantasi
Recovery zat terlarut: osmosis balik,
ultrafiltrasi, ion exchange, dan
presipitasi





Pemisahan sebagai Teknologi recovery
komponen Limbah yang masih berguna
TUJUAN PENGOLAHAN AIR
LIMBAH DGN PROSES BIOLOGI
Untuk menghilangkan bahan-bahan
yang sulit mengendap
(mengkoagulasi) dan untuk
menstabilkan air limbah melalui
pengurangan kandungan bahan
organik.
METODE YG PALING BANYAK
DIPAKAI : ACTIVATED SLUDGE
KONSEP PENGOLAHAN LIMBAH
DGN PROSES BIOLOGI
Aerobic Process : Proses pengolahan
biologi yang terjadi dengan adanya
oksigen. Bakterinya disebut Obligate
Aerob.
Anaerobic Process : Proses
pengolahan biologi yang terjadi
tanpa adanya oksigen. Bakterinya
disebut Obligate Anaerob.
SIFAT FISIK
Sangat menentukan derajat kekotoran
air limbah.
Sifat fisik yang terpenting : kandungan zat padat,
kejernihan, warna, dan suhu.
Teknik pengolahan sebagian besar
menggunakan sedimentasi.
Endapan dgn ukuran > 10 mikron dpt dihilangkan
melalui proses penyaringan dan
pengendapan;sedangkan ukuran < 1 mikron
menggunakan teknik pemisahan lain yang lebih
tinggi.
SIFAT KIMIA
Adanya bahan kimia organik terlarut
mempengaruhi kualitas air limbah.

Sifat yg paling kuat : timbulnya bau
dan rasa terutama utk keperluan air
bersih. Misal : phenol, zat warna, dll

SIFAT BIOLOGIS
Sangat dipengaruhi oleh adanya
bakteri patogen.

Sifat yg paling kuat : timbulnya bau
dan rasa terutama utk keperluan air
bersih. Misal : phenol, zat warna, dll

BEBERAPA BAHAN YG TERKANDUNG
DALAM AIR LIMBAH
1. Protein
Timbul sebagai akibat dari bh.organik yg dibuang ke
badan air. Maka, bakteri akan memakai oksigen utk
pembusukan sesuai reaksi ini.
Bh organik + O
2
- CO
2
+ NH
3
+ energy + bh.buangan dan bakteri baru

2. BOD
Jumlah oksigen yg diperlukan utk menguraikan
bh.organik secara biologis. Rumus penetapan BOD :


( ) ( )
5 b i b
DO DO
pel contoh/sam ml.
vol.botol
DO DO BOD
(

=
Dimana :
DO
b
= oksigen yg terlarut dlm blangko
DO
i
= oksigen yg terlarut dlm sampel setelah
inkubasi
DO
5
= oksigen terlarut od keadaan awal sampel
tanpa pengenceran

3. COD
Jumlah oksigen yg diperlukan utk menguraikan
bh.organik dgn cara oksidasi kimia. Bh.kimia yg
biasa dipakai adlh : dikromat.
Nilai COD dlm air limbah biasanya > drpd BOD sebab
lebih banyak komp.yg dpt dioksidasi kimia daripada
dioksidasi scr biologis.
4. Dissolved Oxygen
Banyaknya oksigen yang terlarut dalam contoh air
Limbah dan diukur dlm mg/liter. Semakin besar nilai
DO maka, derajat pengotoran relatif kecil.

5. Karbohidrat
Termasuk gula, kanji, selulosa, dgn komponen C,H,O.
Gula terurai dlm proses fermentasi -- alkohol + CO
2


6. Lemak dan minyak
Kandungan lemak dan minyak dlm air limbah dpt
ditentukan dg pelarut heksan. Lemak dan minyak
menimbulkan lapisan tipis di permukaan shg
membentuk selaput. Kadar maks : 15-20 mg/liter.
7. Fenol
Kadar maks yang masih dapat dioksidasi melalui proses biologis
adalah 500 mg/liter.

8. Logam berat
Yang termasuk logam berat : nikel, magnesium, timbal, krom,
Kadmium, tembaga, dan seng.

9. Metan
Terjadinya gas metan adalah akibat dari zat organik yg dlm
kondisi anaerob pd air limbah. Sifat gas ini : tidak berbau,
tidak berwarna, mudah terbakar.

10. Dll
BOD, COD, ThOD
Nilai BOD 0,64-0,68 dari Nilai BOD
ThOD = Theoretical oxygen demand adalah jumlah
oksigen yg diperlukan secara teoritis utk
kep.mengoksidasi (seluruh) komp. Dlm Air Limbah.
Hubungan antara BOD, COD, dan ThOD
TOTAL SUSPENDED SOLID
TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan
tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di
dalam air berupa bahan-bahan organik dan
inorganic yang dapat disaring dengan kertas
millipore berporipori 0,45 m
Domestic waste: 150 250 mg/l
Petrochemical waste : 400 mg/l
Batas maks : 1000 mg/l
Size & density : 3-5 mm hingga 0,001 mm
0,8 2,65 gr/cm
3


BERBAGAI KANDUNGAN DALAM
LIMBAH
C:N:P ratio = 100 : 20 :1 (industrial
waste) dan 100 : 5 : 1 (biological
growth).
Nilai BOD layak yg bisa diolah : 60-
500 mg/lt.
Biological treatment dpt efektif
menghilangkan 95-98% BOD
Waste stream
BIOLOGICAL GROWTH &
MONOD EQUATION
Maximum growth rate coefficient,
pada 0,5
( ) ( ) S K S
S
+ = / .

Specific growth rate coefficient


max
S = concentration of limiting nutrient, that is
BOD, COD, TOC
K
s
=Monod coefficient
PRINSIP PENGOLAHAN LIMBAH
BIOLOGIS

Mengikuti proses di alam (sungai) dimana bahan organik
seperti biota air yang mati, daun, dll akan diuraikan oleh
mikroorgansime (mo) dalam sungai
Untuk kehidupannya, mikroorganisme pengurai
membutuhkan :
- oksigen >> diperoleh dari oksigen terlarut
- karbon sebagai sumber energi >>> diperoleh
dari bahan organik terlarut
- N dan P sebagai nutrient
Dalam pengolahan Limbah tahap sekunder,
dilakukan dengan menumbuhkan mikroorganisme
dalam bak aerasi yang akan bertugas untuk
menguraikan bahan organik
- carboneous organic , C,H,O)
- nitrogenous organic (C,H,O dan N)
Dibutuhkan :
jumlah oksigen, Nutrient N dan P serta unsur
karbon C yang sesuai dengan yang
diinginkanoleh mikroorganisme tersebut
ORGANIK
C, H, O DAN N
BIOLOGIS
(AEROBIK)
OKSIGEN
(UDARA)
N DAN P
(NUTRIENT)
CELL + 1 O
2
+ 1 C CELL BARU + CO
2
+ H
2
O
Dengan diambilnya unsur C dari bahan organik,
menyebabkan bahan organik tersebut akan terurai &
tingkat polutan tereduksi
Untuk mengambil 1 mole C , biologis membutuhkan
1 mole O
2

Atau : untuk 12 mg C dari bahan organik dibutuhkan
32 mg O
2

Banyaknya oksigen (O
2
) yang dihabiskan oleh
mikroorganisme merupakan gambaran tingginya
kandungan bahan organik
Dianalisa sebagai BOD
5

Biological Oxygen Demand

PERSAMAAN REAKSI
Bh.organik + bakteri + nutrients + oksigen
Bakteri baru + CO
2
+ H
2
O + residu
organik +anorganik
SECARA GRAFIS UTK MENENTUKAN
KONSTANTA MONOD :
MICROBIAL DECAY
Pd proses pengolahan limbah secara
biologis dapat menyebabkan sel
bakteri mati yd diistilahkan sebagai
microbial decay.
Persamaannya mengikuti :

dX/ dt = - k
d
.X
k
d
= decay coefficient
X = konsentrasi Volatile Suspended Solid
BERBAGAI NILAI KINETIKA UTK
DOMESTIC WASTEWATER
EFEK SUHU PADA
KEC.REAKSI
Hubungan antara suhu dengan
kecepatan reaksi sesuai pers.berikut.
( ) 20
20
.

=
t
t
r r u
r = kec.reaksi pd t (10-40
o
C)

u
Koefisien suhu, bernilai 1-1,10

EFEK pH
pH yang rendah dapat
mengakibatkan reaksi biokimia
terhenti & kec.reaksi menjadi nol.
Pengaruh pH terhadap Growth Rate
diberikan oleh pers. Orhon & Artan
( )
+
+ = H K K
i i
/ '.
Pd pers.tersebut :

' Original uptake rate =kec.pengumpanan
K
i
= kec.disosiasi kedua pd substrat
Perhatikan Reaksi berikut :
E + S <> ES
ES + H
+
<> ESH
+

ESH + H
+
<> ESH
2
2+

K
i

KINETIC CONSTRAINS FOR
INDUSTRIAL WASTES
Principles of Biological
Treatment Systems
AERATION
SETTLING
1. Model dengan reaktor teraerasi dengan baik
(Completely Mixed Reactor) tanpa recycle sludge
Q
o
, S
o

X
o

V , S, X
Q
o

X , S
sludge
Neraca massa substrat :
akumulasi = masuk - keluar - yang terurai
k
o
S X
0 = Q
o
S
o
- Q
o
S - ( ------------- ) V
Y(K
m
+ S)

0 = (Q
o
/V) S
o
(Q
o
/V)S - -------------
k
o
S X
Y(K
m
+ S)
Model Pengolahan Limbah Activated Sludge
waktu tinggal hidraulik, t = V/Q
o

jadi :
S
o
- S - ---------------- = 0

k
o
S X t
Y(K
m
+ S)
Begitu juga dari neraca massa untuk biomassa
masuk + yang terbentuk = keluar + akumulasi
k
o
S X
Q
o
X
o
+ ------------ V - k
d
X V = Q
o
X + 0
K
m
+ S
0
k
o
S X t
X
o
- X + ----------------- - k
d
X t = 0
K
m
+ S
Bila tidak ada biomass pada feed masuk, atau X
o
= 0
1
t = -----------------------------
{ k
o
S / (K
m
+ S) } - k
d

Kondisi washout atau kondisi dimana biomass akan keluar
dari reaktor aerasi lebih cepat dari pembentukannya. Pada
kondisi ini, konsentrasi dari biomass dalam aerator turun jadi nol
atau tidak ada yang terkonversi, sehingga S
o
= S
Waktu kritis, dimana washout akan terjadi = t
W

1
t
W
= ------------------------------
k
o
S
o
/ (K
m
+ S
o
) - k
d

Bila yang mati diabaikan, k
d
= 0
K
m
+ S
o

t
W
= ------------------
k
o
S
o

2. Model untuk tangki teraerasi dengan baik dan
dilakukan recycle dari sludge
RAS






Q
r
, X
r
, S
r

S
o

X
o

Q
o

Q
o
+Q
r
Q
o
+ Q
r

V
S , X
Q
W

X
r

Q
e

X
e

Neraca massa substrat sekitar bak aerasi
masuk + dari recycle = keluar + yang terurai + akumulasi
0
Q
o
S
o
+ Q
r
S
r
= (Q
o
+ Q
r
) S + V ( ---------------- ) + 0
aerasi
k
o
S X
Y( K
m
+ S )
0
Neraca massa untuk biomass sekitar tangki aerasi:
masuk + dari recycle + yang terbentuk = keluar + akumulasi
0
Q
o
X
o
+ Q
r
X
r
+ V ------------ = (Q
o
+Q
r
)X + k
d
XV + 0
k
o
XS
K
m
+ S
Bila diambil laju recycle, R = Q
r
/Q
o
dan waktu tinggal bila
didasarkan pada feed awal , t = V/Q
o
, maka neraca massa
menjadi :
0 = ----- ( S
o
S ) - -------------------
1
t
k
o
S X
Y (K
m
+ S)
0 = ---- [ X
o
+ RX
r
(1 + R) X ] + ---------------- - k
d
X

k
o
SX t
K
m
+ S
1
t
Apabila feed masuk tidak mengandung mikroorganisme,
atau X
o
= 0, maka :
R X
r
( 1 - R ) X + ------------ - k
d
X t = 0
k
o
SXt
K
m
+ S
Apabila reaktor dioperasikan dalam daerah dimana
mikroorganisme tumbuh dengan baik respirasi endogenous
menjadi tidak penting, neraca massa untuk biomassa menjadi :
k
o
SX t
R X
r
(1 + R ) X + ------------ = 0
K
m
+ S
Reaktor biologis umumnya memproduk solid biologikal yang
berlebihan sehingga harus dikeluarkan dari sistem selama
operasi steady-state. Jumlah dari biomass berlebih yang
terbentuk sebanding dengan net pertumbuhan biomass dalam
reaktor .
k
o
SX V
net biomass = ------------- - k
d
X V
K
m
+ S

Proses Pengendalian Pada
Lumpur Aktif
Beberapa parameter penting dlm
pengolahan dengan Lumpur Aktif
Food-mass ratio ; F/M
Sludge age
Dissolved oxygen
FOOD-MASS RATIO
Salah satu dari parameter kontrol
utama pada lumpur aktif adalah
Food:Mass Ratio atau Sludge loading
Rate. Dapat dihitung dengan
persamaan berikut:



Besar F:M ratio yang optimum berkisar
antara 0,2-0,6 kg BOD/kg MLSS
(sludge yang terbentuk mudah
mengendap/good settling)
F-M Ratio
Apabila F:M ratio terlalu rendah
maka dapat menimbulkan
tumbuhnya filamen bakteri atau
kondisi bulking. Pengendapan di
tangki sedimentasi terganggu/sulit.

Jika F:M Ratio terlalu tinggi maka
dapat menyebabkan kenaikan
kebutuhan oksigen dan menaikan
clarifier loading.
SLUDGE AGE
Sludge age atau solids retention time
(c) adalah waktu tinggal rata-rata
solid di dalam sistem reaktor. Dapat
dihitung dengan persamaan berikut:

Sludge age biasanya antara 3-14
hari untuk menghasilkan
biological floc. Jika c<3 hari
maka biomassnya kurang cukup
tebal, sehingga terbentuk
bulking sludge. Jika c>14 hari
maka flok partikel yang terbentuk
akan terlalu kecil.

Hubungan antara sludge age dan efisiensi BOD
removal ditunjukan oleh gambar di bawah ini :

Dibawah sludge age minimum, biomass dipindahkan lebih
cepat di tangki aerasi daripada digantikan oleh
pertumbuhan sel baru. Proses ini dimaksudkan sebagai
Washout
Ada juga sludge age maximum atau critical. Diatas age ini,
semua peningkatan performa diabaikan
Ada periode antara washout dan critical sludge age dimana
aktivitas biomass mungkin naik atau turun secara teratur
Sludge Volume Index
Dimana : V = Volume dari settled solids
setelah 30 menit
V
0
= Initial volume dari sludged tested (liters)
X = Konsentrasi MLSS dari lumpur sebelum
tes (gr/liter)

X V
V
SVI
0
=
Merupakan ukuran yang menyatakan berat endapan per satuan volume
(mg/l) larutan setelah 30 menit proses pengendapan. SVI biasanya
digunakan untuk mengetahui karakteristik pengendapan sludge dan
sangat berguna dalam proses kontrol pengendapan.
Bakteria merupakan mikroorganisme yang terbesar
jumlahnya dalam activated sludge.
Bakteria yang membutuhkan komponen organik untuk
suplai kebutuhan karbon dan energi (bakteria
heterotrofik) lebih dominan dari pada bakteria yang
menggunakan komponen inorganik untuk
pertumbuhan cell (bakteria autotrofik).


Mikroorganisme didalam Air
Limbah
Bakteria aerobik maupun bakteria anaerobik
dapat dijumpai dalam activated sludge, tetapi
lebih besar lagi jumlahnya adalah species
fakultatip, yang dapat hidup dengan
ketersediaan oksigen yang cukup maupun
dengan oksigen terlarut yang relatif rendah.

Fungi, rotifer dan protozoa juga ada dalam
activated sludge. Mikroorganisme protozoa
sebagian besar adalah species ciliata, tetapi
protozoa flagella dan amoeba kemungkinan
juga ada.
Protozoa seringkali digunakan sebagai
indikator dalam activated sludge, dan
species ciliata merupakan instrumen utama
dalam penghilangan Escherichia coli dalam
air limbah domestik.

Keberhasilan pengolahan limbah secara
biologis tergantung pada pembentukan
komuniti yang beragam dari mikroorganisme
yang akan mengkonsumsi (mengambil)
bahan organik, dan akan beragregasi,
menggumpal sebagai flok (bioflocculation),
yang selanjutnya dipisah pada bak
sedimentasi skunder.

Pada beberapa tipe activated sludge,
masalah dalam pemisahan solid merupakan
indikasi tidak seimbangnya dalam komponen
biologikal dari proses ini.
Pada keadaan sistem yang sehat,
organisme filamentous tumbuh dalam flok
(gumpalan dari mikroorganisme yang
menyatu, seperti bakteria) dan membuat flok
tersebut kuat dan mudah diendapkan.

JENIS-JENIS M.O
Pseudomonas sp
Zooglea ramigera
JENIS-JENIS M.O
Nitrobacter sp
Nitrosomonas
Hubungan antara kebutuhan substrat
dengan pertumbuhan m.o
Lag Phase : Fase adaptasi/ penyesuaian
diri thd lingk.baru. Pd fase ini mrpkn waktu
generasi dr awal rate pertumbuhan dimana
ukuran sel serta aktivitas metabolik maks.

Accelaration Phase : Penurunan waktu
generasi & peningkatan rate pertumbuhan

Exponential Phase : Waktu generasi
minimum dan konstan.
Declining growth phase :
peningkatan waktu generasi &
penurunan rate spesific
pertumbuhan

Stationary Phase : fase dimana
jumlah nutrien sangat sedikit dan
metabolisme toksin tinggi.

Endogenous Phase : rate kematian
tinggi dan terjadi lysis pd sel.
DEFINISI PRESIPITASI
Metode presipitasi (pengendapan salahsatu
metode pengolahan limbah yang banyak
digunakan untuk memisahkan logam berat
dari limbah cair.

Dalam metode presipitasi dilakukan
penambahan sejumlah zat kimia tertentu
untuk mengubah senyawa yang mudah
larut ke bentuk padatan yang tak larut.



Pemisahan padatan dari suatu
suspensi dengan cara pengendapan
gravitasi
DEFINISI SEDIMENTASI
Sedimentasi digunakan untuk:
a. Pemisahan pasir dan lempung
b. Memisahkan padatan tersuspensi dalam clarifier primer
c. Memisahkan flok biologis dalam lumpur aktif/clarifier akhir
d. Memisahkan humus dalam ticling filter clarifier akhir
TEORI SEDIMENTASI
Beberapa hal penting dalam sedimentasi :
( ) V g F
s l
. . =
g V A C F
D d
2 / . . .
2
=
Untuk sphere, dgn R hingga 10.000
R
R
C
D
34 , 0 3
24 + + =
Pd keadaan steady state, F
l
= F
D
, dan R < 1
( )


2
18
d g
V
s

=
Particle forces,
Drag forces,
CLARIFIER
Fungsi : Tempat terbentuknya flok sekaligus
pemisahan flok dr badan cair.
Bentuk : LINGKARAN DAN SEGIEMPAT
Floc Move Rates : 1-2 m/jam
Komponen Clarifier :
1. Inlet zone
2. Exit zone
3. Collection device
4. Sludge withdrawal area

Beberapa Tipe Clarifier
(1)
(2)
Beberapa Tipe Clarifier
(3)
(4)
BULK VELOCITY
Identik dengan volumetric flow rate.
Nilainya tidak boleh lebih besar dari
kecepatan pengendapan.

Satuannya : volume/ hari/m
2


Standar : 33 m
3
/ day/ m
2

Atau
800 gallon/ ft
2
/ day
Hydraulic Detention (Retention)
Time
Sering juga disingkat dengan istilah HDT
yang artinya adalah berapa lama limbah
akan menginap didalam sistem pengolahan.
Lebih lama limbah menginap maka proses
pengolahan lebih baik tetapi konstruksi
menjadi besar. Sebaliknya bila terlampau
cepat maka praktis hanya lewat saja
hingga tidak terjadi proses pengolahan.

Waktu optimal : 2-3 jam
PENGERTIAN UMUM
Proses pengolahan air limbah dengan
menggunakan bahan kimia utk
mengurangi konsentrasi zat pencemar
dalam limbah.
Alasan pemilihan : Harga bahan cukup
murah & mudah dalam pengoperasian
PENGENDAPAN
Bahan pencemar yg dapat dihilangkan/
Dikurangi oleh bahan kimia adalah :
1. Material tersuspensi :organik atau
anorganik.
2. Phospat terlarut, kadar < 1 mg/lt
3. Kandungan Ca, Mg, Si
4. Logam berat
5. Bakteri dan virus (menggunakan susu
kapur)

Koloid di air bersifat: hydrophobic atau
hydrophilic.
Hydrophobic (mis. tanah liat) mudah dikoagulasi.
Hydrophilic (mis. Protein) sulit dikoagulasi;
partikel diselimuti oleh air.
Koloid stabil krn bermuatan listrik positif atau
negatif.
Pengadukan air dan penambahan ion beda
muatan, mendestabilkan koloid (koagulasi).
Flokulasi : penggabungan koloid-koloid destabil
menjadi partikel berukuran lebih besar, mudah
diendapkan (sedimentasi), bila densitasnya lebih
besar dari air atau mengapung (floatasi) bila
sebaliknya.

KOAGULASI FLOKULASI
NETRALISASI
Air limbah yg terdapat pd kondisi asam
atau basa membutuhkan netralisasi
sebelum atau sesudah treatment.
Untuk proses biological, pH : 6,5-8,5
(kondisi optimal untuk pertumbuhan
mikroorganisme)


Koagulasi
Merupakan proses terbentuknya gumpalan-gumpalan (masih
rapuh) dari partikel koloid (1 nm 0.1nm) yang tidak dapat
dipisahkan dengan pemisahan biasa.Koloid sendiri dapat bersifat
hydrophobic atau hydrophilic.koloid hydrophobic lebih mudah
terkoagulasi karena bersifat immiscible dalam air.
Stabilitas koloid ini terjadi karena adanya gaya tolak menolak
akibat muatan partikel koloid yang sama.
Untuk menggabungkan partikel koloid ini supaya dapat
mengendap, maka perlu proses penetralan muatan dengan
menambahkan koagulan yang memiliki muatan berbeda.
Koagulasi
Karakteristik koagulan yang dapat digunakan, antara lain :
Menetralkan partikel koloid
Kation, dengan berat molekul rendah hingga medium
Pemberian yang overdosis dapat menimbulkan pembalikan
muatan sehingga koloid menjadi stabil kembali
Ukuran flok dan kekuatannya bervariasi tergantung jenis limbah
Diberikan selama atau dengan pengadukan cepat
Prosedur Kontrol Koagulasi
Merupakan salah satu metode untuk mengukur
kecepatan pergerakan partikel koloid dalam
membentuk gumpalan
=
=
=
=
=
EM
X
v
q
c
c
tq
c
tq

EM
X
v 4 4
= =
Berikut persamaan zeta potensial :
Keterangan :
Kecepatan partikel
Tetapan dielektrik media
Viskositas medium
Potensial per panjang unit cell
Pergerakan elektrophortik
Zeta potensial
Prosedur Kontrol Koagulasi
Jar Test Coagulation Study
Koagulasi
Beberapa faktor yang mempengaruhi harga zeta potensial, antara lain :
1. Perubahan konsentrasi ion dalam larutan.
2. Adanya penambahan ion dengan muatan yang tidak sama.
3. Adanya kontraksi pada sistem difusi dilapisan kedua akibat
penambahan konsentrasi ion-ion dalam larutan.
Mekanisme Koagulasi
Proses koagulasi bisa terjadi melalui dua mekanisme :
1. Perikinetik (Elektrokinetik),dimana zeta potensial diturunkan
dengan penambahan ion dengan mutan berlawanan dengan koloid
dalam larutan.
2. Orthokinetik,dimana pada proses ini ditambahkan partikel dalam
bentuk gumpalan dan gumpalan ini akan menangkappartikel koloid
didalamnya.
Koagulasi
Diusahakan dengan :
motor driven impellers yang dipasang
pada kolam kecil dimana koagulan
dimasukkan ke dalamnya
Memberikan koagulan pada beberapa titik
turbulensi
in-line static mixers
Menggunakan baffled chambers atau
channels atau hydraulic jumps
Pengadukan yang cepat
diperlukan untuk
mendistribusikan koagulan
secara uniform dalam cairan
Inorganic Coagulants
Inorganic coagulants merupakan water
soluble inorganic compounds
Beberapa jenis koagulan anorganik yang dapat dipakai
adalah :

1. Alum-aluminum sulfate- Al
2
(SO
4
)
3

2. Ferric sulfate- Fe
2
(SO
4
)
3

3. Ferric chloride- FeCl
3

4. Sodium aluminate- Na
2
AI
2
0
4
ALUMINIUM SULFAT/ALUM Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O
Pada suasana alkali :
Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O + 3 Ca(OH)
2
3 CaSO
4
+ 2 Al(OH)
3

+ 18 H
2
O
Pada suasana asam : K = 1,9 x 10
-33

Pada suasana basa mudah terdisosiasi
Flok alum :


NORDEL E. : pH kerja optimum alum 5,5 6,8
Kadar Al
2
O
3
dalam alum 17 %
Kelarutan pada 0 oC : 86,9 bag per 100 bag air

Koagulan
Koagulan
FERRI SULFAT (FERRIFLOE), Fe
2
(SO
4
)
3
pH kerja ferri sulfat : 3 13 (NORDEL E. )
pH kerja optimum pada 3,5 5,5 dan pH > 9
Korosif perlu peralatan yang tahan asam
Pada suasana alkalis :

Fe
+3
+ 3 OH
-
Fe(OH)
3


dengan hasil kali kelarutan : K = 10
-36

Koagulan
SODIUM ALUMINAT, NaAlO
2
Koagulan ini baik dipakai bersama alum, dan dapat
menurunkan pemakaian alum sehingga menghilangkan
warna serta memberikan residual hardness yang lebih
rendah
KAPUR (LIME), sebagai CaO, atau Ca(OH)
2
Koagulan ini dapat bereaksi dalam air yang mengandung
CO
2
dan terbentuk endapat CaCO
3

Tujuan penambahan koagulan ini untuk menghilangkan
suspended matter dan untuk pengaturan pH (menaikan pH)
Koagulan
CHLORINATED COPPERAS, FeCl
3
.Fe(SO
4
)
3
Dibuat dengan mengalirkan Cl
2
kedalam larutan FeSO
4

(Copperas) dengan perbandingan :
Cl
2
: FeSO
4
= 1 : 7,8

Koagulan ini lebih efektif dan lebih korosif dibanding
copperas saja, serta tidak memerlukan alkalinitas yang tinggi
Koagulan
CHLORINATED COPPERAS, FeCl
3
.Fe(SO
4
)
3
Keuntungan :
Menghasilkan flok yang kuat
Flok mengendap sangat baik, sehingga mengurangi
beban filter
pH koagulasi yang bail pada pH 6 9 dan pada pH 3,5
juga terjadi flok yang kompak dari hidrat ferric oxide
yang tidak larut dalam air yang alkalis
Efektif untuk menghilangkan warna
Koagulan Bantu (Coagulant Aid)
Untuk meningkatkan efisiensi proses koagulasi utama
Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan sebagai
koagulan bantu :
Lempung (clays bentonit)
Activated Silica
Polyelektrolit
Natrium Alginat
Etc..
Koagulan Bantu
Clay (Bentonit)
Digunakan untuk pengolahan air yang berwarna
Activated
Untuk pengolahan air yang keruh, berwarna, kandungan zat
organik >> & suspended matter >>
Digunakan bersama Alum atau garam ferri dengan kondisi
operasi pH 9
Polyelektrolit
Senyawa polymer yang mempunyai gugus karboksil, amino atau
sulfonat
Ada 3 tipe : Kationik, Anionik dan Non-Ionik
Koagulan Bantu
Polyelektrolit (lanjutan)
Polyelektrolit anionik dan non-ionik kurang efektif, namun untuk
anionik sangat efektif digunakan bersama alum dan garam ferri
sebagai koagulan utama
a. Polyelektrolit Kationik
CH
2
CH

CH

+
N
CH
2
CH
2
CH
3 CH
3
CH
2
n+

Koagulan Bantu
b. Polyelektrolit non-ionik :







c. Polyelektrolit anionik :
CH
2
O

CH
2
n

n

CH
2
O

CH
2
CH
2
NH
2
n

CH
2
O

CH
2
CH
2
O
-
-n

Polyetilen Oksida
Polyakrilamida (PAM)
Asam Polyaknilik (PAA)
Koagulan Bantu
Faktor yang Berpengaruh pada Koagulasi -
Flokulasi
Macam / jenis koloid dalam air
pH larutan
Jenis & dosis koagulan yang ditambahkan
Penambahan koagulan bantu
Waktu operasi, pengadukan pada bak koagulasi-flokulasi
Data jenis & dosis koagulan yang diperlukan : JAR TEST
Data jenis muatan partikel koloid diperoleh dengan metode :
Pergerakan Bidang Batas Elektroforesis (MOVING BOUNDARY
ELECTROPHORESIS METHOD) Pipa U-BURTON
Memiliki fungsi yang sama dengan koagulan inorganik
Namun koagulan ini lebih sederhana
Penambahan koagulan tidak akan mempengaruhi nilai Ph atau
alkalinitas larutan, sehingga tidak diperlukan penambahan bahan
kimia lain untuk mengontrol Ph larutan.
Koagulan merupakan koagulan polimer (kisaran berat molekul =
1000 sampai 5000000 atau lebih).
Dikarenakan polymer ini bersifat viscous (kental), maka perlu
proses pengenceran dengan air.
Organic Coagulants - Polymers
Proses pembentukan partikel-partikel kecil menjadi flok yang lebih
besar
Dengan kata lain merupakan proses penggabungan partikel-
partikel terkoagulasi
Pengadukan yang pelan diperlukan untuk memungkinkan
pertikel-partikel kecil tsb meningkatkan ukurannya dan
mengendap lebih cepat.
Pengaduk mekanik atau mixer umumnya dipilih karena
dapat diatur kecepatannya untuk menyesuaikannya dgn
rate arus dan karakter pembentukan flok
Dapat juga menggunakan kolam berpengaduk yang
dimodifikasi arah arusnya
Flokulasi
Mekanisme Flokulasi
Pemilihan Koagulan
Hal Penting Yang Perlu diperhatikan :
1. Kualitas Air Limbah
2. Kualitas effluent yang diinginkan
3. Pencampuran antara koagulan dgn koloid harus
terjadi secepat mungkin sehingga endapan cepat
terbentuk.
4. Antara koagulasi, flokulasi, dan pengendapan bisa
dikombinasikan utk menghasilkan kualitas
pengolahan yg baik.
5. Perlu pengaturan kec.mixing pd koagulasi & agitasi
pada flokulasi.
6. Apabila kualitas A.L berubah-ubah, maka jumlah
koagulan juga berubah-ubah

OKSIDASI DAN REDUKSI
Bahan kimia pengoksidasi spt khlorin dan
ozon dipakai untuk mengubah bh.organik
dan anorganik terutama untuk mereduksi
BOD, warna, dan mengubah bh.spesifik spt
sianida menjadi produk yang berguna.
Sianida banyak dijumpai dlm buangan
pabrik tepung tapioka dan pengolahan
logam. Sebagian besar sianida yg
dihasilkan dlm bentuk Cn.
Contoh Reaksi Cn
NaCn + NaOH + Cl NaCnO + NaOCl
+ HCl + H
2
O

NaCN + NaOCl NaCnO + NaCl
www.themegallery.com Company Logo
Lebih tidak beracun jika dibandingkan NaCN
KHLORINASI
Adanya bakteri patogen dpt dihancurkan
dgn khlorinasi. Baik tidaknya hasil reaksi
ditentukan oleh temp, pH, waktu tempat,
dan konst. Khlor.
Khlor yg dilarutkan dlm air menghasilkan:
Cl
2
+ H
2
O HOCl + HCl
HOCl H
+
+ Ocl
-

Penghilangan Khlor
Dalam air limbah yg telah
dikhlorinasi masih terdapat sisa-sisa
khlor yg membahayakan bagi biota
dlm air maupun manusia.

Karena memp.sifat racun, sisa-sisa
khlor ini harus diambil dengan
menggunakan karbon aktif atau
sodium sulfat.
Contoh Reaksi
Pengambilan Khlor
SO
3
+ H
2
O HSO
3
-
+ H+
HOCl + HSO Cl + SO + 2H
SO + HOCl + H O Cl + SO + 3H

Dengan karbon aktif khlor diikat menjadi asam
khlorida sementara unsur karbon membentuk CO
dgn reaksi berikut :
C + 2Cl
2
+ 2 H
2
O HCl + CO
2

www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title style
Competitors
You may want to allocate one slide per
competitor

Strengths
Your strengths relative to competitors

Weaknesses
Your weaknesses relative to competitor

www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title
Title1 Title2 Title3 Title4
A
B
C
D
www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title
Text
Text
Text
Text
Text
Add Title
www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title
Text 1 Text 2 Text 3
www.themegallery.com Company Logo
Chart Documents
1
2
3
4
5
8
8
3
0
1
2
1
0
3
0
3
0
2
0
3
0
9
0
6
5
2
3
1
5
2
5
3
3
6
5
0
20
40
60
80
100
120
140
A B C
www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title
Text 1
Text 2 Text 3 Text 4
www.themegallery.com Company Logo
Click to edit title
Text 1
Text 2
Text 3
Text 4
Text 6
Text 5
www.themegallery.com Company Logo
Your Company Slogan