Anda di halaman 1dari 5

Pada tingkat intrasel (terutama di otot dan saraf), deposit pigmen lipofuscin, lipid peroksidase dan produk turunannya

terbentuk. Deposit-deposit ini terutama berlokasi di myokardium, otak, dan pada usia 80 tahun, mereka mewakili 70% volume sitoplasmik di neuron dan 6% volume sitoplasmik di myokardiosit. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa dalam 50 tahun seseorang memiliki total 13.4 mg/lipofuscin/gram myokardium, pembentukan pigmen berlangsung sekali dengan melebihi penyerapan 0.6 radikal bebas mikromol/gram jaringan. Terdapat hubungan proporsional berkebalikan antara pembentukan produk-produk tersebut dengan konsentrasi vitamin E dalam tubuh. Untuk mengontrol efek penuaan, seseorang membutuhkan diet moderat, yang mengurangi tingkat metabolik dan konsumsi O2 dengan konsentrasi lipid optimal dan asupan antioksidan yang seimbang secara kuantitas dan kualitas dan faktor lain yang meningkatkan asimilasi dan metabolisme mereka. Juga penting untuk mencapai sebuah interaksi yang seimbang antara antioksidan endogen. Tingkat antioksidan sangat bervariasi tergantung usia tubuh, organ, dan komponen subseluler; dimana sebuah peningkatan aktivitas GSH-Px terdapat pada mitokondria sel jantung dan eritrosit pada orang tua, dan pengurangan aktivitas pada hati dan ginjal. Pengurangan SOD pada hati orang tua digarisbawahi dan ditemukan bahwa tidak terdapat perubahan signifikan pada konsentrasi SOD intramitokondrial di jantung. Juga, terdapat hubungan antara intensitas penghancuran DNA yang disebabkan oleh FR dan konsentrasi xanthine oksidase. Enzim ini, terdapat dalam konsentrasi rendah, pada jaringan atau plasma, meningkat selama cedera jaringan.

5.5 efek pada molekul Radikal bebas bertanggung jawab atas inaktivasi enzim terutama serine protease, fragmentasi makromolekul (kolagen, proteoglikan, asam hyaluronat), agregasi protein pada membran sitoplasma. Asam amino yang paling rentan terhadap kerja triptofan, tirosin, fenilalanine, methionin, dan sistein. Transisi ion metal (Fe, Cu, Ni, Co, Cd) memiliki kerja pro-oksidan dengan cara memperkuat reaksi dimana FR terbentuk dan dimana dekomposisi lipid peroksida berlangsung. Pada tingkat molekuler, ion Fe2+ berperan terhadap induksi stres oksidatif dengan cara meningkatkan oksidasi non-enzimatik katekolamin dan GSH, meningkatkan dekomposisi lipid peroksida dan pembentukan radikal bebas yang paling toksik, radikal hidroksil. Fe2+, dalam bentuk kompleks sebagai transferrin, bersifat inaktif melawan peroksida. Pelepasan Fe2+ dari transferrin berlangsung dibawah pengurangan pH sebagaimana pada hipoksia, aktivasi leukosit atau pada jaringan otot selama latihan fisik. Sumber lain Fe2+ bebas diwakili oleh hemoglobin, dimana pada konsentrasi rendah ia bekerja sebagai prooksidan yang membantu peroksidasi PUFA. Protein yang mengikat Fe2+ memiliki kerja berbeda: maka dari itu, ferritin memiliki kapasitas pro-oksidan, sementara hemosiderin dan laktoferrin adalh antioksidan. Bilirubin, berasal dari metabolisme hemoglobin, sebagai transisi ion metal, menyebabkan perubahan pada struktur membran dengan mengawali peroksidasi PUFA. Bilirubin melintasi sawar darah, menghambat fosforilasi oksidatif dan mengurangi konsentrasi AMPc dan GSH. Maka dari itu, ensefalopati yang disebabkan oleh ikterus hemolitik yang intens pada neonatus berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin, lipid peroksida dalam darah dan penurunan GSH. Perubahan yang sama diamati pada hepatitis dari berbagai macam etiologi (virus, etanol) dan berhubungan dengan perubahan morfologis tipe steatosis bertingkat, hingga tipe yang ireversibel, sirosis, disebabkan oleh sistem antioksidan protektif yang berlebih.

Bilirubin memiliki efek antioksidan, ditingkatkan dengan pengikatan pada albumin, bentuk plasma transportnya, perilaku berbeda dari bilirubin bergantung pada konsentrasi dan lingkungan, seperti asam askorbat, yang memiliki sifatr prodan antioksidan, sangat diterima dewasa ini. 6. spesies oksigen reaktif- Implikasi patologi kardiovaskuler Atherosklerosis (ATS) dan komplikasinya, penyakit jantung koroner, masih menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Beberapa lini bukti menunjukkan bahwa faktor risiko mayor (hipertensi, diabetes mellitus, hiperlipemia, merokok) meningkatkan stres oksidatif pada permukaan lumen dinding vaskuler yang lebih lanjut akan berperan atas kerusakan oksidatif lipoprotein, pembentukan lipid peroksida, agregasi trombosit dan aktivasi makrofag [10]. Lipoprotein LDL adalah yang paling mudah dioksidasi karena konten PUFA nya yang tinggi; pada varian dari LDL asli, LDL yang dimodifikasi secara oksidatif lebih sering dicerna oleh makrofag melalui reseptor yang menciptakan sel busa plak atherosklerotik. Penelitian eksperimental

menunjukkan bahwa LDL dapat dioksidasi oleh semua sel utama dinding arteri (makrofag, sel endotel, sel otot polos). Selain uptake oleh makrofag, LDL teroksidasi meningkatkan efek kemoatraktif yang memfasilitasi adhesi monosit terhadap endotel dan pengaruh toksik pada tingkat sel endotel dengan menghambat pelepasan nitrit oksida. Identifikasi in vivo LDL teroksidasi pada plak atherosklerosis secara jelas menegakkan teori oksidatif-modifikasi ATS pada akhir 80an. Banyak usaha yang lebih lanjut diarahkan menuju identifikasi faktor yang mempengaruhi kerentanan partikel LDL terhadap oksidasi. Diantara ini, keberadaan partikel LDL kecil padat, dari lipid peroksida yang belum terbentuk, sebagaimana glikasi atau pengikatan LDL ke proteoglikan terbukti memfasilitasi oksidasi [12]. Aldehida yang sangat reaktif adalah salah satu faktor penyebab mayor pada patologi kardiovaskuler dan penuaan yang terkait oksidasi. Aldehida spesifik (contohnya 4- hydroxynonenal acetaldehyde, acrolein) dilaporkan meningkat pada

gagal jantung dan cedera reperfusi-iskemia [13] dan mempengaruhi regulasi transkripsi jaringan anti-oksidan endogen pada mitokhondria [1]. Baru- baru ini, akumulasi aldehida reaktif dipelajari dari sudut pandang karbonilasi subsekuen protein dan implikasinya pada patofisiologi kardiovaskuler [4]. Pada sisi lain, pertahanan antioksidan yang berkurang berperan pada kerusakan oksidatif. Konsentrasi rendah GSH-peroksida pada dinding vaskuler menciptakan kondisi yang membantu kerja hidrogen peroksida dan FR lainnya pada lipid dan lipoprotein [28]. Pada kondisi fisiologis, nitrit oksida berperan sebagai antioksidan, menghambat peroksidasi LDL dan efek destruktif mereka pada prtoteoglikan interstitial. Dengan peningkatan produksi FR, NO mungkin menjadi faktor prooksidan, menstimulasi peroksidase LDL dengan mekanisme yang melibatkan myoglobin. Defisiensi faktor protektif lain akan membantu cedera oksidatif. Antioksidan yang larut dalam lemak seperti tokoferol dan ubiquinol tampak pada lingkungan hidrofobik lipoprotein untuk melindungi PUFA dari serangan FR. Data eksperimen in vitro menunjukkan bahwa: i) paparan LDL terhadap stres oksidatif akan memicu peroksidasi lipid hanya setelah kehilangan antioksidan yang disebutkan sebelumnya dan ii) pengayaan LDL dengan vitamin E akan membuat oksidasi LDL lebih sulit [6]. Peran suplementasi antioksidan yang bermanfaat telah secara luas diteliti pada dekade terdahulu dalam variasi model hewan. Kebanyakan peneliti melaporkan efek menguntungkan, seperti, pencegahan lesi atherosklerotik dengan

suplementasi vitamin E, tetapi sebuah studi awal oleh Keaney dkk menyebutkan efek dosis tinggi tokoferol pada relaksasi tergantung-endotel pada kelinci yang diberi makan kolesterol. Sayangnya, meskipun data eksperimen observasional menjanjikan, beberapa percobaan prospektif, buta ganda, terkontrol plasebo tidak mendukung hubungan sebab-akibat antara suplementasi vitamin C dan E dan risiko penyakit jantung koroner yang lebihg rendah [21]. Kekurangan efek yang menguntungkan dengan suplementasi vitamin E dilaporkan baru-baru ini pada percobaan klinis yang besar (the Womens Health Study) yang bertujuan pada peran terapi antioksidan pada pencegahan primer gagal jantung [2].

Hasil negatif ini mungkin terbait dengan fakta suplemen antioksidan dapat menghilangkan peran fisiologis ROS sebagai molekul pensinyalan [18], terutama ketika mempertimbangkan bahwa kebanyakan pasien kardiovaskuler diterapi dengan obat pleiotropik seperti statin, inhibitor enzim pengubah angiotensin, penghambat reseptor angiotensin, yang mana efek mayor mereka dilaporkan mengurangi pembentukan ROS [23]. Bukti menunjukkan bahwa pengurangan jumlah spesies oksigen reaktif, paling mungkin berasal dari mitokhondria [17] tapi tidak secara eksklusif, yang penting dalam mengatur homeostasis kardiovaskuler [19] sebagaimana mekanisme kardioproteksi endogen yang kuat pada reperfusi pasca iskemik, dinamakan pre dan pasca kondisi [20]. Kesimpulannya, peningkatan kadar antioksidan endogen, sebagaimana baru-baru ini ditunjukkan melalui suplementasi pro-oksidan lemah [8], dan bukan suplementasi kronik dengan antioksidan eksogen dosis besar di masa datang dapat menjadi pendekatan yang lebih sesuai untuk menterapi penyakit yang memilki stres oksidatif sebagai denominator umum.