Anda di halaman 1dari 7

SISTEM DEMOKRASI DI INDONESIA Setiap Negara mempunyai tujuan yaitu tujuan bangsa itu sendiri dalam hidup bernegara.

Tujuan Negara berbeda-beda sesuai dengan pandangan masyarakat pada bangsa tersebut serta pandangan hidup yang melandasinya. Pada umumnya, tujuan Negara ditetapkan dalam konstitusi atau hukum dasar Negara yang bersangkutan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini disebabkan karena demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat". Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan. Dengan adanya sistem demokrasi, kekuasaan absolut satu pihak melalui tirani, kediktatoran dan pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari. Demokrasi memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat. Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip-

prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi". Menurutnyaprinsip-prinsip demokrasi adalah: 1. Kedaulatan rakyat; 2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah; 3. Kekuasaan mayoritas; 4. Hak-hak minoritas; 5. Jaminan hak asasi manusia; 6. Pemilihan yang bebas, adil dan jujur; 7. Persamaan di depan hukum; 8. Proses hukum yang wajar; 9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional; 10. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik; 11. Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat. Pondasi atau landasan utama dalam demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances. Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Melalui lembaga-lembaga negara tersebut seperti lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan yudikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang

diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan. Perjalanan Panjang Sejarah Demokrasi Di Indonesia periode 1945-1959 (Masa Demokrasi Parlementer) Pasca proklamasi kemerdekaan, kita memulai demokrasi dengan sistem Demokrasi parlementer pada fase demokrasi ini, peran parlementer serta partai-partai sangat menonjol. Di satu sisi partai-partai ini memang berfungsi sebagai wadah dalam pencerdasan dan aspirasi politik, namun disisi lain, munculnya partai-partai dengan kepentingan dan ideologi yang berbeda secara tidak langsung menciptakan sekat-sekat antar sesama anak bangsa. Akibatnya, persatuan yang digalang selama perjuangan melawan musuh bersama menjadi kendor dan tidak dapat dibina menjadi kekuatan konstruktif sesudah kemerdekaan. periode 1959-1965 (Masa Demokrasi Terpimpin) K ekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut pasti korup. Adagium itu adalah gambaran dari demokrasi paca demokrasi parlementer, pada fase ini, Soekarno mendeklarasikan dirinya sebagai presiden seumur hidup, dan saat itu pula Dwi tunggal runtuh, karena Bung Hatta memilih mundur dari jabatan wakil presiden karena menilai konsep yang dibawa Soekarno sudah jauh menyimpang dari cita-cita rakyat. Salah satu kelemahan dari sistem demokrasi terpemimpin ini adalah tidak adanya proses check and balance. Karena peran presiden sangat dominan sementara partai politik praktis menjadi kurang berfungsi. Soekarno karena karismanya yang sangat hebat di mata rakyatnya dapat menghipnotis bangsa ini sehingga rakyat dan multi parta saat itu tidak bergeming ketika dipegang kekuasaan Soekarno untuk seumur hidup. Periode 1966-1998 (Masa Demokrasi Pancasila Era Orde Baru) Demokrasi pancasila merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan sistem presidensial. Landasan formal periode ini adalah pancasila, UUD 1945 dan Tap MPRS/MPR dalam rangka untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap UUD 1945 yang terjadi di masa Demokrasi Terpimpin. Namun dalam perjalanan 32 tahun pemerintahan Soeharto secara tidak disadari terseret dalam demokrasi yang diktator. Peran presiden semakin dominant terhadap lembaga-lembaga Negara yang lain. Melihat praktek demokrasi pada masa ini, nama pancasila hanya digunakan sebagai legitimasi politik penguasa saat itu

sebab kenyataannya yang dilaksanakan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Kekuatan pemerintah jauh di atas kekuatan rakyat. Rakyat yang punya hak suara hampir sulit untuk berbicara. Periode 1999- sekarang (Masa Demokrasi Pancasila Era Reformasi) Dengan runtuhnya cengkeraman kekuasaan otoriter maka Indonesia memasuki babak baru sebagai negara demokrasi. Setelah rezim berhasil diruntuhkan, peranan partai politik kembali menonjol sehingga demokrasi dapat berkembang. Pada fase-fase awal periode ini, posisi pemerintah masih belum stabil, sehingga beberapa kali terjadi pergantian pemerintahan dalam waktu yang singkat. Era ini ditandai dengan kembali di implementasikannya UUD pasal 28, yaitu kebebasan berpendapat, sehingga pers kembali tumbuh subur. Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang dihayati oleh bangsa dan negara Indonesia yang dijiwai dan diintegrasikan oleh nilai-nilai luhur Pancasila yang tidak mungkin terlepas dari rasa kekeluargaan. Akan tetapi yang menjadi pandangan kita sekarang. Mengapa negara ini seperti mengalami sebuah kesulitan besar dalam melahirkan demokrasi. Banyak para ahli berpendapat bahwa demokrasi pancasila itu merupakan salah satu demokrasi yang mampu menjawab tantangan zaman karena semua kehidupan berkaitan erat dengan nilai luhur Pancasila. Dalam hal ini salah satu ahli Nasional Prof. Dardji Darmodihardjo, S.H. beliau mempunyai pandangan bahwa demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang terwujudnya seperti dalam ketentuan-ketentuan pembukaan UUD 1945. Lain hal lagi dengan Prof. dr. Drs. Notonegoro,S.H., beliau mengatakan demokrasi pancasila adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berke-Tuhan-nan Yang Maha Esa, yang Berkepribadian Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang mempersatukan Indonesia dan yang berkedaulatan seluruh rakyat. Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat. Intinya, setiap lembaga negara
4

bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut. Bahkan saat ini Indonesia disebut-sebut sebagai negara demokrasi percontohan di Kawasan Asia. Perubahan secara radikal ini patut disyukuri oleh semua orang yang menganut keadilan dan kebebasan berpendapat. Tapi dibalik itu perubahan ini menjadi bumerang bagi bangsa ini bila salah dalam menginterpretasikan penerapannya. Saat ini tampaknya kekuatan rakyat sangat dominan. Bahkan etika, moral dan aturan hukum diinjak-injak demi demokrasi keblabasan yang telah diyakini banyak pihak. Kekuatan rakyat yang tanpa etika dan aturan itu sangat mungkin menjadi kontraproduktif yang akan menghancurkan bangsa ini. Namun dalam perjalanan demokrasi dalam era reformasi berjalan terlalu cepat dan tidak terarah. Sistem multi partai dan sistem hukum yang belum berkembang sempurna membuat gaya demokrasi masyarakat bangsa ini menjadi keblabasan. Eforia politik dalam berdemokrasi membuat masyarakat tidak beretika, tidak santun dan cenderung mudah melanggar hukum atau anarkis dalam hidup berdemokrasi. Karena sistem multi partai inilah maka kekuatan rakyat menjadi sangat dominan. Siapapun bangsa ini bisa bebas bersuara, bebas memaki, bebas demonstrasi anarkis tanpa ada aparat hukum bisa menindak. Meski aturan hukum sudah sangat kuat tetapi aparat tidak terpedaya dalam membendung kekuatan rakyat yang sudah menjadi besar. Aparat sering tersandera oleh jargon demokrasi yang berlebihan seperti HAM dan pelanggaran demokrasi. Dalam buku Le Contrac Sosial, Jean Jacques Rousseau memaparkan bahwa penguasa atau pemerintah telah membuat perjanjian dengan rakyatnya yang disebut dengan istilah kontrak sosial. Dalam sebuah republik demokrasi, kontrak sosial atau perjanjian masyarakat ini diwujudkan dalam sebuah pemilihan umum. Melalui pemilihan umum, rakyat dapat memilih siapa yang menjadi wakilnya dalam proses penyaluran aspirasi yang selanjutnya menentukan masa depan sebuah negara. Namun kenyataanya dilapangan malah berbanding terbalik. Para anggota dewan hasil pilihan rakyat melalui pemilu sama sekali tidak memperhatikan tugasnya sebagai wakil rakyat. Mereka hanya menuntut kelayakan dan kenyamanan kerja mereka saja, seperti misalnya kenaikan gaji dan tunjangan

yang ditentukan sendiri, pembuatan fasilitas gedung baru yang memakan banyak uang Negara, ongkos/biaya perjalanan keluar negri yang terlalu sering dilakukan misalnya hanya untuk membahas lambang PM (palang merah) saja harus melakukan perjalanan dinas keluar negri yang memakan biaya yang lumayan fantastis. DPR sebagai lembaga legislatif saat ini bisa dianggap gagal melakukan tugasnya dimana letak prinsip jujur dari demokrasi. Rapat-rapat di DPR tidak bisa menjalankan asas demokrasi, anggota DPR yang dianggap lebih berwibawa, lebih berpendidikan, yang seharusnya lebih tau arti demokrasi malah menunjukkan hal yang memalukan. Seperti yang waktu ini terekspose oleh media, anggota DPR saling tidak ada yang mau mengalah dalam menyuarakan aspirasinya, semua mengaku paling benar tidak ada yang mengaku salah, sampai rapat menjadi ricuh. Dimana letak demokrasi Pancasila yang dianut Indonesia. Di pemerintahan saja demokrasi tidak berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi apalagi dikalangan rakyat bawah, yang notabena rata-rata hanya tamat SD, SMP, atau SMA, bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. Tidak heran di masyarakat terjadi banyak perdebatan yang berujung anarkhisme. Misalnya kerusuhan di Bima, kerusuhan di Papua sampai yang terbaru kerusuhan antara orang Bali dengan orang Lampung di Lampung Selatan yang tidak tanggung-tanggung memakan banyak korban. Permasalahan sepele dibesar-besarkan. Manusia sekarang gampang diprovokasi, gampang dihasut, gampang emosi, sering menjatuhkan lawan demi kepuasan sendiri sehingga sering berakhir dengan anarkhisme. Kemana kemampuan berpikir intelek kita sebagai mahluk ciptaan tuhan yang secara kodrati diberi kemapuan berpikir? Dimana letak sikap kemanusiaan kita?. Bukankah setiap masalah jika diselesaikan dengan kepala dingin, dengan mengutamakan prinsip-prinsip demokrasi akan dapat selesai sesuai dengan harapan bersama?. Inilah bukti bahwa demokrasi hanya sekedar wacana saja. Demokrasi Indonesia sudah benar-benar kebablasan. Kapan Negara ini akan bebas dari cap Negara berkembang? Jika untuk mengatur masalah anatar etnis saja tidak bebas. Harus diingat kita Negara plural, memiliki banyak kebudayaan, banyak suku, ras, bahasa dan agama. Kita sebagai warga Negara yang baik, marilah hargai dan junjung tinggi rasa persaudaraan, solidaritas dan demokrasi. Jika ada masalah marilah kita selesaikan bersama dengan mufakat dan

kekeluargaan bukan dengan aksi anarkisme yang akan merugikan kita bersama, merugikan Negara yang kita cintai ini : Negara Indonesia.