Anda di halaman 1dari 14

STATUS PASIEN KEPANITERAAN

DERMATITIS STATIS

Kepanitraan Klinik Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Periode 21 Mei 23 Juni 2012 Rumah Sakit Husada Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta

Kepanitraan Klinik Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Periode 21 Mei 23 Juni 2012 Rumah Sakit Husada Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta
STATUS PASIEN KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAR RS HUSADA

A. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Status pernikahan B. ANAMNESA Autoanamnesa dilakukan pada tanggal 1 Juni 2012 pukul 12.45 WIB Keluhan utama : Gatal pada kedua tungkai bagian bawah dan pungggung kaki sejak 6 bln sebelum datang ke RS Keluhan tambahan : Rasa perih pada bekas garukan dan kulit menjadi menebal Riwayat perjalanan penyakit: Os datang ke poli kulit RS HUSADA JAKARTA pada tanggal 1 Juni 2012 dengan keluhan gatal pada kedua tungkai bagian bawah dan pungggung kaki sejak 6 bulan yang lalu. Gatal tidak tergantung oleh waktu, tidak dipengaruhi oleh stress, tidak bertambah gatal setelah mandi atau berkeringat. Os merasa lebih enak setelah menggaruk, namun karena garukan yang berulang menyebabkan kulitnya menjadi merah dan menggelupas disertai dengan rasa perih pada bekas garukan. : Tn. T.A. : Laki-laki : 61 tahun : Jl. Kebun jeruk XIII/ 15 : Pedagang : Menikah

Pada awalnya os mengatakan kulitnya terasa kering dan gatal, kemudian kulit menjadi berwarna merah kehitaman. Lesi makin lama makin melebar, tampak bersisik serta kulit terasa tebal. Selama ini os sudah memberi terapi sendiri dengan menggunakan salep gentamisin tetapi gatal tidak berkurang. Os bekerja sebagai pedagang sehingga os sering berdiri dalam waktu yang cukup lama dalam aktivitas sehari-hari. Riwayat penyakit dahulu: Penderita tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Penderita memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus. Penderita memiliki riwayat penyakit hipertensi. Penderita memiliki riwayat penyakit jantung. Penderita memiliki riwayat penyakit gagal ginjal kronik. Riwayat alergi obat-obatan, makanan dan lingkungan disangkal.

C. STATUS GENERALISATA keadaan umum kesadaran status gizi suhu tekanan darah BB/ TB mata gigi THT : baik : compos mentis : baik : afebris : 150/80 : 98 kg/ 165cm : konjungtiva anemis -/-, sclera -/: oral hygiene baik : dalam batas normal

D. STATUS DERMATOLOGI Distribusi : regional, bilateral Lokasi : 1. kedua tungkai bawah dan punggung kaki

2. medial dan lateral di atas maleolus kedua kaki Efloresensi : 1. eritema, skuama, eksudasi, skuama, krusta, likenifikasi dan juga fisura 2. edema. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pemerikdaan laboratorium darah didapatkan hasil sebagai berikut: Tanggal 27 Mei 2012 pukul 08.33 WIB Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit Ureum Kreatinin GDP Kalium : 11, 5 : 33 : 7,7 : 171 : 171 : 110 : 3,30 : 70 : 5,50

F. RESUME Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 61 tahun dengan keluhan gatal pada kedua tungkai bagian bawah dan pungggung kaki sejak 6 bulan yang lalu. Gatal tidak tergantung oleh waktu, tidak dipengaruhi oleh stress, tidak bertambah gatal setelah mandi atau berkeringat. Os merasa lebih enak setelah menggaruk, namun karena garukan yang berulang menyebabkan kulitnya menjadi merah dan menggelupas disertai dengan rasa perih pada bekas garukan. Pada awalnya os mengatakan kulitnya terasa kering dan gatal, kemudian kulit menjadi berwarna merah kehitaman. Lesi makin lama makin melebar,tampak bersisik serta kulit terasa tebal. Selama ini os sudah memberi terapi sendiri dengan menggunakan salep gentamisin tetapi gatal tidak berkurang. Os bekerja sebagai pedagang sehingga os sering berdiri dalam waktu yang cukup lama dalam aktivitas sehari-hari.

Riwayat penyakit dahulu: penderita tidak pernah mengalami keluhan seperti ini. Penderita memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, penyakit hipertensi, penyakit jantung dan penyakit gagal ginjal kronik. Riwayat alergi obat-obatan, makanan dan lingkungan disangkal. Status dermatologi: Distribusi : regional, bilateral Lokasi : 1. kedua tungkai bawah dan punggung kaki 2. medial dan lateral di atas maleolus kedua kaki Efloresensi : 1. eritema, skuama, eksudasi, skuama, krusta, likenifikasi dan juga fisura 2. edema. G. DIAGNOSA a. Diagnosa kerja: dermatitis statis b. Diagnosa banding: Dermatitis kontak Dermatitis numularis

H. PENATALAKSANAAN Nonmedikamentosa turunkan berat badan istirahat dengan posisi kaki ditinggikan lebih tinggi dari posisi jantung untuk memperbaiki mikrosirkulasi saat beraktivitas menggunakan kaos kaki kompresi

Medikamentosa sistemik: o Ardium 500 mg, dosis: 1 tablet/ hari

Topical: o Gliserin 200ml o Gentian violet 2% 20 ml o Krim racikan: Acid salisil 3% + Vaselin album 5g + soft u derm 40g + kloderma krim 10g

I. PROGNOSIS Ad vitam: dubia ad bonam Ad functionam: dubia ad bonam Ad sanationam: dubia ad bonam

LAMPIRAN FOTO

DERMATITIS STATIS
I. Definisi
Dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena (hipertensi vena) tungkai bawah.

II.

Sinonim
Dermatitis gravitasional Eksim stasis Dermatitis hipostatik Eksim varikosa Dermatitis venosa

III.

Epidemiologi
Dermatitis Stasis lebih banyak terjadi pada wanita usia pertengahan atau lanjut,kemungkinan karena efek hormonal serta kecenderungan terjadinya thrombosis vena dan hipertensi saat kehamilan. Insidens pada wanita lebih banyak menderita dari pada pria. Dijumpai pada orangdewasa dan orang tua, tidak pada anak-anak. Banyak terjadi pada orang gemuk, banyak berdiri dan banyak melahirkan.

IV.

Etiologi
Kelainan ini merupakan akibat lanjutan hipertensi vena (yang umumnya terjadi ditungkai bawah) dan trombosis. Kelainan diperberat oleh adanya garukan atau gosokan. Selanjutnya terjadi eksematisasi yang dapat muncul secara perlahan-lahan maupun mendadak.

V.

Patogenesis
Teori mengatakan peningkatan hidrostatik vena, terjadi kebocoran fibrinogen masuk ke dalam dermis selanjutnya fibrinogen di luar pembuluh darah akan berploriferasi membentuk fibrin perikapiler dan interstisium sehingga menghalangi difusi oksigen dan makanan akibatnya akan tejadi kematian sel. Teori lain mengatakan sel darah putih terperangkap oleh tekanan vena yg menigkat akan menimbulkan perbedaan tekanan antara sistem arteri dan vena menurun, kecepatan aliran darah dalam kapiler antar dua system tersebut berkurang, yang mengakibatkan agregasi eritrosit dan sumbatan oleh leukosit di dalam kapiler, sehingga terjadi iskemia. Menyebabkan hubungan arteri & vena terganggu menjadi hipoksia dan makanan di kulit menjadi lesi Dermatitis Stasis.

VI.

Gejala Klinik
Akibat tekanan vena yang meningkat pada tungkai bawah, akan terjadi pelebaran vena, varises, dan edema. Lambat laun akan menjadi merah kehitaman pada kulit dan timbul purpura dimulai dari tungkai bawah bagian medial/ lateral di atas maleolus. Kemudian bertahap akan meluas ke atas sampai di bawah lutut dan ke bawah sampai di punggung kaki. Dalam perjalanan selanjutnya terjadi perubahan eksematosa berupa eritema, skuama, kadang eksudasi, dan gatal. Bila berlangsung lama, kulit akan menjadi tebal dan fibrotic, meliputi sepertiga tungkai bawah (lipodermatosklerosis).

VII.

Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas gambaran klinis. Pemeriksaan penunjang : MRV (Magnetic Resonance Venography) Sonografi Duplex Doppler

VIII.

Diagnosa Banding
1. Dermatitis Kontak Alergi: ada riwayat kontak, batas tegas, tidak ada hemosiderin 2. Dermatitis Numularis: bentuk bundar, batas tegas

IX.

Penatalaksanaan
1. Non Medika Mentosa Bila ada obesitas, turunkan berat badan Penderita istirahat dengan posisi kaki ditinggikan lebih tinggi dari posisi jantung untuk memperbaiki mikrosirkulasi Saat beraktivitas menggunakan kaos kaki kompresi Jangan menggunakan sepatu / sandal berhak tinggi Berolahraga secara teratur Jangan mengangkat barang berat Jangan berdiri / duduk dalam waktu lama. Jangan duduk dengan menyilangkan kaki

2. Medika Mentosa Topikal: a. Jika basah Kompres larutan KMnO4 1/5000 b. H2O2 sol 3 %, Oxoferin ( Tetra chlorodeca oxygen anion complex) dipakai untuk membersihkan luka bernanah c. antiseptik & merangsang proliferasi jaringan. d. Jika sudah kering Kortikosteroid topikal potensi rendah sedang (Hidrokortison 1-2%) e. Preparat vasoprotektif /antivarises ( tidak untuk luka terbuka) untuk mencairkan bekuan darah sehingga mengurangi bengkak dan efek anestesi ringan untuk mengurangi gatal

Sistemik: a. AH-1 yang tipe sedatif berperan sebagai anti gatal & penenang b. Antibiotik untuk infeksi sekunder spt Selulitis. (Contoh: Penisillin / Eritromisin) c. Zat penstabil kapiler yang digunakan untuk memperkuat dinding pembuluh darah. Contoh : bioflavonoid ( diosmin, hesperidin : Ardium )

3. Scleroterapi (zat sclerosing) : Polidocanol. Jika disuntikkan langsung ke vena maka vena akan menciut. 4. Tindakan pembedahan menghilangkan sumbatan

X.

Komplikasi
ulkus venosum / varikosum, infeksi sekunder (selulitis), autosensitisasi.

XI.

Prognosa
Pada dermatitis statis sering residif. Baik apabila faktor penyumbat dapat dihilangkan.

ANALISA KASUS Pasien laki-laki, usia 61 tahun, sudah bernikah, datang ke Poliklinik Kulit RS Husada Jakarta dengan keluhan gatal pada kedua tungkai bagian bawah dan pungggung kaki sejak 6 bln sebelum datang ke RS. Juga dirasakan rasa perih pada bekas garukan dan kulit menjadi menebal Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, didapatkan pasien ini menderita dermatitis stasis. Dasar diagnosis adalah tampak gambaran eritema, skuama, eksudasi, skuama, krusta, likenifikasi dan juga fisura pada kedua tungkai bawah dan punggung kaki, serta bagian medial dan lateral di atas maleolus kedua kaki terdapat edema. Garukan disebabkan oleh sensasi gatal merupakan perubahan eksematosa dalam jangka waktu yang lama. Menurut pasien, gatal yang dirasakan menyebabkan os sering menggaruk-garuk untuk menghilang rasa gatal malah merasa lebih enak setelah garukan tetapi perih pada bekas garukan. Faktor pencetus dari diagnosis dermatitis stasis ini dari usia dewasa tua, dan adanya obesitas serta penyakit jatung yang diderita. Os tidak pernah mengalami keluhan seperti ini. Os memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, penyakit hipertensi, penyakit jantung dan penyakit gagal ginjal kronik. Riwayat alergi obat-obatan, makanan dan lingkungan disangkal. Namun, untuk menegakkan diagnosis dermatitis stasis, dianjurkan pemeriksaan MRV (Magnetic Resonance Venography) untuk melihat apakah ditemukan sumbatan vena. Terapi dermatitis stasis adalah dengan pemberian obat penstabil kapiler yang digunakan untuk memperkuat dinding pembuluh darah. Contoh : bioflavonoid ( diosmin, hesperidin : Ardium ). Pada kasus ini pengobatan sistemik lainnya tidak diberikan supaya tidak memperberat fungsi ginjal yang sudah menurun. Untuk pengobatan topical diberikan gliserin 200ml yang digunakan bersama dengan aquadest untuk mengompres lesi. Selain itu juga diberikan Gentian violet 2% 20 ml yang dipakaikan pada luka akibat

garukan. Juga ditambahkan krim racikan: Acid salisil 3% + Vaselin album 5g + soft u derm 40g + kloderma krim 10g. Disarankan pada pasien supaya menurunkan berat badan, istirahat dengan posisi kaki ditinggikan lebih tinggi dari posisi jantung untuk memperbaiki mikrosirkulasi dan juga saat beraktivitas menggunakan kaos kaki kompresi.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. Jakarta 3. 4. Murtiastutik, Dwi, dkk. 2009. Atlas Penyakit Kulit Dan Kelamin. Ed.2. Airlangga University Press : Surabaya.7. Rod dishidrosis tobing. 2010.Dermatitis stasis dan dermatitis at: (pompholyx). Available Djuanda Adhi, Hamzah Mochtar, Aisah Siti, editor. Dermatitis. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed 5.p 126-38. Jakarta: FKUI Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates:

http://www.sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran