Anda di halaman 1dari 43

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spermatogenesis (1) Proses pembentukan dan pemasakan terjadi di tubulus spermatozoa seminiferus.

disebut spermatogenesis.

Spermatogenesis

Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma. Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu:

LH (Luteinizing Hormone) merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
3

FSH (Folicle Stimulating Hormone) merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebutspermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.

Proses Spermatogenesis : Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu : 1. Spermatocytogenesis Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) nutrisi dengan dari cara mitosis. sertoli Spermatogonia dan ini mendapatkan sel-sel berkembang

menjadi spermatosit primer. Spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder. 2. Tahapan Meiois Spermatosit primer menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I menghasilkan spermatosit sekunder yang n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis II membentuk empat buahspermatid yang haploid juga. Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.
4

3. Tahapan Spermiogenesis Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa (sperma) masak. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.

Gambar 1. Spermatogenesis

Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.

Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 400 juta sel spermatozoa. 2.2 Struktur Sperma

Gambar 2. Anatomi Sperma Struktur spermatozoa tersebut terlihat mempunyai bentuk mirip seperti kecebong (anak katak yang baru menetas), terdapat bagian kepala dan ekor, dapat terlihat bahwa sel-sel sperma memiliki struktur sebagai berikut. 1) Kepala Pada bagian ini terdapat inti sel. Bagian kepala dilengkapi dengan suatu bagian yang disebut dengan akrosom, yaitu bagian ujung kepala sperma yang berbentuk agak runcing dan menghasilkan enzim hialuronidase yang berfungsi untuk menembus dinding sel telur. Di bagian kepala ini terdapat 22 kromosom tubuh dan 1 kromosom kelamin yaitu kromosom Xatau Y, kromosom X untuk membentuk bayi berkelamin perempuan, sedangkan kromosom Y untuk membentuk bayi berkelamin laki-laki. Kromosom kelamin laki-laki inilah nantinya yang akan menentukan jenis kelamin pada seorang bayi. 2) Bagian tengah

Bagian tengah mengandung mitokondria yang berfungsi untuk pembentukan energi. Energi tersebut berfungsi untuk pergerakan dan kehidupan sel sperma. Bahan bakar dalam pembentukan energi ini adalah fruktosa. 3) Ekor Bagian ekor lebih panjang, bersifat motil atau banyak bergerak. Fungsinya adalah untuk alat pergerakan sperma sehingga dapat mencapai sel telur. Pergerakan sel ini maju didorong oleh bagian ekor dengan pergerakan menyerupai sirip belakang ikan. Pembentukan sperma dipengaruhi oleh hormon FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone). Pembentukan FSH dan LH dikendalikan oleh hormon gonadotropinyaitu hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipothalamus dari otak. Proses spermatogenesis juga dibantu oleh hormon testosteron. Sperma yang sudah terbentuk di dalam testis seperti pada proses di atas, kemudian akan disalurkan ke bagian epididimis dan kemudian ke vas deferens, dan bercampur dengan sekret dari kelenjar prostat dan cowperi. Dari tempat itu kemudian dikeluarkan melalui uretra yang terdapat di dalam penis. Seperti yang sudah Anda ketahui, bahwa uretra juga merupakan saluran kencing sehingga mungkin akan timbul pertanyaan, dapatkah sperma ini keluar bersamaan air kencing? Jika hal ini terjadi maka spermatozoa akan mati karena air kencing bersifat asam, sehingga hal ini tidak pernah terjadi. Ada pengaturan oleh sarafsaraf uretra untuk pembagian kedua tugas ini. Ketika seorang laki-laki dan seorang wanita bersenggama (melakukan hubungan seksual) maka saraf akan mengontrol katup uretra agar tidak terbuka. Bahkan, sebelum terjadi ejakulasi, cairan basa dari kelenjar cowperi akan menetralkan sisa-sisa air kencing yang terdapat di dalam saluran tersebut.

2.3 Hormon Reproduksi Pria


Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon. Hormon-hormon tersebut adalah sebagai berikut: 1. Testosteron

Testosteron adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan seks sekunder pria seperti pertumbuhan rambut di wajah (kumis dan jenggot), pertambahan massa otot, dan perubahan suara. Hormon ini diproduksi di testis, yaitu di sel Leydig. Produksinya dipengaruhi oleh FSH (Follicle Stimulating Hormone), yang dihasilkan oleh hipofisis. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder. Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat embrio, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder serta mendorong spermatogenesis. 2. Luteinizing Hormone/LH Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. Fungsi LH adalah merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. Pada pria, awal pubertas antara usia 13 sampai 15 tahun terjadi peningkatan tinggi dan berat badan yang relatif cepat bersamaan dengan pertambahan lingkar bahu dan pertambahan panjang penis dan testis. Rambut pubis dan kumis serta jenggot mulai tumbuh. Pada masa ini, pria akan mengalami mimpi basah. 3. Follicle Stimulating Hormone/FSH Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. FSH berfungsi untuk merangsang sel Sertoli menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium spermatosit untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis.

Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari. 4. Estrogen Estrogen dibentuk oleh sel-sel Sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel Sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen

serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma. 5. Hormon Pertumbuhan Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis. 6. Hormon Gonadotropin Hormon gonadotropin dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini berfungsi untuk merangsang kelenjar hipofisa bagian depan (anterior) agar mengeluarkan hormon FSH dan LH.

2.4 Analisa Sperma (2) Plasma semen Plasma semen yang merupakan sekret kelenjar genital tambahan sebenarnya tidak dikeluarkan sekaligus sewaktu ejakulasi, tetapi secara bertahap. Ada 4 tahap atau fraksi yaitu :

1. Fraksi Pre ejakulasi Hasil sekresi dari kelenjar Cowper / Bulbo urethra dan kelenjar Littre. Sekret ini dikeluarkan dari penis jauh sebelum ejakulasi, volume 0,2 ml. Diduga berfungsi untuk melicinkan urethra dan melicinkan vagina waktu coitus.

2. Fraksi Awal Hasil sekresi dari kelenjar Prostat, sekretnya berupa lendir, volume 0,5 ml. lendir mengandung berbagai zat untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh.

3. Fraksi Utama

Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan spermatozoa yang berasal dari epididimis. Volume 2 ml.

4. Fraksi Akhir Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan sedikit sekali spermatozoa (yang non motil). Volume 0,5 ml. Kandungan zat kimia semen 1. Fruktosa - Dihasilkan oleh vesicula seminalis. - Berada dalam plasma semen - Sumber energi bagi motiitas spematozoa - 1,5-7,0 mg/ml.

2. Asam sitrat - Dihasilkan oleh kelenjar prostat - Menjaga keseimbangan osmotik semen - Bila zat ni tidak ditemukan dalam semen berarti ada kelainan pada kelenjar prostat. - Mencegah terjadinya kalkuli konkresi prostat dengan cara mengikat ion Ca.

3. Spermin - Dihasilkan oleh kelenjar prostat - Menyebabkan bau yang khas pada semen seperti bau bunga akasia - Suatu bakteriostatik.

4. Seminin - Dihasilkan oleh kelenjar prostat - Mengencerkan lendir servix.

10

5. Enzim Phosphatase Asam, Glukoronidase, Lisozim dan Amilase - Dihasilkan oleh kelenjar prostat. - Memelihara atau memberi nutrisi bagi spermatozoa di luar tubuh dem kelangsungan hidup spermatozoa.

6. Prostaglandin - Dihasilkan oleh kelenjar vesicula seminalis dan kelenjar prostat. - Merangsang kontraksi otot polos saluran genitalia wanita sewaktu ejakulasi dan untuk vasodilatasi pembuluh darah. - Melancarkan spermatozoa saat bermigrasi dari vagina ke tuba fallopi dengan mengurangi gerakan uterus.

7. Na, K, Zn, Mg - Dihasilkan oleh kelenjar prostat dan vesicula seminalis - Memelihara pH plasma semen agar tetap pada pH normal 7,2-7,8.

2.4.1 Persiapan dan Sampling (3) Persiapan dan Persyaratan Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikitdikitnya selama 3 hari (3 x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik. Tetapi untuk baiknya pasien diminta supaya tidak mengadakan kegiatan seksual selama 3-5 hari. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum melakukan aktifitas, sedekat mungkin sebelum pemeriksaan laboratorium. Cara memperoleh Sperma
11

Banyak penderita tidak mengerti bagaimana cara memeriksakan sperma. Kita harus maklum, bahwa pemeriksaan sperma lain dengan pemeriksaan kencing atau tinja, karena bahan-bahan yang terakhir itu dengan wajar dapat dikeluarkan oleh penderita. Tetapi masalah memperoleh sperma yang akan diperiksa merupakan persoalan tersendiri untuk penderita. Hal ini dapat dimengerti, sebab tidak pada setiap kesempatan seseorang dapat mengeluarkan sperma. Adapun cara-cara yang digunakan untuk memperoleh sampel sperma yaitu dengan :

1. Masturbasi Merupakan suatu metode pengeluaran sperma yang paling dianjurkan. Tindakan ini berupa menggosok kemaluan lelaki (penis) berulang-ulang, sampai terjadi ketegangan dan pada klimaks akan keluar sperma. Sebelum melakukan masturbasi hendaknya penis dicuci dahulu agar tidak tercemar oleh kotoran. Untuk mempermudah masturbasi kadang-kadang dalam menggosok penis diberi pelicin misalnya sabun, krim atau jelly. Tetapi saat dipakai jangan sampai mencapai lubang keluarnya sperma. Kebaikan dari cara ini, di samping menghindari kemungkinan tumpah ketika menampung sperma, juga pencemaran sperma dari zat-zat yang tak diinginkan dapat dihindari. Tempat penampungan sperma sebaiknya dari botol kaca yang bersih, kering dan bermulut lebar atau boleh dengan tempat lain dengan syarat tidak spermatotoksik.

2. Coitus Interuptus Cara ini dilakukan dengan menyela atau menghentikan hubungan saat akan keluar sperma. Walaupun cara ini banyak dilakukan untuk memperoleh sampel sperma untuk diperiksa, namun cara ini kurang baik karena hasilnya kurang dapat dipertanggungjawabkan, lebih-lebih bila hasil pemeriksaannya mendapatkan hasil dimana jumlah spermatozoanya di bawah kriteria normal (oligosperma). Tetapi cara ini kelemahannya dikhawatirkan sebagian telah tertumpah ke dalam vagina sehingga tidak sesuai lagi untuk pemeriksaan. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sperma yang dikeluarkan pada waktu ejakulasi terbagi menjadi beberapa tahap, paling sedikit dua tahap. Tahap pertama adalah merupakan ejakulat yang
12

mengandung spermatozoa yang terbanyak, sedangkan tahap yang kedua hanya mengandung spermatozoa sedikit saja atau bahkan sering tidak dijumpai spermatozoa, tetapi mengandung porsi fruktosa yang terbanyak. Dalam pengendalian orgasme sewaktu melakukan interuptus tidak menjamin bahwa sebagian besar atau sebagian kecil terlanjur dikeluarkan di vagina sehingga mengakibatkan kita memperoleh sampel sperma yang tidak lengkap, sehingga memberikan hasil yang tidak sewajarnya.

3. Coitus Condomatosus Dengan alasan apapun pengeluaran sperma dengan memakai kondom untuk menampung mani tidak dianjurkan dan tidak diperkenankan karena zat-zat pada permukaan karet kondom mengandung suatu bahan yang bersifat spermicidal yang mempunyai pengaruh melemahkan atau membunuh spermatozoa, biarpun kondom sudah dicuci dan dikeringkan. Selain daripada itu kemungkinan terjadi tumpahnya sperma sewaktu pelepasan kondom atau menuangkan ke botol penampung. Tetapi ada beberapa kondom khusus yang dipergunakan untuk keperluan penampungan sperma, karena bahan dipakai tidak bersifat spermasida.

4. Vibrator Masih ada cara lain untuk mempermudah mengeluarkan sperma ialah dengan vibrator. Alat ini mempunyai berbagai ukuran, terbuat dari plastik dengan permukaan halus, dapat digerakkan dengan baterai yang menghasilkan getaran lembut. Alat ini kalau ditempelkan pada glans penis, akan menimbulkan rasa seperti mastrubasi dan dengan fibrasi yang cukup lama, diharapkan sperma akan keluar.

5. Refluks Pasca Sanggama Dengan memeriksa sperma yang telah ke vagina. Cara ini tidak dianjurkan karena dipergunakan cairan fisiologis untuk pembilasan, dan sperma tercampur dengan sekret vagina, sehingga akan didapatkan hasil yang tidak mencerminkan keadaan
13

sesungguhnya. Wadah Penampung Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu wadah terbuat dari gelas atau plastik yang bermulut lebar dan yang lebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Wadah harus dapat ditutup dengan baik untuk menjaga jangan sampai sebagian tertumpah. Pasien diminta mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya dan menyerahkan sampel itu selekasnya kepada laboratorium. Laboratorium juga wajib mencatat waktu pemeriksaan-pemeriksaan dijalankan. Penyerahan sampel sperma Segera setelah sperma ditampung, maka sperma harus secepatnya diserahkan kepada petugas laboratorium. Hal tersebut perlu dilakukan karena beberapa parameter sperma mempunyai sifat mudah berubah oleh karena pengaruh luar. Sperma yang dibiarkan begitu saja akan berubah pH, viskositas, motiltas dan berbagai sifat biokimianya. Waktu pemeriksaan Setelah penderita diberikan penerangan tentang cara-cara serta syarat-syarat pengeluaran sperma dan lainnya, maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal ini tergantung dari kesiapan pasien dan kesiapan laboratorium. Kalau syarat-syarat serta semua persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran sperma dapat dilakukan. Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa. Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh didinginkan dibawah 20C atau dipanaskan diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat mempengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa. Hal-hal lain Hal lain yang perlu diutarakan pada pasien adalah pada waktu abstinensia janganlah minum obat - obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum atau semacamnya. Hal ini diperlukan agar benar-benar sperma yang
14

diperiksa tidak dipengaruhi oleh obat obatan. Kalau perlu dicatat obat yang dimakan dalam 1-2 minggu sebelum analisis dilakukan. 2.4.2 Pemeriksaan Sperma (3,4)

Parameter sperma dapat berupa parameter sperma dasar serta parameter biokimia sperma. Dalam pemeriksaan rutin atau pemeriksaan dasar, yang dilakukan adalah mengukur parameter yang diperlukan sebagai dasar umum untuk mendiagnosis keadaan andrologis, serta yang mudah dilakukan dengan tidak memakai alat-alat serta pengetahuan yang lebih rumit. Berikut parameter pemeriksaan sperma meliputi : A. Pemeriksaan Makroskopis : 1. Liquefaksi 2. Viscositas 3. pH Sperma 4. Bau Sperma 5. Warna Sperma 6. Volume Sperma B. Pemeriksaan Mikroskopis : 1. Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa 2. Vitalitas Spermatozoa 3. Jumlah Spermatozoa 4. Morfologi Spermatozoa 5. Aglutinasi spermatozoa (khusus) 6. Benda-benda khusus sperma (khusus) C. Pemeriksaan Kimiawi dan enzim 1. Kadar Fruktosa 2. Acid Phospatase/ACP (khusus) A. Pemeriksaan Makroskopis
15

Pemeriksaan makroskopis memperhatikan volume, warna kekeruhan dan kentalnya mani, selain itu biasanya pH juga diperiksa. Mengukur volume dilakukan dengan memindahkan ejakulat kedalam gelas ukur 5 atau 10 ml sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

1. Likuefaksi (pencairan) Sperma yang baru saja dikeluarkan selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara lendir putih yang cair. Liquefaction ini terjadi karena daya kerja dari enzim-enzim yang diproduksi oleh kelenjar prostat antara lain enzim seminin. Untuk sperma yang normal gumpalan ini akan mencair setelah waktu 15-20 menit. Makna Klinis : Jika liquefaction melebihi dari waktu 20 menit atau lebih lama lagi berarti terjadi gangguan pada kelenjar prostat dan defisiensi enzim seminin.

2. Pemeriksaan Viscositas (Kepekatan) Setelah terjadi likuefaksi, biasanya cairan sperma menjadi homogen, tetapi tetap menunjukkan suatu sifat kepekatan. Untuk mengukur suatu viscositas dari sperma yang termudah dengan jalan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang pengaduk, kemudian ditarik, maka akan terjadi benang yang panjangnya antara 3-5 cm. makin panjang benang yang terjadi, maka makin tinggi viscositasnya. Pengukuran viscositas seperti tersebut diatas sifatnya sangat subyektif dan tergantung dari keterampilan si pemeriksa. Ada suatu cara yang lebih tepat untuk mengukur suatu viscositas dengan mempergunakan suatu pipet standar yang disebut Pipet Elliasson. Pipet ini mempunyai volume 0, 1 ml. Prosedur : - Sperma diisap dengan pipet Elliason sampai menunjukkan volume 0,1 ml. - Kemudian tekanan dilepaskan. - Tetesan pertama diukur dengan stopwatch. Normal : 1-2 detik Catatan : Baik liquefaction maupun viscositas tergantung dari daya kerja enzim-enzim
16

kelenjar prostat. Perlu ditekankan bahwa viscositas sangat erat hubungannya dengan motilitas spermatozoa, artinya viscositas yang tinggi sering disertai dengan motilitas yang rendah. Makna klinis : - Jika semen terlalu kental (panjang benang > 5 cm) maka enzim likuefaksi dari prostat kurang berfungsi. - Jika terlalu encer (panjang benang <> 8 maka radang akut pada kelenjar genitalia tambahan atau epiddiymitis. Sedang pada pH <> 6 ml Hypospermia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : - Sampel tumpah karena tidak hati-hati, ini disebut kesalahan tehnis. - Gangguan patologis dan genetis pada organ genitalia - Vesicula seminalis tidak berfungsi - Gangguan hormonal atau akibat radang. Hyperspermia disebabkan oleh abstinensi yang terlalu lama dan kelenjar genitalia tambahan terlalu aktif. B. Pemeriksaan Mikroskopis Pemeriksaan mikroskopis dilakukan setelah sperma mengalami liquefaction. Jadi kira-kira 20 menit setelah dikeluarkan. Adapun pemeriksaan mikroskopis yang umum dilakukan meliputi :

1. Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa a. Mekanisme pergerakan Spermatozoa bergerak (Motil), dengan maksud agar sampai dialat reproduksi wanita untuk pembuahan. Energi untuk motilitas bersumber pada bagian tengah spermatozoa. Dibagian tengah itu dapat diibaratkan generator spermatozoa. Energi dari bagian tengah disalurkan kebagian distal, yaitu ke ekor, kemudian ekor bergerak. Jadi ekor dapat diibaratkan sebagai kemudi juga sebagai pendorong spermatozoa. Energi yang keluar menyebabkan dua macam gerakan. Pertama, gerakan bergelombang keujung ekor. Gelombang itu makin ke ekor makin lemah. Gerakan kedua bersifat sirkuler. Energi yang keujung ekor itu tidak lurus kebelakang tapi
17

arahnya melingkari batang tubuh bagian tengah, terus keujung ekor. Resultante dari dua gerak tersebut menyebabkan motilitas spermatozoa, seluruh tubuh spermatozoa mulai dari kepala sampai ke ekor bergerak melingkar pada asnya dan ke depan. Hal ini menyebabkan gerak lurus ke depan aktif, lincah dengan irama getar ekor yang teratur.Irama getar ekor spermatozoa normal manusia ialah 15x/detik. Pada sapi getaran itu kira-kira 20 x/detik. Maka dari itu dapat dibayangkan bahwa hanya spermatozoa yang normal saja yang dapat bergerak normal pula. Sebab andaikata bentuk kepala spematozoa tak normal katakanlah bentuk terato maka arah gerakan tak mungkin lurus ke depan sebab bagian depan sedemikian tak ideal untuk memperoleh gerak lurus . Demikian pula andaikata terdapat bagian tengah yang bengkok, bagian ekor yang melingkar, bagian kepala yang masih tertempel oleh sisa sitoplasma (imatur) kesemuanya mengakibatkan terganggunya gerak lurus ke depan dan lincah. b. Macam Motilitas spermatozoa Berdasarkan mekanisme motilitas tersebut dapat dibedakan dua macam motilitas spermatozoa, yaitu : - Spermatozoa Motilitas Baik. Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang berirama. - Spermatozoa Motilitas Kurang Baik. Semua motilitas spermatozoa kecuali yang tersebut spermatozoa motilitas baik, dianggap spermatozoa dengan motilitas kurang baik atau jelek. Yang termasuk motilitas spermatozoa kurang baik ialah : - Motilitas bergetar atau berputar Spermatozoa hanya bergetar dalam satu bidang saja dan kadang-kadang berhenti. Ekor hanya bergetar kekiri atau ke kanan tak bergetar rotasi meskipun frekuensi getarnya dapat tinggi. Karena terdapat kelainan morfologis atau kelainan pengantaran energi gerak melingkar maka spermatozoa dapat menempuh gerakkan kurva, spematozoa motilitasnya berputar-putar saja. - Motilitas tanpa arah Pada keadaan ini ekor spermatozoa dapat bergetar tinggi atau rendah. Kepala bergerak tak teratur. Kelainan ini disebabkan adanya bentuk spermatozoa
18

abnormal maupun distribusi dan pengantaran energi tak normal pada spermatozoa. - Motilitas karena asimetri kepala atau ekor Motilitas jenis ini disebabkan karena kelainan morfologi spermatozoa sehingga memyebabkan motilitasnya melingkar baik searah maupun berlawanan dengan jarum jam. Kalau morfologi ekor spermatozoa asimetri, amplitudo getaran juga tidak teratur. Kalau pengantaran energi rotasi ada atau tak teratur sedang ekor asimetri terjadi motilitas dengan arah melingkar. - Motilitas spermatozoa imatur Spermatozoa imatur mungkin berbentuk normal dan mungkin pula tidak normal karena adanya beban droplet (sisa) sitoplasma maka arah gerak kepala berat sebelah. Kalau sistem pengantaran energi belum masak pula dapat terjadi motilitas yang bemacam-macam rocking melingkar dan gerak tak teratur. Demikian pula andaikata sisa sitoplasma terletak dibagian tengah atau ekor spermatozoa motilitas yang timbul akan bermacam-macam. - Motilitas spermatozoa teraglutinasi Motilitas spermatozoa ini terbatas karena spermatozoa melekat satu dengan yang lain (aglutinasi sejati) atau karena melekat pada benda lain (sel bulat, kristal, bakteri, protozoa dll) bila terdapat aglutinasi palsu. Tergantung macam aglutinasi (kepala-kepala, ekor-ekor, dan ekor-kepala) motilitas yang terjadi akan berlainan pula. - Motilitas spermatozoa terperangkap Motilitas jenis ini terbatas karena terperangkap oleh sperma yang belum mengalami likuefaksi total, meskipun telah melewati batas normal waktu likuefaksi. Hal ini akan terlihat kalau sperma diperiksa motilitas berurutan yaitu langsung setelah ejakulasi dan setiap setengah jam setelah ejakulasi. - Motilitas spermatozoa yang lemah Spema yang kekurangan energi mempunyai gerakan lemah, meskipun arahnya ke depan beat ekor teratur, lurus namun tak lincah. Hal ini dapat disebabkan karena sperma telah lama tak diperiksa, sehingga energi untuk motilias berkurang. Dalam hal ini fruktosa telah banyak dipecah (fruktolisis). Penyebab lain ialah memang cadangan energi berkurang sejak awal misalnya pada kelainan vesika seminalis.

19

- Spermatozoa yang tidak bergerak Spermatozoa yang sama sekali tidak bergerak dan tetap diam ditempat.

c. Pemeriksaan motilitas spermatozoa : Pemeriksaan motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara meneteskan setetes sperma pada gelas obyek. Tetesan diusahakan sama besarnya untuk setiap pemeriksaan. Bilamana tetesan tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa secara prosentase dan kuantitatif akan berbeda. Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan tetesan sperma yang sama, yaitu : - Sperma diteteskan dengan pipet Diharapkan dengan tetesan pipet volume sperma yang diteteskan sama. Dalam hal ini untuk setiap sperma harus memakai pipet yang berbeda dan harus baru/bersih benar. Sebab kalau sebuah pipet telah pernah digunakan untuk satu sperma, kemudian dipergunakan untuk sperma lainnya akan ada unsur pada sperma pertama yang terpindahkan ke sperma kedua. Kalau misalnya sperma yang kedua azoospermi maka kemungkinan akan dinilai tidak azoospermi sebab telah tercampur oleh spermatozoa dari sampel pertama. - Sperma diteteskan dengan batang pangaduk terbuat dari pada gelas Cara ini kebanyakan akan memperoleh tetesan yang sama besar. Apalagi kalau ujung batang gelas tidak sama besarnya. Keadaan yang mempengaruhi ialah kekentalan sperma . Bila sperma kental tetesan akan berbeda bilamana sperma encer. Perbedaan-perbedaan ini dapat diatasi kalau para pemeriksa sperma banyak pengalaman meneteskan sperma pada gelas objek. - Sperma diteteskan dengan batang kawat baja berujung bulat Dengan cara ini memang diperoleh ukuran tetesan yang sama. Untuk menghindari kontaminasi sperma lain maka setelah loop dipakai untuk satu spesimen sperma, kemudian dibakar, setelah itu dapat dipergunakan untuk memeriksa sperma yang lain. Tujuan : untuk mengetahui dan menentukan baik tidaknya pergerakan (motilitas)
20

spermatozoa dan jumlah prosentase yang bergerak. Prinsip : Sperma dengan zat tambahan atau tidak dilihat pergerakannya dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x45 dan hasilnya dilaporkan dalam persen ( % ).

Alat : - Objek Glass - Pipet tetes - Cover glass Mikroskop

Prosedur : - Ambil 1 tetes sperma letakkan diatas objek glass. - Tutup dengan cover glass. - Periksa dibawah mikroskop perbesaran objektif 40-45x. - Periksa adanya spermatozoa yang : Bergerak aktif (%) Bergerak tidak aktif (%) Tidak bergerak (%) d. Penilaian motilitas spermatozoa Penilaian motilitas spermatozoa dilakukan sebagai berikut : Spermatozoa yang bergerak aktif adalah spermatozoa yang bergerak cepat ke depan, lincah dan aktif (%) Spermatozoa yang kurang aktif bergerak adalah spermatozoa yang bergerak berputar di tempat (%) Spermatozoa tidak bergerak (%). Jumlah spermatozoa yang aktif ditentukan dalam persen (%). Misalnya : jumlah spermatozoa 110 yang bergerak aktif 50 maka spermatozoa yang aktif adalah 50/110 x 100% = 45,5% Besar kecilnya tetesen dan berat ringannya gelas penutup berpengaruh pada motilitas spermatozoa. Sebelum diteteskan sperma terlebih dahulu diaduk rata sehingga homogen. Motilitas spermatozoa biasanya dilihat setelah terjadi likuefaksi lengkap. Pemeriksaan harus segera dilakukan setelah gelas obyek ditempelkan. Bila
21

terlalu lama dibiarkan baru kemudian diperiksa akan terjadi perbedaan dalam miotilitas spermatozoa. Untuk tahap permulaan sediaan diperiksa dengan pembesaran objektif 10 x. Setelah itu diganti dengan pembesaran objektif 40 x Dalam keadaan normal yang motil aktif harus diatas 70%, yang motil lemah dibawah 20% dan tidak motil dibawah 0%.

e. Berkurangnya derajat motilitas Spermatozoa akan berkurang motilitasnya bila dibiarkan setelah ejakulasi. Angka yang dilaporkan perlu dihubungkan dengan waktu yang sudah berlalu sejak saat ejakulasi, semakin banyak waktu lewat, semakin berkurang motilitas spermatozoa. Penilaiannya : - Biasanya didapat bahwa sampai 1 jam setelah dikeluarkan, mani berisi 70% atau lebih spermatozoa aktif, angka itu terus menerus menurun sehingga menjadi 50% sekitar 5 jam lewat ejakulasi. - Pada keadaan normal kemunduran motilitas terjadi kira-kira 10-20% dalam waktu 2-3 jam. - Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini temperatur laboratorium harus dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga berpengaruh terhadap motilitas spermatozoa. - Dalam pemeriksaan rutin tidak banyak gunanya mengikuti penyusutan motilitas dari jam ke jam, berkurangnya motilitas banyak dipengaruhi oleh cara menyimpan sampel. 2. Pemeriksaan Vitalitas Spermatozoa Spermatozoa yang tidak bergerak, belum tentu mati. Adakalanya lingkungannya tidak cocok, spermatozoa tidak bergerak. Tetapi kalau keadaan lingkungannya suatu ketika baik, ada kemungkinan spermatozoa bergerak lagi. Maka dari itu perlu dibedakan lagi antara spermatozoa yang hidup dengan spermatozoa yang mati. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan vitalitas spermatozoa. Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan pengecatan vital atau vital staining. Cara ini digunakan untuk memastikan diagnosa nekrozoospermia.
22

Metode : Eosin-Nigrosin Supravital Stainning Sperma Viability Tujuan : Untuk membedakan dan mengetahui sperma yang hidup dan yang mati. Prinsip : Sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai, dikeringkan dan diperiksa sperma yang mati dan yang hidup dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100. Alat : - Pipet tetes - Objek glass - Mikroskop - Rak dan bak pewarnaan - Tabung reaksi - Botol semprot

Reagensia : - Eosin 5 % - Negrosin 10 %

Cara Kerja : - Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil - Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10 %, di aduk - Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass, dikeringkan. - Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x100 pada 100 lapang pandang dan hasil dinyatakan dalam persen ( % ).

Penilaian : Spermatozoa yang mati akan berwarna merah Spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak berwarna Nilai Normal : 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup. Catatan :
23

- Spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa rusak, zat warna masuk ke dalam sel. - Spermatozoa yang hidup tetap tidak berwarna karena dinding sel masih utuh, tak dapat ditembus zat warna. - Untuk membuat pengecatan vitalitas yang baik, zat warna harus baru, jangan terlalu kental dan jangan banyak endapan. 3. Pemeriksaan Jumlah Spermatozoa Menghitung jumlah spermatozoa dapat dilakukan dengan metode hemocytometer biasa menggunakan pipet Thoma atau dengan modifikasi hemocytometer dengan pengenceran dalam tabung menggunakan Clinipette. Larutan yang biasa yang dipergunakan ialah larutan pengencer 5% Natrium bikarbonat dalam aquadest ditambah dengan formaldehide 1 ml. Larutan pengencer ini juga bertindak sebagai zat spermisida yang mematikan spermatozoa, serta merupakan garam fisiologis. Dengan demikian spermatozoa yang terdapat didalam kamar hitung dapat lebih cermat dihitung.

Jumlah spermatozoa dihitung menurut beberapa cara : 1. Jumlah Spermatozoa per ml ejakulat. 2. Jumlah Spermatozoa per volume ejakulat. Namun yang umum dipakai adalah spermatozoa per ml ejakulat. Bilamana menghendaki perhitungan untuk seluruh ejakulat, tinggal mengalikan dengan volume ejakulat. Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sperma yang terdapat dalam sampel sperma yang diperiksa.

Prinsip : Sampel sperma diencerkan dalam pipet lekosit dengan larutan pengencer tertentu, diperiksa dalam bilik hitung.

24

Alat : - Kamar hitung Improved Neubauer atau Burker - Pipet Thoma leukosit atau eryhtrosit - Kertas saring / tissue

Reagensia : Larutan Pengencer Sperma : - NaHCO3 5 gram - Formalin 5% 1 ml - Larutan Eosin 2% 5 ml - Aquadest add 100 ml

Prosedur : Cara Pipet Thoma : - Isap sperma dengan pipet leukosit sampai tanda 0,5 tepat. - Isap larutan Pengencer Sperma sampai tanda 11 tepat. - Kocok selama 2 menit, buang cairan 3-4 tetes, masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung pipet ditepi kaca penutup. - Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang - Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml Cara Tabung dengan Clinipette : - Masukkan 400 ul cairan pengencer sperma kedalam tabung reaksi dengan clinipette. - Buang 20 ul dengan clinipette cairan tadi. - Pipet 20 ul sperma yang telah dihomogenkan dan campur dengan larutan pengencer. - Kocok beberapa kali tabung atau letakkan diatas pengocok khusus (vibrator). - Masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung clinipette ditepi kaca penutup. - Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang - Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
25

Perhitungan : Misal jumlah didapat : 200 spermatozoa 200 x 50 = 10.000/mm3 = 10.000 x 1000 = 10 juta/ml Nilai Normal : 20 70 juta / ml Catatan : - Untuk mempermudah penghitungan didalam bilik hitung dapat digunakan pipet eryhtrosit sebagai pipet pengencer dan sperma diisap sampai 0,5 tepat dan pengencer 101. pengenceran pipet 200x dikalikan untuk perhitungan. - Untuk pengenceran yang lebih teliti sebaiknya menggunakan pengenceran menggunakan Clinipette dalam tabung. Pengenceran dapat diubah sesuai dengan keinginan. - Menurut R. Gandasoebrata bila tidak memiliki larutan pengencer Natrium bikarbonat maka dapat digunakan aquadest sebagai larutan pengencer.

4. Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa Pemeriksaan morfologi spermatozoa ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk spermatozoa yang didasarkan atas bentuk kepala dari spermatozoa. Seperti diketahui spermatozoa mempunyai beberapa macam bentuk. Dengan pemeriksaan ini diketahui beberapa banyak bentuk spermatozoa normal dan abnormal. Bentuk yang normal adalah spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval dan mempunyai ekor yang panjang. Untuk pemeriksaan morfologi ini dimulai dengan pembuatan preparat smear di atas objek glass, yang dibiarkan kering dalam temperatur kamar. Setelah preparat smear tersebut kering, maka selanjutnya dilakukan prosedur pewarnaan. Agar memperoleh hasil yang baik pemeriksaan morfologi spermatozoa dilakukan pengecatan khusus. Terdapat berbagai macam pengecatan guna memeriksa morfologi spermatozoa, diantaranya Giemsa, Wright, Romanowsky, May Grunwald, Kiewit de Jong.

26

Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan morfologi sperma dalam sampel yang diperiksa.

Prinsip : Sperma dibuat hapusan diwarnai dengan giemsa, dicuci, dikeringkan dan diperiksa morfologi sperma dibawah mikroskop dengan anisol perbesaran 10 x 100.

Alat alat : - Pipet tetes - Objek glass - Rak dan Bak pewarnaan - Mikroskop - Botol semprot - Lampu spritus

Reagensia : Karbol Fuchsin 0,25 %

Cara Kerja : a. Cara Karbol Fuchsin - Setetes sperma dibuat hapusan diatas objek glass. - Difiksasi dengan nyala api 2 5 kali - Diwarnai dengan carbol fuchsin 0,25% selama 5 Menit, dicuci dengan air. - Dikeringkan dan diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa b. Cara Giemsa - Sediaan hapus difiksasi dengan metanol selama 10 menit. - Sisa metanol dibuang, sediaan dibiarkan kering di udara. - Sediaan dicat dengan larutan Giemsa (17 tetes giemsa dicampur dengan 5 ml aquades) selama 20 menit.
27

- Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan. diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa c. Cara Hematoxilin Meyer - Sediaan hapus ditetesi larutan formalin 10% selama 1 menit. - Sediaan dibilas dengan aquadest. - Sediaan dicat dengan hematoksilin menurut Meyer selama 2 menit. - Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa d. Cara O.Steeno - Sediaan hapus dimasukkan ke dalam larutan metanol selama 5 menit dan dikeringkan diudara. - Sediaan dicelupkan kedalam larutan safranin 0,1% selama 5 menit - Sediaan dibilas dalam air buffer dua kali. - Sediaan dicelupkan kedalam larutan kristal violet 0,25% selama 5 menit - Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa e. Cara lain dengan Fast Green, Wright, Bryan/leishman, Papanicolou, Romanowsky dan lainnya.

Morfologi spermatozoa : Spermatozoa Normal : Spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval, reguler, dengan bagian tengah utuh dan mempunyai ekor tak melingkar dengan panjang 45 um. Spermatozoa Abnormal : Spermatozoa disebut abnormal bilamana terdapat satu atau lebih dari bagian spermatozoa yang abnormal. Jadi meskipun kepala spermatozoa oval, tetapi kalau bagian tengah menebal, maka dikatakan abnormal.

Abnormalitas kepala - Kepala oval besar Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih besar dari normal. Panjang
28

kepala >5 dan lebar >3 - Kepala oval kecil Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal. Panjang kepala <3>2 . - Kepala pipih (tapering head = lepto) Kepala spermatozoa berbentuk seperti cerutu dengan kedua sisinya sejajar, bentuk ramping dan agak panjang, akrosomnya dapat berujung lancip atau tidak. - Kepala berbentuk pir (piriform head) Kepalanya nyata atau bahkan lebih menyolok berbentuk sebagai tetesan air, bagian runcing berhubungan dengan bagian tengah. - Kepala dua (duplicated head) Spermatozoa dengan memiliki dua kepala. - Kepala berbentuk amorfous (terato) Bentuk kepala yang tak menentu atau sangat besar dengan struktur yang aneh.

Abnormalitas bagian tengah - Bagian tengah tebal - Bagian tengah patah - Tak mempunyai bagian tengah

Abnormalitas ekor - Ekor sangat melingkar - Ekor patah yang meninggalkan sisa ekor. - Ekor lebih dari satu - Ekor sebagai tali terpilin

Spermatozoa imatur Spermatozoa yang masih mengandung sisa sitoplasma, yang paling tidak besarnya separuh dari ukuran kepala dan masih terikat, baik pada kepala, bagian tengah maupun pada ekor spermatozoa.
29

Gambar 3. Kelainan Morfologi Sperma

Gambar 4. Kelaianan jumlah, morfologi, dan motilitas sperma

Leukosit dalam sperma : Dalam sperma kecuali terdapat spermatozoa juga terdapat rundzellen / round cell atau sel bundar yang terdiri dari leukosit dan sel-sel spermiogenesis. Dalam keadaan biasa terdapat leukosit dalam sperma, jumlahnya meningkat melebihi normal akan berpengaruh terhadap gambaran spermiogenesis, sehingga perlu dilakukan penghitungan leukosit. Menghitung rundzellen (sel bundar) : Karena terdiri dari dua sel yaitu sel muda sperma dan leukosit, maka untuk
30

membedakannya dapat dilakukan penghitungan sebagai berikut : - 1 tetes sperma ditambah 1 tetes larutan Sedicolor (larutan Methylen Blue) diaduk rata diobjek glass, dibiarkan beberapa menit, diperiksa di mikroskop dengan pembesaran 400-600 kali. - Dilakukan diferensiasi antara sel spermatozoa muda dan leukosit yang dinyatakan dalam 100%. - Ciri-ciri sel : Sel spermiogenesis : Dinding sel tampak tebal dengan inti yang kompak. Leukosit : Dinding kelihatan tipis dengan inti yang khas untuk leukosit. - Dihitung 100-200 sel bundar dan cara ini dilakukan jika junlah sel bundar per Lp lebih dari 6-10. Jika pada sediaan jelas terlihat adanya leukosit maka dapat dipakai cara tanpa pengecatan, yaitu : - 0,1 ml sperma diteteskan diatas objek glass lalu ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa dengan pembesaran 400-600 kali. - Jika didapat sel leukosit 6-10/Lp atau lebih, kemungkinan menunjukkan adanya infeksi pada traktus genitalis. 5. Aglutinasi Spermatozoa Aglutinasi spermatozoa ialah penggumpalan atau perlekatan antara satu spermatozoa dengan beberapa spermatozoa yang lain. Aglutinasi spermatozoa dapat disebabkan oleh faktor imunologis dan non-imunologis. Cara membedakan keduanya dengan mengukur titer antibodi yang terdapat pada pasangan suami isteri. Namun guna informasi pendahuluan proses aglutinasi spermatozoa, dapat dilakukan cara : Satu tetes sperma diberi garam fisiologis. Kalau terjadi aglutinasi sejati, spermatozoa akan tetap melekat satu dengan yang lain. Kalau dengan penambahan garam fisiologis spermatozoa lepas satu dengan yang lain, maka aglutinasi tersebut adalah aglutinasi palsu. Cara lain oleh Hellinga (1976) Setetes sperma segar, setelah likuefaksi total, diletakkan pada objek glass, lalu ditutup dengan gelas penutup. Sediaan dibiarkan tidak disentuh sedikitpun selama
31

paling tidak 1 jam. Pada sperma tertentu akan terjadi penggumpalan satu dengan yang lain.

Macam-macam aglutinasi atau penggerombolan spermatozoa tersebut yaitu : a. Aglutinasi ekor dan ekor Pada keadaan ini ujung atau bagian ekor yang lebih proksimal bersentuhan atau berlekatan satu dengan yang lain, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan tail to tail agglutination (TT). b. Aglutinasi kepala dan kepala Pada keadaan ini kepala spermatozoa saling berlekatan atau bergerombol, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan head to head agglutination (HH). c. Aglutinasi kepala dengan ekor Pafa keadaan ini kepala satu spermatozoa atau lebih berlekatan dengan ekor sebuah spermatozoa atau lebih. Ini dinamakan head to tail agglutination (HT). d. Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada suatu sel muda spermatozoa, epitel atau lain-lain benda pada sperma. e. Spermatozoa dapat menggerombol seperti benang pada pinggir daerah sperma tertentu. Ini dinamakan aglutinasi rantai (string agglutination). 6. Benda-benda khusus spermatozoa Didalam sperma kecuali spermatozoa dan spermatozoa muda, terdapat bendabenda khusus lainnya. Benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria atau benda-benda lain baik hidup maupun benda mati.

a. Benda-benda mati -Sel epitil Biasanya berupa sel epitil pipih, yang berasal dari lepasan sel pada saluran urogenitalis. Sel pada traktus urogenitalis memang mudah lepas, apalagi kalau terjadi proses keradangan, sehingga tambahan diagnostik untuk sesuatu keradangan.
32

-Kristal-kristal Kristal-kristal ini berasal dari kelenjar-kelenjar asesoria.kristal yang banyak dijumpai pada sperma : fosfat, urat dan sitrat. -Lemak Lemak dalam sperma berasal dari kelenjar prostat, berbentuk bundar jernih. Benda ini tak banyak artinya dalam klinis. -Benda prostat Berasal dari prostat, berbentuk bundar tepinya tidak rata, serta tidak berinti.

b. Benda-benda hidup -Bakteri Bakteri ini berasal dari infeksi traktus urogenitalis, benruknya tak nampak jelas. -Protozoa Infeksi traktus urogenitalis oleh protozoa sering terjadi, misal Trichomonas, amoeba dan Clamydia trachomatis. -Jamur Dapat dijumpaipad pasien yang dermatitis didaerah genitalia atau perineum. C. Pemeriksaan Kimia Karbohidrat yang ada dalam mani ialah fruktosa dan kadar fruktosa itu mempunyai korelasi positif dengan kadar testosteron dalam tubuh. Penetapan kadar fruktosa memakai reaksi Selivanoff sebagai dasar, pada reaksi itu fruktosa bereaksi dengan resorcinol dengan menyusun warna merah. Parameter : Penetapan Fruktosa Tujuan : Untuk mengetahui dan menentukan kadar fruktosa dalam semen yang bertalian dengan kadar testosteron.

Prinsip : Fruktosa akan berubah menjadi furfural oleh pengaruh HCl dan pemanasan, furfural yang terjadi akan berkondensasi dengan resorsinol menyusun senyawa yang berwarna merah.

33

Reagensia : 1. Larutan Ba(OH)2 0,3 N dibuat dengan melarutkan 47,5 g Ba(OH)2.8H2O dalam 1000 ml aqusdest. 2. Larutan ZnSO4 0,175 M dibuat dari 50 g ZnSO4.7H2O dalam 1000 ml aquadest. 3. Larutan resorcinol 0,1% dalam 100 ml alkohol 95%, larutan ini bertahan 2 bulan bila disimpan dalan lemari es. 4. HCl 10 N dibuat dari 1 volume aquadest ditambah 6 volume HCl pekat. 5. a. Standard fruktosa stock 50 mg fruktosa larutkan dalam 100 ml larutan asam benzoat 0,2%. b. Standard fruktosa sebagai larutan kerja. 1 ml standard fruktosa stock diencerkan dengan aquadest sampai 100 ml. Pada cara dicantumkan dibawah, larutan kerja ini sesuai dengan 200 mg /dl fruktosa mani. Prosedur Kerja : 1. Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu mengencerkan 0,1 ml mani dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml larutan Ba(OH)2, campur, tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4, campur lagi dan pusinglah kuat-kuat. 2. Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko). Tabung T diisi 2 ml cairan atas dari langkah 1, tabung S diisi 2 ml standard fruktosa larutan kerja dan tabung B diisi 2 ml air/ aquadest. Blanko Standard Sampel Aquadest 2 ml -- -Standard -- 2 ml -Sampel -- -- 2 ml Resorsinol 2 ml 2 ml 2 ml HCl 6 ml 6 ml 6 ml 3. Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml resorsinol dan 6 ml HCl. 4. Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam bejana air 90OC selama 10 menit.
34

5. Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm. 6. Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 = mg / dl fruktosa mani. Catatan : Kadar fruktosa dalam mani normal berkisar antara 120-450 mg/dl dan fruktosa itu berasal dari vesiculae seminales. Selain dipengaruhi oleh kadar testosteron dalam tubuh, banyaknya fruktosa dalam mani juga mengalami perubahan oleh prosesproses dalam vesiculae seminales dan ductuli ejaculatorii, pada hipoplasia dan radang vesiculae seminales dan pada penyumbatan partial ductuli ejaculatorii kadar fruktosa menurun. Penyumbatan ductuli ejaculatorii yang total berakibat kadar fruktosa dalam mani menjadi nol. 2.4.3 Terminologi Berikut beberapa terminologi yang dipergunakan dalam spermatologi : 1. Azoospermia : Dalam ejakulat tidak terdapat / ditemukan sperma 2. Aspermatogenesis : Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis. 3. Aspermia : Tidak terdapat ejakulat 4. Normospermia : Jumlah volume sperma 2-5 ml. 5. Hypospermia : Volume ejakulat kurang dari 1 ml 6. Hyperspermia : Volume ejakulat lebih dari 6 ml 7. Hypospermatogenesis : Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis. 8. Oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap ml sperma) 9. Normozoospermia : Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200 juta/ml. 10. Asthenospermia : Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik di bawah 50%. 11. Necrospermia : Semua spermatozoa dalam keadaan mati. 12. Extrem oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap 1 ml ejakulat. 13. Asthenozoospermia : Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.
35

14. Teratozoospermia : Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari 40%. 15. Nekrozoospermia : Bila semua spermatozoa tidak ada yang bergerak atau hidup. 16. Kriptozoospermia : Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila ditemukan dalam sedimen sentrifugasi sperma. 17. Polizoospermia : Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per ml sperma 18. Leukospermia : Warna sperma putih keruh serupa susu karena terdapat leukosit yang banyak. 19. Hemospermia : Warna sperma kemerahan karena terdapat erythrosit yang banyak. 20. Residual Body : Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa yang belum matur.

2.5 Terapi Infertilitas Pada Pria Terapi infertilitas pada pria dapat didasarkan atas 2 tata cara : 1. Hanya berdasarkan analisis semen rutin 2. Berdasarkan etiologi kausatif. A. Terapi berdasarkan basil analisis rutin (5,6) 1) Kelainan volume semen a) Hipospermia Volume semen disebut hiposperma jika kurang dari 1,5 ml. Penyebab : - Stres -Retrograde ejaculation -Frekuensi sanggama. Untuk stres maka pengobatan diarahkan untuk meng hilangkan retrograde stres ; ejaculation dapat diberi terapi obat atau terapi khusus sering, dapat dikurangi

berupa pencucian sperma dari urine. Untuk endokrino-pati dapat diberikan testosteron, sedangkan bila kohl's terlalu frekuensinya. Jika tidak jelas penyebabnya dapat dilakukan AIH.

36

b) Hiperspermia jika volume semen lebih dari 6 ml. Penyebab dapat berupa : - Abstinensia seksualis yang terlalu lama - Hipersekresi vesika seminalis. Hiperspermia dengan spermiogram normal tidak memerlukan pengobatan spesifik, cukup dengan menganjurkan peningkatan frekuensi sanggama; tetapi jika disertai dengan spermiogram abnormal dapat dilakukan terapi dengan split ejaculate atau withdrawal coitus atau dengan treated sperm invitro. 2) Kelainan jumlah spermatozoa a) Polizoospermia Pada polizoospermia, jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta/ ml. Terapi dapat dengan anjuran meningkatkan frekuensi koitus atau AIH dengan treated spermatozoa dengan jalan pengenceran, swim up, sperm washing atau filtrasi. b) Oligozoospermia Sampai saat ini masih disepakati bahwa jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta/ml disebut oligozoospermia dan jika kurang dari 5 juta/ml disebut olgozoospermia berat. Terapi medikamentosa yaitu : 1. Klomifen sitrat (Fensipros, Fertilphen, Genoclom, Profertil, Provula) dengan dosis 1 x 50 mg selama 90 hari atau 1 x 50 mg 3 x 25 hari dengan interval antara terapi 5 hari.

37

2. Tamoxifen (Tamofen, Nolvadex), dapat diberikan dengan dosis 2 x 1 tablet selama 60 hari.

38

3. Kombinasi HMG dan hCG; HMG (Pergonal) diberikan dengan dosis 150 IU 3 x/minggu dan hCG (Profasi) dengan dosis 2000 IU 2 x/minggu selama 12-16 minggu.

4.

Kombinasi FSH (Metrodin) dan hCG (Profasi); dosisFSH 75IU 3 x/ minggu dan dosis hCG 2000 IU 2 x/minggu selama 12-16 minggu.

39

Selain medikamentosa, terapi dapat dilakukan dengan AIH (IBS) dengan atau tanpa treated sperm.

3)

Abnormalitas kualitas spermatozoa Kualitas spermatozoa abnormal jika motilitas baik dan cukup berupa medikamentosa yaitu : 1. ATP 2. Androgen dosis rendah 3. Phosph6lipid esensial 4. Antibiotika 5. Vitamin E + Vit B 6. Pentoksifilin tetapi morfologi normal kurang dari 50%. Terapi gangguan kualitas ini dapat

Atau dilakukan AIH (IBS) dengan atau tanpa sperm treated yang dapat berupa : sperm washing sperm swim up Jika masih belum memberikan basil yang diharapkan dapat dilanjutkan dengan terapi hormonal berupa kombinasi FSH dengan dosis 75 IU 3 x/minggu ditambah hCG 2000 IU 2 x/ minggu selama 12-16 minggu. Pengobatan ini dapat diteruskan sampai 4 tahun. B. Terapi berdasarkan etiologi kausatif (7)
40

1) Etiologi infertilitas pria yang tidak dapat diobati : a. Klinefelter syndrome b. Cryptorchidism bilateral c. Atrofi testis d. Sertoli cell only syndrome e.Agenesis vas deferens 2) Etiologi infertilitas pria yang masih dapat diobati : a. Varikokel b. Infeksi kelenjar asesoris c. Immunlogi d. Gangguan hubungan seksual e. Endokrinopati a) Varikokel Varikokel merupakan salah satu faktor penyebab infertilitas pria; varikokel jarang dikeluhkan dan biasanya ditemukan secara kebetulan tanpa keluhan yang jelas. Pada evaluasi kasus infertilitas, 82% varikokel kiri, 2% varikokel kanan dan 16% bilateral. dipastikan sebagai penyebab infertilitas juga basil analisis semen memperbaiki kualitas dan embolisasi. b) Infeksi kelenjar asesoris Infeksi kelenjar asesoris yang dapat mempengaruhi kualitas semen adalah infeksi prostat, vesika seminalis dan epididimis. Kelainan dapat berupa gangguan proses pencairan semen, volume yang terlalu sedikit atau banyak dan morfologi dan motilitas yang abnormal. Terapi berupa pemberian antibiotika, dalam hal ini yang dapat diberikan adalah Meskipun belum dapat pada pria, tetapi bila pada Terapi vasoligasi vena

infentilitas pria ditemukan adanya varikokel biasanya akan ditemukan yang abnormal. spermatika interna kiri merupakan salah satu pengobatan yang dapat

kuantitas spermatozoa, atau dengan cara

41

golongan amoksisilin, doksisiklin dan erithromisin yang dapat ditambah dengan roborantia berupa vitamin E, vitamin C dan vitamin B kompleks. c) Immunologis Infeksi kronis alat urogenital dapat menimbulkan tes immunologis positif pada pemeriksaan semen; yaitu : 1) Adanya aglutinasi spontan spermatozoa pada pemeriksaan analisis semen rutin. 2) MAR test 3) SCMC test Terapi dapat berupa pemberian kortikosteroid, yang jika tidak memuaskan dapat dilakukan AIH/IBS dengan treated spermatozoa; misalnya dengan filtrasi glass wool, separasi dengan percoll, sephadex atau selofan, atau washing/swim up. d) Gangguan hubungan seksual Dapat berupa : Frekuensi tidak teratur Impotensia Eyakulasi dini Eyakulasi retardata Eyakulasi retrograd Epispadia/hipospadia E) Endokrinopati Ketidakseimbangan pengaturan hormonal pada sistem reproduksi pria akan menyebabkan terjadinya gangguan proses spermatogenesis dan/atau spermaogenesis. Pengobatan hormonal yang tepat dapat mengembalikan proses spermatogenesis/ spermiogenesis yang normal. Untuk itu selain pemeriksaan fisis andrologis diperlukan pemeriksaan kadar hormon (FSH, LH, prolaktin dan testosteron) dalam darah. 1) Jika ditemukan kadar FSH dan LH yang tinggi dengan kadar testosteron darah yang subnormal, biasanya pengobatan
42

hormonal tidak diperlukan karena keadaan ini menunjukkan adanya gagal testis primer, misalnya Klinefeltersyndrome; terapi hormon hanya berupa substitusi androgen untuk masalah potensi seksnya. 2) Jika kadar FSH tinggi, tapi kadar LH dan testosteron darah masih dalam batas normal, keadaan ini biasanya menunjukkan adanya kekurang-pekaan sel-sel germinativum (isolated germinal cell failure); jumlah spermatozoa dapat berkisar dari azoospermia-oligozoospermia. Terapi hormonal tidak ada artinya, hanya dapat dicoba AIH/ IBS atau IVF. 3) Jika kadar FSH, LH dan Testosteron ketiga-tiganya rendah disertai volume testis yang abnormal dan konsistensi yang agak kurang padat, keadaan seperti ini disebut sebagai hipogonadisme atau gagal testis sekunder. Jika tidak ada

hiperprolaktinemia, terapi gonadotropin (HCB dan HMG) atau testosteron dapat memberikan harapan baik.

43

BAB III KESIMPULAN

Pemeriksaan sperma merupakan salah satu jalan yang termudah untuk mengetahui tingkat kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini memberi kesan, akan kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Seorang pria dengan tingkat kesuburan yang rendah atau steril sulit baginya untuk memperoleh keturunan. Oleh karena hal tersebut diatas, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya untuk mengetahui tingkat kesuburannya. Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikitdikitnya selama 3 hari (3 x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik. Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa. Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh didinginkan dibawah 20OC atau dipanaskan diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat mempengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa. Tatacara penanganan infertilitas pria dapat didekati dengan 2 cara :

Pertama hanya berdasarkan hasil analisis semen rutin; kedua berdasarkan etiologi kausatif. Meskipun demikian penanganan pasangan infertil tetap harus merupakan suatu kesatuan oleh karena bukti status fertilitas pria secara in vivo adalah dengan keberhasilan istri menjadi hamil, walaupun status fertilitas in vitro pria secara analisis rutin berada di bawah batas perbaikan ovulasi di pihak istri. normal; ini oleh karena adanya

44

DAFTAR PUSTAKA
1. Koentjoro Soehadi.T, K.M.Arsyad, Analisis Sperma, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, FK Univ. Sriwijaya Palembang .Juli 1982. 2. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Frances.K.Widmann, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995 3. Ronald A.Sacher, Richard A. Mc.Pharson, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 4. Penuntun Laboratorium Klinik, R.Gandasoebrata, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta,1989. 5. Pangkahila, W. Penanganan kemandulan pria, Medika 1999; 6 (11) : 776-780. 6. Lee, R.L Male Infertility Evaluation in : Decision making in Infertility. Poolan D, Boyers L. (eds.) Singapore : Monlygraphic Publ Pte, 1996; 158. 7. Friberg J. Immunological Infertility in Men. Clinical and therapeutic Consideration, dalam : Treatment of male infertility, J. Bain, W.B. Schill, Schuartztein, eds. Berlin : Springer Verlag,1982; 153-168. 8. www.medicastore.com L

45