Laporan Kasus

SPONDILITIS TB

Oleh

Insaani Mukhlisah 0808113150

Pembimbing: dr. Agus Tri Joko, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RSUD ARIFIN ACHMAD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2013

1

RSUD ARIFIN ACHMAD Fakultas Kedokteran UNRI SMF/ BAGIAN SARAF
Sekretariat : SMF Saraf – Irna Medikal Lantai 3 Jl. Diponegoro No. 2 Telp. (0761) 7026225

PEKANBARU
STATUS PASIEN Nama Koass : NIM/NUK : Tanggal : I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Status perkawinan Pekerjaan Tanggal Masuk RS Medical Record Ny. J 20 tahun Perempuan Dusun 3 Bencah pundak permai RT 6 RW 4 Pekanbaru Islam Kawin Ibu Rumah Tangga 6 Mei 2013 810323 Insaani Mukhlisah 0808113150 Mei 2013

II. ANAMNESIS (autoanamnesa dan alloanamnesa dari: isteri pasien) 11 Mei 2013 Keluhan Utama Kepala pusing Riwayat Penyakit Sekarang 1 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien menegeluhkan kepala pusing berputar, sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor-sepeda motor, terjatuh dalam keaddan kepala samping kiri membentur jalan aspal, pasien sadar, 2

muntah (-). pasien sadar.mual (+). 20 tahun. Tidak ada keluhan nyeri saat BAK. suara berdengung di telinga (-). BAK berdarah (-) . Nyeri pinggang saat BAK (-). nyeri pinggang (-) sebelumnya Pasien dibawa ke RSUD AA dalam keadaan sadar Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit telinga sebelumnya disangkal Riwayat trauma sebelumnya (-) Riwayat trauma telinga sebelumnya (-) Riwayat infeksi telinga (-) Riwaya hipertensi (-). keluar darah dari hidung (-) tungkai dan anggota gerak atas masih bisa digerakkan dan tidak ada keluhan. konsistensi BAB lunak. BAB 1 kali/ hari. PEMERIKSAAN FISIK 3 . telinga terasa tersumbat (+). masuk RSUD AA dengan kepala pusing setalah kecelakaan lalu lintas dengan posisi kepala samping kiri membentur jalan aspal. mual (+). nyeri saat BAK (-). muntah proyektil (-). stroke (-). tungkai dan anggota gerak atas masih bisa digerakkan dan tidak ada keluhan. penurunan kesadaran (-). terus menerus. kejang (-). tidak lampias (-). DM (-) Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Infeksi telinga RESUME ANAMNESIS Pasien Ny R. tanpa disertai darah dari hidung. telinga terasa tersumbat (+). warna kuning tidak ada keluhanBAK tidak ada keluhan. keluar darah dari telinga kiri (+) warna segar (+). terus menerus.keluar darah dari telinga kiri (+) warna segar (+). nyeri kepala (-). muntah (-). tidak lampias. BAB dan BAK tidak ada keluhan III.

STATUS NEUROLOGIK 1) KESADARAN 2) FUNGSI LUHUR 3) KAKU KUDUK : : : Komposmentis normal tidak ada GCS : E4 M6 V5 4) SARAF KRANIAL : 1. irama : teratur Respirasi : 18 x/mnt Simetris kiri=kanan Fremitus kiri=kanan Sonor pada seluruh lapang paru Vesikuler normal kiri = kanag.II (Opticus) Daya penglihatan Lapang pandang Pengenalan warna 3. ronkhi (-). N.A. isi cukup.III (Oculomotorius) Ptosis Pupil Kanan N Kanan N N N Kanan (-) Kiri N Kiri N N N Kiri (-) Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan 4 . teratur. N. : 84 x /mnt. Wheezing (-) kesan gizi cukup Tinggi badan: 150 cm Berat Badan: 55 kg B. : 82 x /mnt. I (Olfactorius ) Daya pembau 2. kiri HR kiri : 120/70 mmHg kanan : 84 x /mnt. KEADAAN UMUM Tampak sakit sedang Tekanan darah Denyut nadi Jantung Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Status Gizi : : : : : : : : : kanan : 120/70 mmHg. N. teratur. isi cukup.

N. N. X (Vagus) Kanan Arkus farings N Dysfonia (-) 11. VII (Facialis) Tic Motorik Daya perasa Tanda chvostek Bulat 3 mm N (+) (+) Kanan N Kanan N N (+) Bulat 3 mm N (+) (+) Kiri N Kiri N N (+) Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan Kanan (-) (-) N (-) Kiri (-) (-) N (-) Keterangan Tidak ada kelainan 8.Bentuk Ukuran Gerak bola mata Refleks pupil Langsung Tidak langsung 4. N. XI (Assesorius) Kanan Kiri N N Tidak dinilai Kiri N (-) Kiri 5 Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan . N. IX (Glossofaringeus) Kanan Arkus farings N Daya perasa N Refleks muntah Tidak dinilai 10. N. N. V (Trigeminus) Motorik Sensibilitas Refleks kornea 6. IV (Trokhlearis) Gerak bola mata 5. VIII (Akustikus) Pendengaran Kanan Tes Rhine Kiri Keterangan 9. N. N. VI (Abduscens) 7.

involunter Badan Trofi Ger.Motorik Trofi 12.involunter Ekstremitas bawah Kekuatan Distal Proksimal Tonus Trofi Ger. involunter Ref.dinding perut Refleks kremaster V. XII (Hipoglossus) Motorik Trofi Tremor IV. SISTEM SENSORIK Raba Nyeri Suhu Propioseptif N E Kanan N E (-) Kanan N E Kiri N E (-) Kiri Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan Keterangan Tidak ada kelainan 5 5 N E (-) 5 5 N E (-) Paraplegia 0 0 Flaccid A (-) E (-) (+) 0 0 Flaccid A (-) Tidak ada kelainan E (-) (+) Kanan Terdapat kelainan Terdapat kelainan Tidak dinilai Kiri Terdapat kelainan Terdapat kelainan Tidak dinilai Keterangan hipestesi setinggi thoracal II VI. SISTEM MOTORIK Ekstremitas atas Kekuatan Distal Proksimal Tonus Trofi Ger. REFLEKS Kanan Fisiologis 6 Kiri Keterangan Tidak ada kelainan . N.

Brudzinski : tidak terbatas : tidak terbatas : (-) / (-) : (-) : (-) / (-) d. Kernig c. FUNGSI KORDINASI (+) (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (+) (+) (-) (-) Reflek patologis (-) (-) (-) (-) (-) (-) Kanan Test telunjuk hidung N Test tumit lutut (-) Gait Tandem Romberg VIII. : (+). tandem dan romberg tidak dapat dilakukan. Laseque b. Patrick e. RESUME PEMERIKSAAN 7 . Valsava test f. SISTEM OTONOM Miksi Defaekasi Kiri N (-) Keterangan Pemeriksaan gait. Kontrapatrick : (-) / (-) C.Biseps Triseps KPR APR Patologis Babinski Chaddock Hoffman Tromer Reflek primitif : Palmomental Snout VII. PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN a. terpasang kateter : terganggu IX.

nyeri tekan (-). merah (-). Valsava test (-). tidak terfiksir. batas tegas. Brudzinski (-) Pemeriksaan leher: KGB colli (-). mukosa licin. pus (-). konsistensi lunak. ukuran 4x3 cm. tipe abdominotorakal : Normal : DBN :ka 5 0 Sensorik Koordinasi Otonom Refleks Fisiologis Patologis Pemeriksaan lain : (+) (-) (+) (-) ki 5 0 : Normal : Sulit dinilai : Inkontinesia alvi : Refleks babinski (-) / (-) chadock (-) / (-) : Patrick (-). 8 . darah (-) Kiri Kanan - Pemeriksaan Rectal Toucher: Tonus sphincter ani (-). massa (-). darah (-) : soliter. Struma (+) Inspeksi Palpasi : masa sewarna kulit. Kontrapatrick (-).Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Pernafasan Fungsi luhur Saraf kranial Motorik : Komposmenstis : 120/70 mmHg : 18 x/menit. ikut bergerak saat menelan Pemeriksaan abdomen : darm contour (-) Pemeriksaan Costovetebra angle: Scar Nyeri tekan Nyeri Ketok Ballotement handschoon: feses (+).

4 mg/dL : 77. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG .Pemeriksaan laboratorium darah rutin: Hb. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan darah rutin (13 April 2013) Hb Ht Leukosit Trombosit : 9.3 mg/dL : 145 mg/dL 9 . Trombo .9 % : 12.900 /µl : 356. Profil lipid (kolesterol total.5 g/dl : 28.D. LDL dan HDL). Asam Urat Rontgen thorax PA Rontgen vertebrae thoracal AP-lateral MRI vertebrae thoracal (bila perlu menggunakan kontras) Pemeriksaan Tumor Marker Serologi IgG Anti Tb F. Ureum-kreatinin. DIAGNOSIS DIAGNOSIS KLINIS DIAGNOSIS TOPIK DIAGNOSIS BANDING : Mielopati thoracal + Struma : Segmen thoracal II medulla spinalis : Susp spondilitis piogenik Susp tumor medula spinalis DIAGNOSIS ETIOLOGIK : Susp spondilitis TB E. Ht.400 /µl Pemeriksaan kimia darah (15 April 2013) Glu Cholesterol HDL LDL Trigliserida : 122 mg/dL : 159 mg/dL : 37. Leuko.Pemeriksaan laboratorium kimia darah: GDS.

89 mg/dl : 3.02 2.0 mg/dL :0.5-5.0 Bj : 1.9 % Pemeriksaan Imunulogi (23/4/2013) CRP : Reaktif Titer 156 mg/ L Pemeriksaan Elektrolit (14/4/2013) Na : 130 mmol/L (135-145 mmol/ L) K : 3.010 Darah : (-) Keton : (-) Nitrit : (-) Eritrosit : 1-3 Leukosit : 5-6 Rontgen thorax (13 April 2013) 10 .9 mmol/L (97-107 mmol/L) Pemeriksaan Urinalisis (20/4/2013) Warna : kuning Kejernihan : Keruh Protein : (-) Glukosa : (-) Bilirubin : (-) Urobilinogen : (0-2) PH : 6.80 mmol/ L (0.44 mmol/ L ( 60-120 nmol/ L) : 8.1 mg/dL : 58 mg/dl : 124.5 mg/dL : 0.64 mmol/L (9-20 nmol/ L) : 79/jam : 0.D Bil T Bil BUN Ureum Creatinin S Alb (18/4/2013) Total T3 Total T4 Free T4 LED Retikuluosit : 0.47 mmol/L (3.5 mmol/L Cl : 91.33 mmol/ L) : 56. 8 mg/dl : 1.

trakea ditengah. Elongasi aorta dan mediastinum superior tidak melebar. Kesan: Elongasi aota Pemeriksaan EKG Sinus rhythm Frekuensi 85 kali permenit Left axis deviation 11 . tidak tampak infiltrate dikedua lapang paru. tulang dan jaringan dinding dada baik. kedua hilus paru tidak menebal. sinus dan diafragma dextra sinistra normal.Foto Thorak PA: Cor : CTR < 50%. corakan bronkovaskuler kedua paru baik.

9 : 16.4 terutama pada corpus th2 yang menyebabkan destrulsi corpus th-2 dan pembentukan para vertebrae abses yang menyebabkan canalis stenosis dan pembentuka para vertebral abses yang menyebabkan canalis stenosis derajat sedang berat pada level tersebut Kecurigaan contusion medulla spinalis pada level th 2 12 .00-36.00 U/ml) Ca 19.68 IU/ ml (0-2 IU/ml) Hasil bacaan MRI Thoracal Kedudukan tulang vertebra thoracal spine baik-tak tampak spondylolisthesis Tampak destruksi pada corpus Th 2 yang disertai bone edema pada corpus Th 1.00-3. Th2. Th 3. Th 4 Pembentukan para vertebrae masa pada corpus th 2 sebesar 5x4 cm yang meluas ke epidural yang menyebabkan penyempitan derajat sedang dan berat pada level tersebut Discus relative baik Medula spinalis tampak lesi hyperintense ringan pada level th 2 Pada pemberian kontras tampak enhance pada daerah corpus th 1-2-3-4.3.86 ng/ml (0.27 U/ml (0-19 U/ ml) AFP : 1. tak tampak enhance medulla spinalis Kesan : Spondilitis TB pada th 1.Pemeriksaan Tumor Marker CEA : 2.00 U/ml (0.2.00 ng/ ml) Ca125 : 24.

Khusus .IVFD RL 20 gtt/menit .Ceftriaxon 2 x 1 gr .Kontrol vital sign .Terapi OAT 13 .Inj Metilcoba 1amp/ 12 jam . PENATALAKSANAAN a. Umum .Inj Methyl prednisolon 125 mg/ 6 jam .G.Tirah baring .Ranitidine 2 x 1 ampul .Kontrol neurologis b.

\ lanjut R/ Operasi Pasien meninggal 16. ki 5 Tungkai ka 0. isian kuat • RR : 18 x/menit • T : 36.Batuk (+).60C • Motorik Lengan ka 5.9 % 20 gtt/menit O2 nasal kanul 3l/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Paracetamol 3x1 Ranitidine 2 x 1 ampul Loperamid 3x1 tab terapi OAT. isian lemah • RR : 25 x/menit • T : 36. demam (-) Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT lanjut konsul paru R/ operasi Sabtu 27/4/2013 . dahak (+).Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan .Vital Sign : • TD : 110/70 mmHg • Nadi : 94 x/menit. ki 5 Tungkai ka 0. ki 0 Kateter terpasang -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4 M6 V5 .FOLLOW UP Tanggal Rabu 24/4/13 Subjective . ki 0 Kateter terpasang . teratur. sesak (-). ki 0 Keteter terpasang -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4 M6 V5 . .-Kesadaran: komposmentis -GCS : E4 M6 V5 . ki 0 14 Keteter terpasang Assessment Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi Renal + Struma non toksis Planning IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT Konsul bedah onkologi Kamis 25/4/13 . cair.Batuk (-).60C • Motorik Lengan ka 5.Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan .35 Senin 29/4/2013\ 13. • Motorik Lengan ka 5.80C • Motorik Lengan ka 5.Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 20 x/menit • T : 36.BAB (+) frtekuensi 10x/ hari .Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 22 x/menit • T : 36. Badan lemas . ki 5 Tungkai ka 0. sesak (-).BAB (+) tidak bisa ditahan. teratur. sesak (-).Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan .BAB (-) .konsistensi. ki 0 Keteter terpasang -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4 M6 V5 .konsistensi cair. Pemeriksaan sputum sps R/ operasi IVFD Nacl 0.Vital Sign : • TD : 120/80 mmHg • Nadi : 88 x/menit. ki 5 Tungkai ka 0. warna putih (+) sesak (+).BAB (+) tidak bisa ditahan -Batuk (-) Sesak (-) Objective -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4 M6 V5 .Batuk (-). demam (-) Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik IVFD Nacl 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul Loperamid 3 x1 tab terapi OAT lanjut Konsul paru: Ro thorak tidak tampak kelainan. demam (+) - Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik .Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan .BAB (+) frtekuensi 6 x/ hari .00 .50C • Motorik Lengan ka 5.Batuk (-). terapi OAT lanjut. mata cekung.Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan . demam Paraplegia ec susp spondilitis TB +Insufisiensi renal + Struma Non toksik IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT lanjut Pasien alih rawat bedah orthopedi Jumat 26/4/13 . -Badan lemas .90C • Bibir kering. ki 5 Tungkai ka 0.Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 18 x/menit • T : 36.

penyebab terbanyak karena kecelakaan mobil.1 b.PEMBAHASAN I. Paraplegia a. Penyebab non traumatik yang paling sering menyebabkan paraplegi adalah Spondilitis TB. Definisi Paraplegia adalah kondisi dimana bagian bawah tubuh (extremitas bawah) mengalami kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan karena lesi transversal pada medulla spinalis. luka tembak dan cedera olah raga. Epidemiologi Diperkirakan terjadi sekitar 10. Etiologi Paraplegia dapat disebabkan oleh satu dari beberapa penyebab berikut2 : trauma stroke genetik infeksi 15 . terutama pada pria muda yang belum menikah. Dari jumlah di atas.000 kasus cedera medulla spinalis dalam setahun di Amerika Serikat. Diikuti karena terjatuh.1 c. tumor tulang belakang.

3 2. Lesi pada tulang dan sendi disebabkan oleh penyebaran hematogen dari lesi primer pada bagian tubuh yang lain. 16 . Dikenal juga dengan istilah Vertebral Osteomyelitis.- penyakit autoimun tumor II. Tuberkulosa sebagai suatu penyakit sistemik dapat menyerang berbagai organ termasuk tulang dan sendi. Di beberapa negara berkembang. TB spinal masih menjadi manifestasi pada kasus TB anak maupun dewasa. Definisi Spondilitis tuberkulosa (TB) adalah infeksi granulomatosis dan bersifat kronis destruktif yang di sebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra. Spondilitis TB 1. dan merupakan perhatian cukup serius karena dapat menimbulkan komplikasi yang berat berupa gangguan neurologis berupa paraplegi. Hal ini disebabkan karena penderita spondilitis TB biasanya datang terlambat untuk mendapatkan pengobatan dan pada pemeriksaan klinis serta radiologis sudah ditemukan adanya kerusakan tulang belakang yang sudah lanjut dan disertai gangguan neurologis. Gambaran Umum Spondilitis tuberkulosa (TB) merupakan infeksi granulomatosis dan bersifat kronis destruktif yang di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra.

Stadium V (Deformitas dan Akibat) Biasanya terjadi 3-5 tahun setelah stadium I. Pada umumnya terjadi pada daerah torakal atau torakolumbal soliter atau beberapa level. Reaksi tubuh setelah terserang kuman tuberkulosis dibagi menjadi lima stadium. bahkan setelah terapi 4. Berkembangnya kuman dalam tubuh tergantung pada keganasan kuman dan ketahanan tubuh penderita. nafsu makan menurun. disertai dengan gejala dan tanda neurologis sesuai dengan level radiks spinal yang terkena. Nyeri pada punggung merupakan gejala awal dan sering ditemukan. Diagnosis Riwayat penyakit dan gambaran klinis : Onset penyakit biasanya beberapa bulan – tahun berupa kelemahan umum. Gibus. 4. Patogenesis Infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang selalu merupakan infeksi sekunder. Bila stadium ini tidak diterapi maka akan terjadi destruksi yang hebat dan kolaps dengan pembentukan bahan-bahan pengejuan dan pus (cold abscess). Kiposis atau gibus tetap ada.Pada spondilitis TB. Cold abscess. Manifestasi klinis yang terjadi merupakan gejala dan tanda TB secara umum. yaitu: 1. Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps) Terjadi setelah 8-12 minggu dari stadium II. 1. sensoris dan otonom. Stadium IV (Gangguan Neurologis) Terjadinya komplikasi neurologis. vertebra torakalis bagian bawah lebih sering terkena dan biasanya akan melibatkan struktur diskus intervertebralis dan menyebar ke korpus vertebra. 3. keringat malam hari. Stadium II (Destruksi awal) Terjadi 3 – 6 minggu setelah implantasi. 3. Mengenai diskus intervertebralis. sensoris maupun autonom sesuai dengan beratnya destruksi tulang belakang. kifosis dan abses yang terbentuk. suhu tubuh meningkat sedikit pada sore dan malam hari. Tuberkulosis vertebra servikal jarang ditemukan tetapi mempunyai kondisi lebih serius karena adanya komplikasi neurologis berat. Abnormalitas neurologis terjadi pada 50% kasus dan meliputi kompresi spinal cord berupa gangguan motoris. Stadium I (Implantasi) Stadium ini terjadi awal. Kondisi ini khususnya diikuti dengan nyeri dan 17 . dapat berupa gangguan motoris. 2. berat badan menurun. 5. bila keganasan kuman lebih kuat dari daya tahan tubuh.

serak dan defisit neurologis. 2. khususnya daerah paraspinal mendeteksi lesi awal dan efektif untuk menggambarkan bentuk dan kalsifikasi dari abses jaringan lunak MRI standar untuk mengevaluasi infeksi disk space dan paling efektif dalam menunjukkan perluasan penyakit ke dalam jaringan lunak dan penyebaran debris tuberkulosis di bawah ligamen longitudinalis anterior dan posterior paling efektif untuk menunjukkan kompresi neural IgG anti TB merupakan suatu pemeriksaan immunoassay kromatografi.kaku. kolaps disk dan kerusakan tulang resolusi kontras rendah menggambarkan jaringan lunak lebih baik. Pasien dengan penyakit vertebra servikal bawah ditemukan dengan disfagia atau stridor. Gejala juga meliputi tortikolis. yang spesifik untuk mendeteksi Antigen Mycobacterium tuberculosis di dalam serum manusia atau plasma dapat dideteksi keberadaanya pada serum penderita pada 1-2 bulan setelah infeksi bakteri Mycobacterium 18 . - Pemeriksaan penunjang Tuberkulin skin test : positif Laju endap darah : meningkat Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) : basil tahan asam (+) X-ray : destruksi korpus vertebra bagian anterior peningkatan wedging anteriorkolaps korpus vertebra CT scan : menggambarkan tulang lebih detail dengan lesi lytic irregular.

Program aktivitas hidup sehari-hari sesuai perkembangan penyakit 2.latihan penguatan otot . sedangkan yang lain diberikan dalam 1 tahun.gejala penekanan pada sumsum tulang belakang 19 .turning tiap 2 jam untuk menghindari ulkus dekubitus .bladder training dan bowel training bila ada gangguan .6%. maksimum 1200 mg/hari . maksimum 300 mg/har .adanya abses paravertebra . Spesifisitas pemeriksaan ICT TB adalah 100%.Rifampisin 10-20 mg/kgBB.Etambutol 15 mg/kgBB. artinya kemampuan pemeriksaan ICT TB dalam diagnosis pasien dengan hasil positif dan benar menderita TB Paru adalahsebesar 53.latihan luas gerak sendi untuk mencegah kontraktur . • • Imobilisasi Pencegahan komplikasi imobilisasi lama . 1. Operasi Indikasi operasi : . 4.deformitas yang progresif . Test ini memiliki tingkat sensitivitas yang rendah dan spesifisitas yang cukup baik untuk mendeteksi penyakit tuberculosis Sensitivitas pemeriksaan ICT TB adalah 53. artinya kemampuan pemeriksaan ICT TB dalam diagnosis pasien dengan hasil negatif dan benar tidakmenderita TB paru adalah sebesar 100%.mobilisasi bertahap sesuai dengan perkembangan penyakit .latihan pernapasan untuk memperkuat otot-otot pernapasan dan mencegah terjadinya orthostatik pneumonia .INH 5-10 mg/kgBB. • Penanganan Terapi konservatif : Medikamentosa : .Etambutol diberikan dalam 3 bulan. maksimum 600 mg/hari .6%. Semua obat diberikan sekali dalam sehari.tuberculosis.Piridoksin 25 mg/kgBB .

Pada umumnya meliputi anterior radical focal debridement dan stabilisasi dengan instrumentasi. hingga mencapai daerah yang sehat dan posterior mencapai duramater. prognosis biasanya kurang baik. Operasi radikal Eksisi dilakukan dari atas sampai ke bawah meliputi seluruh tulang belakang yang rusak. Prognosis spondilitis tuberculosis dengan terapi pengobatan ataupun pembedahan cukup efektif disertai dengan deformitas yang berat atau deficit neurologis. Intervensi terapi dapat mengurangi rasa sakit. Paraplegi dapat terjadi selama prose penye\mbuhan karena kerusakan permanen. III. Apabila paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa prognosisnya ad functionam juga buruk (Lindsay. Untuk spondilitis dengan paraplegia awal.gangguan fungsi paru yang progresif . 2008). operasi dekompresi dapat membantu memperbaiki kondisi keluaran pasien. mengoptimalkan kontrol tumor lokal. Antara 5% dan 10% dari semua pasien kanker menunjukkan metastasis tulang belakang selama perjalanan penyakitnya. Resistensi pengobatan merupakan factor yang signifikan dalam menentukan keluaran pasien. memelihara atau meningkatkan fungsi neurologis. mencapai stabilitas mekanik.4 20 . prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik sedangkan spondilitis denganparaplegia akhir.kegagalan terapi konservatif dalam 3 bulan . b. Debridement Dilakukan evaluasi pus. Dilanjutkan dengan grafting yang diambil dari kosta atau tibia. dan meningkatkan kualitas hidup. Paraplegi yang diakibatkan oleh kompresi korda spinalis biasanya memberikan respon yang baik terhadap kemoterapi tidak memberikan perbaikan. bahan kaseous dan sekuestra tanpa melakukan tindakan apapun pada tulangnya.terjadi paraplegia dan spastisitas hebat yang tidak dapat dikontrol Kontra-indikasi operasi : kegagalan pernapasan dengan kelainan jantung yang membahayakan operasi Secara garis besar tindakan operatif dibagi menjadi : a... Vertebral Metastases Metastasis ke tulang belakang adalah masalah umum dalam onkologi.

sarkoma osteogenik. Dosis tinggi radioterapi dapat meningkatan risiko mielopati patologis. dan kemoterapi. dan limfoma. namun berkembang menjadi kelemahan. operasi. Kemoterapi memiliki peran penting dalam pengobatan tumor chemosensitive. Peran pembedahan dalam pengobatan metastasis tulang belakang masih sedang diperdebatkan.4 Myelopathy dimulai dengan hyperreflexia. hilangnya fungsi otonom sering merupakan temuan akhir.4 Dosis radioterapi standar untuk paliatif pada metastasis tulang belakang adalah fraksi cGy sehari 300 dengan dosis total 3. merupakan gejala paling umum pada pasien dengan tumor metastasis ke tulang atau ruang epidural. refleks Babinski dan clonus. seperti neuroblastoma. dan hilangnya rasa sakit dan suhu di bawah tingkat kompresi sumsum tulang belakang. Laminektomi sebagai terapi awal maupun dengan radiasi adjuvant menghasilkan hasil yang kurang memuaskan. Nyeri punggung.000 cGy. yang sering mendahului perkembangan gejala neurologis lainnya.5 Pengobatan pilihan untuk tumor tulang metastatik meliputi terapi radiasi.4 MRI telah berkembang sebagai metode diagnostik pilihan pada pasien ini karena kontras jaringan yang sangat baik pada tulang belakang.Diagnosis dini metastasis tulang belakang penting karena hasil fungsional tergantung pada kondisi neurologis pada saat awal ditemukan. Kemajuan ini sangat bermakna dalam penegakan diagnosis yang akurat untuk pengobatan yang tepat dan penentuan prognosis. sarkoma Ewing (PNET). Terisolasi hilangnya fungsi usus dan kandung kemih tanpa adanya motor atau gejala sensorik paling sering hasil dari kompresi di conus medullaris (ujung dari sumsum tulang belakang di sekitar L1) atau tumor sakral. tumor germ cell. Di segmen lain dari sumsum tulang belakang. Nyeri punggung bahkan ditemukan dalam hitungan tahun setelah diagnosis kanker ditegakkan. kehilangan sensori proprioseptif. Kemoterapi dapat digunakan sebagai pengobatan 21 . Radiculopathy di tulang belakang leher atau lumbar menyebabkan nyeri atau kelemahan pada ekstremitas atas atau bawah. Disfungsi otonom mungkin akibat dari kompresi saraf tulang belakang atau cauda equina kompresi.4 Gejala neurologis dan tanda-tanda sering dimulai dengan radiculopathy (gejala akar saraf) dan diikuti oleh mielopati (kompresi sumsum tulang belakang).

Dasar diagnosis topik: Segmen thoracal II medulla spinalis Pada pasien tidak ditemukan paraplegia UMN. Tidak ditemukan gejala UMN pada pasien dikarenakan adanya spinal shock. berhenti impuls – impuls excitasi dari central yg lebih tinggi dengan durasi shock spinal pada manusia lebih kurang 2 minggu – 3 bulan A. klinis yang didapatkan adalah reflek patologis yang negative.utama untuk pasien dengan tumor bahkan dengan kompresi epidural. potensial membran istirahat dari neuron motorik spinal naik 2 – 6 mv. 22 . Dasar diagnosis klinis: .Mielopati thoracal + Insufisiensi renal + Struma non Toksik Mielopati thoracal ditegakkan karena dari anamnesis didapatkan adanya nyeri pada punggung pasien yang mendahului adanya gangguan motorik dan otonom.5 IV Spinale Shock Spinale Shock adalah transeksi neural axis pada spinal cord ( medulla spinalis ) dengan gejala semua reflex spinal hilang. Juga gangguan sensorik setinggi thoracal II. Dasar diagnosis a. tidak ditemukannya reflek fisiologis pada tungkai bawah dan tonus yang menurun pada tungkai pasien. Juga didapatkan adanya ganguan sensorik setinggi thoracal II. Pasien belum mengeluhkan adanya tanda-tanda gagal ginjal tetapi dari pemeriksaan faal ginjal terdapat peningkatan kadar ureum darah. Dari pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan adanya paraplegia UMN yang dibuktikan dengan adanya reflek patologis yang negatif. Di leher pasien juga ditemukan pembengkakan pada kelenjar tiroid yang dari riwayat pembesarannya telah sejak kecil homon. Bedah dan radioterapi dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk tumor sisa radiografi. Kemudian didapatkan adanya rasa lemah dan berat pada tungkai yang secara progresif menyebabkan tidak dapat digerakkannya kedua anggota gerak bawah pasien. pemeriksaan homon tiroid normal rendah b.

Pemeriksaan laboratorium kimia darah : untuk menilai fungsi organ-organ lain. kultur 23 .c. Pemeriksaan tumor marker : untuk mendeteksi protein spesifik tumor. e. b. Dasar diagnosis etiologik: Spondilitis TB Manifestasi klinis nyeri pada punggung. Diagnosis akhir Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium. untuk mendukung kecurigaan etiologic dan melihat progresivitas dari penyakit pasien (metastasis). Rontgen thorax : pasien usia tua. ditegakkan diagnosis akhir: spondilitis Tb B. Dasar anjuran pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan laboratorium darah rutin : untuk mengetahui keadaan umum pasien. Dasar diagnosis banding: Keganasan karena pada pasien didapatkan adanya mielopati thoracal. adanya penurunan berat badan yang bermakna. d. Karena dari gejala klinis mengarah ke tumor ekstramedular. c. dan adanya paraplegia akibat kompresi medulla spinalis juga dapat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Rontgen thoracal AP-lateral : mendukung kecurigaan etiologic pada segmen thoracal termasuk menilai struktur tulang. Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) : basil tahan asam (+). MRI thoracal (bila perlu dengan kontras): untuk mendukung kecurigaan etiologi penyakit pada pasien (keganasan). tumor marker dan MRI thoracal. Perlu pemeriksaan serologis Anti Ig G Tuberkulosis pada pasien ini untuk memastikan etiologinya d. g. f.

Available from: http://www.h. 2. dengan intake cairan yang kurang  Terapi cairan yang diberikan hanya RL dan Nacl 0.thirdage. Jika positif berarti ditemukan penyebab dari mielopati pada pasien berupa infeksi yang di sebabkan kuman M. Lose of Movement). BAB > 5 x hari.9% 20 gtt/ mnt seharusnya diberikan resusitasi cairan adekuat  Caian maintenance + Insisible lost pada pasien  BB> 20 kgè 1500 + 20 cc x 65 kg (BB)/ 24 jam è 2800/ 24 jam  Diare 10 x /hari x 50 cc= 500 cc/24 jam  Total è 3200 cc/ 24 jam DAFTAR PUSTAKA 1. Pemeriksaan IgG Anti TB: untukk mendukung etiologi dari mielopati pada pasien. 2008. Paraplegia(Paralysis. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian Rakyat. sidharta P.com/encyclopedia/paraplegia-paralysis-loss-of-movement 24 . Mardjono M. Tuberkulosis  Senin 29/4/ 2013  Pasien meninggal dunia dengan keluhan diare sejak 3 hari sebelumnya.

Bilsky MH. Available from : http://radiology. Vertebral metastases : assessment with apparent diffusion coefficient. Bammer R and Imhof A. Beichel RR.pdf 4.org/content/225/3/889. Available from : http://theoncologist. Phillipp MO. Funovics M. Boland P. Modul spondilitis tuberkulosa.3.perspebsi.alphamedpress.org/content/4/6/459. Herneth AM. Available from : http://www.org/doc/info/regulation/39/SPONDILITIS_TB.full 5. Lis E.rsna.full 25 . The diagnosis and treatment of metastatic spinal tumor. Naude J. Lee H. Raizer J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful