Anda di halaman 1dari 8

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

PENGARUH BEBAN TAK SEIMBANG TERHADAP PEMBANGKITAN DAN PERMINTAAN DAYA DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK
Jumadril

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beban tak seimbang terhadap pembangkitan dan permintaan daya dalam sistem tenaga listrik. Sering kali pada konsumen tidak dapat diharapkan memberi beban yang sama. Pemintaan beban sewaktu-waktu harus ditanggapi oleh pihak penyedia daya (pembangkit). Penambahan beban tersebut menyebabkan besarnya beban pada masing-masing fasa tidak sama . Beban yang tidak seimbang akan mengakibatkan mengalirnya arus pada penghantar netral sehingga akan berpengaruh pada konsumen yaitu akan terjadi penurunan tegangan yang diterima oleh konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membuat suatu simulasi aliran daya tiga fasa yang dikerjakan dengan menggunakan software aplikasi EDSA (Electrical Distribution and Transmission System Analysis) yaitu dengan menjalankan object oriented load flow dan object oriented unbalanced 3 phase load flow. Studi kasus dalam penelitian ini dilakukan pada sistem IEEE 14 bus dengan batasan bahwa saluran yang digunakan adalah saluran simetris.

Kata-kata kunci: Beban Takseimbang, Pembangkitan, Daya, EDSA

1. Pendahuluan
Proses penyaluran tenaga listrik terdiri dari tiga komponen utama yaitu pembangkit, penghantar dan beban. Besarnya beban yang harus dilayani oleh pembangkit tidaklah konstan, melainkan selalu berubah sepanjang waktu tergantung kepada keperluan para pemakai tenaga listrik (Marsudi, 1990). Pemintaan beban yang terjadi sewaktu-waktu harus ditanggapi oleh pusat-pusat pembangkit listrik untuk memproduksi tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan. Penambahan beban tersebut menyebabkan besarnya beban pada masing-masing fasa tidak sama besar (tidak seimbang). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari beban tak seimbang

terhadap permintaan dan pembangkitan daya aktif dan daya reaktif. Beban yang tidak seimbang akan berpengaruh pada konsumen yaitu akan terjadi penurunan tegangan yang diterima oleh konsumen. Studi kasus penelitian ini dilakukan pada sistem IEEE 14 bus dengan batasan bahwa saluran yang digunakan adalah saluran simetris. Simulasi dikerjakan dengan menggunakan software aplikasi EDSA (Electrical Distribution and Transmission System Analysis) yaitu dengan menjalankan object oriented load flow dan object oriented unbalanced 3 phase load flow. Metode penyelesaian yang digunakan dalam penelitian ini adalah membuat suatu simulasi aliran daya tiga fasa untuk kondisi beban yang tidak seimbang.

Staff Pengajar Teknik Elektro, Universitas Batam

191

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

2. Metode Penelitian
Adapun langkah-langkah dalam melakukan penelitian ini dapat dibuat dalam bentuk diagram alir seperti terlihat pada Gambar 3 berikut ini:

Model sistem tiga fasa tak seimbang Gambar 1 menunjukkan jaringan tiga fasa antara bus i dan j. Parameter jaringan dapat ditentukan berdasarkan metode yang dikembangkan oleh Carson (1926). Sebuah matriks 4x4 yang memasukkan induktansi sendiri dan induktansi bersama, dapat dituliskan sebagai berikut (Teng , 2000):

Zaa Z [Zabcn] = ba Zca Zna

Zab Zac Zan Zbb Zbc Zbn Zcb Zcc Zcn Znb Znc Znn

Gambar 3 Diagram alir penelitian

Gambar 1 Jaringan tiga fasa

3. Tinjauan Pustaka
Keseimbangan Beban Beban dari fasa banyak seimbang adalah beban dimana arus yang mengalir pada beban-beban simetris dan beban tersebut dihubungkan pada tegangan yang simetris pula. Dalam menganalisa beban- seperti ini biasanya diasumsikan disuplai oleh tegangan simetris pula. Dengan demikian analisa dapat dilakukan secara per fasa saja. Jadi dalam hal ini beban selalu diasumsikan seimbang pada pada setiap fasa, sedangkan pada kenyataannya beban-beban tersebut tidak seimbang. Dalam hal ini penyelesaiannya menggunakan komponen simetris. Pada fasa tunggal dengan sistem tiga kawat beban seimbang bila arus yang mengalir pada kawat netralnya nol. Keadaan seperti ini hanya berlaku bila impendansi-impendansi yang menghubungkan fasa ke netralnya sama besar (Hasan Basri:1993)

Untuk sistem yang diketanahkan, VN dan Vn seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1, diasumsikan sama dengan nol. Persamaan digunakan tanpa memasukan pengaruh netral atau pengahantar diketanahkan dan digunakan untuk menghitung aliran daya tak seimbang.

[Z ]
abc

Z aa = Z ba Z ca

Z ab Z bb Z cb

Z ac Z bc Z cc

Hubungan antara tegangan bus dan arus cabang dalam Gambar 1 dapat dituliskan:

Va VA Z aa V = V Z b B ba Vc VC Z ca

Z ab Zbb Z cb

Z ac I Aa Zbc I Bb Z cc I Cc

Sehingga persamaan tegangan jatuh pada masing-masing penghantar fasa a, b dan c dari Gambar 1 adalah:

Va = Via V ja = I a Zaa + Ib Zbb + I c Zcc

192

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

Vb = Vib V jb = I a Zab + I b Zbb + I c Zbc Vc = Vic Vjc = I a Zca + Ib Zbc + Ic Zcc


Berdasarkan teori komponen simetris maka impendansi urutan dari penghantar saluran transmisi dapat ditentukan per fasanya. Persamaan aliran daya tiga fasa tak seimbang Untuk menentukan arus yang mengalir antara bus i dan bus j pada masing-masing fasa pada Gambar 1, berdasarkan persamaan (1) dapat ditulis dalam bentuk:

abc

Z abc

=I Z V abc = abc I
abc

abc

Sehingga impedansi perfasa

abc

AV 012 = AI 012

Iaij Yaa Ibij = Yba Icij Yca

Yab Ybb Ycb

Yac VAa Ybc VBb Ycc VCc

V 012 = A1Z abc A 012 I

Sehingga:

Z 012 = A1Z abc A


Persamaan dapat ditulis:

012

1 1 1 Zaa Zab Zac1 1 1 1 2 = 1 a a2 Zba Zbb Zbc 1 a a 3 2 2 1 a a Zca Zcb Zcc 1 a a

Untuk merubah kembali impedansi urutan menjadi impedansi per fasa

V 012 = I 012 Z 012


Subtitusikan persamaan dan

Va

012

= A1V abc

Gambar 2 Model bus sistem tenaga tiga fasa

012

= A1I abc sehingga

A1V abc = Z 012 A1I abc Z abc = AZ 012 A1


Persamanaan di atas dapat di tulis:

Misalkan saluran transmisi digambarkan dalam bentuk sistem tiga fasa seperti terlihat pada Gambar 2, persamaan arus tiga fasa pada bus i dapat ditulis:

I ip =

1 1 1 Z00 Z01 Z02 1 1 1 1 abc 2 Z = 1 a2 a Z10 Z11 Z12 31 a a 2 2 1 a a Z20 Z21 Z22 1 a a

q=a,b,c

Vi p

yijp,q yijp.q V jq
j =o j =1

dengan p=a,b,c

Persamaan daya:

S i = Vi I i
p p

193

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

karena

S i = Pi + jQi
p p

maka

Pi + jQi = Vi I i
p p p

Atau

Pi jQi = Vi p p (Vi ) q = a ,b, c


p p

y
j =o

p, q ij

yijp.q V jq
j =1

Ii =
p

Pi jQi
p

(Vi )
p

, ji dengan p = a, b, c Persamaan (18) dapat diuraikan secara perfasa untuk masing-masing fasa a, b dan c.

Dengan mensubtitusikan persamaan (13) ke persamaan (17) maka diperoleh

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan


Simulasi Beban Tak Seimbang Hasil simulasi unbalanced 3 phase load flow analysis menunjukkan bahwa perhitungan aliran daya tak seimbang mencapai konvergensi pada iterasi ke-5. Besaran-besaran yang dihasilkan yaitu berupa tegangan, arus dan rugi-rugi daya. Tegangan mempunyai persentase ketidakseimbangan terbesar pada bus 9 yaitu
Tabel 1 Kenaikan dan penurunan tegangan tak seimbang

pada fasa a dan b mengalami kenaikan dari kondisi seimbang yaitu masing-masing sebesar 0,029% dan 0,231% sedangkan fasa c mengalami penurunan yaitu sebesar 0,262%. Kenaikan dan penurunan tegangan tak seimbang dari referensi kondisi seimbang dapat dilihat dalam tabel 1 dan Gambar 4.

No Bus 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Fasa a (%) 0.000 0.000 0.000 -0.002 -0.006 0.000 0.020 0.000 0.029 0.019 0.013 0.013 0.020 0.064

Fasa b (%) 0.000 0.000 0.000 0.004 0.013 0.000 0.140 0.000 0.231 0.191 0.100 -0.014 0.001 0.151

Fasa c (%) 0.000 0.000 0.000 -0.001 -0.006 0.000 -0.157 -0.001 -0.262 -0.211 -0.113 0.002 -0.026 -0.217

KETERANGAN Nilai (-), tegangan mengalami penurunan dari kondisi seimbang Nilai = 0, tegangan sama dengan kondisi seimbang Nilai (+), tegangan mengalami kenaikan dari kondisi seimbang

194

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

0.300 0.200 Te g a n g a n (% ) 0.100 0.000 1 -0.100 -0.200 -0.300 Nomor Bus 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Fasa a Fasa b Fasa c

A R U S N E T R A L (A )

14 12 10 8 6 4 2 0

12 12 9 6 3 3 9 6 3 0 0 0 0 6 3 6 6 6 3 9

Gambar 4 Kondisi kenaikan dan penurunan tegangan pada tiap bus masing- masing fasa

1-5 2-1 2-4 2-5 3-2 3-4 4-5 4-7 4-9 5-6 6- 6- 6- 7-8 9-7 9- 9- 10- 12- 1411 12 13 10 14 11 13 13 NOMOR BUS

R U G I-R U G I D A Y A (% )

Persentase ketidakseimbangan arus terbesar yaitu pada saluran penghubung antara bus 14 -13 sebesar 29,63%, 32,10%, dan 38,27% untuk masing-masing fasa a, b, dan c (gambar 5). Akibat ketidakseimbangan antar fasa menyebabkan mengalirnya arus netral seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 6. Arus netral maksimun terjadi pada saluran penghubung antara bus 7 -8 dan 9-7 yaitu sebesar 12 A.

Arus Netral

Gambar 6 Kondisi arus netral pada tiap bus

50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 1 -5 2 -1 2 -4 2 -5 3 -2 3 -4 4 -5 4 -7 4 -9 5 -6 6 -1 1 6 -1 2 6 -1 3 7 -8 9 -7 9 -1 0 9 -1 4 1 0 -1 1 1 2 -1 3 1 4 -1 3

45.00 40.00 35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 10-11 12-13 14-13 1-5 2-1 2-4 2-5 3-2 3-4 4-5 4-7 4-9 5-6 7-8 6-11 6-12 6-13 9-7 9-10 9-14

ARUS (%)

NOMOR BUS Fasa a Fasa b Fasa c

NOMOR BUS Fasa a Fasa b Fasa c

Gambar 5 Kondisi arus masing-masing fasa antar bus untuk beban tak seimbang

Gambar 7 Kondisi rugi-rugi daya aktif dan reaktif pada tiap bus

Rugi-rugi daya aktif dan rugi-rugi daya reaktif yang dihasilkan masing-masing fasa yaitu a, b dan c untuk beban tak seimbang ditunjukkan pada saluran penghubung antara bus 9-10 yaitu sebesar 44,64%, 33,76% dan 21,60% untuk masing-masing fasa a, b dan c.

Besarnya pembangkitan dan permintaan daya aktif dan daya reaktif masing-masing fasa untuk kondisi beban tak seimbang dapat dilihat Tabel 2 dan 3.

195

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

Tabel 2 Pembangkitan dan permintaan daya aktif untuk beban tak seimbang

Jenis
Swing Pembangkit Beban Losses

P(a) (W)
77692175 12305071 85012000 98526

P(b) (W)
78323970 11990151 86417000 4897121

P(c) (W)
77925516 15704803 88571000 5059319

Q total (VAR)
133941661 40000025 259000000 14941686

Q(a) (%)
33,21 30,76 32,82 33,36

Q(b) (%)
33,48 29,98 32,98 32,77

Q(c) (%)
33,31 39,26 34,20 33,86

Tabel 3 Pembangkitan dan permintaan daya reaktif untuk beban tak seimbang

Jenis
Swing Pembangkit Beban Losses

P(a) (W)
-1386516 54406242 26361000 1180080

P(b) (W)
-1046209 56206253 26758000 14402044

P(c) (W)
-14501496 57207362 28181000 1422866

Q total (VAR)
-42412867 168819857 81300000 43104990

Q(a) (%)
32,69 32,61 32,42 32,90

Q(b) (%)
33,12 33,09 32,91 33,41

Q(c) (%)
34,19 34,29 34,66 33,69

5.Kesimpulan
1. Hasil simulasi menunjukkan bahwa akibat besar variasi beban yang berbeda antar fasa menyebabkan pembangkitan tak seimbang antar fasa. Total Pembangkitan daya aktif yaitu sebesar 273,942 MW dengan persentase masing-masing fasa yaitu sebesar 32,85%, 32,97% dan 34,18%. Sedangkan total pembangkitan daya reaktif yaitu sebesar 124.405 MVAR dengan persentase masing-masing fasa yaitu 32,59%, 33,09% dan 34,33% untuk masing-masing fasa a, b dan c. Pemakaian beban yang tidak seimbang dapat meyebabkan arus saluran antar fasa tidak seimbang. Ketidakseimbangan beban antara fasa menyebabkan adanya arus netral yaitu berkisar antara 3-12 A. Arus netral maksimun yaitu sebesar 12 A terjadi pada saluran penghubung antara bus 7-8 dan bus 9-7.

Daftar Pustaka
sa Listrik. rta Gonen, T., 1988, Modern Power System Analysis, John Wiley and Sons, USA. Gross, C. A., 1979, Power System Analysis John Wiley and Sons, USA. Marsudi, D., 1990, Operasi Sistem Tenaga Listrik, Balai Penerbit&Humas ISTN, Jakarta. Nazaruddin. 2006. Analisis Aliran Daya Tak Seimbang Sistem Tenaga Listrik Berdasarkan Komponen Simetris. Thesis-UGM. Yogyakarta Pai, M.A., 1984, Computer Techniques in Power System analysis, Tata McGraw-Hill, New Delhi. Powell, L., 2005, Power System Load Flow Analysis, McGraw-Hill, USA. Saadat. H., 1999, Power System Analysis, McGraw-Hill, New York. Stevenson, Jr, W.D.,1993. Analisa Sistem Tenaga Listrik. Erlangga. Jakarta.

2.

196

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

197

Zona Teknik ISSN 1978 1741

Volume 3 No. 2: 143143-150

198