Anda di halaman 1dari 45

Bagian Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo

REFERAT JUNI 2013

Gangguan Seksualitas

Oleh : IDHUL ADE RIKIT FITRA, S.Ked K1A1 09 049

Pembimbing : dr. Jalaluddin Yusuf, M. Kes, Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN KEDOKTERAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA dr. SOEPARTO HARDJOHOESODO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2013

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 1

Kendari, Sultra

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Nama Stambuk

: Gangguan Seksualitas : Idhul Ade Rikit Fitra, S. Ked : K1A1 09 049

Bagian : Kedokteran Jiwa Fakultas : Kedokteran Universitas Haluoleo, Rumah Sakit Jiwa dr. Soeparto Harjhohusodo, Kendari, Sulawesi Tenggara

Menyetujui, Pembimbing,

dr. Jalaluddin Yusuf, M.Kes, Sp. KJ

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 2

Kendari, Sultra

GANGGUAN SEKSUALITAS Idhul Ade Rikit Fitra , Jalalluddin Yusuf

1.

Pendahuluan Perilaku seksual bermacam-macam dan ditentukan oleh suatu interaksi

faktor-faktor yang kompleks. Seksualitas ditentukan oleh anatomi, fisiologi, psikologi, kultur dimana orang tinggal, hubungan seseorang dengan orang lain, dan mencerminkan perkembangan pengalaman seks selama siklus kehidupannya. Ini termasuk persepsi sebagai laki-laki atau wanita dan semua pikiran, perasaan, dan perilaku yang berhubungan dengan kepuasan dan reproduksi, termasuk ketertarikan dari seseorang terhadap orang lain.(1) Seksualitas seseorang dan kepribadian keseluruhan adalah sangat terjalin sehingga tidak mungkin untuk membicarakan seksualitas sebagai bagian yang terpisah. Dengan demikian istilah psikoseksual digunakan untuk mengesankan perkembangan dan fungsi kepribadian sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh seksualitas seseorang. Psikoseksual jelas bukan terbatas pada perasaan dan perilaku seksual, demikian juga tidak sama dengan libido dalam pandangan Freud.(1) Seksualitas bergantung pada empat faktor yang saling berkaitan : identitas seksual, identitas gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Keempat faktor ini mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi kepribadian. Seksualitas adalah sesuatu yang lebih dari seks fisik, koitus, atau bukan koitus, dan hanya perilaku yang diarahkan untuk memperoleh kesenangan.(2) Sexualitas adalah perilaku keseluruhan seseorang yang menunjukkan ia laki-laki atau wanita. Perilaku sexual yang normal adalah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntunan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan diri sendiri dalam hal mencapai kebahagaiaan dan pertumbuhan. Juga dapat mencapai perwujudan diri sendiri dalam meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.(3)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 3

Kendari, Sultra

Pada referat ini, kita akan membahas gangguan seksualitas berupa, disfungsi seksual , gangguan identitas jenis kelamin, gangguan preferensi seksual dan gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual.
(1,2,3)

Disfungsi seksual merupakan masalah yang menyebabkan

kesulitan atau bahkan tidak mungkin berhubungan intim. (3) Sedangkan, gangguan identitas gender adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita, dimana terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya (Nevid, 2002).(4) Istilah parafilia diciptakan oleh Wilhelm Stekel pada 1920an. Parafilia merupakan istilah untuk segala sesuatu mengenai kebiasaan seksual, gairah seksual, atau kepuasan terhadap perilaku seksual yang tidak lazim dan ekstrim.(1,2) Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi Sexual ditandai dengan ketidakpuasan terhadap pola perangsangan seksual dan biasanya berlaku pada pola perangsangan. (2) 2. Klasifikasi Gangguan Seksualitas a. Disfungsi Seksual 1. Disfungsi Seksual Menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder Edisi Revisi IV (DSM-IV-TR) (5) 1. 2. 3.
4.

Gangguan hasrat seksual (Sexual desire disorder) Gangguan rangsangan seksual (Sexual arousal disorder) Gangguan orgasme (Orgasm disorder) Gangguan sakit atau nyeri (Sexual pain disorder)

2. F52. Disfungsi Seksual Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III) (3,6) F52.0 Kurang atau hilangnya nafsu seksual F52.1 Penolakan dan kurangnya kenikmatan seksual F52.2 Kegagalan dari respons genital F52.3 Disfungsi orgasme F52.4 Eyakulasi dini F52.5 Vaginismus non-organik F52.6 Disparanurea non-organik
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 4

Kendari, Sultra

F52.7 Dorongan sexual yang berlebihan F52.8 Disfungsi seksual lainnya, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik F52.9 Disfungsi seksual YTT, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik b. Gangguan Identitas Jenis Kelamin 1. Gangguan Identitas Jenis Kelamin Menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder Edisi Revisi IV (DSM-IV-TR) (7) 1. 2. 3. Gangguan identitas jenis kelamin pada anak anak Gangguan identitas jenis kelamin pada masa remaja dan dewasa Gangguan identitas jenis kelamin yang tidak ditentukan

2. F64. Gangguan Identitas Jenis Kelamin Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III) (3,6) F64.0 Transeksualisme F64.1 Transvetisme peran ganda F64.2 Gangguan identitas jenis kelamin masa kanak F64.8 Gangguan identitas jenis kelamin masa lainnya F64.9 Gangguan identitas jenis kelamin masa YTT c. Gangguan Preferensi Seksual (Parafilia) 1. Gangguan Preferensi Seksual Menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder Edisi Revisi IV (DSM-IV-TR) (1,2,3) - Ekshibisionisme - Fetishisme - Froteurisme - Pedofilia - Masokisme Seksual - Sadisme Seksual - Voyeurisme - Fetishisme Transvestik - Parafilia Lain yang Tidak Ditentukan (NOS : Not Oherwise Specified) contoh: Zoofilia
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 5

Kendari, Sultra

2. F65. Gangguan Preferensi Seksual Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III) (3,6) -

F65.0 Fetihisme F65.1 Tranvetisme Fetihistik F65.2 Ekshibisionisme F65.3 Voyeurisme F65.4 Pedofilia F65.5 Sadomasokisme F65.6 Gangguan Preeferensi Seksual Multipel F65.8 Gangguan Preferensi Seksual Lainya F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT

d. Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi Sexual 1. F66. Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi Sexual Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III) (3,6) F66.0 Gangguan dan maturitas seksual F66.1 Orientasi seksual egodistonik F66.2 Gangguan jalinan seksual F66.8 Gangguan perkembangan psikoseksual lainnya F66.9 Gangguan perkembangan psikoseksual YTT Dapat dipakai kode lima karakter : F66.x0 Heteroseksualitas F66.x1 Homoseksualitas F66.x2 Biseksualitas F66.x3 Lainnya, termasuk prapuberitas

3. Manifestasi Klinis dan Pedoman Diagnosis a. Disfungsi Seksual Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan dimana individu tidak mampu berperan serta dalam hubungan seksual seperti yang
Page 6

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Kendari, Sultra

diharapkannya. Gangguan tersebut dapat berupa kekurangan minat (interest), kenikmatan (enjoyment), gagal dalam respon fisiologis yang dibutuhkan untuk interaksi seksual yang efektif (misalnya, ereksi), atau tidak mampu mengendalikan atau mengalami orgasme. Respon seksual adalah suatu proses psiko-somatik, dan kedua proses (psikologis dan somatik) biasanya terlibat sebagai penyebab disfungsi seksual. (6) 1. Kurangnya atau hilangnya nafsu seksual Diagnosis ini dibuat bila hal itu merupakan masalah utama dan tidak merupakan gangguan sekunder dari gangguan dari gangguan seksual lain, seperti disfungsi ereksi atau disparaeunia. Hanya aktivitas awal sexual berkurang, tetapi kenikmatan dan bangkit (arousal) sexual tidak. Disini termasuk frigiditas. Frigiditas atau anastesi sexual adalah berbagai kelainan yang berhubungan dengan hambatan respon sexual wanita, mulai dari orgasme yang tidak memuaskan namun respon sexual baik, sampai dengan tidak terdapat respon sama sekali terhadap rangsangan sexual. Penyebab psikologisnya mungkin takut hamil, penolakan suami/partner, atau takut padanya, cemburu, iri hati atau bermusuhan dengan pria, rasa salah dengan perbuatan itu atau takut akan mutilasi. (3) 2. Penolakan dan kurangnya kenikmatan seksual Adanya penolakan sexual (sexual aversion) dengan perasaan negatif terhadap interaksi sexual sehingga aktivitasnya sexual dihindarkan. Mungkin juga karena kurangnya kenikmatan sexual (lack of sexual enjoyment), namun respon sexual berlangsung normal dan mengalami orgasme, tetapi kurang ada kenikmatan yang memadai. (3) 3. Kegagalan dari respons genital Terdapat pada pria (disfungsi ereksi) dan pada wanita (vagina yang kering, kurangnya pelicinan dan lubrication). (3) a. Gangguan gairah seksual pada perempuan Gangguan gairah seksual pada wanita adalah ketidakmampuan sebagian perempuan untuk mencapai atau mempertahankan lubrikasi
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 7

Kendari, Sultra

vagina dan respons keterangsangan seksual yang membuat vagina membesar sampai aktivitas seksual dan keadaan ini terjadi berulang kali. Kelainan ini mirip dengan impotensi pada pria. Kelainan ini bisa terjadi seumur hidup atau bisa terjadi setelah suatu masa dimana fungsinya normal. Gangguan seperti ini seringkali disebut sebagai frigiditas. Adapun fitur-fitur gangguan gairah seksual pada perempuan meliputi: (5) Ketidakmampuan yang presisten atau berulang kali terjadi untuk mencapai atau mempertahankan respons lubrikasi-pembesaran vaginal sebagai respons keterangsangan seksual selama melakukan aktivitas seksual. Distres yang signifikan atau kesulitan interpersonal karena ketidakmampuan ini. Ketidakmampuan ini bukan lebih menjadi bagian penentu bagi gangguan lain (misalnya: gangguan suasana perasaan, kecemasan, kognitif) dan bukan disebabkan karena efek-efek fisiologis obat atau penyalahgunaan obat. Gangguan gairah seksual pada wanita memiliki penyebab fisik maupun psikis. Penyebab yang utama adalah faktor psikis, yang bisa berupa perselisihan pernikahan, depresi, dan keadaan yang menimbulkan stress. Seorang wanita bisa menghubungkan seksual dengan perbuatan dosa dan kesenangan seksual dengan perasaan bersalah. Rasa takut akan keintiman juga dapat memegang peranan. Sedangkan faktor fisik yang bisa menyebabkan gangguan gairah seksual pada wanita diantaranya: (5) Rasa nyeri karena endometriosis atau infeksi kandung kemih (sistitis), infeksi vagina (vaginitis). Kekurangan hormon estrogen yang menyertai masa menopause atau pengangkatan indung telur biasanya menyebabkan kekeringan dan penipisan dinding vagina. Histerektomi (pengangkatan rahim) atau mastektomi (pengangkatan payudara).
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 8

Kendari, Sultra

Kelenjar tiroid yang kurang aktif. Anatomi vagina yang abnormal, yang disebabkan oleh kanker, pembedahan atau terapi penyinaran.

Hilang rasa karena alkolik, diabetes atau kelainan sistem saraf tertentu (misalnya sklerosis multiple).

Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi kecemasan, depresi atau tekanan darah tinggi.

b.

Gangguan ereksi pada laki-laki Gangguan ereksi pada laki-laki merupakan salah satu jenis

gangguan seksual pada pria. Secara definisi gangguan ereksi adalah kurangnya kemampuan atau ketidakmampuan sebagian laki-laki untuk mencapai atau mempertahankan proses ereksi penis sampai aktivitas seksual selesai dan keadaan ini terjadi berulang kali. Gangguan ini seringkali disebut impotensi. Fitur-fitur gangguan ereksi pada laki-laki meliputi: a. Ketidakmampuan yang presisten atau berulang kali terjadi untuk mencapai atau mempertahankan ereksi selama melakukan aktivitas seksual. b. Distress yang signifikan atau kesulitan interpersonal karena ketidakmampuan ini. c. Ketidakmampuan ini bukan lebih menjadi bagian penentu bagi gangguan lain dan bukan disebabkan karena efek-efek fisiologis obat atau penyalahgunaan obat. Pada dasarnya disfungsi ereksi terbagi dalam dua faktor penyebab, yaitu psikis dan organis. Penyebab faktor psikis biasanya dilatarbelakangi oleh faktor kejenuhan, kejengkelan, kekecewaan, hilangnya daya tarik terhadap pasangan, trauma seksual hingga rasa takut gagal yang terpicu dari kurangnya rasa kepercayaan diri. Mayoritas penderita gangguan ereksi yag disebabkan oleh faktor psikis yaitu laki-laki pada usia produktif. Untuk faktor penyebab organis, gangguan ereksi biasanya terkait penyakit seperti diabetes, hipertensi, hiperkolesterol, pascaKepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 9

Kendari, Sultra

operasi prostat dan penyempitan pembuluh darah. Faktor usia juga dapat mempengaruhi dimana semakin tua usia semakin besar risiko gangguan ereksi. Kecenderungan penderita gangguan ereksi yang disebabkan oleh faktor organis yaitu laki-laki yang berusia di atas lima puluh tahun. Adapun penyebab-penyebab gangguan ereksi pada lakilaki, antara lain: (5) a. Kelainan pembuluh darah Agar dapat menegang, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu penyakit pembuluh darah (misalnya aterosklerosis) dapat menyebabkan impotensi. Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau akibat pembedahan pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis. b. Kelainan persarafan

Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini dapat terjadi akibat: c. Cedera Diabetes melitus Sklerosis multiple Stroke Obat-obatan Alkohol Penyakit tulang belakang bagian bawah Pembedahan rektum atau prostat Obat-obatan gangguan ereksi meningkat seiring dengan kebiasaan

Risiko

mengonsumsi narkotika, obat zat psikotropika, antidepresi (litium), obat penenang, dan hormon. Serta dapat juga dipicu dari konsumsi obatobatan anti-hipertensi dan antigastritis (simetidin). d. e. Kelainan pada penis Masalah psikis yang mempengaruhi gairah seksual

Pada gangguan ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut: (5)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 10

Kendari, Sultra

Tidak

mampu

ereksi

sama

sekali

atau

tidak

mampu

mempertahankan ereksi secara berulang (sedikitnya selama 3 bulan) Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten Ereksi hanya sesaat

Impotensi dapat diobati tanpa pembedahan. Jenis pengobatan yang ada tergantung kepada penyebab primernya. Selain itu ditujukan pula untuk memperbaiki fungsi ereksi. Tidak sedikit kasus gangguan ereksi tidak memerlukan obat, terutama pada kasus gangguan ereksi karena faktor psikologis. Disamping itu, peran pasangan sangat penting untuk membantu pemulihan gangguan ereksi. (5) 4. Disfungsi orgasme Gangguan orgasme pada pria merupakan pola kesulitan untuk mencapai orgasme setelah melalui pola hasrat dan gairah seksual yang normal. Pria dengan masalah ini biasanya dapat mencapai orgasme melalui masturbasi tetapi tidak melalui hubungan genital. (5) 5. Eyakulasi dini Ejakulasi dini (Premature Ejaculation) ialah pelepasan air mani (semen, sprema) pada saat orgasme. Definisi lebih jelas yaitu pembuangan sperma yang terlalu dini atau cepat, berlangsung zakar melalukan penetrasi dalam vagina atau berlangsung ejakulasi beberapa detik sesudah penetrasi. Jadi, ejakulasi premature adalah peristiwa terlampau cepat mengeluarkan sperma pada saat intromissi, dan pihak pria tidak mampu menahan dorongan ejakulasi di dalam vagina selama beberapa detik. Hal ini dapat terjadi sebelum, pada saat, atau segera setelah penetrasi, tetapi sebelum pria tersebut menginginkannya. Pada umumnya ejakulasi dini tersebut disebabkan oleh rasa tidak aman dan rasa kurang percaya diri. Peristiwa sedemikian biasanya antara lain disebabkan oleh kegagalan-kegagalan tertentu dalam kariernya. Mungkin juga disebabkan oleh isteri yang terlalu dominan dan banyak menuntut, keras, dan suka menghina suami. Bisa pula disebabkan oleh
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 11

Kendari, Sultra

rasa berdosa atau bersalah pada pihak pria yang bersangkutan. Ejakulasi dini ini merupakan bentuk impotensi lain yang tidak terlalu parah. Pengalaman ejakulasi dini yang sesekali terjadi, misalnya ketika pria tersebut bersama pasangan yang baru, memiliki kontak seksual yang jarang, berada pada spectrum normal. (5) 6. Vaginismus non-organik Vaginismus adalah kontraksi tak disengaja atau involunter dari otot vagina, sehingga penetrasi penis menjadi menyakitkan atau tidak mungkin dilakukan. Respons ini dapat terjadi selama pemeriksaan ginekologi ketika konstriksi vagina involunter mencegah masuknya speculum ke dalam vagina.Vaginismus adalah kejang urat yang sangat menyakitkan pada vagina. Ada kalanya fungsi vagina itu menjadi sangat abnormal yaitu mengadakan kontraksi-kontraksi (penegangan, pengejangan, pengerasan) yang menyakitkan sekali, yang menyamai sebuah kompresor (alat penekan, pemadat, pemampat). Kontraksi yang sangat kuat pada distal vagina (mis: constrictor cunni, vagina yang bentuknya tidak rata) itu menyebabkan vaginismus dan paresthesia penuh kesakitan; di pihak pria karena penis laki-laki terjepit kuat-kuat, dan merasakan kesakitan yang luar biasa bagaikan hampir lumpuh rasanya. Pada peristiwa lainnya yang sangat luar biasa, kontraksi vagina itu berlangsung begitu hebatnya, sehingga penis terjepit dan terperangkap sehingga tidak bisa keluar dari vagina. Terjadilah apa yang disebut penis captivus. Peristiwa vaginismus bisa timbul spontan tanpa disadari, bisa reflektif sewaktu zakar melakukan penetrasi, atau sewaktu berlangsung emossio penis (zakar mengeluarkan mani) atau berlangsung pada waktu diadakan pemeriksaan ginekologis. (2,3,6,7) Orang mengenal 4 macam bentuk vaginismus : (7) 1. Vaginismus reflektif primer, yang terjadi pada saat melakukan coitus pertama kali.

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 12

Kendari, Sultra

2.

Vaginismus reflektif sekunder, disebabkan kelainan somatic atau gangguan organis. Pada mulanya wanita yang bersangkutan mampu melakukan coitus biasa.

3.

Vaginismus psikogen primer. Pada peristiwa coitus pertama, yang bersumber pada sebab-sebab psikis (ketakutan dan kecemasan yang hebat, rasa berdosa)

4.

Vaginismus psikogen sekunder. Pada awalnya wanita yang yang bersangkutan mampu melakukan coitus. Akan tetapi sesudah beberapa waktu lamanya timbul gejala vaginismus, disebabkan oleh rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan coitus, dan ada rasa antipasti atau rasa-rasa tidak mapan terhadap partner seksnya.

7. Disparanurea non-organik Dispareunia adalah rasa sakit saat atau setelah berhubungan seksual yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Dapat didefinisikan juga sebagai : (5) Persenggamaan yang sangat menyakitkan. Tidak adanya kapasitas untuk menikmati relasi seksual. Kesakitan pada dispareunia ini menurut tempatnya bisa dibagi dalam beberapa penggolongan, sebagai berikut : (5) 1. Sewaktu pria mengadakan emissio (pengeluaran air mani), pihak wanita merasakan kesakitan pada vulva atau lubang kemaluan. 2. Karena transudasi yang berkurang (transude adalah keluarnya lendir pelicin yang kurang). Hal ini disebabkan : (5) Kurang lama melakukan permainan pendahuluan Dimuati rasa-rasa ketakutan misalnya takut hamil, takut karena penyakit kotor, atau takut karena berzinah dengan laki-laki bukan suami sendiri Ada alergi terhadap kondom
Page 13

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Kendari, Sultra

3.

Ada infeksi pada vulva atau vagina Kurang hormon pada wanita lanjut usia

Ada rasa sakit pada pinggul bagian dalam

8. Dorongan sexual yang berlebihan Baik pria maupun wanita dapat kadang-kadang mengeluh dorongan seksual berlebihan sebagai problem dalam dirinya, biasanya pada remaja akhir belasan tahun atau dewasa muda. Bila keadaan ini sekunder dari gangguan afektif atau terjadi pada stadium awal dari dementia, maka gangguan primernya harus di-diagnosis. (6) 9. Disfungsi seksual lainnya, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik (6) b. Gangguan Identitas Jenis Kelamin 1. Transeksualisme Transeksual adalah suatu kelainan identitas jenis kelamin yang nyata dimana penderita meyakini bahwa mereka adalah korban dari suatu kecelakaan biologis yang terjadi sebelum mereka lahir yang secara kasar terpenjarakan dalam sebuah tubuh yang tidak sesuai dengan identitas jenis kelamin mereka yang sesungguhnya. Penderita gangguan transeksual sebagian besar adalah laki-laki yang mengenali dirinya sebagai wanita, yang biasanya timbul pada awal masa kanakkanak dan melihat alat kelamin dan penampakan kejantanannya dengan perasaan jijik. Transeksual jarang ditemukan pada wanita. Penyebab terjadinya transeksual karena adanya perasaan tidak nyaman akan kondisi fisik tubuhnya yang kemudian menyebabkan individu terkait melakukan penggantian alat vitalnya. (7) Dalam Diagnosis Gangguan Jiwa (Maslim, 2003), diagnosa transeksualisme yaitu: (7) a. Untuk menegakkan diagnosis, identitas transeksual harus sudah menetap selama minimal 2 tahun, dan harus bukan merupakan

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 14

Kendari, Sultra

gejala dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenia, atau berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau kromosom.

b.

Gambaran Identitas,sbb: Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan risih, atau ketidakserasian, dengan anatomi seksualnya; dan Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.

2. Transvetisme peran ganda Pedoman Diagnostik(PPDGJ III), yaitu: (6) a. Mengenakan pakaian dari lawan jenisnya sebagai bagian dari eksistensi dirinya untuk menikmati sejenak pengalaman sebagai anggota lawan jenisnya; b. Tanpa hasrat untuk mengubah jenis kelamin secara lebih permanen atau berkaitan dengan tindakan bedah; c. Tidak ada perangsangan seksual yang menyertai pemakaian pakaian lawan jenis tersebut, yang membedakan gangguan ini dengan transvetisme fetishistik. 3. Gangguan identitas jenis kelamin masa kanak Menurut pedoman diagnostik(PPDGJ III), gambaran esensial untuk diagnosis adalah : (6) Keinginan anak yang mendalam (pervasive) dan menetap (persistent) untuk menjadi (atau keteguhan bahwa dirinya adalah) jenis kelamin lawan jenisnya, disertai penolakan terhadap perilaku, atribut dan/atau pakai yang sesuai untuk jenis kelaminnya; tidak ada rangsangan seksual dari pakaian

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 15

Kendari, Sultra

Yang khas adalah manifestasi pertama timbul diusia pra sekolah. Gangguan sudah tampak sebelum pra pubertas.

Pada kedua jenis kelamin, kemungkinan ada penyangkalan terhadap struktur anatomi jenis kelaminnya sendiri, tetapi hal ini jarang terjadi.

Ciri khas lain, anak dengan gangguan identitas jenis kelamin, menyangkal bahwa dirinya terganggu, meskipun mereka mungkin tertekan oleh konflik dengan keinginan orang tua atau kawan sebayanya dan oleh ejekan dan/atau penolakan oleh orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

4. Gangguan identitas jenis kelamin masa lainnya (6) 5. Gangguan identitas jenis kelamin masa YTT (6) c. Gangguan Prefensi Sexual 1. Fethisime Fetishisme adalah kelainan yang dikarakteristikan sebagai dorongan seksual hebat yang berulang dan secara seksual menimbulkan khayalan yang dipengaruhi oleh objek yang bukan manusia.(8) Pada fetishisme, dorongan seksual terfokus pada benda atau bagian tubuh (seperti, sepatu, sarung tangan, celana dalam, atau stoking) yang secara mendalam dihubungkan dengan tubuh manusia. Pada penderita fetishisme, penderita kadang lebih menyukai untuk melakukan aktivitas seksual dengan menggunakan obyek fisik (jimat), dibanding dengan manusia. Penderita akan terangsang dan terpuaskan secara seksual jika:
(2,3,6,8,9)

1. 2. 3.

Memakai pakaian dalam milik lawan jenisnya Memakai bahan karet atau kulit Memegang, atau menggosok-gosok atau membaui sesuatu, misalnya sepatu bertumit tinggi. Objek fetish sering digunakan untuk mendapatkan gairah selama

melakukan masturbasi, dorongan seksual tidak dapat terjadi jika ketidakhadiran dari objek tersebut. Jika terdapat pasangan seksual,
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 16

Kendari, Sultra

pasangannya ditanya untuk memakai pakaian atau objek lain sesuai objek fethisnya selama aktivitas seksual.(2)

Gambar 1. Foot Fetishism (Dikutip dari kepustakaan 9) Pedoman Diagnostik Fetihisme menurut PPDGJ III (6) Mengandalkan pada beberapa benda mati(non-living object) sebagai rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikanb kepuasan seksual. Kebanyakan benda tersebut (object fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu Diagnosis ditegakkan apabila object fetish benar-benar merupakan sumber yang utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respon seksual yang memuaskan. Fantasi fetihistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai menggangu hubungan seksual dan menyebabkan bagi penderitaan individu. Fetihisme terbatas hampir hanya pada pria saja

Kriteria Diagnostik Fetihisme menurut DSM-IV (9) 1. Selama waktu sekurangnya 6 bulan terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 17

Kendari, Sultra

berulang dan kuat berupa pemakaian benda-benda mati (misalnya, pakaian dalam wanita) 2. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Objek fetish bukan perlengkapan pakaian wanita yang digunakan pada cross-dressing (berpakaian lawan jenis) seperti pada fetishisme transvestik atau alat-alat yang dirancang untuk tujuan stimulasi taktil pada genital, misalnya sebuah vibrator. (9) 2. Tranvetisme Fetihistik Tranvetisme Fetihistik adalah gejala keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan sexual dengan memakai pakaian dan berperan sebagai seorang dari sex yang berlainan.(3) Cross dressing tersebut dapat berupa menggunakan salah satu bahan yang dipakai wanita atau mengenakan pakaian wanita lengkap dan menampilkan diri sebagai wanita di depan umum. Tujuan orang tersebut adalah untuk mencari kepuasan seksual. Pria yang mengalami penyakit ini mengadakan masturbasi pada waktu mengenakan pakaian wanita dan berfantasi mengenai pria lain yang tertarik dengan pakaiannya. Seorang wanita dikatakan mengalami kelainan ini jika mereka mengenakan pakaian laki-laki untuk mencari kepuasan seksual.(2)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 18

Kendari, Sultra

Gambar 2. Tranvetisme Fetihistik pada Laki Laki (dikutip dari kepustakan 9) Pedoman Diagnostik Tranvetisme Fetihistik menurut PPDGJ-III (6) Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai kepuasaan seksual Gangguan ini harus dibedakan dari fetihisme (F65.0) dimana pakaian sebagai objek fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan penampilan seorang dari lawan jenis kelaminya. Biasanya lebih dari satu jenis barang yang dipakai dan seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh, termasuk rambut palsu dan tat arias wajah. Transvetisme fetihistik deibedakan dari trasvetisme transsexual oleh adanya hubungan yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan/hasrat yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan rangsang seksual menurun Adanya riwayat transvetisme fetihistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal oleh para penderita transeksualisme dan kemungkinan merupakan suatu stadium dalam perkembangan transeksualisme. Kriteria Diagnostik Fetishisme Transvestik menurut DSM-IV (9) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, pada laki-laki heteroseksual, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa cross dressing. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis dan gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. 3. Ekshibisionisme

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 19

Kendari, Sultra

Eksibisionisme adalah dorongan berulang untuk menunjukkan alat kelamin pada orang asing atau pada orang yang tidak menyangkanya. Kegairahan seksual terjadi pada saat antisipasi terhadap pertunjukan tersebut, dan orgasme didapatkan melalui masturbasi selama atau setelah peristiwa. Dinamika laki-laki dengan eksibisonisme adalah untuk menegaskan maskulinitas mereka dengan menunjukkan penis dan dengan melihat reaksi korbanketakutan, kaget, jijik.(2) Pedoman Diagnostik Ekhibisionisme menurut PPDGJ-III (6) Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab. Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut, atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat. Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual, tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan (stimultaneously) dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut. Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan dalam mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat ego-alien (suatu benda asing bagi dirinya). Kriteria Diagnosik Eksibisionisme menurut DSM-IV (9) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 20

Kendari, Sultra

berulang dan kuat berupa memamerkan alat kelaminnya sendiri kepada orang yang tidak dikenal dan tidak menduga. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. 4. Voyeurisme Istilah voyeurism, dari kata Prancis berarti melihat, mengacu pada keinginan untuk memandang tindakan dan ketelanjangan hubungan seks.(10) Voyeurisme adalah preokupasi rekuren dengan khayalan dan tindakan yang berupa mengamati orang lain yang telanjang atau sedang berdandan atau melakukan aktivitas seksual. Gangguan ini juga dikenal sebagai skopofilia. Masturbasi sampai orgasme biasanya terjadi selama atau setelah peristiwa.(2) Voyeurisme ini merupakan kegiatan mengintip yang menggairahkan dan bukan merupakan aktivitas seksual dengan orang yang dilihat. Sebagian besar pelaku voyeurisme ialah dari golongan pria.(11)

Gambar 3. Voyeurisme (Dikutip dari kepustakaan 9) Pedoman Diagnostik Voyeurisme menurut PPDGJ-III (6)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 21

Kendari, Sultra

Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.

Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan mastrubasi, yang dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya.

Kriteria Diagnostik Voyeuisme menurut DSM-IV (9) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa mengamati orang telanjang yang tidak menaruh curiga, sedang membuka pakaian, atau sedang melakukan hubungan seksual. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosil, pekerjaan, atau fingsi penting lainnya. 5. Pedofilia Kata ini berasal dari bahasa Yunani: paidophilia (), pais (, "anak-anak") dan philia (, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan". Di zaman modern, pedofil digunakan sebagai ungkapan untuk "cinta anak" atau "kekasih anak" dan sebagian besar dalam konteks ketertarikan romantis atau seksual.(12) Pedofilia juga merupakan gangguan psikoseksual, yang mana fantasi atau tindakan seksual dengan anak-anak prapubertas merupakan cara untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual. Perilaku ini mungkin diarahkan terhadap anakanak berjenis kelamin sama atau berbeda dengan pelaku. Beberapa pedofil tertarik pada anak laki-laki maupun perempuan.Sebagian pedofil ada yang hanya tertarik pada anak-anak, tapi ada pula yang juga tertarik dengan orang dewasa dan anak-anak.(2,3)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 22

Kendari, Sultra

Gambar 4. Pedofilia (Dikutip dari kepustakaan 9)

Pedoman Diagnostik menurut Pedofilia PPDGJ III (6) Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan Preferensi tersebut harus berulang dan menetap Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaanya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti. Kriteria Diagnostik Pedofilia menurut DSM-IV (9) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan

yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa aktivitas seksual dengan anak prapubertas atau dengan anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang) b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. c. Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua dari anak, atau anak-anak dalam kriteria A. 6. Sadomasokisme
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 23

Kendari, Sultra

Sadisme seksual adalah preferensi mendapatkan atau meningkatkan kepuasan seksual dengan cara menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun mental. Perbuatan sadistik dalam bersetubuh antara lain memukul, menampar, menggigit, mencekik, menoreh mitranya dengan pisau, menyayat-nyayat mitranya dengan benda tajam. Juga bisa dengan mengeluarkan kata-kata kotor, penyiksaan berat sampai dengan pembunuhan untuk mendapatkan kepuasan seks dan untuk

mendapatkan orgasme adalah puncak dari sadisme dimana tubuh korban dirusak dan dibunuh dengan kejam. Biasanya hal ini dilakukan dengan kondisi jiwa psikotik. Ada semacam obsesi sangat kuat merasa ditolak oleh wanita, sekaligus rasa agresif, dendam dan benci. Masokhisme seksual yaitu mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti diri sendiri, lebih sering terjadi pada wanita, sedangkan sadisme lebih sering terjadi pada laki-laki.(2,13)

Gambar 5. Sadomasokisme (dikutip dari kepustakaan 9) Kriteria Diagnostik Sadomasokisme menurut PPDGJ-III (6) Preferensi terhadap aktivitas seksual yang melibatkan pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan; (individu yang lebih

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 24

Kendari, Sultra

suka untuk menjadi resipien dari perangsangan demikian disebut masokisme, sebagai pelaku = sadism) Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas sadistik maupun masokistik. Kategori ini hanya digunakan apabila sadomasokistik merupakan sumber rangsangan yang penting pemuasan seksual. Harus dibedakan dari kebrutalan dalam hubungan seksual atau kemarahan yang tidak berhubungan dengan erotisme. Kriteria Diagnostik Untuk Sadisme Seksual menurut DSM-IV (6) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata atau disimulasi) dimana penderitaan korban secara fisik atau psikologis (termasuk penghinaan) adalah menggembirakan pelaku secara seksual. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Kriteria Diagnostik Untuk Masokisme Seksual menurut DSM-IV (9) a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa tindakan (nyata, atau disimuasi) sedang dihina, dipukuli, diikat, atau hal lain yang membuat menderita. b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. 7. Gangguan Preferensi Seksual Multipel Kadang kadang lebih dari satu gangguan preferensi seksual yang terjadi pada seseorang dan tidak satupun lebih diutamakan daripada

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 25

Kendari, Sultra

yang lainnya. Kombinasi yang paling sering adalah fetihisme, transvestisme dan sadomasokisme.(6) 8. Gangguan Preferensi Seksual Lainya Suatu varietas dari pola lain pada preferensi dan aktivitas seksual mungkin terjadi, yang masing masing relatif tidak lazim. Ini mencakup kegiatan seperti melakukan panggilan telepon cabul, menggosok menempel pada orang untuk stmulasi seksual di tempat umum yang ramai (frotteurisme), aktivitas seksual dengan binatang. Menggunakan cekikan atau anoksia untuk mengintensifkan kepuasan seksual dan kepuasan terhadap partner dengan cacat badan tertentu seperti tungkai yang diamputasi. (9) Perbuatan erotik terlalu bermacam macam dan banyak diantaranya terlalu jarang atau idionsikatrik untuk diberikan istilah khusus untuk setiap kelainan. Menelan urin, melaburkan feses, atau menusuk kulup atau puting susu merupakan sebagian dari perilaku yan termasuk sadomasokisme. Masturbasi dengan berbagai cara ialah lzim, tetapi praktek yang lebih ekstrem seperti memasukkan benda ke rektum atau uretra penis atau strangulas diri parsialis, apabila menggantikan hubungan seksual yang lazim, termasuk dalam abnormalitas. Nekrofilia juga harus dimasukkan dalam kategori ini. (6) Frotteurisme Frotteurisme biasanya ditandai oleh seorang laki-laki yang menggosokkan penisnya kepada bokong atau bagian tubuh seorang wanita yang berpakaian lengkap untuk mencapai orgasme. Pada saat yang lain, ia mungkin menggunakan tangannya untuk meraba korban yang tidak menaruh curiga. Tindakan ini biasanya terjadi pada tempat ramai, khususnya dalam kereta dan bus. Orang dengan frotteurisme adalah sangat pasif dan terisolasi, dan cara tersebut seringkali merupakan satu-satunya sumber kepuasan seksualnya.(2) Kriteria diagnostik Frotteurisme menurut DSM-IV (9)
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 26

Kendari, Sultra

a.

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa menyentuh atau bersenggolan dengan orang yang tidak menyetujuinya.

b.

Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya

Gambar 6. Frotteurisme (dikutip dari kepustakaan 9)

Nekrofilia Nekrofilia adalah obsesi untuk mendapatkan kepuasan seksual dari mayat. Sebagian besar orang dengan nekrofilia mendapatkan mayat untuk eksploitasinya dari rumah mati. Beberapa orang diketahui menggali kuburan. Suatu waktu, orang membunuh untuk memuaskan desakan seksualnya. Pada beberapa kasus yang dipelajari, orang dengan nekrofilia percaya bahwa mereka membebankan penghinaan terbesar yang dipikirkannya pada korban mereka yang mati. (2)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 27

Kendari, Sultra

Gambar 7. Nekrofilia (Dikutip dari kepustakaan 9)

9. Gangguan Preferensi Seksual YTT Skatologia Telepon Pada skatologia telepon, ditandai oleh panggilan telepon yang cabul, ketegangan dan perangsangan yang dimulai saat akan menelepon, melibatkan pasangan yang tidak menaruh curiga, penerima telepon mendengarkan saat penelepon (biasanya laki-laki) secara verbal membuka preokupasinya atau mengajak wanita untuk menceritakan aktivitas seksualnya, dan percakapan tersebut disertai dengan masturbasi, yang seringkali disudahi setelah kontak terputus. (9) Orang dapat juga mengggunakan jaringan computer interaktif untuk mengirimkan pesan cabul melalui surat elektronik. Di samping itu, orang menggunakan jaringan computer untuk mengirimkan pesan dan gambar-gambar video yang seksual. Beberapa orang secara kompulsif menggunakan jasa tersebut. (9) Parsialisme Dalam parsialisme seseorang memfokuskan pada satu bagian tubuh dan menyingkirkan bagian lainnya. Kontak genital mulut seperti kunilingus (kontak oral dengan genital eksternal wanita), felasio (kontak oral dengan penis), dan analingus (kontak oral dengan anus)
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 28

Kendari, Sultra

adalah suatu aktivitas yang normalnya berhubungan dengan pemanasan seksual (foreplay). Freud memandang bahwa permukaan mukosa tubuh sebagai erotogenik dan mampu menghasilkan sensasi yang

menyenangkan. Tetapi jika seseorang menggunakan aktivitas tersebut sebagai sumber satu-satunya kepuasan seksual dan tidak dapat melakukan koitus atau menolak melakukan koitus, terdapat suatu parafilia. Keadaan ini juga dikenal sebagai oralisme. (9) Zoofilia Pada zoofilia, binatang yang mungkin dilatih untuk berperan serta adalah disukai untuk khayalan perangsangan atau aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual, masturbasi, dan kontak oral-genital. Zoofilia sebagai suatu parafilia yang terorganisasi adalah jarang. Bagi sejumlah orang, binatang adalah sumber utama hubungan, sehingga tidak mengejutkan bahwa binatang rumah tangga digunakan secara sensual atau seksual. (9) Hubungan seksual dengan binatang kadang-kadang merupakan suatu hasil pertumbuhan dari tersedianya atau kesenangan, khususnya pada bagian dunia dimana kaidah yang ketat melarang seksualitas pramarital atau dalam situasi isolasi yang berlebihan. Tetapi, karena masturbasi juga tersedia dalam situasi tersebut, suatu predileksi untuk kontak dengan binatang kemungkinan ditemukan pada zoofilia oportunistik. (9)

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 29

Kendari, Sultra

Gambar 8. Zoofilia (dikutip dari kepustakaan 9) Koprofilia Dan Klismafilia Koprofilia adalah kesenangan seksual yang berhubungan dengan keinginan untuk defekasi pada tubuh pasangan, didefekasi oleh pasangan, atau makan feses (koprofagia). Suatu varian adalah pemakaian kompulsif kata-kata cabul (koprolalia). Parafilia tersebut adalah berhubungan dengan fiksasi pada stadium anal dari

perkembangan psikoseksual. Demikian juga, penggunaan enema sebagai bagian dari stimulasi seksual, klismafilia, adalah berhubungan dengan fiksasi anal. (9) Urofilia Urofilia adalah minat dalam kenikmatan seksual yang berhubungan dengan keinginan untuk kencing pada tubuh pasangan atau dikencingi oleh pasangan; ini adalah suatu bentuk erotikisme uretral. Keadaan ini mungkin disertai dengan teknik masturbasi yang melibatkan insersi benda asing ke dalam uretra untuk mendapatkan stimulasi seksual baik pada laki-laki maupun wanita. (9) Masturbasi Masturbasi adalah aktivitas normal yang sering ditemukan pada semua stadium kehidupan dari masa bayi sampai usia lanjut. Hal ini
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 30

Kendari, Sultra

tidak selalu dianggap demikian. Freud percaya neurastenia adalah disebabkan oleh masturbasi yang berlebihan. Pada awal tahun 1990-an, kegilaan masturbasi (masturbatory insanity) adalah suatu diagnosis yang sering ditemukan pada rumah sakit untuk kegilaan criminal di AS. Masturbasi dapat didefinisikan sebagai pencapaian kenikmatan seksual biasanya menyebabkan orgasme oleh diri sendiri (autoerotikisme). Alfred Kinsley menemukan bahwa masturbasi adalah lebih menonjol pada laki-laki daripada wanita, tetapi perbedaan tersebut tidak lagi benar. Frekuensi masturbasi bervariasi dari tiga sampai empat kali dalam seminggu pada masa remaja sampai satu sampai dua kali seminggu pada masa dewasa. Masturbasi sering ditemukan pada orang yang telah menikah; Kinsey melaporkan bahwa keadaan ini terjadi ratarata satu kali sebulan pada pasangan yang menikah. (9) Teknik masturbasi adalah bervariasi pada kedua jenis kelamin dan dari orang ke orang. Teknik yang paling sering adalah stimulasi langsung pada klitoris atau penis dengan tangan atau jari. Stimulasi tidak langsung mungkin juga digunakan, seperti menggosokan pada bantal atau mengencangkan panggul. Kinsey menemukan bahwa 2% wanita mampu mencapai orgasme melalui khayalan saja. Laki-laki dan wanita telah diketahui menginsersikan benda-benda ke dalam uretranya untuk mencapai orgasme. Vibrator tangan sekarang digunakan sebagai alat masturbasi oleh kedua jenis kelamin. (9) Masturbasi adalah abnormal jika ia menjadi satu-satunya jenis aktivitas seksual yang dilakukan, jika dilakukan sedemikian seringnya sehingga menyatakan suatu kompulsi atau disfungsi seksual, atau jika secara terus menerus disukai untuk berhubungan seks dengan pasangan.
(9)

Hipoksifilia Hipoksifilia adalah keinginan untuk mencapai perubahan kesadaran sekunder karena hipoksia saat mengalami orgasme. Dalam gangguan ini
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 31

Kendari, Sultra

orang mungkin menggunakan obat (seperti nitrit volatil atau nitrogen oksida) yang menghasilkan hipoksia. Asfiksiasi autoerotik juga berhubungan dengan keadaan hipoksik tetapi harus diklasifikasikan sebagai suatu bentuk masokisme seksual. (9) d. Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi sexual 1. Gangguan dan maturitas seksual Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III yaitu : Individu menderita karena ketidak-pastian tentang identitas jenis kelaminnya atau orientasi seksualnya, yang menimbulkan kecemasan atau depresi. Paling sering terjadi pada remaja yang tidak tahu pasti apakah mereka homoseksual, heteroseksual, atau biseksual dalam orientasi seksualnya, atau pada individu yang sesudah suatu periode orientasi seksual yang tampak stabil, seringkali dalam jalinan hubungan yang telah berlangsung lama, menemukan bahwa orientasi seksualnya berubah. (3,6)

2. Orientasi seksual egodistonik Orang dengan gangguan ini tidak meragukan identitasnya jenis kelamin atau prefensi sexualnya, tetapi ia mengharapkan orientasi lain. Hal ini disebabkan oleh gangguan psikologis dan perilaku, dan ia mencari pengobatan untuk mengubahnya. Termasuk disini gangguan orientasi sexual atau homosexualitas yang egodistonik, yaitu keadaan seseorang yang menunjukkan perilaku sexual terarah kepada orangorang dengan sex yang sama, ia merasa risi atau cemas dan mencari pengobatan. Bila ia tidak terganggu karena keadaannya itu, maka disebut gangguan orientasi sexual atau homosexualitas yang

egosintonik. Bila seseorng sudah berkali-kali menunjukkan perilaku homoseksua, maka biasanya sudah terbentuk suatu pola homosexual, biarpun, hal ini tidak dianggapnya sebagai pilihan utama. Istilah homoseksualitas, biasanya dipakai untuk pria dan lesbianisme untuk
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 32

Kendari, Sultra

wanita. Bila disamping perilaku homoseksual orang itu juga menunjukkan perilaku heterosexual, maka ia disebut bisexual. Daloam hal demikian, maka orang itu mungkin lebih banyak homosexual atau lebih banyak heterosexual . Bila seseorang transvestit atau seseorang transsexual sering melakukan tindakan homosexual, itu bukan karena mereka homosexual, tetapi sebagai akibat tranvestisme atau transexualisme. (3) Pedoman PPDGJ-III, orientasi seksual egodistonik kriterianya, identitas jenis kelamin atau preferensi seksual tidak diragukan, tetapi individu mengharapkan yang lain disebabkan oleh gangguan psikologis dan perilaku, serta mencari pengobatan untuk mengubahnya. (6) 3. Gangguan jalinan seksual Orang mengalami kesulitan dalam membentuk dan memelihara jalinan atau relasi sexual karena ia mempuntai gangguan identitas jenis kelamin atau gangguan preferensi sexual. (3) Kriteria diagnosis menurut PPDGJ-III yaitu, kalainan dalam identitas jenis kelamin atau preferensi seksual merupakan penyebab kesulitan dalam membentuk atau memelihara jalinan (relationship) dengan mitra sexual. 4. Gangguan perkembangan psikoseksual lainnya 5. Gangguan perkembangan psikoseksual YTT Dapat dipakai kode lima karakter : F66.x0 Heteroseksualitas F66.x1 Homoseksualitas F66.x2 Biseksualitas F66.x3 Lainnya, termasuk prapuberitas 4. Penatalaksanaan Umum a. Disfungsi Seksual 1. Terapi seks-dual Dasar terapi seks-dual adalah konsep unit perkawinan atau pasangan sebagai objek terapi. Dalam terapi ini, didasarkan pada
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 33

Kendari, Sultra

konsep bahwa pasangan harus diterapi ketika orang yang mengalami disfungsi berada dalam situasi hubungan. Karena terlibat dalam situasi yang menimbulkan stress secara seksual, keduanya harus turut berpartisipasi dalam program terapi. Masalah seksual sering

mencerminkan area lain disharmoni dan salah pengertian dalam perkawinan sehingga seluruh hubungan perkawinan diterapi, dengan penekanan pada fungsi seksual sebagai bagian dari hubungan. Kunci program ini adalah sesi meja-bundar, yaitu tim terapi laki-laki dan perempuan mengklarisifikasi, mendiskusikan, dan menyelesaikan masalah dengan pasangan. Tujuan terapi ini adalah untuk menegakkan kembali komunikasi dalam unit perkawinan. (2) 2. Teknik dan latihan khusus Berbagai teknik latihan dilakukan untuk kasus disfungsi. Pada kasus vaginismus, seorang perempuan disarankan melebarkan lubang vagina dengan jarinya atau dengan dilator bertahap. Pada kasus ejakulasi dini, satu latihan yang dikenal dengan meremas (squeeze technique) digunakan untuk meningkatkan ambang ekstabilitas penis. Didalam latihan ini laki-laki atau perempuan merangsang penis sampai dirasakan sensasi awal akan terjadi ejakulasi. Pada saat itu perempuan meremas dengan kuat tepi koronal glans penis, ereksi berkurang, dan ejakulasi dihambat. Sedang pada kasus gangguan orgasme hidup pada perempuan, perempuan diarahkan untuk melakukan manstrubasi. (2) 3. Hipnoterapi Hipnoterapis secara khusus memfokuskan diri pada gejala yang menimbulkan ansietas yaitu disfungsi seksual tertentu. Keberhasilan penggunaan hypnosis memungkinkan pasien memperoleh kendali atas gejala yang telah menurunkan kepercayaan diri dan mengganggu homeostatis psikologis. Kerjasama pasien pertama kali didapatkan dan diperkuat melalui serangkaian sesi nonhipnotik dengan terapis. Diskusi ini memungkinkan hubungan dokter-pasien yang aman, rasa nyaman baik fisik maupun fisioligisdi sisi pasien, dan tercapainya tujuan terapi
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 34

Kendari, Sultra

sama-sama diinginkan. Sesi ini memungkinkan klinisi melakukan anamnesis riwayat psikiatrik dan melakukan pemeriksaan status mental sebelum memulai hipnoterapi. Pasien diminta menghadapi situasi yang mencetuskan ansietas yaitu menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan seksual, dengan cara alternative. (2) 4. Terapi perilaku Ahli terapi perilaku menganggap bahwa disfungsi seksual adalah perilaku maladaptive yang dipelajari, yang menyebabkan pasien menjadi takut akan interaksi seksual. Ahli terapi perilaku

memungkinkan pasien menguasai ansietas melalui program standar desensitisasi sistemik, yang dirancang untuk menghambat respon ansietas yang dipelajari dengan mendorong perilaku yang berlawanan dengan ansietas. Pelatihan ketegasan membantu mempelajari pasien mengepresikan kebutuhan seksual dengan terbuka dan tanpa rasa takut. Latihan ketegasan diberikan sebagai tambahan terhadap terapi seks; pasien didorong untuk membuat permintaan seksual dan menolak memenuhi permintaan yang dianggap tidak masuk akal. (2) 5. Terapi Kelompok Terapi kelompok telah digunakan untuk memeriksa masalah

interpersonal dan intrapsikik pada pasien dengan gangguan seksual. Kelompok terapi memberikan dukungan yang kuat kepada pasien yang merasa malu, cemas, atau bersalah akan masalah seksual tertentu. Kelompok ini merupakan forum yang berguna melawan mitos seksual, memperbaiki kesalahan konsep, dan memberikan informasi yang akurat mengenai anatomi seksual, fisiologi dan berbagai perilaku. (2) 6. Terapi seks yang berorientasi analitis Salah satu modalitas terapi yang paling efektif adalah penggunaan terapi seks digabungkan dengan psikoterapi yang berorientasi psikoanalitik dan psikodinamik. Terapi seks dilakukan untuk periode waktu yang lebih lama dari biasanya, yang memungkinkan

pembelajaran atau pembelajaran kembali kepuasan seksual di dalam


Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 35

Kendari, Sultra

realitas

kehidupan

sehari-hari.

Penambahan

konseptualisasi

psikodinamik kedalam teknik perilaku yang digunakan untuk menterapi disfungsi seksual memungkinkan terapi pasien dengan gangguan seksualitas yang disertai psikopatologi lain. (2) 7. Terapi biologi Terdiri atas : a. Farmakoterapi Obat-obat baru utama untuk terapi disfungsi seksual adalah : Sildenavil (Viagra) penguat nitrat oksida yang memperlancar aliran darah di dalam penis yang pentik untuk ereksi. Obat ini memiliki efek kira-kira 1 jam setelah konsumsi, dan efeknya dapat bertahan 4 jam. Tidak efektif tanpa adanya stimulasi seksual. Efek samping : sakit kepala, wajah bersemu merah, dan dyspepsia. Kontraindikasi pada orang yang mengkonsumsi nitrat organic, karena dapat menurunkan tekanan darah dan berujung kekematian bila dikonsumsi bersama. Phentolamine oral dan apomorphine efktif sebagai penguat potensi pada beberapa laki-laki dengan disfungsi ereksi minimal. Fungsinya mengurangi tonus simpatik dan

merealaksasikan otot polos korpus.efeknya diperantarai oleh system saraf ototnom dan menghasilkan vasodilator yang memperlancar aliran darah ke penis. Peristiwa simpang mencakup hipotensi, takikardi, pusing, mual dan berkeringat. Alprostadil injeksi dan transuretra bekerja lokal di penis dan dapat menghasilkan ereksi tanpa adanya stimulasi seksual. Mengandung prostaglandin E (agen vasodilator). Ereksi keras 23 menit setelah pemberian dan bertahan selama 1 jam. Efek samping memar lokal pada penis dan perubahan fungsi hati. Methohexital natrium intravena (brevital) telah digunakan dalam terapi desensitisasi. Efek samping antidepresan, khususnya SSRI (serotonin selektif reuptake inhibitor) dan obat trisiklik,
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 36

Kendari, Sultra

digunakan untuk memperlama respon seksual pada pasien dengan ejakulasi dini. Zat afrodizak akar gingseng dan yohimbine penggunaannya untuk disfungsi ereksi organik. Agen dopaminergik dilaporkan meningkatkan libido dan memperbaiki fungsi seksual. Obat mencakup L-dopa. b. Terapi hormone Androgen meningkatkan dorongan seks pada perempuan dan pada laki-laki dengan konsentrasi testosterone yang rendah. Perempuan dapat mengalami efek virilisasi, beberapa diantaranya irreversible. Pada laki-laki, penggunaan androgen untuk waktu lama

menimbulkan hipertensi dan pembesaran prostat. Testosterone paling efektif jika diberikan secara parenteral. Perempuan yang

menggunakan estrogen untuk terapi sulih atau kontrasepsi mungkin melaporkan adanya penurunan libido; pada kasus seperti ini, sediaan kombinasi estrogen dan testosterone telah digunakan lebih efektif. Estrogen mencegah pmencegah penipisan selaput lendir vagina dan mempermudah lubrikasi, terdapat dua betuk cincin dan tablet vagina.
(2)

c. Antiandrogen dan antiestrogen Estrogen dan progesterone adalah anti androgen yang digunakan untuk mengobati perilaku seksua seksual komplusif pada laki-laki, biasanya pada pelanggar seks. Clomiphene (Clomid) dan Tamoxifen (Nolvadex) keduanya merangsang sekresi GnRH dan meningkatkan konsentrasi testosterone, sehingga libido meningkat. (2) d. Pendekatan terapi mekanis Pada pasien laki-laki dengan arterosklerosis (terutama aorta distal, dikenal dengan sidrome Leriche), ereksi dapat menghilang selama pergerakan pelvis. Kebutuhan untuk meningkatkan suplai darah pada otot gluteus dan otot lain yang diperdarahi arteria hipogastrika atau iliaka membawa darah dari arteri pudendus
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 37

Kendari, Sultra

sehingga mengganggu aliran darah penis. Pemulihan bisa diperoleh dengan mengurangi pengurangan pergerakan pelvis yang juga dibantu dengan posisi hubungan seks dengan perempuan diatas. (2) e. Pompa vakum Pompa vakum adalah alat mekanis yang dapat digunakan pasien tanpa penyakit vaskuler untuk mendapatkan ereksi. Darah ditarik ke penis setelah pembentukan disana dengan suatu cincin yang ditempatkan disekeliling dasar penis. (2) f. Terapi pembedahan Terapi pembedahan jarang dianjurkan, tetapi alat prosthesis penis tersedia untuk laki-laki dengan respons ereksi tidak adekuat yang resisten terhadap metode terapi lain atau secara medis telah menyebabkan defisiensi. Ada dua jenis utama : protesis batang semi kaku yang menghasilkan ereksi permanen dan dapat diletakkan dekat dengan korpus agar samar; serta jenis protesis yang dikembangkan, ditanam dengan pompa dan reservoirnya untuk pengembangan dan pengempisan. Jenis ini dirancang agar menyerupai fungsi fisiologis normal. (2) b. Gangguan Identitas Jenis Kelamin 1. Terapi secara psikologis Pengobatan untuk gangguan ini terutama terdiri dari psikoterapi dan hipnosis. Terapi berupaya mengungkap dan menemukan semua kepribadian yang terdapat dalam diri penderita dengan proses hipnosis. Pada saat terhipnosis dan individu masuk dalam kondisi ambang, terapi dapat memanggil / bertemu dengan kepribadian-kepribadian lainnya. Memahami peran dan fungsi masing-masing kepribadian.Terapi akan berusaha untuk membangun hubungan yang baik dan efektif dengan setiap kepribadian dan berusaha untuk menjadi sosok yang dapat dipercaya dan memberikan perlindungan. Setelah mengetahui, memahami, dan memiliki hubungan yang baik dengan setiap kepribadian, proses selanjutnya adalah membuat kepribadian aslinya untuk bisa menerima dan membuka diri kepada
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 38

Kendari, Sultra

kepribadian lainnya. Proses ini tidak berjalan dengan mudah, karena penyatuan tersebut individu biasanya akan merasakan kembali hal-hal yang dialami kepribadian lainnya seperti pengalaman disakiti, dilecehkan dan juga percobaan bunuh diri. Kembalinya ingatan tersebut merupakan maslah baru bagi individu dan membutuhkan penangan lainnya. Namun hal ini tidak berhasil untuk beberapa kasus. Banyak kasus berakhir tanpa penyembuhan. Adapun obat obat medis seperti antidepresan dan antipsikotik juga kadang-kadang digunakan untukmengendalikan pikiran dan perasaan individu agar tetap pada kondisi normal. 2. Terapi secara medis Adapun obat obat medis seperti anti-depresan dan anti-psikotik kadang-kadang digunakan untuk mengendalikan pikiran dan perasaan individu agar tetap pada kondisi normal. a. Anti - psikotik Anti-Psikotik bermanfaat pada terapi psikosis akut maupum kronik, suatu gangguan jiwa yang berat. Ciri terpenting antipsikosis ialah : Berefek anti psikosis yaitu berguna mengatasi agresivitas. Hiperaktivitas dan labilitas emosional pada pasien psikosis. Dosis besar tidak menyebabkan koma yang dalam atau anestesia. Dapat menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang reversibel atau ireversibel. Amtipsikotik menurut efek smping ekstrapiramidal terbagi 2 yaitu : antipsikotik yang tipikal (efek ekstrapiramidal yang nyata) dan antipsikotik yang atipikal (efek ekstrapiramidal yang minimal). Tidak menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis.

Penggolongan obat dan contoh-contohnya adalah sebagai berikut : b. Antipsikosis tipikal golongna fenotiazin : Klorpromazin,

flufenazin, perfenazin, tioridazin trifluferazin c. Antipsikosis tipikal golongan lainnya : Klorprotiksen, droperidol, haloperidol, loksapin, molindon,tioktiksen

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 39

Kendari, Sultra

d.

Antipsikosis atipikal : Klozapin, olanzapin, risperindon ,quetiapin, sulpirid, ziprasidon, aripriprazol, zotepin, amilsulpirid

b. Anti depresan Anti- Depresi adalah obat untuk mengatasi atau mencegah depresi mental. Depresi didefinisikan sbagai gangguan mental dengan penurunan mood, kehilangan minat atau perasaan senang, adanya persaan bersalah atau rendah diri, gangguan tidur penurunan selera makan, sulit konsentrasi atau kelemahan fisik (WHO 2006) gangguan ini dapat menjadi kronik atau kambuh dan mengganggu aktivitas pasien. Pada keadaan terburuk dapat mencetuskan bunuh diri, suatu kejadian fatal yang dewasa ini semakin sering terjadi. Perbaikan depresi ditandai dengan perbaikan alam perasaan, bertambahnya aktivitas fisik dan kewaspadaan mental, nafsu makan dan pola pikir lebih baik dan berkurangnya keinginan untuk bunug diri. Adapun penggolongan dan jenis-jenis obatnya adalah sebagai berikut : Golongan trisiklik : Imiprapin, amitriptilin Golongan heterosiklik (generasi kedua dan ketiga) Amoksapin, maprotilin, trazodon, bupropion, venlafaksin,mirtazapin,nefazodon. Golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) Fluoksetin, paroksetin, setralin, fluvoksamin, sitalopram. Golongan Serotonin Norepinefrin Reuptake Inhibitors (SNRI). Venlafaksin. i. Gangguan Preferensi Seksual (Parafilia) 1. Kendali Eksternal Penjara adalah mekanisme kendali eksternal untuk kejahatan seksual yang biasanya tidak berisi kandungan terapi. Memberitahu teman sebaya, atau anggota keluarga dewasa lain mengenai masalah dan menasehati untuk menghilangkan kesempatan bagi perilaku untuk melakukan dorongannya. (1) 2. Terapi Seks

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 40

Kendari, Sultra

Adalah pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita disfungsi seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak menyimpang dengan pasangannya. (1) 3. Terapi Perilaku Digunakan untuk memutuskan pola parafilia yang dipelajari. Stimuli yang menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau yang menyengat, telah dipasangkan dengan impuls tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka akan bertindak atas dasar impulsnya. (1) 4. Terapi Obat Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai pengobatan skizofrenia atau gangguan depresif jika parafilia disertai dengan gangguan-gangguan tersebut. Antiandrogen, seperti ciproterone acetate di Eropa dan medroxiprogesterone acetate (Depo-Provera) di Amerika Serikat, telah digunakan secara eksperimental pada parafilia hiperseksual. Medroxiprogesterone acetate bermanfaat bagi pasien yang dorongan hiperseksualnya diluar kendali atau berbahaya (sebagai contoh masturbasi yang hampir terus-menerus, kontak seksual setiap kesempatan, seksualitas menyerang yang kompulsif). Obat serotonorgik seperti Fluoxetin (prozac) telah digunakan pada beberapa kasus parafilia dengan keberhasilan yang terbatas. (1) 5. Psikoterapi Berorintasi Tilikan Merupakan pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati parafilia. Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan perkembangan parafilia. Secara khusus, mereka menjadi menyadari peristiwa sehari-hari yang menyebabkan mereka bertindak atas impulsnya (sebagai contohnya, penolakan yang nyata atau dikhayalkan). Psikoterapi juga memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan interpersonal dan menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual. Terapi kelompok juga berguna. (1)
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 41

Kendari, Sultra

ii.

Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi Sexual Terapi pada penderita orientasi sexual masih kontroversial. Satu studi melaporkan minimum 350 jam terapi psikoanalitik, kira-kira sepertiga lakilaki biseksual dan gay memperoleh orientasi heteroseksualnya pada pengamatan lanjtan 5 tahun, tetapi studi ini masih perlu diuji. Terapi perilaku dan teknik pembelajaran penghindaran juga telah digunakan, tetapi dengan teknik ini, perilaku dapat berubah di lingkungan laboratorium bukannya di luar. Faktor prognostik yang berperan dalam orientasi heteroseksual untuk laki-laki mencakup berusia kurang dari 35 tahun, memiliki beberapa pengalaman perangsangan hetero sexual, perasaan sangat termotivasiuntuk reorientasi. (2) Bentuk intervensi lainnya bertujuan membuat pasien dengan

penderitaan menetap dan nyata dengan homoseksualitas tanpa rasa malu, rasa malu, rasa bersalah, ansietas, atau depresi. Pusat konseling gay terlibat dengan pasien didalam program ini. Saat ini, studi dari pusat tersebut belum dilaporkan dengan rinci. (2) Untuk terapi perempuan dengan penderitaan menetap dan nyata terhadap orientasi seksualnya, hanya sedikit data yang tersedia, dan data ini terutama merupakan studi satu kasus dengan hasil beragam. (2) d. Prognosis i. Disfungsi Sexual Umumnya, metode yang telah terbukti efektif secara sendiri maupun di dalam kombinasi mencakup pelatihan keterampilan perilaku seksual, desensitisasi sistematik, konseling perkawinan, terarah, pendekatan

psikodinamik tradisional, terapi kelompok, dan famakoterapi. Walaupun sebagian terapis lebih memilih menterapi pasangan dengan disfungsi seksual, terapi pada satu orang saja juga telah berhasil dilakukan. ii. Gangguan Identitas Jenis Kelamin Prognosis dapat baik juka, perlunya pemberian pemahaman yang positif tentang siapa sebenarnya dirinya. Tidak berlaku mengucilkan ataupun
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 42

Kendari, Sultra

melakukan tindakan diskriminatif lainnya terhadap orang- orang yang menghadapi permasalahan ini. Perlunya penerapan didikan yang benar terhadap gender seseorang dimasa kanak-kanak. Penerimaan dengan ikhlas oleh orang tua tentang apapun jenis kelamin anaknya, karena semuanya telah di rencanakan oleh Tuhan yang maha esa. Penatalaksanaan yang bersifat wajar dan tidak menghilangkan hak- hak yang diperolehnya sejak lahir. (7) iii. Gangguan Preferensi Sexual Prognosisnya buruk untuk parafilia adalah berhubungan dengan onset usia yang awal, tingginya frekuensi tindakan, tidak adanya perasaan bersalah atau malu terhadap tindakan tersebut, dan penyalahgunaan zat. Perjalanan penyakit dan prognosisnya baik jika pasien memiliki riwayat koitus disamping parafilia, jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya dikirim oleh badan hukum. iv. Gangguan Psikologis dan Perilaku yang
(1)

Berhubungan

dengan

Perkembangan dan Orientasi Sexual Prognosis baik bila pada permulaan terapi sudah menyatakan keinginan untuk mengubah perilakunya, makin kuat keinginan, makin buruk.

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 43

Kendari, Sultra

Daftar Pustaka 1. Ronawulan, E. Bahan ajar mata kuliah kedokteran Jiwa gangguan psikoseksual. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. 2006. Hal. 200-11 2. Sadock BJ, Sadock VA. Seksualitas Manusia. Muttaqin H, Sihombing RNE, Editor. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. 02th ed. Jakarta : EGC; 2010. Hal. 298-22 3. Maramis FM, Maramis AA. Sexualitas Normal dan Abnormal Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press. 2009. Hal. 343-65 4. Watson JP, Davies T. Masalah Psikoseksual. In: Davies, T. Craig, TKJ. Editor. ABC Kesehatan Mental. Edisi 2. Jakarta : EGC. 2009. Hal. 106-16 5. Anonim. Gangguan Identitas Gender, Parafilia, dan Gangguan Seksual. Scrib [ serial on the internet] 2013 [cited 2013 juni 10] hal.1-25 Available from : http://id.scribd.com/doc/106593948/MAKALAH-GANGGUANSEKSUAL 6. Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa, rujukan Ringkas PPDGJ-III. Edisi 1. Jakarta : PT. Nuh Jaya. 2001. Hal. 96-97; 111-15. 7. Anonim. Gangguan Identitas dan Jenis Kelamin.Scrib [serial on the internet] 2013. [cited 2013 juni 10] Hal. 1-14 . Available from : http://id.scribd.com/search?query=Gangguan+Identitas+Jenis+Kelamin 8. Anonim. Fetishism. Scrib. [serial on the internet] 2013. [cited 2013 juni10] hal 1-10. Available from http://mentaldisorder.com. 9. Marwin T, Fiona, Boyke S, Emelia W. Referat Gangguan Preferensi Seksual. FK-Universitas Tarumanegara. RS. Khusus Jiwa Dharma Graha. BSD. Tangerang [ serial on the internet] 2012. [cited 2013 Juni 10] Hal. 125 Available from : http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195607221 985031-SUNARYO/Gangguan_seksualitas.pdf 10. Levey , R. Sexual and Gender Identity Disorders. Scrib [serial on internet] 2013 [ cited 2013 juni 10]. Hal. 234-38. Available from : http://www.emedicine.com
Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho Page 44

Kendari, Sultra

11. Anonim. Parafilia. Scrib [serial on internet] 2013 [ cited 2013 juni 10]. Hal. 56-90. Available from: http://www.medicastore.com 12. Anonim. Pedofilia. Scrib [serial on internet] 2013 [ cited 2013 juni 10]. Hal. 1-5 . Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia#cite_note-L iddell.2C_H.G._1959-4. 13. Bannon GE, Carroll K.S. Paraphilias 2008 . Scrib [serial on internet] 2013 [ cited 2013 juni 10]. Hal. 1-5 Available from: http://emedicine.medscape.com/article/291419-clinical.

Kepaniteraan Klinik Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unhalu, RSJ. dr. Soeparto Harjohusodho

Page 45

Kendari, Sultra