Anda di halaman 1dari 3

M

emang saat ini kita hidup di era Globalisasi. Segala sesuatunya serba terbuka dan bebas. Apalagi sejak tahun 1998 di Indonesia berhembus angin reformasi dan menyebabkan umumnya bangsa Indonesia beranggapan reformasi berarti perubahan sehingga semuanya harus berubah. Sehingga sangatlah lumrah bila semuanya meneriakkan perubahan tanpa mau tahu perubahan tersebut justru menyebabkan semakin merosotnya moral etika, sesuatu yang dahulunya justru sangat diagung-agungkan oleh bangsa Indonesia yang agamis. Maka tidaklah mengherankan bila saat ini kita hidup di era kemerosotan moral, sehingga menyebabkan sebagian besar dari 220 juta penduduk Indonesia, dari rakyat jelata, pengusaha hingga ke birokrat bahkan juga melanda para anggota legislatif yang kita pilih dan kita percayakan mewakili aspirasi kita selama 5 tahun. Memang sudah saatnya bagi umat Buddha di Indonesia khususnya di kota Medan agar dapat segera menumbuh-kembangkan kembali nilai-nilai moral etika bagi umat Buddha sehingga dapat menjadi suri tauladan bagi saudara-saudara kita sebangsa setanah air yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita. Dengan momentum hari Asadha 2547 BE ini, marilah kita jadikan sebagai titik tolak agar nilai-nilai moral etika yang telah mengalami kemerosotan tersebut dapat kembali tumbuh dan berkembang di dalam hati setiap insan di bumi persada nusantara ini. Salah satu hal yang sangat diperlukan untuk menumbuhkan kembali moral etika adalah dengan cara menumbuhkan semangat keyakinan Sraddha sehingga dapat mengeliminir berbagai aspek yang menyebabkan kemerosotan moral etika yang telah terkontaminasi oleh globalisasi dan reformasi yang kebablasan. Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu marilah kita telusuri apakah keyakinan atau sraddha itu. Sraddha (S) atau Saddha (P) dalam bahasa Inggris disebut Faith keyakinan, kepercayaan, yang memiliki makna yang dalam, bukan sekedar kepercayaan yang membuta. Bagaimanakah menumbuh-kembangkan Sraddha/keyakinan ?

MENUMBUHKAN SEMANGAT KEYAKINAN DI ERA KEMEROSOTAN MORAL

41

Dalam Buddha Dharma, sraddha dapat ditumbuhkembangkan dalam 3 proses. Proses pertama yakni dengan Ehipassiko mengundang datang dan membuktikan atau datang dan lihatlah. Proses kedua, dengan pemahaman nasehat Sang Buddha dalam Kalama Sutta (Anguttara Nikaya I, 191) yang berbunyi : Karena itu, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksudkan dengan mengatakan: Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang katanya sudah diramalkan dalam buku-buku suci, juga apa yang katanya sesuai logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormati seorang pertapa yang menjadi gurumu. Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, hal ini berguna, hal ini tidak tercela, hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan, maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal yang tersebut di atas. Proses ketiga dengan pemahaman nasehat Sang Buddha dalam Dhammapada (Pakinnaka Vagga 303) yang berbunyi : Orang yang memiliki keyakinan dan menjalankan sila yang sempurna akan memperoleh kemasyhuran dan kekayaan, ke manapun ia pergi niscaya akan memperoleh penghormatan. Sedangkan menurut Napoleon Hill dalam bukunya Think & Grow Rich, menyatakan bahwa keyakinan dapat ditumbuhkembangkan dengan prinsip sugesti pribadi. Anda dapat meyakinkan pikiran bawah sadar anda bahwa anda yakin akan mendapatkan apa yang anda inginkan dan sugesti pribadi tersebut akan bertindak atas keyakinan tersebut, yang dikirimkan kembali oleh pikiran bawah sadar kepada anda dalam bentuk keyakinan. Masih menurut Napoleon Hill, dalam Think & Grow Rich : Keyakinan adalah ahli kimia dalam pikiran kita. Kalau keyakinan diperpadukan dengan pemikiran, pikiran bawah sadar kita seketika menangkap getaran tersebut, menjabarkannya menjadi padanan spiritual, dan mengirimkannya kepada Intelegensi Tanpa Batas, seperti kalau orang berdoa. Dengan tumbuh dan berkembangnya sraddha, kemerosotan moral yang sedang melanda kita dapat kita bendung bahkan kita eliminir dari dalam kehidupan kita. Dengan sraddha terhadap Buddha Dharma yang bersumber pada Tripitaka, kita

MENUMBUHKAN SEMANGAT KEYAKINAN DI ERA KEMEROSOTAN MORAL

42

dapat memiliki sraddha terhadap : Sang Ratna Traya Buddha, Bodhisatva, Vajrasatva,Arahat & Deva Hukum Kesunyataan Tripitaka Nirvana/Nibbana. Apabila sraddha/keyakinan telah kita ditumbuhkembangkan, maka bukan saja kemerosotan moral dapat kita singkirkan, akan tetapi kita juga akan memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan. Dalam salah satu nasehat kepada keluarga Dighajanu, Sang Buddha dengan gamblang membabarkan bagaimanakah cara-cara agar seseorang dapat memperoleh kebahagiaan baik dalam kehidupan saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Nasehat tersebut terangkum dalam Vyaggapajja Sutta (Angutara Nikaya IV : 286) yang berbunyi : Bersemangat dan cermat dalam tugasnya, dengan bijaksana mengatur kekayaannya, hidup sesuai dengan penghasilan, memelihara apa yang telah diperolehnya. Juga diberkati dengan keyakinan dan kesusilaan, murah hati dan bebas dari kekikiran, selalu mengembangkan magga Delapan kondisi yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang telah disabdakan Sebagai penutup, marilah kita renungkan kutipan yang mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua. Think & Grow Rich (Napoleon Hill, halaman 58) Keyakinan adalah titik awal semua pengumpulan kekayaan! Keyakinan adalah dasar semua mukjizat dan semua misteri yang tidak bisa dianalisis dengan aturan ilmu pengetahuan! Keyakinan merupakan satu-satunya penawar kegagalan yang diketahui orang! Keyakinan adalah unsur yang mengubah getaran pemikiran biasa, yang tercipta oleh pikiran manusia yang terbatas, menjadi padanan spiritual! Keyakinan adalah satu-satunya media yang memungkinkan daya kosmis Intelegensia Tanpa Batas bisa dikendalikan dan bisa dimanfaatkan oleh manusia!

Artikel ini merupakan materi Diskusi Dharma di Vihara Borobudur dalam rangka peringatan Asasha 2547 BE tahun 2003.

MENUMBUHKAN SEMANGAT KEYAKINAN DI ERA KEMEROSOTAN MORAL

43