Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Pada saat sekarang ini sangatlah erat kaitan antara Napza dengan generasi muda dewasa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus kecanduan dan pengedaran Napza yang di dalamnya melibatkan generasi muda, khususnya remaja sekolah dan luar sekolah (putus sekolah). usia remaja memang merupakan "sasaran empuk" dan periode yang paling rawan terhadap penyalahgunaan Napza, karena masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, saat dimana remaja mulai muncul rasa penasaran, ingin tahu, serta ingin mencoba berbagai hal yang baru dan bahkan beresiko tinggi. Oleh karenanya, sangat mungkin jika semakin hari akan semakin bertambah jumlah pengedar dan pengguna Napza di kalangan anak-anak dan remaja. Pada dasarnya Napza merupakan jenis obat atau zat yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan seperti terapi, contohnya adalah morfin, opium, sabu-sabu (amfetamina), PCP (halusinogen) dan lain-lain. Menurut pendapat Yatim (dalam Buletin Psikologi, 1998) yang termasuk Napza adalah semua jenis obat yang menimbulkan penyalahgunaan, antara lain adalah Narkotika sekelompok obat yang bersifat menenangkan syaraf dan mengurangi rasa sakit, Depresants; jenis obat yang digunakan untuk menenangkan seseorang atau dipakai untuk obat tidur, Stimulan, meningkatkan kemampuan fisik seseorang, namun juga dapat menimbulkan kerusakan fisik, Kanabis; sejenis tanaman perdu yang mengandung delta-gtetra kanobinol (THC), dan yang terakhir

Hallusinogen; pada pengguna dapat menimbulkan perasaan tidak rill, yang dapat meningkatkan halusinasi menjadi persepsi yang salah. Pada awalnya,

penyalahgunaan Napza terjadi pada remaja melalui teman sebaya yang menawarkan Napza dengan disertai janji atau juga melalui tekanan atau paksaan. Biasanya, terlebih dahulu akan ditawari dengan rokok atau minuman keras, kemudian setelah terbiasa maka dengan mudah akan beralih pada kebiasaan menggunakan jenis Napza lain, baik ganja, heroin, atau zat yang lainnya. Kasus penyalahgunaan Napza, khususnya pada remaja sering berawal dari pengaruh pola pergaulan dan gaya berteman, di samping berasal dari keinginan pribadi dan problem yang terjadi di masyarakat. Pada saat ini, sudah banyak generasi muda yang terpengaruh dengan budaya asing dengan berperilaku negatif, misalnya merokok, minum-minuman keras, menggunakan ekstasi, pergaulan bebas dan lain sebagainnya. Hal ini akan berpengaruh negatif terutama bagi remaja yang jiwa dan emosinya masih dalam tahap perkembangan yang labil.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PENYALAHGUNAAN NAPZA 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Hetherington dan Whiting (1999) menyatakan bahwa pola asuh sebagai proses interaksi total antara orang tua dengan anak, seperti: proses pemeliharaan, pemberian makan, membersihkan, melindungi dan proses sosialisasi anak dengan lingkungan sekitar. Orang tua akan menerapkan pola asuh yang terbaik bagi anaknya dan orang tua akan menjadi contoh bagi anaknya. Menurut Gunarsa (2000) pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis tetapi juga norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan. Menurut Wahyuning (2003) pola asuh adalah seluruh cara perlakuan orang tua yang ditetapkan pada anak, yang merupakan bagian penting dan mendasar menyiapkan anak untuk menjadi masyarakat yang baik. Pengasuhan anak menunjuk pada pendidikan umum yang ditetapkan pengasuhan terhadap anak berupa suatu proses interaksi orang tua (sebagai pengasuh) dan anak (sebagai yang diasuh) yang mencakup perawatan, mendorong keberhasilan dan melindungi maupun sosialisasi yaitu mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.

Menurut Gunarsa (2000) pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi bukan hanya pemenuhan fisik dan psikologis tetapi juga norma-norma yang berlaku dimasyarakat agar dapat hidup selaras dengan lingkungan. Ada tiga jenis pola asuh yaitu pertama; pola asuh otoriter dimana orang tua membatasi dan menghukum, menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua. Kedua; pola asuh otoritatif yaitu pola asuh yang mendorong anak-anak agar mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka. Sedangkan yang terakhir adalah pola asuh permisif; dimana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Pengasuhan menurut Porwadarminta (dalam Amal, 2005) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud disini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat (dalam Amal, 2005) mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minumnya, pakaiannya dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian di atas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002), pengertian pola asuh adalah merupakan suatu bentuk (struktur), system dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Sedangkan pola asuh menurut Soetjiningsih (2004) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.

2.1.2 Dimensi dan Jenis Pola Asuh Orang Tua Baumrind (1994) mengemukakan 4 dimensi pola asuh yaitu: a. Kendali Orang Tua (Control): tingkah menunjukan pada upaya orang tua dalam menerapkan kedisiplinan pada anak sesuai dengan patokan laku yang sudah dibuat sebelumnya b. Kejelasan Komunikasi Orang Tua-anak (Clarity Of Parent Child Communication): menunjuk kesadaran orang tua untuk mendengarkan atau menampung pendapat, keinginan atau keluhan anak, dan juga kesadaran orang tua dalam memberikan hukuman kepada anak bila diperlukan c. Tuntutan Kedewasaan (Maturity Demands): menunjuk pada dukungan prestasi, sosial, dan emosi dari orang tua terhadap anak d. Kasih Sayang (Nurturance): menunjuk pada kehangatan dan keterlibatan orang tua dalam memperlihatkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak

Jenis dari pola asuh orang tua adalah sebagai berikut: a. Pola asuh otoriter Menurut Gunarsa (2002) pola asuh yang mengendalikan suatu perilaku secara otoriter menggunakan kekuasaan. Pola asuh yang otoriter berhubungan dengan remaja, kegelisahan mengenai perbandingan

masyarakat, kegagalan untuk mengambil inisiatif dalam suatu tindakan, dan tidak efektifnya interaksi di dalam masyarakat.

Pola asuh ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi dan orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkan. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak dengan hukuman yang biasanya bersifat fisik. Tapi bila anak patuh maka orang tua tidak memberikan hadiah karena sudah dianggap sewajarnya bila anak menuruti kehendak orang tua. Perilaku orang tua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alas an dibalik aturan tersebut, serta cenderung mengekang keinginan anak. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak, yaitu anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif (kurang berinisiatif), selalu tegang, cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan masalah, kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup, akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Dengan pola asuh seperti ini, anak diharuskan untuk berdisiplin karena semua keputusan dan peraturan ada di tangan orang tua. b. Pola asuh otoritatif (demokratis) Menurut Santrock (1999) pola asuh yang mendorong remaja menjadi bebas namun tetap menempatkan batasan dan pengendalian dalam tindakan remaja, memberi dan menerima secara lisan dilakukan dengan luas dan orang tua ramah serta pengasuhan diarahkan pada remaja.

Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya serta belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini akan mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang dengan baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif. Menurut Shochib (dalam Yuniyati, 2003), orang tua menerapkan pola asuh demokratis dengan banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Pola asuh authoritative dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif, sosial, dan pengembangan kognitif. c. Pola asuh permisif Menurut Hurlock (1991) pola asuh orangtua yang tidak membimbing anak ke pola perilaku yang menyetujui segala tingkah laku anak termasuk keinginan-keinginan yang sifatnya segera dan tidak menggunakan hukuman.

Anak tidak diberikan batasan-batasan atau kendali yang mengatur, apa saja boleh dilakukan, mereka diijinkan untuk mengambil keputusan sendiri dan berbuat sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan dari orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Dengan pola asuh seperti ini, anak mendapatkan kebebasan sebanyak mungkin dari orang tua. Pola asuh permisif memuat hubungan antara anak-anak dan orang tua penuh dengan kasih sayang, tapi menjadikan anak agresif dan suka menurutkan kata hatinya. Secara lebih luas, kelemahan orang tua dan tidak konsistennya disiplin yang diterapkan membuat anak-anak tidak terkendali, tidak patuh, dan tingkah laku agresif di luar lingkungan keluarga.

2.1.3 Faktor - faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Menurut Hurlock (1993) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh, yaitu:

a. Pendidikan orang tua Orang tua yang mendapat pendidikan yang baik, cenderung menetapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif dibandingkan dengan orang tua yang pendidikannya terbatas. Pendidikan membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak. b. Kelas Sosial Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif dibanding dengan orang tua dari kelas sosial bawah. c. Konsep tentang peran orang tua Tiap orang tua memiliki konsep yang berbeda-beda tentang bagaimana seharusnya orang tua berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola asuh yang ketat dibanding orang tua dengan konsep nontradisional. d. Kepribadian orang tua Pemilihan pola asuh dipengaruhi oleh kepribadian orang tua. Orang tua yang berkepribadian tertutup dan konservatif cenderung akan memperlakukan anak dengan ketat dan otoriter. e. Kepribadian Anak Tidak hanya kepribadian orang tua saja yang mempengaruhi pemilihan pola asuh, tetapi juga kepribadian anak. Anak yang ekstrovert akan bersifat lebih

terbuka terhadap rangsangan-rangsangan yang datang pada dirinya dibandingkan dengan anak yang introvert. f. Usia anak Tingkah laku dan sikap orang tua dipengaruhi oleh anak. Orang tua yang memberikan dukungan dan dapat menerima sikap tergantung anak usia pra sekolah dari pada anak.

2.1.4 Pengertian Napza dan Penyalahgunaan Napza Menurut Hawari (1991) Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat adiktif lainya. Napza mencakup segala macam zat yang disalah gunakan untuk Gitting, mabuk, fly atau high, yang dapat mengubah tingkat kesadaran seseorang. Termasuk dalam Napza adalah obat perangsang, penenang, penghilang rasa sakit, pencipta ilusi atau psikotropika, dan zat-zat yang tidak termasuk obat namun dapat disalahgunakan (misalnya alkohol atau zat yang bisa dihirup seperti bensin, lem, tinner, dan lain lainya sehingga high. Menurut Budiarta (2000) Napza merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan penyalahgunaan. Menurut Willis (2005), maksud dari penyalahgunaan adalah suatu pemakaian non medical atau ilegal barang haram yang dinamakan Napza (narkotika dan obat-obat adiktif) yang dapat merusak kesehatan dan kehidupan
10

produktif manusia pemakainya. Manusia pemakai Napza bisa dari berbagai kalangan, mulai dari level ekonomi tinggi hingga rendah, para penjahat, pekerja, ibu-ibu rumah tangga, bahkan sekarang sudah sampai ke sekolah-sekolah yang jelas-jelas terdiri dari para generasi muda, bahkan lebih khusus lagi anak-anak dan remaja. 2.1.5 Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza Menurut Hawkins dkk (Buletin Psikologi, 1998) beberapa faktor utama yang dipandang berpengaruh terhadap penyalahgunaan Napza adalah: faktor internal dari individu (ciri kepribadian), faktor keluarga, dan faktor teman sebaya. a. Faktor internal (ciri kepribadian) Pola kepribadian seseorang besar pengaruhnya dalam

penyalahgunaan Napza. Ciri kepribadian yang lemah dan antisosial sering merupakan penyebab seseorang menjadi penyalahguna Napza.

b. Faktor keluarga Beberapa kondisi keluarga yang berpengaruh terhadap

penyalahgunaan Napza adalah: 1) Hubungan antara anggota keluarga tidak harmonis. 2) Keluarga yang tidak utuh. 3) Suasana rumah diwarnai dengan pertengkaran yang terus-menerus. 4) Kurang komunikasi dan kasih sayang antara anggota keluarga. 5) Keluarga yang sering ribut dan berselisih.

11

6) Keluarga yang kurang mengamalkan hidup beragama. 7) Keluarga yang orang tuanya telah menggunakan Napza. Menurut Sayuti (2006) keluarga sebagai lingkungan yang paling menentukan bagi terbentuknya perilaku remaja. Jika di dalam keluarga terdapat hubungan yang tidak harmonis, tingkat pendidikan yang rendah, rasa dan praktek keagamaan lemah, maka secara langsung atau tidak langsung maka akan memberikan pengaruh bagi kehidupan dan perilaku anaknya, terutama yang masih dalam usia remaja, karena di saat anak memasuki usia remaja, perkembangan emosinya masih labil, berperilaku ragu, sering uring-uringan, dan kecenderungan meniru gaya dan perilaku keluarga. Oleh karenanya, jika lingkungan keluarga tidak dapat memberikan contoh yang baik, maka lambat laun anak atau remaja akan mencari kepuasan di luar atau remaja akan mencari kepuasan di luar dan bisa menjerumuskannya ke dalam penyalahgunaan Napza. c. Faktor lingkungan teman sebaya Pengaruh buruk dari lingkungan pergaulan, khususnya pengaruh dan tekanan dari kelompok teman sebaya sering menjadi sumber penyebab terjadinya penyalahgunaan Napza. Kelompok teman sebaya tersebut berperan sebagai media awal perkenalan Napza Menurut Hawkins dkk (dalam Buletin Psikologi 1998). Penyalahgunaan Napza pada kelompok teman sebaya merupakan prediktor yang kuat terhadap penyalahgunaan Napza pada remaja.

12

2.1.6 Pola Asuh pada Penyalahgunaan Napza Menurut penelitian, pola asuh yang banyak diterapkan orang tua pada remaja yang melakukan penyalahgunaan Napza adalah pola asuh yang bersifat permisif, hal ini dilihat dari: a) Kendali orang tua (control): kurangnya upaya kedua orang tua subjek dalam menerapkan kedisiplinan pada anak sesuai dengan patokan tingkah laku yang sudah dibuat sebelumnya. Seperti orang tua subjek bertipe orang yang tidak pernah menerapkan disiplin yang tegas didalam rumah, karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, dalam pergaulan, orang tua subjek sangat memberikan kebebasan sepenuhnya kepada subjek, dan orang tua subjek tidak pernah memberikan hukuman yang terlalu berat apabila subjek melakukan kesalahan, karena mereka hanya memberikan nasehat dan jangan pernah diulang kembali kesalahan yang sama. b) Kejelasan komunikasi orang tua dan anak (Clarity of parent child Communication): kurangnya kesadaran orang tua untuk mendengarkan atau menampung pendapat, keinginan atau keluhan anak, dan juga kesadaran orang tua dalam memberikan hukuman kepada anak bila diperlukan. Seperti hubungan subjek dengan kedua orang tuanya kurang baik, karena kedua orang tuanya memiliki kesibukannya masing-masing, yang menyebabkan komunikasi subjek dengan kedua orang tuanya hanya melalui telepon. dan subjek terkadang sering sekali tidak sependapat
13

dengan kedua orang tuanya, yang sering mementingkan pekerjaan mereka. Yang menyebabkan subjek lebih memilih keluar dari rumah dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. c) Tuntutan kedewasaan: kurang memberi dukungan pada prestasi, social, dan emosi dari orang tua terhadap anak. Seperti kedua orang tua subjek memberikan kebebasan dalam pergaulan sehari-hari, terutama ibunya sangat membebaskan dan tidak memberi batasan dalam pergaulanya dalam memilih teman. Kedua orang tua subjek berharap subjek bias lulus dengan nilai yang memuaskan dan ketika kedua orang tua subjek memergoki subjek sedang menggunakan napza yang mengakibatkan kedua orang tua subjek marah besar kepada subjek. d) Kasih sayang (Nuturence): kurang memberikan kehangatan dan

keterlibatan orang tua

dalam memperlihatkan kesejahteraan dan

kebahagiaan anak. Seperti kasih sayang, perhatian dan rasa nyaman itu semua tidak subjek dapatkan dari kedua orang tuanya. Selama ini subjek hanya mendapakan kasih sayang, perhatian dan rasa nyaman hanya dari neneknya. Hal itu dirasakan oleh subjek dari sejak subjek kecil hingga sekarang dewasa, Sedangankan Kedua orang tua subjek hanya bisa memberikan materi yang dibutuhkan oleh subjek saja.

14

BAB III KESIMPULAN

Pola asuh adalah seluruh cara perlakuan orang tua yang ditetapkan pada anak, yang merupakan bagian penting dan mendasar menyiapkan anak untuk menjadi masyarakat yang baik. Pengasuhan anak menunjuk pada pendidikan umum yang ditetapkan pengasuhan terhadap anak berupa suatu proses interaksi orang tua (sebagai pengasuh) dan anak (sebagai yang diasuh) yang mencakup perawatan, mendorong keberhasilan dan melindungi maupun sosialisasi yaitu mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat. Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat adiktif lainya. Napza mencakup segala macam zat yang disalah gunakan untuk Gitting, mabuk, fly atau high, yang dapat mengubah tingkat kesadaran seseorang. Termasuk dalam Napza adalah obat perangsang, penenang, penghilang rasa sakit, pencipta ilusi atau psikotropika, dan zat-zat yang tidak termasuk obat namun dapat disalahgunakan (misalnya alkohol atau zat yang bisa dihirup seperti bensin, lem, tinner, dan lain lainya sehingga high Menurut penelitian, pola asuh yang banyak diterapkan orang tua pada remaja pengguna Napza adalah pola asuh yang bersifat permisif

15

DAFTAR PUSTAKA Gunarsa, S. D. 2000. Psikologi Praktis : Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulya. Hawari, M. 1999. Penyalahgunaan Narkotika dan Zat aditif. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Heterington, M. E & Porke, R. D. 1999, Child Psychology A Contemporary New Point 4 th. New York : Mc Graw Hill . Inc Koch, C. 1986 Psikodiagnostika: Tes Pohon. Bandung : Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Adina, 1998. Hubungan Antara Pola Suh Orang Tua Dengan Tahap Perkembangan,Penalaran Moral Remaja Usia 17-19 th, Skripsi (tidak diterbitkan). Depok; Fakultas Psikologi UI. Budiarta, T. 2000. Dampak Narkoba dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal Psikologi (tidak diterbitkan). Depok : Universitas Indonesia Buletin Psikologi. 1998. Bagaimana Menghindari Diri dari Penyalahgunaan Napza (tidak diterbitkan). Depok : Universitas Indonesia Machover, K. 1987. Suatu Metode Pemerksaan Kepribadian. Bndung : Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Rozak, A & Sayitu, W. 2006. Remaja dan Bahaya Narkoba. Jakarta : Prenada Media Samtrock, J. W. 1999. Life Span Development (7 th ed). New York : MC. Graw Hill Sarwono, S. W. 1988. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers. Sofyan, S. & Willis, M. Pd. 2006. Remaja dan Masalahnya Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja dengan Narkoba, Freeseks dan Pemecahannya. Bandung : Alfa Beta

16