Anda di halaman 1dari 68

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Semakin tingginya tuntutan masyarakat akan fasilitas dan pelayanan keperawatan yang berkualitas dan professional mengakibatkan berbagai upaya telah ditempuh untuk memenuhi harapan tersebut. Pelayanan keperawatan pada dasarnya ditunjukan untuk memberikan kepuasan pada pasien. Salah satu aspek penting dalam pelayanan keperawatan adalah menjaga dan mempertahankan integritas kulit klien. Salah satu aspek utama dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien adalah mempertahankan integritas kulit. Hal ini dapat tercapai dengan memberikan perawatan kulit yang terencana dan konsisten. Perawatan kulit yang tidak terencana dan konsisten dapat mengakibatkan terjadinya gangguan integritas kulit. Kerusakan integritas kulit dapat berasal dari luka karena trauma dan pembedahan, namun juga dapat disebabkan karena iritasi kulit, atau immobilisasi kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus disebut luka tekan atau dekubitus (Patriani, 2008). Dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan di antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama (National Pressure Ulcer Advisory Panel, 1989). Margolis (2005) juga mengatakan bahwa luka dekubitus merupakan kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit normal akibat dari tekanan eksternal yang berlebihan. Luka dekubitus berkembang dari permukaan luar kulit ke

lapisan dalam. Namun menurut hasil penelitian saat ini, luka dekubitus juga dapat berkembang dari jaringan bagian dalam seperti fascia dan otot walaupun tanpa adanya kerusakan pada permukaan kulit yang dikenal dengan istilah injuri jaringan bagian dalam (Deep Tissue Injury) (Van Rijswijk, 2009). Luka dekubitus biasanya terjadi pada penderita dengan penyakit kronik yang berada di atas kursi atau di atas tempat tidur, seringkali pada inkontinensia dan malnutrisi ataupun individu yang mengalami kesulitan makan sendiri, serta mengalami gangguan tingkat kesadaran (Potter & Perry, 2006). Pasien yang mengalami penurunan mobilitas, gangguan fungsi neurologi, penurunan persepsi sensorik, ataupun penurunan sirkulasi beresiko terjadi dekubitus (Margolis, 2005). Pasien dengan immobilisasi yang berlangsung lama berpotensi besar untuk mengalami dekubitus (Roah, 2000). Menurut Potter and Perry (2006), ada beberapa faktor resiko penyebab dekubitus yaitu gangguan input sensorik, gangguan fungsi motorik, perubahan tingkat kesadaran, gips, traksi, alat ortotik, dan peralatan lain. Selain itu menurut Potter & Perry (2006) ada 10 faktor yang mempengaruhi pembentukan luka dekubitus diantaranya gaya gesek, friksi, kelembaban, nutrisi buruk, anemia, infeksi, demam, gangguan sirkulasi perifer, obesitas, kaheksia, dan usia. Menurut Sabandar (2008), frekuensi dekubitus diberbagai negara masih cukup tinggi. Di Amerika serikat, dalam beberapa penelitian menunjukan bahwa 3-10% pasien yang dirawat di rumah sakit menderita dekubitus dan 2,7% berpeluang terbentuk dekubitus baru. Angka tersebut menunjukan peningkatan hingga 7,7-26,9%. Penelitian lain memperlihatkan bahwa sekitar 28% pasien di rumah sakit berpeluang menderita ulkus dekubitus. Menurut suatu penelitian di

Indonesia yang dilakukan oleh Suriadi (2007) angka kejadian luka dekubitus mencapai 33,3%. Penelitian Purwaningsih (2000), pada pasien bedrest menyatakan bahwa dari 78 orang pasien bedrest yang dirawat di RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar sebesar 15,8% mengalami luka dekubitus. Setiyawan (2008), juga melakukan penelitian hampir sama pada pasien bedrest dirumah sakit Cakra Husada Klaten, dimana kejadian luka dekubitus sebanyak 17,65%. Menurut Sabandar (2008), evaluasi secara luas telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa sepertiga dari jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit yang mengalami dekubitus selama perawatan, dilaporkan meninggal dunia, dan lebih dari setengahnya akan meninggal dalam 12 bulan ke depan. Dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasien dengan penyakit kronis, pasien yang sangat lemah, dan pasien lumpuh dalam waktu lama, bahkan saat ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit (Morison, 2003). Sabandar (2008) mengatakan tanda-tanda luka dekubitus terjadi akibat posisi pasien yang tidak berubah (imobilisasi) dalam jangka waktu lebih dari 6 jam selama masa perawatan berlangsung. Dekubitus mengakibatkan nyeri yang berkepanjangan, gatal-gatal disekitar luka, rasa yang tidak nyaman, kulit terluka dapat menyebabkan infeksi. Infeksi memperlambat penyembuhan ulkus yang dangkal dan berakibat fatal terhadap ulkus yang dalam, serta masalah yang serius terhadap morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada penderita lanjut usia (Sari, 2007). Ulkus dekubitus dapat menjadi progresif dan sulit untuk disembuhkan. Komplikasi luka tekan sangat sering dan mengancam kehidupan. Masalah

dekubitus menjadi problem yang cukup serius. Oleh karena itu perlu pengetahuan cukup tentang dekubitus agar diagnosis dapat ditegakkan secara dini sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan dengan segera. Data yang didapat dari studi pendahuluan bulan November 2011 diruang Flamboyan RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. Jumlah pasien bedrest pada bulan November 2011 didapatkan sebanyak 30 pasien yang dirawat, dan yang mengalami dekubitus sebanyak 3 pasien (10%). Hasil wawancara pada perawat diruang Flamboyan sejumlah 11 orang mengatakan tahu prosedur alih baring, akan tetapi 9 perawat hanya menyarankan/memberitahu keluarga tanpa memberi contoh, 2 perawat patuh melakukan tindakan alih baring tiap 2 jam sekali

sesuai dengan panduan pelaksanaan alih baring yang sudah ada diruangan, dimana didapatkan prosedur tetap tentang panduan pelaksanaan perubahan posisi tiap 2 jam. Sehingga mengakibatkan terjadinya luka dekubitus. Jika prosedur tindakan alih baring tersebut dilakukan secara optimal, seharusnya kejadian dekubitus tidak dialami oleh pasien. Berdasarkan data dan uraian tersebut diatas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum: Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. 2. Tujuan khusus : a. Mengidentifikasi hubungan faktor pendidikan perawat terhadap tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. b. Mengidentifikasi hubungan faktor pengetahuan perawat terhadap tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. c. Mengidentifikasi hubungan faktor motivasi perawat terhadap tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. d. Mengidentifikasi hubungan faktor kejelasan prosedur perawat terhadap tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. e. Mengidentifikasi faktor yang paling dominan terhadap tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis Menambah khasanah ilmu keperawatan terutama tentang faktor yag mempengaruhi kejadian dekubitus. 2. Secara Praktis a. Intansi Pelayanan Kesehataan Sebagai sumbangan informasi bagi intansi pelayanan kesehataan khususnya tentang faktor yag mempengaruhi dekubitus, sehingga dapat membuat rancangan ke depan tentang pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pelayanan kepada pasien dekubitus. b. Bagi peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam menyusun karya tulis ilmiah. Hasil penelitian ini juga bermanfaat sebagai bahan masukan, bahan referensi atau sumber data untuk penelitian sejenis selanjutnya.

E. Keaslian Penelitian 1. Penelitian Suheri (2009) tentang gambaran lama hari rawat dalam terjadinya luka dekubitus pada pasien immobilisasi di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan analisis univariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa lama hari rawat dalam terjadinya luka dekubitus pada pasien immobilisasi 88,8% muncul luka dekubitus dengan rata-rata lama hari rawat pada hari ke lima perawatan dan pada hari pertama

responden mendapat perawatan di rumah sakit luka dekubitus tidak muncul sama sekali. Persamaan dengan penelitian ini, pada variabel: kejadian dekubitus pada pasien bedrest total. Sedangkan perbedaannya, pada penelitian ini dikaitkan dengan kepatuhan perawat terhadap pelaksanaan prosedur alih baring pada pasien bedrest total yang dipengaruhi oleh variabel motivasi, kemampuan, pengetahuan, pendidikan dan kejelasan prosedur. Penelitian ini akan menggunakan desain korelatif dengan pendekatan cross sectional.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepatuhan 1. Definisi kepatuhan Patuh adalah sikap positif individu yang ditunjukkan dengan adanya perubahan secara berarti sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Ketidakpatuhan merupakan suatu kondisi pada individu atau kelompok yang sebenarnya mau melakukannya, tetapi dapat dicegah untuk melakukannya oleh faktor-faktor yang menghalangi ketaatan terhadap anjuran. Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat terhadap suatu anjuran, prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau ditaati. Tingkat kepatuhan adalah besar kecilnya penyimpangan pelaksanaan pelayanan dibandingkan dengan standar pelayanan yang ditetapkan anjuran (Nurbaiti, 2004). Kepatuhan adalah suatu prilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur dan disiplin. Nurbaiti (2004) mengemukakan kepatuhan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti usia, pendidikan, pengetahuan dan masa kerja. Sementara Notoatmodjo (2005),

mengemukakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah pendidikan, usia, dan motivasi. Kurang patuhnya perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan akan berakibat rendahnya mutu asuhan itu sendiri. Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan metodologi proses keperawatan yang terdiri dari lima tahap, berpedoman kepada standar keperawatan, dilandasi etik dan etika

keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab perawat (Hidayat, 2001). Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2003), istilah kepatuhan berarti tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan. Kepatuhan adalah melakukan sesuatu dengan standar yang berlaku. Kepatuhan merupakan terjemahan dari adherence, yaitu kepatuhan dan kesinambungan berobat yang melibatkan peran pasien, dokter atau petugas kesehatan, pendamping dan ketersediaan obat. Kepatuhan adalah istilah yang menggambarkan penggunaan obat antiretroviral sesuai dengan petunjuk pada resep (Smeltzer & Bare, 2002). 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan a. Faktor kemampuan Pelatihan merupakan bagian suatu proses pendidikan yang bertujuan meningkatkan kemampuan atau ketrampilan khusus. Latihan adalah penyempurnaan potensi tenaga-tenaga yang ada dengan

mengulang-ulang aktifitas tertentu. Baik latihan maupun pembiasaan terutama terjadi dalam taraf biologis, tetapi apabila selanjutnya berkembang dalam tahap psikis, maka kedua gejala itu akan menjadikan proses kesadaran sebagaimana proses otomatisme, proses tersebut menghasilkan tindakan yang tanpa disadari cepat dan tepat (Notoatmojo, 2007). Kemampuan dapat dikategorikan menjadi : 1) Kecakapan tehnis Kecakapan tehnis adalah kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan atau pengalaman

10

2)

Kecakapan manusia Kecakapan manusia adalah kemampuan untuk bekerja dengan mengerti, memotivasi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.

3)

Kecepatan konseptual, Kecepatan konseptual adalah kemampuan secara mental untuk menganalisa dan mendiagnosa situasi secara komplek (Digilib, 2005) Kemampuan perawat dalam melaksanakan prosedur alih baring

merupakan kapasitas seorang perawat di dalam mengerjakan prosedur alih baring terhadap pasien bedrest . Dengan kemampuan yang dimiliki, diharapkan perawat tidak akan menyimpang jauh dari kegiatan alih baring yang sudah ditentukan oleh ruangan yaitu tiap 2 jam, sehingga rumah sakit mengharapkan perawat supaya meminimalkan kejadian dekubitus. b. Motivasi Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu moreve yang berarti dorongan dari dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Pengertian perilaku tidak terlepas dari kata kebutuhan. Kebutuhan adalah suatu potensi dalam diri manusia yang perlu ditanggapi atau direspon.tanggapan terhadap kebutuhan tersebut diwujudkan dalam bentuk tindakan untuk pemenuhan tersebut dan hasilnya adalah orang yang bersangkutan merasa atau menjadi puas. apabila kebutuhan tersebut belum terpenuhi maka akan selalu berpotensi untuk muncul kembali sampai dengan terpenuhinya kebutuhan yang dimaksud (Notoatmojo, 2007).

11

Motivasi adalah rangsangan, dorongan dan ataupun pembangkit tenaga yang dimiliki seseorang atau sekelompok masyarakat yang mau berbuat dan bekerjasama secara optimal melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Azwar, 1996). Motivasi adalah logika yang mendasari proses belajar menurut Ronco (1994) dalam Fidelis et al (2006) empat pengaruh motivasi atas perilaku seseorang yaitu: 1) Motivasi dapat memicu individu untuk memenuhi perilaku tertentu. 2) Motivasi dapat mendorong perilaku tertentu untuk terus dilakukan, motivasi dapat mengarahkan perilaku individu guna mencapai tujuan tertentu. 3) Motivasi dapat mengarahkan perilaku individu untuk mencapai tujuan tertentu. 4) Motivasi dapat membuat individu sensitif untuk melakukan perilaku tertentu.sebaliknya,seseorang yang tidak mempunyai motivasi untuk belajar, sekalipun menghabiskan banyak waktu (disekolah maupun di universitas), yang bersangkutan tidak akan memperoleh apa-apa dalam proses belajar. Dari uraian motivasi diatas masih banyak batasan pengertian motivasi, antara lain : 1) Pengertian motivasi yang dirumuskan oleh Terry (1986) dalam Notoatmojo (2007)

12

Motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seorang individu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan

(perilaku). 2) Stoner (1992) dalam Notoatmojo (2007) Motivasi adalah suatu hal yang menyebabkan dan mendukung tindakan atau perilaku seseorang. 3) Knootz (1972) dalam Notoatmojo (2007), merumuskan bahwa motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan. 4) Berbeda dengan Hasibuan (1995) dalam Notoatmojo (2007), Motivasi adalah suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang, dan setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai. Hendriyanto (2007) mengemukakan beberapa aspek yang

berpengaruh terhadap motivasi kerja berdasarkan beberapa hasil penelitian oleh pakar managemen manusia: rasa aman dalam bekerja, gaji yang adil dan kompetetif, lingkungan kerja yang menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja, perlakuan yang fair dari manajemen, keterlibatan dalam pembuatan keputusan, pekerjaan yang menarik dan menantang, kelompok dan rekan-rekan kerja yang menyenangkan, kejelasan akan standar keberhasilan atau out put yang diharapkan, rasa bangga terhadap pekerjaan dan organisasi. Dari berbagai batasan dan dalam kontek yang berbeda seperti tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi pada dasarnya

13

merupakan interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Di dalam diri seseorang terdapat kebutuhan atau keinginan terdapat obyek diluar orang tersebut, kemudian bagaimana orang tersebut menghubungkan dengan situasi diluar obyek tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dimaksud. Oleh sebab itu, motivasi adalah suatu alas an seseorang untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya (Notoatmojo, 2007). c. Pengetahuan Notoatmodjo (2007), menyatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperolah baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain.manusia mempunyai kemampuan untuk berfikir atau dalam bahasa psikologi dikenal dengan istilah kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (Sudrajat, 2007). Pengetahuan yang tercakup didalam dominan kognitif

mempunyai 6 tingkatan yaitu : 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu memori yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam tingkat ini adalah mengingat kembali

14

sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebabkan, menguraikan dan sebagainya. 2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,

menyimpan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. 3) Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi riil. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau pengetahuan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam kontek atau situasi yang lain. 4) Analisis (analysis) Analisa adalah sebuah kemampuan untuk menjabarkan materi atau subyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan dan sebagainya. 5) Sintesis (sytesis) Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatubentuk keseluruhan yang

15

baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun informasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkas, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. 6) Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau obyek. Penelitian ini berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada. Pengetahuan merupakan proses kognitif dari seseorang atau individu, sehingga masing-masing individu akan memberikan arti sendiri-sendiri terhadap stimulasi yang diterimanya meskipun stimulasi tiu sama. Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah pengalaman dan informasi. Faktor pengalaman menjelaskan bahwa sesuatu yang pernah dialami seseorang yang mempunyai sumber informasi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Nurhidayati, 2005). Notoatmojo (2005) pengetahuan dapat diperoleh melalui

pendidikan, pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, media masa maupun lingkungan. Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dorongan pikir dalam menumbuhkan kepercayaan diri maupun

16

dorongan sikap dan perilaku, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimuli terhadap tindakan seseorang. Pengetahuan merupakan pengalaman seseorang yang diproses dan dengan nilai yang berbeda-beda dari setiap individu maka pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang berisi pertanyaan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden yang disesuaikan dengan tingkat pengetahuan yang diukur. Pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum yaitu pertanyaan subyektif dari peneliti dan pertanyaan obyektif yang digunakan untuk penilaian tanpa melibatkan faktor subyektif dari penilai. Pertanyaan obyektif khususnya pertanyaan pilihan ganda lebih disukai dalam pengukuran pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dengan penilaiannya akan lebih cepat (Arikunto, 2002). Jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan

pengalaman seseorang atau hasil dari pengindraan manusia yang diproses menjadi hasil yang berbeda-beda dari setiap individu itu sendiri. d. Pendidikan Pendidikan tidak lepas dari proses belajar. Kadang-kadang bahan pengajaran disamakan dengan pendidikan. Kedua pengertian tersebut memang identik, karena proses belajar berada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.dengan kata lain pendidikan dilihat secara makro sedangkan pengajaran (proses belajar) dilihat secara mikro. Didalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok,yakni masukan (input),

17

proses dan pengeluaran (output). Persoalan masukan menyangkut subyek atau sasaran belajar itu sendiri dengan berbagai latar belakangnya. Persoalan proses adalah mekanisme atau proses terjadinya perubahan kemampuan pada diri subyek belajar. Didalam proses ini terjadi pengaruh timbal balik antara berbagai faktor antara lain subyek belajar, pengajar atau fasilitator belajar, metode yang digunakan, alat bantu belajar dan materi atau bahan yang dipelajari itu sendiri,sedangkan keluaran adalah hasil belajar itu sendiri, yang terdiri dari kemampuan baru pada diri subyek belajar (Notoatmodjo, 2005). Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan dalam proses pembelajaran yang bertujuan aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pada intinya pendidikan merupakan proses sebuah pembelajaran dengan tujuan akhir siap terjun langsung dalam kehidupan bermayarakat (Wikipedia, 2010). Pendidikan juga bisa diartikan suatu usaha untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup, Depdiknas (2003) membagi pendidikan menjadi: 1) Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terjadi atas pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.

18

Pendidikan formal dibagi menjadi : a) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD)/ Madrasah Ibtidaiyah ) atau sederajat, dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ Madrasah Tsanawiyah) atau yang sederajat. b) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan

dasar.Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), atau yang sederajat. c) Pendidikan tinggi merupakan jenjang setelah menengah, yang mencakaup pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis dan Dokter yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi (PT). 2) Pendidikan non formal yaitu jalur pendidikan diluar formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 3) Pendidikan informal yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan merupakan proses pengoperasian secara urut mengenai pengetahuan, ide-ide, dari satu pihak ke pihak lain yang menyebabkan seseorang memiliki cakrawala yang luas, maka akan terjadi perubahan-perubahan pada diri seseorang baik perilaku dalam berfikir, sikap mental, maupun nilai-nilai, maka yang demikian diharapkan semakin tinggi pengabdian masyarakat untuk mengubah tingkah laku. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses belajar manusia yang dimulai dari input proses dan keluaran yang mempunyai

19

hasil bebeda-beda satu sama lain. Proses pendidikan dapat ditempuh melalui formal, nonformal, dan informal yang diakui oleh pemerintah. e. Kejelasan prosedur Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Tujuan SOP adalah menciptakan komitmen mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi pemerintah untuk mewujudkan good goverment (Atmoko, 2008). f. Masa kerja Dedikbud (2001) mendefinisikan masa kerja sebagai jangka waktu orang sesudah bekerja (pada suatu kantor, rumah sakit, dan lain sebagainya). Dalam hal ini adalah perawat yang sudah bekerja di rumah sakit itu sendiri. Masa kerja adalah kurun waktu atau lamanya tenaga kerja itu bekerja disuatu tempat. Masa kerja dapat mempengaruhi tenaga kerja baik itu positif atau negatif. Akan memberikan pengaruh positif pada tenaga kerja jika dengan lamanya bekerja maka dia akan semakin berpengalaman dalam melakukan tugasnya. Sebaliknya akan member pengaruh negatif jika semakin lamanya seseorang bekerja maka akan menimbulkan kebosanan (Mila, 2006).

20

Masa kerja yang terdiri dari tiga tingkat, yaitu : 1) 2) 3) Masa kerja baru < 1 th Masa kerja 1-5 tahun Masa kerja lama > 5 tahun (saputro, 2008). Semakin lama masa kerja perawat semakin berpengalaman perawat itu sendiri dalam melaksanakan tugas-tugas keperawatanya. Hubungan positif antara senioritas dan produktifitas pekerjaan, masa kerja yang diekspresikan sebagai pengalaman kerja, tampaknya menjadi dasar perkiraan yang baik terhadap produktifitas perawat (Robbins, 2007) Dari definisi masa kerja yang telah dijelaskan diatas penulis menyimpulkan bahwa masa kerja adalah lama kerja seseorang perawat, semakin lama perawat bekerja semakin banyak pengalaman dalam melaksanakan tugas-tugas keperawatannya yang diperoleh dari suatu rumah sakit. g. Usia Usia atau umur adalah perubahan yang dialami oleh suatu organisme dari waktu ke waktu. Usia juga dapat diartikan suatu organism dari waktu ke waktu. Usia juga dapat diartikan suatu hitungan dari manusia itu terlahir samapai manusia itu meninggal atau berulang tahun. Usia mengacu pada suatu perubahan multidimensi proses fisik, psikologis, dan social. Beberapa dimensi usia tumbuh dan memperluas dari waktu ke waktu, sedang yang lain menurun. Usia merupakan suatu bagian penting dari semua masyarakat manusia yang mencerminkan perubahan biologis itu terjadi, usia juga diartikan satuan waktu yang

21

mengukur keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati (Wikipedia, 2010). Usia dewasa merupakan usia yang sudah memiliki tanggungjawab serta sudah menyadari makna hidup, dengan kata lain orang dewasa sudah memahami nilai-nilai yang dipilihnya. Orang dewasa sudah memiliki identitas yang yang jelas dan kepribadian yang mantap. Menurut WHO dalam Notoatmojo (2003) pembagian-pembagian umur atau usia

menurut tingkat kedewasaan sebagai berikut : 1) 2) 3) 0-14 tahun 15-49 tahun : Bayi dan anak-anak : Orang muda dan dewasa

50 tahun keatas : Orang tua

Jenis perhitungan usia dibedakan menjadi 3 yaitu : 1) Usia kronologis Usia kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang samapai dengan waktu perhitungan usia. 2) Usia mental Usia mental adalah perhitungan usia yang didapat dari taraf kemampuan mental seseorang 3) Usia biologis Usia biologis adalah perhitungan usia berdasrkan kematangan biologis yang dimiliki seseorang (Wikipedia, 2010). Dari definisi usia diatas dapat disimpulkan bahwa usia merupakan hitungan waktu yang dimulai dari manusia itu sendiri terlahir sampai saat manusia itu meninggal, ataupun manusia tersebut menghitung pada saat

22

tertentu dan tumbuh sesuai dengan umur yang telah ada pada saat itu, jika manusia tersebut tidak mengalami gangguan mental ataupun yang lain. 3. Klasifikasi kepatuhan Kepatuhan menurut Smeltzer dan Bare (2002) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: a. Kepatuhan penuh (Total Complience), yaitu kepatuhan dalam semua aspek. Misalnya dalam pelaksanaan prosedur alih baring, perawat mematuhi dan melaksanakan semua tindakan yang berkaitan dengan prosedur alih baring. b. Kepatuhan tidak penuh (Non Complience), yaitu kepatuhan sebagian dari aspek yang diharapkan. Misalnya dalam pelaksanaan prosedur alih baring, perawat mematuhi dan melaksanakan sebagian tindakan yang berkaitan dengan prosedur alih baring. B. Alih Baring 1. Pengertian Alih baring merupakan upaya pergantian posisi yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu melakukan alih posisi secara mandiri (Smeltzer & Bare, 2002). Alih baring dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penekanan pada daerah tulang yang menonjol yang bertujuan untuk mengurangi penekanan akibat tertahannya pasien pada satu posisi tidur tertentu yang dapat menyebabkan lesi/lecet (Smeltzer & Bare, 2002). 2. Cara melakukan alih baring Peran perawat dalam melakukan perawatan terhadap pasien stroke sangat menentukan keberhasilan dan pencegahan terhadap terjadinya lesi dan

23

dekubitus pada pasien (Ahmad, 2000). Pelaksanaan alih baring pada pasien dengan bedrest dilakukan secara kontinyu oleh perawat, disamping itu

perawat juga memberikan pengetahuan tentang perawatan pasien setelah dirumah bagi keluarga pasien. Pada pelaksanaan alih baring, perawat membutuhkan beberapa bantal sebagai penyangga dan alat bantu dalam mempertahankan posisi pasien. Cara melakukan alih baring adalah setiap 2 jam pasien di rubah posisinya untuk menghindari penekanan pada satu tempat pada tubuh pasien (Chan, 2002). 3. Prosedur alih baring di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo Prosedur yang ditetapkan di RSUD KRT Setjonegoro (2007) bagi perawat dalam menangani pasien stroke dan pencegahan dekubitus adalah: Table 2.1. Contoh program alih baring di Ruang Flamboyan RSUD Setjonegoro Wonosobo JAM 05.00-07.00 WIB 07.00-09.00 WIB 09.00-11.00 WIB 11.00-13.00 WIB 13.00-15.00 WIB 15.00-17.00 WIB 17.00-19.00 WIB 19.00-21.00 WIB 21.00-23.00 WIB 23.00-05.00 WIB POSISI Miring kiri Terlentang Miring kanan Terlentang Miring kiri Terlentang Miring kanan Terlentang Miring kiri Istirahat

4. Status alih baring Fokus tindakan alih baring adalah mengurangi atau memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah, alih posisi/alih baring/tidur

24

selang seling, paling lama tiap dua jam. Imobilisasi penderita stroke/bedrest (pasien kesadaran menurun, post op) mengakibatkan penderita tidak dapat

melakukan alih posisi tidur secara mandiri. Akibatnya terjadi penekanan pada daerah yang menonjol yang menempel dengan tempat tidur, penekanan mengakibatkan terganggunya sirkulasi darah pada daerah tersebut kemudian akan terjadi kemerahan dan selanjutnya lecet. Jika tidak segera diatasi akan mengakibatkan terjadinya ulkus (Smeltzer & Bare, 2002). Alih baring merupakan upaya yang dilakukan oleh perawat untuk mencegah terjadinya ulkus pada penderita yang mengalami imobilisasi. Alih baring yang dilakukan tiap dua jam akan memberikan perpindahan tekanan pada tubuh yang menempel dengan tempat tidur sehingga sirkulasi darah dapat kembali lancar pada daerah yang tertekan karena posisi penekanannya diganti oleh daerah lainnya (Sustrani, Alam & Hadibroto, 2006).

C. Luka Dekubitus 1. Pengertian Dekubitus berasal dari bahasa latin decumbree yang berarti merebahkan diri yang didefenisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari enam jam (Sabandar, 2008). National Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP), (1989) dalam Potter & Perry, (2006) mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan.

25

Jaringan memperoleh oksigen dan nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi jaringan. Iskemia jaringan adalah tidak adanya darah secara lokal atau penurunan aliran darah akibat obstruksi mekanika (Pires & Muller, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Penurunan aliran darah menyebabkan daerah tubuh menjadi pucat. Pucat terlihat ketika adanya warna kemerahan pada pasien berkulit terang. Pucat tidak terjadi pada pasien yang berkulit pigmen gelap. Kerusakan jaringan terjadi ketika tekanan mengenai kapiler yang cukup besar dan menutup kapiler tersebut. Tekanan pada kapiler merupakan tekanan yang dibutukan untuk menutup kapiler misalnya jika tekanan melebihi tekanan kapiler normal yang berada pada rentang 16 sampai 32 mmHg (Maklebust, 1987 dalam Potter & Perry, 2006). Setelah periode iskemi, kulit yang terang mengalami satu atau dua perubahan hiperemi. Hiperemia reaktif normal (kemerahan) merupakan efek vasodilatasi lokal yang terlihat, respon tubuh normal terhadap kekurangan aliran darah pada jaringan dibawahnya, area pucat setelah dilakukan tekanan dengan ujung jari dan hiperemia reaktif akan menghilang dalam waktu kurang dari satu jam. Kelainan hiperemia reaktif adalah vasodilatasi dan indurasi yang berlebihan sebagai respon dari tekanan. Kulit terlihat berwarna merah muda terang hingga merah. Indurasi adalah area edema lokal dibawah kulit. Kelainan hiperemia reaktif dapat hilang dalam waktu antara lebih dari 1

26

jam hingga 2 minggu setelah tekanan di hilangkan (Pirres & Muller, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Ketika pasien berbaring atau duduk maka berat badan berpindah pada penonjolan tulang. Semakin lama tekanan diberikan, semakin besar resiko kerusakan kulit. Tekanan menyebabkan penurunan suplai darah pada jaringan sehingga terjadi iskemi. Apabila tekanan dilepaskan akan terdapat hiperemia reaktif, atau peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ke daerah tersebut. Hiperemia reaktif merupakan suatu respons kompensasi dan hanya efektif jika tekan dikulit di hilangkan sebelum terjadi nekrosis atau kerusakan (Potter & Perry, 2006). 2. Faktor resiko dekubitus Menurut Potter & Perry (2006), ada berbagai faktor yang menjadi predisposisi terjadi luka dekubitus pada pasien yaitu: a. Gangguan input sensorik Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan tekanan beresiko tinggi menggalami gangguan integritas kulit dari pada pasien yang sensasinya normal. Pasien yang mempunyai persesi sensorik yang utuh terhadap nyeri dan tekanan dapat mengetahui jika salah satu bagian tubuhnya merasakan tekanan atau nyeri yang terlalu besar. Sehingga ketika pasien sadar dan berorientasi, mereka dapat mengubah atau meminta bantuan untuk mengubah posisi.

b. Gangguan fungsi motorik

27

Pasien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri beresiko tinggi terhadap dekubitus. Pasien tersebut dapat merasakan tekanan tetapi, tidak mampu mengubah posisi secara mandiri untuk menghilangkan tekanan tersebut. Hal ini meningkatkan peluang terjadinya dekubitus. Pada pasien yang mengalami cedera medulla spinalis terdapat gangguan motorik dan sensorik. Angka kejadian dekubitus pada pasien yang mengalami cedera medulla spinalis diperkirakan sebesar 85%, dan komplikasi luka ataupun berkaitan dengan luka merupakan penyebab kematian pada 8% populasi ini (Ruller & Cooney, 1981 dalam Potter & Perry, 2006). c. Perubahan tingkat kesadaran Pasien bingung, disorientasi, atau mengalami perubahan tingkat kesadaran tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari luka dekubitus. Pasien bingung atau disorientasi mungkin dapat merasakan tekanan, tetapi tidak mampu memahami bagaimana menghilangkan tekanan itu. Pasien koma tidak dapat merasakan tekanan dan tidak mampu mengubah ke posisi yang labih baik. Selain itu pada pasien yang mengalami perubahan tingkat kesadaran lebih mudah menjadi bingung. Beberapa contoh adalah pada pasien yang berada di ruang operasi dan untuk perawatan intensif dengan pemberian sedasi. d. Gips, traksi, alat ortotik dan peralatan lain Gips dan traksi mengurangi mobilisasi pasien dan ekstermitasnya. Pasien yang menggunakan gips beresiko tinggi terjadi dekubitus karena adanya gaya friksi eksternal mekanik dari permukaan gips yang bergesek

28

pada kulit. Gaya mekanik kedua adalah tekanan yang dikeluarkan gips pada kulit jika gips terlalu ketat dikeringkan atau ekstremitasnya bengkak. Peralatan ortotik seperti penyangga leher digunakan pada pengobatan pasien yang mengalami fraktur spinal servikal bagian atas. Luka dekubitus marupakan potensi komplikasi dari alat penyangga leher ini. Sebuah studi yang dilakukan Plaiser dkk, (1994) mengukur jumlah tekanan pada tulang tengkorak dan wajah yang diberikan oleh emapt jenis penyangga leher yang berbeda dengan subjek berada posisi terlentang dan upright (bagian atas lebih tinggi). Hasilnya menunjukkan bahwa pada beberapa penyangga leher, terdapat tekanan yang menutup kapiler. Perawat perlu waspada terhadap resiko kerusakan kulit pada klien yang menggunakan penyangga leher ini. Perawat harus mengkaji kulit yang berada di bawah penyangga leher, alat penopang (braces), atau alat ortotik lain untuk mengobservasi tanda-tanda kerusakan kulit (Potter & Perry, 2006). 3. Faktor yang mempengaruhi pembentukan luka dekubitus Gangguan integritas kulit yang terjadi pada dekubitus merupakan akibat tekanan. Tetapi, ada faktor-faktor tambahan yang dapat meningkatkan resiko terjadi luka dekubitus yang terjadi luka dekubitus yang lebih lanjut pada pasien. Menurut Potter & Perry (2005) ada 10 faktor yang mempengaruhi pembentukan luka dekubitus diantaranya gaya gesek, friksi, kelembaban, nutrisi buruk, anemia, infeksi, demam, gangguan sirkulasi perifer, obesitas, kakesia, dan usia. Faktor-faktor tersebut adalah :

29

a. Gaya gesek Gaya gesek merupakan tekanan yang dberikan pada kulit dengan arah pararel terhadap permukaan tubuh (AHPCR, 1994 dalam Potter & Perry 2005). Gaya ini terjadi saat pasien bergerak atau memperbaiki posisi tubuhnya diatas saat tempat tidur dengan cara didorong atau di geser kebawah saat berada pada posisi fowler yang tinggi. Jika terdapat gaya gesek maka kulit dan lapisan subkutan menempel pada permukaan tempat tidur, dan lapisan otot serta tulang bergeser sesuai dengan arah gerakan tubuh. Tulang pasien bergeser kearah kulit dan memberi gaya pada kulit (Maklebust & Sieggren, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Kapiler jaringan yang berada di bawahnya tertekan dan terbeban oleh tekanan tersebut. Akibatnya, tak lama setelah itu akan terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi, perdarahan dan nekrosis pada lapisan jaringan. Selain itu, terdapat penurunan aliran darah kapiler akibat tekanan eksternal pada kulit. Lemak subkutan lebih rentan terhadap gesek dan hasil tekanan dari struktur tulang yang berada di bawahnya, akhirnya pada kulit akan terbuka sebuah saluran sebagai drainase dari area nekrotik. Seperti kita ketahui bahwa cedera ini melibatkan lapisan jaringan bagian dalam. Dengan mempertahankan tinggi bagian kepala tempat tidur dibawah 30 derajat dapat menghindarkan cedera yang diakibatkan gaya gesek (AHPCR, 1994 dalam Potter & Perry, 2006). Brayan dkk, 1992 dalam Potter & Perry, 2006 mengatakan juga bahwa gaya gesek tidak mungkin tanpa disertai friksi.

30

b. Friksi Friksi merupakan gaya mekanika yang diberikan pada kulit saat digeser pada permukaan kasar seperti alat tenun tempat tidur (AHPCR, 1994 dalam Potter & Perry, 2006). Tidak seperti cedera akibat gaya gesek, cedera akibat friksi mempengaruhi epedermis atau lapisan kulit bagian atas, yang terkelupas ketika pasien mengubah posisinya. Seringkali terlihat cedera abrasi pada siku atau tumit (Wysocki & Bryant, 1992 dalam Potter & Perry, 2006). Karena cara terjadi luka seperti ini, maka perawat sering menyebut luka bakar seprei (sheet burns), Bryant et el, (1992) dalam Potter & Perry, (2006). Cedera ini terjadi pada pasien gelisah, pasien yang gerakannya tidak terkontrol, seperti kondisi kejang, dan pasien yang kulitnya diseret dari pada diangkat dari permukaan tempat tidur selama perubahan posisi (Maklebust & Siegreen, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Tindakan keperawatan bertujuan mencegah cedera friksi antara lain sebagai berikut: memindahkan klien secara tepat dengan mengunakan teknik mengangkat siku dan tumit yang benar, meletakkan benda-benda dibawah siku dan tumit seperti pelindung dari kulit domba, penutup kulit, dan membran transparan dan balutan hidrokoloid untuk melindungi kulit, dan menggunakan pelembab untuk mempertahankan hidrasi epidermis (Potter & Perry, 2006) .

c. Kelembaban

31

Adanya kelembaban pada kulit dan durasinya meningkatkan terjadinya kerusakan integritas kulit. Akibat kelembaban terjadi peningkatan resiko pembentukan dekubitus sebanyak lima kali lipat (Reuler & Cooney, 1981 dalam Potter & Perry, 2006). Kelembaban menurunkan resistensi kulit terhadap faktor fisik lain seperti tekanan atau gaya gesek (Potter & Perry, 2006). Pasien imobilisasi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan higienisnya sendiri, tergantung untuk menjaga kulit pasien tetap kering dan utuh. Untuk itu perawat harus memasukkan higienis dalam rencana perawatan. Kelembaban kulit dapat berasal dari drainase luka, keringat, kondensasi dari sistem yang mengalirkan oksigen yang dilembabkan, muntah, dan inkontensia. Beberapa cairan tubuh seperti urine, feses, dan inkontensia menyebabkan erosi kulit dan meningkatkan resiko terjadi luka akibat tekanan pada pasien (Potter & Perry, 2006). d. Nutrisi buruk Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan jaringan subkutan yang serius. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu efek tekanan meningkat pada jaringan tersebut. Malnutrisi merupakan penyebab kedua hanya pada tekanan yang berlebihan dalam etiologi, patogenesis, dekubitus yang tidak sembuh (Hanan & Scheele, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Pasien yang mengalami malnutrisi mengalami defisiensi protein dan keseimbangan nitrogen negatif dan tidak adekuat asupan vitamin C (Shekleton & Litwack, 1991 dalam Potter

32

& Perry, 2006). Status nutrisi buruk dapat diabaikan jika pasien mempunyai berat badan sama dengan atau lebih dari berat badan ideal. Pasien dengan status nutrisi buruk biasa mengalami hipoalbuminunea (level albumin serum dibawah 3g/100 ml) dan anemia (Nalto, 1983 ; Steinberg 1990 dalam Potter & Perry, 2006). Albumin adalah ukuran variabel yang biasa digunakan

untukmengevaluasi status protein pasien. Pasien yang albumin serumnya dibawah 3g/100 ml beresiko tinggi. Selain itu, level albumin rendah dihubungkan dengan lambatnya penyembuhan luka (Kaminski et el, 1989); Hanan & Scheele, 1991). Walaupun kadar albumin serum kurang tepat memperlihatkan perubahan protein viseral, tapi albumin merupakan prediktor malnutrisi yang terbaik untuk semua kelompok manusia (Hanan & Scheele, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Level total protein juga mempunyai korelasi dengan luka dekubitus, level total protein dibawah 5,4 g/100 ml menurunkan tekanan osmotik koloid, yang akan menyebabkan edema interstisial dan penurunan oksigen ke jaringan (Hanan & Scheele 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Edema akan menurunkan toleransi kulit dan jaringan yang berada di bawahnya terhadap tekanan, friksi, dan gaya gesek. Selain itu, penurunan level oksigen meningkatkan kecepatan iskemi yang

menyebabkan cedera jaringan (Potter & Perry, 2006). Nutrisi buruk juga mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada pasien yang mengalami kehilangan protein berat, hipoalbuminimea menyebabkan perpindahan volume cairan ekstrasel

33

kedalam jaringan sehingga terjadi edema. Edema dapat meningkatkan resiko terjadi dekubitus di jaringan. Suplai darah pada suplai jaringan edema menurun dan produk sisa tetap tinggal karena terdapatnya perubahan tekanan pada sirkulasi dan dasar kapiler (Shkleton & litwalk, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). e. Anemia Pasien anemia beresiko terjadi dekubitus. Penurunan level hemoglobin mengurangi kapasitas darah membawa nutrisi dan oksigen serta mengurangi jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Anemia juga mengganggu metabolisme sel dan mengganggu penyembuhan luka (Potter & Perry, 2006). f. Kaheksia Kaheksia merupakan penyakit kesehatan dan malnutrisi umum, ditandai kelemahan dan kurus. Kakeksia biasa berhubungan dengan penyakit berat seperti kanker dan penyakit kardiopulmonal tahap akhir. Kondisi ini meningkatkan resiko luka dekubitus pada pasien. Pada dasarnya pasien kakesia mengalami kehilangan jaringan adipose yang berguna untuk melindungi tonjolan tulang dari tekanan (Potter & Perry, 2006). g. Obesitas Obesitas dapat mengurangi dekubitus. Jaringan adipose pada jumlah kecil berguna sebagai bantalan tonjolan tulang sehingga melindungi kulit dari tekanan. Pada obesitas sedang ke berat, jaringan adipose memperoleh vaskularisasi yang buruk, sehingga jaringan adipose

34

dan jaringan lain yang berada dibawahnya semakin rentan mengalami kerusakan akibat iskemi (Potter & Perry, 2006). h. Demam Infeksi disebabkan adanya patogen dalam tubuh. Pasien infeksi biasa mengalami demam. Infeksi dan demam menigkatkan kebutuhan metabolik tubuh, membuat jaringan yang telah hipoksia (penurunan oksigen) semakin rentan mengalami iskemi akibat (Skheleton & Litwalk, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Selain itu demam menyebabkan diaporesis (keringatan) dan meningkatkan kelembaban kulit, yang selanjutnya yang menjadi predisposisi kerusakan kulit pasien (Potter & Perry, 2006). i. Gangguan sirkulasi perifer Penurunan sirkulasi menyebabkan jaringan hipoksia dan lebih rentan mengalami kerusakan iskemia. Gangguan sirkulasi pada pasien yang menderita penyakit vaskuler, pasien syok atau yang mendapatkan pengobatan sejenis vasopresor (Potter & Perry, 2006). j. Usia Studi yang dilakukan oleh Kane et el (1989) mencatat adanya luka dekubitus yang terbasar pada penduduk berusia lebih dari 75 tahun. Lansia mempunyai potensi besar untuk mengalami dekubitus oleh karena berkaitan dengan perubahan kulit akibat bertambahnya usia,

kecenderungan lansia yang lebih sering berbaring pada satu posisi oleh karena itu imobilisasi akan memperlancar resiko terjadinya dekubitus

35

pada lansia. Imobilisasi yang berlangsung lama hampir pasti dapat menyebabkan dekubitus (Roah, 2000). 4. Patogenesis Luka dekubitus Tiga elemen yang menjadi dasar terjadinya dekubitus yaitu: a. Intensitas tekanan dan tekanan yang menutup kapiler. b. Durasi dan besarnya tekanan c. Toleransi jaringan Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antar waktu dengan tekanan (Stortts, 1988 dalam Potter & Perry, 2006). Semakin besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula insidensinya terbentuknya luka (Potter & Perry, 2006). Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tapi pada tekanan eksternal terbesar dari pada tekanan dasar kapiler akan menurunkan atau menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. Jaringan ini menjadi hipoksia sehinggan terjadi cedera iskemi. Jika tekanan ini lebih besar dari 32 mmHg dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia, maka pembuluh darah kolaps dan trombosis (Maklebust, 1987 dalam Potter & Perry, 2006). Jika tekanan dihilangkan sebelum titik kritis maka sirkulasi pada jaringan akan pulih kembali melalui mekanisme fisiologis hiperemia reaktif, karena kulit mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mentoleransi iskemi dari otot, maka dekubitus dimulai di tulang dengan iskemi otot yang berhubungan dengan tekanan yang akhirnya melebar ke epidermis (Maklebust, 1995 dalam Potter & Perry, 2006).

36

Pembentukan luka dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya gesek yang terjadi saat menaikkan posisi klien di atas tempat tidur. Area sakral dan tumit merupakan area yang paling rentan (Maklebust, 1987 dalam Potter & Perry, 2006). Efek tekanan juga dapat di tingkatkan oleh distribusi berat badan yang tidak merata. Seseorang mendapatkan tekanan konstan pada tubuh dari permukaan tempatnya berada karena adanya gravitasi (Berecek, 1975 dalam Potter & Perry, 2006). Jika tekanan tidak terdistribusi secara merata pada tubuh maka gradien tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan akan meningkat dan metabolisme sel kulit di titik tekanan mengalami gangguan. 5. Klasifikasi luka dekubitus Salah satu cara yang paling untuk mengklasifikasikan dekubitus adalah dengan menggunakan sistem nilai atau tahapan. Sistem ini pertama kali dikemukakan oleh Shea (1975 dalam Potter & Perry, 2006) sebagai salah satu cara untuk memperoleh metode jelas dan konsisten untuk

menggambarkan dan mengklasifikasikan luka dekubitus. Sistem tahapan luka dekubitus berdasarkan gambaran kedalaman jaringan yang rusak (Maklebust, 1995 dalam Potter & Perry, 2006). Luka yang tertutup dengan jaringan nekrotik seperti eschar tidak dapat dimasukkan dalam tahapan hingga jaringan tersebut dibuang dan kedalaman luka dapat di observasi. Peralatan ortopedi dan braces dapat mempersulit pengkajian dilakukan (AHPCR, 1994 dalam Potter & Perry, 2006). Tahapan dibawah ini berasal dari NPUAP (1992), dan tahapan ini juga digunakan dalam pedoman pengobatan AHPCR (1994). Pada konferensi

37

konsensus NPUAP (1995) mengubah defenisi untuk tahap I yang memperlihatkan karakteristik pengkajian pasien berkulit gelap. Berbagai indikator selain warna kulit, seperti suhu, adanya pori-pori kulit jeruk, kekacauan atau ketegangan, kekerasan, dan data laboratorium, dapat membantu mengkaji pasien berkulit gelap (Maklebust & Seggreen, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Bennet (1995 dalam Potter & Perry, 2006). menyatakan saat mengkaji kulit pasien berwarna gelap, memerlukan pencahayaan sesuai untuk mengkaji kulit secara akurat. Dianjurkan berupa cahaya alam atau halogen. Hal ini mencegah munculnya warna biru yang dihasilkan dari sumber lampu pijar pada kulit berpigmen gelap, yang dapat mengganggu pengkajian yang akurat. Menurut NPUAP (1995 dalam Potter & Perry, 2006) ada perbandingan luka dekubitus derajat I sampai derajat IV yaitu: a. Derajat I: Eritema tidak pucat pada kulit utuh, lesi luka kulit yang diperbesar. Kulit tidak berwarna, hangat, atau keras juga dapat menjadi indikator b. Derajat II: Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi, lecet, atau lubang yang dangkal. c. Derajat III: Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak melampaui fascia yang berada di bawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.

38

d. Derajat IV: Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif, nekrosis jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga misalnya kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot dan kapsul sendi. 6. Komplikasi luka dekubitus Komplikasi sering terjadi pada luka dekubitus derajat III dan IV, walaupun dapat terjadi pada luka yang superfisial. Menurut Subandar (2008) komplikasi yang dapat terjadi antara lain: a. Infeksi, umumnya bersifat multibakterial baik aerobik maupun anaerobik. b. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteotitis, osteomielitis, dan arthritis septik. c. Septikimia d. Animea e. Hipoalbuminea f. Kematian. 7. Tempat terjadinya luka dekubitus Beberapa tempat yang paling sering terjdinya dekubitus adalah sakrum, tumit, siku, maleolus lateral, trokonter besar, dan tuberostis iskial (Meehan, 1994). Menurut Bouwhuizen (1986) dan menyebutkan daerah tubuh yang sering terkena luka dekubitus adalah: a. Pada penderita pada posisi terlentang: pada daerah belakang kepala, daerah tulang belikat, daerah bokong dan tumit.

39

b. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun telinga), bahu, siku, daerah pangkal paha, kulit pergelangan kaki dan bagian atas jari-jari kaki. c. Pada penderita dengan posisi tengkurap: dahi, lengan atas, tulang iga, dan lutut. 8. Pengkajian luka dekubitus Data dasar pengkajian yang terus-menerus memberi informasi penting integritas kulit pasien dan peningkatan resiko terjadinya dekubitus. Pengkajian dekubitus tidak terlepas pada kulit karena dekubitus mempunyai banyak faktor etiologi. Oleh karena itu, pengkajian awal pasien luka dekubitus memiliki beberapa dimensi (AHPCR, 1994 dalam Potter & Perry, 2006). a. Ukuran Perkiraan Pada saat seseorang masuk ke rumah sakit perawatan akut dan rehabilitasi, rumah perawatan, program perawatan rumah, fasilitas perawatan lain maka pasien harus dikaji resiko terjadi dekubitus (AHPCR, 1992). Pengkajian resiko luka dekubitus harus dilakukan secara sistematis (NPUAP, 1989) seperti Pengkajian Resiko Luka Dekubitus Identifikasi resiko terjadi pada pasien: 1) Identifikasi resiko terjadi pada pasien: a. Paralisis atau imobilisasi yang disebabkan oleh alat-alat yang membatasi gerakan pasien. b. Kehilangan sensorik c. Gangguan sirkulasi

40

d. Penurunan tingkat kesadaran, sedasi, atau anastesi e. Gaya gesek, friksi f. Kelembaban: inkontensia, keringat, drainase luka dan muntah g. Malnutrisi h. Anemia i. Infeksi j. Obesitas k. Kaheksia l. Hidrasi: edema atau dehidrasi m. Lanjut usia n. Adanya dekubitus 2) Kaji kondisi kulit disekitar daerah yang mengalami penekanan pada area sebagai berikut: a. Hireremia reaktif normal b. Warna pucat c. Indurasi d. Pucat dan belang-belang e. Hilangnya lapisan kulit permukaan f. Borok, lecet atau bintik-bintik 3) Observasi posisi yang lebih disukai pasien saat berada di atas tempat tidur atau kursi 4) Observasi mobilisasi dan kemampuan pasien untuk melakukan dan membantu dalam mengubah posisi.

41

5) Pantau lamanya waktu daerah kemerahan Dapatkan data pengkajian nutrisi yang meliputi jumlah serum albumin, jumlah protein total, jumlah hemoglobin, dan presentasi berat badan ideal. b. Kulit Perawat harus mengkaji kulit terus-menerus dari tanda-tanda munculnya luka pada kulit klien gangguan neurologi, berpenyakit kronik dalam waktu lama, penurunan status mental, dan dirawat di ruang ICU, berpenyakit onkologi, terminal, dan orthopedi berpotensi tinggi terjadi luka dekubitus. Pengkajian untuk indikator tekanan jaringan meliputi inspeksi visual dan taktil pada kulit (Pires & Muller, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Pengkajian dasar dilakukan untuk menentukan karakteristik kulit normal klien dan setiap daerah yang potensial atau aktual mengalami kerusakan. Perawat memberi perhatian khusus pada daerah dibawah gips, traksi, balutan, tongkat penopang, penyangga leher, atau peralatan orthopedi lain. Jumlah pemeriksaan tekanan tergantung jadwal pemakaian alat respon kulit terhadap tekanan eksternal. Ketika terdapat hiperemia maka perawat mencatat lokasi, dan warna lalu mengkaji ulang bagian tersebut setelah satu jam. Apabila terlihat kelainan hiperemia reaktif maka perawat dapat menandai bagian tersebut agar pengkajian ulang menjadi lebih mudah. Tanda peringatan dini lain yang menunjukkan kerusakan jaringan akibat tekanan adalah lecet atau bintil-bintil pada bagian yang menanggung beban berat tubuh dan mungkin disertai hiperemia. Pires & Muller (1991) melaporkan

42

bahwa tanda dini akibat tekanan yang sering diabaikan pada klien yang tidak mengalami trauma adalah borok di bagian yang menanggung berat beban badan. Semua tanda-tanda ini merupakan indikator dini gangguan integritas kulit, tapi kerusakan kulit yang berada di bawahnya mungkin menjadi lebih progresif. Pengkajian taktil memungkinkan perawat menggunakan teknik palpasi untuk memperoleh data lebih lanjut mengenai indurasi dan kerusakan kulit maupun jaringan yang di bawahnya. Perawat melakukan palpasi pada jaringan di sekitarnya untuk mengobservasi bagian yang hiperemi, mengkaji adanya pucat dan kembali ke warna kulit normal klien yang berkulit terang. Selain itu, perawat mempalpasi indurasi, mencatat indurasi disekitar bagian yang cedera dalam ukuran milimeter atau sentimeter. Perawat juga mencatat perubahan suhu di sekitar kulit dan jaringan (Pires & Muller, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Perawat sering menginspeksi secara visual dan taktil pada bagian tubuh yang paling sering beresiko luka dekubitus. Jika pasien berbaring di tempat tidur atau duduk di atas maka berat badan terletak pada tonjolan tulang tertentu. Permukaan tubuh yang paling terbebani berat badan ataupun tekanan merupakan bagian yang beresiko tinggi terjadi dekubitus (Helt, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). c. Mobilisasi Pengkajian meliputi pendokumentasian tingkat mobilisasi pada integritas kulit. Pengkajian mobilisasi juga harus memperoleh data

43

tentang kualitas tonus dan kekuatan otot. Klien yang mempunyai rentang gerak yang adekuat untuk bergerak secara mandiri ke bentuk posisi yang lebih terlindungi. Mobilisasi harus dikaji sebagai bagian dari data dasar. Jika pasien memiliki tingkat kemandirian mobilisasi maka perawat harus mendorong pasien agar sering mengubah posisinya dan melakukan tindakan untuk menghilangkan tekanan yang dialaminya. Frekuensi perubahan posisi berdasarkan pengkajian kulit yang terus menerus dan dianggap sebagai perubahan data (Potter & Perry, 2006). d. Status nutrisi Pengkajian nutrisi klien harus menjadi bagian integral dalam pengkajian data awal pada pasien beresiko gangguan integritas kulit (Breslow & Bergstrom, 1994; Water et el, 1994; Finucance, 1995;). Pasien malnutrisi atau kakesia dan berat badan kurang dari 90% berat badan ideal atau pasien yang berat badan lebih dari 110% berat badan ideal lebih beresiko terjadi luka dekubitus (Hanan & Scheele, 1991 dalam Potter & Perry, 2006). Walaupun presentase berat badan bukan indikator yang baik, tapi jika ukuran ini digunakan bersama-sama dengan jumlah serum albumin atau protein total yang rendah, maka presentase berat badan ideal pasien dapat mempengaruhi timbulnya luka dekubitus (Potter & Perry, 2006). e. Nyeri Sampai saat ini, hanya sedikit tulisan atau penelitian yang dilakukan tentang nyeri dan luka dekubitus, AHPCR (1994) telah merekomendasi pengkajian dan manajemen nyeri termasuk dalam

44

perawatan pasien luka dekubitus. Selain itu AHPCR (1994) menegaskan perlunya penelitian tentang nyeri pada pasien luka dekubitus. Salah satu studi yang pertama kali menghitung pengalaman nyeri pasien yang dirawat di rumah sakit karena luka dekubitus telah dilakukan oleh Dallam et el (1995). Pada studi ini 59,1% pasien melaporkan adanya nyeri dangan menggunakan skala analog visual, 68,2% melaporkan adanya nyeri akibat luka dekubitus dengan menggunakan skala urutan nyeri faces. Berlawanan dengan banyaknya nyeri yang dilaporkan, obat-obatan nyeri yang telah digunakan klien sebesar 2,3%. Beberapa implikasi praktik yang disarankan para peneliti (Dallam dkk, 1995 dalam Potter & Perry, 2006) adalah menambah evaluasi tingkat nyeri pasien kedalam pengkajian dekubitus, yaitu pengontrolan nyeri memerlukan pengkajian ulang yang teratur untuk mengevaluasi efektifitas, dan program pendidikan diperlukan untuk meningkatkan sensitifitas pemberi

pelayanan kesehatan terhadap nyeri akibat luka dekubitus. 9. Pencegahan dekubitus Tahap pertama pencegahan adalah mengkaji faktor-faktor resiko klien. Kemudian perawat mengurangi faktor-faktor lingkungan yang mempercepat terjadinya dekubitus, seperti suhu ruangan panas (penyebab diaporesis), kelembaban, atau linen tempat tidur yang berkerut (Potter & Perry, 2006). Identifikasi awal pada klien beresiko dan faktor-faktor resikonya membantu perawat mencegah terjadinya dekubitus. Pencegahan meminimalkan akibat dari faktor-faktor resiko atau faktor yang member kontribusi terjadinya dekubitus. Tiga area intervensi keperawatan utama

45

mencegah terjadinya dekubitus adalah perawatan kulit, yang meliputi higienis dan perawatan kulit topikal, pencegahan mekanik dan pendukung untuk permukaan, yang meliputi pemberian posisi, penggunaan tempat tidur dan kasur terapeutik, dan pendidikan (Potter & Perry, 2006). Potter & Perry (2006), menjelaskan tiga area intervensi keperawatan dalam pencegahan dekubitus, yaitu : a. Higiene dan perawatan kulit Perawat harus menjaga kulit klien tetap bersih dan kering. Pada perlindungan dasar untuk mencegah kerusakan kulit, maka kulit klien dikaji terus-menerus oleh perawat, dari pada delegasi ke tenaga kesehatan lainnya. Jenis produk untuk perawatan kulit sangat banyak dan penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan klien. Ketika kulit dibersihkan maka sabun dan air panas harus dihindari pemakaiannya. Sabun dan lotion yang mengandung alkohol menyebabkan kulit kering dan meninggalkan residu alkalin pada kulit. Residu alkalin menghambat pertumbuhan bakteri normal pada kulit, dan meningkatkan pertumbuhan bakteri oportunistik yang berlebihan, yang kemudian dapat masuk pada luka terbuka. b. Pengaturan posisi Intervensi pengaturan posisi diberikan untuk mengurangi takanan dan gaya gesek pada kilit. Dengan menjaga bagian kepala tempat tidur setiggi 30 derajat atau kurang akan menurunkan peluang terjadinya dekubitus akibat gaya gesek. Posisi klien immobilisasi harus diubah sesuai dengan tingkat aktivitas, kemampuan persepsi, dan rutinitas sehari-

46

hari. Oleh karena itu standar perubahan posisi dengan interval 1 sampai 2 jam mungkin tidak dapat mencegah terjadinya dekubitus pada beberapa klien. Telah direkomendasikan penggunaan jadwal tertulis untuk mengubah dan menentukan posisi tubuh klien minimal setiap 2 jam. Saat melakukan perubahan posisi, alat Bantu unuk posisi harus digunakan untuk melindungi tonjolan tulang. Untuk mencegah cidera akibat friksi, ketika mengubah posisi, lebih baik diangkat daripada diseret. Pada klien yang mampu duduk di atas kursi tidak dianjurkan duduk lebih dari 2 jam. c. Alas pendukung (kasur dan tempat tidur terapeutik) Berbagai jenis alas pendukung, termasuk kasur dan tempat tidur khusus, telah dibuat untuk mengurangi bahaya immobilisasi pada sistem kulit dan muskuloskeletal. Tidak ada satu alatpun yang dapat menghilangkan efek tekanan pada kulit. Pentingnya untuk memahami perbedaan antra alas atau alat pendukung yang dapat mengurangi tekanan dan alat pendukung yang dapat menghilangkan tekanan. Alat yang menghilangkan tekanan dapat mengurangi tekanan antar permukaan (tekanan antara tubuh dengan alas pendukung) dibawah 32 mmHg (tekanan yang menutupi kapiler). Alat untuk mengurangi tekanan juga mengurangi tekanan antara permukaan tapi tidak di bawah besar tekanan yang menutupi kapiler. Potter & Perry (2006), mengidentifikasi 9 parameter yang digunakan ketika mengevaluasi alat pendukung dan hubungannya dengan tujuan yang telah dijelaskan tersebut yaitu harapan hidup, kontrol kelembaban kulit, kontrol suhu kulit, perlunya servis produk,

47

perlindungan dari jatuh, kontrol infeksi, redistribusi tekanan, kemudahan terbakar api, dan friksi klien/produk. 10. Penatalaksanaan dekubitus Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami dekubitus menurut Mansoer (2001) adalah: a) Merubah posisi pasien yang sedang bedrest . b) Menghilangkan tekanan pada kulit yang memerah dan penempatan pembalut yang bersih dan tipis apabila telah berbentuk ulkus dekubitus. c) Sistemik: antibiotic spectrum luas, seperti : Amoxilin 4x500 mg selama 15 30 hari. Siklosperm 1 2 gram selama 3 10 hari. Topical : salep antibiotic seperti kloramphenikol 2 gram. Sedangkan managemen keperawatan yang dapat dirancang untuk menatalaksana dekubitus menurut Doenges (2001) antara lain: a) Aktivitas/ istirahat Tanda: penurunan kekuatan, ketahanan, keterbatasan rentang gerak. Pada area yang sakit gangguannya misalnya otot perubahan tunas. b) Sirkulasi Tanda : hipoksia, penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cidera, vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin, pembentukan edema jaringan.

48

c)

Eleminasi Tanda : keluaran urin menurun adalah tidak adanya pada fase darurat, warna mungkin hitam kemerahan, bila terjadi, mengidentifiasi kerusakan otot.

d)

Makanan/cairan Tanda : edema jaringan umum, anoreksia, mual dan muntah.

e)

Neurosensori Gejala : area kebas/kesemutan

f)

Pernapasan Gejala: menurunnya fungsi medulla spinalis, edema medulla, kerusakan neurology, paralysis abdominal dan otot pernapasan.

g)

Integritas ego Gejala : masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Tanda : ansietas, menangis, ketergantungan, menarik diri, marah.

h)

Keamanan Tanda : adanya fraktur akibat dilokasi (jatuh, kecelakaan, kontraksi otot tetanik, sampai dengan syok listrik).

11. Rencana kerja dalam pencegahan dan penatalaksanaan dekubitus a. Kaji resiko pasien terhadap adanya pengembangan dekubitus dengan menggunakan alat pengkajian yang teruji dan valid dalam 1 jam setelah pasien masuk b. Lakukan pengkajian ulang bila mana terdapat perubahan material pada kondisi pasien

49

c. Pilihlah suatu sistem penyangga bagi pasien yang sesuai dangan skor resiko pasien dalam 1 jam setelah masuk bangsal d. Rencanakan jadwal mobilisasi dan jadwal pergantian posisi yang sesuai dengan resiko pasien, hindarkan pasien dari kerusakan/kehancuran kulit dan tempat yang beresiko tinggi sebanyak mungkin dan harus diingat kebutuhan pasien untuk beristirahat, makan dan menerima kunjungan, catat perubahan posisinya e. Inspeksi tempat-tempat beresiko tinggi secara teratur, contohnya setiap kali merubah posisi pasien, dan lakukan pengkajian ulang adanya dekubitus setiap hari f. Pertahankan integritas kulit, bersihkan selalu setelah pasien mengalami inkontensia urine atau fekal, jangan menggunakan sabun secara berlebihan, hindari menggosok kulit yang lembut, bila memungkinkan lakukan identifikasi dan koreksi terhadap sebab inkontensia g. Dengan bantuan ahli diet lakukan pengkajian status nutrisi pasien dan semua diet khusus yang diperlukan untuk memperbaiki kebutuhan. h. Ringankan pengaruh dari kondisi melemahkan yang lain yang terjadi secara bersamaan bila memungkinkan i. Lakukan identifikasi dan coba untuk mengkoreksi setiap masalah yang berhubungan dengan tidur j. Jangan lupakan pentingnya dukungan psikologis. 12. Mengkaji untuk pencegahan kejadian dekubitus Apabila seorang pasien menderita dekubitus setelah ia masuk ke bangsal dan penyebabnya tidak dapat dilacak dengan cepat berdasarkan

50

kejadian yang terjadi sebelum masuk ke bangsal (seperti tidak sadarkan diri di rumah akibat koma diebetikum ataupun berbaring dalam jangka waktu lama pada satu tempat akibat fraktur) maka sangatlah berguna bagi kita seorang perawat untuk meninjau ulang praktik lokal yang umum untuk pencegahan dekubitus. Hanya satu kekeliruan yang di butuhkan dalam merubah seorang pasien menjadi benar-benar menderita dekubitus, hal ini yang menjadi alasan mengapa standar yang sama dengan standar yang memberikan hasil terbaik dalam perawatan pasien menjadi sangat penting dimiliki oleh semua perawat dalam bangsal.

51

D. Kerangka Teori Gambar 2.1. Kerangka Teori

Faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan: 1. Pendidikan 2. Pengetahuan 3. Kemampuan 4. Motivasi 5. Kejelasan prosedur 6. Usia 7. Masa kerja

Kepatuhan

Nurbaeti (2004), Sudrajat (2007), Ardine (2005), Nurhidayati (2005), Arikunto (2002), Mila (2006), Saputro (2008), Digilib (2005), Robbins (2007) dan Notoadmojo (2005).

52

E. Kerangka Konsep Penelitian Gambar 2.2. Kerangka Konsep Variabel bebas Faktor yang mempengaruhi kepatuhan: 1. Pendidikan 2. Pengetahuan 3. Motivasi 1. Kemampuan 2. Usia Keterangan :3. Masa kerja : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti Variabel terikat

Kepatuhan perawat dalam melaksanakan alih baring

Nurbaeti (2004), Sudrajat (2007), Ardine (2005), Nurhidayati (2005), Arikunto (2002), Mila (2006), Saputro (2008), Digilib (2005), Robbins (2007) dan Notoadmojo (2005).

F. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

53

H0: tidak ada hubungan antara faktor pendidikan perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo H0: tidak ada hubungan antara faktor pengetahuan perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo H0: tidak ada hubungan antara faktor motivasi perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo H0: tidak ada hubungan antara faktor kejelasan prosedur motivasi perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo Ha: ada hubungan antara faktor pendidikan perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo Ha: ada hubungan antara faktor pengetahuan perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Stjonegoro Wonosobo Ha: ada hubungan antara faktor motivasi perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo Ha: ada hubungan antara faktor kejelasan prosedur motivasi perawat dengan tingkat kepatuhan pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

54

Ha: ada faktor yang paling dominan yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

55

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan desain korelatif yaitu penelitian untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat (Arikunto, 2006). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan cross sectional, dimana penelitian dilakukan dalam satu waktu. Cara yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah meneliti dengan menggunakan metode observasi, dan mendapatkan informasi dari jawaban kuisioner yang dbagikan kepada perawat, dengan melakukan pengujian faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat kepatuhan yaitu; pendidikan, pengetahuan dan motivasi perawat terhadap pelaksanaan SOP alih baring pada penderita bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek/objek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006). Menurut Arikunto (2006) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang bertugas RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo sejumlah 220 perawat.

56

2.

Sampel Sampel merupakan bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai subyek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2003). Menurut Sugiyono (2006), sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Arikunto, 2002). Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan metode pengambilan random sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sebagian sampel yang memenuhi kriteria penelitian. Besar sampel pada penelitian ini sejumlah 52 perawat, yaitu perawat yang bertugas diruang Flamboyan

(bangsal syaraf), Ruang Bogenvile (bangsal bedah), Ruang Cempaka (penyakit dalam), dan Ruang Edelwis (maternitas). Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: a. Perawat yang bertugas di ruang bedah, dalam, syaraf RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. b. c. Perawat pelaksana. Bersedia menjadi responden

Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : a. b. Kepala ruangan. Perawat yang masih cuti.

C. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada perawat yang bertugas di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. Penelitian akan dilakukan pada bulan Mei 2012.

57

D.

Variabel Penelitian Menurut Riwidikdo (2007) variabel merupakan gejala yang menjadi fokus dalam penelitian.Variabel menunjukkan atribut dari sekelompok orang atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Variabel dalam penelitian ini menggunakan : 1. Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendidikan, pengetahuan, dan motivasi. 2. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu factor kepatuhan perawat.

E. Definisi Operasional Variabel Pendidikan Definisi operasional Pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh responden berdasarkan ijazah terakhir Merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu Rangsangan, dorongan yang Alat ukur Item pertanyaan dalam lembar kuesioner tentang pendidikan responden Kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyan Hasil ukur Skala ukur

Kategori: Nominal 1. D III Keperawatan 2. S1 Keperawatan

Pengetahuan

Motivasi

Kuesioner yang

Pengetahuan Ordinal rendah: <55% jawaban benar Pengetahuan sedang: 55-75% Jawaban benar Pengetahuan tinggi: >75% jawaban benar Motivasi kuat: Nominal >mean

58

Dependen Pelaksanaan alih baring

dimiliki seseorang secara optimal untuk melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan Perubahan posisi yang dilakukan minimal tiap 2 jam terhadap pasien dengan stroke

terdiri dari Motivasi tidak 5 kuat: <mean pertanyaan

Lembar observasi

1. Patuh 2. Tidak patuh

Nominal

F. Pengumpulan Data 1. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpul data yang digunakan oleh peneliti yang terdiri atas: kuesioner tentang kepatuahn meliputi : pendidikan, pengetahuan, dan motivasi, terhadap prosedur pelaksanaan dan lembar observasi pelaksanaan SOP alih baring. 2. Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pelaksanaan dalam penelitian intervensi alih baring meliputi : a. Mengajukan surat ijin kepada Rumah Sakit tempat penelitian. b. Melakukan sosialisasi penelitian di ruangan tempat penelitian. c. Menjelaskan maksud, tujuan dan manfaat penelitian kepada responden d. Setelah bersedia menjadi responden, kemudian peneliti/asisten peneliti melakukan proses pengambilan data. e. Membagikan kuesioner kepada responden. f. Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total G. Instrumen Penelitian

59

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah kuesioner tentang pendidikan, pengetahuan, motivasi, dan lembar observasi pelaksanaan SOP alih baring. Sebelum kuisioner dan observasi digunakan dalam hasil penelitian

terlebih dahulu dilakukan uji coba instrument (uji validitas dan reliabilitas). 1. Uji validitas Menurut Notoatmojo (2002) uji validitas instrumen adalah keadaan yang menggambarkan instrument tersebut benar-benar mengukur apa yang ingin diukur. Instrumen dikatakan valid apabila r-hitung > r tabel dengan taraf signifikan 5 % dan tingkat kepercayaan 95%. Menurut Notoatmojo (2002) untuk menguji validitas dapat dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment, yaitu : R=

{N x

N ( xy ) ( x y )
2

( x)

}{N y

( y)

Keterangan : R N x y xy : angka korelasi : jumlah responden : nilai dari setiap point pernyataan : skor total : nilai dari pernyataan dikali skor total

2. Uji Reliabilitas

60

Menurut Arikunto (2002) reliabilitas menunjukan bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang reliabel dapat menghasilkan data yang dipercaya. Jika datanya benar sesuai dengan kenyataan, maka berapa kali pun diambil, hasilnya tetap sama. Instrumen dikatakan reliabel apabila r-hitung > r tabel dengan taraf signifikan 5 % dan tingkat kepercayaan 95%. Sedangkan formula untuk menguji reliabilitas tingkat pengetahuan, digunakan rumus Alfa cronbach yaitu :
r11 =

k 1

[k ]

[1 St ]
2

St

Keterangan : r k : reliabilits instumen : banyaknya butir pernyataan atau banyaknya soal


2

St
St2

: jumlah varian butir : varian total

H. Etika Penelitian Mengingat pertimbangan etika, peneliti meyakini bahwa responden dilindungi, dengan memperhatikan aspek-aspek: informed consent, anonymity,

61

nonmaleficiency, beneficiency dan protect from discomfort (Polit dan Hungler, 2006). 1. Permohonan menjadi responden (informed consent) Responden diberi kebebasan untuk menentukan apakah bersedia atau tidak untuk mengikuti kegiatan penelitian secara sukarela. Kemudian menjelaskan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. Responden mempunyai hak untuk menolak menjadi responden jika memang keberatan, namun jika menyetujui maka responden berpartisipasi dalam penelitian ini. 2. Tanpa nama (Anonymity) Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi menggunakan nomor atau kode responden. 3. Terhindar dari bahaya (nonmaleficiency) Peneliti menjelaskan kepada responden, bahwa penelitian yang akan dilakukan tidak akan membahayakan bagi status kesehatan responden karena bukan penelitian dengan perlakuan yang berakibat fatal. 4. Kerahasiaan (Confidentiality) Peneliti menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari responden. Data dari kuesioner hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. Kemudian setelah data selesai digunakan dimusnahkan dengan cara dibakar. 5. Beneficiency

62

Beneficiency berarti peneliti hanya mengerjakan sesuatu yang baik dengan melakukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan. 6. Kejadian negatif yang mungkin terjadi (protect from discomfort) Peneliti menekankan bahwa apabila responden merasa tidak nyaman atau tidak aman selama penelitian sehingga menimbulkan gejala psikologis, maka kepada responden diajukan pilihan yaitu: menghentikan partisipasinya atau melanjutkan partisipasinya dalam penelitian.

I. Pengolahan Data Langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut: 1. Editing Editing adalah mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui, dengan cara peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang ada, jika ditemui data yang salah pengisiannya maka data tidak dipergunakan. 2. Coding Teknik ini dilakukan dengan memberikan tanda pada masing-masing jawaban dengan kode berupa angka numerik, selanjutnya dimasukkan ke dalam lembaran tabel kerja untuk memudahkan pengolahan. 3. Tabulating Sebelum data dikelompokkan menurut kategori yang telah ditentukan, selanjutnya data ditabulasikan dengan melakukan penentuan data, sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing variabel penelitian. Kemudian memindahkan data ke dalam tabel-tabel yang sesuai dengan kriteria.

63

J. Analisa Data 1. Analisa Univariat Dalam analisis univariat, data-data dideskripsikan dari masing-masing variabel yang diteliti, untuk data numerik dengan menghitung mean, median, simpangan baku (SD) dan nilai minimal dan maksimal, sedangkan untuk data kategorik dengan menghitung frekuensi dan prosentase. Pengujian masingmasing variabel dengan menggunakan tabel dan diinterpretasikan

berdasarkan hasil yang diperoleh. Setelah data primer dimasukkan dalam tabel tabulasi kemudian dimasukkan ke dalam tabel distribusi normal dengan rumus: P= X 100% N

P: Proporsi X: jumlah kejadian yang diamati N: jumlah responden

2. Analisis Bivariat Variabel independent dan variabel dependent semua datanya

dikategorikan. Menurut Sutanto (2007) pada penelitian ini analisis datanya menggunakan uji chi Square. Rumus X2 digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel kategorik dengan variabel kategorik. Dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan SOP alih baring pada pasien bedrest total di

64

RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo. Rumus chi square adalah sebagai berikut: X2 = Keterangan : X2 : chi square 0 : frekuensi yang diobservasi atau diperoleh melalui pengamatan maupun perlakuan h : frekuensi yang diharapkan

( f0 fh ) 2
f

Variabel independent Pendidikan Pengetahuan Motivasi

Variabel dependent Kepatuhan melaksanakan baring alih

Uji statistik Chi square

Untuk uji chi square dengan menggunakan derajat kepercayaan (confident interval 95%), dan batas kemaknaan alfa 5% (0,05), bila diperoleh p < 0,05, berarti secara statistik ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen, dan bila p > 0,05 berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen (Sabri & Hastono, 2010). 3. Analisis Multivariate Pada penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis regresi binomial logistik. Analisis regresi binomial logistik analisis regresi yang

65

memiliki dua nilai didalamnya. Menurut Ghozali (2006) rumus analisis regresi binomial logistik adalah sebagai berikut : P = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3+ Keterangan : P = Probabilitas = Koefisien regresi X = Variabel independen = term error Hipotesis diterima jika 1 > 2 dan 3

66

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. (2000), hubungan pengetahuan masyarakat dengan pencegahan dekubitus http://www.scribd.com. Arikunto. (2002), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta. Arikunto, S. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta. Atmoko. (2008), Presurre Ulcer. Journal of Nursing 2001. Azwar. (1996), Reabilitas & Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Buss, A.B., Wang, H., Burgess, J., & Li, Y. (2004), Pressure ulcer prevention in nursing home: views and beliefs of enrolled nurse and other health workers, Journal of Advanced Nursing 53(6), 710720. Chan. (2002), Pressure sore problem in the elderly. Dalam J.C Berband, et al. The scientist & Medical division of the macmillan. London Press Ltd. Depdiknas (2003), Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas. Doenges, M.E., (2001), Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III. Alih Bahasa: I Made Kariasa. EGC. Jakarta Hastono, S.P., (2007), Analisis Data Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Hendriyanto. (2007), Ulkus dekubitus dalam petunjuk praktis ilmu bedah plastik rekonstruksi. Jakarta: Mahameru Offset Printing. Hidayat. (2001), Riset keperawatan dan tehnik penulisan ilmiah, Jakarta, Salemba Medika Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid I. FKUI.Jakarta. Margolis. (2005), Konferensi Nasional NPUAP, Jakarta.

67

Misbach, & Kalim. (2009), Hubungan Antara Meninggikan Posisi 300 Dengan Kejadian Dekubitus, Universitas Muhammadiyah Surakarta, tidak di publikasikan. Moore, Patricia., (2004), Nurse attitude behaviours and perceived barriers towards pressure ulcers prevention, Blackwell Publishing Ltd, Journal of Advanced Nursing, 50(2), 134142. Morison. (2003). Manajemen luka. Jakarta: EGC. Muchlas. (2008), Penelusuran hasil penelitian tentang intervensi keperawatan dalam pencegahan luka dekubitus pada orang dewasa. Jurnal Keperawatan Indonesia. National Pressure Ulcer Advisory Panel. (1989), Konferensi Nasional NPUAP, Jakarta. Notoatmodjo. (2005), Metodologi penelitian kesehatan. Cetakan Kedua. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Notoatmojo. (2007), Metodologi penelitian kesehatan. Cetakan Kedua. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nurbaiti, Efiaty Arsyad, S., Nurbaiti Iskandar. (2004), Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit, Edisi III, FKUI.

Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrument Penelitian Keperawatan . Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika. Patriani. (2008), Tingkat Kepuasan pasien immobilisasi, http//: repository usu.ac.id Plaiser, Dkk. (1994), A remarkable outcome after video-assisted thoracoscopic resection of a giant bulla. Interactive Cardiovasular and Thoracic Surgery Polit, D.F., Beck, C.T., & Hungler, B.P., (2001), Essentials of Nursing Research, Methods, Appraisal, and Utilization , Philadelphia, Lippincott William & Wilkins. Potter, Patricia, A. & Anne, Griffin, Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik. Alih Bahasa : Yasmin Asih, Made Sumarwati, Dian Evriyani & Laily Mahmudah. Edisi 4, Jakarta, EGC. Price, S.A., (2001), Patofisiologi, Konsep Klinis Penyakit-Penyakit, Jakarta, EGC. Purwaningsih. (2000), Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dekubitus, http: fik.ui.ac.id

68

Roach. (2000). Introductory gerontological nursing. Philadelpia: J.B. Lippincott. RSUD Setjonegoro (2007), Profil Kesehatan RSUD Wonosobo Sabandar (2008), Ulkus dekubitus, Sabri, L., & Hastono, S.P., (2010), Statistik Analisa Data, Rajawali Press, Jakarta. Sari, (2007), Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dekubitus pada pasien tirah baring di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta Smeltzer, & Bare, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner & Suddarth. Ed 8 vol 3, Jakarta, EGC. Sustrani, Alam, & Hadibroto, (2006), Stroke, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama. Sutrisno, A. (2007). Stroke, you must know before you get it !. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama. Rijswijk, L., van, et al. (2009). Sequential biannual prevalence studies of pressure ulcers at Allegheny-Hahnemann University Hospital.

Anda mungkin juga menyukai