Anda di halaman 1dari 4

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Penyakit ini merupakan penyakait endemik yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Saat ini langkah yang dianggap paling efektif dalam mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti adalah dengan memutus rantai pertumbuhannya, yakni pada fase larva. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanaman tertentu memiliki zat aktif yang bersifat racun bagi serangga, menghambat dan penolak makan, juga dapat menghalangi pencernaan makanan serangga. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan zat aktif itu adalah daun jeruk purut (Citrus hystrix). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas biolarvasida dan menentukan nilai Lethal Concentration (LC50) yang digunakan sebagai parameter untuk menentukan hubungan konsentrasi minyak dengan efektifitas minyak daun jeruk purut. 20 ekor larva instar III kontak dengan minyak selama 24 jam, konsentrasi yang digunakan 50 ppm, 100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, dan 1000 ppm yang dimasukkan dalam wadah plastik masing-masing sebnyak 100 ml. jumlah larva yang mati dihitung pada 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60 menit, 4 jam, 6 jam dan 24 jam. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsentrasi dengan jumlah larva yang mati (p<0,05). Minyak daun jeruk purut yang paling efektif sebagai biolarvasida pada konsentrasi 1000 ppm. Hasil uji Probit menunjukkan nilai LC90 adalah 487,936 ppm. Kata Kunci: Larva Instar III Nyamuk Aedes aegypti, Citrus hystrix, Biolarvasida Abstract Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) still be masyrakat healthy problem in Indonesia. it is an endemic disease cause of dengue virus that is transmitted by the Aedes aegypti mosquito. Now, the most effective effort to minimalisized the population of Aedes aegypti is stopping the life siclus in larva stade. Some penelitian show that special plants have active zat an effort to avoid mosquito bites by usage of electric reppelent. Kaffir lime leaves (Citrus hystrix) is potential as an alternative natural reppelent because the content of essential oil as reppelent. This research aims to know the activity of reppelent and determine the EC90 values used as a parameter to determine the oil concentration relationship with effectiveness of Kaffir lime oil. 25 mosquitos presented with oil for an hour, which concentration used 1%, 5%, 10%, and 20% using liquid vaporizer. Mosquitoes that knockdown then calculated. The Chi Square test results indicate that there is a relationship between the concentration of the mount of mosquitoes that knockdown (p< 0.05). Thus, kaffir lime oil has potentially as repellent, the effective concentration is 20%. The Probit test result EC90 at concentrations of 15.4%. Keywords: Aedes aegypti larva stade III, Citrus hystrix, Biolarvasida Istianah M.A*, Utami W.S**, Ameliana L*** * ** Mahasiswa Fakultas Kedokteran Staf Pengajar Fakultas Kedokteran

*** Staf Pengajar Fakultas Farmasi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Jember (UNEJ) Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail:wiwien.dr@gmail.com Efektivitas Biolarvasida Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix) terhadap Larva Instar III Nyamuk Aedes aegypti Pendahuluan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang terdiri dari empat serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 dari genus Flavivirus, famili Flaviridae. Di Indonesia penyakit DBD berpotensi menjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) [4]. Nyamuk betina Aedes aegypti (A. aegypti)

merupakan vektor utama penyebaran penyakit DBD. Upaya untuk untuk mencegah penyakit DBD adalah dengan membasmi vektor atau menghindari gigitan vektor. Saat ini membunuh vektor dalam stadium larva adalah langkah yang dianggap paling efektif karena tempat perindukan larva yang menetap yaitu di tempat-tempat yang terdapat air menggenang.[10]. saat ini larvasida yang telah beredar di masyarakat di beberapa negara besar telah ditemukan kasus resistensi dan toleransi. di Indonesia sendiri di Jakarta dan Surabaya telah ditemukan kasus toleransi terhadap Abate. Untuk itu perlu bahan alternatif lain untuk mencegah resistensi yang luas. Salah satu caranya dengan membuat biolarvasida menggunakan bahan alami yang berasal dari tumbuhan. Jeruk purut (Citrus hystrix) adalah salah satu anggota suku jeruk-jerukan, Rutacea, dari jenis Citrus. Daun jeruk purut berwarna hijau kekuningan dan berbau sedap. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai. Daun jeruk purut mengandung tanin 1,8%, steroid triterpenoid dan minyak atsiri 1,5% v/v [2]. Minyak atsiri daun jeruk purut diperoleh dari proses destilasi yang mengandung komponen utama antara lain sitronelal 81,49%, sitronelol 8,22 %, linalool 3,69% , dan geraniol 0,31% [9]. Beberapa jenis minyak atsiri dari berbagai tumbuhan telah digunakan atau mempunyai aktivitas penolak serangga (insect repellent) [15]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas minyak daun jeruk purut sebagai antinyamuk dan mengetahui nilai LC90 yang menyebabkan larva mati. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental design. Desain penelitian menggunakan post test only control group design. Sampel larva yang digunakan adalah larva instar III nyamuk Aedes aegypti yang berumur 4 hari. Sampel dihitung berdasarkan metode analisis Chi Square dengan aplikasi G Power 3.1 [4]. Besar sampel sebanyak 420 ekor yang dibagi menjadi 7 kelompok baik perlakuan maupun kontrol, masing masing sejumlah 20 ekor dengan replikasi sebanyak 3 kali. Alat yang digunakan antara lain alat suling sistem air dan uap, gelas plastik, balp red, pipet ukur, beaker glass, pipet tetes, timbangan, stopwatch, botol kaca gelap, kassa penutup. Bahan yang dibutuhkan antara lain daun jeruk purut (Citrus hystrix), pellete larva, abate sebagai kontrol positif, campuran aquades dan etanol 70 % sebagai kontrol negatif. Minyak daun jeruk purut diperoleh dari penyulingan dengan sistem uap dan air. Pembuatan larutan uji dengan mencampurkan minyak atsiri 100% dengan aquades dan etanol 70% untuk mendapatkan konsentrasi larutan 50 ppm, 100 ppm, 250 ppm, 500 ppm dan 20% dengan volume total 100 ml. Tahapan pengujian biolarvasida minyak daun jeruk purut dilakukan dengan cara sebagai berikut, berbagai konsentrasi larutan uji dimasukkan ke dalam wadah plastik dengan volume 100 ml, kemudian ke dalam masing-masing wadah plastik dimasukkan 20 ekor larva instar III nyamuk Aedes aegypti diberikan pellet dan ditutup menggunakan kassa. Larva dibiarkan kontakdengan larutan uji selama 24 jam dengan pengamatan dilakukan pada 5,10, 15, 20, 30, 45, 60 menit, 4 jam, 6 jam dan 24 jam. Pengumpulan data berdasarkan perhitungan jumlah larva yang mati yang didapatkan berdasarkan waktu yang telah ditentukan.[13]. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square untuk mengetahui hubungan antara pengaruh konsentrasi minyak daun jeruk purut terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Analisis Probit digunakan untuk mencari nilai LC95. Hasil Penelitian Penelitian dilakukan selama bulan September 2012 dan Januari 2013 kemudian didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Perbedaan Efektivitas Antinyamuk dalam Berbagai Konsentrasi Konsentrasi Kondisi Nyamuk Persentase Mortalitas Larva Mati Hidup Kontrol + 75 0 100 % Kontrol 2 73 0% 1% 52 23 69% 5% 58 17 77 % 10% 66 9 88% 20% 69 6 92% Total 322 128

Jika ditampilkan pada diagram batang akan tampak seperti pada Gambar 2. berikut ini: Gambar 2. Persentase larva nyamuk yang mati dengan berbagai konsentrasi minyak daun jeruk purut Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) memiliki potensi sebagai biolarvasida terhadap larva instar III nyamuk Aedes aegypti. Jumlah larva yang mati setelah terpapar dengan minyak daun jeruk purut menunjukkan hasil yang meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi minyak yang diberikan. Analisis data dengan Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian berbagai konsentrasi minyak daun jeruk purut terhadap jumlah larva yang mati dengan nilai p < 0,05 . Hubungan ini diartikan bahwa pemberian konsentrasi minyak yang berbeda-beda menyebabkan jumlah larva yang mati juga berbeda. Semakin tinggi konsentrasi semakin besar pula jumlah larva yang mati. Peningkatan konsentrasi menunjukkan kandungan bahan aktif yang terkandung dalam larutan uji semakin besar. Kadar yang semakin tinggi tersebut akan lebih poten dalam menggangu kerja sistem fisiologis larva, sehingga jumlah larva yang mati pun akan semakin meningkat dikarenakan bahan aktif yang terpapar pada tubuh nyamuk lebih banyak. Analisis data selanjutnya menggunakan Mc Nemar untuk menentukan konsentrasi minyak daun jeruk purut manakah yang memiliki perbedaan yang bermakna dengan kontrol positif (praletrin 13 g/l dan d-aletrin 0.01 g/l). Hasil menyatakan bahwa semua konsentrasi menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kontrol positif (p<0,05). Pada konsentrasi 1% dan 5% hasil diperoleh 0,000 (p<0,05), konsentrasi 10% hasil didapatkan 0,004 (p<0,05), dan konsentrasi 20% hasilnya 0.031(p< 0,05). Konsentrasi 20% menunjukkan hasil yang paling efektif karena dapat melumpuhkan nyamuk sebesar 92%. konsentrasi ini telah melebihi batas efektivitas antinyamuk yang ditetapkan sebelumnya yaitu 90%. Analisis Probit digunakan untuk mengetahui nilai EC90 atau Effective Consentration yang menunjukkan besar konsentrasi tertentu dari minyak daun jeruk purut yang dapat menyebabkan nyamuk lumpuh ( knockdown) sebesar 90% dari sampel.Hasil EC 90 terjadi pada konsentrasi 15,4%. Komponen kimia aktif dalam minyak atsiri daun jeruk purut seperti sitronelal, sitronelol, linalool, dan geraniol berpotensi sebagai insektisida yang mampu melumpuhkan nyamuk [2]. Sitronelal sebagai racun kontak, zat tersebut apabila dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian akibat kehilangan cairan secara terus menerus sehingga tubuh serangga kekurangan cairan [5]. Linalool sebagai racun kontak yang meningkatkan aktivitas saraf sensorik pada serangga, menyebabkan stimulasi saraf motor sehingga nyamuk menjadi kejang dan lumpuh. Sedangkan geraniol bersifat sebagai racun lambung yang menyebabkan keracunan. Kontrol positif yang mengandung bahan aktif temephos yang selama ini telah terbukti dapat membunuh larva nyamuk Aedes aegypti dan memiliki aktivitas yang tinggi sebagai larvasida [16].

Kesimpulan dan Saran Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) efektif sebagai biolarvasida terhadap larva instar III nyamuk Aedes aegypti. semakin tinggi konsentrasi minyak daun jeruk purut maka semakin tinggi moratlitas larva yang terjadi. Minyak daun jeruk purut memiliki nilai LC90 pada konsentrasi 15,4% Beberapa saran yang dapat penulis berikan adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari senyawa aktif minyak daun jeruk purut yang memiliki potensi sebagai larvasida, penelitian lanjutan untuk mengetahui derajat iritatif biolarvasida minyak daun jeruk purut terhadap kulit dan mukosa manusia, serta bentuk sediaan yang lebih dapat diterima pengguna biolarvasida minyak daun jeruk purut ini. Daftar Pustaka Ahad, Reddy, Kumar, Prasad, Ravindra, Sekhar, Kumar, dan Mohan.. Formulatio and Evaluation of Home Made Poly Herbal Liquid Mosquito Repellent. JITPS. 2010; 1(2): 98-105 Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid IV. Jakarta: Puspa Swara.2006. Departemen Kesehatan RI. Indikator Kesehatan Indonesia 2005-2009. Jakarta: Depkes.2009. Faul, Erdfelder, Lang, & Buchner. G*Power 3: A flexible statistical power analysis program for the social, behavioral, and biomedical sciences. Behavior Research Methods. 2007;39: 175-191. Fikri, M. Iqbal. Identification and Toxicity Test of Citronellal From Cymbopogon nardus Leaves as A Antifeedant of Toward Thrips in Jatropha curcas. Alchemy. 2010; 2(1): 104-157

Gandahusada, S., Ilahude, H., Pribadi, dan Wita. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. Guenther, E. Minyak atsiri I. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka. 1987. Koswara, S. 2009. Menyuling dan Menepungkan Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut http://www.ebookpangan.com/ARTIKEL/MENYULING%20DAN%20MENEPUNGKAN%2INYAK%20ASIRI.pdf. [20 Mei 2012] Natadisastra, D., dan Agoes, R. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta: EGC. 2009. Susilowati, D., Rahayu, M. P., dan Prastiwi, R. Efek Penolak Serangga ( Insect Repellent) dan Larvasida Ekstrak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC) Terhadap Aedes aegypti. Biomedika. 2009; 2(1): 31-39. Tawatsin, A., Wratten, S.D., Scott, R. R., Thavara, U., and Techadamrongsin, Y. Repellency of Volatile Oils from Plants against Three Mosquito Vectors. Journal of Vector Ecology. 2001; 26(1): 76-82 WHO. Guidelines for Efficacy Testing of Household Insectiside Products Mosquito Coils, Vaporizer Mats, Laquid Vaporizers, Ambient, Emanator and Aerosol. 2009. PANNA. 2010. Prallethrin. http:www.pesticideinfo.org. [15 September 2012]. Windono, Elisawati, Sari, Andina, Azalea.. Uji Efek Penolak Serangga (Insect repellent) Minyak Atsiri dan Fraksi Minyak Atisiri Daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix DC.). Indonesian Scientific Journal Database. 2003; 3(2): 82-91. Misni, N., dan Sulaiman, S. The effect of Piper aduncum Linn. (Family: Piperaceae) Essential Oil as Aerosol SprayAagainst Aedes aegypti (L.) and Aedes albopictus Skuse. Tropical Biomedicine .2011 ; 28(2): 249258 .