Anda di halaman 1dari 2

RPH Pegirian Dinilai Tak Layak Senin, 02/01/2012 | 11:46 WIB Dekat pemukiman penduduk, Dirut PD belum pikirkan

relokasi SURABAYA-Keberadaan Rumah Potong Hewan di Jl Pegirian milik Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (PD RPH) Kota Surabaya dinilai kalangan DPRD Surabaya sudah tidak layak lagi. Pasalnya, selain terletak di kawasan padat penduduk, juga berdekatan dengan kawasan religi Ampel. Warga di sekitar RPH di sana sudah lama mengeluhkan bau tak sedap. Biasanya bau itu berupa amis, busuk hingga kotoran binatang yang akan disembelih. Apalagi saat memasuki musim hujan, kondisi lingkungan makin parah, kata anggota Komisi C (Pembangunan) DPRD Surabaya Agus Santoso, Senin (2/1). Pihaknya meminta keberadaan RPH di Pegirian dievaluasi karena berdekatan dengan pemukiman. Jangan sampai keberadaan RPH justru memunculkan masalah kesehatan warga. Kami minta Pemkot mengevaluasi dan jangan masalah baru muncul di sana, katanya mengingatkan. Politisi Partai Demokrat ini menambahkan, RPH di Pegirian tidak layak dipertahankan. Sebab, menilik lokasinya di dekat pemukiman warga, seharusnya direlokasi sebagai bagian evaluasi. Titik relokasi baru minimal 15 kilometer dari pemukiman. Kalau melihat syarat ini, kemungkinan RPH bisa berada di Surabaya barat karena di sana masih ada sisa tanah Pemkot yang cukup luas. Usulan relokasi, kata Agus, cukup beralasan. Dengan dekat pemukiman mudah terjadi pencemaran diantaranya bau dan air. Khusus bau, pihaknya kerap mendapatkan keluhan dari warga. Selain itu juga rembesan limbah cair dari kotoran binatang ini akan masuk tanah dan akan mempengaruhi sumur warga dan saluaran air di sana. Ketua komisi C DPRD Surabaya Sachiroel Alim menambahkan, memang keberadaan RPH Pegirian sudah tidak layak dioperasionalkan. Pasalnya lokasinya berada di tengah permukiman warga. Memang limbah bisa diolah oleh mesin dan hasil olahan limbah bisa dibuang ke kali Pegirian di dekatnya. Tapi soal limbah bau anyir dan bau kotoran sulit diolah dengan mesih atau dengan obat-obatan. Sedikit banyak bauk tak sedap pasti terbawa angin ke permukiman warga. Sejalan dengan kondisi itu, dewan meminta agar Pemkot atau unit pelaksana teknis daerah (UPTD) RPH wajib mengevaluasinya atau memindahkan ke lokasi lain. Kami minta RPH itu dipindah saja ke tempat lain. Memang saat RPH didirikan penduduk Pegirian masih sedikit, tapi sekarang sudah padat, jelasnya. Dirut PD RPH Surabaya Nurwahono mengakui keberadaan RPH Pegirian ini berdekatan dengan pemukiman. Namun hingga kini pihaknya belum terpikirkan untuk merelokasi RPH

Pegirian ke RPH Kedurus yang lokasinya di ujung Selatan Surabaya. Agar tidak mengganggu lingkungan sekitar, kami akan membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah,red) di tempat lain, Cuma lokasinya masih dicari, ungkapnya. Khusus IPAL di Pegirian, mampu mengolah 60 meter kubik limbah penyembelihan setiap hari. Sedangkan hewan yang dipotong meliputi sapi, kambing dan babi. Sedangkan untuk RPH Kedurus, sudah dilakukan penyempurnaan IPAL bantuan Austria dengan menggandeng ITS. Hasilnya, air limbah olahan sudah mendekati standar mutu. IPAL Kedurus ini memiliki kapasitas pengelolaan limbah sebanyak 30 meter kubik per hari, jelasnya. n pur