Anda di halaman 1dari 5

KERANGKA ACUAN KERJA PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK MASTER PLAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA TANGERANG

LATAR BELAKANG

Dambaan masyarakat perkotaan terhadap suasana lingkungan yang hijau, asri dan, nyaman,makin terasa mendesak untuk bisa direalisasikan. Hal ini mengingat kehidupan dan aktifitas di perkotaan yang semakin berat dan penuh tekanan. Terutama bila

kebutuhan pokok sudah dapat terpenuhi, maka kenyamanan lingkungan dan suasana yang berudara sejuk dan bersih semakin disadari kebutuhannya. Ruang Terbuka Hijau (RTH) didefinisikan sebagai total area atau kawasan yang tertutupi hijau tanaman dalam satu satuan luas tertentu baik yang tumbuh secara alami maupun yang dibudidayakan. Demikian pula dalam penataan ruang kota, RTH banyak diartikan sebagai unsur alami berupa vegetasi saja. Hal ini dapat dilihat dari berbagai pengertian RTH yang selama ini dikenal. Pengertian RTH yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang menyebutkan bahwa RTH adalah bagian dari ruang terbuka dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area atau memanjang/jalur, penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Pemanfaatannnya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau tumbuh-tumbuhan secara alami ataupun budidaya tanaman seperti lahan pertanian, pertamanan, perkebunan, dan sebagainya. Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika yang mengamanatkan minimal kawasan perkotaan memiliki 30% RTH dari luas wilayah kota keseluruhan. Pada peraturan tersebut ruang terbuka hijau dapat dikategorikan sebagai Kawasan Hijau Lindung dan Kawasan Budidaya/Kawasan Hijau Binaan.
1.

Kawasan Hijau Lindung, adalah bagian dari kawasan hijau yang memiliki

karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas.
2.

Kawasan Hijau Binaan/Hijau Budidaya, adalah sebagian dari kawasan hijau diluar

kawasan hijau lindung untuk tujuan penghijauan yang di bina malalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis maupun sarana sosial kota yang sesuai untuk fungsi penghijauan tersebut. Berdasarkan berbagai kajian kepustakaan, klasifikasi ruang terbuka maupun ruang terbuka hijau didasarkan pada suatu kriteria di mana penggunaan lahan RTH harus

dapat merefleksikan unsur dan struktur alaminya. Ruang terbuka hijau merupakan bagian dari ruang terbuka (open space). Dalam klasifikasi ini ruang terbuka (open space) dibagi dalam 4 (empat) kategori utama (Urban Planning and Design Criteria, second edition), yaitu: 1. 2. 3. 4. Ruang terbuka utilitas (utility spaces) Ruang Terbuka Hijau (green open spaces) Ruang terbuka koridor (corridor spaces) Ruang Multiguna (Multi-Use Classification)

Klasifikasi ke empat (multi-use classification) adalah lahan yang mengandung unsur dan struktur alami tetapi dapat berperan dalam beberapa penggunaan. Kriteria klasifikasi ruang terbuka maupun ruang terbuka hijau didasarkan pada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kegunaan fungsi utama (primary functional use) Keterkaitan terhadap pembangunan (relation to development values) Luas lahan (size of land) Ruang kota dan desa (urban-rural) Intensitas penggunaan (intensity of use) Karakteristik lahan (land characteristics) Kondisi lainnya (other conditions) Oleh karena itu Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan bagian dari ruang terbuka (open space) yang diklasifikasikan sebagai ruang atau lahan yang mengandung unsur dan struktur alami. RTH ini dibedakan dalam dua macam yaitu RTH alami dan RTH binaan : a. RTH alami terdiri dari daerah hijau yang masih alami (wilderness area), daerah

hijau yang dilindungi agar tetap dalam kondisi alami (protected area), dan daerah hijau yang difungsikan sebagai taman publik tetapi tetap dengan mempertahankan karakter alam sebagai basis tamannya (natural park areas). b. RTH binaan terdiri dari daerah hijau di perkotaan yang dibangun sebagai taman

kota (urban park areas), daerah hijau yang dibangun dengan fungsi rekreasi bagi warga kota (recreational areas), dan daerah hijau antar bangunan maupun halamanhalaman gedung yang digunakan sebagai area penghijauan (urban development open spaces). Khusus daerah hijau di kawasan perkotaan dapat dikembangkan sebagai plaza, square, jalur hijau jalan maupun sabuk hijau kota (greenbelt). Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2007 mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) mempertegas arti penting Ruang Terbuka Hijau terhadap Penataan Ruang Kota dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. PP tersebut mengamanatkan tersedianya 20% dari luas kota untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH publik). Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Kota berkewajiban untuk menyediakan lahan RTH sebesar 20 % dari luas kota. Namun perlu menjadi perhatian, kesulitan memperoleh lahan di perkotaan karena keterbatasan lahan. Untuk itu, pemerintah kota harus

mempunyai suatu Rencana Induk (Master Plan) bagi pengembangan RTH, sehingga target pencapaian RTH dari segi kuantitas dan waktu jelas dan sesuai dengan amanat UU no. 26 tahun 2007. II. IDENTIFIKASI MASALAH Berikut ini permasalahan yang perlu diperhatikan: a. Keterbatasan lahan di perkotaan b. Kota Tangerang belum memiliki rencana induk RTH III. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari kegiatan ini adalah a.Membuat pedoman kerja bagi pengembangan RTH Kota Tangerang dan pentahapannya. b. Melakukan inventarisasi lahan RTH yang merupakan milik Pemerintah Kota Tangerang sebagai scenario pencapaian RTH publik 20%. c. Merupakan upaya pengamanan asset Pemerintah Kota.

Tujuan dari kegiatan ini adalah menyediakan Rencana Induk (Master Plan) pengembangan RTH Kota Tangerang.

IV.

DASAR HUKUM 1. 2. Undang-undang nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang; Undang-undang nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara tahun 1997 nomor 1968); 3. Undang-undang nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara tahun 1990 nomor 49); 4. Peraturan Daerah Kota Tangerang No. .... Tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Tangerang; 5. Peraturan Daerah Kota Tangerang nomor 5 tahun 2001 Tentang Kebersihan, Keamanan dan Ketertiban (K3).

V.

KONDISI SEKARANG Pemerintah Kota Tangerang belum rencana induk (master plan) pengembangan RTH Kota

VI. DESKRIPSI PEKERJAAN 1. Pendahuluan a. Gambaran kondisi eksisting b. Hal-hal yang akan dilakukan pada saat survey dan penetapan data-data yang akan diambil.

2.

Antara - Menggambarkan hasil survey RTH Kota Tangerang;. - Menggambarkan permasalahan yang ditemui dan analisa dari permasalahan serta data-data yang sudah diperoleh;. - Pemecahan masalah; - Pengolahan data digital RTH.

3.

Akhir - Naskah akademik master plan RTH Kota Tangerang, sebagai dasar pengembangan RTH

VII. SPESIFIKASI TENAGA AHLI 1. Ahli Arsitektur Lansekap (team leader) S2 (1-4 thn) 2. Ahli Planologi S1 (1-4 th) 3. Ahli Pertanian/Tanah (1 - 4 th) 4. Ahli Arsitektur Kota (1-4 th) 5. Ahli GIS (1-4 th) 6. Ahli Teknik Lingkungan (1-4 th) 7. Ahli Ekologi/Biologi (1-4 th)

VIII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan dilaksanakan selama 5 (lima) bulan, dari bulan April s.d September 2012. Schedule kegiatan adalah sebagai berikut :

Bulan 1 No Uraian Kegiatan

Bulan 2

Bulan 3

Bulan 4

Bulan 5

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Laporan Pendahuluan 2 Laporan Antara 3 Laporan Akhir IX. KELUARAN (OUTPUT) Tersusunnya laporan master plan RTH Kota Tangerang, terdiri dari : a. Laporan Pendahuluan b. Laporan Antara c. Laporan Akhir : : : 10 buku 10 buku 10 buku

d. Peta Master Plan skala 1:5000 (uk. A1): e. CD :

13 lembar 10 buah

X.

HASIL Menghasilkan pedoman pengembangan Ruang Terbuka Hijau Kota Tangerang yang dijadikan sebagai dasar kebijakan pembangunan dan pengembangan RTH untuk kepentingan masyarakat Kota Tangerang secara umum dan pencapaian kuantitas RTH sesuai amanat UU.