Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Walaupun telah banyak kemajuan diperoleh di bidang

penanggulangan penyakit diare, namun hingga sekarang penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam sehari d e n g a n j u m l a h t i n j a ya n g l e b i h banyak dar i biasanya lebih dari 200 gram at au 200ml / 24 jam, t inja berbentuk cair at a u p u n s e t e ng a h c a ir . Atau dalam arti lain diare

adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan dan dapat atau tanpa disertai erist dan darah. Di dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita , dan juga membunuh lebih dari 1,5 juta orang per tahun. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka , penyakit alergi

(fructose,lactose), memakan makanan yang asam, pedas, atau bersantan secara berlebihan , dan kelebihan vitamin C. Biasanya disertai sakit perut, dan seringkali mual dan muntah. Ada beberapa kondisi lain yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari diare adalah defekasi yang melebihi 200 gram per hari. Diuretika adalah suatu senyawa yang dapat merangsang

pengeluaran urin. Senyawa ini dapat memengaruhi secara langsung transpor zat terlarut dan air melalui ginjal. Pengaruh diuretika terhadap ekskresi zat terlarut penting artinya untuk menentukan tempat kerja diuretika dan dapat meramalkan akibat penggunaan suatu diuretika.

1.2

Tujuan Percobaan Mengetahui contoh-contoh obat anti diare Mengetahui cara kerja obat anti diare

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 1

Mengetahui cara kerja obat diuresis dan kegunaannya dalam mengatasi penyakit

1.3

Hipotesis Tikus yang disuntikkan larutan NaCl Fisiologis secara oral akan menurunkan mortilitas usus sehingga penyerapan cairan maksimal dan konsistensi feses menjadi padat Tikus yang disuntikkan dengan obat diuresis secara oral akan menunjukkan efek diuresis yaitu bertambahnya volume urin yang dikeluarkan

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Hewan Coba Hewan coba atau sering disebut dengan hewan laboratorium adalah hewan yang khusus diternakkan untuk keperluan penelitian farmakologi. Hewan laboratorium tersebut digunakan sebagai model untuk penelitian pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Syarat hewan yang digunakan untuk penelitian farmakologi adalah harus jelas fisiologinya, bebas dari penyakit, didapat breeding centre yang baik atau biakkan sendiri. Beberapa jenis hewan dari yang ukurannya terkecil dan sederhana sampai ukuran yang lebih besar dan lebih kompleks digunakaan untuk keperluan penelitian yaitu mencit,tikus,kelinci dan kera. Tikus (Rattus novergicus) , sifat-sifat : ukurannya lebih besar, lebih cerdas , tenang , mudah digarap dengan perlakuan wajar, kurang suka berkumpul Cara penanganannya, pertama ekor dipegang sampai pangkal ekor. Kemudian telapak tangan menggenggam melalui bagian belakang tubuh dengan jari telunjuk dan jempol secara perlahan diletakkan disamping kiri dan kanan leher. Tangan yang lainnya membantu dengan menyangga dibawahnya, atau tangan lainnya dapat digunakan untuk menyuntik (Syamsudin,2011).

2.2.

Obat-obat Anti Diare Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal sehingga penderita dapat mengalami kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Sukandar, dkk, 2010). Menurut teori klasik, diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik usus, hingga pelintasan chymus sangat dipercepat dan masih

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 3

mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Penelitian dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya resorpsi air atau/dan terjadinya hipersekresi (Tjay,2007). Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua. Tanda-tanda orang dehidrasi antara lain: 1. Penderita sangat kehausan 2. Mulut dan lidah kering,mata cekung 3. Waktu kulit dipijit, lipatan kulit perlahan lahan akan kembali seperti semula. 4. Denyut nadi sangat cepat pada seorang anak yang kurang dari 18 bulan ,terlihat adanya noktah lembut pada puncak kepala yang cekung ke bawah(yakni bagian ubun-ubun ) Terdapat 4 mekanisme patofisiologis yang mengganggu

keseimbangan air dan elektrolit yang mengakibatkan terjadinya diare, yaitu: 1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorpsi natrium atau peningkatan sekresi klorida 2. Perubahan motilitas usus 3. Peningkatan osmolaritas luminal 4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan (Sukandar, dkk, 2010). Berdasarkan mekanisme di atas, pengelompokan diare secara klinik, yaitu: 1. Secretory diarrhea, terjadi ketika senyawa yang strukturnya mirip meningkatkan sekresi atau menurunkan absorpsi air dan elektrolit dalam jumlah besar. 2. Osmotic diarrhea, disebabkan oleh absorpsi zat-zat yang

mempertahankan cairan intestinal. 3. Exudative diarrhea, disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang mengeluarkan mukus, protein atau darah ke dalam saluran pencernaan.

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 4

4. Motilitas usus dapat berubah dengan mengurangi waktu kontak di usus halus, pengosongan usus besar yang prematur dan

penumbuhan bakteri yang berlebihan (Sukandar, dkk, 2010). Jenis-jenis Diare: 1) Diare Akut Adalah diare yang disebabkan oleh virus rota virus yang ditandai buang air besar lembek/cair bahkan berupa air saja frekuensi 3x atau lebih dalam sehari berlangsung dari 14 hari. Patogenesis diare akut yaitu masuk nya jasad renik yang masih hidup kedalam usus halus setelah melewati rintangan asam lambung.jasad renik itu berkembang biak didalam usus halus kemudian jasad renik mengeluarkan toksik. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. 2) Diare Bermasalah Adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus , bakteri, parasit, intoleransi laktosa, alergi protein, susu sapi,penularan secara fecal-oral kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Diare ini diawali dengan cair kemudian pada hari berikutnya muncul darah dengan maupun tampa lendi,sakit perut yang di ikuti muncul tenasmus panas disertai hilang nafsu makan dan badan terasa lemah. 3) Diare Persisten Adalah diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare tersebut adalah kerusakan mukosa usus.diare persisten ini merupakan istilah yang dipakai di lur negri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus. Penyebab diare ini sama dengan diare akut. Sebagai akibat diare akut maupun diare bermasalah akan terjadi kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis, metabolic, hipokalemi, dan sebagainya), gangguan gizi akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikemia, gangguan sirkulasi darah. Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan beberapa jenis

gastroenteritis dan diare sebagai berikut:

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 5

a. Diare akibat virus, misalnya influenza perut dan travellers diarrhoea yang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel sel mukosa usus yang menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air dan elektrolit memegang peranan. b. Diare bakterial invasif (bersifat menyerbu). Kuman pada keadaan tertentu menjadi invasive dan menyerbu ke dalam mukosa, dimana terjadi perbanyakan diri sambil memebentuk toksin. Enterotoksin ini dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala hebat, seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejang-kejang. c. Diare parasiter akibat protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia. Yang pertama membentuk enterotoksin pula. d. Akibat penyakit, misalnya Irritable Bowel Syndrome (ISM), kanker colon dan infeksi-HIV. Juga akibat gangguan-gangguan seperti alergi terhadap makanan/minuman, protein susu sapi dangluten serta intoleransi untuk laktosa karena defisiensi enzim lactase. e. Akibat obat, yaitu digoksin, kinidin, garam-Mg dan litium, sorbitol, betablockers, perintang-ACE, reserpin, sitostatika dan antibiotika berspektrum luas (ampisilin, amoksisilin, sefalosporin, tetrasiklin). f. Akibat keracunan makanan. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang besifat infeksi atau toksis dan diperkirakan atau disebabkan oleh mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar (Tjay,2007). Pengobatan Diare Prinsip pengobatan diare adalah: Mencegah pengeluaran air berlebihan, elektrolit dan gangguan asam basa Menyembuhkan gejala Mengatur gangguan sekunder penyebab diare (Sukandar, dkk, 2010) Berdasarkan khasiat farmakologisnya obat-obat antidiare dapat pula dibagi dalam 5 golongan besar, yaitu obat-obat adsorben, obat-obat antisekretorik, obatobat antimotilitas (antiperistaltik), obat-obat antikolinergik, dan obat-obat antimikroba. (Sunoto, Tanpa tahun).

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 6

1. Obat-obat adsorben Termasuk ke dalam golongan obat-obat adsorben atau pengeras tinja ini adalah kaolin, pektin, campuran kaolin-pektin, karbon aktif, tabonal, magnesium aluminium silikat, dan sebagainya. Khasiat obat-obat ini adalah mengikat atau menyerap toksin, bakteri dan hasil-hasil metabolismenya, melapisi permukaan mukosa usus sehingga toksin dan mikroorganisme tidak dapat merusak serta menembus mukosa usus. (Sunoto, Tanpa tahun). Obat-obat tradisional seperti daun jambu, jambu, salak, gambir, kunir dan obat tradisional lainnya kiranya juga mengandung bahan adsorben ini terutama tanin. (Sunoto, Tanpa tahun).

2. Obat-obat antisekretorik Penyerapan cairan dan elektrolit terjadi di daerah epitel jonjot usus sedangkan sekresi cairan dan elektrolit terjadi di daerah kripta. Dalam keadaan normal (sehat) volume cairan dan elektrolit yang diserap dan disekresikan kurang lebih seimbang. Tetapi bila terdapat infeksi oleh bakteri-bakteri yang mengeluarkan toksin (misal : heat labile toxin dari Enterotoxigenic E. coli atau cholera enterotoxin) maka aktivitas enzim adenil siklase dapat dipengaruhi sehingga menghasilkan cAMP (cyclic Adenosine Monophosphate) yang berlebihan. Absorpsi air dan elektrolit akan dihambat oleh cAMP sedangkan sekresi air dan elektrolit akan dirangsang sehingga akan menyebabkan diare sekretorik yang hebat (profuse diarrhoea). (Sunoto, Tanpa tahun). Toksin lain seperti heat stable toxin dari ETEC juga akan menyebabkan diare sekretorik melalui perubahan aktivitas enzim guanil siklase yang dapat menghasilkan peningkatan cGMP (cyclic Guanosine Monophosphate). Obat-obat anti inflamasi seperti asetosal (Aspirin), indometasin, bismut subsalisilat dan glukokortikoid termasuk obat antisekretorik karena mempunyai khasiat yang berlawanan dengan cAMP dan cGMP yaitu meningkatkan penyerapan air dan elektrolit di daerah epitel dan menghambat sekresi air dan elektrolit di daerah kripta. Klorpromazin, suatu major tranquilizer dan kolestiramin, suatu anion exchange resin termasuk pula obat anti sekretorik yang kuat. (Sunoto, Tanpa tahun).

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 7

Asetosal dapat mengurangi volume tinja penderita diare. Mekanisme berkurangnya diare oleh asetosal disebabkan karena obat ini dapat menghambat sekresi prostaglandin (PGF) sehingga kadarnya di dalam plasma rendah, karenanya asetosal disebut pula Prostaglandin synthetase inhibitor (selain asetosal juga loperamid). (Sunoto, Tanpa tahun). 3. Antimotilitas (anti peristaltik) Obat-obat derivat opium seperti tingtur opiat, kodein fosfat dan opiat sintesis seperti difenoksilat, difenoksin dan loperamid selain mempunyai efek antimotilitas juga mempunyai efek antisekretorik. Di antara obat-obat tersebut di atas loperamid adalah derivate opium yang paling banyak digunakan. Loperamid dalam percobaan terbukti dapat meningkatkan absorpsi air, natrium dan klorida. Obat ini juga dapat menghambat toksin kolera, heat stable enterotoxin ETEC dan prostaglandin. Selain itu loperamid juga berperan pada metabolisme kalsium dalam membran sel serta penglepasan neurotransmitor. (Sunoto, Tanpa tahun). 4. Antikolinergik Obat-obatan golongan ini kurang bermanfaat pada pengobatan diare. Trisiklamol misalnya, mempunyai efektivitas yang lebih rendah daripada kodein dalam pengobatan diare kronik non spesifik. Begitu pula mefenzolat bromida tidak lebih baik daripada plasebo dalam pengobatan diare akut. (Sunoto, Tanpa tahun). 5. Antimikroba Antimikroba atau antibiotika dan anti parasit hanya berguna untuk diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Diare karena sebab lain seperti sindroma malabsorpsi, infeksi oleh virus, infeksi oleh parasit selain oleh entamuba histolitika dan giardia larnblia (misal jamur) tidak dapat disembuhkan oleh antibiotika. Sebagian besar etiologi diare adalah bukan oleh infeksi bakteri, karena itu hanya sebagian kecil saja yang memerlukan antibiotika. (Sunoto, Tanpa tahun). Beberapa mekanisme obat antidiare adalah melapisi usus yang teriritasi dan bekerja sebagai protektif (demulcents), mengabsorpsi substansi yang toxic dari usus (adsorbents) atau menyusutkan gembung atau jaringan yang meradang

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 8

(astringent). Pada situasi tertentu, sedative dan antispasmodik bisa diberikan. (Anonim 3, 2008).

2.3.

Obat-obat Diuresis Diuresis adalah penambahan volume urin yang diproduksi dan jumlah (kehilangan) zat-zat terlarut dan air. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukkan air. Diuretika merupakan zat-zat yang dapat memperbanyak

pengeluaran kemih (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal . Obat-obat lain yang menstimulasi diuresis dengan mempengaruhi ginjal secara tak langsung tidak termasuk dalam definisi ini seperti zat-zat yang memperkuat kontraksi jantung (digoksin, teofilin) , memperbesar volume darah (dekstran) atau merintangi sekresi hormon antidiuretik ADH ( air, alkohol). Cara kerjanya menghambat reabsorbsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme sehingga terjadi peningkatan ekskresi natrium dan elektrolit-elektrolit yang berakibat terjadi peningkatan volume urin. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretic : 1. Pertama, tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada

daerah yang reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. 2. Status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis

hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap diuretik. 3. Interaksi antara obat dengan reseptor .Kebanyakan bekerja dengan

mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak. Pengaruh obat diuretic terhadap ekskresi zat terlarut penting artinya untuk menentukan tempat kerja diuretic. Secara umum kerja diuretik di bagi menjadi dua golongan besar : 1. Diuretik osmotic

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 9

Istilah diuretic Osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat diskskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic apabila memenuhi 4 syarat: 1. 2. 3. 4. 2. difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. tidak atau hanya sedikit direbasorbsi sel tubulus ginjal. secara farmakologis merupakan zat yang inert, dan umumnya resisten terhadap perubahan-perubahan metabolic. mekanisme transport elektrolit di tubuli ginjal . Obat

Penghambat

yang yang menghambat elektrolit di tubuli ginjal antara lain :


a. b. c. d.

Penghambat karbonik Anhidrase Dienzitidiazida Diuretik hemat kalium Diuretik kuat

Proses Diuresis Dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler), yang terletak di bagian luar ginjal (cortex), yang bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air, garam-garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari penyaringan dan berisi banyak air serta elektrolit akan ditampung dalam wadah (kapsul Bowman) dan disalurkan ke pipa kecil. Disini terjadi penarikan kembali secara aktif air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh (glukosa, ion-Na+ dll). Zat ini dikembalikan ke darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli. Sedang ampas yang tersisa dirombak melalui metabolisme protein (ureum) untuk sebagian diserap kembali. Akhirnnya, filtrat dari semua tubuli ditampung di ductus colligens (penampung) yang disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun sebagai urin. Ultrafiltrat yang dihasilkan perhari sekitar 180 liter (dewasa) yang dipekatkan sampai hanya tersisa lebih kurang 1 liter air kemih. Sisanya, lebih dari 99% direabsorpsi dan dikembalikan pada darah. Dengan demikian, suatu obat yang cuma sedikit mengurangi reabsorpsi tubulerm misalnya dengan 1%, mampu

melipatgandakan volume kemih (menjadi Ca 2,6 liter).

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 10

Mekanisme Kerja Diuretika Kebanyakan bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak. Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli, tetapi juga ditempat lain, yakni: 1. Tubuli proksimal. Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang di sini direabsorpsi secara aktif untuk 70%, antara lain ion Na+ dan air, begitu pula glukosa dan ureum. Karena reabsopsi berlangsung secara proporsional, maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plama. Diuretik osmosis bekerja di tubulus proksimal dengan merintangi rabsorpsi air dan natrium. 2. Lengkungan Henle. Di bagian menaiknya Ca 25% dari semua ion Cl yang telah difiltrasi direabsorpsi secara aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dari Na+ dan K+, tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan bekerja terutama di sini dengan merintangi transpor Cl- begitupula reabsorpsi Na+, pengeluaran air dan K+ diperbanyak. 3. Tubuli distal. Dibagian pertamanya, Na+ direabsorpsi secara aktif tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair dan lebih hipotonis. Senyawa tiazida dan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak ekskresi Na + dan Cl- sebesar 5-10%. Pada bagian keduanya, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau NH4+ proses ini dikendalikan oleh hormon anak ginjal aldosteron. Antagonis aldosteron dan zat-zat penghemat kalium bekerja di sini dengan mengekskresi Na+ dan retensi K+. 4. Saluran Pengumpul. Hormon antidiuretik (ADH) dan hipofise bekerja di sini dengan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini. Penggolongan diuretika 1. Diuretika Lengkungan. Obat-obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan dalam keadaan akut, misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memiliki kurva dosis-efek

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 11

curam, yaitu bila dosis dinaikkan efeknya senantiasa bertambah. Contoh obatnya adalah furosemida yang merupakan turunan sulfonamid dan dapat digunakan untuk obat hipertensi. Mekanisme kerjanya dengan menghambat reabsorpsi Na dan Cl di bagian ascending dari loop Henle (lengkungan Henle) dan tubulus distal, mempengaruhi sistem transport Clbinding, yang menyebabkan naiknya ekskresi air, Na, Mg, dan Ca. Contoh obat paten: frusemide, lasix, impugan. 2. Derivat Thiazida. Efeknya lebih lemah dan lambat, juga lebih lama, terutama digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung. Memiliki kurva dosis-efek datar yaitu jika dosis optimal dinaikkan, efeknya (diuresis dan penurunan tekanan darah) tidak bertambah. Contoh obatnya adalah hidroklorthiazida adalah senyawa sulfamoyl dari turunan klorthiazida yang dikembangkan dari sulfonamid. Bekerja pada tubulus distal, efek diuretiknya lebih ringan daripada diuretika lengkungan tetapi lebih lama yaitu 6-12 jam. Banyak digunakan sebagai pilihan pertama untuk hipertensi ringan sampai sedang karena daya hipitensifnya lebih kuat pada jangka panjang. Resorpsi di usus sampai 80% dengan waktu paruh 6-15 jam dan diekskresi lewat urin secara utuh. Contoh obat patennya adalah Lorinid, Moduretik, Dytenzide. 3. Diuretika Penghemat Kalium. Efek obat-obat ini lemah dan khusus digunakan kombinasi dengan diuretika lainnya untuk menghemat kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorpsi Na dan ekskresi K, proses ini dihambat secara kompetitif oleh antagonis alosteron. Contoh obatnya adalah spironolakton yang merupakan pengambat aldosteron mempunyai struktur mirip dengan hormon alamiah. Kerjanya mulai setelah 2-3 hari dan bertahan sampai beberapa hari setelah pengobatan dihentikan. Daya diuretisnya agak lemah sehingga dikombinasikan dengan diuretika lainnya. Efek dari kombinasi ini adalah adisi. Pada gagal jantung berat, spironolakton dapat mengurangi resiko kematian sampai 30%.

Resorpsinya di usus tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. Dalam hati, zat ini diubah menjadi metabolit aktifnya, kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja, dalam metabolit aktif waktu

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 12

paruhnya menjadi lebih panjang yaitu 20 jam. Efek sampingnya pada penggunaan lama dan dosis tinggi akan mengakibatkan gangguan potensi dan libido pada pria dan gangguan haid pada wanita. Contoh obat paten: Aldacton, Letonal. 4. Diuretika Osmosis. Obat-obat ini direabsorpsi sedikit oleh tubuli sehingga reabsorpsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmotik dengan ekskresi air tinggi dan ekskresi Na sedikit. Contoh obatnya adalah Mannitol dan Sorbitol. Mannitol adalah alkohol gula yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan getahnya. Efek diuresisnya pesat tetapi singkat dan dapat melintasi glomeruli secara lengkap, praktis tanpa reabsorpsi pada tubuli, sehingga penyerapan kembali air dapat dirintangi secara osmotik. Terutama digunakan sebagai infus untuk menurunkan tekanan intraokuler pada glaukoma. Contoh obat patennya adalah Manitol. 5. Perintang Karbonanhidrase. Zat ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli proksimal, sehingga disamping karbonat, juga Na dan K diekskresikan lebih banyak, bersamaan dengan air. Khasiat diuretiknya lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie maka perlu digunakan secara berselang-seling. Asetozolamid diturunkan sulfanilamid. Efek diuresisnya berdasarkan penghalangan enzim karboanhidrase yang mengkatalis reaksi berikut: CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3+ Akibat pengambatan itu di tubuli proksimal, maka tidak ada cukup ion H+ lagi untuk ditukarkan dengan Na sehingga terjadi peningkatan ekskresi Na, K, bikarbonat, dan air. Obat ini dapat digunakan sebagai obat antiepilepsi, obat penyakit ketinggian. Resorpsinya baik dan mulai bekerja dalam 1-3 jam dan bertahan selama 10 jam. Waktu paruhnya dalam plasma adalah 3-6 jam dan diekskresikan lewat urin secara utuh. Obat patennya adalah Miamox. Penggunaan Diuretika, digunakan pada semua keadaan di mana dikehendaki peningkatan pengeluaran air, khususnya pada hipertensi dan gagal jantung.

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 13

1.

Hipertensi Guna mengurangi darah seluruhnya hingga tekanan darah (tensi)

menurun. Derivat thiazida digunakan untuk indikasi ini. Diuretika lengkungan pada jangka panjang ternyata lebih ringan efek

antihipertensifnya. Mekanisme kerjanya berdasarkan penurunan dayatahan pembuluh perifer. Dosis yang diperlukan untuk efek antihipertensi adalah jauh lebih rendah daripada dosis diuretis. Thiazida memperkuat efek obat-obat hipertensi beta blocker dan ACE inhibitor, sehingga sering dikombinasikan dengannya. 2. Gagal jantung (decompensatio cordis) Cirinya adalah peredaran tak sempurna dan terdapat cairan berlebihan di jaringan, sehingga air tertimbun dan terjadi udema, misalnnya pada paru-paru. Begitu pula pada sindro nefrotis yang bercirikan udema tersebar akibat proteinuria hebat karena permeabilitas dipertinggi dari membran glomeruli. Pada busung perut dengan air tertumpuk di rongga perut akibat cirrosis hati. Untuk indikasi ini terutama digunakan diuretika lengkungan, dalam keadaan parah akut secara intravena. Thiazida dapat memperbaiki efeknya pada pasien dengan insufiensi ginjal. Thiazid juga digunakan dalam situasi di mana diuresis pesat bisa mengakibatkan kesulitan, seperti pada hipermetrofi prostat.

Efek Samping 1. Hipokaliemia, yaitu kekurangan kalium dalam darah. Semua diuretika dengan tempat kerja di bagian muka tubuli distal memperbesar ekskresi ion K+ dan H+ karena ditukarkan dengan ion Na+. Akibatnya adalah kadar kalum plasma dapat turun di bawah 3,5 mml/liter. Keadaan ini terutama terjadi pada penanganan gagal jantung dengan dosis tinggi furosemida atau bumetamida, mungkin bersama thiazida. Gejalanya berupa kelemahan otot, kejang-kejang, obstipasi, anoreksia, kadangkadang aritmia jantung. Pasien jantung dengan gangguan ritme atau yang diobati dengan digitalis harus dimonitor dengan seksama, karena

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 14

kekurangan kalium dapat memperhebat keluhan dan meningkatkan toksisitas digoksin. 2. Hiperurikemia akibat retensi asam urat dapat terjadi pada semua diuretika, kecuali amirolida. Diduga disebabkan oleh adanya persaingan antara diuretikum dengan asam urat mengenai transpornya di tubuli. Terutama klortalidon memberikan resiko lebih tinggi untuk retensi asam urat dan serangan encok pada pasien yang peka. 3. Hiperglikemia dapat terjadi pada pasien diabetes, terutama pada dosis tinggi, akibat dikuranginya metabolisme glukosa berhubungan dengan sekresi insulin yang ditekan. Terutama thiazida dan efek antidiabetika oral diperlemah olehnya. 4. Hiperlipidemia ringan dapat terjadi dengan peningkatan kadar kolesterol total dan trigliserida. Pengecualian adalah indapamida yang praktis tidak meningkatnya kadar lipid tersebut. 5. Hiponatriema. Akibat diuresis yang terlalu pesat dan kuat oleh diuretika lengkungan, kadar Na plasma dapat menurun keras dengan akibat hiponatriema. Gejalanya berupa gelisah, kejang otot, haus, letargi, dan kolaps. 6. Lain-lain: gangguan lambung-usus, rasa letih, nyeri kepala, pusing, dan jarang reaksi alergis kulit. Ototoksisitas dapat terjadi pada penggunaan furosemida/bumetemida dalam dosis tinggi.

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 15

BAB III METODE KERJA

3.1

Alat dan Bahan Alat yang digunakan : 1. Spuit 5 ml 2. Timbangan 3. Jarum sonde oral 4. Stopwatch 5. Alat-alat bedah 6. Papan fiksasi 7. Sarung tangan 8. Toples pengamatan Bahan yang digunakan : 1. 2 ekor mencit 2. 10 ml air 3. 1 ml NaCl fisiologis 4. 1 ml karbon aktif yang telah dilarutkan dalam gom atau CMC 5. Eter 6. Kertas Saring

3.2

Cara Kerja Obat-obat Anti Diare a. Disiapkan 1 ekor tikus sebagai hewan coba b. Diamati keadaan biologi dari hewan coba meliputi: bobot badan, frekuensi jantung, laju nafas, reflex, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri dan gejala lainnya bila ada. c. Diberikan NaCl fisiologis 1 ml disuntikkan secara oral dengan cara dimasukkannya jarum sonde ke dalam kerongkongan d. Didiamkan selama 45 menit e. Diberikan karbon aktif yang sudah dilarutkan dalam gom arab atau CMC

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 16

f. Didiamkan selama 20 menit g. Dimatikan hewan coba memakai eter h. Dilakukan fiksasi diatas papan fiksasi

Obat-obat Diuresis a. Disiapkan 1 ekor tikus sebagai hewan coba b. Diamati keadaan biologi dari hewan coba meliputi: bobot badan, frekuensi jantung, laju nafas, reflex, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri dan gejala lainnya bila ada. c. Diberikan 10 ml air secara oral d. Tikus didiamkan selama 1 jam e. Diukur massa urin yang tertampung pada kertas saring

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Data Pengamatan Tabel 1. Tabel pengamatan obat anti diare dan diuresis Normal Pengamatan Obat-obat antidiare (NaCl Fisiologis) Bobot Badan (g) Frekuensi Jantung (x/menit) Laju Nafas (x/menit) Refleks Tonus Otot Kesadaran Rasa Nyeri Salivasi Urinasi Defekasi Konvulsi 83,3 56 120 +++ +++ +++ +++ Obat-obat diuresis (Air) 75,5 60 84 +++ +++ +++ +++ -

NaCl Fisiologis Diketahui : Panjang usus = 111 cm (a)

Panjang aliran karbo adsorben = 41 cm (b) Perhitungan : Pergerakan antidiare = x 100% = x 100%

= 36,93 %

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 18

Air Diketahui: Jumlah air yang disuntikan= 10ml Kertas kosong = 0,6472 gr Kertas isi (urin) = 0,6596 gr Perhitungan bobot urin: Bobot urin = Kertas isi- kertas kosong = 0,6596 gr - 0,6472 gr = 0,0124 gr

Tabel 2. Perbandingan presentase obat anti diare dan bobot kertas saring pada uji obat Diuresis Obat-obat antidiare (%) Kelompok Nacl fisiologis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 36,93 3,278 Air teh pekat 60,46 55,22 Diapet 75,61 20,40 Loperamid 8,917 78,72 4,4 77,10 Obat-obat diuresis (gr) Air 0,6596 0,6438 1,6988 Kafein 0,5002 1,3655 0,6633 0,5998 Furosemid 0,6496 0,6904 1,391 -

4.2. Pembahasan a. Obat-obat Anti Diare Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal sehingga penderita dapat mengalami kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Sukandar,

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 19

dkk, 2010). Diare disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, enterotoksin, penyakit, obat-obatan, makanan, pengaruh psikis dan gangguan gizi serta enzim tertentu. Diare terjadi karena meningkatnya peristaltik usus, sehingga perlintasan chymus dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Selain itu juga karena bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya keseimbangan absorpsi dan sekresi. Terjadinya gangguan keseimbangan ini, sering terjadi pada keadaan radang lambung-usus yang disebabkan oleh kuman atau toksinnya. Untuk mengobati diare dapat digunakan anti diare. Anti diare bekerja dengan menurunkan motilitas usus sehingga gerakan peristaltik usus menurun dan usus dapat menyerap cairan dengan normal sehingga feses menjadi padat. Tidak hanya dengan obat-obat anti diare, pengobatan diare dapat dilakukan dengan terapi pengganti cairan, elektrolit, dan kalori, obat antibakteri atau antiamuba, obat penghambat peristaltik usus, obat penghambat spasme / kejang dan nyeri serta obat yang menenangkan. Dalam praktikum kali ini, zat aktif yang digunakan sebagai obat anti diare antara lain NaCl fisiologis, teh pahit, loperamid dan diapet. Berdasarkan data yang didapatkan, efek sebagai obat anti diare yang paling efektif adalah loperamid. Loperamid adalah opiod yang digunakan sebagai obat antimotilitas yang secara luas digunakan sebagai terapi simptomatis pada diare akut, ringan sampai sedang. Loperamid menstimulasi aktivasi reseptor menyebabkan hiperpolarisasi pada neuron mienterikus dan meningkatkan konduktansi

dengan

kaliumnya. Hal tersebut menghambat pelepasan asetilkolin dari pleksus mienterikus dan menurunkan motilitas usus. Sedangkan untuk diapet (yang terbuat dari ekstrak daun jambu biji ) dan teh pekat merupakan obatobat yang besifat sebagai absorben. Adsorben mengikat bakteri dan toksin sehingga dapat dibawa melalui usus dan dikeluarkan bersama tinja. Karena kedua obat anti diare tersebut memiliki bahan adsorben yaitu tanin yang dapat menurunkan motilitas usus. Selain kedua obat tersebut, karbon aktif juga merupakan obat-obat absorben yang digunakan sebagai anti diare. Untuk NaCl fisiologis hanya besifat sebagai elektrolit untuk terapi dan

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 20

sebagai pertolongan pertama dalam kasus diare agar cairan tubuh tetap terjaga dan tidak kekurangan. NaCl tidak bersifat mengobati, tetapi bersifat mencegah agar diare yang dialami tidak menjadi parah. Pergerakan usus dengan menggunakan NaCl fisiologis sebagai anti diare sebesar 36,93%. Presentase ini menunjukkan bahwa NaCl fisiologis yang digunakan kurang efektif sebagai anti diare.

b. Obat Diuresis Pada praktikum ini, dilakukan uji efek diuresis dengan

menggunakan air, kafein dan furosemid. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertanma menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan edema yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa, sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal. Akibatnya terjadi penurunan curah jatung dan tekanan darah. Berdasarkan data yang didapatkan, furosemid merupakan diuretik kuat. Diuretik ini bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit Na+/K+/2Cl- di ansa henle asendens (loop diuretik). Obat ini merupakan salah satu obat standar untuk pengobatan gagal jantung dan edema paru-paru. Tetapi obat ini jarang digunakan sebagai antihipertensi kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan gagal jantung. Sebab efeknya lebih kuat dengan mula kerjanya yang lebih cepat. Sedangkan kafein juga termasuk diuretik. Kafein merangsang produksi xantin sehingga meninggikan produksi urin. Pada kafein, efek diuretik lebih lemah dari furosemid. Penggunaan air dalam praktikum ini hanya sebagai pembanding dengan diuretik yang lain seperti furosemid dan kafein. Sebab air bukanlah obat diuretik. Tetapi air dapat pula menghambat reabsorpsi air dan elektrolit sehingga menimbulkan efek diuresis. Efek diuresis dengan menggunakan air lebih sedikit dari furosemid dan kafein.

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 21

BAB V KESIMPULAN

Dapat disimpulkan, obat anti diare adalah obat yang dapat menurunkan motilitas usus sehingga gerak peristaltik usus diperlambat dan penyerapan cairan pada cymus dapat maksimal dan membentuk konsistensi feses yang padat. Obat anti diare yang memberikan keefektifan dalam mengatasi diare berturut-turut adalah loperamid,diapet,teh pekat dan NaCl fisiologis. Sedangkan diuretik adalah obat yang dapat meningkatkan jumlah volume urine yang diproduksi. Diuretik yang memberikan efek diuresis yang kuat adalah Furosemid dan Kafein.

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 22

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapi. 2009. Farmakologi dan Terapi. UI press : Jakarta (Senin, 24 Juni 2013, 19.45) Neal,M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga Medical Series (Senin,24 Juni 2013,20.19) Syamsudin,Darmono.2011.Farmakologi Eksperimental.UI Press: Jakarta (Minggu,23 Juni 2013, 18:20) Syarif, Amir, et al.. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Gaya Baru. (Sabtu, 22 Juni 2013, 21:20) Tan Hoan Tjay dan Kirana Raharja. 2005. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Gramedia. http://medicastore.com/apotik_online/obat_jantung/obat_diuretik.htm,di akses pada tanggal 22 Juni 2013 http://www.scribd.com/doc/93132849/DIURETIK-FARMAKOLOGI,di akses pada tanggal 22 Juni 2013

Obat-obat Anti Diare dan Obat-obat Diuresis| 23