Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENGINDRAAN PADA KASUS KATARAK DI RUANG POLI

MATA RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

I.

KONSEP DASAR PENYAKIT A. Pengertian Katarak Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer, 2000 : 62) Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya yang disebabkan oleh berbagai keadaan. (Sidarta Ilyas, dkk, 2008) Katarak adalah opasitas lensa kristalina atau lensa yang berkabut (opak) yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan, tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak congenital). (Brunner & Suddarth: 2002) Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009) Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000) Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolism normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009).

B. Etiologi Katarak Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000): 1. Usia lanjut dan proses penuaan 2. Congenital atau bisa diturunkan 3. Pembentukan katarak dipercepat oleh factor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya. 4. Katarak bias disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolic (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid). Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti: 1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata. 2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/ gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus. 3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi. 4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol. 5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).

C. Manifestasi Klinis Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain: 1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi. 2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari

Gejala objektif biasanya meliputi: 1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan

terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup. 2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Penglihatan

seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. 3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih, sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.

Gejala umum gangguan katarak meliputi: 1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek. 2. Gangguan penglihatan bisa berupa: a. Peka terhadap sinar atau cahaya. b. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia). c. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca. d. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. 3. Gejala lainya adalah : a. Sering berganti kaca mata b. Penglihatan sering pada salah satu mata

D. Klasifikasi Katarak Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut : 1. Katarak perkembangan ( developmental ) dan degenerative. 2. Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata. 3. Katarak komplikata (sekunder) : penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan pada lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata. 4. Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam : a. Katarak kongeniatal, Katarak yang di temukan pada bayi ketika lahir (sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun) b. Katarak juvenile, Katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan di bawah usia 40 tahun c. Katarak presenil, Katarak sesudah usia 30-40 tahun

d. Katarak senilis, Katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Jenis katarak ini merupakan proses degenerative (kemunduran) dan yang paling sering ditemukan. Adapun tahapan katarak senilis adalah : 1) Katarak insipien : pada stadium insipien (awal) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Penderita pada stadium ini seringkali tidak merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatanya sehingga cenderung diabaikan. 2) Katarak immataur : lensa masih memiliki bagian yang jernih 3) Katarak matur : Pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus berlangsung dan bertambah sampai menyeluruh pada bagian lensa sehingga keluhan yang sering disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini adalah kesulitan saat membaca, penglihatan menjadi kabur, dan kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari. 4) Katarak hipermatur : terdapat bagian permukaan lensa yang sudah merembes melalui kapsul lensa dan bias menyebabkan perdangan pada struktur mata yang lainya.

E. Patofisiologi Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan.Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna seperti kristal salju. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influx air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama.

F. Pathway Katarak

G. Pemeriksaan Diagnostik 1. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit system saraf, penglihatan ke retina. 2. Lapang Penglihatan : penuruan mungkin karena massa tumor, karotis, glaukoma. 3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg) 4. Pengukuran Gonioskopi : membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma. 5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaukoma 6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan. 7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi. 8. EKG, kolesterol serum, lipid 9. Tes toleransi glukosa : kotrol DM 10. Keratometri. 11. Pemeriksaan lampu slit. 12. A-scan ultrasound (echography). 13. Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi & implantasi. 14. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.

H. Penatalaksanaan 1. Pencegahan Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C, vitamin B2, vitamin A dan vitamin E. Selain itu, untuk mengurangi pajanan sinar matahari (sinar UV) secara berlebih, lebih baik menggunakan kacamata hitam dan topi saat keluar pada siang hari. 2. Penatalaksanaan medis Ada dua macam teknik yang tersedia untuk pengangkatan katarak : a. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98% pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan. Prosedur ini meliputi pengambilan kapsul anterior, menekan keluar nucleus lentis, dan mengisap sisa fragmen kortikal lunak menggunakan irigasi dan alat hisap dengan meninggalkan kapsula posterior

dan zonula lentis tetap utuh. Selain itu ada penemuan terbaru pada ekstrasi ekstrakapsuler, yaitu fakoemulsifikasi. Cara ini memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan menggunakan alat ultrason frekwensi tinggi untuk memecah nucleus dan korteks lensa menjadi partikel yang kecil yang kemudian di aspires melalui alat yang sama yang juga memberikan irigasi kontinus.

b. Ekstraksi katarak intrakapsuler Pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula dipisahkan, lensa diangkat dengan cryoprobe yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis. Ketika cryoprobe diletakkan secara langsung pada kapsula lentis, kapsul akan melekat pada probe. Lensa kemudian diangkat secara lembut. Namun, saat ini pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan. Pengangkatan lensa memerlukan koreksi optikal karena lensa kristalina bertanggung jawab terhadap sepertiga kekuatan focus mata.

Koreksi optikal yang dapat dilakukan diantaranya: 1) Kaca Mata Apikal Kaca mata ini mampu memberikan pandangan sentral yang baik, namun pembesaran 25% - 30% menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer yang menyebabkan kesulitan dalam memahami relasi spasial, membuat benda-benda Nampak jauh lebih dekat dan mengubah garis lurus menjadi lengkung. Memerlukan waktu penyesuaian yang lama ampai pasien dapat mengkoordinasikan gerakan, memperkirakan jarak, dan berfungsi aman dengan medan pandang yang terbatas. 2) Lensa Kontak Lensa kontak jauh lebih nyaman dari pada kaca mata apakia. Lensa ini memberikan rehabilitasi visual yang hamper sempurna bagi mereka yang mampu menguasai cara memasang, melepaskan, dan merawat lensa kontak. Namun bagi lansia, perawatan lensa kontak menjadi sulit, karena kebanyakan lansia mengalami kemunduran ketrampilan, sehingga pasien memerlukan kunjungan berkala untuk pelepasan dan pembersihan lensa. 3) Implan Lensa Intraokuler ( IOL ) IOL adalah lensa permanen plastic yang secara bedah diimplantasi ke dalam mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan ukuran normal, karena IOL mampu menghilangkan efek optikal lensa apakia. Sekitar 95% IOL di pasang di kamera posterior, sisanya di kamera anterior. Lensa kamera anterior di pasang pada pasien yang menjalani ekstrasi intrakapsuler atau yang kapsul posteriornya rupture tanpa sengaja selama prosedur ekstrakapsuler.

I.

Komplikasi 1. Glaucoma 2. Uveitis 3. Kerusakan endotel kornea 4. Sumbatan pupil 5. Edema macula sistosoid 6. Endoftalmitis 7. Fistula luka operasi 8. Pelepasan koroid 9. Bleeding

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Keperawatan 1. Identitas / Data demografi Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga, dan keterangan lain mengenai identitas pasien. 2. Riwayat penyakit sekarang Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain: a. Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak) . b. Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah c. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film d. Perubahan daya lihat warna e. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata f. Lampu dan matahari sangat mengganggu

g. Sering meminta ganti resep kaca mata h. Lihat ganda i. j. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat ( hipermetropia) Gejala lain juga dapat terjadi pada kelainan mata lain

3. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti : a. DM b. Hipertensi

c. pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak. d. Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, e. ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin. f. Kaji riwayat alergi

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress. 5. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi Dalam inspeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah dengan melihat lensa mata melalui senter tangan (penlight), kaca pembesar, slit lamp, dan oftalmoskop sebaiknya dengan pupil berdilatasi. Dengan penyinaran miring ( 45 derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh ( iris shadow ). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedang bayangan kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada katarak matur. 6. Pemeriksaan Diagnostik a. Kartu mata Snellen / mesin telebinokular ( tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan lensa, system saraf atau penglihatan ke retina ayau jalan optic. b. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme. c. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemi sistemik / infeksi d. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan aterosklerosis. e. Tes toleransi glukosa / FBS : menentukan adanya/ control diabetes.

B. Diagnosa Keperawatan 1. Pre operasi a. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan

gangguan penerimaan sensori/status organ indera.

b. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan, kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler. c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif. d. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan. e. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan. 2. Post operasi a. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi. b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasive insisi jaringan tubuh. c. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan

gangguan penerimaan sensori/status organ indera. d. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan-kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.

C. Intervensi Keperawatan 1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan

gangguan penerimaan sensori/status organ indera. a. Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. b. Kriteria Hasil : Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

c. Intervensi Tentukan ketajaman penglihatan, kemudian catat apakah satu atau dua mata terlibat. R/ : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut. Observasi lingkungan. R/ : Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan. tanda-tanda disorientasi, Orientasikan klien tehadap

Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh. R/ : Komunikasi yang disampaikan dapat lebih mudah diterima dengan jelas.

Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata. R/ : Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator.

Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang lebih 25 persen, penglihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada. R/ : membantu penglihatan pasien

Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan /posisi yang tidak dioperasi. R/ : memudahkan klien untuk berkomunikasi

2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan, kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler. a. Tujuan: Menyatakan pemahaman terhadap factor yang terlibat dalam kemungkinan cedera. b. Kriteria hasil : Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan factor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera. Mengubah lingkungan sesuai dengan indikasi untuk meningkatkan keamanan. c. Intervensi Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata. R/ : kondisi mata post operasi mempengaruhi visus pasien Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan. R/ : posisi menentukan tingkat kenyamanan pasien

Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok. R/ : aktivitas berlebih mampu meningkatkan tekanan intraokuler mata

Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi. R/ : visus mulai berkurang, resiko cedera semakin tinggi

Minta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tibatiba, selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. R/ : pengumpulan informasi dalam pencegahan komplikasi

Observasi hifema dengan senter sesuai indikasi.

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat,

keterbatasan kognitif. a. Tujuan : Klien menunjukkan pemahaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan. b. Kriteria Hasil : Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alas an tindakan. c. Intervensi Pantau informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa. R/ : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin, beritahu untuk melaporkan penglihatan berawan. Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, missal : nyeri tiba-tiba. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas. Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul, dll.

R/ : Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan tekanan intra okuler. Anjurkan klien tidur terlentang. R/ : Tidur terlentang dapat membantu kondisi mata agar lebih nyaman.

4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan. a. Tujuan/kriteria evaluasi: Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya. Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi. Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang

pembedahan. b. Intervensi Pantau tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan nonverbal. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya. R/ : Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat ditujukan. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien. R/ : Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan akibatnya. R/ : Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan kooperatif Beri penjelasan dan support pada pasien pada setiap melakukan prosedur tindakan. R/ : Mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, Derajat kecemasan akan dipengaruhi peralatan yang akan

digunakan. Bagaimana informasi tentang prosedur penatalaksanaan diterima oleh individu. R/ : Mengurangi perasaan takut dan cemas.

5. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi a. Tujuan : pengurangan nyeri. b. Intervensi : Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai dengan resep. R/ : Pemakaian sesuai dengan resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa. Berikan kompres dingin sesuai dengan permintaan untuk trauma tumpul. R/ : Mengurangi edema akan mengurangi nyeri. Kurangi tingkat pencahayaan. R/ : Tingkat pencahayaan yang lebih rendah akan setelah pembedahan. Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya yang kuat. R/ : Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator

6. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan. a. Tujuan : mampu memenuhi kebutuhan perawatan diri b. Intervensi : Beri instruksi kepada pasien atau orang terdekat mengenal tanda gejala komplikasi yang harus dilaporkan segera kepada dokter. R/ : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut. Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenal teknik yang benar memberikan R/ : Pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera mata. Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan. R/ : Sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendampingan dan teman di rumah Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan. R/ : Memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan.

7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasive insisi jaringan tubuh. Tujuan : a. Tidak terjadi penyebaran infeksi selama tindakan prosedur pembedahan ditandai dengan penggunaan teknik antiseptic dan desinfeksi secara tepat dan benar. b. Intervensi Ciptakan lingkungan ruangan yang bersih dan bebas dari kontaminasi dunia luar. R/ : Mengurangi kontaminasi dan paparan pasien terhadap agen infektious Jaga area kesterilan luka operasi R/ : Mencegah dan mengurangi transmisi kuman. Lakukan teknik aseptik dan desinfeksi secara tepat dalam merawat luka. R/ : mencegah kontaminasi pathogen. Kolaborasi terapi medik pemberian antibiotika profilaksis .R/ : Mencegah pertumbuhan dan perkembangan kuman.

D. Implementasi Keperawatan Pelaksanaan merupakan langkah keempat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. Dalam pelaksanaan rencana tindakan keperawatan terdapat dua jenis tindakan, yaitu tindakan jenis mandiri dan tindakan kolaborasi (Hidayat, 2008)

E. Evaluasi Keperawatan 1. Tidak terjadi penurunan ketajaman penglihatan , ketajaman penglihatan stabil 2. Cedera tidak terjadi 3. Kebutuhan pengetahuan terpenuhi 4. Kecemasan berkurang atau terkontrol 5. Peningkatan aktivitas perawatan diri 6. Infeksi tidak terjadi 7. Nyeri berkurang atau terkontrol

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih bahas : I Made Kariasa. Jakarta : EGC Sidarta Ilyas. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI \ Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa : Agung Waluyo. Jakarta: EGC