Anda di halaman 1dari 7

UNSUR-UNSUR INTRINSIK DRAMA ( Oleh : Tujiyono, S.

Pd ) Guru SMP Negeri 3 Yogyakarta Unsur-Unsur Intrinsik Unsur-unsur intrinsik drama adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman (1996 : 23) ada 7 yakni : 1. Alur. 2. Amanat, 3. Bahasa, 4. Dialog, 5. Latar, 6. Petunjuk teknis, 7. Tema, 8. tokoh. Alur menurut Akhmah Saliman (1996 : 24), alur adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : 1. Perkenalan, 2. Awal masalah, 3. Menuju klimaks, 4. Klimaks, 5. Penyelesaian. Amanat Menurut Akhmad Saliman (1996 : 67) amant adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya. Harimurti Kridalaksana (183) berpendapat amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya. Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut. Bahasa Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68), bahasa yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi. Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style). Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budyaa, dan pendidikan. Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku. Dialog Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita. Latar

Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya. Petunjuk Teknis Petunjuk teknis adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya. Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan. Tema menurut WJS Poerwadarminta (185 : 1040) tema adalah pokok pikiran. Mursal Esten (1990) berpendapat tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan. Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam dramanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang drama. Tokoh Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32). Menurut Akhmad Saliman (1996 : 25 : 27) berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat, 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik, 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, masih menurut Akhmad Saliman (1996 : 27) berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni : 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita, 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita. Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama. Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini. 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik. Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra (Saliman, 1996 : 33). Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama. Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi . 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis

kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial. Drama ialah sejenis sastera yang tercipta untuk dilakon atau dipentaskan. Dengan itu, drama memerlukan pelakon yang bukan sahaja melafazkan dialog yang telah ditetapkan malahan beraksi atau melakukan gerakan. Ciri-ciri drama adalah seperti yang berikut: Mesti ada konfliks Mesti ada aksi Harus dilakonkan Tempoh masa kurang daripada 3 jam Tiada ulangan dalam satu masa Jenis-jenis drama pula adalah seperti yang berikut: Tragedi Komedi Tragi-Komedi Opera Pantonim Bangsawan Tragedi Mengandungi cerita tentang kemalangan dan kesedihan. Komedi Mengutarakan kisah hidup sehari-hari dengan pelbagai peristiwa lucu yang boleh menyebabkan penonton ketawa. Tragi-Komedi Mengandungi unsur-unsur kesedihan dan unsur-unsur lucu. Opera Mengemukakan cerita yang digabungkan dengan muzik. Pantomim Lakonan dipersembahkan melalui gerak badan dan memek muka yang berlebihan untuk menyatakan aksi dan perasaan watak. Bangsawan Para pelakon membentuk dan mengubah sendiri dialog-dialog yang ingin disampaikan.

Contoh drama Aneka tema dan peristiwa bisa dijadikan sebuah drama. Entah itu kisah nyata maupun rekaan, asal dikemas dalam teks dan konsep yang menarik bisa membuat sebuah drama menjadi terlihat menarik. Berikut ini adalah contoh drama persahabatan : Suasana panggung terlihat suram dengan setting sebuah kamar tidur dan terdapat seoang gadis remaja sedang menangis sambil menutup kedua telinganya dengan bantal. Dia adalah Wati, gadis remaja berumur 17th. Di luar kamar terdengar suara pecahan piring dan makian dari Bapak dan Ibunya Wati.Tidak lama kemudian Wati mengambil handphone-nya dan mencoba menghubungi Sita, sabahat karibnya sejak mereka duduk di Bangku SD. Setelah berbicara melalui handphone, Wati mengambil sebuah tas dan mengemasi pakaian dan buku-buku sekolahnya. Dengan keluar melalui jendela kamar, Wati mencoba kabur dari rumahnya. Suasana panggung berubah menjadi setting sebuah ruang tamu. Tampak 2 orang remaja putri yang sedang berbincang. Mereka adalah Wati dan Sita. Wati: Sita, aku sudah benar-benar tidak tahan. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar Sita: Kamu yang sabar ya. Mungkin memang saat ini bapak dan ibumu sedang ada masalah. Berdoa ya semoga masalah beliau segera bisa diatasi Wati: Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benarbenar bercerai, aku harus ikut siapa? aku malu, malu sekali Sita. Sita: Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi sekolahmu. Kita sebentar lagi mau menghadapi Unas lho Wati: Ah biarlah, seandainya aku tidak lulus juga mungkin orang tuaku tidak peduli. Sita: Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Hanya mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi terlihat seperti mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri Wati: Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar? Dari ruangan dalam rumah keluarlah seorang ibu-ibu sambil membawa pisang goreng dan teh manis.. Ibu itu adalah Ibu Dibyo, Ibunya Sita. Ibu Dibyo: Tidak baik bicara seperti itu Wati. Apapun yang terjadi, mereka berdua adalah orang tuamu. Banyak anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan mempunyai orang tua Wati: (sambil menunduk dan menangis) Saya harus bagaimana bu?

Ibu Dibyo: Bersikaplah seperti biasa, tetap menjadi anak yang penurut. Bila ada kesempatan yang tepat, cobalah bicara dengan bapak ibumu, sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar. Wati: akan saya coba bu..

Sita: Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo donk tersenyum lagi (sambil mengusap air mata Wati dan membelai rambut Wati)

Wati: terima kasih Sita, terima kasih bu. Sita, beruntung sekali kamu memiliki Ibu yang sabar. Sita: Lho sejak dulu kan kamu sudah dianggap bagian dari keluargaku. jadi ibuku juga ibumu lho. Benar kan bu? Ibu Wati: Dibyo: Iya benar. malam wati sudah ini ibu saya anggap boleh seperti anak ibu sendiri disini?

Bu,

menginap

Ibu Dibyo: Boleh, tapi kamu harus telp ke rumah dulu. Beritahu Bapak dan Ibumu kalau kamu menginap disini supaya mereka berdua tidak bingung mencarai kamu ada dimana Wati: iya bu, terima kasih

DIALOG PENGERTIAN * Dialog secara etimologi terdiri dari dua kata yang berasl dari bahasa yunani (dia)yang artinya jalan batu cara dan (logos) yang berarti kata sehingga dialog dapat diartikan sebagai bagimana cara manusia dalm mengunakan sebuah kata. . ( sumber:en.wikipedia.org) * Pemikiran David Bohm (1917-1992), seorang fisikawan yang mengembangkan teori komunikasi yang berbasis pada teori kuantum dan teori relativitas, patut dipertimbangkan. Menurutnya, dialog bukan diskusi. Bahkan, dialog berlawanan dengan diskusi yang punya kecenderungan menuju sebuah goal tertentu, mencapai sebuah persetujuan, memecahkan persoalan atau memenangkan opini seseorang. Dialog bukan sebuah teknik untuk memecahkan persoalan atau sarana resolusi konflik. (sumber:kaosblog.com) * Dialog juga dapat diartikan sebagi sebuah percakapan timbal balik antara dua orang atau lebih.(sumber: merriam-webster.com) * Hans-Georg Gadamer melukiskan dialog sebagai proses dua pihak yang saling memahami satu dengan yang lain dimana setiap orang membuka dirinya untuk menerima cara pandang orang lain sebagai hal yang layak dipertimbangkan. (Gadamer 1979:347) (sumber: kaosblog.com) * Dialog sebenarnya menyatakan proses berpikir dan perubahan cara berpikir menjadi proses berpikir yang kolektif. Pada proses dialog saat orag lain berkata sesuatu, pihak lain mendengarkan dan memberikan respon yang menyatakan bahwa ia sependapat dengan orang yang sebelumnya. (sumber : wikipedia.org/bohm_dialogue) * Menurut saya Dialog adalah proses dua pihak yang saling memahami satu dengan yang lain dalam bertukar informasi. DESKRIPSI DIALOG 1. Banyak orang terjebak pada penyamarataan dialog dan diskusi. Lebih parah lagi, meskipun judulnya dialog, yang terjadi adalah debat, baik debat terbuka maupun debat intern dalam diri kita sendiri.Bagi Bohm, tujuan dialog adalah menyingkap ketidaklogisan dalam pemikiran kita. Dengan melakukan itu, sangat mungkin untuk menemukan atau membangun kembali sebuah kesadaran kolektif yang original dan kreatif. Proses dialog adalah proses penyadaran.

Dalam dialog, sekelompok orang dapat mengeksplorasi prasangka-prasangka (a priori, pre-judgments) yang secara halus mengontrol suatu proses komunikasi. Prasangka (ide, keyakinan, perasaan) inilah yang sebenarnya berperan penting dalam menentukan suatu komunikasi sukses atau gagal. Dialog dengan demikian menjadi sarana observasi secara kolektif untuk menyingkap nilai-nilai dan intensi-intensi tersembunyi yang mengontrol perilaku kita. Dalam bahasa Bohm, dialog adalah suatu arena dimana collective learning terjadi yang memunculkan perasaan harmoni, persahabatan dan kreatifitas. Karena kondisi alamiah dialog yang eksploratif, maka menurut Bohm, tidak ada suatu metode yang tetap dan aturan yang baku untuk ditetapkan sebagai dasar dialog. Bagi Bohm, esensi dialog adalah belajar, .not as the result of (consuming a body of information or doctrine imparted by an authority, nor as a means of examining or criticising a particular theory or programme, but rather as part an unfolding process of creative participation between peers. Dalam pemikiran Bohm, beban terberat dalam memulai dialog adalah mengenal pikiran, dorongan dan prasangka yang ada di dalam diri kita. Karenanya, selain mendengarkan orang lain, hal yang tak kalah penting dalam dialog adalah mendengarkan diri kita sendiri (menurut Bohm, mendengar sama pentingnya dengan berbicara). Dalam proses ini kita harus membawa ke permukaan segala reaksi, dorongan, perasaan dan opini sehingga hal-hal tersebut bisa dilihat dan dirasakan dan juga direfleksikan oleh orang lain. Dengan menaruh perhatian pada dorongan dan perasaan yang selama ini begitu kuat mendeterminasi secara bawah sadar bagaimana kita melihat dan bersikap terhadap orang lain maka perasaan itu, layaknya pencuri, akan merasa malu dan melepaskan cengkramannya. Jika tahapan ini sudah bisa dicapai, maka kita akan bisa melihat makna yang lebih dalam yang terbentang dalam proses pemikiran kita dan merasakan struktur yang tidak koheren dari setiap tindakan kita yang secara otomatis selalu kita lakukan. Jika setiap kelompok masyarakat yang berdialog mampu mengungkap setiap prasangka yang tersembunyi itu maka seluruh proses yang mengalir dari pikiran, ke perasaan, ketindakan dapat menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam, makna yang lebih halus, yang membawa ke suatu koherensi baru atau dalam istilah Bohm, collective intelligence. Secara teknis Bohm menyarankan agar peserta dalam proses dialog itu berkisar antara 20 sampai 40 orang yang duduk saling berhadapan satu dengan yang lain dalam suatu lingkaran. Sementara untuk lamanya berdialog, Bohm melihat durasi dua jam adalah batas maksimal. Jika waktu berdialog terlalu lama, akan beresiko terjadi kebosanan yang berakibat pada berkurangnya kualitas dialog. (sumber: kaosblog.com) 2. Hubungan dialog mempunyai ciri yang alamiah , hal tersebut dapat mengurangi dan menyempurnakaan logika tidak hanya dari segi tata bahasa. Mereka juga dapat membicarakan subjek yang berfariasi., dimana tidak ada bahasa ataupun kata kata yang tidak mereka mengerti. (sumber : Philosophical, theological, and social concept dari wikipedia) Contoh dialog Jakarta - Celoteh sekitar 16 siswa SD membahana di Perpustakaan UI Depok, saat diberi kesempatan bertanya langsung pada Ketua KPK Busyro Muqoddas. Tanpa malu, siswa/siswi SD itu pun memberondong Busyro dengan pertanyaan, mulai dari masalah pekerjaan sampai hamburger. Berikut dialog siswa/siswi SD dengan Busyro pada Jumat (18/11) kemarin, seperti dalam rilis yang diterima detikcom dari Kepala Kantor Sekretariat Pimpinan UI, Devie Rahmawati, Sabtu (19/11/2011). 1. Siswa SD I : "Capekkah Bapak menjadi Ketua KPK?"

Ketua KPK : "Tidak, karena bagian dari pengabdian bagi masyarakat". 2. Siswa SD II : "Bagaimana kerjanya KPK?". Ketua KPK : "KPK bekerja berdasarkan fakta dan dakta. KPK harus jujur dan profesional, yaitu sesuai dengan kebenaran". 3. Siswa SD III : "Kasus apa yang paling menantang Pak?" Ketua KPK : "Nazaruddin". 4. Siswa SD IV : "Hal yang paling menyenangkan sebagai ketua KPK?" Ketua KPK : "Membantu masyarakat memberantas korupsi, karena korupsi menciptakan kemiskinan." 5. Siswa SD V : "Bapak sebagai Ketua KPK berarti uangnya banyak ya Pak? Ketua KPK : "Ya banyak" Siswa SD V : "Berarti bisa makan burger tiap hari yah Pak?" Ketua KPK : "O..tidak juga, nanti kolesterol".