Anda di halaman 1dari 159

Judul Skripsi:

Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar


Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus:
Museum Batik Yogyakarta)
Title :
Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum
Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism
(Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum)
ABSTRAKSI SKRIPSI

Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar


Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus:
Museum Batik Yogyakarta).

Penulis : Tulus Wichaksono


Tahun lulus : 2008
Pembimbing : Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum.

Topik:
Mengetahui keserasian sistem registrasi dan dokumentasi di Museum Batik
Yogyakarta yang terletak di Jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta dengan sistem yang
digunakan oleh Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
dengan metode evaluasi sehingga nantinya akan memberikan rekomendasi untuk
pengembangan museum di masa mendatang.

Permasalahan dan tujuan:


Permasalahan:
1. Bagaimanakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik
Yogyakarta?
2. Apakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik
Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat
Museum?
Tujuan:
Mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi
yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum,
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Metode:
Penalaran : induktif
Sifat penelitian: evaluatif.
Pendekatan : evaluasi

Kesimpulan:
Setelah melalui tahapan penilaian, maka penilaian untuk mengetahui keserasian
antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum
Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum Departemen Kebudayaan Dan
Pariwisata mendapatkan kategori cukup.
Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah peneliti dapat memberikan
model system manajemen dan dokumentasi yang sesuai dengan standar ICOM,
sehingga museum ini nantinya dapat menggunakan system internasional.

Kata kunci: arkeologi; museulogi


Abstracts

Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum


Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism
(Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum)

Writer : Tulus Wichaksono


Graduation year : 2008
Counselor : Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum.

Topic:
To Know the relation between registration and documentation system in
Yogayakarta’s Batik Museum, which is located on jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta with
the system that is used by the Museum Directorate, Department Of Culture And
Tourism, with evaluation method so there will be a recommendation for museum
development in near future.

Problems and Purpose:


Problems:
1. How are the registration and documentation system in Yogyakarta’s Batik
Museum?
2. Are the registration and collection documentation system meets the standard
issued by the Museum Directorate?
Purpose:
Discover the harmony between system of management registration and
documentation which implemented by the Batik Museum of Yogyakarta with the
standard or Directorate Museum, Department Of Culture And Tourism.

Method:
Reasoning : inductive
Research characteristic : evaluative
Rapprochement : evaluation

Conclusion:
Following the appraisal step, to discover the harmony between system of
management and documentation which implemented by Batik Museum of
Yogyakarta with the standard of Directorate Museum, Department Of Culture And
Tourism had achieve adequately category.
Researcher was expected to make a model system of management registration
and documentation appropriate with ICOM’s standard, for later in the future the
museum can apply the international standard system as a model.

Key Word: archeology; museology.


SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Tulus Wichaksono
NIM : 00/140246/SA/11879
Jurusan : Arkeologi
Alamat : Jl. Meranti I, No.8, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan
Pondok Gede, Kota Madya Bekasi, Provinsi Jawa Barat.
Dengan ini menyatakan bersedia mempublikasikan skripsi saya dengan judul
“Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar
Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus:
Museum Batik Yogyakarta)”.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk kemajuan
ilmu pengetahuan di Indonesia.

Yogyakarta, 17 April 2008

Tulus Wichaksono
EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN

DOKUMENTASI BERDASARKAN STANDAR

DIREKTORAT MUSEUM

DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

(STUDI KASUS: MUSEUM BATIK YOGYAKARTA)

Oleh:

Tulus Wichaksono
00/140246/SA/11879

FAKULTAS ILMU BUDAYA


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2007
EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN

DOKUMENTASI BERDASARKAN STANDAR

DIREKTORAT MUSEUM

DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

(STUDI KASUS: MUSEUM BATIK YOGYAKARTA)

Oleh:

Tulus Wichaksono
00/140246/SA/11879

Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta sebagai salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar Sarjana
dalam Ilmu Arkeologi
2007
i

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar acuan pustaka.

Yogyakarta, Desember 2007

Tulus Wichaksono
ii

Skripsi ini diterima oleh Panitia Ujian


Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Pada Tanggal ...............

Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum.


Ketua

Drs. Tjahjono Prasodjo, M.A.


Sekretaris

Drs. Tular Sudarmadi, M.A.


Penguji Utama
iii

KATA PENGANTAR

Terima kasih penulis ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat penulis

selesaikan dengan judul: “Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi dan Dokumentasi

Berdasarkan Standar Direktorat Museum Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

(Studi Kasus: Museum Batik Yogyakarta)”. Penulis menyadari masih terdapat

banyak kekurangan dalam skripsi ini. Dengan bantuan, kritikan, dan saran dari

berbagai pihak, kekurangan tersebut akhirnya dapat terpenuhi.

Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

bersedia memberikan dukungan baik moral maupun material, serta membantu

memberikan berbagai masukan dan kritikan yang membangun bagi penulis. Sekali

lagi penulis ucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum. sebagai dosen pembimbing akademik

sekaligus dosen pembimbing skripsi yang selalu menyediakan waktunya

untuk terus membimbing penulis hingga mampu menyelesaikan tugas akhir

ini.

2. Dr. Inajati Adrisijanti, selaku Ketua Jurusan Arkeologi dan seluruh staff

pengajar Jurusan Arkeologi FIB UGM yang telah memberikan wawasan dan

pengetahuan tentang segala hal, baik akademis maupun non akademis.

3. Bapak Drs. Bejo Haryono yang telah banyak memberikan pengetahuan

tentang permuseuman.

4. Bapak Hadi Nugroho dan Ibu Dewi Hadi Nugroho selaku pemilik museum

yang telah memperkenankan penulis melakukan penelitian di Museum Batik

Yogyakarta, staff Museum Batik Yogyakarta Ibu Sri Purwani dan Bapak

Prayogo yang telah memberikan banyak kemudahan selama penulis

melakukan pengambilan data di lapangan.


iv

5. Staff Perpustakaan Balai Besar Batik Yogyakarta, perpustakaan Museum

Sonobudoyo unit I, perpustakaan UPT UGM unit I dan unit II, perpustakaan

Fakultas Ilmu Budaya UGM, perpustakaan Jurusan Arkeologi FIB UGM yang

telah menyediakan litelatur sehingga kebutuhan data sekunder dalam

penulisan skripsi ini dapat terpenuhi.

6. Keluarga Bapak H. Kardjono dan Ibu Hj. Endang Kusumaningsih yang tiada

henti mendorong penulis untuk terus tekun menjalankan studi serta

menemani penulis hingga akhir penulisan. Kedua kakakku Laksono

Kurniawan dan Yoga Wibowo, kakak ipar Silvy serta keponakanku Carren

Syafira yang telah memberikan semangat untuk terus menyelesaikan

penulisan skripsi.

7. Agustine Dwi Kurniawati yang telah menemani penulis dalam mencari, dan

menganalisis data di lapangan, serta menterjemahkan beberapa literatur

berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

8. Keluarga Bapak Rony Subijatno di Bantul yang telah menyediakan tempat

tinggal selama proses pengambilan data skripsi.

9. Keluarga Eyang Maria Sri Maryati di Kalasan yang telah menjadi wali selama

penulis menempuh studi di Yogyakarta.

10. Pengelola industri Batik Plentong, terutama Bapak Hadisuwito atas informasi

dalam wawancara proses pembuatan batik.

11. Teman-teman Jurusan Arkeologi angkatan 2000 Universitas Gadjah Mada

yang telah menjadi tempat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran selama

proses penulisan berlangsung.

12. Teman-Teman Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada dengan

misi tri darmanya yang telah menjadi tempat untuk bertukar pikiran dan

saran sehingga penulis memperoleh masukan selama proses penulisan.


v

13. Teman-Teman Pencinta Alam Lab School, terutama Tommy Schricandra

Satriatomo, Mahyuzar, Andono Nugrahadi, Ryan Febian, Muhammad Fahmi,

Annisa Anwar, Puti Maharani, Estu Prameswari atas dukungan, diskusi, dan

peminjaman buku-buku tentang museum, serta terjemahan literatur

berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

14. Teman-teman fotografi, Acink di Visual Solution, Dimas Susilohadi di

Perfect Circle, Blasius Bayu dan Barori Furqon di Mawa Art Photography

yang telah memberikan kritik foto selama proses pengambilan data skripsi.

15. Taufik Istiqhal di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas data-data

produk hukum tentang benda cagar budaya dan museum yang berkaitan

dengan penulisan skripsi ini.

16. Diniartha Ikha Muharram yang telah bersedia menyumbangkan keahliannya dalam

menggambar peta dan lampiran dalam skripsi ini.

Penulis
vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………....


iii
DAFTAR FOTO …………………………………………………………………....
viii
DAFTAR PETA …………………………………………………………………….
xi
DAFTAR DENAH …………………………………………………………………
xii
DAFTAR TABEL …………………………………………………………………..
xiii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………..
xiv
DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………………………
xv
BAB

I PENDAHULUAN …………………………………………………………….
1
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

C. Tinjauan Pustaka

D. Metode Penelitan

II. GAMBARAN UMUM MUSEUM BATIK YOGYAKARTA ………………….


18
A. Administrasi, geografis, dan lingkungan.

B. Sejarah Kain Batik .

C. Sejarah Berdirinya Museum Batik Yogyakarta .

D. Lingkungan Fisik dan Koleksi Museum Batik Yogyakarta .

III. SISTEM REGISTRASI dan DOKUMENTASI MUSEUM ………………...


67
A. Ruang Lingkup Studi Museologi.

B. Standard Direktorat Museum Tentang Sistem Registrasi dan

Dokumentasi

C. Sistem Registrasi dan Dokumentasi pada Museum Batik

Yogyakarta
vii

IV. EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN


108
DOKUMENTASI MUSEUM BATIK YOGYAKARTA ……………………...

A. Perbandingan dan Penilaian Sistem Manajemen Registrasi dan

Dokumentasi Museum Batik Yogyakarta Dengan Standar Direktorat

Museum

B. Rekomendasi Untuk Perkembangan Museum Batik Yogyakarta

V. PENUTUP ………………………………………………………………........
123
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….
125
DAFTAR NARASUMBER ………………………………………………………...
130
LAMPIRAN …………………………………………………………………………
131
A. Buku Registrasi Koleksi

B. Buku Induk Inventaris Koleksi

C. Buku Inventaris Koleksi

D1. Kartu Registrasi Sisi Muka

D2. Kartu Registrasi Sisi Belakang

DAFTAR ISTILAH …………………………………………………………………


136
viii

DAFTAR FOTO

Foto No. 2.1 : Batik motif kawung ………………........................... 28

Foto No. 2.2 : Batik motif parang rusak …………………………… 29

Foto No. 2.3 : Batik motif cemukiran ………………………………. 30

Foto No. 2.4 : Batik motif sawat ……………………………………. 30

Foto No. 2.5 : Batik motif udan liris ………………………………… 31

Foto No. 2.6 : Batik motif semen romo ……………………………. 32

Foto No.2.7 : Batik motif alas-alasan ……………………………... 33

Foto No. 2.8 : Kain panjang Indramayu …………………………… 34

Foto No. 2.9 : Batik cirebon motif mega mendung ………………. 36

Foto No. 2.10 : Kain panjang Pekalongan …………………………. 37

Foto No. 2.11 : Sarung bang-biron dari Lasem ……………………. 38

Foto No. 2.12 : Kain Tuban ………………………………………….. 39

Foto No. 2.13 : Kain panjang Madura motif buk …………………… 40

Foto No. 2.14 : Gawangan yang digunakan dalam proses 41

membatik pada industri batik Plentong …………...

Foto No. 2.15 : Anglo yang biasa digunakan dalam poses 42

membatik ……………………………………………..

Foto No. 2.16 : Anglo, wajan, dan malam serta canting sebagai 43

peralatan membatik …………………………………

Foto No.2.17 : Canting dalam berbagai bentuk dan kegunaan …. 44

Foto No. 2.18 : Malam sebagai bahan inti dalam teknik penahan 45

warna dalam membatik ……………………………..

Foto No. 2.19 : Proses nyorek pada industri batik Plentong ……... 46

Foto No. 2.20 : Proses medel pada industri batik Plentong ……… 47

Foto No. 2.1 : Proses soga pada industri batik Plentong ……….. 48
ix

Foto No. 2.22 : Proses nglorot pada industri batik Plentong ……... 48

Foto No. 2.23 : Proses batik cap pada industri batik Plentong …... 49

Foto No. 2.24 : Neraca yang digunakan dalam meracik pewarna 50

buatan pada indutri batik Plentong ………………..

Foto No. 2.25 : Pintu masuk samping pada Museum Batik 57

Yogyakarta …………………………………………..

Foto No. 2.26 : Ruang Pengenalan dan Ruang Pasren pada 58

Museum Batik Yogyakarta ………………………….

Foto No. 2.27 : Ruang Jawa Solo pada Museum Batik 59

Yogyakarta …………………………………………...

Foto No. 2.28 : Ruang Pesisiran pada Museum Batik 60

Yogyakarta …………………………………………..

Foto No. 2.29 : Ruang Perawatan pada Museum Batik 61

Yogyakarta …………………………………………...

Foto No. 2.30 : Toko Cendera Mata dan Galeri pada Museum 62

Batik Yogyakarta …………………………………….

Foto No. 2.31 : Museum Sulaman yang menjadi satu dengan 63

Museum Batik Yogyakarta ………………………….

Foto No. 2.32 : Aktivitas pada Ruang Batik Museum Batik 63

Yogyakarta …………………………………………...

Foto No. 2.33 : Ruang Perpustakaan pada Museum Batik 64

Yogyakarta …………………………………………...

Foto No.2.34 : Pencahayaan dan sistem sirkulasi udara pada 66

Museum Batik Yogyakarta ………………………….

Foto No. 3.1 : Pencahayaan di Museum TNI AU Dirgantara 78

Mandala, Yogyakarta ……………………………….


x

Foto No. 3.2 : display dengan media panil pada Museum Bank 81

Indonesia, Jakarta …………………………………..

Foto No. 3.3 : Display rekontruksi pada Museum Bank 82

Indonesia, Jakarta …………………………………..

Foto No. 3.4 : Display Audio Visual Pada Museum Bank 82

Indonesia, Jakarta …………………………………..

Foto No. 3.5 : Virtual Display pada Museum Bank Indonesia, 83

Jakarta ……………………………………………….

Foto No. 3.6 : Label pendahuluan pada Museum Bank 97

Indonesia, Jakarta …………………………………..

Foto No. 3.7 : label grup pada Museum Sonobudoyo, 98

Yogyakarta …………………………………………..

Foto No. 3.8 : Label individual pada Museum Sonobudoyo, 98

Yogyakarta …………………………………………..

Foto No. 3.9 : Label identifikasi pada koleksi Museum Pusat TNI 99

AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta ……………...

Foto No. 3.10 : Kartu registrasi pada Museum Batik Yogyakarta .. 103

Foto No. 3.11 : Label individu pada Museum Batik Yogyakarta …. 104

Foto No. 3.12 : Berita Acara pada Museum Batik Yogyakarta …... 106
xi

DAFTAR PETA

Peta No. 2.1 : Keletakan Museum Batik Yogyakarta terhadap 51

museum lain di Yogyakarta ………………………………


xii

DAFTAR DENAH

Denah No. 2.1 : Pembagian Ruangan di Museum Batik Yogyakarta ….. 56


xiii

DAFTAR TABEL

Tabel No. 1.1 : Evaluasi rencana penelitian …………………………….. 12

Tabel No. 1.2 : Matriks rencana evaluasi penelitian …………………… 14

Tabel No. 1.3 : Proses evaluasi penelitian ……………………………… 17

Tabel No. 2.1 : Bahan alam untuk pembuatan pewarna alami batik ….. 50

Tabel No. 2.2 : Struktur pengurus Yayasan Batik Yogyakarta ………… 52

Tabel No. 2.3 : Alur tata pameran Museum Batik Yogyakarta ………… 55

Tabel No. 3.1 : Struktur organisasi museum ……………………………. 74

Tabel No. 3.2 : Kode inventaris jenis koleksi ……………………………. 88

Tabel No. 3.3 : Ukuran kolom buku registrasi dan koleksi ……………. 90

Tabel No. 3.4 : Ukuran kolom buku induk inventaris koleksi ………….. 91

Tabel No. 3.5 : Ukuran kolom buku inventaris koleks …………………. 91

Tabel No. 3.6 : Prosedur administrasi koleksi …………………………… 93

Tabel No. 3.7 : Struktur organisasi Museum Batik Yogyakarta ………... 101

Tabel No. 3.8 : Prosedur administrasi koleksi Museum Batik 102

Yogyakarta …………………………………………………

Tabel No. 4.1 : Matriks evaluasi penelitian ………………………………. 116


xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A : Buku registrasi koleksi berdasarkan standar 131

Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan

Pariwisata …………………………………………….

Lampiran B : Buku induk inventaris koleksi berdasarkan 132

standar Direktorat Musem, Departemen

Kebudayaan dan Pariwisata ……………………….

Lampiran C : Buku inventaris koleksi berdasarkan standar 133

Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan

Pariwisata …………………………………………….

Lampiran D1 : Kartu registrasi sisi muka berdasarkan standar 134

Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan

Pariwisata ……………………………………………

Lampiran D2 : Kartu registrasi sisi belakang berdasarkan 135

standar Direktorat Musem, Departemen

Kebudayaan dan Pariwisata ……………………….


xv

DAFTAR SINGKATAN

°c : derajat celcius

BI : Bank Indonesia

BPS : Biro Pusat Statistik

cm : centimeter

Depbudpar : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

DIY : Daerah Istimewa Yogyakarta

dkk. : dan kawan-kawan

DVD : Digital Compact Disc

FIB : Fakultas Ilmu Budaya

H. : Haji

ha : hektare

HB : Hamengku Buwana

Hj. : Hajah

hlm. : halaman

ICOM : International Council of Museum

JPEG : Joint Photographic Experts Group

km : kilometer

KRT. : Kanjeng Raden Tumenggung

mb : mili bar

mdpl : meter diatas permukaan laut

mm : mili meter

MURI : Museum Rekor Indonesia

PB : Paku Buwana

S.H. : Sarjana Hukum

SDM : Sumber Daya Manusia


xvi

TIFF : Tagged-Image File Format

TL : Tube Luminescent

tt : tanpa tahun

TV : Televisi

UGM : Universitas Gadjah Mada

UNESCO : United Nations Educational, Scientific, and Cultural

Organization

UPT : Unit Pelaksana Teknis

VCD : Video Compact Disc


1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hubungan manusia dengan masa lampau adalah hal yang mutlak karena

manusia tidak dilahirkan dalam kehampaan. Perkembangan biologis dan kultural

adalah hasil dan warisan manusia selama beribu tahun. Demi kemantapan

perkembangan manusia ke depan, pengetahuan mengenai masa lampau sama

pentingnya dengan pengetahuan mengenai lingkungan, jika manusia berpegang

pada prinsip tersebut maka semua kegiatan arkeologi yang berupa penelitian untuk

mengungkapkan masa lampau maupun pelestarian, sepenuhnya adalah

pengabdian kepada masyarakat.

Semua kegiatan dalam bidang arkeologis, khususnya di Indonesia dibiayai oleh

uang rakyat yang diperoleh pemerintah melalui pajak. Oleh karena itu setiap

individu yang bekerja dalam bidang arkeologi harus menyadari bahwa dalam

menjalankan kegiatan melayani masyarakat untuk memperoleh haknya

mengetahui masa lampau harus sepenuhnya disadari oleh orang yang bekerja

dalam bidang arkeologi dalam melaksanakan kegiatannya, dan bukan sekedar

melaksanakan tugas fungsional sebagai jawatan atau membuktikan keilmiahannya

(Direktorat Permuseuman 1997a, 41).

Davis (1992, 97) dalam satu tulisannya mengemukaan apakah tinggalan

arkeologi penting untuk sebuah ilmu pengetahuan? Jawabnya adalah hampir semua

tinggalan arkeologi untuk ilmu pengetahuan. Kemudian pertanyaan kedua adalah

apakah semua tinggalan arkeologi penting untuk publik? Maka, jawabannya adalah

tidak selalu, tetapi tergantung dari situs dan bagian apakah yang dibicarakan oleh

masyarakat umum.
2

Letak kepulauan Indonesia yang strategis di antara dua samudra dan dua benua,

pulau-pulau dengan muara sungai yang lebar, pantai-pantai dengan teluk-teluknya

menjadikan wilayah ini pada masa lalu sebagai pusat perdagangan. Selain rempah-

rempah yang menjadi komoditas utama perdagangan, barang-barang tekstil juga

menjadi salah satu primadona perdagangan di nusantara. Barang tekstil tersebut

dibawa oleh para pedagang yang berasal dari negeri Arab, Cina, dan India.

Selanjutnya barang tekstil tersebut diperjualbelikan dengan alat tukar uang ataupun

menggunakan sistem barter dengan barang lain yang dianggap senilai. Salah satu

contoh komoditas tekstil yang menjadi primadona perdagangan di nusantara adalah

kain batik.

Batik adalah kain bergambar yang pembuatannya dilakukan secara khusus

dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian

pengolahannya diproses dengan cara tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia

2001, 112). Teknik yang digunakan dalam pembuatan batik adalah penahan warna

(resist dye). Kain bergambar dari pengolahan khusus tersebut menjadikan kain batik

sebagai barang komoditas yang banyak diminati oleh pedagang untuk

diperjualbelikan, perdagangan tersebut kemudian dikaitkan dengan sejarah

masuknya batik di Indonesia.

Pendapat mengenai masuknya batik di Indonesia hingga saat ini dikelompokkan

menjadi dua. Pendapat pertama adalah yang mengatakan bahwa batik berasal dari

luar Indonesia seperti Cina dan India, sedangkan pendapat kedua mengatakan

bahwa batik berasal dari Indonesia.

Rouffaer dan Jaynboll adalah penganut pendapat pertama. Mereka mengatakan

bahwa batik Indonesia pertama kali dibawa oleh para pedagang dari Kalingga,

Koromandel, dan India. Pernyataan tersebut didasarkan pada teknik yang

digunakan untuk pencelupan batik yang hampir sama dengan yang ada di

Indonesia. Di Cina, pembuatan batik semacam itu sudah berlangsung sejak masa
3

T’ang (Laran) dan Suku Hmongnya yang sampai pertengahan abad XX M masih

membuat batik dengan semacam gips (Lombard 2000, 193).

Pendapat kedua dinyatakan oleh R.M. Sucipto Wiryosuparto yang menolak

pernyataan Rouffaer dengan alasan di Kalingga tidak ditemukan motif-motif

tradisional yang sama dengan batik di Indonesia, seperti motif ceplok, motif kawung,

dan motif lereng. Motif-motif tersebut merupakan motif yang terkenal pada abad

VIII-XIII M (Susanto 1980, 307).

Pendapat tersebut dikuatkan dengan pernyataan Kern bahwa batik merupakan

salah satu unsur kebudayaan bangsa Indonesia yang sudah berkembang sebelum

datangnya pengaruh Hindu. Menurut Kern, sebelum kedatangan pengaruh Hindu,

bangsa Indonesia telah mengenal sepuluh keterampilan, di antaranya adalah

astronomi, batik, gamelan, ilmu hitung, mata uang, pemerintahan yang teratur,

penanaman padi di sawah, pengerjaan logam, teknologi pelayaran, dan wayang

(Ayatrohaedi 1986, 156-159).

Perbedaan lain adalah proses pewarnaan yang dilakukan di India menggunakan

cairan panas mendidih, sedangkan di Indonesia menggunakan cairan dingin. Selain

itu perbedaan dapat ditemukan pula pada warna yang dihasilkan (Tirtaamidjaja

1966, 3).

Menurut KRT. Hardjonegoro, batik lahir di dalam kalangan petani. Biasanya para

petani melakukan pekerjaan membatik sebelum mereka turun ke sawah, dan

apabila telah datang musim panen, maka pekerjaan membatik dihentikan. Pada

zaman Kerajaan Mataram Islam, karena adanya perhatian khusus dari keraton,

maka batik masuk ke lingkungan keraton. Masuknya batik ke keraton merupakan

manifestasi dari pengabdian kepada raja. Setelah memasuki lingkungan keraton,

teknik pembuatan batik makin diperhalus, baik motif maupun teknik pewarnaannya.

Untuk mendukung hal tersebut perlu diciptakan motif-motif batik bermutu tinggi,
4

sehingga layak dipersembahkan kepada raja dan keluarga (Helmi dan Mujiyono

1992, 52).

Pemakaian alat memberi corak tersendiri pada corak batik. Batik Indonesia

dengan menggunakan canting merupakan salah satu penyebab tingginya mutu

kesenian kain batik yang dapat memperlihatkan keindahan yang sama pada sisi

dalam maupun sisi luar kain. Hal ini tidak terdapat dalam kain batik karya dari India

Selatan yang hanya menggunakan stempel atau pena kayu sebagai alat pembatik

yang hanya memperhatikan bagian luar saja (Tirtaamidjaja 1966, 3). Selain itu

teknik penahan warna tidak hanya terdapat pada daerah yang mengalami pengaruh

Hindu, tetapi juga terdapat di daerah lain seperti Toraja, Flores, Halmahera, bahkan

Papua.

Adapun daerah industri batik di Pulau Jawa antara lain: Jakarta, Cirebon,

Ciamis, Garut, Indramayu, Tasikmalaya, Purwokerto, Kebumen, Purworejo,

Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Solo, Wonogiri, Pekalongan, Lasem, Tegal, Kudus,

Tulungagung, Ponorogo, Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo.

Penggunaan kain berwarna dan bermotif hidup di masa klasik, kemudian

berkembang sampai masa Islam, dan penyebutan istilah batik mulai digunakan.

Kata batik tepatnya muncul pada tahun 1769 dalam sebuah aturan yang ditulis oleh

Sri Susuhunan Pakubuwono III dengan menggunakan bahasa Jawa. Kemudian

pada tahun 1820, kata batik juga digunakan dalam Serat Centhini yang ditulis oleh

Adipati Anom yang kemudian menjadi Sinuwun PB V. PB VIII juga menggunakan

kata batik dalam naskah yang berisi aturan penggunaan busana kebesaran Keraton

Yogyakarta, di antaranya adalah batik, payung, warna busana, dan ornamen

(Nurjanti 1993, 175).

Sebagai sebuah produk kebudayaan, batik merupakan warisan budaya yang

harus dilestarikan karena batik mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu

pengetahuan, dan kebudayaan sehingga layak disebut sebagai benda cagar


5

budaya. Bentuk pelestarian warisan tersebut salah satunya adalah melalui museum

sebagai lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan

benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna

menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa.

Ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi museum dan

lingkungannya serta sistem pengelolaannya disebut museologi. Museologi sebagai

studi tentang material culture, terutama benda-benda tinggalan kebudayaan yang

tersimpan dalam koleksi museum hakikatnya adalah mempelajari manajemen

koleksi. Oleh karena itu dasar-dasar museologi, registrasi dan dokumentasi,

konservasi, perancangan pameran, serta survei pengunjung dan evaluasi

dikelompokkan untuk mempertajam analisis kajian museologi (Dwiyanto 1998a, 4-

5).

Registrasi adalah kegiatan pencatatan suatu benda, setelah benda tersebut

ditentukan secara resmi menjadi koleksi museum, ke dalam buku induk registrasi.

Pencatatan dilakukan pula terhadap dokumen-dokumen yang terkait dengan koleksi

tersebut, seperti berita acara, dan surat wasiat. Hasil pencatatan ini sangat

diperlukan untuk penelitian koleksi lebih lanjut, karena merupakan sumber informasi

awal dari koleksi tersebut. Registrasi diperlukan dalam proses peminjaman koleksi

atau koleksi yang untuk sementara tidak berada dalam pengawasan museum untuk

beberapa maksud, misalnya untuk pengujian atau identifikasi. Registrasi sebaiknya

disusun untuk membantu menginspeksi secara periodik terhadap koleksi untuk

terjaminnya ketepatan dalam menangani koleksi, serta mengetahui jumlah koleksi

yang dimiliki, titipan, atau yang dikeluarkan. Penyusunan dapat mencegah adanya

penipuan atau pengakuan dari seorang atas kepemilikan koleksi tersebut, dan dapat

membantu ilmuwan dalam penelitian (Direktorat Museum 2007, 7). Sedangkan

dokumentasi objek permuseuman adalah keterangan tertulis mengenai koleksi

museum. Setiap museum sebaiknya telah menetapkan sistem dokumentasi untuk


6

melindungi data koleksi (Direktorat Museum 2007, 5). Sedangkan dokumentasi

objek museum adalah keterangan tertulis mengenai koleksi museum untuk

melindungi koleksi museum, yang didalamnya terdapat fungsi registrasi dan

kuratorial (Direktorat Museum 2007, 5).

B. RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN

Berbagai perundangan dan peraturan yang melindungi objek arkeologi dan

berbagai bentuk warisan budaya yang lain telah dihasilkan oleh pemerintah seperti:

1. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya yang

mencakup tujuan dan lingkup BCB; penguasaan, pemilikan, penemuan dan

pencarian BCB; perlindungan dan pemeliharaan BCB; pengelolaan BCB;

pemanfaatan BCB; pengawasan BCB; hingga ketentuan pidana (Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional, 1992), 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19

tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di

Museum dapat diartikan sebagai pencerminan usaha untuk menjamin agar

masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang masa lampau secara terus-

menerus. Pada Peraturan Pemerintah ini mencakup tujuan pemeliharaan,

penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, persyaratan museum,

pembinaan, dan pengawasan, hingga peran serta masyarakat (Departemen

Kebudayaan dan Pariwisata, 1995), 3. Surat Keputusan Menteri Nomor

KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Pengelolaan Museum yang di dalamnya

mencakup berbagai hal dalam bidang permuseuman mulai dari pendirian,

pengelolaan, pendaftaran koleksi museum, pendanaan, hingga pembinaan di

museum (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2004).

Museum dapat dibedakan berdasarkan koleksi yang disimpan, berupa museum

umum dan museum khusus. Museum dalam hal ini dapat didirikan oleh instansi

pemerintah, yayasan, atau badan usaha yang dibentuk berdasarkan hukum


7

Indonesia.

1. Museum Umum

Museum umum yang ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material

hasil budaya manusia dan atau lingkungan yang berkaitan dengan berbagai

cabang seni, disiplin ilmu, dan teknologi.

2. Museum Khusus

Museum khusus yang ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material hasil

budaya manusia dan atau lingkungan yang berkaitan dengan satu cabang ilmu

atau cabang teknologi.

Setiap museum memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sifat ini terjadi karena koleksi

setiap museum berbeda. Kalaupun ada persamaan maka hal itu sangat terbatas,

sehingga jika terdapat adanya standarisasi permuseuman, maka hal itu hanya

merupakan arti administratif. Dalam fungsionalisasi, standar diartikan sebagai

tingkatan mutu. Filsafat dasar setiap museum berhubungan dengan tujuan

museum itu didirikan, dan jenis koleksi di antara berbagai museum merupakan

petunjuk akan persamaan filsafat dasar (Direktorat Permuseuman 1997b, 22).

Museum sebagai sebuah institusi yang di dalamnya pasti mempunyai struktur

yang bertujuan untuk memperlancar kinerja museum tersebut mencapai tujuan

pendiriannya, salah satunya adalah bidang registrasi dan dokumentasi.

Museum Batik Yogyakarta adalah salah satu museum khusus yang berada di

Yogyakarta. Museum ini merupakan museum swasta, dan dimiliki oleh keluarga

Hadi Nugroho, sebuah keluarga pengusaha batik. Museum ini beralamat di Jalan

Dr. Sutomo No. 13 Yogyakarta dan koleksi dari museum ini adalah khusus

menampilkan kain batik dan perlengkapannya yang telah dimiliki oleh tiga generasi

sebelumnya.
8

Dengan koleksinya yang mencapai ribuan, maka tentunya museum ini memiliki

sistem registrasi dan dokumentasi koleksi. Dengan adanya sistem tersebut, tujuan

dari museum ini sebagai museum pemberi kontribusi dalam upaya melestarikan,

mengembangkan, dan mengkomunikasikan batik sebagai karya cipta umat manusia

maupun sebagai khasanah budaya nusantara demi memperkaya akal budi dan

meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dapat terwujud.

Berdasarkan latar belakang dan kondisi di atas, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik

Yogyakarta?

2. Apakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik

Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat

Museum?

Berdasarkan pada rumusan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian

ini adalah untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan

dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat

Museum.

Standar acuan yang digunakan dalam evaluasi adalah standar dari Direktorat

Museum, karena instansi ini bertugas untuk melaksanakan penyiapan rumusan

kebijakan, standar, norma, kriteria, dan prosedur serta pemberian bimbingan teknis

dan evaluasi di bidang permuseuman (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,

2007). Penulis tidak menggunakan standar acuan yang dikeluarkan ICOM, karena

ICOM hanya mengeluarkan acuan yang menjadi rambu-rambu di bidang

permuseuman saja, sedangkan untuk pelaksanaannya diserahkan kepada masing-

masing negara anggota ICOM, karena kebijakan setiap negara akan hal ini

berbeda-beda.
9

A. TINJAUAN PUSTAKA

Museum menurut tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 766) mempunyai

pengertian yaitu gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap

benda-benda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan

sejarah, seni, dan ilmu. Definisi museum yang dikemukakan oleh Douglas Allan

yang dipergunakan dari tahun 1960 hingga tahun 1967 adalah suatu bangunan

yang berisi berbagai macam koleksi untuk diselidiki, dipelajari, dan dinikmati (Allan

1978, 13). Kemudian definisi dari ICOM sebelum tahun 1974, museum adalah:

Any permanent establishment set up for purpose of preserving,


studying, enchanging by various means and, in particular, of
exhibiting to the public for its delections and instruction, artistic,
historical, scientific and technological collections (Sutaarga 1991,
33).

Pengertian museum yang tertuang di dalam Surat Keputusan Menteri Nomor

KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum, pasal satu ayat satu disebutkan bahwa

museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan

pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan

lingkungannya guna menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa

(Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2004).

Definisi resmi museum yang kini digunakan adalah definisi yang dikeluarkan

dalam rapat umum ICOM ke-10 di Copenhagen, museum adalah lembaga yang

bersifat badan hukum yang tetap, tidak mencari keuntungan dalam pelayanannya

kepada masyarakat, tetapi didirikan untuk kemajuan masyarakat dan

lingkungannya, serta terbuka untuk umum (International Council Of Museum 2007,

3).

Berangkat dari pengertian ICOM bahwa museum didirikan untuk kemajuan

masyarakat dan lingkungannya, maka telah dihasilkan kajian ilmu pengetahuan

mengenai permuseuman, salah satunya adalah sistem manajemen registrasi dan


10

dokumentasi. Kajian yang lengkap tentang evaluasi sistem manajemen registrasi

dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta sampai saat ini belum ditemukan.

Sumber pustaka yang ada hanya rata-rata menyajikan tulisan tentang ragam hias

koleksi museum tersebut. Tulisan mengenai Museum Batik Yogyakarta pernah

ditulis oleh Diorita Wijayanti dalam skripsinya menurut sudut pandang arsitektural

(Wijayanti, 2005). Dalam skripsinya ini, Diorita menjelaskan bahwa Museum Batik

Yogyakarta mempunyai landasan konseptual dalam perencanaan dan

perancangannya. Secara umum, Museum Batik Yogyakarta pernah dibahas dalam

booklet yang dikeluarkan oleh Badan Musyawarah Musea (BARAHMUS) DIY

bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

pada tahun 2004. Sedangkan Alphaliyanri Lasria dalam proyek akhirnya,

membahas tentang optimalisasi media pelengkap pameran (supplementary

exhibition media) sebagai upaya peningkatan peran pendidikan di Museum Zoology

Bogor (Lasria, 2003).

B. METODE PENELITIAN

Berdasarkan pada tujuan penelitian yang hendak diselesaikan, maka penelitian

ini menggunakan penalaran induktif, yaitu penalaran yang bergerak dari kajian

khusus ke umum.

Kajian khusus dalam penelitian ini adalah data arkeologis dan museologi. Kajian

arkeologis yang disajikan berupa koleksi dari Museum Batik Yogyakarta meliputi

kain-kain batik, dan peralatan membatik yang telah berumur puluhan tahun, serta

memiliki perkembangan gaya dan teknologi. Kajian museologi meliputi pengertian,

fungsi-fungsi dan organisasi museum, museum dan kepariwisataan, dan upaya

pengembangan museum. Adapun kajian yang bersifat umum pada penelitian ini

adalah sistem registrasi dan dokumentasi pada Museum Batik Yogyakarta.

Registrasi dan dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nomor
11

registrasi, buku induk registrasi, kartu registrasi, label registrasi, nomor inventaris,

buku inventaris, kartu inventaris, dan kartu katalog.

Sifat penelitian yang digunakan adalah evaluasi, yaitu penelitian yang

dimaksudkan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada tolok ukur atau

kriteria tertentu (Arikunto 2005, 227). Kriteria yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah mengevaluasi apakah manajemen koleksi dan dokumentasi Museum Batik

Yogyakarta telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Direktorat Museum,

agar dapat ditarik sebuah kesimpulan akhir dari sebuah penelitian. Evaluasi

mengandung pengertian sebagai proses mengumpulkan informasi, penetapan

kriteria, analisis, pertimbangan, penarikan kesimpulan, dan pengambilan keputusan.

Evaluasi dapat digolongkan dalam tiga jenis evaluasi, yaitu evaluasi awal (pre-

evaluation), evaluasi proses, dan evaluasi akhir. Maka untuk menjawab tujuan

permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode evaluatif, dengan

jenis metode evaluasi proses.

Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan selama proses sedang

berlangsung. Pengamatan dilakukan terhadap komponen-komponen proses atau

unsur kegiatan. Sering pula evaluasi proses tidak dapat dilakukan pada saat proses

sedang berlangsung karena berbagai alasan, misalnya karena waktu yang terlalu

lama, atau juga karena biaya. Apabila hal ini terjadi maka dapat dilakukan evaluasi

terhadap komponen proses pada akhir program. Evaluasi ini lebih bersifat

menyeluruh terhadap semua komponen serta lebih ditujukan untuk melihat

keterkaitan berbagai komponen untuk mencapai tujuan. Evaluasi proses sering pula

disebut evaluasi pelaksanaan.

Metode evaluasi mempunyai prinsip yang sama dengan penelitian ilmiah dengan

ragam bobot mulai yang paling sederhana sampai yang paling ilmiah. Sebagai

suatu kegiatan yang formal dan ilmiah, prinsip dan prosedur ilmiah di dalam

evaluasi perlu diperhatikan. Sikap yang perlu ditumbuhkan dalam melakukan


12

penelitian evaluasi dicirikan oleh berbagai karakteristik, yaitu: faktual, analisis,

imparsial, objektif, terpercaya.

Proses evaluasi yang dilakukan terhadap sistem manajemen registrasi dan

dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta melalui enam tahap (Irawan 2001, 9),

yaitu:

1. Penentuan Tujuan Evaluasi

Pada tahap pertama ini, semua tujuan evaluasi ditentukan. Proses ini sangatlah

penting karena tahap inilah yang menentukan corak dan proses evaluasi secara

keseluruhan. Dengan tujuan-tujuan yang jelas dan rinci, maka langkah-langkah

berikutnya dapat dengan mudah ditentukan siapa yang akan melakukan apa,

kapan, dan bagaimana.

Evaluasi yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan

Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum.

Untuk mempermudah pekerjaan, akan dibuat matriks yang berisi informasi

tentang hal-hal yang berhubungan dengan tahap penentuan tujuan evaluasi ini.

Tabel evaluasi rencana penelitian dapat dilihat dibawah ini:

No Informasi yang dibutuhkan Rincian informasi yang dibutuhkan


1. Sistem manajemen registrasi dan a. Sistem manajemen registrasi Museum
dokumentasi di Museum Batik Batik Yogyakarta.
Yogyakarta. b. Sistem manajemen dokumentasi
Museum Batik Yogyakarta.
2. Apakah sistem manajemen registrasi a. Sistem manajemen registrasi Direktorat
dan dokumentasi di Museum Batik Museum.
Yogyakarta telah memenuhi standar b. Sistem manajemen dokumentasi
Direktorat Museum? Direktorat Museum.
Tabel 1.1: Evaluasi rencana penelitian.
13

2. Desain Evaluasi

Desain evaluasi atau perancangan evaluasi baru dapat dilaksanakan apabila

telah ditentukan tujuan-tujuan evaluasi. Pada tahap ini, ada dua hal yang

ditentukan, yaitu pendekatan evaluasi apakah yang paling cepat agar tujuan-tujuan

evaluasi yang sudah ditentukan dapat tercapai secara optimal dan siapa yang akan

melakukan evaluasi (Irawan 2001, 11).

Pendekatan evaluasi pada tahap ini adalah penentuan siapa yang akan

melakukan evaluasi. Hal ini diperlukan setelah memperhatikan tingkat kesulitan

untuk mendapatkan sumber informasi. Penelitian evaluasi dapat dilakukan oleh

orang luar (external evaluator) atau orang dalam (internal evaluator). Penelitian

yang dilakukan oleh orang luar ataupun orang dalam mempunyai keuntungan dan

kerugian sendiri-sendiri. Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar, misalnya oleh

konsultan, ahli evaluasi, dan mahasiswa, maka akan memungkinkan proses

evaluasi yang berjalan atau yang dilakukan akan berjalan secara objektif dan akan

menghasilkan hasil-hasil yang lebih objektif pula. Kerugiannya adalah proses

evaluasi yang dilakukan mungkin akan berjalan lebih lama. Hal ini terjadi jika apa

yang akan dievaluasi itu cukup rumit, sehingga orang luar biasanya akan

memerlukan waktu yang lebih banyak untuk melaksanakan tugasnya. Kerugian

lainnya yaitu keterlibatan pihak luar mungkin dianggap sebagai intervensi kepada

pihak yang dievaluasi.

Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam, misalnya pegawai museum itu

sendiri, maka memungkinkan proses evaluasi yang dilakukan akan berlangsung

lebih cepat dan lebih sedikit memakan biaya. Kerugiannya adalah evaluasi ini akan

menghasilkan hasil-hasil yang lebih subjektif. Apalagi jika evaluatornya adalah

mereka yang mempunyai kepentingan pribadi, maka besar kemungkinan mereka

akan melaporkan kebenaran yang kira-kira tidak akan meninggalkan dampak


14

negatif (Irawan 2001, 12). Oleh karena itu untuk mengurangi beberapa tema yang

ada, biasanya evaluasi dilakukan oleh orang luar dan dalam secara bersama-sama.

Evaluasi pada penelitian ini dilakukan oleh penulis. Teknik dan instrumen

pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan review

dokumen. Observasi dilakukan dengan cara observasi langsung yaitu, dengan

datang secara langsung ke objek yang akan dievaluasi, dalam hal ini adalah

Museum Batik Yogyakarta. Wawancara dilakukan kepada responden yang

mengetahui seluk beluk tentang sistem registrasi dan dokumentasi yang diterapkan

di Museum Batik Yogyakarta, misalnya Kepala Museum, Kurator, dan Registrar.

sedangkan review adalah cara untuk menggali informasi dengan cara meneliti

dokumen, misalnya dengan buku pedoman dari Direktorat Museum, Peraturan

Tertulis seperti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Surat Keputusan

Menteri Pariwisata dan Kebudayaan.

Matriks rencana evaluasi penelitian ini adalah sebagai berikut:

Standar Penerapan di Museum


No. Subjek Nilai
Direktorat Museum Batik Yogyakarta
1. Buku Registrasi
Buku Induk
2.
Inventaris Koleksi
Buku Inventaris
3.
Koleksi
Katalogisasi
4.
Koleksi
5. Kartu Registrasi
Prosedur
6. Administrasi
Koleksi
7. Label
Pemotretan
8.
Koleksi
Pengukuran
9.
Koleksi
10. Berita Acara
11. Aplikasi Komputer
Tabel 1.2: Matriks rencana evaluasi penelitian.
15

3. Pengembangan Instrumen Evaluasi

Pengembangan instrumen evaluasi dilakukan setelah tujuan evaluasi ditentukan

dan desain umum diselesaikan. Setidaknya ada empat instrumen yang selama ini

lazim digunakan dalam suatu evaluasi, yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan

review dokumen (Irawan 2001, 14).

Cara perolehan informasi kuesioner dan interviu pada dasarnya sama. Kedua

istilah ini digunakan hanya untuk membedakan bahwa pertanyaan-pertanyaan

dalam kuesioner cenderung tertutup dan terstruktur, sedangkan pertanyaan-

pertanyaan interviu biasanya terbuka dan fleksibel. Observasi atau pengamatan

sudah cukup popular dan sering digunakan dalam penelitian, sedangkan review

adalah cara untuk menggali informasi dengan cara meneliti dokumen, misalnya

dengan buku pedoman dari Direktorat Museum, Peraturan Tertulis seperti Undang-

undang, Peraturan Pemerintah, dan Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan

Kebudayaan.

Pada tahap ini, harus mulai mengidentifikasi berbagai pertanyaan yang harus

dijawab oleh responden. Oleh karena itu perlu ditegaskan bahwa semua pertanyaan

yang akan dibuat harus konsisten dengan informasi yang dibutuhkan serta rincian

yang sudah ditentukan sebelumnya (lihat tabel 1.2). Pertanyaan-pertanyaan yang

dibuat tersebut juga harus sesuai dengan teknik dan instrumen pengumpulan

datanya.

4. Pengumpulan Data

Data dan informasi bisa terkumpul hanya jika sumber informasi atau responden

mau memberikan informasinya kepada evaluator, sehingga evaluator dituntut untuk

dapat berkomunikasi yang baik dengan responden. Untuk mempermudah proses

pengumpulan data, hal yang penting penulis cek kembali adalah: responden,

instrumen penelitian, serta tempat dan waktu pengumpulan data.


16

Responden adalah pegawai museum yang terdiri dari pengelola museum dan

petugas tata usaha. Instrumen penelitian yang digunakan menggunakan data

sekunder berupa buku pedoman yang diterbitkan oleh Direktorat Museum. Waktu

dan tempat pengumpulan data dilakukan di Museum Batik Yogyakarta setiap waktu

berkunjung museum.

5. Analis dan Intrepretasi Data

Analis dan intepretasi data menggunakan komputer dengan alasan kecepatan,

kemudahan, dan ketelitian. Pada tahap ini evaluator dalam hal ini penulis, dituntut

untuk bersikap objektif.

6. Tindak Lanjut

Tujuan dari evaluasi ini adalah mengetahui keserasian antara sistem manajemen

registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan

standar Direktorat Museum, sehingga diharapkan hasil dari evaluasi ini dapat

dijadikan tolak ukur dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan Museum

Batik Yogyakarta dikemudian hari.


PROSES EVALUASI

META EVALUASI

↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓
Penentuan Perancangan Pengembangan Analisis dan
Pengumpulan Tindak
Tujuan → (Desain) → Instrumen → → Interpretasi →
Data Lanjut
Evaluasi Evaluasi Evaluasi Data
↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓
1. Tujuan 1. Pendekatan 1. Kesesuaian 1. Sifat data 1. Proses data 1. Hasil evaluasi
evaluasi model evaluasi instrumen kuantitatif. dengan ini untuk tolak
diadakan. yang dipakai. dengan data komputer. ukur
yang dicari. pengambilan
keputusan.
2. Evaluator 2. Pengujian 2. Data tertulis yang 2. Penafsiran 2. Hasil evaluasi
oleh penulis. instrumen. tersedia melalui hasil evaluasi. objektif dan
buku pedoman absah.
Direktorat Museum.
3. Jadwal 3. Responden
evaluasi. adalah pegawai
museum.
4. Teknik dan 4. Data primer:
instrumen Museum Batik
pengumpulan Yogyakarta.
data.
5. Anggaran. 5. Waktu dan
tempat
pengumpulan data.
Sumber: Irawan 2001, 9
Tabel 1.3: Proses evaluasi penelitian.
18

BAB II

GAMBARAN UMUM MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

A. Administrasi, Geografis, dan Lingkungan

1. Letak dan Lokasi Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta terletak di wilayah Kelurahan Bausasran, Kecamatan

Danurejan, Kotamadya Yogyakarta, DIY. Letak ketinggiannya dari permukaan laut

kurang lebih 155 mdpl (Biro Pusat Statistik 2007, 1). Kecamatan Danurejan terdiri

dari tiga kelurahan, yaitu: Kelurahan Suryatmajan, Kelurahan Tegal Panggung, dan

Kelurahan Bausasran. Secara astronomis, Museum Batik Yogyakarta terletak

110°22’38,29’’ Bujur Timur dan 07°47’44,95” Lintang Selatan.

Secara administratif Museum Batik Yogyakarta dibatasi oleh: 1. sebelah utara

Kecamatan Gondokusuman, 2. sebelah timur kecamatan Gondokusuman, 3.

sebelah selatan Kecamatan Pakualaman, 4. sebelah barat Kecamatan Gedong

Tengen. Wilayah Kecamatan Danurejan dilintasi oleh Sungai Code di sisi barat.

2. Iklim

Secara umum, rata-rata curah hujan tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah

586 mm/ tahun. Suhu temperatur udara tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah

32° c, dan suhu temperatur udara terendah adalah 22° c (Biro Pusat Statistik 2007,

1).

3. Luas Wilayah

Museum Batik Yogyakarta yang terletak di wilayah Kelurahan Bausasran

merupakan wilayah terluas dengan luas 47,38 ha atau sekitar 42,95%. Sedangkan

wilayah kelurahan lain yaitu Kelurahan Suryatmajan memiliki luas 27,87 ha atau
19

25,27% dan Kelurahan Tegal Panggung dengan luas 35,06 ha atau 31,78 % (Biro

Pusat Statistik 2007, 2).

4. Demografi

Kelurahan Bausasran menempati urutan ke-dua dalam hal kepadatan penduduk

di wilayah Kecamatan Danurejan. Dengan luas 0,4738 km2, Kelurahan Bausasran

memiliki penduduk sejumlah 12.581 jiwa yang terdiri dari 6.893 pria dan 5.688

wanita (Biro Pusat Statistik 2007, 10). Di dalam Kelurahan Danurejan tersebut

terdapat penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu fakir miskin 412 jiwa,

rumah tidak layak huni 51 buah, dan anak jalanan sejumlah lima jiwa (Biro Pusat

Statistik 2007, 40). Menurut data di kantor polisi, Kelurahan Danurejan merupakan

wilayah dengan tingkat kejahatan tertinggi, dengan rincian pencurian sembilan

kasus, dan penganiyaan tiga kasus (Biro Pusat Statistik 2007, 41).

B. SEJARAH KAIN BATIK

Data arkeologi yang digunakan untuk mendukung keberadaan kain batik adalah

data artefaktual dan data tekstual. Data artefaktual yang digunakan di antaranya

adalah arca dan relief. Adapun data tekstual adalah data yang berupa tulisan-tulisan

kuno baik yang berupa tulisan-tulisan kuno baik prasasti, dokumen-dokumen kuno,

naskah kesusastraan, ataupun berita Cina. Penggunaan data artefaktual dan

kontekstual tersebut didasarkan pada keberadaan indikasi adanya kain batik.

Kain yang digunakan saat ini merupakan hasil budaya manusia yang

berkembang dari masa ke masa. Indikasi awal keberadaan batik mulai muncul pada

masa klasik. Hal ini dibuktikan dengan adanya kain berwarna dan berornamen yang

disebut dalam prasasti. Dalam beberapa prasasti juga disebutkan bahwa kain

termasuk barang yang dikenai pajak dan menjadi salah satu yang diperdagangkan.
20

Pendapat mengenai asal mula batik dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama

adalah anggapan bawa batik berasal dari luar Indonesia (India, Cina) dan yang

kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa batik merupakan produk asli

Indonesia.

Tidak ditemukannya motif-motif tradisional yang sama dengan motif batik di

Indonesia seperti motif ceplok, motif kawung, motif lereng pada daerah Kalingga

merupakan alasan R.M Sucipto Wiryosuparto untuk menolak pernyataan Rouffaer

dan Jaynboll. Motif-motif tersebut adalah motif yang paling terkenal pada abad VIII-

XIII M (Susanto 1980, 307).

Menurut Kern, sebelum kedatangan orang-orang Hindu, Indonesia telah

mengenal sepuluh keterampilan. Keterampilan tersebut di antaranya adalah batik,

wayang, gamelan, pengerjaan logam, mata uang, metrik, teknologi pelayaran,

astronomi, penanaman padi di sawah, dan pemerintahan yang teratur (Ayatrohaedi

1986, 156-159).

Berbagai pengertian tentang batik coba diungkapkan oleh berbagai versi.

Hamzuri (1981, VI) mengatakan batik adalah lukisan atau gambar pada mori yang

dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Orang melukis atau

menggambar atau menulis pada mori memakai canting disebut membatik. Menurut

tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 112), batik adalah kain bergambar yang

pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada

kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Menurut KRT. Hardjonegoro dalam karya tulis ilmiah Helmi dan Mujiyono (1992,

52-53), batik lahir di dalam kalangan petani. Pada zaman Kerajaan Mataram,

karena adanya perhatian khusus dari keraton, maka batik masuk ke lingkungan

keraton. Masuknya batik ke keraton merupakan manifestasi dari pengabdian

kepada raja. Setelah memasuki lingkungan keraton, teknik pembuatan batik makin

diperhalus, baik motif maupun teknik pewarnaannya. Untuk mendukung hal tersebut
21

perlu diciptakan motif-motif batik bermutu tinggi, sehingga layak dipersembahkan

kepada raja dan keluarga.

Penciptaan motif-motif batik oleh para empu, tidaklah dilakukan dengan jalan

asal mencoret saja. Sama halnya dengan pembuatan keris, pencarian ilham untuk

sebuah motif batik dilakukan dengan meditasi dan mutih. Karena dalam proses

penciptaan motif-motif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah, maka dalam

pemakaian batik yang bermotif sesuai dengan hasil ciptaan melalui meditasi, tidak

bisa digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang

mengandung magis tinggi. Maka pihak keraton dalam hal ini Sri Susuhunan Paku

Buwana III pada tahun 1769 mengeluarkan peraturan tentang larangan

penggunaannya.

1. Data Artefaktual

Motif batik ditinjau dari segi arkeologis sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-

Budha di Pulau Jawa. Data artefaktual ini dapat ditemukan pada relief candi, dan

atribut yang digunakan oleh arca-arca.

Hal ini dapat dilihat dari ragam hias batik di beberapa bangunan, antara lain

(Departemen Perindustrian 1986, 5-28):

a. Motif Dasar Lereng: terdapat pada pakaian Çiwa, di daerah Gemuruh,

Wonosobo, Jawa Tengah.

b. Motif Lereng: terdapat pada gambar pakaian Manjusri dari Ngemplak,

Semarang sekitar abad XX M.

c. Motif Dasar Ceplok: terdapat pada Arca Ganesa dari Candi Banon, dalam

kompleks Candi Borobudur; pada Arca Çiwa dan Arca Durga dari Candi

Singosari (abad XIII M).

d. Motif yang memakai titik-titik digambarkan pada pakaian Padmapani, dari

zaman kebudayaan Jawa Tengah (abad VIII-X M).


22

e. Motif Dasar Kawung terdapat pada Arca Hari-Hara di Blitar, Arca Çiwa di

Candi Singosari, Arca Budha Mahadewa dari Umpang, dan Bhrkuti dari Candi

Jago, Jawa Timur.

f. Motif Dasar Sidomukti, berbentuk segi empat yang diberi isen-isen garuda

pada Arca Ganesa dan Arca Durga di Candi Singosari.

g. Beberapa motif hias pada kain batik yang banyak dijumpai dalam relief antara

lain adalah motif kertas tempel. Penggunaan motif ini pada candi adalah

sebagai motif penghias pada bidang-bidang yang berbentuk persegi panjang.

Motif ini dapat dijumpai pada beberapa dinding candi di Jawa Tengah,

misalnya Candi Sewu, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.

2. Data Tekstual

Sementara itu, selain terdapat pada bangunan candi, ragam hias batik juga

disebutkan dalam naskah kesusastraan antara lain:

a. Naskah Pararaton yang ditulis antara tahun 1478-1486, disebutkan bahwa

ketika Raden Wijaya hendak maju berperang melawan pasukan dari Cina,

untuk menambah semangat prajuritnya, maka Raden Wijaya membagikan

kain gringsing kepada para prajuritnya sehelai seorang (Pitono dalam

Setiawan 2006, 28). Gringsing adalah motif isen batik klasik khas Yogyakarta.

b. Serat Centhini yang mulai digubah pada tahun 1820 oleh Adipati Anom

Amengku Negara III yang kemudian di sebut Sinuwun Pakubuwana V,

menunjukkan bahwa penggunaan kata mbatik telah digunakan pada masa ini

(Yasandalem Kanjeng Gusti 1985, 58).

Teks (dalam bahasa jawa dengan huruf latin):

21 pangkur
25. Kepek kekalih punika, kang setunggal pan isi
sinjang lurik, warna-warni corekanipun, miwah
sinjang prausan, dhetar tepen renda myang
praosanipun dene kepek satunggil, isi kampuh
gadhung mlathi.
23

34 maskumbang
6. Nyumerepi sawuwaning angi-angi, pon-empon
babakan, eron ingkang maedahi, ngektosi
kanggening karya.
7. Nganlih nenun nyulam nyongket andondomi,
angraronce sekar (m)batik (m)babar adi,
mamantes isining wisma.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

21 Pangkur
25. Kedua kantung itu, yang satu berisi kain lurikl
bercorak warna-warni dan kain prada, ikat kepala
dengan tepi berenda serta berprada pula,
sedangkan kantung yang satu berisi kampuh (kain
kebesaran ningrat) bermotif gadhung melati.

34 Maskumbang
6. Mengetahui penggunaan segala daun-daun yang
bermanfaat untuk obat-obatan.
7. Bertenun, menyulam, membuat batik sampai
dengan menyelesaikannya menjadi kain yang
bagus, pandai mengatur rumah.

c. Dalam Layar Damarmulan, seperti yang dikutip oleh D. Hinloopen Laberton

dalam buku Ragam Hias dari Masa ke Masa disebutkan bahwa para prajurit

(ksatria-ksatria) Majapahit dan Blambangan dalam peperangan menunggang

kuda mengenakan kampuh khusus untuk punggawa tertentu di suatu kerajaan

Majapahit, dengan ragam hias motif alas-alasan” (Yusuf dkk. 1988, 5).

d. Naskah Sumanasantaka 19.6 dan naskah Maradahana 4.7 dan 25.10, juga

menyebutkan adanya berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan

kain. Penyebutannya adalah anglukis (seniman lukis), anulis (membatik),

asipet (tukang sulam), dan angjahit (tukang jahit) (Pinardi 1992, 211).

e. Undang-undang Manuskrip yang berbahasa Jawa dari Surakarta yang ditulis

oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III pada tahun 1769 berisi tentang peraturan

penggunaan batik di lingkungan keraton. Batik dalam proses penciptaan motif-

motif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah sehingga tidak bisa

digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang
24

mengandung magis yang tinggi. Perundangan ini merupakan sumber tertulis

tertua yang menyebutkan istilah batik yang ditulis dalam Bahasa Jawa

(Soejoko dalam Setiawan 2006, 29).

Teks dalam Bahasa Jawa:

“Ana dene kang arupo jajarit kang kalebu ing


laranganingsun batik sawat lan batik parang rusak,
batik cemungkiri kang calacap, madang, bangun
tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal. Ana dene
batik cumangkirang ingkang a calacap lung-lungan
utama kekembangan, ingkang ingsung
kawenangaken angangoka pepatih-ingsunlan
sentaningsun, kawula ningsun, wedana.”

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

“Adapun yang berupa kain panjang (jarit) yang


termasuk dalam laranganku adalah batik sawat dan
batik parang rusak, batik cemukiran terdiri dari
medang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem dan
tumpal. Adapun batik cemukiran yang terdiri dari
lung-lungan, atau stiliran kembang (bunga). Yang
kuijikan dipakai oleh patih dan kerabatku, hambaku
wedana.”

f. Serat yang dikeluarkan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII, menyebutkan

peraturan tentang penggunaan kain batik. Serat tersebut berisi aturan-aturan

tentang penggunaan busana kebesaran Keraton Yogyakarta Hadiningrat

terutama yang menggunakan ornamen. Serat ini aslinya ditulis dalam bahasa

dan huruf Jawa, kemudian disalin dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin.

Teks dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin yang terdapat dalam Bab 3

tersebut, kutipannya seperti berikut ini (Nurjanti 1993, 175):


25

Wujude batikan dodot, sarta bebet prajuritan kaya ing ngisor iki:

1. parang rusak barong gedene sak nduwure gendreh,

2. parang rusak gendreh, dene garisan jupuk saka tengah-tengah mlinjon,

nyiku bener ora luwih saka wolung sentimeter,

3. parang rusak klitik, gedene garisan uga kaya dene prang rusak gendreh,

ananging ora keno luwih saka patang sentimeter,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar kang dudu gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan kang dudu parang rusak, gede cilike garisan hiya

miturut parang rusak,

Sedangkan kutipan yang terdapat dalam Bab 4, adalah sebagai berikut:

1. parang rusak baro,

2. parang rusak gendreh,

3. parang rusak kliti,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar kang dudu gruda,

6. udan liris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan kang dudu parang rusak.

Terjemahan dari kutipan tersebut dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai

berikut:

Bab 3

Wujudnya batikan dodot, serta pakaian keprajuritan seperti di bawah ini:

1. parang rusak barong besarnya setinggi(nya) gendreh,


26

2. parang rusak gendreh, (jika) seperti penggaris diambil dari tengah-

tengahnya mlinjon, benar-benar siku tidak lebih dari delapan centimeter,

3. parang rusak klitik, besarnya garis juga seperti parang rusak gendreh,

tetapi tidak boleh lebih dari empat centimeter,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar yang bukan gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan yang bukan parang rusak, besar kecilnya garis juga

menurut parang rusak.

Bab 4

1. parang rusak barong,

2. parang rusak gendreh,

3. parang rusak klitik,

4. parang gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar yang bukan gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan yang bukan parang rusak.

Motif batik pada arca-arca dan relief candi tersebut membuktikan bahwa pada

abad IX-XVI M bangsa Indonesia telah mendapatkan motif lereng ceplok, kawung,

sidomukti, semen, pemakaian isen-isen cecek dan titik, sedangkan India Selatan

baru dimulai pada tahun 1516 dan mencapai puncaknya pada abad XVII-XIX M.

Pemakaian alat memberikan corak tersendiri pada motif batik. Batik Indonesia

dengan menggunakan canting merupakan salah satu wujud tingginya mutu

kesenian kain batik yang dapat memperlihatkan keindahan yang sama dengan pada

sisi luar maupun dalam. Hal ini tidak terdapat di India Selatan yang memakai
27

stempel sebagai alat pembatik sehingga hanya memperhatikan bagian luar saja

(Tirtaamidjaja 1996, 3).

Teknik penahan warna tidak hanya terdapat pada daerah yang mengalami

pengaruh Hindu saja, tetapi juga terdapat pada daerah seperti Toraja (Sulawesi

Selatan), Flores (NTT), Halmahera (Maluku), bahkan hingga Papua.

Motif batik pada umumnya dipengaruhi dan erat hubungannya dengan beberapa

faktor-faktor, antara lain (Djumena 1990,1):

1. Letak geografis daerah pembuatan batik yang bersangkutan,

2. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan,

3. Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah bersangkutan,

4. Keadaan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna,

5. Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembatikan.

Sedangkan seni batik dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain: proses

pembatikan atau pembuatan, mutu pembatikan, ragam hias dan tata warna

(Djumena 1990,2).

C. PENGELOMPOKAN JENIS BATIK

Sejak zaman penjajahan Belanda, terdapat pengelompokan besar jenis batik

berdasarkan daerah pembatikan, yaitu:

1. Batik Keraton

Batik-batik dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta menurut G.B.R.A Murywati

Darmokusumo (1990, 31) mempunyai kekhasan dan keasrian masing-masing yang

bisa dibedakan berdasarkan wujudnya. Batik Yogyakarta lebih banyak berlatar putih

cerah dan menampilkan perbedaan warna yang tajam antara biru nila dan coklat

soga yang hangat. Sedangkan latar batik Surakarta putih Gading. Sekalipun
28

demikian keduanya sama-sama mempunyai nilai dan filsafat yang tinggi. Ragam

hias pada batik kraton bersifat simbolis berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa.

Perkembangan teknik yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keraton-

keraton Jawa ditunjang dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang

terdiri dari wadah kuningan bercorong yang dipasang pada sebuah gagang buluh

bambu kecil. Alat ini mampu menuliskan ragam hias yang paling rumit sesuai

keterampilan dan kemampuan pembatik. Walaupun adanya perkembangan zaman

di mana gaya hidup lama disesuaikan dengan yang baru, seni batik tetap

merupakan suatu lambang tingginya citra budaya yang terdapat dalam keraton-

keraton Jawa (Edleson dan Soedarmadji J.H Damais 1990, 7-8).

Beberapa contoh motif batik keraton dan simbolisme yang melatarbelakanginya

antara lain (Majalah Femina 1985, 8-10):

1.1. Kawung

Foto 2.1: Batik Motif Kawung.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 45)
29

Diinterpretasikan sebagai gambar bunga teratai dengan 4 lembar daun yang

sedang mekar. Bunga teratai melambangkan umur panjang dan kesucian.

Diperuntukkan bagi keluarga bangsawan sampai yang paling rendah yaitu Raden.

1.2. Parang

Motif ini mempunyai pola pedang yang menunjukkan kekuasaan atau kekuatan.

Menurut kepercayaan, motif parang harus dibatik tanpa salah, karena akan

menghilangkan kekuatan gaib dari kain ini. Komposisi miring pada parang

menandakan kekuatan dan gerak cepat, karena para ksatria diharapkan bergerak

dengan gesit. Yang mempunyai daya magis pada motif parang adalah bagian

“mlinjon”, yaitu pemisah pada komposisi miring yang berbentuk ketupat.

Foto 2.2: Batik Motif Parang Rusak.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.3. Cemukiran

Mirip motif parang, tetapi mempunyai pola seperti sinar. Pola yang mirip sinar itu

diibaratkan sebagai sinar matahari yang melambangkan kehebatan dan kebesaran

alam semesta atau Batara Guru. Batara Guru menurut kepercayaan Jawa menjelma
30

dalam diri raja. Oleh karena itu hanya raja dan putra mahkota yang boleh

menggunakan motif cemukiran.

Foto 2.3: Batik Motif Cemukiran.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.4. Sawat

Foto 2.4: Batik Motif Sawat.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)
31

Motif ini ditandai dengan adanya lukisan sayap, baik sayap pasangan maupun

tunggal. Sayap ini diibaratkan burung garuda. Dalam mitologi Hindu Jawa, garuda

adalah jenis burung yang bertubuh dan berkaki manusia, tetapi bersayap dan

berkepala seperti burung. Garuda ini membawa terbang Dewa Wisnu ke nirwana.

1.5. Udan Liris

Motif ini berarti hujan gerimis. Motif ini adalah lambang kesuburan dan

berhubungan dengan pertanian.

Foto 2.5: Batik Motif Udan Liris.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.6. Semen

Berasal dari kata semi (bahasa Jawa) yang berarti tumbuh. Motif ini penuh

dengan simbolisme yang menunjukan pujaan terhadap kesuburan dan tata tertib

alam semesta.
32

Foto 2.6: Batik motif Semen Romo.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

Lukisan yang terdapat dalam semen bermacam-macam, tetapi yang utama

adalah pohon atau tanaman dengan akar dan sulur-suluran.

1.7. Alas-alasan

Motif ini mirip dengan motif semen. Perbedaannya adalah banyak terdapat

lukisan hewan. Alas-alasan berarti seperti hutan. Ada motif alas-alasan yang

dilukiskan sebagai pinggiran dodot kembang (polos dengan warna-warna bunga).

Kain semacam ini disebut bangun tulak. Bangun tulak hanya dikenakan oleh Raja

Surakarta pada waktu upacara-upacara kerajaan.

Kain ini juga digunakan oleh para penari tarian kuno Bedoyo Ketawang, yang

merupakan tarian ungkapan percintaan antara Nyai Loro Kidul dengan

Panembahan Senopati.
33

Foto 2.7: Batik motif Alas-Alasan.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

2. Batik Pesisiran

Batik pesisir adalah istilah yang digunakan pada produk-produk dari luar dinding

keraton. Keberadaanya tidak di bawah kendali dan dominasi aristokrasi keraton,

berikut segenap tata aturan, alam pikiran dan filsafat kebudayaan keraton Jawa.

Pertumbuhannya berangkat dari beberapa faktor yaitu masyarakat pelaku

produksinya, yakni rakyat jelata. Sifatnya cenderung merupakan komoditas dagang

berikut segenap dampak yang ditimbulkan pada teknologi produksinya, dan

ikonografi yang sarat dengan pengaruh etnis.

Sebagai produk perdagangan, batik ini banyak mengalami dinamika

perkembangan di kalangan pengusaha Cina dan Muslim, diikuti kelompok

keturunan Belanda (Indo). Bersama-sama mereka melengkapi sejarah

perkembangan perbatikan di wilayah nusantara (Anas dkk. 1997, 82).

Masyarakat nusantara yang beraneka ragam budaya, sebagai konsumen batik

juga turut mempengaruhi ragam hias dan warna, sehingga muncul berbagai

perbedaan ragam hias dan warna pada batik yang dibuat oleh masyarakat perajin
34

yang berbeda tempat. Perbedaan tempat ikut mempengaruhi perbedaan ragam hias

dan warna, karena didasari oleh faktor pengalaman yang dimiliki oleh perajin dan

wirausaha yang pada hakekatnya berbeda. Perbedaan ini dipertajam karena pilihan

segmen pasar dan mutu batik mempengaruhi babaran proses yang berbeda.

Pusat-pusat batik pesisir di Pulau Jawa adalah daerah pembatikan yang terdapat

pada jalur pesisir utara Jawa, dari barat ke timur meliputi kota-kota pembatikan

Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Juana, Rembang, Lasem, Tuban, Sidoarjo,

dan daerah Madura seperti Tanjung Bumi, Sampang, dan Sumenep.

2.1. Indramayu

Desa pembuatan yang dikenal terdapat di daerah Paoman. Teknik yang

digunakan umumnya batik tulis, dengan produk yang paling banyak dipakai untuk

jarit dan sarung. Batik Indramayu dibuat dengan teknik “babar pisan”, artinya hanya

sekali proses pelorodan, tidak ada proses ulang untuk sogan. Warna yang dipakai

umumnya warna gelap (tua) dan terang (putih).

Foto 2.8: Kain Panjang Indramayu.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 95)
35

Ciri yang menonjol dari batik Indramayu adalah langgam flora dan fauna

diungkap secara datar, dengan banyak bentuk lengkung dan garis-garis yang

meruncing (ririan), latar putih dan warna gelap, dan banyak titik yang dibuat dengan

teknik cacahan jarum, serta bentuk isen-isen (sawot) yang pendek dan kaku.

2.2. Cirebon

Daerah pembatikan Cirebon terletak di daerah Trusmi dan Kali Tengah.

Pengusaha Trusmi umumnya membuat batik untuk jarit, sarung dan ikat kepala

serta barang-barang rumah tangga seperti taplak, sarung bantal, dan sebagainya.

Ciri yang sangat menonjol pada batik Cirebon yaitu batik Keraton dan batik Bang-

Biron. Di samping itu, terdapat corak batik yang jarang dipakai untuk pakaian sehari-

hari dengan simbol spiritual, yakni batik yang dihias dengan kaligrafi Arab, berisi

bagian-bagian ayat Al-Quran atau doa-doa dalam bahasa Arab. Batik ini disebut

Kain Besurek yang dalam bahasa Indonesia berarti bersurat dan banyak diminati

oleh orang-orang Sumatera seperti Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi.

Batik keraton Cirebon memiliki ciri warna putih (dasar), biru (indigo), dan coklat

(soga). Ragam hias yang dipilih banyak terkait dengan mitologi yang berkembang di

Cirebon seperti Paksi Naga Liman, Singa Barong, Taman Arum, Naga Seba, dan

sebagainya.
36

Foto 2.9: Batik Cirebon Motif Mega Mendung.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 98)

Tata letak batik Cirebon umumnya tersusun horizontal dalam tiga lajur yang

menggambarkan jajaran atas, tengah, dan bawah. Sekarang pembatik Cirebon

telah banyak menggunakan pewarna buatan yang memungkinkan terciptanya

berbagai kombinasi warna untuk memperkaya ragam hias.

2.3. Pekalongan

Dikenal sebagai kota batik, karena memiliki potensi yang cukup besar sebagai

penghasil batik yang tersebar ke seluruh nusantara. Salah satu motif batik

Pekalongan yang terkenal adalah motif jlamprang yang saat ini sudah jarang

diproduksi lagi. Menurut Ninuk Mardiana Pambudi dalam artikelnya yang berjudul

Perjalanan Panjang Batik (2000, 236-237), motif jlamprang meniru motif patola yang

berasal dari Gujarat. Kehalusan motif yang dihasilkan ikat patola dengan cepat

menarik minat para bangsawan kerajaan Jawa. Namun karena kelangkaan

pasokan, maka para artisan batik dengan cepat meniru motif tersebut.
37

Foto 2.10: Kain Panjang Pekalongan.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 101)

Beberapa daerah pembatikan yang terkenal sebagai penghasil batik dengan ciri

ragam hias dan warna antara lain Kauman, Pesindan, Sampangan, Klego,

Sugihwaras, Keraton, Grogolan, Krapyak, Panjang, Bendan, dan Poncol.

Sedangkan di luar kota Pekalongan antara lain Buaran, Pekajangan, Kedungwuni,

Wonopringgo, Bojong, Wira Desa, Comal, dan Pencongan. Daerah batik di

Kabupaten Batang antara lain Setono, Warung Asem, Sukoharjo, Karanganyar,

Dracik, Kecepak, Klidang, Gamer, dan Slumprit.

Ciri yang menonjol pada batik Pekalongan adalah ragam hias dan tata warnanya

senantiasa silih berganti, dinamis, dan mengikuti perkembangan pasar. Berbagai

teknik pewarnaan diperkenalkan seperti teknik coletan, besutan, sinaran,

pewarnaan radian, formika, dan berbagai pengembangan zat pewarna seperti

naphtol, indigosol, cat basa, cat ergan, cat rapid, dan reaktif.
38

2.4. Lasem

Lasem, kota kecamatan di bagian timur Kabupaten Rembang, terletak kurang

lebih 13 km dari ibu kota kabupaten. Nama Lasem selama ini lebih dikenal

dibandingkan ibu kota kabupatennya sendiri, Rembang. Sebagian besar bus dari

luar daerah selalu transit di terminal Lasem dan menempatkan Lasem sebagai jalur

kendaraan, dan bukan Rembang, misalnya, bus jalur Semarang-Lasem (Nurbiajanti,

2004).

Foto 2.11: Sarung Bang-Biron dari Lasem.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 109)

Batik dari daerah ini memiliki corak khas, terutama pada warna merahnya yang

menyerupai merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari

daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan

pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara, dan budaya

keraton (Surakarta dan Yogyakarta).

Perajin di kota ini umumnya keturunan Cina dengan modal yang cukup besar,

sehingga dapat melakukan pembelian bahan-bahan pembatikan secara banyak,

langsung dari pabrik atau pedagang bahan impor, dengan tujuan efisiensi.
39

Ketika membuat desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha

pembatikan Lasem dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan

legendanya. Ragam hias burung hong dan binatang legendaris Kilin (semacam

singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik produksi mereka.

Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah menjadi

motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem

sering disebut sebagai batik Encim. Encim adalah sebutan kaum Tionghoa

peranakan untuk wanita yang usianya telah lanjut (Wargatjie, 2003).

2.5. Tuban

Daerah pembatikan Tuban terdapat di beberapa desa di Kecamatan Kerek,

Merak, Urak, dan di kota Tuban sendiri. Batik di ketiga daerah ini memiliki ciri yang

berlainan.

Foto 2.12: Kain Tuban.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 111)

Di Kecamatan Kerek, khususnya di Desa Worgorejo, Kedung Rejo, dan Gaji

serta pembatikan di Kecamatan Warak dan Urak, pembatikan dilakukan diatas kain

gedok tenun tangan dengan benang pintal tangan, sedangkan di Waru Tuban tidak
40

biasa memakain kain gedok untuk batik, melainkan kain dari jenis katun prismissima

dan prima.

2.6. Sidoarjo

Batik Sidoarjo merupakan komuditas dagang yang ditujukan untuk segmen

masyarakat pesisir utara Jawa Timur dan Madura. Corak tradisional batik Sidoarjo

beragam jenis flora dengan paduan warna hitam, coklat, dan merah. Corak ini

terutama digemari oleh orang-orang Madura sehingga disebut batik Maduran. Corak

tradisional ini berpola agak besar-besar dengan isen-isen agak besar.

Pengusaha batik Sidoarjo sebagian besar golongan keturunan Cina, sehingga

kurang memperhatikan kaidah batik tradisional tetapi cenderung mengikuti

perubahan pasar.

2.7. Madura

Foto 2.13: Kain Panjang Madura Motif Buk.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 113)
41

Batik Madura terutama dikerjakan oleh perajin batik dari Tanjung Bumi,

Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan. Tanjung Bumi merupakan penghasil batik

yang beraneka ragam dan rumit.

2.8. Ciamis dan Tasikmalaya

Ragam hias dan warna batik Tasikmalaya dan Ciamis mendapat pengaruh kuat

dari batik keraton, yakni ragam hias lereng dan kawung dengan pewarnaan krem,

coklat, dan hitam. Belakangan, pengaruh batik pesisiran juga mewarnai batik

Tasikmalaya dan Ciamis, seperti tampak pada corak flora dan tata warnanya yang

menggunakan pewarna sintesis naphtol dan indigosol.

Dalam proses, pembuatan batik diperlukan beberapa peralatan, antara lain:

1. Gawangan

Gawangan ialah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori

sewaktu dibatik. Gawangan dibuat dari bahan kayu atau bambu. Gawangan

dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah dipindah-pindah, tetapi harus kuat dan

ringan.

Foto 2.14: Gawangan pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
42

2. Bandul

Bandul dibuat dari timah atau kayu atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok

bandul ialah untuk menahan mori yang baru dibatik agar tidak mudah bergeser

ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak disengaja. Jadi tanpa bandul,

pekerjaan tetap dapat dilaksanakan.

3. Wajan

Wajan ialah perkakas untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja,

atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan

diturunkan dari perapian tanpa mempergunakan alat lain. Oleh karena itu wajan

yang dibuat dari tanah liat lebih baik dari pada yang logam, karena tangkainya

tidak mudah panas. Tetapi wajan dari bahan tanah liat lebih lama mencairkan

malam.

4. Anglo

Foto 2.15: Anglo yang biasa digunakan dalam poses membatik.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Anglo dibuat dari tanah liat, atau bahan lain. Anglo ialah alat perapian sebagai

pemanas malam. Apabila mempergunakan anglo, maka bahan untuk membuat


43

api ialah arang kayu. Jika menggunakan kayu bakar, anglo diganti dengan keren.

Keren inilah yang banyak dipergunakan orang di desa-desa. Keren pada

prinsipnya sama dengan anglo, tetapi tidak bertingkat.

5. Tepas

Tepas ialah alat untuk membesarkan api menurut kebutuhan, terbuat dari

bambu. Selain tepas, digunakan juga ilir. Tepas dan ilir pada pokoknya sama,

hanya berbeda bentuk. Tepas berbentuk empat persegi panjang dan meruncing

pada salah satu sisi lebarnya dan tangkainya terletak pada bagian yang runcing

itu. Sedangkan ilir berbentuk bujur sangkar dan tangkainya terletak pada salah

satu sisinya serta memanjang ke samping.

6. Taplak

Taplak ialah kain untuk menutup paha si pembatik supaya tidak kena tetesan

malam panas sewaktu canting ditiup, atau waktu membatik. Taplak biasanya

dibuat dari kain bekas.

Foto 2.16: Anglo, wajan, dan malam serta canting sebagai peralatan membatik.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
44

7. Saringan malam

Saringan ialah alat untuk menyaring malam panas yang sangat banyak

kotorannya. Jika malam disaring, maka kotorannya dapat dibuang, sehingga

tidak menggangu jalannya malam pada cucuk canting sewaktu dipergunakan

untuk membatik.

8. Dingklik

Dingklik atau lincak pada prinsipnya sama, yaitu tempat duduk si pembatik.

Tetapi pembatik juga dapat duduk di atas tikar.

9. Canting

Foto 2.17: Canting dalam berbagai bentuk dan kegunaan.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Canting adalah alat pokok untuk membatik yang menentukan apakah hasil

pekerjaan itu dapat disebut batik, atau bukan batik. Canting dipergunakan untuk

menulis, membuat motif batik yang diinginkan. Sultan HB X dalam buku Sekaring

Jagad Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan bahwa perkembangan teknik

yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keraton-keraton Jawa ditunjang

dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang terdiri dari wadah

kuningan bercorong dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil. Alat ini
45

mampu menghasilkan ragam hias yang paling rumit sesuai keterampilannya dan

kemampuan si pembatik

10. Malam

Malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam

tidak habis, karena akhirnya diambil kembali pada waktu proses mbabar. Malam

yang dipergunakan untuk membatik macam-macam kualitasnya. Kualitas ini

berpengaruh terutama pada daya serap, warna yang dapat mempengaruhi warna

mori (kain), halusnya cairan, dan sebagainya. Maka harganya pun akan berbeda-

beda, tetapi dalam pemakainnya tergantung pada kebutuhan.

Foto 2.18: Malam sebagai bahan inti dalam teknik penahan warna dalam membatik.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

11. Kain Mori

Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kualitas mori bermacam-macam, dan

jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan, karena

kebutuhan mori dari macam-macam kain tidak sama. Jenis-jenis mori antara lain:

(a). mori primisima: merupakan kain mori terbaik dan halus, sering juga disebut

mori sen, (b). mori prima: merupakan kain mori dibawah kualitas mori primisima,
46

tetapi tetap halus, (c). mori biru: merupakan kain mori dengan kualitas dibawah

mori prima.

Untuk menghasilkan kain batik tulis dengan kualitas tinggi memerlukan sembilan

tahap/ proses (Hadisuwito, 2007). Sedangkan untuk pembuatan batik cap, terdapat

beberapa proses yang tidak dilalui, disebabkan proses tersebut telah diambil alih

oleh cap batik. Adapun tahapan membatik adalah:

1. nyorek

Adalah proses memindahkan desain motif batik ke bahan mori.

Foto 2.19: Proses nyorek pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

2. ngegreng

Adalah menutup desain batik dengan malam, dan masih berupa kosongan.

3. klowongan

Adalah memberi isian dalam motif batik

4. nembok

Adalah menutup motif dengan malam khusus, supaya hasil akhirnya menjadi

putih.
47

5. medel

Adalah memberi warna biru atau indigo. Kain batik direndam dalam cairan

indigo selama 15 menit, kemudian di kerek selama 2 hari secara bergantian.

Foto 2.20: Proses medel pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

6. dilorot pertama

Adalah proses menghilangkan lilin dengan cara direbus. Pada proses ini batik

sudah setengah jadi.

7. digranit

Adalah proses memberi titik pada garis pensil.

8. mbironi

Adalah proses menutup cecek dengan malam.


48

9. disoga

Adalah proses memberi warna coklat dengan cara direndam.

Foto 2.21: Proses soga pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

10. dilorot terakhir

Adalah proses terakhir dengan cara direndam agar semua malam yang masih

melekat sebagai penahan warna hilang.

Foto 2.22: Proses nglorot pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)
49

Pada pembuatan batik cap, proses pembatikannya lebih singkat karena mulai

dari proses nyorek sampai klowongan dikerjakan dengan alat cap yang terbuat dari

kuningan, namun setelah itu dilanjutkan dengan proses seperti layaknya batik tulis.

Foto 2.23: Proses batik cap pada industri batik Plentong.


(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

Dalam pewarnaan batik, dapat menggunakan pewarnaan alami maupun buatan.

Zaman sekarang kebanyakan indutri batik menggunakan pewarna buatan karena

mereka dapat menghewat waktu produksi. Sedangkan pewarna alami tetap

digunakan, namun hanya pada produksi kain batik tertentu saja.


50

Dalam pewarna alami, bahan dari alam yang digunakan antara lain (Setiawan

2006, 46-64):

a. nila atau tom (Indigofera tinctoria L) b. tingi (Ceriop tagal PEER)


c. jambal (Peltophorum pterocarpum DC) d. jalawe (Termalia belerica ROXB)
e. soga (Pelthorum pterocarpum backer) f. mengkudu (Morinda citrilofia L)
g. mahoni (Swetenia mahoni JACO) h. apokat (Persea Gratisima G)
i. ulin (Eusideroxylon zwageri T) j. bawang merah (Allium ascalonium L)
k. jati (Tectona grandis L) l. teh (Acalypha wilkesiana)
m. nangka (Artocarpus integra MEER) n. kenikir (Sonchus oleracheus LINN)
o. gambir (Uncaria gambir ROXB) p. mangga (Magifera indica LINN)
q. kepel (Stelechocarpus burahol HOOK) r. randu (Ceiba pentandra GAERTH)
s. jambu biji (Psidium gujavana L) t. kesumba (Bixa Orellama L)
u. srigading (Nyctanthes arbor tritis L) v. tembelekan (Lantana camara L)
w. senggani (melastoma malabathicum x. tegeran (Maclura cochinchinensis
LINN) LOUR)
y. kunyit (Curcuma domistica) z. secang (caesal pinia sappan LINN)

Tabel 2.1: Bahan alam untuk pembuatan pewarna alami batik.

Foto 2.24: Neraca untuk meracik pewarna buatan pada indutri batik Plentong.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
51

D. SEJARAH BERDIRINYA MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

Secara administratif Museum Batik Yogyakarta terletak di Kotamadya

Yogyakarta, Kecamatan Danurejan, Kelurahan Bausasran, tepatnya di Jalan Dr.

Sutomo nomor 13. Museum ini terletak di dalam pemukiman yang padat penduduk

dan wilayah dengan tingkat kejahatan yang tertinggi di Kecamatan Danurejan.

Museum ini dapat dikunjungi setiap hari kerja mulai pukul sembilan pagi hingga

pukul tiga sore dan diselingi waktu istirahat pada pukul 12 hinggal pukul 13. Pada

hari Minggu dan Hari Besar, museum ini tutup.

Museum Batik Yogyakarta berdiri pada tanggal 12 Mei 1977, karena faktor

kesehatan yang diderita oleh Bapak Hadi Nugroho sebagai pemilik, maka museum

baru dapat diresmikan dua tahun setelahnya, pada tanggal 12 Mei 1979 oleh

pejabat dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang telah

berganti menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata), dengan akta notaris

nomor 22 tanggal 25 Mei 1977 dan pejabat pembuat akta adalah Daliso Rudianto,

S.H.
52

Peta 2.1: Keletakan Museum Batik Yogyakarta terhadap museum lain di Yogyakarta.
(digambar oleh: Diniartha Ikha Muharram)

Koleksi yang terdapat pada Museum Batik Yogyakarta berasal dari milik pribadi

dan pembelian yang dikumpulkan mulai tahun 1960. Koleksi yang berasal dari

pribadi diperoleh keluarga Bapak Hadi Nugroho yang pada masa itu merupakan

pengusaha batik di Yogyakarta, sedangkan beliau sendiri adalah generasi ketiga

dari keluarganya. Museum ini berdiri atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho yang

merasa tergugah ketika banyak wisatawan mancanegara maupun wisatawan

nusantara yang mencari barang-barang antik, khususnya batik. Kemudian beliau

memulainya dengan mengumpulkan koleksi dari tiga generasi, yaitu dari eyang,

orang tua, dan beliau sendiri.

Bila dilihat dari jenis koleksinya, museum ini masuk ke dalam klasifikasi museum

khusus, dan bila dilihat dari aspek penyelenggaraannya Museum Batik Yogyakarta
53

merupakan museum swasta yang dimiliki oleh Yayasan Batik Yogyakarta dengan

struktur pengurus sebagai berikut:

Penasehat : GPPH Hadiningrat


Ketua : Hadi Nugroho
Sekretaris : Suharjono
: Dewi Hadi Nugroho
Komisaris
Ketua : KRT. Soebandi Kusumonegoro
Anggota : R. Ma’roef Soeprapto
: Ir. Sri Sudewi Samsi
: RnGT. Dewi Sukaningsih
Tabel 2.2: Struktur pengurus Yayasan Batik Yogyakarta.

Dengan visi “Memberikan Kontribusi dalam Upaya Melestarikan,

Mengembangkan dan Mengkomunikasikan Batik sebagai Karya Cipta Umat

Manusia maupun sebagai Khasanah Budaya Nusantara demi Memperkaya Akal

Budi dan Meningkatkan Nilai-nilai Kemanusiaan”, Museum Batik mempunyai misi,

yaitu:

1. Mengembangkan museum batik dengan koleksi yang bernilai tinggi melalui

sarana fisik yang representatif dan prasarana manajerial yang andal.

2. Mengembangkan fasilitas perawatan koleksi batik beserta perlengkapan

teknologinya sebagai dokumentasi seni dan budaya masyarakat

pendukungnya.

3. Mengembangkan diferensiasi daya tarik wisata edukasi berbasis museum.

4. Mengembangkan fasilitas rekreatif yang dipadu dengan fasilitas ekspresi seni

di Yogyakarta.

Dalam mencapai visi dan misinya tersebut, museum ini mengembangkan dua

pola kegiatan secara garis besar, yaitu kegiatan intern dan ekstern. Kegiatan intern

museum adalah mengadakan pameran rutin, mengadakan festifal batik, pertemuan


54

dengan para pelaku industri batik, lomba lukis motif batik serta kursus membatik.

Sedangkan untuk kegiatan ekstern yang dilakukan adalah mengadakan kerja sama

dengan instansi pemerintah, mengundang media masa untuk meliput koleksi dan

mempublikasikan kepada masyarakat, serta mengikuti pameran-pameran (Haryono,

2007)

Koleksi Museum Batik Yogyakarta merupakan kumpulan dari koleksi dengan

cakupan lokal dan nasional, dengan maksud agar museum ini dapat memberikan

wawasan nusantara kepada para pengunjung melalui koleksinya. Museum batik

Yogyakarta saat ini memiliki koleksi 1.219 buah koleksi yang terdiri dari 500 kain

batik yang terdiri dari batik kraton dan batik pesisir, 560 buah canting cap, 124

canting tulis, dan peralatan lain seperti wajan dan anglo sebanyak 35 buah. Koleksi

ini berumur sangat tua sampai pada batik yang pembuatannya yang diolah secara

modern antara lain: 1. Sarung isen-isen antik karya E.V. Zeuylen dari Belanda. Batik

ini berasal dari Pekalongan dengan tahun pembuatan sekitar tahun 1880-1890.

Sarung tersebut memiliki corak untaian bunga, tumpal blabakan, galar selinglung

daun dengan warna biru tom hijau warna kayu, dikerjakan dengan teknik proses

batik tulis dengan tingkat kesulitan sedang dan berbahan mori primisima, 2. Sarung

isen-isen antik (kelengan) karya seorang nyonya Belanda yang tidak diketahui

namanya. Batik ini berasal dari Pekalongan dengan tahun pembuatan sekitar tahun

1880-1890. Sarung tersebut memiliki corak buketan isen-isen, dasar galar seling

halus dan unik dengan warna biru tom kuning kayu hijau kombinasi, dikerjakan

dengan teknik proses batik tulis halus cecek jarum dan berbahan mori primisima, 3.

Sarung panjang soga jawa karya Lie Djing Kiem. Batik ini berasal dari Yogyakarta

dengan tahun pembuatan sekitar tahun 1920-1930. Sarung tersebut memiliki corak

boketan adu jago dasar polos dengan warna soga jawa, hitam, dan putih, dikerjakan

dengan teknik proses batik tulis sedang dan berbahan mori primisima. Koleksi tertua

yang dimiliki museum ini adalah kain pethuk manten, yaitu kain batik yang
55

digunakan pada waktu upacara srah-srahan pengantin jawa dengan tahun

pembuatan 1740 (Haryono, 2007).

Dalam pengembangannya, saat ini Museum Batik Yogyakarta sejak tahun 2004

telah merintis pengembangan Museum Batik Yogyakarta di Dusun Kaliwaru,

Kelurahan Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

Museum ini nantinya akan didirikan diatas tanah seluas 7.000 m2 dengan luas

bangunan 5.600 m2 dan saat ini sedang dalam tahap izin pemakaian tanah kas

desa di tingkat kelurahan. Rencananya museum ini akan dilengkapi dengan fasilitas

aula pameran temporer, aula penerima audio visual, ruang audio visual, gerai

cenderamata, aula kantor, ruang administrasi, ruang kurasi, restoran dan kafe,

ruang bermain untuk anak-anak, area bongkar muat, bengkel kerja, wisma tamu,

pendopo, gudang alat, aula museum, perpustakaan, ruang penyiapan pajang, ruang

pajang koleksi, dan gardu pandang (Dwiyanto dkk. 2004, 4).

C. LINGKUNGAN FISIK DAN KOLEKSI MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

Bangunan Museum Batik Yogyakarta menempati areal seluas 400 m². Luas

tanah seluruhnya 600 m², merupakan rumah tinggal keluarga Hadi Nugroho. Secara

umum, tata pameran museum ini terkesan sempit. Pengunjung hanya bisa satu-

persatu untuk menikmati koleksi ketika melewati ruang Batik Pesisiran dan ruang

Batik Soga Yogya Solo. Hal ini disebabkan panil terletak di sebelah kiri dan kanan

pengunjung, sementara jarak antar panil di sisi kiri dan kanan tersebut hanya sekitar

satu meter, sehingga hanya cukup untuk dilewati oleh satu orang pengunjung

dewasa.
56

Alur tata pameran pada Museum Batik Yogyakarta pada mulanya adanya

sebagai berikut:

Pintu Masuk

Ruang Pengenalan

Ruang Batik Soga Yogya Solo

Ruang Batik Pesisiran

Ruang Cenderamata

Pintu Keluar
Tabel 2.3: Alur tata pameran Museum Batik Yogyakarta.

Pembagian ruangan Museum Batik Yogyakarta adalah:

Denah 2.1: Pembagian Ruangan di Museum Batik Yogyakarta


(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari surat kabar Kompas, hlm. H)

a. Pintu Masuk Utama


57

Pintu masuk utama museum berada di sebelah selatan, karena dinilai terlalu

banyak gangguan, akhirnya pada tahun 2003 pintu utama tersebut ditutup dan

akses masuk museum dipindah ke pintu samping yang terletak di sisi barat

museum.

b. Pintu Masuk Samping

Foto 2.25: Pintu masuk samping pada Museum Batik Yogyakarta


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Terletak di sisi barat museum, terlihat sepertinya dahulu ini merupakan akses

untuk pintu keluar, karena ketika kita masuk dari pintu samping ini, kita akan

langsung bertemu dengan toko cenderamata, yang pada museum umumnya

terletak pada bagian akhir rute kunjungan museum. Masuk dari pintu ini,

pengunjung langsung bertemu dengan meja administrasi pengunjung. Di meja ini

akan disambut dengan petugas museum yang akan siap menjadi pemandu.

Untuk menikmati koleksi dan semua pelayanan yang diberikan, setiap

pengunjung dikenakan biaya lima belas ribu rupiah.

c. Ruang Pengenalan
58

Merupakan ruangan untuk mengenalkan peralatan dan proses membatik.

Sebelum tahun 2004, ruangan ini merupakan ruangan pertama yang akan

dijumpai oleh pengunjung museum. Pada ruangan ini terdapat koleksi yang

menjelaskan tahap-tahap proses membatik, dan peralatan batik seperti canting-

canting mulai dari yang kuno hingga canting yang digunakan pada masa kini,

cap, dan pewarna alami, serta motif batik.

d. Pasren

Merupakan sebuah panggung kecil di depan pintu masuk yang lama, dan

menjadi satu bagian dari ruang pengenalan. Pada panggung ini terdapat patung

Loro Blonyo yang merupakan perlambang dari Dewi Sri, yang oleh masyarakat

Jawa di dalamnya terkandung konsep kematian, kelahiran, dan pertumbuhan

(Wibowo dkk. 1996, 42).

Foto 2.26: Ruang Pengenalan dan Ruang Pasren pada Museum Batik Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

e. Ruang Batik Soga Yogya Solo


59

Merupakan lorong dengan koleksi kain batik dengan gaya kraton. Didalamnya

terdapat sekitar tiga puluh satu buah koleksi kain batik gaya kraton. Pada Koleksi

di ruang batik soga Yogya Solo dan ruang Pesisiran semuanya merupakan

replika dari koleksi yang asli. Koleksi aslinya disimpan dalam vitrin di pojok

ruangan sisi barat ruang pesisiran. Sesuatu yang sebetulnya dilarang, dimana

koleksi asli berada di ruang pameran permanen.

Foto 2.27: Ruang Soga Yogya Solo pada Museum Batik Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Ruangan di sini bukan seperti ruangan yang sebenarnya biasa kita lihat dengan

berbatas atau terlingkung oleh bidang, tetapi merupakan lajur yang di sisi kiri dan

kanannya dibatasi oleh panil-panil dari koleksi tersebut.

f. Ruang Pesisiran

Merupakan kumpulan panil-panil yang memamerkan koleksi batik-batik motif

pesisiran dan beberapa motif Belanda. Di sini banyak ditemukan koleksi-koleksi

sejak abad XVIII M. Jumlah koleksi pada ruang pesisiran mencapai 37 buah.
60

Foto 2.28: Ruang Pesisiran pada Museum Batik Yogyakarta


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

g. Ruang Perawatan

Merupakan ruangan kecil berukuran 2 x 1 m. Di dalam ruangan ini, terdapat alat

perawatan batik secara manual, yaitu menggunakan ratus yang terbuat dari akar

wangi. Ratus atau dupa harum ini terbukti cukup efektif dalam proses

menghambat atau mematikan jamur yang biasa menyerang benda koleksi

museum, karena sama efektifnya dengan perawatan kimia menggunakan

fungisida, waktu yang diperlukan relatif lebih cepat, tingkat resiko terhadap

kesehatan dalam prosesnya lebih rendah dan biaya yang dikeluarkan lebih

murah.
61

Foto 2.29: Ruang Perawatan pada Museum Batik Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

h. Toko Cenderamata dan Geleri

Ruangan ini terletak di sisi timur meja resepsionis. Cendera mata yang

dipamerkan antara lain adalah canting, buku-buku panduan membatik, buku-

buku katalog koleksi batik yang tertata dalam tiga buah etalase kaca. Selain itu

juga terdapat pakaian batik dan yang dipajang dalam lemari gantung serta

beberapa sulaman.
62

Foto 2.30: Toko Cenderamata dan Galeri pada Museum Batik Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

i. Museum Sulaman

Museum ini baru berdiri pada tanggal 12 Mei 2001, menempati ruangan di sisi

paling barat dari ruang Museum Batik Yogyakarta. Di sini ditampilkan beberapa

koleksi dari sulaman Ibu Dewi. Salah satu dari koleksi Museum Sulaman ini

memperoleh piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI)

sebagai sulaman tangan terpanjang dengan ukuran 400 x 90 cm, dengan judul

Penyaliban Yesus di Bukit Golgota. Sebagian besar karya sulaman yang

dipajang adalah bermotif Yesus, Bunda Maria, dan mantan presiden Soekarno.
63

Foto 2.31: Museum Sulaman yang menjadi 1 dengan Museum Batik Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

j. Ruang Batik

Ruang ini terletak di sisi utara pintu masuk samping. Ruang ini digunakan untuk

kegiatan membuat duplikat koleksi batik yang merupakan pesanan para

pengunjung, juga digunakan sebagai tempat untuk membuat panil-panil baru.

Foto 2.32: Aktivitas pada Ruang Batik Museum Batik Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
64

k. Ruang Preparasi

Saat ini kegiatan preparasi banyak dilakukan di ruang batik karena sumber daya

manusia yang tersedia saat ini sedikit sehingga cukup dilakukan di ruang batik,

tidak seperti dulu, ketika museum ini memiliki banyak pegawai, sehingga ruang

ini saat ini menjadi tempat untuk menyimpan peralatan

l. Perpustakaan

Ruangan ini terletak di sisi utara Museum Sulaman. Di dalamnya terdapat dua

buah lemari buku dari kayu, sebuah lemari berbahan besi serta dua buah kursi

baca. Koleksi buku yang terdapat di museum ini antara lain: buku tentang

museum, buku tentang batik, dan buku tentang pengetahuan umum. Terdapat

pencahaan alami pada ruangan ini, karena menggunakan genting kaca, selain

sebuah lampu jenis TL.

Foto 2.33: Ruang Perpustakaan pada Museum Batik Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Pelayanan lain yang diberikan oleh museum ini adalah membuka kelas batik bagi

masyarakat umum. Hal ini merupakan salah satu terobosan untuk terus

melestarikan budaya batik, selain sebagai usaha pendamping untuk pendanaan


65

operasional museum di luar tiket masuk, penjualan cenderamata, dan layanan

perawatan koleksi batik.

Koleksi-koleksi tersebut diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan

pembelian, hibah, dan warisan. Dalam prosesnya, koleksi yang akan dibeli atau

akan menjadi milik koleksi museum harus disetujui oleh tim ahli yang terdiri dari

seksi konservasi dan koleksi serta seksi edukasi dan preparasi.

Untuk mencegah tumbuhnya jamur, Museum Batik Yogyakarta sangat

memperhatikan tingkat temperatur ruangan dan kelembaban. Untuk temperatur

ruangan adalah 25°-28°C dan tingkat kelembaban adalah 45% - 65%. Dalam buku

Pedoman Pengelolaan Museum, disebutkan bahwa untuk museum di Indonesia

secara umum tingkat suhu udara yang cocok dalam ruang penyimpanan adalah

antara 20° - 24°C, sedangkan tingkat kelembaban adalah 45% - 60%. Penggunaan

air conditioner tidak dianjurkan khususnya untuk museum-museum di daerah. Lebih

dianjurkan menggunakan ventilasi yang baik sehingga suhu di dalam dan luar

ruangan tetap sama. Dengan ventilasi saja, dapat terjadi tingkat kelembaban di

dalam ruangan yang tinggi. Maka untuk menjaga tingkat kelembaban relatif di dalam

ruang penyimpanan dapat digunakan alat dehumidifier yang berfungsi sebagai

penyerap kelembaban udara yang berlebihan. Alat ini cocok digunakan di Indonesia

karena iklim tropisnya yang dikelilingi laut, sehingga pada musim kemarau pun

tingkat kelembaban tetap tinggi (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004, 39).

Pencahayaan dalam sebuah ruangan museum amatlah penting. Pada tempat

yang memiliki intensitas cahaya yang kurang, kehadiran lampu akan membantu

indera penglihatan kita. Tanpa cahaya, keunikan suatu arsitektur bangunan

museum, unsur dekoratif pada elemen yang memiliki bidang rata, detail tekstur, dan

ornamen akan hilang atau tidak tampak.


66

Foto 2.34: Pencahayaan dan sistem sirkulasi udara pada Museum Batik Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Cahaya juga dapat meningkatkan nilai estetika bangunan dan ruangan museum.

Detail dan elemen pada benda koleksi dapat ditonjolkan dengan jenis pencahayaan

tertentu sehingga koleksi tersebut menjadi lebih dominan. Cahaya juga dapat

menciptakan nuansa dan karakter pada ruangan museum, sehingga ruangan akan

terlihat lebih luas atau memberi kesan tertentu yang berpengaruh terhadap

pengunjungnya (Majalah Rumah tt, 4). Pada Museum Batik Yogyakarta

pencahayaan menggunakan lampu TL atau yang lebih dikenal dengan lampu neon.

Untuk mencegah pengaruh negatif dari intensitas cahaya, jarak pencahayaan pada

koleksi minimal adalah 40 cm.


67

BAB III

SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI MUSEUM

A. RUANG LINGKUP STUDI MUSEOLOGI

Di antara ilmu-ilmu budaya atau humaniora yang telah dikenal adalah arkeologi

dan museologi. Kedua cabang ilmu ini saling berdekatan dan sangat erat

hubungannya, karena sama-sama mempelajari benda–benda yang menjadi

tinggalan kebudayaan manusia. Oleh karena itu hakikat mempelajari arkeologi dan

museologi adalah ingin mengetahui manusia dan kebudayaannya. Di dalam

pengertian ini keduanya merupakan cabang ilmu antropologi budaya (Dwiyanto

1998a, 2).

Arkeologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan

masa lalu melalui benda-benda yang ditinggalkannya. Oleh karena itu secara garis

besar kajian ilmu arkeologi diarahkan untuk (Dwiyanto 1998a, 2-3):

1. Melacak peristiwa yang terjadi di masa lalu.

2. Meneliti dan menafsirkan artefak untuk mengetahui proses perkembangan

kebudayaan.

3. Penyusunan sejarah kebudayaan.

Museologi adalah ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi

museum dan lingkungannya serta sistem pengelolaannya. Oleh karena itu

museologi sering diberikan tiga pengertian sesuai dengan pendekatannya, yaitu

(Dwiyanto 1998a, 3):

1. Museologi sebagai studi tentang hubungan yang khas antara manusia

terhadap realitasnya.

2. Museologi sebagai studi tentang implementasi dan integrasi dari sejumlah

aktivitas dasar yang meliputi warisan kebudayaan dan alam.


68

3. Museologi sebagai studi tentang tujuan dan organisasi museum.

Kedua cabang itu mempunyai persamaan yang mendasar, yaitu sebagai upaya

perlindungan, penyelamatan, dan pelestarian tinggalan kebudayaan masa lalu. Di

dalam perkembangannya, arkeologi menjadi ilmu yang mempelajari manajemen

sumber daya budaya, sedangkan museologi lebih ditekankan lagi sebagai ilmu yang

mempelajari manajemen koleksi karena lebih ditekankan pada artefak dan ekofak

yang dapat dipindahkan (Dwiyanto 1998a, 2-3).

Museologi sebagai studi tentang material culture dan natural material terutama

benda-benda tinggalan kebudayaan yang tersimpan dalam koleksi museum

hakekatnya adalah mempelajari manajemen koleksi. Oleh karena itu dasar-dasar

museologi, registrasi dan dokumentasi, konservasi, perancangan pameran, serta

survei pengunjung dan evaluasi dikelompokkan untuk mempertajam analisis kajian

museulogi (Dwiyanto 1998a, 5).

Dasar-dasar museologi meliputi pengertian, fungsi-fungsi, organisasi museum,

museum dan kepariwisataan, upaya pengembangan museum. Registrasi dan

dokumentasi meliputi sistem registrasi, pembuatan katalog, kartu inventaris,

sertifikat peminjaman, deskripsi benda koleksi, aplikasi komputer dalam registrasi

dan dokumentasi. Konservasi meliputi pengukuran benda koleksi, pengukuran suhu

dan kelembaban udara, penyinaran, mekanisme konservasi, restorasi dan

rekonstruksi, contoh konservasi benda koleksi. Perancangan pameran meliputi

penyusunan alur cerita, seleksi benda koleksi, teknik penyajian, evaluasi pameran

dan survei pengunjung, meliputi penyusunan instrumen survei, pengolahan data,

penulisan laporan, dan evaluasi program (Dwiyanto 1998a, 5).


69

1. Pengertian Museum

Museum menurut tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 766) mempunyai

pengertian gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-

benda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni

dan ilmu. Definisi museum yang dikemukakan oleh Douglas Allan yang

dipergunakan dari tahun 1960 hingga tahun 1967 adalah suatu bangunan yang

berisi berbagai macam koleksi untuk diselidiki, dipelajari, dan dinikmati (Allan 1978,

13). Kemudian definisi ICOM sebelum tahun 1974 adalah:

Any permanent establishment set up for purpose of preserving,

studying, enchanging by various means and, in particular, of

exhibiting to the public for its delections and instruction, artistic,

historical, scientific and technological collections (Sutaarga 1991,

33).

Sedangkan pengertian museum yang tertuang di dalam Surat Keputusan Menteri

Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum, pasal satu ayat satu disebutkan

bahwa museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan,

dan pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan

lingkungannya guna menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa.

Definisi resmi museum yang kini digunakan adalah definisi yang dikeluarkan dalam

rapat umum ke-10 di Copenhagen, museum adalah lembaga yang bersifat badan

hukum tetap, tidak mencari keuntungan dalam pelayanannya kepada masyarakat

tetapi untuk kemajuan masyarakat dan lingkungannya, serta terbuka untuk umum

(International Council Of Museum 2007, 3).

Secara etimologis, museum berasal dari bahasa Yunani, mouseion, yang

sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang

berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan


70

dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun

khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I

Soter pada tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu

pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti-bukti otentik mengenai

catatan sejarah kebudayaan. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci

untuk memuja sembilan dewi seni dan ilmu pengetahuan. Salah satu dari sembilan

dewi tersebut ialah: Mouse, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya

Mnemosyne. Dewa dan dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus.

Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan

yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai

tempat pemujaan dewa dewi (Direktorat Museum, 2007).

Museum pertama yang dibuka untuk umum adalah The Ashmolean Museum,

yang dimiliki oleh Universitas Oxford di Inggris pada tahun 1683, kemudian disusul

oleh The British Museum yang dibuka di London pada tahun 1759 serta Museum

Lovre di Paris pada tahun 1793 (Lewis 2004, 2). Sebuah perkumpulan di Indonesia

pada masa penjajahan Belanda yang menamakan dirinya Bataviaasch

Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Batavia untuk

Kesenian dan Ilmu), berdiri pada tahun 1778 dan menjadi cikal bakal museum

umum di Asia dengan koleksi batu-batuan, perabot rumah tangga, dan gambar-

gambar dari masa lalu yang berkaitan dengan Jakarta (Heuken 1997, 59, 92).

Museum tertua di Indonesia adalah Museum Radya Pustaka di kota Solo, Jawa

Tengah. Museum Radya Pustaka didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh

Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV yang menjabat sebagai patih pada masa

pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana IX, sedangkan museum koleksinya

paling lengkap di Indonesia adalah Museum Nasional yang lebih dikenal sebagai

Museum Gajah di Jakarta. Dasar hukum pendirian museum di Indonesia adalah:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya,


71

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah,

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan

Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum.

Sedangkan dasar hukum pengelolaan museum diatur dalam Surat Keputusan

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang

Museum.

Tugas pokok Direktorat Museum adalah melaksanakan penyiapan rumusan

kebijakan, standar, norma, kriteria, dan prosedur, serta pemberian bimbingan teknis

dan evaluasi di bidang permuseuman. Dalam melaksanakan tugas, Direktorat

Museum menyelenggarakan fungsi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,

2007):

1. Pelaksanaan dan penyiapan bahan rumusan kebijakan di bidang

permuseuman.

2. Perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang registrasi,

pengamanan dan pengendalian, pemeliharaan dan perawatan, serta

penyajian dan kerja sama permuseuman.

3. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang registrasi, pengamanan

dan pengendalian, pemeliharaan dan perawatan, serta penyajian dan kerja

sama permuseuman.

Visi Direktorat Museum adalah mewujudkan museum-museum di Indonesia yang

mandiri guna menunjang kebijaksanaan Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam

memajukan kebudayaan bangsa untuk tercapainya kemajuan adab, masyarakat

demokratis, dan persatuan bangsa. Untuk mencapai visi tersebut, misi

permuseuman adalah untuk membina dan mengembangkan museum-museum di

Indonesia sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan, menanamkan nilai-nilai

luhur, memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta mempertebal jati diri bangsa.
72

ICOM merupakan singkatan dari International Council of Museum. Sebuah

organisasi permuseuman internasional di bawah UNESCO yang berdiri pada tahun

1946 dan berkedudukan di Paris, Perancis. Organisasi ini bertujuan menciptakan

standar etik dan profesional untuk aktivitas permuseuman, mengadakan pelatihan,

pengembangan pengetahuan, membuat rekomendasi untuk beberapa isu yang

sedang berkembang, serta membangun kepedulian budaya masyarakat melalui

jaringan global dan program kerja sama. Di Indonesia, tugas dan wewenang bidang

permuseuman dikelola oleh Direktorat Museum.

Museum terdiri dari berbagai macam dan dapat ditinjau dari berbagai aspek,

seperti aspek koleksi, aspek penyelenggaraan, dan aspek kedudukan. Klasifikasi

museum berdasarkan koleksi yang disimpan terbagi menjadi dua, yaitu museum

umum dan museum khusus. Museum umum adalah museum yang menyimpan

koleksi berupa kumpulan bukti material hasil budaya manusia dan lingkungan yang

berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Sedangkan

museum khusus koleksinya hanya berkaitan dengan satu cabang seni, disiplin ilmu

atau teknologi.

Dilihat dari aspek penyelenggaranya, museum dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu museum pemerintah dan museum swasta. Museum pemerintah adalah

museum yang dikelola dan diselenggarakan oleh pemerintah pusat ataupun

pemerintah daerah. Sedangkan museum swasta adalah museum yang dikelola dan

diselenggarakan oleh pihak swasta. Menurut data yang dikeluarkan oleh

Departemen Budaya dan Pariwisata, sampai tahun 2005 Indonesia baru memiliki

museum sejumlah 269 buah yang terdiri dari tujuh buah UPT (dikelola oleh Unit

Pelaksana Teknis Depbudpar), departemen atau pemerintah daerah sebanyak 176

(dikelola oleh departemen atau pemerintah daerah) dan sisanya sebanyak 86 buah

dikelola oleh swasta (Direktorat Museum, 2006).


73

Bila dibedakan berdasarkan kedudukannya, maka museum dibagi menjadi tiga

kelompok, yaitu museum nasional, museum provinsi, dan museum lokal. Museum

nasional adalah museum yang koleksinya mewakili dan berkaitan dengan seluruh

wilayah negara dan bernilai nasional. Museum provinsi adalah museum yang

koleksinya mewakili dan berkaitan dengan salah satu provinsi tertentu, sedangkan

museum lokal adalah museum yang koleksinya mewakili dan berkaitan dengan

wilayah kabupaten atau kotamadya saja (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004, II-

3).

Sebagai badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan

menerbitkan hasil-hasil penelitian serta pengetahuan tentang benda-benda yang

penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, museum mempunyai fungsi antara

lain:

1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah,

2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum,

3. Pusat penikmatan karya seni,

4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa,

5. Objek wisata,

6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan,

7. Suaka alam dan suaka budaya,

8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan,

9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk menjalankan semua fungsinya tersebut, museum mempunyai struktur

organisasi secara sederhana, yaitu:


74

Kepala Museum

Tata Usaha dan


Perpustakaan

Kurator Koleksi Konservator Preparator Studio Edukator,


Laboratorium Bimbingan, dan
Penyuluhan

Tabel 3.1: Struktur organisasi museum.

Adapun fungsi dari masing-masing jabatan adalah kepala museum berfungsi

sebagai koordinator dan penanggung jawab pengelolaan museum. Tata usaha dan

perpustakaan berfungsi sebagai pendokumentasian koleksi. Kurator koleksi

berfungsi sebagai penganalisis koleksi yang dimiliki dan akan menjadi milik

museum. Konservator laboratorium sebagai penanggung jawab terhadap proses

konservasi koleksi museum dan menilai pantas tidaknya sebuah koleksi dimiliki oleh

museum tersebut. Preparator studio berfungsi mempersiapkan pameran di

museum. Edukator, bimbingan, dan penyuluhan bertanggung jawab untuk

mempublikasikan koleksi museum kepada masyarakat dan media sehingga

diketahui oleh masyarakat luas. Sedangkan untuk kebutuhan pengembangan

museum yang semakin komplek diperlukan organisasi yang lebih membutuhkan

banyak sumber daya manusia agar semua dapat berjalan sinergis.

1. Museum dan Kepariwisataan

Museum dan kepariwasataan adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan sama

lain, karena museum merupakan objek pariwisata. Hal ini tercermin dari visi

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu terwujudnya kebudayaan dan

pariwisata yang maju, dinamis dan berwawasan lingkungan, yang mampu


75

mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan peradaban, persatuan dan

persahabatan antar bangsa. Sedangkan visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY

adalah terwujudnya Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020 sebagai daerah

wisata andalan, yang ditopang oleh budaya daerah, serta mampu memberikan

kontribusi positif bagi masyarakat dan daerah, serta turut mendukung pelestarian

nilai-nilai seni budaya dan kemanusiaan serta tertanamnya kebanggan jati diri

bangsa (Sulistyo 2002, 2-3).

Untuk mendatangkan penghasilan yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai

operasional serta pengembangan pelayanan, maka museum diharapkan

mengembangkan potensi-potensi jasa pelengkap untuk mendapatkan pemasukan

finansial. Dukungan dan pendanaan dari luar serta kegiatan yang menghasilkan

pemasukan seperti bantuan sponsor, donatur, toko, restoran, kemitraan dengan

swasta dan organisasi non pemerintah diperkenankan untuk dilakukan sepanjang

tidak bertentangan dengan kode etik museum. Manfaat bagi museum sebagai

institusi harus didapatkan dari penggalian pemasukan ini, namun tetap konsisten

dengan status non-profitnya. Dengan didukung profesionalisme dan panduan

pengelolaan, otonomi museum secara finansial dapat lebih diperbesar sejauh

maksud pelestarian pusaka dan pemanfaatannya bagi masyarakat tetap terjamin

(Utomo dan Indro Sulistyanto 2003, 3-4).

2. Konservasi di Museum

Kegiatan konservasi terkadang membutuhkan waktu lama dan biaya yang lebih

besar dibandingkan dengan kegiatan ekskavasi. Tanpa konservasi, artefak-artefak

hasil ekskavasi tersebut akan rusak bahkan data yang tersimpan didalamnya akan

hilang.
76

Untuk melakukan konservasi di bidang arkeologi dibutuhkan prosedur agar

berjalan sebagaimana mestinya. Prosedur tersebut antara lain (Hamilton 1999a,

12):

1. Mengantisipasi setiap hal yang mungkin terjadi pada penelitian arkeologi,

melakukan sebuah survei, pengujian, dan ekskavasi dalam skala besar.

2. Mewaspadai tipe-tipe kerusakan pada objek arkeologi, hasil dari

kerusakan, dan penurunan tingkat yang mungkin akan dialami oleh

material yang telah dikonservasi tersebut.

3. Mempekerjakan seorang ahli yang memiliki pengalaman ekskavasi

lapangan untuk memastikan bahwa artefak yang dikonservasi tersebut

diperlakukan sebagaimana mestinya.

4. Membuat rancangan dimana artefak tersebut kemungkinan bisa

dikonservasi kembali.

5. Peneliti menyadari bahwa ini adalah sebuah proyek penelitian arkeologi,

dan tidak hanya akan berhenti di lapangan saja, tetapi tetap berlanjut ke

laboratorium.

Dibandingkan dengan artefak berbahan dasar tulang, kaca, dan gerabah, artefak

yang terbuat dari bahan organik seperti kulit, kayu, dan tekstil adalah artefak yang

rentan terhadap kerusakan.

Penyimpanan artefak dari bahan tekstil, baik yang berasal dari hewan maupun

tumbuhan seperti wool, bulu, sutra, katun, rami, maupun rumput memerlukan

lingkungan yang khusus karena artefak tersebut rentan terhadap sinar ultra violet,

serangga, mikroorganisme, dan polusi udara. Kelembaban relatif untuk artefak

tekstil adalah 68% dan idealnya koleksi tekstil harus disimpan di dalam tempat

gelap dengan temperatur 10°c dan kelembaban 50% (Hamilton 1999b, 1, 9).

Pengaturan suhu dan kelembaban udara yang sesuai dengan sifat dan tuntutan

bahan dasar dari benda budaya sangat diperlukan. Untuk Indonesia secara umum,
77

tingkat suhu udara yang cocok dalam penyimpanan adalah antara 20°c sampai

24°c, sedangkan tingkat kelembaban antara 45% sampai 60%. Penggunaan AC

tidak dianjurkan khususnya untuk museum-museum daerah. Lebih dianjurkan untuk

menggunakan ventilasi yang baik sehingga suhu di dalam dan di luar gedung tetap

sama. Apabila hanya dengan ventilasi dapat terjadi tingkat kelembaban yang relatif

tinggi di dalam ruang penyimpanan, sehingga untuk mencegahnya dapat digunakan

alat dehumidifier. Alat ini lebih cocok digunakan daripada AC karena Indonesia

adalah negara tropis yang dikelilingi laut, sehingga pada musim kemarau pun

kelembaban udara relatif tinggi. Selain dehumidifier, penggunaan silica gel juga

sangat menolong. Sedangkan penggunaan airlock dapat mengurangi pencemaran

dengan cara menyaring debu gas yang dihasilkan zat-zat kimia, debu garam yang

dibawa angin laut dan sebagainya. Pemakaian airlock ini akan sangat membantu

kebersihan ruangan gedung secara keseluruhan (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY

2004, 39).

3. Pencahayaan di Museum

Pencahayaan dalam sebuah ruangan museum amatlah penting. Pada tempat

yang memiliki intensitas cahaya yang kurang, kehadiran lampu akan membantu

indera penglihatan kita. Tanpa cahaya, keunikan suatu arsitektur bangunan

museum, unsur dekoratif pada elemen yang memiliki bidang rata, detail tekstur, dan

ornamen akan hilang atau tidak tampak. Cahaya juga dapat meningkatkan nilai

estetika bangunan dan ruangan museum. Detail dan elemen pada benda koleksi

dapat ditonjolkan dengan jenis pencahayaan tertentu sehingga koleksi tersebut

menjadi lebih dominan. Cahaya juga dapat menciptakan nuansa dan karakter pada

ruangan museum, sehingga ruangan akan terlihat lebih luas atau memberi kesan

tertentu yang berpengaruh terhadap pengunjungnya (Majalah Rumah t.t., 4).


78

Standar penyinaran untuk sebuah museum dengan koleksi tekstil dan berbahan

kertas, sebaiknya tingkat intensitas cahaya adalah 50 lux untuk koleksi bergambar

dan 150 lux untuk koleksi tidak bergambar. Untuk koleksi yang sensitif dengan

cahaya seperti bahan tekstil, manuskrip, cat air dapat menggunakan pencahayaan

dengan pengatur tingkat intensitas cahaya (Michalski 2004, 78).

Foto 3.1: Pencahayaan di Museum TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

4. Pameran di Museum

Penyajian benda koleksi yang paling tepat adalah dengan menggelar pameran.

Pameran museum adalah salah satu bentuk penyajian informasi tentang benda

koleksi yang dimiliki oleh museum, dan koleksi yang dipamerkan tidak hanya

diletakkan begitu saja, tetapi semua harus diatur sedemikian rupa dan terencana,

sehingga pameran tersebut mudah dipahami dan dimengerti oleh pengunjung.

Pameran di museum merupakan salah satu sarana belajar, maka harus diciptakan

suatu situasi di mana pengunjung mendapatkan rangsangan-rangsangan untuk

belajar sendiri. Untuk suatu pameran harus diperhatikan adanya hal-hal yang

berkaitan dengan kebutuhan fisik intelektual dan emosional dari publiknya. Tujuan

lain dari pameran adalah untuk memberikan informasi kepada pengunjung museum
79

tentang benda-benda koleksi yang dimiliki museum, sehingga dengan adanya

pameran dapat meningkatkan penghayatan terhadap warisan budaya dan

kesadaran akan sejarah bangsa (Direktorat Permuseuman 1986, 7).

Museum dengan pamerannya adalah situasi pendidikan informal yang dialami

sebagai situasi pengajaran langsung. Situasi pengajaran informal mengandung

unsur pemilihan yang bebas, setiap pengunjung menentukan sendiri tujuan-tujuan

kunjungannya. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa penyajian koleksi dalam

bentuk tata pameran, selain memerlukan hal-hal yang berhubungan dengan estetika

dan teknik penyajian memerlukan psikologi pendidikan (Direktorat Permuseuman

1994a, 1).

Dalam memamerkan koleksinya tersebut, museum harus memenuhi standar

teknik penyajian, antara lain ukuran, tata cahaya, tata letak, tata pengamanan, label,

dan foto penunjang. Apabila standar tersebut sudah terpenuhi, maka penataan

dapat dilaksanakan sesudah dibuatkan desain penataan berdasarkan metode

penyajian estetis, intelektual, dan romantik.

Pendekatan estetis adalah cara penyajian benda-benda koleksi dengan

mengutamakan segi keindahan benda itu sendiri. Pendekatan intelektual adalah

cara penyajian benda-benda koleksi yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat

mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang

dipamerkan, sedangkan pendekatan romantika adalah cara penyajian benda-benda

koleksi yang disusun sedemikan rupa, sehingga dapat mengungkapkan suasana

tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan. Persentase

pembagian ruang mengikuti standar adalah evokatif: 10% x ruang; edukatif: 20% x

ruang; artistik: 30% x ruang; dan kosong: 40% x ruang (Dwiyanto 1998b, 5).

Dalam menyajikan koleksi pameran, sebaiknya tidak semua koleksi disajikan di

dalam ruang pameran permanen. Namun rotasi koleksi pameran harus tetap

diagendakan secara tetap dan tidak terlalu lama sehingga menghindarkan museum
80

dari citra statis dan tanpa gairah. Di dalam pembagiannya, koleksi yang dipamerkan

maksimal adalah 2/3 dari seluruh koleksi dan sisanya (1/3) disimpan di ruang

penyimpanan koleksi.

Pameran di museum terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu pameran tetap,

pameran khusus dan pameran keliling. Pameran tetap merupakan usaha atau

kegiatan penyajian koleksi untuk jangka waktu lima tahun, berdasarkan sistem dan

metode tertentu, dengan tujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap

bukti-bukti material manusia dan lingkungannya. Pameran khusus (temporer)

adalah pameran dengan jangka waktu tertentu dan variasi waktu yang relatif singkat

dengan mengambil tema khusus mengenai suatu unsur kebudayaan dan atau

kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan atau lingkungannya. Pameran

khusus bertujuan untuk memberikan dimensi tambahan informasi pameran tetap

kepada masyarakat dengan tema khusus dalam rangka meningkatkan apresiasi

masyarakat (Direktorat Permuseum 1986, 6).

Pameran pameran keliling sebagai usaha untuk menyajikan koleksi dalam jangka

waktu tertentu dan variasi waktu yang relatif singkat dengan mengambil tema

khusus mengenai suatu unsur kebudayaan atau suatu kegiatan yang berhubungan

dengan kebudayaan dan atau lingkungannya serta dilakukan di luar museum.

Pameran keliling bertujuan untuk memperkenalkan suatu unsur kebudayaan atau

suatu kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan atau lingkungannya

kepada masyarakat daerah tempat pameran keliling tersebut diselenggarakan

(Direktorat Permuseum 1986, 6).

Sementara itu, pendapat Michael Belcher yang dikutip dalam artikel Herreman

(2004, 92) membagi pameran menjadi 3 jenis berdasarkan lama waktunya.

Pameran jangka pendek untuk pameran dengan jangka waktu antara satu hingga

tiga bulan, pameran jangka menengah untuk pameran dengan jangka waktu antara

tiga hingga enam bulan, dan pameran jangka panjang untuk pameran dengan
81

jangka waktu diatas enam bulan hingga tak terbatas. Jenis displai yang disajikan

museum bermacam-macam, antara lain:

1. displai kontemplatif: mengajak pengunjung untuk merenungkan, berpikir,

2. didaktik: mengajarkan, menyampaikan sesuatu,

3. rekonstruksi,

4. grup: objek bersama-sama didisplay dengan sedikit penjelasan,

5. penyimpanan yang dapat dilihat,

6. displai penemuan: pengunjung diajak terlibat dengan objek.

Banyak cara yang digunakan pengelola museum dalam menyajikan informasi

baik yang berkaitan secara langsung dengan koleksi maupun dengan tema

pameran. Media yang digunakan dalam penyajian menggunakan alat peraga

antara lain:

1. Konvensional, yang menggunakan panil untuk foto, lukisan, poster, dan

gambar komik.

Foto 3.2: display dengan media panil pada Museum Bank Indonesia, Jakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

2. Tiga Dimensi Benda

a. bendanya
82

b. penataan ruang

c. rekontruksi

Foto 3.3: display rekontruksi pada Museum Bank Indonesia, Jakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

d. diorama

3. Audio Visual

Foto 3.4: display audio visual pada Museum Bank Indonesia, Jakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
83

4. Virtual Display

Foto 3.5: virtual display pada Museum Bank Indonesia, Jakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Penggunaan teknologi dalam bidang pameran saat ini sudah sangat maju.

Beberapa museum sudah menyediakan layanan QTVR atau Quick Time Virtual

Reality yaitu sebuah fasilitas teknologi yang disediakan oleh museum berupa

penyajian gambar tentang koleksi museum secara cuma-cuma kepada masyarakat

luas melalui jaringan internet, seperti yang telah dilakukan oleh Museum Louvre,

Paris sejak tahun 2004.

Museum sebagai wahana pengetahuan bagi publik diharapkan dapat terus

memberikan informasi yang mendidik lewat koleksi yang dimilikinya sehingga akan

mencerdaskan masyarakat dan lingkungannya. Selain itu program-program yang

diadakan di beberapa museum telah melibatkan pengunjung untuk aktif di

dalamnya, sehingga pengunjung dapat merasakan suasana yang berbeda dari

sekedar melihat koleksi dalam vitrin-vitrin museum. Dalam hal ini museum
84

merupakan sebuah wahana yang sangat penting dalam proses pertukaran,

pengayaan, dan pengembangan budaya.

Sebagai tempat bimbingan edukatif, museum bertujuan memberi stimulan

kepada pengunjung, khususnya kepada para pelajar untuk mengembangkan

imajinasi dan kepekaan. Pengembangan imajinasi dan kepekaan ini dapat dilakukan

melalui kegiatan:

1. Bimbingan keliling museum,

2. Kegiatan ceramah,

3. Kegiatan pemutaran audio visual,

4. Kegiatan bimbingan karya tulis,

5. Kegiatan museum keliling.

Sebelumnya, museum hanya dikunjungi oleh para pelajar, itupun karena program

dari sekolah yang mewajibkan mereka untuk mengunjungi museum. Saat ini di

Indonesia sudah mulai berkembang kesadaran untuk mengunjungi museum bagi

segala lapisan masyarakat. Salah satu contoh perkembangannya adalah Sahabat

Museum. Sahabat museum adalah sebuah komunitas pencinta sejarah, museum,

bangunan tua, dan suasana tempo dulu. Tujuan komunitas ini adalah sebagai

wahana untuk berbagi cerita, pengalaman mengunjungi museum atau situs-situs

sejarah hingga mengadakan kegiatan mengunjungi tempat wisata sejarah dengan

konsep edutaiment (education and entertaiment).

B. SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI BERDASARKAN


STANDAR DIREKTORAT MUSEUM

1. Registrasi

Kegiatan registrasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan pencatatan keluar

masuknya koleksi serta pendeskripsian koleksi tersebut secara singkat, jelas, dan

sesempurna mungkin.
85

Tujuan dibuat standar oleh Direktorat Museum adalah untuk menciptakan

keseragaman dan kelancaran pengelolaan koleksi sehingga administrasi koleksi

lebih baik serta tertib sesuai ilmu permuseuman. Apabila koleksi dikelola dengan

baik, maka koleksi akan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pengamanan

koleksi sesuai dengan tujuan awal didirikannya sebuah museum, yaitu sebagai

tempat pendidikan, studi, dan rekreasi.

Awal penanganan benda setelah benda itu resmi menjadi milik koleksi adalah

dilakukannya suatu penanganan yang disebut registrasi. Registrasi merupakan

suatu kegiatan pencatatan tentang koleksi meseum yang sangat diperlukan untuk

penelitian lebih lanjut karena merupakan sumber informasi awal dari benda koleksi

tersebut. Kegiatan ini harus dilakukan oleh petugas pencatat koleksi yang biasa

disebut registrar dengan teratur dan kontinu.

Pencatatan data koleksi museum perlu ditertibkan, yang gunanya untuk

pengamanan dan mengetahui secara cepat seluruh kekayaan museum yang berupa

koleksi. Selain itu juga, registrasi merupakan pendataan yang pertama sebagai

dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Setiap museum hanya memiliki satu macam buku registrasi koleksi yang

mempunyai kedudukan sebagai buku induk dan dikelola oleh seorang registrar, di

bawah tanggung jawab bagian tata usaha, serta dua macam buku inventaris

koleksi. Buku inventaris koleksi terdapat dua macam, yaitu buku induk inventaris

koleksi dan buku inventaris koleksi. Buku induk inventaris koleksi dikelola oleh

kepala seksi koleksi, sedangkan buku inventaris koleksi dikelola oleh staff koleksi

lainnya yang telah telah ditunjuk.

1. 1. Standar Buku Registrasi, Buku Induk Inventaris, dan Buku Inventaris Koleksi.

Buku Registrasi berfungsi untuk menertibkan administrasi pencatatan data

koleksi museum. Buku ini memuat semua data awal setiap benda yang sudah resmi
86

menjadi milik museum. Hal ini tidak mempermasalahkan apakah koleksi tersebut

hasil pembelian, hibah, titipan, sitaan, hasil penelitian, dan hasil tukar menukar.

Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa benda tersebut sudah diteliti dan

diseleksi sehingga menjadi koleksi museum dan benda itu resmi menjadi milik

museum.

Sedangkan fungsi dari buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris koleksi

adalah (Direktorat Permuseman 1994b, 10):

1. Untuk mengetahui jenis dan jumlah koleksi museum.

2. Memudahkan pemanfaatan koleksi untuk penelitian dan menyebarluaskan

koleksi.

3. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan koleksi lebih lanjut.

4. Untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kehilangan koleksi.

Agar mencapai hasil yang baik dalam pencatatan inventaris koleksi maka perlu

diketahui bahwa (Direktorat Permuseuman 1994b, 11):

1. Seorang pengelola koleksi sebaiknya memiliki pengetahuan tentang latar

belakang koleksi.

2. Koleksi yang diterima registrar harus segera dicatat dalam buku induk

inventaris koleksi berdasarkan catatan pada kartu yang diterima dari registrar.

3. Isi catatan pada kolom buku inventaris harus lengkap pada saat pengisian

(nomor registrasi, nomor inventaris, dan catatan lain pada kolom yang

tersedia).

4. Jika semua data telah dicatat, kartu yang berasal dari registrar harus

dilengkapi dengan nomor inventaris dan dikirimkan kembali ke registrar.

Nomor inventaris itu akan dicatat dalam buku registrasi oleh registrar.

5. Catatan pada kolom uraian singkat dalam buku inventaris harus lengkap/

berbobot, karena buku inventaris berfungsi sebagai panduan pemanfaatan

koleksi.
87

6. Nomor inventaris koleksi yang ditulis dalam buku inventaris harus sama

dengan yang dicantumkan pada koleksinya.

Dalam kegiatan registrasi dan inventarisasi dilakukan hal-hal sebagai berikut

(Direktorat Museum 2007, 8-10):

1. Penomoran

Penomoran yang diregistrasi dan inventarisasi diberi nomor registrasi dan

inventarisasi. Penomoran ini untuk mengamankan dan mempermudah dalam

pengelolaan koleksi. Penomoran pada registrasi koleksi adalah penomoran kepada

seluruh koleksi museum secara berurutan, berdasarkan masuknya koleksi ke

museum. Sedangkan penomoran inventarisasi koleksi didasarkan kepada jenis

klasifikasi dan jumlah koleksi dalam satu jenis koleksi, kemudian diikuti oleh nomor

urut koleksi dalam satu jenis klasifikasi.

2. Klasifikasi

Klasifikasi merupakan pengelompokan koleksi berdasarkan kriteria tertentu, yaitu

menurut disiplin ilmu, sub disiplin ilmu, serta berdasarkan jenis, bahan, asal daerah,

dan kronologi. Tujuan klasifikasi adalah untuk menciptakan pengelompokan dan

mempermudah dalam pengelolaan dan penelitian sehingga dapat dimanfaatkan

secara optimal untuk kepentingan pendidikan, studi, dan rekreasi.

3. Katalogisasi Koleksi

Katalogisasi koleksi merupakan suatu kegiatan merekam, baik secara verbal

maupun visual, serta menguraikan indentifikasi koleksi pada lembaran kerja yang

mempunyai format tertentu. Katalogisasi bertujuan untuk menghasilkan kartu

katalog koleksi yang berisi bahan informasi tentang koleksi dan latar belakang

secara lengkap serta dapat dijadikan sumber penelitian dan bahan publikasi.

4. Pengukuran Koleksi

Pengukuran koleksi dilakukan oleh petugas museum, baik pada saat benda akan

dijadikan koleksi maupun sudah menjadi koleksi museum. Pengukuran dilakukan


88

oleh petugas museum yang bertugas sebagai tim survei dan pengadaan koleksi,

registrar, dan kurator.

5. Pemotretan Koleksi

pemotretan koleksi dilakukan mulai dari saat pengadaan koleksi (untuk laporan),

dokumentasi dalam pengelolaan koleksi, bahkan pada setiap koleksi yang akan dan

sesudah dikonservasi atau direstorasi. Pemotretan koleksi dapat menggunakan

media film analog maupun digital, baik dalam hitam putih maupun berwarna.

6. Berita Acara

Berita acara adalah sebuah keterangan resmi tentang status atau keberadaan

sebuah koleksi yang ditandatangani dua pihak beserta saksi, atas sepengetahuan

penanggung jawab koleksi. Berita acara biasanya dibuat dengan pihak luar atau

antar penanggung jawab pengelola koleksi di museum. Berita acara dibuat oleh tim

pengadaan koleksi ke bagian koleksi, kemudian dari bagian koleksi ke bagian

preparasi, untuk disajikan atau disimpan di gudang.

Di dalam museologi, jenis koleksi museum telah disepakati kode inventarisnya,

sehingga akan memudahkan inventarisasi, yaitu (Direktorat Permuseuman 1994b,

12):

No. Jenis Koleksi Kode Inventaris


1. Geologika/ Geografika 01
2. Koleksi Biologika 02
3. Koleksi Etnografika 03
4. Koleksi Arkeologika 04
5. Koleksi Historika 05
6. Koleksi Numismatika dan Heraldika 06
7. Koleksi Fisiologika 07
8. Koleksi Keramologika 08
9. Koleksi Seni Rupa 09
10. Koleksi Teknologika 10
tabel 3.2: Kode inventaris jenis koleksi.
89

Buku registrasi dan buku inventaris koleksi bersifat dokumentar dan monumental

sehingga harus dicetak khusus dengan huruf judul buku yang besar dan

proposional. Tulisan judul buku dan logo pada sampul pertama dengan tinta emas.

Logo Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ditempatkan pada bagian tengah

atas sampul.

Penulisan judul buku hanya dilakukan pada sampul pertama dan kedua. Sampul

pertama dari kerta tebal berlapis kain linen berwarna biru tua, sedangkan sampul

kedua dari kertas HVS polos minimal 80 gram.

Cara penulisan pada judul adalah pada sampul pertama hanya terdapat judul

dan logo. Kemudian pada sampul kedua, selain terdapat tulisan utama berupa judul

buku dan logo, pada bagian bawah terdapat tulisan Departemen Kebudayaan dan

Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, dan Direktorat Museum.

Tulisan tidak perlu besar, namun harus tetap proposional.

Luas bagian sampul buku adalah 50 x 32 cm dengan isi 250 lembar

menggunakan kertas HVS 80 gram. Pada lembar isinya terdapat kolom-kolom isian

dan tulisan kepala kolom yang sudah dicetak. Di luar kolom harus bersih, kecuali

tulisan nomor halaman di kanan atas. Luas halaman efektif setelah dikurangi

kelebihan sampul teknis adalah 49 x 31 cm (panjang mendatar). Dengan ukuran

kolom sebagai berikut (Direktorat Permuseuman 1994b, 5-6):

a. Garis horizontal pertama dobel (tebal dan tipis) 3 cm dari atas.

b. Garis horizontal penutup kolom pada tiap halaman 2 cm dari bawah.

c. Kolom horizontal untuk tulisan kepala atau jarak garis horizontal pertama

dan kedua adalah 1,5 cm.

d. Kolom halaman atau jarak garis isian adalah 0,7 cm. Garis isian jauh

lebih tipis dari garis kolom.

e. Kolom vertikal
90

1) Buku registrasi dan koleksi

Tulisan Kepala Kolom Lebar Kolom


Nomor registrasi 4,5 cm
Nomor inventaris 6 cm
(Kode jenis koleksi = 1,5 cm)
(nomor urut koleksi dalam jenis koleksinya
= 4,5 cm)
Nama koleksi 6 cm
Umum : 3 cm
Khusus : 3 cm
Uraian singkat 8,5 cm
Tempat pembuatan 4 cm
Tempat perolehan 4 cm
Cara perolehan 3 cm
Ukuran 3 cm
Tanggal/ tahun masuk 3 cm

Harga 3 cm
Keterangan 4 cm +
Panjang halaman efektif horizontal 49 cm
Tabel 3.3: Ukuran kolom buku registrasi dan koleksi.
91

2) Buku induk inventaris koleksi


Tulisan Kepala Kolom Lebar Kolom
Nomor registrasi 4,5 cm
Nomor inventaris 6 cm
(Kode jenis koleksi = 1,5 cm)
(nomor urut koleksi dalam jenis koleksinya
= 4,5 cm)
Nama koleksi 6 cm
Umum : 3 cm
Khusus : 3 cm
Uraian singkat 10,5 cm
Tempat pembuatan 4 cm
Tempat perolehan 4 cm
Cara perolehan 3 cm
Ukuran 3 cm
Tanggal/ tahun masuk 3 cm
Keterangan 5 cm +
Panjang halaman efektif horizontal 49 cm
Tabel 3.4: Ukuran kolom buku induk inventaris koleksi.

3) Buku inventaris koleksi

Tulisan Kepala Kolom Lebar Kolom


Nomor registrasi 4,5 cm
Kode sub jenis koleksi 1,5 cm
Nomor registrasi 4,5 cm
Nama koleksi 6 cm
Umum : 3 cm
Khusus : 3 cm
Uraian singkat 8,5 cm
Tempat pembuatan 4 cm
Tempat perolehan 4 cm
Cara perolehan 3 cm
Ukuran 3 cm
Tanggal/ tahun masuk 3 cm
Penempatan 3 cm
Keterangan 4 cm +
Panjang halaman efektif horizontal 49 cm
Tabel 3.5: Ukuran kolom buku inventaris koleksi.
92

Dalam menentukan kebijakan pengadaan koleksi, museum perlu

mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

A. Prinsip dan persyaratan sebuah benda menjadi koleksi, antara lain:

1. Memiliki nilai sejarah dan nilai ilmiah (termasuk nilai estetika).

2. Dapat diidentifikasikan mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal

secara historis dan geografis.

3. Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti nyata dan

eksistensinya bagi penelitian ilmiah.

B. Prinsip skala prioritas, yaitu penilaian untuk benda-benda yang bersifat:

1. Masterpiece, merupakan benda yang terbaik mutunya.

2. Unik, merupakan benda yang memiliki ciri khas tertentu karena dalam jangka

waktu yang sudah terlalu lama tidak dibuat lagi.

3. Hampir punah, merupakan benda yang sulit ditemukan karena dalam jangka

waktu yang sudah terlalu lama tidak dibuat lagi;

4. Langka, merupakan benda-benda yang sulit ditemukan karena tidak dibuat

lagi atau karena jumlah hasil pembuatannya hanya sedikit.

2. Dokumentasi

Dokumentasi objek museum adalah keterangan tertulis mengenai koleksi

museum. Apabila objek museum tidak mempunyai keterangan tertulis perlu dicari

keterangan dengan jalan melaksanakan: studi perbandingan koleksi yang

menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan kebutuhan, penelitian

secara tipologis, penelitian secara historis, penelitian secara antropologis, dan

sebagainya. Setiap museum sebaiknya telah menetapkan sistem dokumentasi

untuk melindungi data koleksi. Dokumentasi koleksi dibagi dalam dua kategori

umum, yaitu (Direktorat Museum 2007, 5-6):


93

a. Dokumentasi yang disertai fungsi registrasi. Dokumen utama ini

merupakan stasus legal dari sebuah objek atau pada proses

peminjaman koleksi di museum, serta koleksi yang berpindah di

bawah pengawasan museum.

b. Dokumentasi yang disertai fungsi kuratorial, yaitu memberikan

informasi yang lebih luas mengenai sebuah objek dan menempatkan

objek pada tempat yang tepat dan penting di dalam kebudayaan dan

ilmu pengetahuan. Dokumentasi koleksi sebaiknya disimpan di lokasi

yang aman, terpelihara, dan disertai dengan metode penyimpanan

yang baik. Pendokumentasian ini umumnya dilakukan dengan

pembuatan kartu simpan.

Adapun prosedur administrasi koleksi adalah (Direktorat Museum 2007, 6):

koleksi

‰ nomor registrasi
‰ buku induk registrasi
‰ nomor inventarisasi
‰ kartu registrasi
‰ label registrasi

‰ buku induk inventarisasi
‰ kartu inventarisasi

kartu katalog

kartu simpan/ kartu kontrol
Tabel 3.6: Prosedur administrasi koleksi.

Prosedur administrasi koleksi museum adalah ketika koleksi akan dimasukkan

sebagai koleksi museum, calon koleksi tersebut akan diberikan nomor registrasi.

Selanjutnya calon koleksi akan diteliti oleh tim ahli yang terdiri dari seksi koleksi,

seksi edukasi, dan seksi preparasi. Apabila oleh tim ahli, calon koleksi tersebut
94

disetujui untuk menjadi koleksi museum, maka dicatat ke dalam buku induk

registrasi yang dikelola oleh registrar dan memperoleh nomor inventarisasi. Setelah

itu koleksi akan disertakan kartu registrasi dan label registrasi. Kemudian koleksi

akan disimpan sementara ke dalam ruang karantina.

Selanjutnya koleksi dicatat ke dalam buku induk inventaris yang dikelola oleh

koodinator koleksi. Kemudian data koleksi tersebut akan disalin secara singkat ke

dalam kartu inventarisasi. Apabila dikemudian hari koleksi tersebut diteliti secara

ilmiah, maka hasil penelitian koleksi tersebut akan disertakan pada kartu katalog.

Untuk memudahkan proses pencarian, maka pada tahap terakhir, koleksi akan

dicatat pada kartu simpan.

Awal penanganan benda setelah benda itu resmi menjadi milik koleksi adalah

dilakukannya suatu penanganan yang disebut registrasi. Registrasi merupakan

suatu kegiatan pencatatan tentang koleksi meseum yang sangat diperlukan untuk

penelitian lebih lanjut karena merupakan sumber informasi awal dari benda koleksi

tersebut. Kegiatan ini harus dilakukan oleh petugas pencatat koleksi yang biasa

disebut registrar dengan teratur dan kontinu.

Pencatatan data koleksi museum perlu ditertibkan, yang gunanya untuk

pengamanan dan mengetahui secara cepat seluruh kekayaan museum yang berupa

koleksi. Selain itu juga, registrasi merupakan pendataan yang pertama sebagai

dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Untuk menertibkan administrasi pencatatan data koleksi museum perlu dibuat

buku yang disebut buku registrasi. Buku ini memuat semua data awal setiap benda

yang sudah resmi menjadi milik museum. Hal ini tidak mempermasalahkan apakah

koleksi tersebut hasil pembelian, hibah, titipan, sitaan, hasil penelitian, dan hasil

tukar menukar. Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa benda tersebut sudah

diteliti dan diseleksi sehingga menjadi koleksi museum dan benda itu resmi menjadi

milik museum.
95

Buku inventaris terdiri dari buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris

koleksi. Fungsi dari buku inventaris antara lain (Direktorat Permuseman 1994b, 10):

1. Untuk mengetahui jenis dan jumlah koleksi museum.

2. Memudahkan pemanfaatan koleksi untuk penelitian dan menyebarluaskan

koleksi.

3. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan koleksi lebih lanjut.

4. Untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kehilangan koleksi.

Agar mencapai hasil yang baik dalam pencatatan inventaris koleksi maka perlu

diketahui bahwa (Direktorat Permuseuman 1994b, 11):

1. Seorang pengelola koleksi sebaiknya memiliki pengetahuan tentang latar

belakang koleksi.

2. Koleksi yang diterima registrar harus segera dicatat dalam buku induk

inventaris koleksi berdasarkan catatan pada kartu yang diterima dari

registrar.

3. Isi catatan pada kolom buku inventaris harus lengkap pada saat pengisian

(nomor registrasi, nomor inventaris dan catatan lain pada kolom yang

tersedia).

4. Jika semua data telah dicatat, kartu yang berasal dari registrar harus

dilengkapi dengan nomor inventaris dan dikirimkan kembali ke registrar.

Nomor inventaris itu akan dicatat dalam buku registrasi oleh registrar.

5. Catatan pada kolom uraian singkat dalam buku inventaris harus lengkap/

berbobot, karena buku inventaris berfungsi sebagai panduan pemanfaatan

koleksi.

6. Nomor inventaris koleksi yang ditulis dalam buku inventaris harus sama

dengan yang dicantumkan pada koleksinya.


96

3. Label

Prinsip-prinsip dalam membuat label meliputi (Direktorat Permuseuman 1993, 6-

7):

1. label harus memiliki “daya tarik”,

2. label harus memiliki “daya ikat”,

3. label harus membantu daya ingat pengunjung kepada sesuatu hal yang

pernah dilihat atau diketahuinya,

4. label harus memberikan informasi yang diperlukan oleh pengunjung,

5. label siap untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang ingin diketahui

oleh pengunjung,

6. label harus memberikan umpan balik.

Jenis label pada umumnya terdiri dari 6 jenis, yaitu (Direktorat Permuseuman

1993, 11-15):

1. Label Judul

Label judul sangat penting peranannya, karena sangat diperlukan agar

pameran lebih menarik dan memberikan informasi awal tentang tema apa

yang dipamerkan.

2. Label Sub Judul

Merupakan bagian kedua yang diperlukan untuk memberikan tambahan

keterangan dari label judul.

3. Label Pendahuluan

Label ini berisi tentang penjelasan penting pada suatu pameran, dan

merupakan penjelasan awal dari apa yang dipamerkan atau dari tema

pameran, serta merupakan ringkasan cerita dari pameran. Contoh label

pendahuluan terdapat pada salah satu ruang koleksi di Museum Bank

Indonesia, Jakarta. Melalui label pendahuluan ini diinformasikan tentang


97

datangnya bangsa asing pada abad ke XIV, barang-barang yang menjadi

primadona serta penjelasan tentang pengaruh syahbandar terhadap

pelabuhan itu sendiri, sehingga menjadikan nusantara pada waktu itu sudah

mengenal perniagaan internasional.

Foto 3.6: Label Pendahuluan pada Museum Bank Indonesia, Jakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

4. Label Grup

Merupakan pengembangan informasi yang diberikan untuk lebih menjelaskan

hubungan antara benda-benda yang dipamerkan di dalam vitrin. Dalam foto

3.8, label grup pada salah satu koleksi Museum Sonobudoyo ini memberikan

keterangan tujuh contoh pola geometris pada batik yang berasal dari

Yogyakarta.
98

Foto 3.7: label grup pada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

5. Label Individual

Foto 3.8: Label individual pada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Berisi informasi yang cukup sederhana. Pada foto 3.8, label yang diberikan oleh

Museum Sonobudoyo terhadap salah satu koleksinya yang berada di ruang batik

sangat sederhana sekali.


99

6. Label Identifikasi Benda

Berisi tentang keterangan mendasar dari fakta benda tersebut seperti nama

benda, tanggal didapat atau dibeli, nama penyumbang, dan sebagainya. Seperti

pada foto 3.9, label yang diberikan oleh pihak Museum Pusat TNI AU Dirgantara

Mandala terhadap koleksi pesawat P-51 Mustang adalah memuat data tentang

negara asal, buatan pabrik, jenis, berat, panjang badan pesawat, tinggi terbang

maksimum, persenjataan, dan jumlah awak pesawat. Data dari label tersebut

pengunjung dapat memperoleh informasi yang bernilai penting walaupun hanya

disajikan secara sederhana.

Foto 3.9: Label indentifikasi pada Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
100

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan label antara lain adalah

(Direktorat Permuseuman 1993, 17-21):

a. Penempatan label dan pengunjung

Penempatan label hendaknya tidak menggangu alur pengunjung. Sebaiknya

label diletakkan sedemikan rupa sehingga pengunjung museum dapat membaca

label dari arah kiri ke kanan.

b. Materi atau isi label

Dalam mengisi label, hendaknya pegawai museum bisa memberikan informasi

yang menarik perhatian pengunjung, tidak hanya memberikan informasi yang

faktual dengan rumusan baku who, when, where, how dan way tetapi juga harus

bisa menuangkan esensi dari label ke dalam bahasa dan gaya bahasa yang

dapat dipahami oleh para pengunjung museum yang beraneka ragam latar

belakang. Namun, tidak semua pegawai museum memiliki kemampuan untuk

menyusun label dengan baik sehingga diperlukan latihan terus menerus dari

pegawai museum.

c. Format dan warna label

Warna pada label pada umumnya berwarna pastel seperti krem sehingga

memberikan kesan luas. Pada koleksi yang mencirikan benda religius atau

sakral, dapat menggunakan warna dasar merah atau hitam.

d. Penempatan letak label

Penempatan label hendaknya memperhatikan batas maksimal pandangan mata

manusia, sehingga pengunjung tidak cepat lelah dalam membaca label.


101

C. SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI

PADA MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi museum dalam Museum Batik Yogyakarta saat ini masih

menggunakan struktur organisasi yang sederhana.

Kepala Museum

Kepala Tata Usaha

Pengelola Museum

Seksi Edukasi

Tabel 3.7: Struktur organisasi Museum Batik Yogyakarta.

Struktur yang sederhana tersebut dikarenakan sedikitnya sumber daya manusia

dan pendanaan museum tersebut. Saat ini hanya terdapat 4 orang pegawai

museum. Dengan rincian kepala museum dijabat oleh Bapak Hadi Nugroho sebagai

pemilik museum, sedangkan kepala tata usaha dijabat oleh Ibu Sri Purwani, dan

pengelola museum dijabat oleh Bapak Bejo Haryono, dan satu orang lagi yaitu

Bapak Prayogo memiliki jabatan sebagai seksi edukasi.

2. Prosedur Administrasi Koleksi

Prosedur administrasi koleksi baru berjalan pada tahun 2003, sejak dikelola oleh

pegawai yang mengerti bidang museologi. Sebelumnya prosedur administrasi

koleksi, dilakukan tanpa melakukan pencatatan yang rinci tentang koleksinya

(Haryono, 2007). Saat ini prosedur administrasi koleksi adalah:


102

Koleksi

Nomor inventarisasi
Buku induk
inventarisasi
Kartu inventarisasi

Ruang pamer
Tabel 3.8: Prosedur administrasi koleksi Museum Batik Yogyakarta.

3. Buku Registrasi

Saat ini Museum Batik Yogyakarta belum memiliki buku registrasi, hal ini

disebabkan terbatasnya sumber daya manusia. Namun pengelola museum sedang

merencanakan pembuatan buku registrasi, sehingga nantinya pun akan

memudahkan kerja pengelola museum.

Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh Direktorat Museum, Kode

inventaris 03 yang merupakan jenis koleksi etnografika digunakan pada koleksi kain

batik, gawangan, bandul, timbangan, ngemplong. Kode inventaris 10 untuk

teknologika seperti koleksi canting, cap, talam, wajan, sarangan, kenceng,

cumplung, ekor, cucuk, luju, jegoal, cawuk, kuwuk.

4. Buku Induk Inventaris Koleksi

Buku induk yang dimiliki oleh Museum Batik Yogyakarta sedikit berbeda dengan

standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Namun hal tersebut bukan

menjadi masalah yang berarti, karena perbedaan hanya terletak di ukuran kertas

yang dipakai sedangkan isi seluruh kolom sama. Saat ini buku induk inventaris

koleksi di Museum Batik Yogyakarta menggunakan kertas ukuran kuarto.


103

5. Buku Inventaris Koleksi

Buku inventaris koleksi Museum Batik Yogyakarta terdiri dari belum mengalami

proses penjilidan. Buku ini masih berupa lembaran kertas ukuran kuarto. Lembaran

ini dikumpulkan dalam map. Sebagian besar koleksi museum sudah tercatat dalam

buku ini

6. Kartu Registrasi

Kartu registrasi pada Museum Batik Yogyakarta saat ini baru mencakup pada

seluruh koleksi batik saja yang berjumlah 500, sedangkan kartu simpan untuk

koleksi lain sedang dalam tahap pengerjaan. Pada bagian belakang kartu simpan

terdapat kolom uraian singkat yang biasanya memuat data tentang teknik

pembuatan, bahan, ragam hias, dan fungsi.

Foto 3.10: Kartu Registasi pada Museum Batik Yogyakarta, Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
104

7. Katalogisasi Koleksi

Pembuatan katalog pada Museum Batik Yogyakarta belum terlaksana, hal ini

dikarenakan katalogisasi memuat data ilmiah koleksi, sehingga diperlukan penelitian

pada koleksi tersebut. Sedangkan pada koleksi di Museum Batik Yogyakarta belum

dilakukan penelitian pada seluruh koleksinya, sehingga hal ini akan menjadi sia-sia

saja.

8. Label

Label yang digunakan dalam Museum Batik Yogyakarta menggunakan label jenis

individu karena semua koleksi berdiri sendiri. Label ini menggunakan warna dasar

putih dengan label yang berwana hitam, namun di beberapa label, warna label telah

memudar. Label ini memuat data nomor inventaris, objek, pola, warna, bahan,

teknik proses, daerah asal, ukuran, catatan, dan nama pembuat. Label ini dilengkapi

dengan bahasa Inggris.

Foto 3.11: Label Individual pada Museum Batik Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
105

9. Pemotretan Koleksi

Perekaman data koleksi dalam bentuk visual di museum belum dapat terlaksana.

Tidak tersedianya fasilitas berupa kamera dan mahalnya biaya produksi foto

menjadikan salah satu alasan kenapa pemotretan koleksi hingga saat ini belum

dapat terlaksana, padahal foto koleksi yang tercantum dalam kartu simpan sangat

penting dan akan memudahkan proses pencarian koleksi bila sewaktu-waktu koleksi

tersebut hilang.

Untuk museum yang sudah siap untuk memiliki sistem manajemen koleksi

menggunakan komputer, dalam rangka pendokumentasian koleksi museum dengan

media foto, sebaiknya menggunakan foto dengan resolusi yang tinggi minimal 3

mega piksel dan menggunakan format foto terbaik seperti TIFF. Format foto TIFF

tidak mengalami penurunan kualiatas sehingga warna dan detail gambar yang

diperoleh tetap sebaik benda aslinya. Foto dengan format ini, disimpan pada pusat

data sistem manajemen koleksi museum dan diduplikat ke dalam VCD atau DVD

dan lokasi penyimpanan berada di luar museum, sebagai sebuah tindakan preventif

bila terjadi musibah. Untuk penggunaan publikasi di internet, dapat menggunakan

foto dengan format JPEG yang telah mengalami kompresi sehingga ukuran filenya

lebih kecil.

10. Pengukuran Koleksi

Pengukuran di Museum Batik Yogyakarta hanya dikerjakan seorang diri oleh

pengelola museum, karena terdapat kendala internal dan eksternal. Kendala

eksternal adalah prosedur di dalam permuseuman yang menyatakan bahwa

pengukuran koleksi hanya dilakukan oleh tim survei dan pengadaan alat, registrar,

dan kurator. Kendala internal adalah sedikitnya SDM museum ini sendiri.
106

11. Berita Acara

Berita acara digunakan oleh pihak museum digunakan pada saat koleksi

museum dipinjam oleh pihak luar, sedang dilakukan perbaikan, atau sedang berada

di luar museum karena sedang mengikuti pameran keliling.

Foto 3.12: Berita Acara pada Museum Batik Yogyakarta.


(difoto oleh: Tulus Wichaksono)
107

12. Aplikasi Komputer

Keunggulan yang dimiliki dalam teknologi komputer belum dapat diaplikasikan

pada Museum Batik Yogyakarta. Sampai sat ini museum masih menggunakan

mesin tik yang berjumlah 1 unit. Padahal jika museum ini memiliki komputer, akan

banyak sekali kegiatan di museum yang dapat dilakukan dengan teknologi ini, mulai

dari proses administrasi museum, pembuatan label, penyiapan desain pameran,

penyimpanan data dalam format digital, dan banyak lagi keunggulan bila

menggunakan aplikasi komputer.


108

BAB IV

EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN DOKUMENTASI

MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

A. Perbandingan dan Penilaian Sistem Manajemen Registrasi dan

Dokumentasi Museum Batik Yogyakarta Berdasarkan

Standar Direktorat Museum

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mencari keserasian antara sistem registrasi

dan dokumentasi yang diterapkan Musem Batik Yogyakarta dengan standar yang

dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Sehingga diharapkan dengan adanya evaluasi

ini, dapat menjadi pijakan bagi pengelola museum untuk pengembangan museum di

masa yang akan datang.

Dalam bukunya, Arikunto menggolongkan evaluasi menjadi tiga jenis, yaitu:

evaluasi awal (pre-evaluasion), evaluasi proses, dan evaluasi akhir (2005, 224).

Evaluasi ini juga menggunakan pelaku dari luar program dalam hal ini dari luar

struktur Museum Batik Yogyakarta yaitu penulis sendiri, sehingga diharapkan

penilaian dan hasil yang dilaporkan bersifat objektif.

Pada penelitian ini penulis menggunakan instrumen penelitian berupa

wawancara dengan responden kurator Museum Batik Yogyakarta dan observasi

langsung ke lapangan untuk mencocokan data hasil wawancara serta review

dokumen.

Variabel yang akan diuji berjumlah 12 buah meliputi buku registrasi, buku induk

inventaris koleksi, buku inventaris koleksi, katalogisasi koleksi, kartu registrasi,

prosedur administrasi koleksi, label, pemotretan koleksi, pengukuran koleksi, berita

acara, dan aplikasi komputer.


Matriks Metode Evaluatif Sistem Registrasi dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum

No. Subjek Standar Direktorat Museum Penerapan di Museum Batik Yogyakarta Nilai

REGISTRASI

a. buku dengan luas sampul 50 x 32 cm.

b. isi 250 halaman dengan kertas HVS

80 gram.

c. luas halaman efektif 49 x 31 cm.

d. dikelola oleh registrar.

e. memuat data:

1. Buku Registrasi 1. nomor registrasi Belum memiliki buku registrasi 1

2. nomor inventaris

3. nama koleksi

4. uraian singkat

5. tempat pembuatan

6. tempat perolehan

7. cara perolehan
8. ukuran

9. tanggal/ tahun masuk

10. harga

11. keterangan

INVENTARISASI

a. Buku dengan luas sampul 50 x 32 a. Buku dengan luas sampul 29.7 x

cm, isi 250 halaman dengan kertas 21.5 cm, isi 100 halaman dengan

80 gram. kertas 70 gram.

b. Dikelola oleh koordinator koleksi. b. Dikelola oleh curator.

c. Memuat data: c. Memuat data:

1. nomor registrasi 1. nomor registrasi


2. Buku Induk Inventaris Koleksi 3
2. nomor inventaris 2. nomor inventaris

3. nama koleksi 3. nama koleksi

4. uraian singkat 4. uraian singkat

5. tempat pembuatan 5. tempat pembuatan

6. tempat perolehan 6. tempat perolehan

7. cara perolehan 7. cara perolehan


8. ukuran 8. ukuran

9. tanggal/ tahun masuk 9. tanggal/ tahun masuk

10. keterangan 10. keterangan

a. Buku dengan luas sampul 50 x 32 a. Berupa lembaran kertas yang dijilid

cm, isi 250 halaman dengan kertas dalam map.

kertas 80 gram. b. Kertas menggunakan ukuran 33 x

b. Memuat data: 21.5 cm, berat 60 gram.

1. nomor inventaris c. Memuat data:

2. kode sub jenis koleksi 1. nomor inventaris

3. nomor registrasi 2. nomor registrasi


3. Buku Inventaris Koleksi 2
4. nama koleksi 3. nama koleksi

5. uraian singkat 4. tempat asal

6. tempat pembuatan 5. keterangan singkat

7. tempat perolehan 6. ukuran

8. cara perolehan 7. cara perolehan

9. ukuran 8. literatur

10. tanggal/ tahun masuk 9. tempat koleksi


11. penempatan 10. petugas pencatat

12. keterangan 11. dikeluarkan oleh

12. alasan pengoleksian

a. Memuat data:

1. nama dan alamat museum

2. nomor inventarisasi/ katalog

3. nama koleksi

4. deskripsi

5. ukuran dan timbangan

6. tempat asal
4. katalogisasi Koleksi Belum memiliki katalogisasi koleksi 1
7. kurun waktu/ zaman

8. cara pengadaaan

9. tanggal pengadaan

10. lokasi penyimpanan

11. referensi publikasi

12. keterangan lain


a. Ukuran kartu 18 x 14 cm. a. Ukuran kartu 18 x 14 cm.

b. Memuat data: b. Memuat data:

1. nomor registrasi 1. nomor registrasi

2. nomor inventarisasi 2. nomor inventarisasi

3. nama koleksi 3. nama koleksi

5. Kartu Registrasi 4. tempat pembuatan 4. tempat pembuatan 3

5. tempat perolehan 5. tempat perolehan

6. cara perolehan 6. cara perolehan

7. ukuran 7. ukuran

8. tanggal/ tahun masuk 8. tanggal/ tahun masuk

9. keterangan 9. keterangan

DOKUMENTASI

Koleksi Koleksi

Prosedur Administrasi ↓ ↓
6. 2
Koleksi Nomor registrasi Nomor inventarisasi

Buku induk registrasi Buku induk inventarisasi


Nomor inventarisasi Kartu inventarisasi

Kartu registrasi ↓

Label registrasi Kartu simpan

Buku induk inventaris

Kartu inventaris

Kartu katalog

Kartu simpan/ kartu kontrol

a. Label harus memiliki “daya tarik”. a. Label sudah memiliki “daya tarik”.

b. Label harus memiliki “daya ikat”. b. Label sudah memiliki “daya ikat”.

c. Label harus membantu daya ingat c. Label sudah membantu daya ingat

7. Label pengunjung kepada sesuatu hal yang pengunjung kepada sesuatu hal 3

pernah dilihat atau diketahuinya. yang pernah dilihat atau

d. Label harus memberikan informasi diketahuinya.

yang diperlukan pengunjung. d. Label sudah memberikan informasi


e. Label harus memberikan umpan yang diperlukan pengunjung.

balik. e. Label sudah memberikan umpan

f. Label siap untuk memberikan balik.

jawaban atas pertanyaan yang ingin f. Label belum dapat memberikan

diketahui oleh pengunjung. jawaban atas pertanyaan yang ingin

diketahui oleh pengunjung.

a. Dilakukan saat pengadaan koleksi,

dalam pengelolaan koleksi dan

8. Pemotretan Koleksi sesudah dikonservasi. Belum dilakukan pemotretan pada koleksi 1

b. Mengunakan media film hitam putih,

berwarna ataupun slide.

a. Dilakukan oleh tim survei dan a. Dilakukan oleh kurator.

9. Pengukuran Koleksi pengadaan alat, registrar, dan 2

kurator.

a. Ditandatangani kedua pihak beserta a. Ditandatangani kedua pihak beserta

10. Berita Acara saksi. saksi. 3

dibuat oleh tim pengadaan koleksi dibuat oleh tim pengadaan koleksi
↓ ↓

bagian koleksi Kepala kurator

↓ ↓

bagian preparasi disimpan

Disimpan

a. Pekerjaan pendokumentasian di a. Pekerjaan pendokumentasian di

museum menggunakan komputer museum masih mengugunakan

11. Aplikasi Komputer dengan program perkantoran mesin tik. 1

(Microsoft Office, Office Org, dan

program sejenis lainnya).

TOTAL 22

Tabel 4.1: Matrik evaluasi penelitian


117

Alasan penilaian dalam matrik metode evaluatif sistem registrasi dan dokumentasi

berdasarkan standar Direktorat Museum adalah:

1. Subjek Buku Registrasi mendapat nilai 1, karena standar dari Direktorat

Museum ini belum diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta. Hal ini

disebabkan belum tersedianya media, yaitu buku registrasi dan kurangnya

sumber daya manusia di Museum Batik Yogyakarta.

2. Subjek Buku Induk Inventaris Koleksi mendapatkan nilai 3. Standar

Direktorat Museum ini sudah diterapkan di Museum Batik Yogyakarta, hanya

terdapat perbedaan pada ukuran, berat, dan jumlah kertas, serta buku yang

dikelola oleh kurator.

3. Subjek Inventaris Koleksi mendapatkan nilai 2, karena standar Direktorat

Museum ini sudah diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta. Namun masih

terdapat kekurangan yaitu belum digunakannya buku beserta format yang

dianjurkan. Museum masih menggunakan kertas ukuran folio yang disatukan

dengan penjepit kertas.

4. Subjek Katalogisasi Koleksi mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat

Museum ini belum diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta.

5. Subjek Kartu Registrasi mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat

Museum ini sudah diterapkan dengan baik oleh Museum Batik Yogyakarta.

6. Subjek Prosedur Administrasi Koleksi mendapatkan nilai 2, karena sudah

hampir mendekati standar Direktorat Museum. Hanya karena sedikitnya

sumber daya manusia yang dimiliki, maka tidak semua tahapan dapat

terlaksana.

7. Subjek Label mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat Museum ini

sudah diterapkan di museum ini. Namun beberapa label berada dalam


118

kondisi yang tulisannya sudah mulai memudar sehingga mengurangi minat

pengunjung untuk membaca label guna memperoleh informasi.

8. Subjek Pemotretan Koleksi mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat

Museum ini belum diterapkan. Gambar dari koleksi sangat penting artinya,

sehingga akan semakin melengkapi data yang berdapat pada koleksi

tersebut. Apabila terjadi kasus kehilangan koleksi, dengan adanya bentuk

visual dari koleksi ini, akan memudahkan tugas pihak yang berwajib untuk

menangani kasus tersebut.

9. Subjek Pengukuran Koleksi mendapatkan nilai 2, karena belum sesuai

standar Direktorat Museum. Minimnya SDM menyebabkan pekerjaan

pengukuran koleksi hanya dilakukan oleh seorang kepala kurator.

10. Subjek Berita Acara mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat Museum

sudah terpenuhi, sehingga ketika koleksi harus berpindah untuk sementara

ke luar museum, pihak museum telah memiliki dokumentasi serta memiliki

kekuatan secara hukum untuk menuntut kepada pihak berwajib bila terjadi

hal-hal yang tidak diinginkan.

11. Subjek Aplikasi Komputer mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat

Museum untuk penggunaan komputer belum diterapkan pada Museum Batik

Yogyakarta.
119

Untuk memberikan penilaian dalam matrik metode evaluatif, penulis menggunakan

acuan yang dirumuskan sebagai berikut:

Ketentuan Nilai:

a. Nilai minimal setiap subjek :1

b. Nilai maksimal setiap subjek :4

c. Nilai minimal seluruh subjek : 11

d. Nilai maksimal seluruh subjek : 44

Ketentuan Kategori:

a. Kategori kurang : nilai 11-21

b. Kategori cukup : nilai 22-32

c. Kategori baik : nilai 33-43

d. Kategori sangat baik : nilai 44

Analisis data dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjuk pada pernyataan

keadaan, ukuran kualitas. Oleh karena itu, hasil penelitian yang berupa bilangan

tersebut harus diubah menjadi predikat, yaitu: kurang, cukup, baik, dan sangat baik.

Setelah melalui tahapan penilaian, maka penilaian untuk mengetahui keserasian

antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum

Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum mendapatkan total nilai 22,

sehingga bila disesuaikan dengan kategori, Museum Batik Yogyakarta dalam

melaksanakan sistem registrasi dan dokumentasi memiliki kategori Cukup.


120

B. REKOMENDASI UNTUK PERKEMBANGAN MUSEUM BATIK

YOGYAKARTA

Untuk mencapai bentuk museum dapat menarik minat masyarakat luas, bukan

saja para pencinta sejarah dan budaya batik saja, museum ini memerlukan

pembenahan pada sistem registrasi dan dokumentasi, antara lain:

1. Buku Registrasi.

Sebaiknya pihak museum batik yogyakarta memiliki buku registrasi, mengingat

fungsi buku ini yang sangat vital. Meskipun tidak sesuai dengan ukuran standar yang

dikeluarkan oleh pihak Direktorat Museum, minimal buku ini memiliki format yang

sama, sehingga informasi di dalamnya tetap dapat diperoleh.

2. Katalogisasi Koleksi

Katalogisasi koleksi merupakan tahapan lanjutan dari proses pendokumentasian

koleksi, karena pada tahapan ini merupakan kegiatan ilmiah, berupa penelitian lebih

lanjut dari koleksi museum. Sebaiknya pihak museum bekerja sama dengan instansi

pemerintah dalam pelaksanaannya, karena membutuhkan sumber pendanaan dan

SDM.

3. Label

Label pada Museum Batik Yogyakarta sebaiknya dikemas dengan baik lagi, dan

tidak hanya disajikan seperti saat ini, karena akan menambah minat pengunjung

untuk membacanya.

4. Pemotretan Koleksi

Pentingnya fungsi dokumentasi visual koleksi dan semakin murahnya harga

kamera seharusnya menjadi pertimbangan bagi Museum Batik Yogyakarta untuk

meningkatkan kualitas sistem registrasi dan dokumentasi. Dengan Koleksi museum


121

yang berukuran masif maka tidak membutuhkan peralatan dokumentasi khusus,

sehingga tidak memerlukan biaya yang tinggi.

5. Pengukuran Koleksi

Pengukuran koleksi merupakan faktor yang penting, karena akan berhubungan

dengan faktor lainnya seperti buku registrasi koleksi, buku induk inventaris koleksi,

buku inventaris koleksi, dan label. Sehingga dengan pembenahan di bidang ini, akan

meninggkatkan kuliatas data koleksi.

6. Aplikasi Komputer

Saat ini, hampir sebagian besar kegiatan administrasi dilakukan dengan komputer

karena keunggulan yang dimilikinya, antara lain: kecepatan, ketelitian, dan ukuran

penyimpanan yang praktis. Penggunaan aplikasi komputer oleh Museum Batik

Yogyakarta adalah sudah menjadi keharusan. Dengan jumlah koleksi yang

berjumlah 1.219 buah, akan sangat bijaksana bila Museum Batik Yogyakarta

memiliki teknologi pengolah dan penyimpan data ini.

Rekomendasi untuk bidang diluar sistem registrasi dan dokumentasi, antara lain:

1. SDM Pengelola Museum.

Sumber daya manusia di Musem Batik saat ini hanya memiliki 4 orang tenaga

tetap, dan beberapa tenaga kerja honorer. Di antara 4 orang tersebut, hanya 1 orang

yang memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang Museum, yaitu Bapak bejo

Haryono, karena beliau adalah mantan Kepala Museum Sonobuyodo. Bila hanya

ada 1 orang saja yang ahli dibidangnya tentunya perkembangan museum ke arah

yang lebih baik tetap belum dapat maksimal, sehingga diperlukan beberapa tenaga

museum untuk dapat melaksanakan fungsi museum.


122

2. Organisasi Museum

Sedikitnya SDM mengakibatkan kinerja museum tidak optimal. Untuk mencapai

kinerja yang optimal sebaiknya Museum Batik Yogyakarta menambah SDM dengan

memperhatikan struktur organisasi dibawah ini, sehingga dapat terlihat, struktur

mana sajakah yang membutuhkan tambahan SDM.

3. Manajemen Pengelolaan

Sebaiknya museumnya sudah mulai melakukan pengelolaan sesuai dengan

standar pengelolaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Sesuai dengan

standar tersebut tentunya juga akan memberikan banyak kemudahan bagi pihak

museum untuk mengelola museum, khususnya koleksi di dalamnya. Penyesuaian

pembuatan buku registrasi, buku induk inventaris koleksi, katalogisasi koleksi, dan

penggunaan aplikasi komputer harus mendapat perhatian dari pengelola museum

agar hal-hal tersebut dapat diperbaiki.

Tentunya saran-saran tersebut dapat terlaksana dengan dukungan finansial yang

memadai, sehingga diharapkan kembali agar pihak Museum Batik Yogyakarta dapat

mengembangkan potensi-potensi jasa pelengkap untuk mendapatkan pemasukan

finansial sejauh maksud pelestarian pusaka dan pemanfaatannya bagi masyarakat

tetap terjamin
123

BAB V

PENUTUP

Museum Batik Yogyakarta yang berada di jalan Dr. Sutomo nomor 13 Yogyakarta

merupakan salah museum khusus yang menyimpan koleksi batik kuno hingga modern

dengan jenis batik keraton maupun pesisir. Koleksi yang tersimpan di museum ini

terdiri dari koleksi etnografi dan koleksi teknologika yang mencapai 1.219 buah. Koleksi

etnografi seperti kain batik, gawangan, bandul, timbangan, ngemplong. Koleksi

teknologika pada museum ini antara lain: canting, cap, talam, wajan, sarangan,

kenceng, cumplung, ekor, cucuk, luju, jegoal, cawuk, dan kuwuk.

Koleksi yang mencapai ribuan untuk sebuah museum swasta dengan luas 400 m2

membutuhkan sebuah sistem manajemen koleksi museum yang baik. Direktorat

Museum sebagai instansi pemerintah yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang

permuseuman telah menciptakan keseragaman dan kelancaran pengelolaan koleksi

sehingga administrasi koleksi lebih baik dan tertib sesuai ilmu permuseuman.

Dalam standar registrasi dan dokumentasi, Direktorat Museum mempunyai 11 subjek

yang harus diperhatikan, antara lain: buku registrasi, buku induk inventarisasi koleksi,

katalogisasi koleksi, kartu registrasi, prosedur administrasi koleksi, label, pemotretan

koleksi, pengukuran koleksi, berita acara, dan aplikasi komputer.

Museum Batik Yogyakarta sebagai museum yang berada dibawah naungan

Direktorat Museum wajib melaksanakan sistem registrasi dan dokumetasi tersebut, agar

peran museum sebagai: pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, pusat penyaluran

ilmu untuk umum, pusat penikmatan karya seni, pusat perkenalan kebudayaan antar

daerah dan antar bangsa, objek wisata, media pembinaan pendidikan kesenian dan

ilmu pengetahuan, suaka alam dan suaka budaya, sarana untuk bertaqwa dan

bersyukur kepada Tuhan tetap dapat berfungsi.


124

Secara umum, sistem registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta

sudah berjalan cukup baik walaupun masih terdapat kekurangan di beberapa bidang.

Beberapa standar dalam sistem registrasi dan dokumentasi belum dapat terlaksana di

museum ini, antara lain buku registrasi, katalogisasi koleksi, pemotretan koleksi dan

aplikasi komputer. Sistem lainnya seperti prosedur administrasi koleksi, dan pengukuran

koleksi sudah berjalan namun belum secara maksimal, hal ini dikarenakan beberapa hal

seperti kurangnya sumber daya manusia di museum dan keterbatasan dana untuk

dapat mewujudkan sistem permuseuman yang sesuai dengan standar Direktorat

Museum. Untuk penerapan buku inventaris koleksi, kartu registrasi, label, dan berita

acara sudah berjalan dengan baik di museum ini.

Namun begitu diharapkan Museum Batik Yogyakarta tetap terus berbenah diri untuk

terus meningkatkan kualitasnya, baik dari segi fisik maupun non-fisik sehingga akan

meningkatkan jumlah pengunjung museum, selain tugas pemerintah dalam hal ini

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mempromosikan museum kepada

masyarakat luas.
125

DAFTAR ACUAN PUSTAKA

Allan, Douglas A. 1978. “The Museum And It’s Functions”. Dalam The Organization
Of Museums: Practical Advice. Paris: UNESCO, Hlm. 13.

Anas, Binarul dkk. 1997. Indonesia Indah – Batik. Jakarta: Yayasan Harapan Kita.

Arikunto, Suharsimi 2005. Manajemen Peneltian. Jakarta: Rineka Cipta.

Ayatrohaedi 1986. Kebudayaan Indonesia Sebelum Datangnya Pengaruh India,


Dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Dunia Pustaka
Jaya.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 1992. Undang-Undang Nomor 5 Tahun


1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Diperoleh dari
http://www.bappenas.go.id/pesisir/frontend/dokumen.php?id=1247&PHPSE
SSID=913c1340d011a244c05f80fc6f5458f2. 6 Juni 2007.

Baskara, Bima 2006. “Jelajah Hikayat Batik di Museum Batik dan Sulaman”. Dalam
surat kabar Kompas. Jakarta: Kompas Media Nusantara, Hlm. H.

Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta 2007. Kecamatan Danurejan Dalam Angka 2006.
Yogyakarta: Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta.

Darmokusumo, GBRA Murywati 1990. Batik Kraton Yogyakarta. Jakarta: Himpunan


WASTAPRENA.

Daryanto 1981. Teknik Pembuatan Batik dan Sablon. Semarang: C.V Aneka.

Davis, Hester 1992. “Is An Archeological Site Important To Science Or To The Public,
An Is There A Difference”. Dalam Heritage Interpretation Vol.I, The Natural &
Built Environment. Eds. David Uzzell. London: Belhaven Press, Hlm. 97.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 1995. Peraturan Pemerintah Nomor 19


Tahun 1995 Tentang: Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar
Budaya di Museum. Diperoleh melalui faksimile dari bagian Humas
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 20 November 2007.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2004. Keputusan Menteri Nomor


KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum. Diperoleh melalui faksimile
dari Bagian Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 20
November 2007.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2007. Tugas Pokok dan Fungsi Eselon 2
2007. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Diperoleh dari
http://www.budpar.go.id/page.php?ic=572&id=1486. 12 November 2007.

Departemen Perindustrian, 1986. Sejarah Industri Batik di Indonesia. Yogyakarta:


Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.
126

Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004. Pedoman Pengelolaan Museum.


Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Direktorat Permuseuman 1986. Buku Pinter Bidang Permuseuman. Jakarta:


Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta.

Direktorat Permuseuman 1993. Petunjuk Penyusunan Label di Museum.


Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta.

Direktorat Permuseuman 1994a. Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran


Di Museum. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta.

____________ 1994b. Pedoman Buku Registrasi, Buku Induk Inventaris dan Buku
Inventaris Koleksi Museum di Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan
Permuseuman.

Direktorat Permuseuman 1997a. “Beberapa Pertimbangan Dalam Masalah


Pelestarian di Indonesia”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta:
Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Hlm. 41.

____________ 1997b. “Museum sebagai komunikator”. Dalam Bunga Rampai


Permuseuman. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Hlm.
22.

Direktorat Museum 2006. Museum di Indonesia Tahun 2005-2006. Direktorat


Museum. Diperoleh dari http://www.budpar.go.id/page.php?id=156&ic=522.
12 November 2007.

Direktorat Museum 2007. Apakah itu Museum. Direktorat Museum. Diperoleh dari
http://www.museum-
indonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=2&Itemid=69.
22 November 2007.

Direktorat Museum 2007. Pengelolaan Koleksi Museum: Pengadaan dan


Administrasi, Registrasi, Inventarisasi, dan Penelitian Koleksi. Jakarta:
Direktorat Museum.

Djumena, Nian S. 1990. Ungkapan Sehelai Batik: It’s Mistery and Meaning.
Jakarta: Djambatan.

Djumena, Nian S.1990. Batik dan Mitra, Batik and it’s Kind. Jakarta: Djambatan.

Dwiyanto, Djoko 1998a. Arkeologi dan Museulogi: Suatu Intruduksi. Makalah


disampaikan pada Ceramah Penyuluhan Kebudayaan dalam rangka liburan
Cawu I siswa SMU se-Jawa Tengah.

____________1998b. Ruang Lingkup Kajian Museuologi Dan Museografi. Makalah


disampaikan dalam Penataran Permuseuman Tipe Dasar Angkatan II.
Yogyakarta: 28 Oktober-2 November 1998.

Dwiyanto, Djoko dkk. 2004. “Proposal Pengembangan Museum Batik Yogyakarta”.


Tidak Diterbitkan. Yogyakarta.
127

Edleson, Marij dan Soedarmadji J.H Damais 1990. Sekaring Jagad Ngayogyakarta
Hadiningrat. Jakarta: himpunan WASTRAPENA.

Hadisuwito 2007. Kepala Produksi Industri Batik PLENTONG. (Wawancara). 11 Juli.

Hamilton, Donny L 1999a. Overview of Conservation in Archaeology; Basic


Conservation Procedures. Texas: Department of Anthropology Texas A&M
University. Diperoleh dari
http://nautarch.tamu.edu/class/anth605/File1.htm. 16 Desember 2007.
Hlm. 12.

____________1999b. Textile Conservation. Texas: Department of Anthropology


Texas A&M University. Diperoleh dari
http://nautarch.tamu.edu/class/anth605/File8.htm. 16 Desember 2007.
Hlm. 1, 9.

Hamzuri 1981. Batik Klasik. Jakarta: Djambatan.

Haryono, Bejo 2007. Kepala Museum Batik Yogyakarta. (Wawancara). 16 Desember.

Helmi, Ampri dan Mujiyono 1992. Batik Tradisional: Kemunduran dan


Pencegahannya. Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Tahun
1991/1992.

Herreman, Yani 2004. “Display, Exhibits and Exhibitions”. Dalam Running a


Museum : A Practical Handbook. Ed. Patrick J. Boylan. Paris: ICOM, Hlm.
92.

Heuken, Adolf 1997. Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta


Loka Caraka.

International Council Of Museum 2007. ICOM Statue. Paris: ICOM.

Irawan, Prasetya 2001. Evaluasi Proses Belajar Mengajar, Proyek Pengembangan


Universitas Terbuka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan, Departemen
Pendidikan Nasional.

Lasria, Alphaliyanri 2003. “Optimalisasi Media Pelengkap Pameran (Supplementary


Exhibition Media) Sebagai Upaya Peningkatan Peran Pendidikan Di
Museum Zoology Bogor”. Proyek Akhir. Manajemen Pariwisata. Bandung:
Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Lewis, Geoffrey 2004. “The Role Of Museums And the Professional Code Of
Ethics”. Dalam Running a Museum: A Practical Handbook. Ed. Patrick J.
Boylan. Paris: ICOM, Hlm. 2.

Lombard, Denys 2000. Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu, Jaringan Asia,
bagian II. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Majalah Femina, nomor 28/XIII-23 Juli 1985. Simbolisme, Motif, dan Warna Batik.
Jakarta: PT. Gramedia.
128

Majalah Rumah, tanpa tahun. Edisi Lighting: Mempercantik Interior dan Eksterior .
Jakarta: PT. Gramedia.

Michalski, Stefan 2004. “Care and Preservationof Collections”. Dalam Running a


Museum: A Practical Handbook. Ed. Patrick J. Boylan. Paris: ICOM, Hlm.
78.

Nurbiajanti, Siwi 2004. Meraih Kembali Masa Kejayaan Batik Lasem. Kompas Cyber
Media. Diperoleh dari http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0404/22/ekora/970856.htm.10 Oktober 2007.

Nurjanti, Nunung 1993. “Batik Yogyakarta Abad XX, Fungsi dan Perkembangannya”.
Tesis. Program Pasca Sarjana. Yogyakarta: UGM.

Pambudy, Ninuk Mardiana 2000. “Perjalanan Panjang Batik”. Dalam 1000


Tahun Nusantara. Ed. J.B. Kristanto. Jakarta: Kompas, Hlm. 236-237.

Pinardi, Slamet 1992. “Sektor Industri Pada Masa Majapahit” dalam 700 Tahun
Majapahit, (1293-1993) Suatu Bunga Rampai. Surabaya: CV. Wisnu Murti
Surabaya, Hlm. 211.

Setiawan, Adi Dian 2006. “Studi Etnoarkeologi Terhadap Pewarna Alami Batik di
Beberapa Industri Batik Tradisional di Yogyakarta”. Skripsi. Fakultas Ilmu
Budaya. Yogyakarta: UGM.

Sulistyo, Djoko Budhi 2002. Visi Misi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Makalah
disampaikan dalam Sarasehan Pengelolaan Museum Se-DIY oleh Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY. 24 Agustus. Yogyakarta.

Sumadio, Bambang 1997. “Museum Sebagai Komunikator”. Dalam Bunga


Rampai Permuseuman. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman,
Hlm. 22.

Sumadio, Bambang 1997. “Beberapa Pertimbangan Dalam Masalah Pelestarian di


Indonesia”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat
Permuseuman, Hlm. 41.

Susanto, Sewan 1980. Seni Kerajinan Batik di Indonesia. Yogyakarta: Balai Penelitian
Batik dan Kerajinan Pendidikan Industri.

Sutaarga, Moh. Amir 1991. Studi Museuologia. Jakarta: Proyek Pembinaan


Permuseuman Jakarta.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia 2001. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tirtaamidjaja, N 1966. Batik, Pola dan Corak. Jakarta: Djambatan.


129

Utomo, Rizon Pamardhi dan Indro Sulistyanto 2003. Peran Swasta dan Masyarakat
Dalam Pengembangan Museum di Provinsi DIY. Makalah disampaikan
dalam Sarasehan Permuseuman Provinsi DIY. Yogyakarta: 16 Desember
2003.

Wargatjie, S.N. 2003. Batik Lasem, Nasibnya Kini. Kompas Cyber Media. Diperoleh
dari http://www.kompas.com/kompascetak/0305/25/keluarga/295393.htm.
10 Oktober 2007.

Wibowo, H.J., dkk. 1996. Sistem Pengetahuan Tradisional Dalam Bidang Mata
Pencaharian di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat
Sejarah dan Nilai Tradisional.

Wijayanti, Diorita 2005. Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan


Museum Batik di Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Tehnik,
Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Yasandalem Kanjeng Gusti Adipati Anom Amengkunegara (Ingkang Sinuwun Paku


buwana V Ing Surakarta) 1985. Serat Centhini; (Suluk Tembangraras),
Transliterasi Latin oleh Kamajaya. Yogyakarta: Yayasan Centhini.

Yusuf, Achmad dkk. 1988. Ragam Hias Tradisional Dari Masa ke Masa. Yogyakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Direktorat Permuseuman.
130

DAFTAR NARASUMBER

1. Nama : Drs. Bejo Haryono.

Usia : 59 tahun.

Pekerjaan : Pengelola Museum Batik Yogyakarta, Yogyakarta.

Alamat kantor : Jl. Dr. Sutomo No. 13, Yogyakarta.

2. Nama : Hadisuwito.

Usia : 68 tahun.

Pekerjaan : Kepala Produksi Batik Plentong.

Alamat kantor : Jl. Tirtodipuran No. 48, Yogyakarta.


LAMPIRAN A

BUKU REGISTRASI KOLEKSI

NO. INVENTARIS NAMA KOLEKSI TEMPAT TEMPAT CARA TGL/THN


NO. REGISTRASI URAIAN SINGKAT UKURAN HARGA KETERANGAN
KODE NO. URUT KOLEKSI PEMBUATAN PEROLEHAN PEROLEHAN MASUK
JENIS DLM. JENIS KOLEKSINYA UMUM KHUSUS

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram


LAMPIRAN B

BUKU INDUK INVENTARIS KOLEKSI

NO. INVENTARIS NAMA KOLEKSI TEMPAT TEMPAT CARA TGL/THN


NO. REGISTRASI URAIAN SINGKAT UKURAN KETERANGAN
KODE NO. URUT KOLEKSI PEMBUATAN PEROLEHAN PEROLEHAN MASUK
JENIS DLM. JENIS KOLEKSINYA UMUM KHUSUS

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram


LAMPIRAN C

BUKU INVENTARIS KOLEKSI

KODE
SUB NAMA KOLEKSI TEMPAT TEMPAT CARA TGL/THN
NO. INVENTARIS NO. REGISTRASI URAIAN SINGKAT UKURAN PENEMPATAN KETERANGAN
JENIS PEMBUATAN PEROLEHAN PEROLEHAN MASUK
KOLEKSI UMUM KHUSUS

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram


LAMPIRAN D1

SISI MUKA KARTU REGISTRASI

KARTU REGISTRASI 2 cm

1. No. Registrasi 1,5 cm

2. No. Inventaris 1,5 cm

3. Nama Koleksi 1,5 cm

4. Tempat Pembuatan 1,5 cm


18 cm

5. Tempat Perolehan 1,5 cm

6. Cara Perolehan 1,5 cm

7. Ukuran 1,5 cm

8. Tgl/thn masuk 1,5 cm

9. Keterangan

4 cm

14 cm

Skala
0 0,5 1 2 3 4

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram


LAMPIRAN D2

SISI BELAKANG KARTU REGISTRASI

URAIAN SINGKAT

18 cm

14 cm

Skala
0 0,5 1 2 3 4

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram


136

DAFTAR ISTILAH

Angjahit : Tukang jahit.

Anglukis : Seniman lukis.

Anulis : Membatik.

Asipet : Tukang sulam.

Batik : kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan

menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian

pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Canting : Alat untuk membatik yang terdiri dari wadah kuningan

bercorong untuk menempatkan malam yang dipasang pada

sebuah gagang buluh bambu kecil.

Kurator : Pengurus atau pengawas museum.

Lux : Satuan unit hitung untuk intensitas cahaya. 1 lux adalah 1

lumen per meter persegi.

Malam : Lilin penahan warna yang digunakan dalam proses

membatik.

Museologi : Ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi

museum dan lingkungannya serta sistem pengelolaannya.

Mutih : Ritual puasa, dengan hanya memakan dan minum nasi

putih dan air putih saja.

Registrar : Petugas pencatat pada proses registrasi koleksi museum.

Ririan : Garis meruncing pada motif batik