Anda di halaman 1dari 38

PENANGANAN HERNIA DENGAN BILAYER MESH

PEMBIMBING

Dr. Eka S. Uttama,Sp.B

DISUSUN OLEH

VERA OCTASIA 030.05.225

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI PERIODE 25 FEBRUARI 4 MEI 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari bagian muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia. Semua hernia terjadi melalui celah lemah atau kelemahan yang potensial pada dinding abdomen yang dicetuskan oleh peningkatan tekanan intraabdomen yang berulang atau berkelanjutan. 1 Hernia adalah adanya penonjolan peritoneum yang berisi alat visera dari rongga abdomen melalui suatu lokus minoris resistensieae baik bawaan maupun didapat. Hernia tetap merupakan problem kesehatan yang tidak bisa lepas dari problem sosial, banyak orang dengan tonjolan di lipat paha ke dukun sebelum dibawa ke rumah sakit atau dokter; adapula sebahagian masyarakat yang merasa malu bila penyakitnya diketahui orang lain sakit demikian, sehingga hal-hal inilah yang kadangkala memperlambat penanganan penyakit dan khususnya hernia. Problem kedokteran yang penting adalah bagaimana mengurangi frekuensi timbulnya hernia inguinalis.
1,2,3

Dalam sejarahnya pada 1552 sebelum Masehi di Mesir telah dilaporkan pengobatan untuk hernia inguinalis dengan melakukan suatu tekanan dari luar. Galen pada tahun 176 Masehi melaporkan penurunan duktus testikularis melalui lubang kecil pada lower abdomen, kemudian ia meneliti dari awal tentang sebab terjadinya hernia inguinalis indirekta. Susruta pada abad ke 5 sesudah Masehi pertama kali melaporkan pengobatan bedah terhadap hernia. Pada autopsi terhadap anak yang menderita hernia sebanyak 500 orang pada abad ke 18 dan 19 didapatkan 56% adanya patensi dari prosesus vaginalis peritonei. sedangkan Later pada abad ke 19 melakukan berbagai metode pembedahan dalam mengatur kembali lapisan anatomis dari kanalis inguinalis dengan memperhatikan hubungan sekitarnya seperti struktur dari funikulus spermatikus. 1,2 Mc Lennan pada tahun 1914 menyatakan pengobatan bedah Telah dilakukan, penelitian retrospektif dengan analisis deskriptif terhadap 95 kasus hernia inguinalis lateralis anak pada

kurun waktu Januari 1988 sampai dengan Desember 1991. Didapatkan 78,9% kasus laki-laki, 42,1% kelompok umur 0 -1 tahun; 52,6% hernia inguinalis lateralis dekstra; 31,6% hernia inguinalis inkarserata, terbanyak pada ke-lompok umur 0 - 1 tahun (50%); reduksi konservatif berhasil pada 72,7% dilanjutkan dengan bedah elektif setelah 48 jam dan pada 8 kasus hernia inguinalis yang inkarserata dilakukan bedah emergensi. Bila tidak ditangani secara dini, Hernia Inguinal Lateralis (indirek) dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti, terjadi perlengketan antara isi Hernia dengan dinding kantong Hernia sehingga isi Hernia tidak dapat dimasukkan kembali dan penekanan terhadap cincin Hernia semakin banyaknya usus yang masuk. 2,3 Salah satu penanganan yang dilakukan pada klien Hernia adalah herniotomi atau herniorafi. Dampak kesehatan yang ditimbulkan pada pasien yang dilakukan herniorafi diantaranya nyeri, aktivitas intoleran dan resiko terjadinya infeksi.1,2

BAB II ANATOMI

II.1 ANATOMI Region inguinal harus dipahami, pengetahuan tentang region ini penting untuk terapi operatif hernia. Sebagai tambahan, pengetahuan tentang posisi relative dari saraf, pembuluh darah dan struktur vas deferen, aponeurosis dan fascia. 3 * Kanalis Inguinalis Kanalis inguinalis pada orang dewasa panjangnya kira-kira 4 cm dan terletak 2-4 cm kearah caudal lagamentum inguinal. Kanal melebar diantara cincin internal dan eksternal. Kanalis inguinalis mengandung salah satu vas deferens atau ligamentum uterus. Funikulus spermatikus terdiri dari serat-serat otot cremaster, pleksus pampiniformis, arteri testicularis n ramus genital nervus genitofemoralis, ductus deferens, arteri cremaster, limfatik, dan prosesus vaginalis. 2,3,4 Kanalis inguinalis harus dipahami dalam konteks anatomi tiga dimensi. Kanalis inginalis berjalan dari lateral ke medial, dalam ke luar dan cepal ke caudal. Kanalis inguinalis dibangun oleh aponeurosis obliquus ekternus dibagian superficial, dinding inferior dibangun oleh ligamentum inguinal dan ligamentum lacunar. Dinding posterior (dasar) kanalis inguinalis dibentuk oleh fascia transfersalis dan aponeurosis transverses abdominis. Dasar kanalis inguinalils adalah bagian paling penting dari sudut pandang anatomi maupun bedah. 3,4 Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral dari trigonum Hesselbach. Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane rectus, dan ligamentum inguinal menjadi batas inferior. Hernia yang melewati trigonum Hesselbach disebut sebagai direct hernia, sedangkan hernia yang muncul lateral dari trigonum adalah hernia indirect. 4

Segitiga Hesselbach's * Aponeurosis Obliqus External Aponeurosis otot obliquus eksternus dibentuk oleh dua lapisan: superficial dan profunda. Bersama dengan aponeorosis otot obliqus internus dan transversus abdominis, mereka membentuk sarung rectus dan akhirnya linea alba. external oblique aponeurosis menjadi batas superficial dari kanalis inguinalis. Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke tuberculum pubicum. 3,4

Gambar: Otot Oblique

* Otot Oblique internus Otot obliq abdominis internus menjadi tepi atas dari kanalis inguinalis . bagian medial dari internal oblique aponeurosis menyatu dengan serat dari aponeurosis transversus abdominis dekat tuberculum pubicum untuk membentuk conjoined tendon. adanya conjoined tendon yang sebenarnya te;ah banyak diperdebatkan, tetapi diduga oleh banyak ahli bedah muncul pada 10% pasien. 2,3,4 * Fascia Transversalis Fascia transversalis dianggap suatu kelanjutanb dari otot transversalis dan

aponeurosisnya. Fascia transversalis digambarkan oleh Cooper memiliki 2 lapisan: "The fascia transversalis dapat dibagi menjadi dua bagian, satu terletak sedikit sebelum yang lainnya, bagian dalam lebih tipis dari bagian luar; ia keluar dari tendon otot transversalis pada bagian dalam dari spermatic cord dan berikatan ke linea semulunaris. 3,4

Gambar . Fascia Transversalis * Ligamentum Cooper Ligamentum Cooper terletak pada bagian belakang ramus pubis dan dibentuk oleh ramus pubis dan fascia. Ligamentum cooper adalah titik fixasi yang penting dalam metode perbaikan laparoscopic sebagaimana pada teknik McVay. 3

* Preperitoneal Space preperitoneal space terdiri dari jaringan lemak, lymphatics, pembuluh darah dan saraf. Saraf preperitoneal yang harus diperhatikan oleh ahli bedah adalah nervus cutaneous femoral lateral dan nervus genitofemoral. nervus cutaneous femoral lateral berasal dari serabut L2 dan L3 dan kadang cabang dari nervus femoralis. Nervus ini berjalan sepanjang permukaan anterior otot iliaca dan dibawah fascia iliaca dan dibawah atau melelui perlekatan sebelah lateral ligamentum inguinal pada spina iliaca anterior superior. 4 Nervus genitofemoral biasanya berasal dari L2 atau dari L1 dan L2 dan kadang dari L3. Ia turun didepan otot psoas dan terbagi menjadi cabang genital dan femoral. Cabang genital masuk ke kanalis inguinalis melalui cincin dalam sedangkan cabang femoral masuk ke hiatus femoralis sebelah lateral dari arteri. ductus deferens berjalan melalui preperitoneal space dari caudal ke cepal dan medial ke lateral ke cincin interna inguinal. Jaringan lemak, lymphatics, ditemukan di preperitoneal space, dan jumlah jaringan lemak sangat bervariasi. 1,2,3,4

BAB III TINJAUAN PUSTAKA III.1 DEFINISI Hernia berasal dari kata latin yang berarti rupture. Hernia didefinisikan adalah suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyak defek melibatkan dinding abdomen pada umumnya daerah inguinal. (2) III. 2 PREVALENSI Prevalensi terjadinya dalam kasus bedah khususnya hernia di Indonesia cukup banyak. Menurut penelitian yang dilakukan di Rumah sakit umum pusat fatmawati sejak bulan mei 2012 hingga bulan februari 2013 kasus hernia merupakan kasus yang terbanyak di poli bedah. Saat ini sudah di temukan penanganan dalam hal bedah yaitu dalam kasus hernia sudah di kenal yaitu tindakan bedah menggunakan bilayer mesh. Yaitu sudah dilakukan 33 kasus hernia yang dilakukan bilayer mesh. III.3 EPIDEMIOLOGI Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen muncul didaerah sekitar lipat paha. Hernia indirect lebih banyak daripada hernia direct yaitu 2:1, dimana hernia femoralis lebih mengambil porsi yang lebih sedikit.2,3 Hernia sisi kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri. Perbandingan pria:wanita pada hernia indirect adalah 7:1. Ada kira-kira 750000 herniorrhaphy dilakukan tiap tahunnya di amerika serikat, dibandingkan dengan 25000 untuk hernia femoralis, 166000 hernia umbilicalis, 97000 hernia post insisi dan 76000 untuk hernia abdomen lainya.3 Hernia femoralis kejadiannya kurang dari 10 % dari semua hernia tetapi 40% dari itu muncul sebagai kasus emergensi dengan inkarserasi atau strangulasi. Hernia femoralis lebih sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang pernah menjalani operasi hernia inguinal.. meskipun kasus hernia femoralis pada pira dan wanita adalah sama, insiden hernia femoralis

dikalangan wanita 4 kali lebih sering dibandingkan dikalagan pria, karena secara keseluruhan sedikit insiden hernia inguinalis pada wanita. 2, III.3 ETIOLOGI Penyebab terjadinya hernia 1,2,3,4,5: 1. Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup. 2. Akibat dari pembedahan sebelumnya. 3. Kongenital a. Hernia congenital sempurna Bayi sudah menderita hernia kerena adanya defek pada tempat b. Hernia congenital tidak sempurna Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis). tempat tertentu.

4. Aqusisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain: a. tekanan intrabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien yang sering mengejan yang baik saat BAB dan BAK. b. Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong LMR. c. banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk. d. Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal. e. Sikatrik. f. Penyakit yang melemahkan dinding perut. g. Merokok h. Diabetes mellitus

III.4 KLASIFIKASI Casten membagi hernia menjadi tiga stage, yaitu 3 Stage 1: hernia indirek dengan cincin hernia normal Stage 2: hernia direk dengan pembesaran atau distorsi cincin interna. Stage 3: semua hernia direk atau hernia femoralis. Klasifikasi menurut Halverson dan McVay, hernia terdapat 4 kelas. 3 Kelas 1 : hernia indirek yang kecil Kelas 2: hernia indirek yang medium Kelas 3: Hernia indirek yang besar atau hernia direk. Kelas 4: Hernia femoralis Sistem Ponka membagi hernia menjadi 2 tipe. 3 1. Hernia Indirek Hernia inguinali indirek yang tidak terkomplikasi. Hernia inguinalis sliding. 2. Hernia Direk Suatu defek kecil di sebelah medial segitiga Hesselbach, dekat tuberculum pubicum. Hernia divertikular di dinding posterior. Hernia inguinalis direk dengan pembesaran difus di seluruh permukaan segitiga Hesselbach. Gilbert membuat klasifikasi berdasarkan 3 faktor: 3 1. Ada atau tidak adanya kantung peritoneal. 2. Ukuran cincin hernia. 3. Integritas dinding posterior dank anal. Gilbert membagi hernia menjadi 5 tipe. Tipe 1, 2, dan 3 merupakan hernia indirek, sedangkan tipe 4 dan 5 merupakan hernia direk. Hernia tipe 1 Mempunyai kantong peritoneal yang melewati cincin interna yang berdiameter Hernia tipe 2 (hernia indirek yang paling sering) mempunyai kantong peritoneal yang melewari cincin

interna yang berdiameter 2 cm Hernia tipe 3 Hernia mempunyai kantong peritoneal yang melewati cincin unterna yang berdiemeter < 2cm. menjadi hernia komplit dan sering menjadi slidinhernia. Hernia tipe 4 Mempunyai robekan dinding posterior tau defek posterior multiple. Cincin interna yang intak dan tidak ada kantung peritoneal. Hernia tipe 5 Merupakan hernia divertikuler primer. Pada hernia ini tidak terdapat kantung peritoneal.

Nylus membuat klasifikasi berdasarkan ukuran cincin interna dan integritas dinding posterior, meliputi:3 Tipe 1 adalah hernia indirek dengan cincin hernia yang normal Tipe 2 adalah hernia indirek dengan cincin hernia yang membesar. Tipe 3a adalah hernia inguinalis indirek Tipe 3b adalah hernia indirek yang menyebabkan kelemahan dinding posterior. Tipe 3c adalah hernia femoralis. Tipe 4 memperhatikan semua hernia rekuren.

III.5 BAGIAN DAN JENIS HERNIA Bagian bagian hernia : 1. Kantong hernia Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis. 2. Isi hernia Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum). 3. Pintu hernia Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia. 4. Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia. 5. Locus minoris resistence (LMR)

Gambar Bagian-bagian Hernia

Jenis hernia : 1. Menurut lokasinya : 3,4,5 a. Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Jenis ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut. b. Hernia umbilikus adalah di pusat. c. Hernia femoralis adalah di paha. 2. Menurut isinya : 3,4 a. Hernia usus halus b. Hernia omentum 3. Menurut penyebabnya : 2,3,4 a. Hernia kongenital atau bawaan b. Hernia traumatic c. Hernia insisional adalah akibat pembedahan sebelumnya. 4. Menurut terlihat dan tidaknya : 5 a. Hernia externs, misalnya hernia inguinalis, hernia scrotalis, dan sebagainya. b. Hernia interns misalnya hernia diafragmatica, hernia foramen winslowi, hernia obturaforia.

5. Menurut keadaannya : 1,2,3,4,5 a. Hernia inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irrenponibel. b. Hernia strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan. 6. Menurut nama penemunya : 4,5 a. Hernia petit yaitu hernia di daerah lumbosacral. b. Hernia spigelli yaitu hernia yang terjadi pada linen semi sirkularis diatas penyilangan vasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominalis bagian lateral. c. Hernia richter yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit. 7. Menurut sifatnya : 3,4,5 a. Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. b. Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. 8. Jenis hernia lainnya : 1,2 a. Hernia pantolan adalah hernia inguinalis dan hernia femuralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh vasa epigastrika inferior. b. Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara lengkap. c. Hernia littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum meckeli.

III.6 PATOFISIOLOGI

1. Hernia Inguinalis Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. 1,2 Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi kerana usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. 2,3,4 Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. 3,4,5

Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis. 1,2,3

A. Hernia Inguinalis Direkta (Medialis) Hernia ini merupakan jenis henia yang didapat (akuisita) disebabkan oleh faktor peninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach*. Jalannya langsung (direct) ke ventral melalui annulus inguinalis subcutaneous. Hernia ini sama sekali tidak berhubungan dengan pembungkus tali mani, umumnya terjadi bilateral, khususnya pada laki-laki tua. Hernia jenis ini jarang, bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan strangulasi. 4,5,6

*Trigonum Hesselbach merupakan daerah dengan batas: Inferior: Ligamentum Inguinale. Lateral: Vasa epigastrika inferior. Medial: Tepi m. rectus abdominis.

Dasarnya dibentuk oleh fascia transversalis yang diperkuat serat aponeurosis m.transversus abdominis.

Gambar Hernia Inguinalis Direct

B. Hernia Inguinalis Indirekta (lateralis) Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Dikenal sebagai indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis. Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk lonjong. Dapat terjadi secara kongenital atau akuisita: 5,6
Hernia inguinalis indirekta congenital.

Terjadi bila processus vaginalis peritonei pada waktu bayi dilahirkan sama sekali tidak menutup. Sehingga kavum peritonei tetap berhubungan dengan rongga tunika vaginalis propria testis. Dengan demikian isi perut dengan mudah masuk ke dalam kantong peritoneum tersebut. 1,2,3,4,5
Hernia inguinalis indirekta akuisita.

Terjadi bila penutupan processus vaginalis peritonei hanya pada suatu bagian saja. Sehingga masih ada kantong peritoneum yang berasal dari processus vaginalis yang tidak menutup pada waktu bayi dilahirkan. Sewaktu-waktu kentung peritonei ini dapat terisi dalaman perut, tetapi isi hernia tidak berhubungan dengan tunika vaginalis propria testis. 1,2,3

Gambar . Hernia inguinalis indirect

C. Hernia Pantalon Merupakan kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu sisi. Kedua kantung hernia dipisah oleh vasa epigastrika inferior sehingga berbentuk seperti celana. Keadaan ini ditemukan kira-kira 15% dari kasus hernia inguinalis. Diagnosis umumnya sukar untuk ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, dan biasanya baru ditemukan sewaktu operasi. 5,6

2.HERNIA FEMORALIS Pada umumnya dijumpai pada perempuan tua, kejadian pada wanita kira-kira 4 kali lelaki. Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha. Sering penderita datang ke dokter atau rumah sakit dengan hernia strangulata. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan di lipat paha di bawah ligamentum inguinale, di medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Tidak jarang yang lebih jelas adalah tanda sumbatan usus, sedangkan benjolan di lipat paha tidak ditemukan, karena kecilnya atau karena penderita gemuk. Hernia ini masuk melalui annulus femoralis ke dalam kanalis femoralis dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. 3,4,5,6 Kanalis femoralis terletak medial dari v.femoralis di dalam lakuna vasorum dorsal dari ligamentum inguinale, tempat v.safena magna bermuara di dalam v.femoralis. Foramen ini sempit dan dibatasi oleh pinggir keras dan tajam. Batas kranioventral dibentuk oleh lig. Inguinale, kaudodorsal oleh pinggir os. Pubis yang terdiri dari lig. Iliopektineale (lig. Cooper), sebelah lateral oleh (sarung) v.femoralis, dan di sebelah medial oleh lig. Lakunare Gimbernati. Hernia femoralis keluar melalui lakuna vasorum kaudal dari lig. Inguinale. Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkarserasi hernia femoralis.

HERNIA LAINNYA 1. Hernia umbilicalis : Merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilikus (pusar) akibat peninggian tekanan intra abdomen. Umbilicus merupakan salah satu lokasi yang lemah pada abdomen dan tempat yang sering mengalami herniasi. Hernia umbilicus muncul lebih sering pada wanita. Obesitas dan kehamilan berulang merupakan precursor, dan

ascites sering mencetuskan masalah. Hernia umbilicus pada dewasa tak ada hubungannya dengan hernia umbilicus pada anak-anak. Sering terjadi strangulasi pada colon atau omentum.1,2,3,4,5,6 Hernia umbilicalis sering terjadi pada bayi dan merupakan kelainan kongenital. Hernia ini biasanya akan regresi spontan dalam 6 bulan sampai 1 tahun, bila cincin hernia <> 6 2. Hernia paraumbilicalis : Hernia melalui suatu celah di garis tengah tepi atas umbilicus. 4,5

Gambar . Hernia menurut lokasi 3. Hernia Epigastric Hernia yang keluar melalui defek di linea alba antara umbilicus dan processus xyphoideus. Hernia pada linea alba muncul lebih sering diatas umbilicus dari pada dibawahnya. Hernia-hernia ini biasanya kecil dan sulit diagnosis pada pasien obes. Pasien mengeluhkan nyeri, sensasi tertarik dibagian tengah perut. Hernia ini juga bisa diperbaiki dengan jahitan sederhana. Harus diwaspadai adalah hernia ini sering multiple. 1,2 4. Hernia Littre's

Adanya diverticulum Meckel sebagai komponen tambahan pada kantung hernia menjadi ciri dari Littre's hernia. Keadaan yang tak lazim ini bisa sangat sulit di diagnosa karena gejala obstruktif yang sedikit.. Strangulasi dari diverticulum Meckel bisa terjadi yang menyebabkan fistel sebagai keluhan utama. Menejemen operasi berupa reparasi hernia dengan atau tanpa reseksi diverticulum Meckel. Suatu diverticulum Meckel yang menyebabkan gejala atau mengalami strangulasi harus direseksi. Reseksi dari suatu diverticulum meckel tanpa gejala harus berdasarkan usia dan keadaan umum pasien. 6,7 5. Spigelian Hernia Suatu hernia melalui fascia pada sepanjang tepi lateral otot rectus abdominis pada celah antara linea semilunar dan tepi lateral dari otot rectus abdominis adalah suatu hernia spigelian. Fascia Spieghel sebenarnya adalah aponeurosis dan terdiri dari gabungan aponeurosis otot oblique abdominis dan transverses abdominis dibagian lateral dan otot rectus abdominis pada bagian medial. Meskipun dapat muncul disepanjang linea semilunar, ia paling sering muncul dimana fascia sphiegel lebih lebar dan lemah. Diatas umbilicus, serat-serat aponeurosis saling bersilangan dan membentuk barier yang kuat. Dibawah umbilicus seratnya lebih parallel dan dapat di pisah, memudahkan peritoneum dan lemak properotoneal menonjol melalui defek yang seperti belahan tetapi tertahan oleh aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus. 5,8 Umumnya, hernia spigelian muncul pada bawah linea semilunaris. Banyak pasien pasien datang dengan hernia spigelian mengalami obesitas dan diagnosis klinis preoperative yang benar ditegakkan hanya pada 50% pasien. Hernia Spigelian dapat ditemukan secara incidental dengan ultrasonografi atau CT scan. Computed tomography dilakukan dengan pasien melakukan suatuValsalva maneuver meningkatkan sensitivitas diagnostic. Hernia spigelian yang besar dapat salah diduga sebagai sarcoma dari dinding abdomen. Terjepitnya nervus cutaneus anterior T10 sampai T12 menyebabkan rasa tak nyaman yang menyerupai hernia spigelian. Hernia Spigelian biasanya berhasil diperbaiki pada operasi awal. Aproksimasi jaringan yang berdekatan ke defek dengan jahitan terputus biasanya berhasil pada kebanyakan pasien. Akantetapi jika defeknya besar atau jeringan didekatnya lemah, penguatan dengan prosthetic mesh menjadi indikasi. 9

6. Hernia Obturator Canalis obturator ditutup oleh membran dan dilewati oleh nervus dan pembuluh darah obturator. Kelemahan pada membrane obturator dan pelebaran dari canal dapat menyebabkan suatu kantung hernia, yang dapat menyebabkan incarserasi atau obstruksi saluran cerna. Canal obturator, yang panjangnya 2-3 cm dapat terisi bantalan lemak, yang dianggap oleh banyak ahli bedah hal yang patologik. Pasien muncul dengan bukti kompresi pada nervus obturator, menghasilkan nyeri pada bagian dalam paha. Ini digambarkan oleh John Howship pada tahun 1840 dan secara terpisah oleh Moritz Heinrich Romberg 1848. Operasi dari hernia obturator telah banyak dilakukan dengan banyak pendekatan. Pendekatan melalui abdomen terbuka atau laparoscopic dianjurkan ketika ada dugaan gangguan saluran cerna. Pendekatan Retropubic (preperitoneal) dilakukan oleh banyak ahli bedah ketika tidak ada keterlibatan atau obstruksi saluran cerna. pendekatan obturator, inguinal, dan kombinasi telah pernah dilakukan. Tanpa memandang pendekatan yang digunakan, reduksi isi dan inversi kantung hernia adalah langkah awal dalam terapi operatif pada hernia obturator. Dilatasi foramen obturator diperbaiki dengan jahitan terputus.8,9 7. Hernia Lumbar (Dorsal) Hernia lumbalis atau dorsalis dapat terjadi didaerah lumbal melalui dinding posterior abdomen. Grynfeltt's hernia muncul melalui trigonum lumbal superior sedangkan Petit's hernia muncul melalui trigonum lumbal inferior. Hernia lumbalis generalisata, tipe yang ketiga paling sering iatrogenic setelah insisi pinggang pada operasi ginjal. Hernia lumbal biasanya besar dan menjadi progressif dan menjadi masalah dari segi penampilan. Jahitan sederhana dapat dilakukan pada hernia yang kecil. Pada hernia yang lebih besar dilakukan rekonstruksi. Bagaimanapun pasien dengan hernia yang besar dan muncul dengan jaringan yang sangat lemah memerlukan penggunaan mesh atau free tissue flaps. 9 8. Sciatic Hernia

Foramen siaticus mayor dapat menjadi lokasi dari suatu hernia. Hernia tipe ini sangat jarang dan sulit di diagnose dan asien mungkin tidak memiliki keluhan hingga timbul obstruksi saluran cerna. Pasien lain muncul dengan massa pada daerah gluteal atau infragluteal, yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada saat berdiri. Nyeri pada nervus siatikus jarang disebabkan oleh penekanan hernia siatikus. Hernia ini dapat diperbaiki dengan operasi transabdominal atau transgluteal. 8,9 9. Hernia Perineal Hernia perineal yang bersifat congenital atau didapat sangat jarang terjadi. Hernia ini bisa terjadi setelah reseksi abdominoperineal, prostatectomy, atau pengangkatan organ pelvis. flap Myocutaneous atau mesh sering diperlukan untuk memperbaiki sutau hernia perineal.9

III.7 DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN FISIK * Inspeksi 4,5,6


Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan mneghilang setelah berbaring. Hernia inguinal Lateralis : uncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat. dari

Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tojolan lanjutan hernia inguinalis lateralis. Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal. Hernia epigastrika : benjolan dilinea alba. Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal. Hernia perineum : benjolan di perineum.

* Palpasi 1,2,4,5,6
Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL) ditekan lalu pasien disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa itu hernia inguinalis medialis. Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum (AIM) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat diasumsikan sebagai nernia inguinalis lateralis. Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berarti hernia inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis. Hernia inguinalis : kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tanda sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat direposisi pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien mulai mengedan kalau hernia menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. lipat paha dibawah ligamentum inguina dan lateral tuberkulum pubikum. Hernia femoralis : benjolan lunak di benjolan dibawah ligamentum inguinal Hernia inkarserata : nyeri tekan.

* Perkusi 1,2 Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Hipertimpani, terdengar pekak.

* Auskultasi 1,2,4 Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata). - Colok dubur Tonjolan hernia yang nyeri yang merupakan tanda Howship romberg (hernia obtutaratoria). 5,6 - Tanda tanda vital : temperatur meningkat, pernapasan meningkat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat. 1,2,3

* Tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara pemeriksaannya sebagai berikut 6,7:

Pemeriksaan Finger Test : 1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5. 2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal. 3. Penderita disuruh batuk:

Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis. Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis Medialis.

Gambar Finger Test Pemeriksaan Ziemen Test : 1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya oleh penderita). 2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan. 3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :

jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.

jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis. jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Gambar. Ziement Test Pemeriksaan Thumb Test :

Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

Gambar Thumb Test

PEMERIKSAAN PENUNJANG - Hasil laboratorium


Leukosit > 10.000 18.000 / mm3 Serum elektrolit meningkat

Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan Ultrasound pada daerah inguinal dengan pasien dalam posisi supine dan posisi berdiri dengan manuver valsafa dilaporkan memiliki sensitifitas dan spesifisitas diagnosis mendekati 90%. Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia incarserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari suatu massa yang teraba di inguinal. Pada pasien yang sangat jarang dengan nyeri inguinal tetapi tak ada bukti fisik atau sonografi yang menunjukkan hernia inguinalis. 7 CT scan dapat digunakan untuk mengevaluasi pelvis untuk mencari adanya hernia obturator. 6

III.

8 DIAGNOSIS BANDING

Tabel . Diagnose banding hernia III.9 PENATALAKSANAAN Penangan di IGD Mengurangi hernia Memberikan sedasi yang adekuat dan analgetik untuk mencegah nyeri. Pasien harus istirahat agar tekana intrabdominal tidak meningkat. Menurunkan tegangan otot abdomen Posisikan pasien telentang dengan bantal di bawah lutut. Pasien pada posis Trendelenburg dengan sudut sekitar 15-20 terhadap hernia inguinalis. Konsul bedah jika: Reduksi hernia yang tidak berhasil Adanya tanda strangulasi dan keadaan umum pasien memburuk

Hernia ingunalis harus dioperasi meskipun ada sedikit beberapa kontraindikasi. Penanganan ini teruntuk untuk semua pasien tanpa pandang umur inkarserasi dan strangulasi hal yang ditakutkan dibandingkan resiko operasinya.

Pada pasien geriatric sebaiknya dilakukan operasi elektif agar kondisi kesehatan saat dilakukan operasi dalam keadaan optimal dan anestesi dapat dilakuakn. Operasi yang cyto mempunyai resiko yang besar pada pasien geriatric.

Jika pasien menderita hyperplasia prostat akan lebih bijaksana apabila dilakukan penangan terlebih dahulu terhadap hyperplasianya. Mengingat tingginya resiko infeksi traktur urinarius dan retensio urine pada saat operasi hernia.

Karena kemungkinannya terjadi inkarserasi, strangulasi, dan nyeri pada hernia. Makan operasi yang cito harus dilakuakn. Pelaksaan non operasi untuk mengurangi inkarserasi dapat dicoba.

Pasien diposiskan dengan panggul dielevasikan dan diberi analgetik dan obat sedasi untuk merelaksasikan otot-otot. Operasi hernia dapat ditunda jika massa hernia dapat dimanipulasi dan tidak ada gejala strangulasi. Pada saat operasi harus dilakukan eksplorasi abdomen untuk memastikan usus masih hidup, ada tanda-tanda leukositosis. Gejala klinik peritonitis, kantung hernia berisi cairan darah yang berwarna gelap.

Teknik-teknik operasi hernia Tujuan operasi adalah menghilangkan hernia dengan cara membuang kantung dan memperbaiki dinding abdomen. Adapun teknik-teknik operasi hernia ada beberapa cara, yaitu: Marcy dikenal dengan ligasi sederhana dengan diangkat tinggi kantungnya, melewati inguinal yang dikombinasi dengan pengikatan cincin interna. Lebih sering digunakan pada anak-anak. Bassini, dahulu metode yang sering digunakan, dengan cara conjoint tendon didekatkan dengan ligamentum Pouparts dan spermatic cord diposisikan seanatomis mungkin mungkin di bawah aponeurosius muskulus oblikuus eksterna. Halsted, menempatkan musculus obliquus ekterna di antara cord kebalikannya cara Basssini.

Mc Vay, di kenal dengan metode ligamentum Cooper, meletakkan conjoint tendon lebih posterior dan inferior terhadap ligamentum Cooper. (9,14). Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy dapat dikelompokkan dalam 4 kategori utama : o Kelompok 1: Open Anterior Repair 6,7,8 Kelompok 1 operasi hernia (teknik Bassini, McVay dan Shouldice) melibatkan pembukaan aponeurosis otot obliquus abdomins ekternus dan membebaskan funikulus spermatikus. fascia transversalis kemudian dibuka, dilakukan inspeksi kanalis spinalis, celah direct dan indirect. Kantung hernia biasanya diligasi dan dasar kanalis spinalis di rekonstruksi. Teknik Bassini 7,8 Komponen utama dari teknik bassini adalah Membelah aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus dikanalis ingunalis hingga ke cincin ekternal Memisahkan otot kremaster dengan cara reseksi untuk mencari hernia indirect sekaligus menginspeksi dasar dari kanalis inguinal untuk mencari hernia direct. Memisahkan bagian dasar atau dinding posterior kanalis inguinalis (fascia

transversalis) Melakukan ligasi kantung hernia seproksimal mungkin Rekonstuksi didinding posterior dengan menjahit fascia tranfersalis, otot transversalis abdominis dan otot abdominis internus ke ligamentum inguinalis lateral.

Gambar. McVay open anterior repair.

Teknik kelompok ini berbeda dalam pendekatan mereka dalam rekontruksi, tetapi semuanya menggunakan jahitan permanen untuk mengikat fascia disekitarnya dan memperbaiki dasar dari kanalis inguinalis, kelemahannya yaitu tegangan yang tejadi akibat jahitan tersebut, selain dapat menimbulkan nyeri juga dapat terjadi neckosis otot yang akan menyebakan jahitan terlepas dan mengakibatkan kekambuhan o Kelompok 2: Open Posterior Repair 9 Posterior repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus) dilakukan dengan membelah lapisan dinding abdomen superior hingga ke cincin luar dan masuk ke properitoneal space. Diseksi kemudian diperdalam kesemua bagian kanalis inguinalis. Perbedaan utama antara teknik ini dan teknik open anterior adakah rekonrtuksi dilakukan dari bagian dalam. Posterior repair sering digunakan pada hernia dengan kekambuhan karena menghindari jaringan parut dari operasi sebelumnya. Operasi ini biasanya dilakukan dengan anastesi regional atau anastesi umum. o kelompok 3: Tension-Free Repair With Mesh 8,9 Kelompok 3 operasi hernia (teknik Lichtenstein dan Rutkow ) menggunakan pendekatan awal yang sama degan teknik open anterior. Akan tetapi tidak menjahit lapisan fascia untuk memperbaiki defek , tetapi menempatkan sebuah prostesis, mesh yang tidak

diserap. Mesh ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan tegangan dan ditempatkan disekitar fascia. Hasil yang baik diperoleh dengan teknik ini dan angka kekambuhan dilaporkan kurang dari 1 persen. Beberapa ahli bedah meragukan keamanan jangka panjang penggunaan implant prosthesis, khususnya kemungkinan infeksi atau penolakan. Akan tetapi pengalaman yang luas dengan mesh telah mulai menghilangkan anggapan ini, dan teknik ini terus popular. Teknik ini dapat dilakukan dengan anestesi local, regional, atau general.

Gambar 11. Open mesh repair Berbagai macam jenis bahan prostetik dan berbagai macam tipe dari mesh memberikan penemuan baru dalam operasi hernia dan berbagai macam defek pada abdomen. Sedangkan metode konvensional yaitu teknik mesh ini memberikan penemuan baru untuk berbagai macam tipe hernia. Produk ethicon, adalah sebuah perusahaan perangkat medis global. Yang lebih memfokuskan pada metode bilayer mesh ini melakukan peluncuran sistem produk terbaru yaitu Ultrapro sistem Hernia (UHS). UHS ini merupakan desain terbaru dari sistem polypropylene hernia PROLENE yang memberikan tingkat kekambuhan terendah yang dilaporkan dan juga sudah diteliti dengan produk-produk jenis yang lainnya. UHS ini memberikan tiga perlindungan pada pasca operasi hernia. Yaitu mudah digunakan untuk ahli bedah, dan memberikan konstruksi ringan dan fleksibilitas dan kenyaman pada pasien.

Diperkirakan bahwa 700.000 lebih pasien dengan hernia inguinalis di AS setiap tahunnya. Dengan kebanyakan menggunakan UHS ini mengurangi rasa takut dan persepsi pemulihan pada hernia yang lama. Dan dengan penggunaan mesh ini pasien setelah operasi diperkiran dapat pulang dan dapat beraktivitas ringan. Penelitian pada mesh ini dilakukan di institusi bagian bedah general hospital cacak, Serbia. Tujuan dari penelitian retrospektif adalah menyajikan hasil penggunaan Sistem Hernia Prolen (PHS), Sistem Ultrapro Hernia (UHS) dan 3D Patch (3DP) merupakan suatu perangkat dan pengobatan hernia inguinal, hernia umbilical, dan hernia femoral. Dari januari 2006 hingga januari 2009, 70 pasien dioperasi karena hernia abdominalis (54 hernia inguinal, 4 hernia femoral, 8 hernia umbilicalis, dan 4 hernia umbilicalis dengan insisi kecil). Semuanya menggunakan PHS, UHS, dan perangkat 3DP. Semua pasien menjalani pembedahan dengan anestesi infiltrasi lokal. Semua dilakukan oleh ahli bedah. Dan dari penelitian tersebut 19 dari pasien merupakan pasien dari rumah sakit umum dan 51 pasien dari poliklinik swasta. Ukuran rata-rata hernia inguinal dan hernia femoralis adalah sekitar 2,5 cm (1-4 cm), sedangkan pada hernia insisional itu adalah 4,5 cm (3-6cm). Waktu operasi rata-rata adalah 2,4 jam (2-6 jam). Dan di dapatkan rata-rata tindak lanjut pada pasien yang post operasi adalah 18 bulan (0-36 bulan). Yaitu kejadian infeksi, sakit kronis, dan kekambuhan adalah 0%. Tiga dari pasien mengalami komplikasi: seroma pada satu pasien dengan hernia insisonal dan dua pasien mengalami hematoma dengan post operasi hernia inguinalis. Menurut hasil yang di dapat. Dalam penggunaan PHS, UHS, dan 3DP yang masih belum diterima secara luas di rumah sakit. Sudah memberikan hasil yang luar biasa dalam perawatan post operasi hernia. Selain itu, jenis anestesi dan konstruksi 3D mesh yang terbaru saat ini memberikan hasil perawatan pasca operasi yang sangat sebentar dibandingkan dengan operasioperasi hernia yang lainnya dan juga bisa memberikan pasien pemulihan yang lebih cepat sehingga pasien lebih cepat beraktivitas kembali.

UHSL

ULTRAPRO Sistem Hernia Besar

4 "(10cm)

3 Pieces Per Box

UHSL6 ULTRAPRO Sistem Hernia Besar 4 "(10cm) UHSM ULTRAPRO Hernia Sistem Menengah 3 "(7,5 cm) UHSM6 ULTRAPRO Hernia Sistem Menengah 3 "(7,5 cm) 4 "x 4,7" UHSOV ULTRAPRO Hernia Sistem Oval (10cm x 12cm)

6 Pieces Per Box 3 Pieces Per Box 6 Pieces Per Box 3 Pieces Per Box

Hernia ULTRAPRO Sistem (UHS) adalah perangkat sebagian absorbable digunakan untuk memperkuat atau menjembatani cacat dinding perut hernia dengan memberikan dukungan permanen dari dinding perut selama dan setelah penyembuhan luka.

Mesh ULTRAPRO ringan, namun kuat, fleksibel dan nyaman. Telah dilaporkan bahwa terulangnya penurunan UHS tingkat hernia menjadi kurang dari 0,1% dibandingkan dengan mesh lainnya dan teknik yang telah melaporkan angka kekambuhan sekitar 1%. (14) Keuntungan meliputi: (13,14) Strong ULTRAPRO memiliki kemampuan Mesh empat kali lebih kuat dari tekanan perutmaksimum Fleksibel Jaringan yang sangat baik untuk pertumbuhan dan penyembuhan luka. comfortable bekas luka yang fleksibel sesuai dengan dinding abdomen absorbable materi 50% yang bisa diserab tubuh dibanding system hernia tradiosional atau lama

Sebuah Desain Terbukti dengan Keuntungan ULTRAPRO Mesh

UHS ini di rancang untuk meningkatkan kenyamanan pada pasien. UHS ini di rancang untuk.
(13,14)

Memberikan ke efektifan setelah dilakukannya diseksi pada ruang preperitoneal Sesuai dengan anatomi inguinal. System hernis ULTRAPRO ini menggunkan teknologi Mesh menggabungkan tiga elemen kunci dari mesh filament yang tipis ukuran pori-pori besar menyerap komponen memberikan kompatibilitas yang fisiologis dengan dinding perut.

o Kelompok 4: Laparoscopic 7.9.10 Operasi hernia Laparoscopic makin populer dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga menimbulkan kontroversi. Pada awal pengembangan teknik ini, hernia diperbaiki dengan menempatkanpotongan mesh yang besar di region inguinal diatas peritoneum.

Teknik ini ditinggalkan karena potensi obstruksi usus halus dan pembentuka fistel karena paparan usus terhadap mesh. Saat ini kebanyakan teknik laparoscopic herniorrhaphies dilakukan menggunakan salah satu pendekatan transabdominal preperitoneal (TAPP) atau total extraperitoneal (TEP) . pendekatan TAPP dilakukan dengan meletakkan trokar laparoscopic dalam cavum abdomendan memperbaiki region inguinal dari dalam. Ini memungkinkan mesh diletakkan dan kemudian ditutupi dengan peritoneum.sedangkan pendekatan TAPP adalah prosedur laparoskopic langsung yang mengharuskan masuk ke cavum peritoneal untuk diseksi. Konsekuensinya, usus atau pembuluh darah bisa cidera selama operasi. III.10 KOMPLIKASI Komplikasi setelah operasi herniorraphy biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri, hematom dan infeksi luka adalah masalah yang paling sering terjadi. Komplikasi yang lebih serius seperti perdarahan, osteitis atau atropy testis terjadi kurang dari 1 persenpada pasien yang menjalani herriorraphy. Perbandingan komplikasi berat dan ringan dari teknik open dan laparoscopic herniorrhaphies. 6,8,9,10

Tabel 3. Komplikasi dari Open dan Laparoscopic Hernia Repair

BAB IV KESIMPULAN

Hernia merupakan kasus tersering di bagian bedah abdomen sesudah appendicitis. Hernia didefinisikan adalah suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen pada umumnya daerah inguinal. Hernia inguinalis dibagi dua jenis hernia inguinalis medialis/hernia inguinalis directa/ hernia inguinalis horizontal dan hernia inguinalis lateralis / hernia indirect/ hernia oblique. Yang tersering hernia inguinalis lateralis angka kejadiannya lebih banyak pada laki-lai dan yang paling sering adalah sebelah kanan. Saat ini sudah di temukannya teknik operasi pada hernia yaitu dengan menggunakan bilayer mesh. Namun di Indonesia masih sedikit yang menggunakan bilayer mesh ini. Satu dari harga masih terlalu mahal. Dan persepsi masyarakat yang masih berpikiran bagaimana suatu alat dimasukkan ke dalam tubuh. Semenjak kemunculan mesh ini, mesh semakin di perbaharui. Dan efek samping sudah mulai berkurang seperti infeksi dan nyeri pada saat setelah operasi. Tapi dengan beberapa penelitian yang terbaru dengan menggunakan mesh ini. Operasi hernia akan lebih cepat, penyembuhannya juga akan lebih cepat dan pasien akan lebih cepat beraktivitas kembali setelah operasi herniotomy dengan mesh ini. Itupun di dukung dengan pengalaman dokter bedah itu sendiri yang sudah sangat sering menggunakan mesh ini.

DAFTAR PUSTAKA 1. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi I. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Hal 700-718 2. Townsend, Countney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery. 17th Edition. Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217. 3. Hernia: Anatomy and management Accede on march 2013. Avaible at

http://www.medscape/viewarticle/420354_4 4. A. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2000. Hal 313-317 5. Dr. P. Bhatia & Dr. S. J. John. Laparoscopic Hernia Repair (a step by step approach). Edisi I. Penerbit Global Digital Services, Bhatia Global Hospital & Endosurgery Institute. New Delhi. 2003. (Ebook, di akses 10 juli 2010) 6. H G, Burhitt & O.R.G. Quick. Essential Surgery . Edisi III. 2003. Hal 348-356 7. C. Palanivelu. Operative Manual of Laparoscopic Hernia Surgery. Edisi I. Penerbit GEM Foundation. 2004. Hal 39-58 8. Brian W. Ellis & Simon P-Brown. Emergecy surgery. Edisi XXIII. Penerbit Hodder Arnold. 2006. 9. Gary G. Wind. Applied Laparoscopic Anatomy (Abdomen and Pelvis). Edisi I. Penerbit Williams & Wilkins, a Waverly Company. 1997. 10. Michael M. Henry & Jeremy N. T. Thompson. Clinical Surgery. Edisi II. 2005. 11. R. Bendavid, J. Abrahamson, Mauruce E. A, dkk. Abominal Wall Hernias (Principles and Management). Edisi I. Penerbit Sringer-Varlag. New York. 2001. (Ebook, di akses 10 Juli 2010) 12. Michael S. Kavic. Laparoscopic Hernia Repair. Edisi I. Penerbit Harwood Academic Publishers. Amsterdam. 1997. (Ebook, diakses 10 Juli 2010) 13. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20949705 14. http://www.ecatalog.ethicon.com/hernia-repair/view/ultrapro-hernia-system 15. http://www.tkhsurgery.com/eng/conditions_hernia.html 16. http://www.ethicon360.com/products/ultrapro-hernia-system 17. http://news.thomasnet.com/fullstory/Hernia-System-offers-3-points-of-protection-800611