Anda di halaman 1dari 6

Sustainable Mining

A Whole Concept
Rama Panji Renspandy (2509100060)

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Historical Background Dewasa ini, permasalahan mengenai sustainable development telah menjadi perbincangan serius di berbagai dunia. Penggunaan sumber daya dan konsumsi yang meningkat, tidak lagi mampu disokong oleh ketersediaan yang diberikan Bumi. Pada tahun 1987, Bruntland Commision mendefinisikan sustainable development sebagai a system of development that meets the basic needs of all people without compromising the ability of future generations to meet their own life-sustaining needs (United Nation,1987). Definisi ini membuat sutainability bergerak secara luas dari pandangan di sisi lingkungan dan ekologi, menjadi framework yang di dalamnya terkait pula masalah ekonomi, keuntungan perusahaan, dan consumer relationship.

Gambar 1 Mining Industry

Industri pertambangan sebagai salah satu industri terbesar di dunia, mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Di Indonesia sendiri, pendapatan negara dari sektor pertambangan meningkat dari Rp 42,6 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 51,6 triliun pada 2010. Selain itu, peran penting pertumbuhan industri pertambangan Indonesia dapat dilihat dari produksi barang tambang nasional, seperti batu bara, timah, nikel, tembaga, dan emas yang termasuk dalam 10 besar dunia (Kompas, 2011). Padahal, industri pertambangan identik dengan sumber daya yang tidak terbarukan. Pertambangan hanya mengeksploitasi sumber daya tanpa mampu menginvestasikan kembali sumber daya tersebut, karena siklus yang terlalu panjang. Pertambangan juga kerap kali menyisakan sisa kegiatan industri berupa lubang tambang (Pit), air asam tambang (Acid Mine Drainage), dan Tailing, yang berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pertimbangan sustainability di dalam industri pertambangan sebagai salah satu pilar dari sustainable development (Gumay, 2008). Sustainable Mining Pada insdustri pertambangan, konsep sustainable baru muncul pada tahun 1992 di Rio Summit. Saat itu, ada wacana untuk mengkaji pentingnya proses inovasi teknologi, eksplorasi mineral berkelanjutan, dan mengurangi dampak lingkungan serta minimnya sumber daya. Menurut (Allan, 1995), sustainable mining dapat dilakukan apabila penggunaan material (mineral) tidak melebihi dari batas kapasitas untuk mencari

sumber baru. Selain itu, sustainable mining terwujud apabila bisnis dilakukan secara seimbang, dengan mempertimbangkan dampak ekonomi, lingkungan dan sosial (Rajaram et al, 2005)

Gambar 2 Proses pengambilan material yang akan diekstrasi

Ruang Lingkup Adapun ruang lingkup dari sustainable mining meliputi aspek ekonomi, lingkungan, efisiensi, keamanan, dan komunitas.

Gambar 3 Ruang Lingkup Sustainable Mining

a. Ekonomi Dari segi ekonomi, sustainable mining harus tetap dapat mempertahankan profit yang maksimal yang selama ini menjadi faktor penting. Investasi di bidang lingkungan, semestinya diiringi analisis secara holistik yang tidak dapat dilihat dari segi biaya saja. b. Lingkungan Industri pertambangan dapat mengadopsi praktek manajemen lingkungan ke ranah bisnis. Tahap perencanaan operasi harus mempertimbangakan analisis dampak lingkungan.

Gambar 4 Dampak lingkungan akibat pertambangan

c. Efisiensi Sebuah tambang juga harus dapat mengelola sumber daya secara efisien. Kolaborasi antara ahli pertambangan, geologi, dan metalurgi diperlukan untuk mengoptimasi proses ekstrasi material. d. Keamanan Dari segi keamanan, tambang yang aman harus menerapkan manajemen resiko yang baik, pengelolaan tingkah laku karyawan, reporting system, dan edukasi mengenai K3. e. Komunitas Selain faktor-faktor internal di atas, permasalahan komunitas (lingkungan sosial) menjadi salah satu bagian yang vital, yang dapat memberikan perusahaan pertambangan mendapatkan lisensi untuk melakukan kegiatannya. Dalam hal ini, perusahaan bisa saja menerapkan kebijakan yang melibatkan masyarakat sekitar, atau program CSR lainnya. Hal ini penting karena tidak sedikit kasus penutupan tambang akibat protes dari masyarakat setempat. Sustainable Mining Guidelines Setelah konsep dasar mengenai sustainable mining dipahami dan diterapkan di bidang operasional, transisi di bidang korporat akan menjadi lebih mudah. Hal yang perlu diperhatikan oleh pihak manajemen adalah untuk tidak mengikuti aturan sustainability yang dikeluarkan oleh pemerintah, karena sering kali aturan ini tidak terspesifik secara jelas bagaimana sebuah tambang dapat berkontribusi terhadap sustainable development. Maka, berikut adalah guidelines mengenai praktik sustainable mining: a. Improved Planning b. Improved Environmental Management c. Waste Management & Cleaner Technology d. Completing The Need of Stakeholders & Community

Gambar 5 Sustainable Mining Criteria

Gambar di atas menjelaskan bahwa sustainable mining terdiri dari beberapa kriteria penting. Garis besarnya sudah terangkum di dalam ruang lingkup dan guidelines sustainable mining. Future Work Untuk mengatasi tantangan sustainable mining di masa yang kan datang, industri pertambangan global akan fleksibel dibangun di sekitar sistem yang inovatif dan teknologi dengan fokus pada: Teknologi cerdas untuk eksplorasi dan karakterisasi sumber daya, termasuk karakterisasi geomechanical Teknologi penggalian batu untuk mengaktifkan sistem pertambangan terus menerus untuk menjadi pilihan yang layak dalam pertambangan bijih besi Pengembangan hemat energi, teknologi bersih yang berkontribusi terhadap produksi massal Minimisasi limbah dan penggunaan kembali dengan cara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan teknik pengolahan mineral baru yang dapat membantu mengaktifkan pergeseran paradigma dalam teknik pertambangan Pemanfaatan spin-off dari ICT untuk perubahan besar dalam proses pertambangan dan mewujudkan visi utama otonom pertambangan sistem. Pertambangan akan berkelanjutan ketika menghasilkan pendapatan dan beroperasi secara harmonis dengan masyarakat dan lingkungan. Kecuali persediaan sumber daya dapat terus diperbesar melalui belanja yang besar pada eksplorasi dan baru teknologi, sustainability akan berjalan lebih jauh (Ghose, 2009).

References
Ghose, A. K. (2009). Technology vision 2050 for sustainable mining. The 6th International Conference on Mining Science & Technology, 5. Gumay, D. (2008, August). Hutan Aceh. Dipetik March 2012, dari http://dewagumay.wordpress.com/2008/06/08/dampak-lingkungan-industri-pertambangan/ Kompas. (2011, July 27). Kompas. Dipetik March 2012, dari Kompas: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/27/16521156/Industri.Pertambangan.Terus.Tum buh. Rajaram, V., Dutta, S., Parameswaran, K., 2005. Sustainable Mining Practices: A Global Perspective. Taylor and Francis Group, London UK Allan, R., 1995. Sustainable mining in the future. Journal of Geochemical Exploration 52