Anda di halaman 1dari 17

BAB I PE NDAH ULUAN

A. Latar Belakang Penelitian Kejahatan merupakan persoalan dalam dinamika kehidupan yang senantiasa berkembang mengikuti perkembangan peradaban manusia, sehingga tidak bisa dipungkiri berkembangnya kejahatan ditafsirkan sebagai efek negatif dari perubahan aspek tatanan kehidupan manusia. Perkembangan sosial, budaya, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi serta aspek lainya mendorong perubahan dan pergeseran pola pikir dan perilaku manusia untuk senantiasa menyesuaikan dengan kondisi. Suatu kejahatan tidak akan begitu saja terjadi apabila tidak ada penyebabnya. Dan manusiapun sebagai makhluk yang mempunyai akal, pikiran dan perasaan tidak akan melakukan perbuatan jahat, apabila tidak ada pengaruh dari faktor-faktor tertentu yang membuat ia melakukan demikian. Apakah memang karena bakatnya adalah jahat, ataukah didorong oleh keadaan masyarakat disekitarnya (milieu) baik keadaan sosiologis maupun ekonomis.1 Perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia, perdagangan orang juga merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan marabat manusia. Bertambah maraknya perdagangan orang diberbagai Negara, termasuk Indonesia dan Negara-negara berkembang lainnya,
1

telah

menjadi

perhatian

Indonesia

sebagai bangsa, masyarakat

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Cetakan Kedua, Bina Aksara, Jakarta:1984 hlm

13

internasional, dan anggota organisasi internasional, terutama Perserikata BangsaBangsa (PBB)2. Ketentuan mengenai larangan perdagangan orang pada dasarnya telah diatur dalam KUHP. Pasal 297 KUHP menentukan mengenai larangan laki-laki belum dewasa dan mengkualifikasi

perdagangan wanita dan anak

tindakan tersebut sebagai kejahatan. Pasal 83 Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menentukan larangan ,perdagangkan ,

menjual, menculik anak untuk kepentingan diri sendiri atau untuk dijual. Namun ketentuan KUHP dan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tersebut tidak merumuskan pengertian perdagangan orang yang tegas secar hokum. Disamping itu pasal 297 KUHP memberikan sanksi yang terlalu ringan dan tidak sepadan dengan dampak yang diderita oleh krban akibat kejahatan perdagangan orang untuk eksploitasi seksual. Pemerintah Indonesia telah melakukan pengesahan peraturan tentang perdagangan orang, pada tanggal 19 April 2007, Lembaran Negara nomor 58, Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang ( UU PTPPO ).nomor 21 Tahun 2007 . Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan perwujudan Tindak Pidana Indonesia Perdagangan untuk Orang juga merupakan

komitmen

melaksanakan protocol Persatuan mencegah, memberantas dan

Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2000 tentang

menghukum pelaku tindak pidana perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak (protocol Palermo) yang telah ditangani oleh pemerintah Indonesia.
Penjelasan Umum atas Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana perdagangan Orang
2

Undang-Undang ini merupakan produk hukum yang cukup komprehensif, karena tidak hanya mempidanakan perdagangan orang sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, tetapi juga mengatur tentang pemberian bantuan kepada korban secara menyeluruh, dan peran serta masyarakat dalam upaya-upaya pencegahan serta penanganan kasus, dan undang-undang ini juga merupakan pencerminan standar internasional. Menelaah Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang secara sepintas sudah bersifat komprehensif dalam pencegahan dan penanggulangannya. Pengenaan sanksi bagi pelaku (trafficker) sudah sangat berat jika dibandingkan dengan sanksi dalam KUHP. Namun dalam pelaksanaannya, proses penegakan hukum masih belum berjalan sesuai dengan semangat dan amanat Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang tersebut. Kendala yang utama adalah belum dipahami oleh masyarakat terhadap bahaya dan dampak dari perdagangan orang, disamping dari segi ekonomi

usaha/bisnis ini dianggap dapat mendatangkan keuntungan besar dari segi ekonomi. Demikian juga dari segi korban/calon korban adanya faktor-faktor sistemik yang menjadi penyebab tersebut adalah kemiskinan/faktor ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, budaya/pola hidup masyarakat yang

konsumtif, tingkat pengangguran yang tinggi/penyerapan tenaga kerja lokal yang relatif terbatas, faktor lingkungan dan masih banyak faktor lainnya.3 Aparat penegak hukum dalam hal menjatuhkan hukuman harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para pelaku tindak pidana, sehingga dengan adanya hukuman yang sesuai itu, tidak ada yang merasa dirugikan baik dari korban tindak pidana maunpun para pelaku tindak pidana karena sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam hal ini kitab undang - undang hukum pidana. Sebagaimana dikatakan oleh Mardjono Reksodiputro bahwa selain menegakkan hukum dan keadilan sistem peradilan pidana berfungsi : 1. mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan: 2. menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas karena keadilan ditegakkan dan yang salah telah dipidana: 3. mengusahakan agar yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi kejahatannya.4 Terdorong oleh kenyataan tersebut, penulis merasa tertarik untuk mencoba menguraikan masalah tindak pidana perdagangan orang . Kemudian penulis tuangkan kedalam skripsi dengan judul TINJAUAN YURIDIS TERHADAP UNDANG - UNDANG NO. 21 TAHUN 2007 TENTANG TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUTUSAN

MAHKAMAH AGUNG No. 1490 K/Pid.Sus/2010.


Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagangan Orang Kebijakan Hukum Pidana dan Pencegahannya, Sinar Grafika, Jakarta 2011, Hlm. 82 4 Mardjono Reksoputro, Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana , Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum UI, Jakarta 1994, hlm. 84-85
3

B. Identifikasi masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka masalah yang akan diangkat adalah sebagai berikut : 1. Apakah unsur-unsur yang terdapat dalam tindak pidana perdagangan orang ? 2. Apakah aspek-aspek hukum pidana yang terkandung dalam putusan Mahkamah Agung No. 1490K/Pid.Sus/2010 ? 3. Bagaimana pertimbangan hakim agung dalam putusan perkara No. 1490K/Pid.Sus/2010 tentang tindak pidana perdagangan orang ? C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur yang terdapat dalam tindak pidana perdagangan orang . 2. Untuk mengetahui aspek-aspek hukum pidana yang terkandung dalam putusan Mahkamah Agung No. 1490K/Pid.Sus/2010. 3. Untuk mengetahui pertimbangan hakim agung dalam putusan perkara No. 1490K/Pid.Sus/2010 tentang tindak pidana perdagangan orang. D. Kegunaan Penelitian Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberi kontribusi baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis bagi seluruh masyrakat. 1. Kegunaan Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk pengembangan ilmu hukum pidana pada umumnya maunpun hukum pidana materiil pada khususnya

terutama mengenai tindak pidana perdagangan orang yang dengan putusan Mahkamah Agung No. 1490K/Pid.Sus/2010. 2. Kegunaan Praktis

dihubungkan

Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan sumbangsih pemikiran baik bagi praktisi hukum seperti polisi, jaksa penuntut umum, hakim , advokat maunpun masyarakat luas khususnya terkait tindak pidana perdagangan orang. E. Kerangka Pemikiran Istilah tindak pidana merupakan terjemahan dari Het strafbare Feit. Selain di terjamahkan sebagai tindak pidana, Het Strafbare Feit dalam bahasa Indonesia juga diterjemahkan sebagai perbuatan yang dapat atau boleh dihukum; peristiwa pidana, perbuatan pidana, dan tindak pidana. Moeljatno mendefinisikan perbuatan pidana sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Larangan ditujukan kepada perbuatan (suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidana ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.5 Simons mengartikan perbuatan pidana (delik) sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang

Moeljatno, Op cit, hlm. 54.

dapat dihukum.6 Dari definisi Simons tersebut dapat disimpulkan bahwa unsurunsur perbuatan pidana terdiri dari (1) perbuatan manusia (positif atau negatif; berbuat atau tidak berbuat); (2) diancam dengan pidana; (3) melawan hukum; (4) dilakukan dengan kesalahan; dan (5) oleh orang yang mampu bertanggung jawab. Selanjutnya Vos memberikan definisi singkat mengenai perbuatan pidana yang disebutkan straafbaar feit, yaitu kelakuan atau tingkah laku manusia yang oleh peraturan perundangundangan diberikan pidana. Jadi, unsur-unsurnya adalah (1) kelakuan manusia; dan (2) diancam pidana dalam undang undang.7 Sementara itu Pompe memberikan dua macam definisi terhadap perbuatan pidana, yaitu yang bersifat teoretis dan yang bersifat perundang-undangan. Menurut Pompe, dari segi definisi teoretis, perbuatan pidana ialah pelanggaran normal/ kaidah/ tata hukum, yang diadakan karena kesalahan pelanggar, dan yang harus diberikan pidana itu dapat mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Selanjutnya, menurut hukum positif, perbuatan pidana ialah suatu peristiwa yang oleh undangundang ditentukan mengandung perbuatan dan pengabaian atau tidak berbuat. Tidak berbuat biasanya dilakukan di dalam

Simons dalam Leden Marpaung, Unsur-unsur Perbuatan yang Dapat Dihukum (Delik), cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta 1991, hlm. 4. 7 Vos dalam A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta 1995, hlm.225.

beberapa keadaan yang merupakan bagian suatu peristiwa. Uraian perbuatan dan keadaan yang ikut serta itulah yang disebut uraian delik.8 Berdasarkan beberapa rumusan tentang pengertian perbuatan pidana tersebut di atas, Moeljatno menyimpulkan mengenai unsur atau elemen yang harus ada dalam suatu perbuatan pidana. Unsur atau elemen tersebut adalah sebagai berikut : (a) Kelakuan dan akibat (perbuatan). (b) Hal atau keadaan yang menyertai perbuatan. (c) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana. (d) Unsur melawan hukum yang objektif. (e) Unsur melawan hukum yang subjektif.9 Lima unsur atau elemen tersebut di atas pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua unsur pokok, yaitu unsur pokok objektif dan unsur pokok subjektif : a. Unsur Pokok Objektif 1. Perbuatan manusia yang termasuk unsur pokok objektif adalah sebagai berikut: a) Act ialah perbuatan aktif yang disebut juga perbuatan positif, dan b) Ommission, ialah tidak aktif berbuat dan disebut juga perbuatan negatif. 2. Akibat perbuatan manusia Hal itu erat hubungannya dengan kausalitas. Akibat yang dimaksud adalah membahayakan
8 9

atau

menghilangkan

kepentingan-kepentingan

yang

Ibid, hlm. 226. Moeljatno, Op. Cit., hlm. 63

dipertahankan oleh hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik/ harta benda, atau kehormatan. 3. Keadaan-keadaan Pada umumnya keadaan-keadaan ini dibedakan atas: a. Keadaan pada saat perbuatan dilakukan; dan b. Keadaan setelah perbuatan dilakukan. 4. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum Sifat dapat dihukum itu berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan terdakwa dari hukuman. Sifat melawan hukum bertentangan dengan hukum yakni berkenaan dengan larangan atau perintah. b. Unsur Pokok Subjektif Asas pokok hukum pidana ialah tak ada hukuman kalau tak ada kesalahan (an act does not make guilty unless the mind is guilty, actus not facit reum nisi mens sit rea). Kesalahan dimaksud di sini adalah sengaja (intention/dolus/opzet) dan kealpaan (negligent/schuld). 1. Kesengajaan Menurut para pakar, ada tiga bentuk kesengajaan, yaitu : a. Kesengajaan sebagai maksud. b. Kesengajaan dengan sadar kepastian c. Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis). 2. Kealpaan, adalah bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. Ada dua bentuk kealpaan, yaitu: a. Tidak berhati-hati; dan

10

b. Tidak menduga-duga akibat perbuatan itu.10 Pengertian tindak pidana perdagangan orang sebelum berlakunya UndangUndang Nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang sudah diatur dalam produk hukum nasional, diantaranya : 1. Pada Pembukaan UUD 1945, alinea ke 4 Pancasila,Sila ke dua yaitu : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, menunjukkan bahwa perbudakan tidak dimungkinkan, apalagi berdasarkan pasal 28 (1) negara menjamin hak untuk tidak diperbudak(amandemen ke-2, tanggal 18 Agustus 2000). 2. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), pasal 297 : Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun. 3. Pasal 324 KUHP : Barangsiapa dengan biaya sendiri atau biaya orang lain menjalankan perniagaan budak atau melakukan perbuatan perniagaan budak atau dengan sengaja turut serta secara langsung atau tidak langsung alam salah satu perbuatan tersebutdiatas, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. 4. Pasal 83 Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menentukan larangan memperdagangan, menjual atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual Disamping itu juga terdapat didalam Konvensi PBB tentang United

Pemberantasan Kejahatan Transnasional yang Terorganisasi ( The

Nations Convention Against Transnational Organized Crime and Protocol To Prevent,Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and

10

Leden Marpaung, Op.Cit., hlm. 67.

11

Children) di Palermo. Pasal 3 Protokol Palermo memuat pengertian perdaganagn orang yaitu11: Perdagangan Manusia adalah perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan orang, baik di bawah ancaman atau secara paksa atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan atau penyalahgunaan wewenang atau situasi retan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan guna memperoleh persetujuan dari seseorang yang memiliki control atas orang lain untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual yang lain, kerja paksa atau wajib kerja paksa, perbudakan atau praktek-praktek yang mirip dengan perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh. Dari definisi di atas, beserta perluasan dan pengecualiannya, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur human trafficking adalah: 1. Perbuatan: merekrut, mengangkut, memindahkan, menyembunyikan atau menerima. 2. Sarana (cara) untuk mengendalikan korban: ancaman, penggunaan paksaan, berbagai bentuk kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan,

penyalahgunaan kekuasaan atauposisi rentan atau

pemberian/penerimaan

pembayaran atau keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas korban. 3. Tujuan: eksploitasi, setidaknya untuk : prostitusi atau bentuk ekspoitasi seksual lainnya, kerja paksa, perbudakan, penghambaan, pengambilan organ tubuh.12

Protocol To Prevent, Suppress and PunishTrafficiking in Persons, Especially Women and Children, Supplementing the Unitedd Nations Convenstions Against Transnational Organized Crime, 2000 12 Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, Laporan Perdagangan Manusia di Indonesia, Sentra HAM UI draf tanggal 28. Februari 2003, Hlm. 29

11

12

Dalam Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang Perdagangan Orang, Pasal 1 angka 1 menyebutkan : Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Pasal 1 angka 2 juga menyebutkan : Tindak pidana perdagangan orang adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam undang-undang ini. Untuk mempermudah memahami pengertian tindak pidana

perdagangan orang seperti yang tersebut dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dapat dilakukan dengan membagi pengertian tersebut ke dalam tiga komponen utama : a. Tindakan/Aktivitas Mencakup unsur-unsur: tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang. b. Cara Mecakup unsur-unsur: ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan,

penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau member bayaran atau manfaat,

13

sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut,baik yang dilakukan dalam negara maupun antar negara. c. Tujuan/maksud Eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi, meliputi tetapi tidak terbatas pada unsur-unsur : pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan, atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil ataupun immaterial.13 Negara dalam menjatuhkan pidana haruslah menjamin kemerdekaan individu dan menjaga supaya pribadi manusia tetap dihormati. Oleh karena itu pemidanaan harus mempunyai tujuan dan fungsi yang dapat menjaga keseimbangan individu dengan kepentingan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dijelaskan oleh Barda Nawawi Arief apabila pengertian pemidanaan diartikan sebagai suatu pemberian atau penjatuhan pidana maka pengertian sistem pemidanaan dapat dilihat dari 2 (dua) sudut : a. Dalam arti luas, sistem pemidanaan dilihat dari sudut fungsional yaitu dari sudut bekerjanya/ prosesnya. Dalam arti luas ini sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai :

13

Henny Nuraeny, Op Cit, Hlm. 291

14

1) Keseluruhan sistem (aturan perundang undangan) untuk fungsionalisasi/ operasionalisasi/ konkretisasi pidana. 2) Keseluruhan sistem(perundang undangan yang mengatur bagaimana hukum pidana itu ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkret sehingga seseorang dijatuhi sanksi (hukum) pidana. b. Dalam arti sempit, sistem pemidanaan dilihat dari sudut normatif/substantif yaitu hanya dilihat dari norma-norma hukum pidana substantif. Dalam arti sempit ini maka sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai : 1) Keseluruhan sistem (aturan perundang undangan) untuk pemidanaan 2) Keseluruhan sistem (aturan perundang undangan) untuk

pemberian/penjatuhan dan pelaksanaan pidana.14 Menurut Barda Nawawi Arief : bahwa tujuan dari kebijakan pemidanaan yaitu menetapkan suatu pidana tidak terlepas dari tujuan politik kriminal. Dalam arti keseluruhannya yaitu perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu untuk menjawab dan mengetahui tujuan serta fungsi pemidanaan, maka tidak terlepas dari teori-teori tentang pemidanaan yang ada.15 Menurut Satochid Kartanegara dan pendapat-pendapat para ahli hukum terkemuka dalam hukum pidana, mengemukakan teori pemidanaan atau penghukuman dalam hukum pidana dikenal ada tiga aliran yaitu: a. Absolute atau vergeldings theorieen (vergelden/imbalan)

Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1985, hlm 2 15 Ibid hlm 17

14

15

Aliran ini mengajarkan dasar daripada pemidanaan harus dicari pada kejahatan itu sendiri untuk menunjukkan kejahatan itu sebagai dasar hubungan yang dianggap sebagai pembalasan, imbalan (velgelding) terhadap orang yang melakukan perbuatan jahat. Oleh karena kejahatan itu menimbulkan penderitaan bagi si korban. b. Relative atau doel theorieen (doel/maksud, tujuan) Dalam ajaran ini yang dianggap sebagai dasar hukum dari pemidanaan adalah bukan velgelding, akan tetapi tujuan (doel) dari pidana itu. Jadi aliran ini menyandarkan hukuman pada maksud dan tujuan pemidanaan itu, artinya teori ini mencari manfaat daripada pemidanaan (nut van de straf) . c. Vereningings theorieen (teori gabungan) Teori ini sebagai reaksi dari teori sebelumnnya yang kurang dapat memuaskan menjawab mengenai hakikat dari tujuan pemidanaan. Menurut ajaran teori ini dasar hukum dari pemidanaan adalah terletak pada kejahatan itu sendiri, yaitu pembalasan atau siksaan, akan tetapi di samping itu diakuinya pula sebagai dasar pemidanaan itu adalah tujuan daripada hukum.16 F. Metode Penelitian Dalam rangka pengumpulan informasi yang berbentuk data yang akurat dalam penyelesaian skiripsi ini adalah dengan melakukan Metode penelitian sebagai berikut : 1. Spesifikasi Penelitian

16

Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Bagian Satu, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta,

hlm 56.

16

Penelitian yang dilakukan bersifat

Deskriptif Analitis,

yaitu untuk

menggambarkan secara sistematis, factual dan akurat mengenai tindak pidana perdagangan orang. 2. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang dipergunakan penulis adalah metode pendekatan Yuridis Normatif, penelitian lebih menekankan terhadap hukum positif yang berhubungan dengan tindak pidana perdagangan orang, disamping penelitian terhadap data primer. 3. Tahap Penelitian Penelitian disini dilakukan melalui penelitian secara kepustakaan (Library Research). Dalam penelitian kepustakaan, data akan diperoleh dengan jalan studi dokumen, yakni mempelajari bahan-bahan primer dan sekunder berupa peraturan perundang-undangan dan buku-buku referensi dan media massa yang berhubungan dengan judul tersebut diatas untuk dipelajari, dipahami dan dianalisis secara sistematik untuk menghasilkan suatu pemikiran yang integral seperti yang tertuang dalam skripsi ini. 4. Tehnik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan melalui studi dokumen 5. Metode Analisis Data Data sekunder maunpun data primer yang diperoleh dianalisis dengan metode normative kualitatif, sehingga tidak menggunakan rumus-rumus matematis maunpun model statistic. 6. Lokasi Penelitian

17

Penelitian dilakukan di : a. Perpustakaan Sekolah Tinggi Hukum Bandung.. b. Perpustakaan Universitas Islam Bandung.

Anda mungkin juga menyukai