Anda di halaman 1dari 12

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A VI PEMBAHASAN Praktikum yang dilaksanakan pada 25 Agustus 2011 mengenai pembuatan larutan.

Larutan didefinisikan sebagai dua atau lebih zat yang membentuk satu macam fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah. Arti homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat-zat dalam larutan terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara merata di seluruh campuran. Sifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau tidak, tetapi sifat kimianya tidak berubah (Sunarya, 2007). Di dalam larutan terdapat dua komponen, yakni zat terlarut (solute) dan pelarut (solvent). Zat terlarut mempunyai jumlah yang lebih sedikit dalam campuran. Zat pelarut adalaha zat yang melarutkan komponen zat terlarut. zat pelarut memiliki jumlah yang lebih banyak di dalam campuran. Zat pelarut umumnya berbentuk cairan (Wismono, 2007). Untuk memyatakan banyaknya zat terlarut dan pelarut, dikenal istilah konsentrasi. Perbandingan secara kualitatif konsentrasi larutan digunakan istilah pekat (concentrated) dan encer (dilute). Larutan pekat adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang besar, sedangkan larutan encer mempunyai konsentrasi zat terlarut yang kecil. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dalam beberapa cara, seperti : 1 Persen berat (b/b) Menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.

% wA =

wA 100% wtotal
= berat zat terlarut (g) Wtotal = berat larutan, pelarut+ larutan (g)

Keterangan : WA

Persen volume (v/v) Menyatakan ml zat terlarut dalam 100 ml larutan

%VA =

VA 100% Vtotal

Keterangan: VA = volume zat terlarut (l)

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Vtotal = volume larutan, pelarut+ larutan (l) % Volume biasa digunakan untuk cair dalam cair, atau gas dalam gas. Volume larutan tidak selalu merupakan jumlah volume penyusun dalam keadaan murninya. 3 4 Persen lab atau persen campuran (b/v) Persen b/v menyatakan gram zat terlarut dalam 100 ml larutan. Molaritas Molaritas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut dalam larutan dibagi oleh volune larutan yang dinyatakan dalam liter. Molaritas (M) = 5 6 Molalitas Molalitas (m) = Normalitas (N) Normalitas adalah banyaknya ekuivalen per liter larutan.. Normalitas dapat digunakan sebagai suatu konversi yang melibatkan menerjemahkan label. Jadi suatu konsentrasi 1,00 N (suatu larutan q,00 normal) dapat diterjemahkan sebagai atau Normalitas sangat penting, karena pencampuran larutan dengan volume sama dan normalitas sama akan menyebabkan reaksi yang lengkap antara zat-zat terlarutnya ; 1 liter asam 1N akan menetralkan dengan lengkap 1 liter basa 1 N karena 1 ekuivalen asam bereaksi dengan 1 ekuivalen basa. 7 ppm Menyatakan banyaknya mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan. ppm = x 106 8. Fraksi Mol Fraksi mol menyatakan mol zat terlarut per mol total. Larutan terdiri dari zat terlarut dan zat pelarut maka fraksi mol larutan terdiri dari fraksi mol zat terlarut dan fraksi mol zat pelarut. Jika fraksi mol zat pelarut Xp maka : Xp = Xt =

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Xp + Xt = 1 Keterangan : Xt = fraksi mol zat terlarut Xp = fraksi mol zat pelarut Nt = mol zat terlarut Np = mol zat pelarut a NaCl Jenuh Pembuatan larutan NaCl jenuh membutuhkan alat-alat seperti beaker glass 100 ml, gelas ukur 50 ml, batang pengaduk, spatula serta botol untuk menyimpan larutan. Langkah yang dilakukan ialah menuangkan 50 ml aquadest ke dalam beaker glass kemudian menambahkan NaCl sedikit demi sedikit hingga NaCl tersebut tidak larut dan terdapat endapan. Kondisi demikian ini menunjukkan bahwa larutan telah jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara solute yang terlarut dan yang tak terlarut. Banyaknya solute yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu untuk menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan (solubility) zat itu (Sunarya, 2007). Sebanyak 15,4810 gram digunakan dalam pembuatan larutan ini. Dengan cara perhitungan mula-mula sebanyak 20 gram NaCl ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam aquadest perlahan-lahan. Setelah larutan tersebut tampak jenuh, dilakukan penimbangan terhadap NaCl yang tersisa, yang tidak termasukkan ke dalam aquadest. NaCl yang tersisa sebanyak 4,519 gram. Kelarutan NaCl di dalam air tejadi karena NaCl terdiri dari partkel-partikel yang bermuatan + dan (ion Na+ dan Cl-), dan karena molekul air mempunyai kutub + (H+) dan kutub (OH-) maka molekul air akan melekat pada kristal NaCl. Ikatan ion NaCl diperlemah sehingga Kristal akan rusak dan terlepas. Proses ini akan berjalan terus sampai semua garam NaCl larut. Semula aquadest tidak berwarna, namun menjadi sedikit keruh setelah dimasukkan NaCl sedikit demi sedikit hingga mencapai keadaan jenuh. Sifat sifik padatan NaCl dan larutan NaCl jenuh dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Sifat fisik padatan NaCl dan larutan jenuh NaCl

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Padatan Bentuk Serbuk Warna Putih Endapan Tidak terdapat endapan Aroma Tidak berbau Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 Larutan Cairan Tidak berwarna Terdapat endapan Tidak berbau

Adapun sifat fisik dari NaCl diantaranya berbentuk solid (bubuk kristal padat), sedikit berbau, memiliki rasa saline, memiliki berat molekul 58,44 g / mol, berwarna putih, memiliki pH (1% soln / air): [. Netral] 7, Titik Didih 14130C (2575,40F), Melting Point 8010C (1473,80F), Spesifik Gravity 2,165 (Air = 1). NaCl atau Natrium Klorida merupakan nama kimia dari garam dapur. Garam dapur merupakan senyawa kimia yang tersusun dari 2 unsur, logam natrium (Na) dan gas klor (Cl). Bila dipisahkan, kedua zat itu punya sifat yang berbeda. Natrium merupakan logam yang sangat reaktif. Bila bereaksi dengan air, akan menimbulkan ledakan. Maka, Natrium harus disimpan di media khusus yaitu minyak tanah. Sedangkan gas Klor merupakan gas berwarna hijau yang beracun dan bila terhirup dapat menimbulkan gangguan paru-paru. Kedua zat tersebut memang dapat merugikan jika berdiri sendiri. Namun jika direaksikan pada suhu dan tekana yang ekstrim, keduanya menjadi garam dapur. b Na-tiosulfat 0,1N (150 ml) Berat padatan Na-tiosulfat yang dibutuhkan dalam pembuatan larutan Natiosulfat 0,1 N adalah 1,25 gram dengan perhitungan sebagai berikut: x = 0,1 N x = 0,1 N gram = = 1,25 kemudian dilarutkan dalam 25 mL aquadest yang telah dipanaskan hingga mendidih kemudian didinginkan. Setelah terbentuk larutan lalu ditambahkan natrium karbonat (Na2CO3) anhidrous sebanyak 0,005 gram kemudian diaduk dan dipindahkan ke dalam labu ukur, selanjutnya ditambahkan kembali aquades hingga batas. Penambahan Na2CO3 anhidrous berfungsi sebagai

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A pengawet. Na2CO3 merupakan senyawa yang masih mengandung air, sedangkan Na2CO3 anhidrous merupakan senyawa Na2CO3 yang tidak mengandung air. Sifat fisik Na2CO3 diantaranya padatan Kristal berwarna putih, titik lebur 8510C. Densitas (anhydrous) pada 20C 2.5 Kg/L. Densitas (Dekahidrat) pada 20C 1.4 Kg/L. Nama Dagang Soda Hablur / Soda Cuci. Sedangkan sifat kimia dari Na2CO3 ialah mudah melapuk oleh udara, beracun, dapat digunakan sebagai pembersih, pelunak air sadah dan pereaksi dalam pembuatan kaca. Adapun sifat fisik dari padatan Na-tiosulfat, Na2CO3 anhidrous dan larutan Na-tiosulfat terlihat dalam tabel 2. Tabel 2. Sifat Fisik Na-tiosulfat, Na2CO3 anhidrous, dan larutan Na-tiosulfat Anhidrous Sifat Fisik Bentu Endapa Warna Bau k n Tidak Padatan Na-tiosulfat Kristal + berwarna Na2CO3 anhidrous Serbuk Putih ++ Larutan Na-tiosulfat Tidak Cair anhidrous berwarna Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 c KOH 0,1 N (50 ml) Pada praktikum kali ini, dalam pembuatan 50 ml KOH 0,1 N yang merupakan basa kuat dilakukan perhitungan massa KOH yang dibutuhkan terlebih dahulu, yaitu sebagai berikut: Nama

Kejernihan Jernih

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Massa KOH yang dibutuhkan adalah 0,28055 gram. Setelah diketahui massa KOH kemudian larutkan dalam 25 ml aquades, diaduk hingga homogen lalu dipindahkan ke dalam labu ukur dan tambahkan kembali aquades hingga tanda batas. Sifat fisik dari KOH diantaranya berbentuk solid (pelet padat), tidak berbau, tidak berasa, memiliki berat molekul 56,11 g/mol, berwarna putih, titik didih suhu dekomposisi 13840C (2523,20F), melting point 3800C (7160C), spesifik gravity 2,044 (Air = 1), mudah larut dalam air dingin dan air panas serta larut dalam dietil eter. Perbedaan antara sifat fisik padatan KOH dan larutan KOH 0,1 N dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Sifat Fisik Padatan KOH dan Larutan KOH 0.1 N Nama Padatan KOH Larutan KOH Bentuk Kristal Cairan Warna Putih Tidak berwarna Endapan Aroma Tidak berbau Tidak berbau Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 d Alkohol 95% Sebanayak 50 ml alkohol 95% tambahkan 5 tetes phenolpthalein (PP), alkohol yang ditetesi larutan phenolpthalein tidak mengalami perubahan warna. Larutan phenolpthalein berguna sebagai indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah larutan tersebut mengandung asam atau tidak. Apabila tidak terjadi perubahan warna maka larutan tesebut digolongkan sebagai asam. Maka dapat disimpulkan bahwa alkohol merupakan golongan asam. Setelah ditetesi phenolpthalein kemudian ditambahkan KOH. Sebanyak 65 tetes KOH yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan warna menjadi merah muda. KOH pada praktikum kali ini berfungsi sebagai penetral. Larutan yang dihasilkan adalah larutan yang bersifat netral. Larutan netral ini terjadi dari reaksi antara alkohol yang asam dengan KOH yang bersifat basa. Adapun perbedaan antara alkohol 95% dan alkohol 95% netral dapat dilihat pada tabel 4.

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Tabel 4. Hasil Pengamatan Sifat Fisik Alkohol 95% dan Alkohol 95% Netral Nama Alkohol 95% Warna Tidak berwarna Aroma Menyengat Endapan Tidak ada Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 e Indikator Phenolpthalein (PP) 1% Sebanyak 0,0513 gram phenolpthalein (PP) dilarutkan dalam 50 ml alkohol 95%. Phenolpthalein ini dilarutkan dalam alkohol 95 % karena phenolpthalein hanya bisa larut dalam alkohol dan pelarut organik lainnya dan tidak dapat larut dalam pelarut anorganik. Setelah diaduk sampai bening larutan phenolpthalein dimasukkan ke dalam labu ukur lalu ditambah alkohol 95% hingga batas kemudian dikocok terus menerus hingga semuanya homogen. Rumus kimia PP adalah C20H14O4 dan memiliki Mr=318,3g/mol. phenolpthalein berguna sebagai indikator titrasi yang lain yang sering digunakan, dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain. H-phph (aq) H+(aq) + phph-(aq) Mekanisme kerja phenolpthalein sebagai indikator asam basa ialah bahwa phenolpthalein merupakan asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi merah muda. Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat. Selama proses pembuatan larutan indikator PP tidak terjadi perubahan warna, tidak terjadi endapan dan berbau menyengat. Sifat fisik PP diantaranya berbentuk granula kecil (serbuk), berwarna putih dan tidak berbau. Perbedaan anatara PP dan larutan PP 1% dapat dilihat pada tabel 5. Alkohol 95% Netral Merah muda bening Menyengat Tidak ada

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Tabel 5. Sifat Fisik Padatan PP dan Larutan PP 1% Sampel PP PP 1% Warna Putih Bening dan Tidak Bau Tidak berbau Bentuk Serbuk Cair Endapan -

Menyengat berwarna Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 NaOH 10% (50 ml)

Pembuatan larutan NaOH 10 % ini diperoleh dari pencampuran antara 5 g kristal NaOH dan aquades yang ditambahkan sampai mencapai volume 50 mL pada labu ukur. Presentase 10% diperoleh dari perbandingan volume akhir jumlah larutan yang diinginkan dan jumlah awal kristal NaOH. Pada saat pencampuran kristal NaOH dan aquades timbul panas. Hal tersebut kan menunjukkan bahwa pembuatan larutan ini termasuk reaksi eksoterm, reaksi yang menghasilkan panas dari sistem ke lingkungan. Selain iu, tidak terjadi perubahan warna, larutan tersebut tetap bening tidak berwarna. Karena NaOH termasuk basa kuat, NaOH mengalami disosiasi secara sempurna saat larut dalam aquades. Larutan yang sudah selesai dapat disimpan di labu ukur. NaOH padat berwarna putih, berbentuk kristal ukuran sedang, padat menempel antara yang satu dengan yang lainnya, beraroma sedikit menyengat. Sedangkan NaOH larutan berwarna bening, tidak berwarna, jernih dan tidak berbau. g NaOH 0,1 N NaOH berbentuk kristal dan berbutir. Dalam pembuatan NaOH ini, berat NaOH yang di butuhkan adalah N= 0,1 = gr = 0,2 gr Setelah didapat banyaknya NaOH yang dibutuhkan, langkah selanjutnya mencampurkan NaOH 0,1 N dengan aquades 50 ml. Sebelumnya pastikan alatalat yang digunakan telah dibersihkan dengan menggunakan aquades. Setelah itu, campurkan NaOH dengan aquades. Sebelum dicampurkan, aquades

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A dipanaskan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menghilangkan ion logamlogam lain yang terkandung didalamnya dan juga menghilangkan kandungan CO2, jika masih mengandung CO2 akan menghasilkan karbonat (CO3) dan membentuk natrium karbonat (NaCO3) yang tidak diharapkan dalam pembuatan larutan ini. Sehingga dengan mendidihkan aquades terlebih dahulu senyawa CO2 tersebut dapat menguap yang pada akhirnya akan diperoleh larutan NaOH 0,1 N 50 ml murni tanpa adanya campuran dari senyawa CO 3. Setelah aquades tersebut dididihkan sebelum dicampurkan dengan NaOH, aquades tersebut harus didinginkan terlebih dahulu. Hal ini berhubungan dengan suhu, suhu pelarut yang tinggi akan mempengaruhi konsentrasi terlarut, konsentrasi akan berubah dan akan menyebabkan hasil reaksi yang berbeda. Perubahan yang terjadi adalah larutan tersebut menjadi panas dan tidak berwarna, Terjadinya panas tersebut dikarenakan reaksi yang terjadi pada larutan tersebut merupakan reaksi eksoterm, dimana panas mengalir dari sistem ke lingkungan. Perubahan yang terjadi pada larutan ini sama dengan pembuatan larutan NaOH 10% 50 ml, hanya bedanya pada pembuatan larutan ini aquades terlebih dahulu dididihkan. NaOH adalah higroskopis dan mudah menyerap air dari udara, sehingga harus disimpan dalam wadah kedap udara. Selain itu, NaOH mudah larut dalam air dengan pembebasan panas. NaOH merupakan senyawa kimia yang bersifat basa. Karena NaOH bersifat basa jika dicampur dengan aquades maka akan mengandung suasana hidrogen dan oksigen (ion hidroksida), sehingga reaksi yang ditimbulkan dingin. Karena NaOH bersifat higroskopis, maka homogenisasi antara NaOH dan aquades mudah dilakukan yaitu dengan mengaduk NaOH hingga larut dalam aquades. Setelah homogenisasi, larutan tersebut dipindahkan ke dalam botol. Adapun perbedaan antara padatan NaOH, larutan NaOH 10% dan larutan NaOH 0,1 N tampak pada tabel 6. Tabel 6. Perbedaan padatan NaOH, NaOH 10% dan NaOH 0,1 N Nama Bentuk Padatan NaOH Kristal Larutan NaOH 10 % Cair Larutan NaOH 0.1 N Cair

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A Warna Putih Tidak berwarna Aroma Tidak berbau Tidak berbau Endapan Tidak ada Tidak ada Sumber: Dokumentasi pribadi, 2011 h Asam Asetat 0,01 N (50 ml) Pembuatan larutan ini diperoleh dari pencampuran antara asam asetat (CH3COOH ) dengan aquadest. Langkah yang dilakukan diantaranya 5 ml asam asetat 0,1 N dimasukkan ke dalam labu ukur. Kemudian aquadest ditambahkan pada labu tersebut hingga tanda batas 5 ml dan mengocoknya hingga homogen. Selama proses pembuatan larutan tidak terjadi perubahan baik warna, bau maupun endapan. Bisa dikatakan bahwa pembuatan larutan ini dengan cara pengenceran. Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsetrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam asetat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam asetat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Perhitungan : V1 x N1 = V2 x N2 0,1 N x 5 ml = 50 ml x N2 0,5/50 = N2 N2= 0,01 N Asam asetat/ metana karboksilat/asam cuka memiliki rumus kimia CH3COOH, zat cair yang tidak berwarna dan memiliki bau yang menusuk. Aroma asam asetat 0,1 N lebih berbau menyengat dibandingkan dengan CH3COOH 0,01 N. Hal ini disebabkan karena CH3COOH 0,1 N lebih pekat dari pada CH3COOH 0,01 N. Larutan pekat itu sendiri adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang besar, sedangkan larutan encer mempunyai konsentrasi zat terlarut yang kecil ( Vogel,1990 ) Tidak berwarna Tidak berbau Tidak ada

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A

VII

KESIMPULAN Larutan adalah campuran antara pelarut dan zat yang terlarut. Larutan dapat dicari konsentrasinya melalui beberapa cara, yaitu persen berat, persen volume, persen campuran, molaritas, molalitas, normalitas, fraksi mol. Larutan NaCl jenuh berwarna sedikit keruh. Penambahan Na2CO3 anhidrous pada larutan Na-tiosulfat berfungsi sebagai pengawet. Fungsi KOH dalam laruran alkohol 95% netral adalah sebagai penetral. Padatan phenolpthalein yang digunakan untuk membuat phenolpthalein 1% sebanyak 0,0513 gram. Pemanasan aquadest bertujuan untuk menghilangkan ion logam-logam lain yang terkandung didalamnya dan juga menghilangkan kandungan CO2, jika masih mengandung CO2 akan menghasilkan karbonat (CO3) dan membentuk natrium karbonat (NaCO3) yang tidak diharapkan dalam pembuatan larutan NaOH 0,1%. Pembuatan larutan asam asetat 0,01 N dikatakan sebagai pengenceran.

Nova Nurfauziawati 240210100003 Kelompok 1A

DAFTAR PUSTAKA Sunarya, Yayan. dan Agus Setiabudi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Setia Budi Inves, Bandung Vogel.1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid 1 dan 2. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka Wismono, Jaka. 2007. Kimia dan Kecakapan Hidup. Ganeca Exact, Bandung.