Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kebutuhan komoditas pertanian terus bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dan konsumsi masyarakat. Upaya untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian dapat ditempuh melalui

perluasan lahan dan peningkatan produktivitas. Namun, upaya tersebut menghadapi masalah cekaman abiotik seperti kekeringan, keracunan

aluminium dan unsur mikro pada lahan masam, dan salinitas. Kekurangan air akan terus menjadi masalah dalam budidaya tanaman seiring makin kuatnya persaingan dalam penggunaan air antara sektor pertanian dan nonpertanian. Keracunan dan kahat hara merupakan cekaman abiotik yang sering dijumpai pada lahan pertanian di Indonesia, terutama pada tanah masam. Tanaman yang keracunan Al akan terhambat perkembangan akarnya sehingga mengganggu pertumbuhan bagian atas tanaman. Terganggunya pertumbuhan bagian atas tanaman disebabkan oleh kahat hara seperti Mg, Ca, dan P, dan tidak seimbangnya hormon. Penggunaan tanaman yang toleran tanah masam merupakan pilihan yang lebih baik sehingga tanaman mampu berproduksi di lahan

masam. Cekaman abiotik seperti keracunan Al, salinitas maupun suhu rendah juga mempengaruhi produktivitas tanaman. Masalah ini perlu diupayakan pemecahannya, antara lain dengan menanam varietas yang toleran. Teknik bioteknologi dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas toleran cekaman biotik, seperti kekeringan, keracunan Al, dan cekaman abiotik lainnya. Pada saat ini sangat sulit mencari sumber gen ketahanan terhadap cekaman abiotik dari tanaman yang sejenis. Untuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dapat memanfaatkan teknik variasi somaklonal dan induksi mutasi. Perubahan sifat genetik yang dihasilkan dengan metode ini sangat beragam. Untuk mengarahkan perubahan sifat ke arah yang diinginkan dapat digunakan metode seleksi in vitro.

B. Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah 1. Mengetahui respon tumbuhan terhadap keadaan lingkungan yang kurang mendukung. 2. Mengetahui teknik mendapatkan tanaman toleran terhadap beberapa keadaan lingkungan yang kurang mendukung.

PEMBAHASAN A. Pengertian Stress Lingkungan Pada prinsipnya, setiap tumbuhan memiliki kisaran tertentu terhadap faktor lingkungannya. Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford, yang berbunyi Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungannya. Setiap makhluk hidup memiliki range of optimum atau kisaran optimum terhadap faktor lingkungan untuk pertumbuhannya. Kondisi di atas ataupun di bawah batas kisaran toleransi, makhluk hidup akan mengalami stress fisiologis. Pada kondisi stress fisiologis ini, populasi akan menurun. Apabila kondisi stress ini terus berlangsung dalam waktu yang lama dan telah mencapai batas toleransi kelulushidupan, maka organisme tersebut akan mati. Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman (Fallah, 2006). Campbell (2003), mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan. Menurut Hidayat (2002), pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Cekaman biotik, terdiri dari: a. kompetisi intra spesies dan antar spesies, b. infeksi oleh hama dan penyakit 2. Cekaman abiotik berupa: a. suhu (tinggi dan rendah), b. air (kelebihan dan kekurangan), c. radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), d. kimiawi (garam, gas, dan pestisida), e. angin

B. Macam-macam respon Tumbuhan terhadap Lingkungan 1. Respon Tumbuhan Terhadap Kekurangan Air Suatu tumbuhan bisa mengalami cekaman karena kehilangan air akibat transpirasi terjadi lebih cepat di bandingkan laju pengambilan air dari tanah untuk memulihkan kondisi tersebut. Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebakan sel-sel penjaga kehilangan turgornya, suatu mekanisme kontrol tunggal yang

memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Dengan respon tersebut menyebabkan melambatnya peningkatan luas permukaan daun. Jika tidak dengan menggugurkan daunnya maka dengan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi. Akar merespon kekurangan air dengan

memperbanyak diri dengan cara yang memaksimumkan pemaparan terhadap air tanah. 2. Respon Tumbuhan Terhadap Kekurangan Oksigen Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami kekuragan oksigen karena tanah kehabisan ruangan udara yang menyediakan oksigen untuk respirasi seluler akar. Kekurangan oksigen merangsang produksi hormon etilen, yang menyebabkan beberapa sel dalam konteks akar mengalami penuaan dan mati. Perusakan dinding sel secara enzimatik membentuk saluran udara yang berfungsi sebagai snorkel, yang menyediakan oksigen untuk akar yang terendam. 3. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Garam Kelebihan natrium klorida atau garam-garam lain dalam tanah dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan, yaitu pertama dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut banyak sekali mengandung air. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya

relatif tinggi.

Sebagian besar tumbuhan tidak dapat bertahan hidup

menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama. Pengecualian pada halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam, dengan adaptasi khusus seperti kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun. 4. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Panas Panas berlebihan dapat mengganggu dan akhirnya membunuh suatu tumbuhan dengan cara mendenaturasi enzim-enzimnya dan merusak metabolismenya dalam berbagai cara. Cuaca panas dan kering juga cenderung menyebabkan kekurangan air pada banyak tumbuhan. Tumbuhan merespon cekaman panas dengan menutupnya stomata yang akan menghemat air, namun mengorbankan pendinginan melalui penguapan tersebut, atau tumbuhan merespon dengan mensitesis protein kejut-panas dalam jumlah yang cukup banyak. Protein kejut panas itu identik dengan protein chaperone (pengantar), yang berfungsi pada sel-sel yang tidak tercekam sebagai penopang sementara yang membantu protein lain melipat, membentuk konformasi fungsionalnya. Protein kejut-panas kemungkinan mengapit enzim serta protein lain dan membantu mencegah denaturasi. 5. Respon Tumbuhan Terhadap Cekaman Dingin Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperatur lingkungan turun adalah perubahan ketidakstabilan membran selnya. Tumbuhan merespon terhadap cekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid membrannya. Contohnya adalah meningkatnya proporsi asam lemak tak jenuh, yang memilki sturktur yang mampu menjaga membran tetap cair pada suhu lebih rendah dengan cara menghambat pembekuan kristal.

C. Cara memperoleh tanaman toleran 1. Kultur somaklonal Variasi somaklonal adalah keragaman genetik yang dihasilkan melalui kultur jaringan. Variasi somaklonal pertama kali ditemukan oleh Larkin dan Scowcorf (1989), yang mendefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun, akar, dan batang, maupun sel gamet. Tidak seperti yang biasa terjadi pada persilangan, dimana keragaman timbul karena segregasi ataupun rekombinasi gen, pada variasi somaklonal keragaman terjadi akibat adanya penggandaan dalam kromosom (fusi), perubahan jumlah kromosom, perubahan struktur kromosom, perubahan gen, dan perubahan sitoplasma Variasi somaklonal yang terjadi pada tanaman dapat bersifat diwariskan (heritable) dan tidak diwariskan. Keragaman yang bersifat diwariskan, dikendalikan secara genetik,bersifat stabil dan dapat diturunkan secara seksual ke generasi selanjutnya. Sedangkan yang bersifat tidak bisa diwariskan dikendalikan secara epigenetik, yang biasanya akan hilang bila diturunkan secara seksual. Skirvin et al. (1993) dan Jain (2001) menyatakan bahwa variasi somaklonal dalam kultur jaringan terjadi akibat penggunaan zat pengatur tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang digunakan (sel, protoplasma, kalus jaringan), serta digunakan atau tidaknya media seleksi dalam kultur in vitro. Zat pengatur tumbuh kelompok auksin 2,4-D dan 2,4,5-T biasanya dapat menyebabkan terjadinya variasi somaklonal. Pada tanaman kelapa sawit, perlakuan 2,4-D pada kultur kalus yang mampu beregenerasi membentuk tunas menyebabkan variasi somaklonal saat aklimatiasasi di lapangan. Beberapa sifat tanaman dapat berubah akibat variasi somaklonal, namun sifat lainnya tetap menyerupai induknya. Dengan demikian, variasi somaklonal sangat bermanfaat dalam upaya peningkatan keragaman

genetik

untuk

mendapatkan

suatu

sifat

unggul

dengan

tetap

mempertahankan sifat unggul yang lain. 2. Seleksi invitro Keragaman genetik yang ditimbulkan oleh variasi somaklonal dan induksi mutasi bersifat maupun acak. Untuk ke mengidentifikasi keragaman arah perubahan yang

somaklonal

induksi mutasi

diinginkan, dapat digunakan teknik seleksi in vitro. Pada teknik in vitro, seleksi ketahanan terhadap cekaman abiotik seperti kekeringan, keracunan Al, pH tanah rendah, dan salinitas dapat digabungkan dalam media kultur in vitro dan digunakan untuk menumbuhkan varian

somaklon yang diperoleh. Tanaman hasil regenerasi jaringan pada kultur in vitro kemungkinan akan mempunyai fenotipe yang toleran terhadap kondisi seleksi. Seleksi in vitro lebih efisien karena kondisi seleksi dapat dibuat homogen, tempat yang dibutuhkan relatif sedikit, dan efektivitas seleksi tinggi. Oleh karena itu, kombinasi antara induksi variasi somaklonal dan seleksi in vitro merupakan alternatif teknologi yang efektif dalam menghasilkan individu dengan karakter yang spesifik. Penggunaan teknik in vitro akan menghasilkan populasi sel varian melalui seleksi pada media yang sesuai. Intensitas seleksi dapat diperkuat dan dibuat lebih homogen. Populasi jaringan atau sel tanaman dapat diseleksi dalam media seleksi sehingga akan meningkatkan frekuensi varian dengan sifat yang diinginkan. a. Seleksi In Vitro untuk Toleransi terhadap Salinitas Pengaruh merusak dari garam pada tanaman merupakan akibat dari kekurangan air, karena konsentrasi garam yang terlarut dalam tanah. Kondisi ini mempengaruhi rasio K+ karena pemasukan Na+ dan konsentrasi ion Na yang merugikan tanaman. Respons umum tanaman terhadap cekaman garam berupa akumulasi gula. Senyawa ini berfungsi sebagai osmoprotektan (penjaga osmolaritas). Pada beberapa kasus, senyawa osmoprotektan berfungsi menjaga stabilitas

biomolekul pada kondisi tercekam. Tanaman yang toleran dan tumbuh

pada tanah bergaram mempunyai kandungan garam yang tinggi pada selnya. Penggunaan ion anorganik untuk mengatur tekanan osmosis menunjukkan bahwa tanaman harus mampu menoleransi kandungan garam yang tinggi dalam sel. Na+ bersifat toksik bagi tanaman karena berpengaruh negatif terhadap nutrisi K+, aktivitas enzim sitosol, fotosintesis, dan metabolisme. Berdasarkan analisis aktivitas enzim terhadap garam dapat disimpulkan bahwa tanaman yang toleran garam dapat menjauhkan Na+ dari sitosol. Tanaman melakukan cara untuk mempertahankan konsentrasi Na yang rendah dalam sel, yaitu dengan menghambat pemasukan garam. Uraian di atas menunjukkan bahwa keragaman genetik tanaman dapat ditingkatkan melalui variasi somaklonal dan induksi mutasi, dan perubahannya diarahkan melalui seleksi in vitro. Komponen seleksi yang digunakan adalah NaCl. Metode ini telah dicoba pada tanaman tebu. Seleksi dimulai pada tahap kalus yang diregenerasi menjadi tunas. Kalus embriogenik padi yang telah diradiasi sinar gama mampu beregenerasi membentuk tunas pada media seleksi yang mengandung NaCl tinggi. Metode ini juga telah dicoba oleh Pesqueira et al. (2006) pada tanaman jagung. Kalus embriogenik jagung yang telah dimutasi dengan sinar gama mampu beregenerasi membentuk tunas pada media yang mengandung NaCl tinggi. b. Seleksi in vitro untuk Toleransi terhadap kekeringan Seleksi in vitro untuk mendapatkan varian yang toleran terhadap kekeringan dapat menggunakan agens seleksi berupa senyawa osmotik. Senyawa ini dapat menyimulasi kondisi kekeringan di lapangan. Senyawa osmotik yang paling banyak digunakan dalam simulasi cekaman kekeringan adalah polyethylene glycol (PEG) Senyawa PEG bersifat larut dalam air dan dapat menyebabkan penurunan potensi air secara homogen. Besarnya penurunan air sangat

bergantung pada konsentrasi dan berat molekul PEG. Keadaan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan simulasi penurunan potensial air yang mencerminkan cekaman kekeringan bagi tanaman.

Penggunaan PEG sebagai media seleksi tidak membahayakan tanaman karena mempunyai berat molekul lebih besar dari 4.000. Dengan demikian, kerusakan atau kematian tanaman pada simulasi

menggunakan senyawa PEG diyakini sebagai efek kekeringan, bukan efek langsung dari senyawa PEG karena senyawa tersebut tidak diserap oleh tanaman. Penggunaan PEG dalam induksi stres air pada tanaman sudah diterapkan cukup lama. Menurut Adkins et al. (1995), PEG mampu mendeteksi sel/kalus sebagai penapis in vitro sehingga dapat menyeleksi sel/kalus dan beregenerasi membentuk tanaman lengkap dengan tingkat toleransi yang lebih baik. Seleksi in vitro untuk mendapatkan sifat toleransi terhadap cekaman kekeringan telah dilakukan antara lain pada tanaman seledri, kacang tanah, kacang hijau, kentang, padi, dan sorgum. Salah satu faktor yang berkaitan dengan sifat fisik fisiologi tanaman untuk bertahan dalam kondisi tercekam kekeringan adalah perubahan akumulasi prolin dalam jaringan. Prolin berperan sebagai osmoregulator (proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan oleh sel). Cekaman kekeringan menyebabkan peningkatan kandungan prolin pada tanaman. Prolin yang terakumulasi membantu sebagai sebagai sumber osmotikum sitoplasmik dan melindungi enzim sitoplasmik dan struktur selluler sehingga tanaman mampu bertahan terhadap stress. Peningkatan kandungan prolin pada tanaman yang mengalami stress kekeringan disebabkan oleh biosintesis prolin. c. Seleksi in vitro Toleransi terhadap Al dan pH tanah rendah Tanaman akan keracunan Al bila konsentrasi Al dalam tanaman pada fase vegetatif melebihi 100 ppm, sedangkan normalnya

berkisar antara 1518 ppm. Al umumnya terakumulasi pada ujung akar, tempat terjadinya pembelahan dan pemanjangan sel. Pada tanaman padi, jumlah anakan per rumpun dapat dijadikan indikator awal keracunan Al. Komponen seleksi yang digunakan yaitu Al dengan kondisi media yang memiliki kemasaman rendah. Unsur Al dapat diberikan dalam bentuk AlCl36H2O atau garam mineral lainnya. Seleksi in vitro untuk meningkatkan ketahanan sel terhadap Al telah dilakukan pada tomat dan kentang, tembakau, dan sorgum. Mariska et al. (2002) menggunakan metode seleksi in vitro dan radiasi sinar gama untuk meningkatkan ketahanan tanaman kedelai terhadap cekaman Al dan pH rendah. Beberapa mengetahui peneliti telah melakukan penelitian cekaman untuk Al.

sistem

toleransi

tanaman

terhadap

Mekanisme toleransi tanaman terhadap cekaman Al berlangsung secara eksternal dan internal. Mekanisme eksternal dilakukan dengan cara mencegah Al masuk ke dalam sistem simplas dengan melakukan imobilisasi pada dinding sel, menciptakan sistem permeabilitas seleksi pada membran plasma, menginduksi kenaikan pH pada rizosfer dan apoplas akar, mengeluarkan Al dari dalam sel, dan mengeluarkan (eksudasi) fosfat dan ligan pengkelat Al. Mekanisme internal dilakukan dengan pengkelatan Al pada sitosol oleh asam organik, protein atau ligan organik lainnya, melakukan kompartementasi Al pada vakuola, dan menginduksi sintesis protein tertentu, terutama protein pengkelat Al. Sekresi asam organik seperti asam malat, asam sitrat, asam oksalat, dan asam suksinat juga merupakan salah satu caratanaman untuk menanggulangi pengaruh buruk Al. Perbedaan asam organik yang diekstrak dari akar mempengaruhi kemampuan pengendapan Al. Asam oksalat

mempunyai kemampuan mengendapkan Al paling kuat, diikuti asam sitrat, asam malat, dan asam suksinat. Pada tanaman jagung, sel mampu mengeluarkan asam malat dan melepaskan fosfat untuk

membentuk kompleks Al-fosfat sehingga mengurangi toksisitas Al. Bukti yang mendukung bahwa asam malat berperan dalam mekanisme toleransi Al adalah: pelepasan asam malat distimulasi secara spesifik oleh Al, asam malat melindungi bagian tanaman gandum yang peka Al pada ujung akar ketika larutan hara ditambahkan Al, dan banyak asam malat yang disekresi oleh akar.

KESIMPULAN Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman. Cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan. Macam-macam cekaman, seperti cekaman kekeringan, suhu, udara, kegaraman serta keracunan asam (Al). Respon kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Dengan respon tersebut menyebabkan melambatnya peningkatan luas permukaan daun. Respon kekurangan oksigen merangsang produksi hormon etilen, yang menyebabkan beberapa sel dalam konteks akar mengalami penuaan dan mati. Sebagian besar tumbuhan tidak dapat bertahan hidup menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama. Pengecualian pada halofit, yaitu dengan memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun. Tumbuhan merespon cekaman panas dengan menutupnya stomata yang akan menghemat air, namun mengorbankan pendinginan melalui penguapan tersebut, atau tumbuhan merespon dengan mensitesis protein kejut-panas dalam jumlah yang cukup banyak. Tumbuhan merespon terhadap cekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid membrannya. Cara mendapatkan tanaman toleran terhadap cekaman lingkungan yaitu dengan teknik kultur jaringan (somaklonal). Contohnya yaitu kultur jaringan toleran kekeringan, mendapatkan eksplan melalui seleksi in vitro (dengan penambahan PEG), sehingga eksplan mengeluarkan senyawa prolin (ciri fisiologis tanaman toleran kekeringan).

Kemudian pada kultur jaringan toleran salinitas, mendapatkan eksplan melalui seleksi in vitro (dengan penambahan Na yang tinggi), sehingga terjadi akumulasi gula pada eksplan (akumulasi gula merupakan senyawa yang dikeluarkan suatu tanaman akibat tekena cekaman salinitas) yang berfungsi sebagai osmoprotektan. Dan yang terkhir kultur jaringan toleran keracunan senyawa Al, mendapatkan eksplan melalui seleksi in vitro dengan penambahan Al yang tinggi. Pada eksplan jagung merespon cekaman Al tinggi dengan mengeluarkan senyawa asam (asam malat, oksalat, dan suksinat).

DAFTAR PUSTAKA Adkins, S.W., R. Kunamuvatchaidach, and I.D. Godiwin. 1995. Somaclonal variation in ricedrought tolerance and other agronomic characters. Aust. J. Bot. 43: 201109. Badami K, Achmad A 2011. Identifikasi Varian Somaklonal Toleran Kekeringan pada Populasi Jagung Hasil Seleksi In vitro dengan PEG. Agrovigor 4(1):7-13 Campbell R 2012. Biologi Jilid 2 (Edisi 8). Erlangga. Jakarta Dharmawan A 2005. Ekologi Hewan. UM Press. Malang Fallah A F 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol. http://io.ppi jepang.org. Diakses 26 Mei 2013 Haryati 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses 26 Mei 2013 Hidayat 2002. Cekaman Pada Tumbuhan. http://www.scribd.com/document_ downloads/ 13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses 26 Mei 2013 Lakitan B 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Pesqueira, J., M.D. Garca, S. Staltari, and M.C. Molina. 2006. NaCl effects in Zea mays L. x Tripsacum dactyloides (L.) L. hybrid calli and plants. Electronic J. Biotechnol. 9(3): 16. Silvika 2009. Cekaman Cahaya. http://silvika.atspace.com/acara3.htm. Diakses 26 Mei 2013 Sinaga 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/ file/8Artikel %20Sinaga.pdf. Diakses 26 Mei 2013

Sipayung R 2006. Cekaman Garam. http://library.usu.ac.id/download/fp/bdprosita2.pdf. Diakses 26 Mei 2013 Skirvin, R.M., M. Norton, and K.D. Mc Pheeter. 1993. Somaclonal variation: Has it proved useful for plant improvement. Acta Hort. 336: 333340. Yunita R 2009. Pemanfaatan Variasi Somaklonal dan Seleksi In vitro dalam Perakitan Tanaman Toleran Cekaman Abiotik. Jurnal Litbang Pertanian. 28(4):142-148

STRESS LINGKUNGAN DAN KULTUR JARINGAN

Oleh : Danny Wibisono Destyana Puspitasari Eko Eri Erika Hardiningsih Faulus Dwi Efendi Marieta Ramadhani (H0711028) (H0711031) (H0711037) (H0711040) (H0711041) (H0711060)

Tugas Mata Kuliah Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
2013