Anda di halaman 1dari 15

SENI DAN PERKEMBANGAN ANAK SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN

Disusun Oleh: Agus Eka Saputra (2012006052) Nanang Arianja (2012006061)

MAHASISWA PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA

2013
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, kepada Allah Subhanahuwat aala atas limpahan rahmat-Nya berupa nikmat iman serta nikmat hidup ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rosulullah Sholohualahiwassalam. Atas terselesaikannya tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik dengan judul SENI DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN. Ucapan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah pendidikan Perkembangan Peserta Didik Dr. Mundilarno, M.Pd. selaku pembimbingan dan terima kasih juga kepada kedua orang tua yang memberikan dukungan dari segi motivasi dan morilnya serta dukungan dari teman-teman sehingga dalam penyusunan tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik tidak mengalami kendala. Saya menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan tugas ini untuk itu saran dan kritikan yang membangun saya harapkan demi terciptanya tugas-tugas yang lebih baik dimasa yang akan datang. ANAK SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP

Yogyakarta, 21 Mei 2013

ii

DAFTAR ISI
Halaman Sampul Kata Pengantar Daftar Isi Bab I. Pendahuluan .. .. i ii

... iii 1 . 1 . 2

A. Latar Belakang

B. Identifikasi Masalah . 2 C. Rumusan Masalah

Bab II. Pembahasan 3 A. Manfaat Seni bagi Anak Usia Dini B. Fase Perkembanagan Anak 3 4 7

C. Implikasi Seni dan Perkembangan terhadap Pendidikan .. Bab III. Penutup Daftar Pustaka

11 12

iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dimuat dalam tulisan Dwi Siswoyo, dkk. (2007:20), menjelaskan bahwa pendidikan adalah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Secara singkat, maka pendidikan dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha pendidik untuk menyalurkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kepada peserta didik.

Pendidikan anak usia dini yang menjadi pondasi bagi pendidikan selanjutnya sudah seharusnya dilakukan secara global (menyeluruh; mengembangkan anak secara menyeluruh dalam segala aspek, termasuk aspek seni) yang biasa disebut sebagai global learning yang meliputi joyful learning, attractive learning, dan active learning. Dengan global learning, semua aspek yang ada pada diri anak dapat berkembang.

Global learning yang seharusnya dilaksanakan tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan. Pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada pengembangan dan kinerja otak kiri saja. Aspek seni cenderung diabaikan. Padahal,bila seseorang tidak punya sense of belong terhadap seni, maka hatinya akan mati (sulit untuk merasa); dengan kata lain hati akan menjadi keras. Dampaknya akan sangat fatal. Itulah mengapa sebagian orang yang di-judge atau diberi label pintar malah menjadi sampah masyarakat (Indonesia marak dengan kasus korupsi).

Aspek seni anak usia dini sepantasnya mendapat sorotan (tidak hanya kognitif). Mengembangkan seni anak dapat dimulai dengan memahami psikologi perkembangan anak yang meliputi tumbuh kembang anak serta tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangan sesuai usia. Pemahaman tentang apa dan bagaimana psikologi perkembangan akan membuat orang tua dan guru lebih mudah mengaplikasikan dalam kegiatan bermain pada anak.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat disimpulkan beberapa masalah yang terjadi antara lain : 1. Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya melaksanakan Global Learning. 2. Pendidikan di Indonesia cenderung mengabaikan aspek seni. 3. Kurangnya kesadaran dalam mengembangkan aspek seni anak usia dini.

C. Rumusan Masalah 1. Apa manfaat seni bagi anak usia dini? 2. Bagaimana fase perkembangan anak? 3. Bagaimana implikasi seni dan perkembangan terhadap pendidikan?

BAB II PEMBAHASAN

A. Manfaat Seni Bagi Anak Usia Dini


Menurut Aylward, Hartley dan Field dalam artikel "Apresiasi Kurikulum Seni untuk Anak Prasekolah Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini", seni memiliki manfaat yang berharga dalam periode kehidupan anak usia dini termasuk meningkatkan rasa percaya diri. Seni juga membantu otak anak-anak tumbuh dan berkembang, yang berimbas pada peningkatan kapasitas belajar. Anak-anak yang diberikan kesempatan untuk belajar dan terlibat dalam seni tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pemahaman akan seni, tapi juga manfaat di bidang bahasa, keterampilan, kesiapan prasekolah, apresiasi musik, percaya diri dan pemahaman akan dirinya sendiri. Karena pekerjaan utama seorang anak adalah bermain, maka memberikan anakanak kesempatan untuk belajar dengan konsep yang sesuai dengan usia dan tahapan perkembangannya.

Seni Dan Pengembangan Diri Rasa percaya diri pada anak usia dini, akan berdampak langsung pada pertumbuhannya. Hal tersebut merupakan bentuk dasar dari bagaimana seorang anak mengenal akan dirinya dan nilai atau hal penting akan dirinya. Karena pada usia remaja, seorang anak mulai mendapatkan rasa sebagai individu, maka periode anak usia dini adalah masa untuk mendukung pengembangan percaya diri yang sehat. Anak-anak kecil biasanya menikmati kegiatan seni dan mendapatkan kepuasan dari partisipasnyai dalam berbagai hal. Membuat sesuatu atas diri mereka sendiri dan merasa bangga akan penciptaannya, dapat mendukung pembentukan rasa percaya diri yang baik. Anak-anak juga belajar mengenai pujian atau kritik oleh guru, orang tua dan anakanak lain mengenai karya yang telah dibuatnya.

Seni Dan Pengetahuan Seni memiliki banyak sisi dan anak-anak muda yang berpartisipasi dalam semua bidang seni dapat mempelajarinya mulai dari tingkat dasar. Mereka reseptif untuk mempelajari
3

mengenai jenis-jenis seni dari awal, seperti piktogram dan petroglyphs, atau mengenal seniman terkenal. Hal ini memberikan anak-anak muda kesempatan untuk mempelajari dengan menciptakan hal-hal seperti piktogram dan petroglyphs.

Seni dan Perkembangan Otak Dengan kemajuan teknologi medis selama dekade terakhir, pemahaman akan pertumbuhan dan perkembangan otak anak terus dikembangkan. Memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menjadi kreatif saat bermain adalah landasan praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan. Seni adalah sebuah jalan untuk membimbing anak-anak muda ke arah kreativitas dan perkembangan otak yang sehat. Bereksperimen dengan media seni, menawarkan otak anak muda kesempatan untuk memperkuat jalur saraf, yang menghasilkan sesuatu kemampuan di bidang kreativitas, imajinasi, integrasi sensorik dan motorik halus. Kemampuan anak untuk bercerita atau menggambarkan suatu hal, dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan perkembangan emosi sosial mereka.

B. Fase Perkembangan Anak

Anak usia 6-12 tahun (Sekolah Dasar) disebut sebagai masa anak-anak (midle childhood). Pada masa inilah disebut sebagai usia matang bagi anak-anak untuk belajar. Hal ini dikarenakan anak-anak menginginkan untuk menguasai kecakapan-kecakapan baru yang diberikan oleh guru di sekolah. Simanjuntak dan Pasaribu (1983: 68) menegaskan bahwa salah satu tanda permulaan periode bersekolah ini ialah sikap anak terhadap keluarga tidak lagi egosentris melainkan objektif dan empiris terhadap dunia luar. Jadi dapat disimpulkan bahwa telah ada sikap intelektualitas sehingga mas ini disebut periode intelektual. Hal ini sejalan dengan pendapat Nasution (1995: 44) bahwa masa usia sekolah ini sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada masa ini secara relatif anak-anak mudah untuk dididik daripada masa sebelumnya dan sesudahnya. Memahami tentang murid berarti memahami gejala atau kondisi yang dimiliki. Untuk mengetahui karakteristik gerak siswa terlebih dahulu perlu untuk memahami tingkat perkembangan siswa menurut tingkat usianya.

Secara umum sifat siswa antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mempunyai sifat patuh terhadap aturan. Kecenderungan untuk memuji diri sendiri. Suka membandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak dapat menyelesaikan tugas, maka tugas tersebut dianggap tidak penting. Realistis, dan rasa ingin tahu yang besar. Kecenderungan melakukan kegiatan kehidupan yang bersifat praktis dan nyata

(Depdikbud, 1978).

Pada jenjang pendidikan SD dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu: 1. Masa kelas rendah SD, kira-kira umur 6 atau 7 sampai umur 9 atau 10.

Secara khusus karakteristik siswa SD kelas rendah (kelas 1, kelas 2, dan kelas 3) adalah sebagai berikut: a) Karakteristik umum (1) Waktu reaksinya lambat (2) Koordinasi otot tidak sempurna (3) Suka berkelahi (4) Gemar bergerak, bermain, memanjat (5) Aktif bersemangat terhadap bunyi-bunyian yang teratur b) Karakteristik kecerdasan (1) Kurangnya kemampuan pemusatan perhatian (2) Kemauan berpikir sangat terbatas (3) Kegemaran untuk mengulangi macam-macam kegiatan c) Karakteristik sosial (1) Hasrat besar terhadap hal-hal yang bersifat drama (2) Berkhayal dan suka meniru (3) Gemar akan keadaan alam (4) Senang akan cerita-cerita (5) Sifat pemberani (6) Senang mendapat pujian

d) Kegiatan gerak yang dilakukan (1) Menirukan.Anak-anakSDpada tingkat rendah, dalam bermain senang menirukan

sesuatu yang dilihatnya. Gerak-gerak apa yang dilihat di TV ataupun gerak-gerak yang secara langsung dilakukan oleh orang lain, teman ataupun binatang. (2) Manipulasi. Anak-anak kelas rendah secara spontan menampilkan gerak-gerak dari objek yang diamatinya. Tetapi dari pengamatan objek tersebut anak menampilkan gerak yang disukainya. 2. Masa kelas tinggi SD, kira-kira umur 9 atau sepuluh sampai umur 12 atau 13. Sedangkan karakteristik anak SD pada tingkat tinggi memiliki sedikit persamaan denga kelas rendah. Karakteristik kelas tinggi yang dimaksud antara lain: a) Karakteristik umum (1) Waktu reaksinya cepat (2) Koordinasi otot sempurna (3) Gemar bergerak dan bermain b) Karakteristik kecerdasan (1) Mempunyai kemampuan pemusatan perhatian (2) Kemampuan berpikir lebih banyak c) Karakteristik sosial (1) Tidak suka pada hal-hal yang bersifat drama (2) Gemar pada lingkungan sosial (3) Senang pada cerita-cerita lingkungan sosial (4) Sifat pemberani tetapi masih menggunakan logika d) Kegiatan gerak yang dilakukan (1) Keseksamaan (precision) Anak memiliki kemamouan dalam menampilkan suatu kegiatan yang lebih tinggi. Jadi mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dari kegiatan yang dilakukan. (2) Artikulasi (articulation) Pada tahap ini anak sudah dapat menyusun atau menata susunan gerak dan objek yang diminatinya. Paling tidak anak mempunyai keberanian untuk mengkoordinasikan gerakgerak yang dibuatnya sendiri. (3) Naturalisasi
6

Di sini anak mempunyai kemampuan psikologis motorik yang lebih tinggi, dan dapat melakukan keterampilan gerak secara urut dan tersusun dengan baik. Dengan kata lain pada tahap ini anak sudah memiliki keterampilan melakukan gerak yang cukup tinggi.

C. Implikasi Seni dan Perkembangan Terhadap Pendidikan 1. Seni Sebagai Bahasa Visual
Anak pada usia SD dalam kehidupannya sangat dekat dengan berkarya seni. Hampir bisa dikatakan bahwa perilaku anak dekat dengan kegiatan berkesenian; tiada hari tanpa berseni. Berseni merupakan kebutuhan anak dalam: a) mengutarakan pendapat, b) berkhayal-berimajinasi, c) bermain, d) belajar memahami bentuk yang ada di sekitar anak, e) merasakankegembiraan, kesedihan, dan rasa keagamaan. Dalam Konteks seni berperan mengemukakan pendapat, tampak ketika anak menyanyi atau menari ataupun menggambar bertema maupun tanpa tema. Karya seni mereka berikan tema Sesuai dengan keinginan pada saat itu; ketika anak membayangkan nikmatnya berada dalam banban ibu, dan ibu menimangnya sambil menyanyikan lagu akan kembali muncul dalam bentuk gambar seorang perempuan dan kain. Ungkapan itu juga dapat berupa celotehan suaran menyanyi dan menirukan orang sedang menimang boneka. Namun, dapat pula berupa gambar tanpa bentuk, yang dimulai dari menggambar pesawat terbang yang indah dengan bentuknya yang khas anak, kemudia sealng beberapa menit gam,bar tersebut dicoret sampai menutup permukaan. Gambar pesawat yang semula sudah tidak nampak lagi. Disinilah ungkapan kesal pesawat musuh menembak pesawat idealnya.

2. Seni Membantu Pertumbuhan Mental

Ternyata contoh di atas merupakan perkembangan symbol rupa yang terjadi pada saat anak ingin menyatakan bentuk yang dipikirkan, dirasakan atau dibayangkan. Bentuk-bentuk
7

tersebut hadir bersamaan dengan perkembangan usia mental anak. Pada suatu ketika anak pertumbuhan badan (biological age) lebih cepat daripada perkembangan pikiran (mental age). Ketidaksejajaran perkembangan anak tersebut menyebabkan pula perkembangan gambar anak dengan anak lain yang normal, oleh karena terjadi variasi gambar anak. Hal ini seiring dengan perkembangan nalar pada diri anak. Bagi anak yang mempunyai perkembangan berbeda, dimana fungsi nalar sudah berkembang lebih cepat dari pada ekspresinya, maka peristiwa tersebut berpengaruh juga dalam gambar. Beberapa figur akan diungkapkan berbeda dengan anak yang lain artinya, anak di suatu tempat tidak akan sama dengan yang lain. Namun, pada dasarnya pada usia SD yang lain, perkembangan emosinya ditandai oleh perkembangan keseniannya. Kondisi ini akan berubah, jika perkembangan penalaran anak juga berubah. Sekitra usia 7 sd 8 tahun (antara kelas 1 dan 2) merupakan usia perkembangan penalaran anak, maka pikiran dan perasaan anak pun mulai berkembang memisah. Hasilnya, terdapat anak yang kuat penalarannya atau kuat perasaannya. Biasanya tipe anak yang kuat penalarannya cenderung menggambar dengan nuansa garis lebih dominan, maka figur atau obyek lukisan ditampilkan lebih relaistik. Sedangkan, anak bertipe perasaan (emosional), ditunjukkan dalam gambar berupa blok blok warna yang kuat; dimana terdapat satu figur yang diberi warna lebih menyolok dari pada yang lain.

Dalam pandangan psikologi humanistik perkembangan anak tidak saja dipengaruhi oleh faktor lingkungan (teori behavioral) seperti teman-teman disekelilingnya, guru kelas, atau pun orang tua saja, melainkan juga berasal dari faktor instink sebagai internal factor (teori psikoanalisis). Biasanya, kedua faktor tersebut berjalan saling mempengaruhi secara berimbang. Misalnya: fisik, intelektual, emosional, dan interpersonal, serta interaksi antara semua faktor, yang mempengaruhi belajar dan motivasi belajar. Psikoanalisis sendiri menyatakan bahwa dalam jiwa manusia berkembang kognisi, afeksi dan psikomotorik. Barangkali perkembangan ketiga ranah kejiwaan pun juga mempengaruhi perkembangan mental dan selanjutnya berpengaruh terhadap cara cipta seni rupa. Psikologi humanistik sendiri merupakan cabang Psikologi yang memfokuskan pandangannya tentang teori persepsi, respon terhadap kebutuhan internal individu, dan dorongan aktualisasi diri, atau menjadi apapun yang is inginkan (Maslow, dalam Eggen & Kauchak,1997). Selanjutnya perkembangan intelektual, emosional maupun persepsi dapat dikategorikan sebagai perkembangan mental. Dalam skema pertumbuhan anak, terurai bahwa bisa terjadi
8

urutan perkembangan usia yang tidak seimbang. Usia kronologis (yaitu usia berdasarkan urutan yang dihitung sejak lahir) anak berusia 6 tahun berkembang terus sesuai dengan tahun. Usia kronologis ini kebeltulan mempunyai perkembangan sejajar dan seiring dengan usia mental. Namun, pada usia pertumbuhan, badan anak kurang normal dibanding dengan kedua usia di atas, mungkin kerdil, atau bahkan lebih cepat matang kedewasaannya. Perkembangan usia ini sedikit banyak mempengaruhi pola berkarya seni rupa. Ketika usia pertumbuhan badan normal belum tentu akan diikuti oleh perkembangan usia mental. Mungkin hambatan psikologis keluarga dengan berbagai aturan pergaulan dalam keluarga terlampau ketat maka perkembangan mental akan berbeda dengan anak yang hidup dalam keluarega sesuai dengan adat dan pergaulan dengan masyarakat lain. Jika selanjutnya dikaitkan dengan kebutuhan penciptaan karya seni, maka respon seseorang dipegaruhi oleh faktor internal, maupun eksternal. Secara harfiah, anak ingin memvisualkan atau mengaktualisasikan dirinya dalam konteks tanggapan terhadap lingkungan atau obyek. Proses ini bias dianalisa , bahwa dalam proses berkarya, kinerja anak dikoordinasi oleh otak dan otak sendiri akan bekerja karena Skema 1, Pertumbuhan Anak dorongan dari mata. Mata mencari bentuk yang mungkin bisa diserahkan kepada otak untuk diubah, dari bentuk menuju memori dan diungkapkan menjadi gambar. Lihat gambar sebelah, fungsi mata adalah mencari dan mengangkat obyek yang mungkin dapat menyentuh hati dan pikiran. Hasil pengamatan terhadap obyek diserahkan kepada otak untuk diramu dan dimasak menjadi pengetahuan baru dan setelah itu meminta tangan menangani kebutuhan otak dalam mengungkapkan ide dan gagasannya. Pada saat fungsi otak bergerak, dimana diantaranya otak kiri bertugas mengkoordinasikan kerja teratur dan rasional, untuk mengangkap permasalahan dan mengurai secara porporsional. Otak kanan bertugas mengkoordinasikan tugas yang bersifat emosional: artistik, intuitif maupun yang lain sehingga anak berani mengemukakan tanggapannya.

Anak yang mempunyai kecerdasan emosional kinerja tangan lebih terampil dan tanpa takut mengembangkan ke dlam bentuk tugas seharihari yang rutin. Dengan demikian proses menggambar merupakan kinerja bersama dari otak kanan maupun kiri. Kecerdasan visual yang ada dalam pelajaran seni rupa sebenarnya dibutuhkan oleh anak dalam menganggapi lingkungan. Berarti belajar seni rupa adalah upaya untuk memahami sekeliling melalui latihan daya ingat.
9

Proses memahami lingkungan yang berkaitan dengan otak melalui citra-citra asosiatif dilakukan komunikasi secara metaforis-simbolis. Menurut Dilts (1983; dalam DePorter et al., 1999:68), gerakan mata selama belajar dan berpikir tenkat pada modatitas visual, auditonal, dan kinestetik. Dengan kata lain, mata bergerak menurut cara otak mengakses informasi. Pada umumnya, ketika mata bergerak naik, maka kita sedang menciptakan atau mengingat citra.

3. Seni Membantu Belajar Bidang yang Lain.

Sebelum menguraikan lebih detail, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu (1) dalam mendidik dan membimbing anak diperlukan pengembangan kecerdasan, yang berupa: lingusitik (bahasa), matematika, visual / spasial, kinestetik / perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal maupun intuisi. Kecerdasan ini akan dimunculkan oleh setiap mata pelajaran, namun demikian mempunyai karakteristik tugas; misalnya lingusitik mengembangkan keberanian tampil mengemukakan pendapat. Jika seorang anak tidak berani tampil maka pengetahuannya pun relatif tidak berkembang, maka kesemuanya harus dilatihkan agar berjalan beriringan.

10

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Dari makalah tersebut beberapa hal dapat disimpulkan yaitu: 1. Berbagai manfaat seni dapat diperoleh oleh anak usia dini seperti halnya dalam bidang: Seni dan perkembangan dini, Seni dan pengetahuan, Seni dan perkembangan otak.

2. Anak memiliki beberapa fase pertumbuhan, sikap yang khas dan aktifitas gerak. 3. Implikasi seni dan pengaruhnya terhadap pendidikan yaitu: Seni sebagai bahasa visual, Seni membantu pertumbuhan mental, Seni menunjang bidang lain.

11

DAFTAR PUSTAKA
Siswoyo, Dwi. 2007. Kaidah-Kaidah Pendidikan.Jakarta: Triwarsana Simanjuntak, B. Dan Pasaribu, I.L. 1983. Psikologi Perkembangan (Dasar Psikologi Kriminil).Bandung: Tarsito Purwatiningsih. dan Ninik Harini. 1998. Pendidikan Seni Tari dan Drama.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UU Sisdiknas Tahun 2003
http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=893_Pengaruh-

Pendidikan-Seni-terhadap-Perkembangan-Otak-Anak 15-05-2013 15.12


http://edusogem.blogspot.com/2011/02/pengertian-seni-dan-peran-dalam.html 16-05-

2013 19.30
http://www.pengajarplus.com/berita-pendidikan/742-manfaat-seni-bagi-anak-usia-

dini.html 20-05-2013 19.16

12