Anda di halaman 1dari 17

BAHASA INDONESIA

PENGGUNAAN KAIDAH BAHASA INDONESIA DALAM TATA PEMBENTUKAN KATA

OLEH:
NUR ISMIYATI (1211040018) NORJANAH (1211040019)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, karena limpahan rahmat, nikmat dan hidayah-Nyalah maka makalah ini dapat diselesaikan. Tidak lupa pula kiriman salam dan shalawat teruntuk junjungan Nabi besar Muhammad SAW, pembawa terang bagi gelap umatnya. Makalah tentang Tata Pembentukan Kata merupakan tugas kelompok dalam mata kuliah Bahasa Indonesia yang disusun guna mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang lebih aktif dan efektif. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah serta rekan sesama mahasiswa atas apresiasi dan partisipasi yang telah diberikan. Dengan demikian, semoga makalah sederhana ini mampu mewadahi beberapa manfaat sesuai tujuan penyusunannya. Salah satunya yaitu mampu memperdalam pengetahuan dan menambah wawasan penyaji dan pembaca. Demikianpun

penulis menyadari segala kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan dan penyajian makalah ini. karena itu, penulis sangat mengharapakan tutur kritik yang membangun dan sapaan saran yang bermanfaat bagi semua orang, khususnya bagi para mahasiswa.

Makassar, 1 Mei 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................... i

Kata pengantar ...................................................................................................... ii

Daftar Isi................................................................................................................ iii

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2 C. Tujuan ....................................................................................................... 2 D. Manfaat ..................................................................................................... 2

BAB II Pembahasan A. Tata Pembentukan Kata ............................................................................ 4

BAB III Penutup A. Kesimpulan ............................................................................................... 13 B. Kritik dan Saran ........................................................................................ 13

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 14

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penggunaan kosakata yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia harus digunakan dalam penulisan karya ilmiah, agar dapat membentuk kalimat yang efektif dan tetap memegang peranan penting dalam aspek komunikasi untuk mengekspresikan pikiran dan menyampaikan hasil penelitian dengan baik dan benar. Oleh karena itu, penulis perlu memiliki pemahaman tentang bentuk-bentuk kata yang benar atau baku, yaitu berdasarkan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Anshari dkk, 2011:53). Dalam konteks tersebut, terdapat beberapa pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Pada umumnya, kata yang dibentuk dapat dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda. Secara umum, ada empat macam kata yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah, diantaranya kata dasar, kata imbuhan, kata ulang, dan kata gabung atau gabungan kosa kata (Jahrir, 2012:67). Berdasarkan hal yang dikemukakan di atas, penulis akan membahas tentang tata pembentukan kata secara rinci yang dapat mencakup empat macam bentuk kata, yaitu kata dasar, kata imbuhan, kata ulang, dan kata gabung atau gabungan kosakata. Hal tersebut akan dibahas untuk memberikan pengetahuan bagi

pembaca tentang tata pembentukan kata yang benar khususnya bagi penulis karya ilmiah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan pada makalah ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tata pembentukan kata yang benar dalam bahasa Indonesia?

C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini sebagai berkut: 1. Menjelaskan tata pembentukan kata yang benar dalam bahasa Indonesia. 2. Memenuhi tugas makalah yang diberikanDosen mata kuliah Bahasa Indonesia. 3. Memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai kaidah bahasa Indonesia dalam tata pembentukan kata.

D. Manfaat Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalaah ini, penulis mengemukakan manfaat yang dapat diperoleh sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis Dengan adanya penulisan makalah ini, dapat memberikan wawasan atau pengetahuan bagi pembaca tentang tata pembentukan kata dalam bahasa

Indonesia khususnya dalam penulisan karya ilmiah. Selain itu, penulis dapat memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. 2. Manfaat Teoritis Dengan adanya penulisan makalah ini, penulis dapat memberikan pengetahuan dan referensi bagi peserta didik dalam mengembangkan ilmu bahasa Indonesia.Selain itu, dapat memberikan pengetahuan bagi penulis karya ilmiah dalam penggunaan tata pembentukan kata.

BAB II PEMBAHASAN

A. Tata Pembentukan Kata Bahasa memiliki kriteria secara sistematis, yang harus mengikuti aturanaturan atau kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Dengan mengikuti aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang benar akan menghasilkan bahasa yang teratur. Hal ini dikarenakan, kaidah bahasa Indonesia telah dirumuskan secara sistematis untuk membentuk kata yang benar tanpa ada unsur yang memberikan makna bahasa yang salah atau fragmentaris (Wardihan, 2004:7). Berdasarkan aturan yang berlaku dalam bahasa Indonesia, kosakata dapat dibentuk dengan cara memberikan imbuhan, pengulangan, penggabungan imbuhan, serta penggabungan kata dasar , atau penggabungan unsur terikat dan kata dasar (Anshari dkk, 2011:53). Terdapat beberapa konsep dan istilah yang digunakan sebagai pedoman dalam pembentukan kata. Namun, istilah-istilah tersebut tidak terlepas dari proses pembentukan kata yang telah disebutkan yaitu pengimbuhan, pengulangan, penggabungan imbuhan, serta penggabungan kata dasar , atau penggabungan unsur terikat dan kata dasar (Alwi dkk, 2003:28).

Adapun uraian beberapa konsep dan istilah Pembentukan Kata sebagai berikut: 1) Morfem, Alomorf, dan Kata Morfem adalah satuan terkecil yang terbentuk dalam sebuah kata, dimana kata tersebut dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil sampai membentuk kata dasar (Alwi dkk, 2003:28). Kata memperindah dapat kita bagi atau pisahkan menjadi tiga bagian, yaitu mem-perindah, per-indah, dan indah. Jika kata indah dipisahkan menjadi in- dan dah masing-masing tidak memiliki makna, dengan demikian bentuk memperindah, per-indah, dan indah disebut morfem(Alwi dkk, 2003:29). Dalam pembagian bentuk morfem terbagi atas dua bagian yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah satuan yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna, seperti kata indah atau dengan kata lain indah merupakan kata dasar. Sedangkan morfem terikat adalah satuan yang melekat pada bentuk lain, misalnya mem- dan per pada contoh kata memperindah. Namun dalam hal ini, morfem terikat bukanlah sebuah kata berbeda dengan morfem bebas yang merupakan bentuk kata dasar. Dalam bahasa, kata dapat terdiri dari satu morfem atau lebih.Contoh kata memperindah terbentuk dari tiga morfem, yaitu morfem bebas yang terdiri dari kata indah dan morfem terikat yang terbentuk dari memdan per- (Alwi dkk, 2003:29).

Adapun contoh lain dari morfem sebagai berikut: (Alwi dkk, 2003:29) memakai morfem bebas : pakai morfem terikat : memmencuci morfem bebas : cuci morfem terikat : menpengeluaran morfem bebas : keluar morfem terikat : peng-an Alomorf adalah wujud anggota satu morfem yang berbeda, namun memiliki fungsi dan makna yang sama. Misalnya pada contoh diatas, bentuk men- dan mem- mempunyai fungsi dan makna yang sama, yaitu sebagai verba aktif. Perbedaan dari morfem tersebut adalah wujud yang mengikuti fonemnya, seperti kata memakai mengikuti fonem /p/ dari kata dasar pakai maka dibentuk kata membawa. Begitu pula dengan kata mencuci yang mengikuti fonem /c/ dari kata dasar dapat maka dibentuk kata mendapat , kedua bentuk tersebut memiliki makna yang sama yaitu melakukan. (Alwi dkk, 2003:29). Bentuk mem- dan men- adalah dua alomorf dari satu morfem, yaitu{meng-}. Selain dari mem- dan men-, terdapat alomorf lainnya seperti meny-,meng-, me-, dan menge- yang merupakan satu kesatuan dari morfem meng- (Alwi dkk, 2003:29). Uraian tentang morfem sudah memberikan informasi tentang kata. Kata merupakan satuan bahasa yang terbentuk dari satu morfem atau lebih. (Wardihan, 2004:25).

Contohnya pada kata mereka yang dibentuk dari satu morfem bebas yaitu morfem mereka. Contoh lain pada kata bertani yang dibentuk dari morfem bebas, yaitu tani dan morfem terikat, yaitu ber-i (Wardihan, 2004:25). 2) Afiks, Prefiks, Sufiks, infiks, dan Konfiks Sebuah kata yang terbentuk dari kata lain secara umum diberi tambahan bentuk pada kata dasarnya (Alwi dkk, 2003:31) Mempelajari proses permbentukan kata-kata dan metode pembubuhan afiks merupakan kunci untuk memahami makna kata-kata turunan dan belajar membaca teks bahasa Indonesia. (Jahrir, 2012:68) Afiks (imbuhan) adalah bentuk morfem terikat yang digunakan untuk menurunkan kata dasar yang dapat mengubah makna dan membentuk sebuah kata baru. Jika afiks berdiri sendiri maka tidak akan memiliki makna, maka dari itu afiks harus ditambahkan pada satuan kata atau kata dasar. Afiks memiliki beberapa istilah berdasarkan letaknya yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks (Jahrir, 2012:68). Prefiks (awalan) adalah afiks yang ditambahkan pada kata dasar yang terletak didepan kata dasar tersebut, sehingga membentuk kata baru dan memiliki arti yang berbeda dengan kata sebelum diberi imbuhan prefiks (Jahrir, 2012:68). Adapun bentuk dari prefiks adalah me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per, dan se(Jahrir, 2012:69). Sufiks (akhiran) adalah afiks yang ditambahkan pada kata dasar yang terletak diakhir kata dasar tersebut, sehingga membentuk kata baru dan memiliki arti yang berbeda dengan kata sebelum diberi imbuhan (Jahrir, 2012:68). Adapun bentuk dari sufiks adalah -kan, -an, -i, -lah, dan -nya (Jahrir, 2012:69).
7

Konfiks adalah gabungan dari prefiks dan sufiks.Secara bersamaan prefiks dan sufiks ditambahkan dalam satu kata dasar, sehingga membentuk kata baru dan mengandung arti yang berbeda. Adapun bentuk dari konfiks adalah ber-an, di-kan dan di-i, me-kan dan me-i, dan lain-lain (Jahrir, 2012:69). Selain dari macam-macam afiks diatas terdapat afiks atau imbuhan spesifik yang dipakai dalam kata-kata tertentu (serapan asing).Bentuknya itu adalah akhiran -man, -wan, -wati dan sisipan yang biasa disebut dengan infiks (Jahrir, 2012:69). Infiks (sisipan) adalah afiks yang ditambahkan pada kata dasar yang terletak ditengah kata dasar tersebut, sehingga membentuk kata baru dan mengandung arti yang berbeda dengan kata sebelum diberi imbuhan (Alwi dkk, 2003:31-32) Bentuk dari infiks dapat berupa morfem -in-, -em-, -el-, dan -er- (Jahrir, 2012:69). 3) Kata Gabung Kata gabung atau gabungan kata adalah dua atau lebih kata yang digabung namun tetap menjadi satu kesatuan arti (Jahrir, 2012:74). Aturan penulisan kata gabung atau gabungan kata sebagai berikut: 1. Gabungan satu kata atau lebih tanpa imbuhan ditulis terpisah (jahrir, 2012:74). Contoh : a. kantor pos b. luar negeri c. tata bahasa

d. kereta api ekspress e. buku pelajaran bahasa Indonesia 2. Gabungan satu kata atau lebih yang telah membentuk kata baru ditulis secara serangkai (Jahrir, 2012:74). Contoh : a. matahari b. hulubalang c. apabila d. barangkali e. daripada f. bumiputera g. bilamana

3. Kata gabung yang diberikan imbuhan awalan dan akhiran maka dapat ditulis serangkai menjadi sebuah kata (Jahrir, 2012:74). Contoh : a. melipatgandakan b. perkeretapian c. ketidakadilan d. dimejahijaukan e. pembumihangusan

4. Kata gabung yang terdiri dari salah satu unsur yang tidak dapat berdiri sendiri (biasanya kata pertama) dapat ditulis serangkai dengan kata yang lain (Jahrir, 2012:75).

Contoh : a. antarkota b. mahasiswa c. prakata d. nonbaku e. internasional f. multinasional g. semipermanen h. saptakrida i. dwiwarna j. caturtunggal k. purnawirawan

5. Bentuk-bentuk kata yang terdiri dari kata-kata yang saling berpasangan (bertuturan) ditulis terpisah dari pasangannya.(Jahrir, 2012:75). Contoh : a. pesta pora b. tua renta c. kering kerontang d. sebar bugar e. muda belia Kata Gabung Serapan Kata gabung serapan adalah gabungan kata yang diperoleh dari bahasa asing dan ditulis secara serangkai (Jahrir, 2012:76). Contoh : 1. 2. 3. pra- (prasejrah, prasangka, praduga,dll.) adi- (adikarya, adikuasa, dll.) eka- (ekatransitif, ekajaya, dll.)

10

4. 5. 6. 7. 8. 9.

antar- (antarprovinsi, antarkota, antarnegara, dll.) non- (nonblok, nonformal, nonmigas, dll.) in- (informal, dll.) dwi- (dwitransitif, dll.) panca- (pancasila, dll.) tri- (tritunggal, dll.)

10. sapta- (saptaprasetya, dll.) 4) Kata Ulang Kata ulang adalah proses pengulangan kata atau unsur kata (Wikipedia, 2013). 1. Jenis-jenis kata ulang a. Dwilingga (kata ulang murni atau kata ulang utuh), adalah perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar (Jahrir, 2012:76). Contoh : ibu-ibu dan rumah-rumah b. Dwipurwa (kata ulang sebagian), adalah proses pengulangan sebagian atau seluruh suku pertama sebuah kata (Wikipedia, 2013). Contoh : lelaki dan tetangga c. Kata ulang berubah bunyi, adalah perulangan kata yang dialami oleh seluruh kata dasar namun mengalami perubahan fonem pada salah satu kata dasarnya (Jahrir, 2012:77). Contoh : gerak-gerik dan sayur-mayur

11

d. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, adalah keseluruhan kata ulang yang salah satu komponennya terdiri atas imbuhan : prefiks, sufiks, atau infiks (Jahrir, 2012:77). Contoh : Berjalan-jalan dan tanam-tanaman e. Kata ulang semu, adalah kata yang hanya ditemukan dalam kata ulang tersebut. Apabila tidak ada pengulangan kata maka unsur kata tersebut tidak memiliki arti atau dapat memiliki arti lain jika kata ulang tersebut tidak saling berhubungan (Jahrir, 2012:77). . Contoh : kura-kura dan kupu-kupu.

12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan makalah ini, penulis memberikan kesimpulan tentang tata pembentukan kata dalam penulisan karya ilmiah atau penulisan lainnya. Pembentukan kata perlu diperhatikan dan dipahami cara penggunaan dan penulisannya, khususnya bagi penulis karya ilmiah dalam setiap bahasa yang digunakan dari kata-kata yang dibentuk berdasarkan aturan dan kaidah yang berlaku.. Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan cara menambahkan imbuhan pada kata dasar, pengulangan kata, penggabungan imbuhan dan gabungan pengulangan, serta penggabungan kata dasar, atau penggabungan unsur terikat dan kata dasar. B. Kritik dan Saran Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, penulis memberikan saran kepada pembaca untuk teliti dan cermat dalam menggunakan bentuk-bentuk kata yang membantu dalam penulisan karya ilmiah ataupun penulisan lainnya.Selain itu, penulis juga menyadari kekurangan dalam penulisan makalah ini.Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan ktitik dan saran dari pembaca agar dapat memberi motivasi kepada penulis untuk mengembangkan pengetahuannya dan memperbaiki penulisan makalah selanjutnya.

13

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Anonim A. 2013. Dwipurwa. http://id.wikipedia.org/wiki/Dwipurwa. 5 Mei 2013. Anonim B. 2013. Kata Ulang. http://id.wikipedia.org/wiki/KataUlang. 5 Mei 2013. Anshari, Abdullah Dola, Ahyar Anwar, Akmal Hamsa, Salam, Juanda, Ramly, Mayong Maman, Azis, Nensilianti, Idawati, Helena, Nurwaty Syam, Asia, Suarni Syamsaguni, Muhammad Rapi, Achmad Tolla, Muhammad, Johar Amir, Sulastriningsih, Wardihan, Syamsudduha, Kembong Daeng, Enung Maria, Taufik, Usman, Bachtiar Syamsuddin, Andi Fatimah Yunus, Hajrah, dan Faisal. 2011. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia. Makassar: UNM. Jahrir, Andi Sahtiani. 2012. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia. Makassar: UNM. Wardihan. 2004. Bahan Ajar Pengantar Linguistik. Makassar: UNM.

14