Anda di halaman 1dari 11

PITYRIASIS ROSEA

I.

DEFINISI Istilah Pityriasis Rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun 1798 dengan nama Roseola Annulata, kemudian pada tahun 1860, Gilbert memberi nama Pitiriasis Rosea yang berarti berarti merah muda (rosea) dan bersisik (pityriasis).1 Pityriasis rosea adalah sebuah bentuk peradangan akut, erupsi kulit yang padaawalnya muncul seperti plak bersisik bentuk oval pada badan (herald patch),berbentuk eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi sekunder yang mempunyai gambaran khas, asimtomatik, dan merupakan penyakit kulit yang dapat sembuh sendiri.Lesi pertama yang muncul akan diikuti kemunculan lesi-lesi berikutnya dalam hitungan hari hingga beberapa minggu kemudianyang berlokasi sepanjang lipatan tungkai (Christmas tree pattern).Pityriasis rosea sering menyerang para remaja dan usia muda dan penyebabnya berhubungan dengan reaksi virus herpes 7 (HHV 7) dan terkadang HHV 6.2 Menurut Andrew (2006), Pitiriasis Rosea adalah peradangan kulit berupa eksantema yang ditandai dengan lesi makula-papula berwarna kemerahan ( salmon colored ) berbentuk oval, circinate tertutup skuama collarette, soliter dan lama kelamaan menjadi konfluen.3

II.

EPIDEMIOLOGI Sebagianbesar kasuspityriasis roseaterjadiantara usia10 dan35 tahun danhal ini jarang terjadipada masa bayi,anak usia diniatau usia tua.Prevalensi penyakit ini pada wanita sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Kerentanan terhadappenyakit initampaknya tidakdipengaruhi oleh ras maupun bangsa.1 Pityriasis roseadilaporkan dapat terjadi dalamsemuaras diseluruh dunia,terlepas dari keadaaniklim suatu negara.kejadian tahunanrata-rata padasuatu pusatdilaporkan menjadi0,16persen (158,9 kasus per100.000 orang-tahun). Meskpiun

pityriasisroseabiasanyadianggaplebih sering terjadipada musim semi danmusim gugurdidaerah beriklim sedang, Berbagai variasi musimbelumdapat dibuktikan dalamstudiyang dilakukandi bagian negara lain.2

III.

ETIOLOGI Penyebab terjadinya Pityriasis rosea belum diketahui, tetapi diduga berhubungan dengan virus, karena adanya gejala prodromal yangbiasa muncul pada infeksi virus bersamaan dengan munculnya bercak kemerahan di kulit.Human herpes virus 7 telah dikemukakan sebagai penyebabnya, namun beberapa penelitian telah gagal menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan.4 Penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini terfokus pada peranan HHV-6 dan HHV-7 pada pitiriasis rosea. Dalam suatupenelitian, partikel HHV telah terdeteksi pada 70% pasien penderita pitiriasis rosea. Partikel-partikel virus ini ditemukan dalam jumlah banyak diantara serat-serat kolagen dan pembuluh-pembuluh darah pada lapisan dermis atas dan bawah. Partikel virus ini juga berada selang-seling diantara keratinosit dekat dengan perbatasan dermal-epidermal.4 Watanabe et al melakukan penelitian dan mempercayai bahwa Pitiriasis Rosea disebabkan oleh virus. Mereka melakukan replikasi aktif dari Herpes Virus ( HHV )-6 dan -7 pada sel mononuklear dari kulit yang mengandung lesi, kemudian mengidentifikasi virus pada sampel serum penderita. Jadi, Pitiriasis Rosea ini merupakan reaksi sekunder dari reaktivasi virus yang didapatkan pada masa lampau dan menetap pada fase laten sebagai sel mononuklear. Pitiriasis Rosea juga dapat disebabkan oleh obat-obatan atau logam, misalnya arsenik, bismut, emas, methopromazine, metronidazole, barbiturat, klonidin, kaptopril dan ketotifen.3

IV.

PATOGENESIS Patogenesis pityriasis rosea masih belum diketahu. Berdasarkan sejarahnya, pityriasis rosea diduga disebabkan oleh agen infeksius, dikarenakan kemiripan ruamnya dengan ruam yang diakibatkan oleh virus, jarang terdapat kasus berulang diduga karena respon imun yang bertahan lama setelah episode pertama, kejadiannya yang terjadi pada musim-musim tertentu, terjadinya di beberapa komunitas, dan timbulnya gejala seperti flu pada beberapa pasien.2 Bukti ilmiah yang didapatkan bahwa Pityriasis rosea adalah kelainan kulit yang dihubungkan dengan reaktivasi HHV 7 dan HHV 6 (kadang-kadang oleh keduanya). RNA messenger pada HHV 7 dan sedikit HHV 6, serta protein pada HHV 7 dan sedikit HHV 6 didapatkan pada leukosit-leukosit yang menyebar pada perivascular pasien pityriasis rosea dan tidak ditemukan pada orang sehat maupun pasien penyakit peradangan kulit yang lain. DNA HHV 7 dan HHV 6 ditemukan pada saliva pasien
2

pityriasis rosea yang tidak didapatkan pada infeksi primer HHV 7 dan HHV 6.Diambil secara bersamaan, data ini menguatkan pernyataan bahwa pityriasis rosea merupakan sistemik reaktivasi dari HHV 6 dan HHV 7.Pasien-pasien pityriasis rosea viremik, yang mungkin dapat menjelaskan hubungannya dengan gejala seperti flu pada beberapa pasien dan mereka secara umum tidak memiliki sel-sel epitel yang terinfeksi pada lesi kulitnya, yang menjelaskan sulitnya virus-virus ini dideteksi oleh mikroskop electron dan PCR.2

V.

GEJALA KLINIS Tempat predileksi Pitiriasis Rosea adalah badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas sehingga membentuk seperti gambaran pakaian renang.Sinar matahari mempengaruhi distribusi lesi sekunder, lesi dapat terjadi pada daerah yang terkena sinar matahari, tetapi pada beberapa kasus, sinar matahari melindungi kulit dari Pitiriasis Rosea. Pada 75% penderita biasanya timbul gatal didaerah lesi dan gatal berat pada 25% penderita.3 Khasnya, lesi berukuran 2-10 cm berbentuk bulat hingga oval, warna merahsalmon, tampak collarettepada tepinya, lesinya biasa disebut herald patch, muncul secara tiba-tiba.Collaretteberarti bahwa skuama terdapat pada tepi lesi dan menghilang/berkurang ditengah lesi.Lesi dapat muncul dimana saja, tetapi lokasi tersering adalah di tungkai dan paha atas.Pada tingkat ini, banyak pasien mengira bahwa mereka mengidap penyakit kurap. Lesi yang muncul biasanya asimtomatik tapi gatal.3,5

Herald Patch

Gambar 1.Herald patch.1

Skuama

Gambar 2. Plak primer tipikal ( herald patch ) Menunjukkan bentuk lonjong dengan skuama halus di tepi bagian dalam plak.6

Gambar 3. Herald patch pada abdomen kanan.1

Dalam waktu beberapa hari hingga minggu (sekitar 7 hingga 14 hari) penyakit ini memasuki fase erupsi, lesi-lesi kecil muncul dan mencapai jumlah maksimumnya dalam 1 hingga 2 minggu.Lesi tersebut susunannya sejajar dengan tulang rusuk sehingga terlihat seperti pohon cemara terbalik (Christmas tree pattern).Ruam tersebut timbul serentak atau dalam beberapa hari. Tempat predileksi pada badan, lengan atas, dan paha atas sehingga terlihat seperti pakaian renang wanita jaman dahulu.3,5

Gambar 4. distribusi christmas tree pattern.7

Lesi terdiri atas eritema dan skuama halus dipinggir, terkadang pityriasis rosea dapat berbentuk urtika, vesikel, dan papul yang biasa terdapat pada anak-anak.biasa ditemukan adanya infeksi saluran pernapasan atas pada pasien pityriasis rosea.2 Gejala atipikalterjadi pada 20% penderita Pitiriasis Rosea.Ditemukannya lesi yang tidak sesuai dengan lesi pada Pitiriasis Rosea pada umunya. Berupa tidak ditemukannya herald patch atau berjumlah 2 atau multipel. Bentuk lesi lebih bervariasi berupa urtika, eritema multiformis, purpura, pustul dan vesikuler.Distribusi lesi biasanya menyebar ke daerah aksila, inguinal, wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Adanya gejala atipikal membuat diagnosis dari Pitiriasis Rosea menjadi lebih sulit untuk ditegakkan sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan.1

VI.

DIAGNOSIS Untuk menegakkan diagnosis pada pityriasis rosea, bisa dengan manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang pada pityriasis rosea dapat menggunakan KOH (untuk membedakan dari tinea corporis) dan biopsi kulit.8 Gambaran histopatologik dari Pitiriasis Rosea tidak spesifik sehingga penderita dengan Pitiriasis Rosea tidak perlu dilakukan biopsi lesi untuk menengakkan diagnosis.Pemeriksaan histopatologi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis Pitiriasis Rosea dengan gejala atipikal.Pada lapisan epidermis ditemukan adanya
5

parakeratosis fokal, hiperplasia, spongiosis fokal, eksositosis limfosit, akantosis ringan dan menghilang atau menipisnya lapisan granuler. Sedangkan pada dermis ditemukan adanya ekstravasasi eritrosit serta beberapa monosit.2,6

Gambar 5. Gambaran histologik non spesifik tipikal dari Pitiriasis Rosea, menunjukkan parakeratosis, hilangnya lapisan granular, akantosis ringan, spongiosis, dan infiltrat limfohistiosit pada dermis superficial.2

VII. DIAGNOSIS BANDING 1. Sifilis sekunder Adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan lanjutan dari sifilis primer yang timbul setelah 6 bulan timbulnya chancre.Gejala klinisnya berupa lesi kulit dan lesi mukosa. Lesi kulitnya non purpura, makula, papul, pustul atau kombinasi, walaupun umumnya makulopapular lebih sering muncul disebut makula sifilitika.2

Gambar 6.Sifilis Sekunder. Dikutip dari kepustakaan 7 6

Perbedaannya dengan Pitiriasis Rosea adalah sifilis memiliki riwayat primary chancre(makula eritem yang berkembang menjadi papul dan pecah sehingga mengalami ulserasi di tengah) berupa tidak ada herald patch, limfadenopati, lesi melibatkan telapak tangan dan telapak kaki, dari tes laboratorium VDRL (+).2

2.

Tinea korporis Adalah lesi kulit yang disebabkan oleh dermatofit Trichophyton rubrum pada daerah muka, tangan, trunkus atau ekstremitas.Gejala klinisnya adalah gatal, eritema yang berbentuk cincin dengan pinggir berskuama dan penyembuhan di bagian tengah2. Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Tinea korporis, skuamanya halus berada di tepi, plak tidak berbentuk oval, dari pemeriksaan penunjang didapatkan hifa panjang pada pemeriksaan KOH 10%.2,10

Gambar 7.Tinea Corporis. Dikutip dari kepustakaan 7

3.

Dermatitis numular Dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak lonjong, berbatas tegas dengan effloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing).Penderita dermatitis numularis umumnya mengeluh sangat gatal. Lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel (0,3-1,0 cm), kemudian membesar dengan cara berkonfluensi atau meluas ke samping, membentuk satu lesi karakteristik seperti uang logam (coin), eritematosa, sedikit edematosa, dan berbatas tegas.2

Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Dermatitis Numuler, lesi berbentuk bulat, tidak oval, papul berukuran milier dan didominasi vesikel serta tidak berskuama.2

Gambar 8. Numular dermatitis. Dikutip dari kepustakaan 2

4.

Psoriasis gutata Psoriasis tipe gutata biasanya terlihat pada anak-anak dan dewasa dan mungkin merupakan tanda pertama dari penyakit, selalu dipicu oleh Streptococcal tonsillitis.Beberapa makula kecil muncul tiba-tiba pada tungkai dan secara tiba-tiba menjadi bersisik.Ruamnya biasa bersih dalam beberapa bulan kemudian tetapi psoriasis tipe plak dapat muncul kemudian. Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Psoriasis gutata, aksis panjang lesi tidak sejajar dengan garis kulit, skuama tebal.2

Gambar9. Psoriasis gutata. Dikutip dari kepustakaan 9 8

VIII. PENATALAKSANAAN 1. Penatalaksanaan Umum Jaga hygiene dan sanitasi Jangan menggaruk Mencuci dan membersihkan badan dengan bahan yang lembut Mandi dengan sabun yang mengandung moistirizer Menjemur dibawah sinar matahari 2. Penatalaksanaan Khusus Topikal Untuk mengurangi rasa gatal dapat menggunakan zink oksida, kalamin losion atau 0,25% mentol. Pada kasus yang lebih berat dengan lesi yang luas dan gatal yang hebat dapat diberikan glukokortikoid topikal kerja menengah ( bethametasone dipropionate 0,025% ointment2 kali sehari ).2 Sistemik - Pemberian antihistamin oral sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa gatal.Untuk gejala yang berat dengan serangan akut dapat diberikan kortikosteroid sistemik atau pemberian triamsinolon diasetat atau asetonid 20-40 mg yang diberikan secara intramuskuler.3 - Penggunaan eritromisin masih menjadi kontroversial. eritromisin oral pernah dilaporkan cukup berhasil pada penderita Pitiriasis Rosea yang diberikan selama 2 minggu. Dari suatu penelitian menyebutkan bahwa 73% dari 90 penderita pitiriasis rosea yang mendapat eritromisin oral mengalami kemajuan dalam perbaikan
1

lesi.

Eritomisin

diduga

mempunyai efek sebagai anti inflamasi.

- Asiklovir dapat diberikan untuk mempercepat penyembuhan. Dosis yang dapat diberikan 5x800mg selama 1 minggu.Pemakaian sinar radiasi ultraviolet B atau sinar matahari alami dapat mengurangi rasa gatal dan menguranngu lesi.2 - Penggunaan sinar B lebih ditujukan pada penderita dengan lesi yang luas, karena radiasi sinar ultraviolet B ( UVB ) dapat menimbulkan hiperpigmentasi post inflamasi.2

IX.

PROGNOSIS Pityriasis rosea adalah kondisi yang jinak dan akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 2 hingga 3 bulan. Biasanya pityriasis rosea akan berulang pada 10 % pasien. Semua pasien denganpityriasis roseaakan mengalami resolusi spontan yang sempurna.durasipenyakit ini biasanyabervariasi antara4 dan 10minggu, denganawal minggu pertamadikaitkan denganlesiinflamasi kulit yang paling baru dankemungkinan terbesargejala mirip flu. baikhipopigmentasipascainflamasi danhiperpigmentasidapat mengikuti mirip sepertipityriasis rosea. sepertipenyakit kulit lainnya, hal ini terjadi lebih sering padaorang denganwarna kulitlebih gelap, dengan hiperpigmentasi. pengobatan denganfototerapisinar ultravioletjugadapat memperburukhiperpigmentasi post inflamasi danharus digunakan denganhati-hati.sebaliknya,pasien tidak

memilikiefeksekunder yang tersisaterhadap terjadinyapityriasis rosea. penyakitmungkin dapat berulang, tetapisangat jarang terjadi.2

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Sterling, J.C.Virus Infections. In : Burns T, Breatnach S, Cox N, Griffiths C, Eds.Rooks textbook of dermatology8thEdition. United Kingdom : Wiley Blackwell; 2010. P. 33.78-81 2. Blauvelt, A. Pityriasis Rosea. In : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Eds.Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th Edition. New York : McGraw Hills Company;2008. p. 362-66 3. James WD, Berger TG, Elston DM, Eds. Pityriasis Rosea, Pityriasis Rubra Pilaris, and Other Papulosquamous and Hyperkeratotic Diseases.In :Andrews Diseases of The Skin: Clinical Dermatology 10th Edition. USA : Elsevier Saunders; 2006. p. 208-09 4. Henderson David, Usatine Richard P. Pityriasis Rosea. Dalam: Usatine Richard P,Smith Mindy
Ann, Mayeaux Jr. E.J. editor. The Color Atlas of Family Medicine.USA: McGraw Hill. 2009: 630-33

5. Habif TP, Ed. Psoriasis and Other Papulosquamous Diseases. In :Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 4th Edition. Philadelphia :Mosby; 2004. p. 246-49 6. Lichenstein, A. Pityriasis Rosea. Diunduh dari www. Emedicine.com pada tanggal 15 Agustus 2011. 7. Wolff K, Johnson RA, Eds. Miscellanous Inflammatory Disorders, Sexually Transmited Infections, Fungal Infections of The Skin and The Hair.In : Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology. 6th Edition. New York : Mc Graw Hills Company; 2009. p.122-24, 705 & 925 8. Millikan LE. Pityriasis Rosea.In : Frankel DH, Ed. Field Guide to Clinical Dermatology. 2nd Edition. New York : Lippincot Williams & Wilkins; 2006. Ch. 21 9. Hunter J, Savin J, Dahl M, Eds. Psoriasis, Other Papulosquamous Disorders, Eczema and Dermatitis.In :Clinical Dermatology 3rd Edition. United Kingdom : Blackwell Science; 2002. p. 52 , 63-4 & 89 10. Hamzah.M. Dermatosis eritroskuamosa. In: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2007.

11