Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL USAHA

PRODUKSI SERAT SABUT KELAPA

NAMA : KASMAWATI IDRIS


NIM : 10 5311 494 07
PROGRAM STUDI :S1
JURUSAN : KURIKULUM TEK.
PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2009
PROPOSAL USAHA
PT PRIMA UTAMA MANDIRI

INDUSTRI SERAT SABUT KELAPA

(COCO FIBER)

Nama Pengusaha

RIDWAN MANGKUBUMI

Disusun oleh :

KASMAWATI IDRIS

KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR


2009
PT. PRIMA UTAMA MANDIRI
Jl. Kawasan Industri Kav. 68 Makassar, Sulawesi Selatan
Telp. (0411)-8698873

No. : .../15/pum -PBDU/II/2009 02 Februari 2009


Hal : Permohonan Bantuan Dana Usaha

Kepada
Yth : Kadin Pengembangan Ekonomi Kecil dan Menengah
Jl. A.P. Pettarani No.12
Makassar – Sulawesi Selatan
Telepon 0411 876543

Dalam menghadapi era perdagangan bebas, sangat dibutuhkan peningkatan


persaingan pasar guna meningkatkan perekenomian yang lebih seimbang serta
peningkatan sumber daya manusia.

Menanggapi hal tersebut, PT. Prima Utama Mandiri bermaksud menambah


perluasan modal untuk lebih meningkatkan hasil tambak dan juga tenaga kerja.

Bersama ini kami sampaikan permohonan proposal bantuan modal sebesar


Rp.594.428.500, untuk ekspandi perusahaan.
Sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak bersama ini,kami lampirkan sebagai
berikut :
1. Foto Copy Surat Izin Domisili
2. Foto Copy SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)
3. Foto copy NPWP
4. Foto copy Sertifikat Tanah Hak Milik
5. Foto copy IMB (Izin Mendirikan Bangunan)
6. Foto Copy Kartu Keluarga
7. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP)

Besar harapan kami permohonan ini dapat terealisir sesuai dengan kebutuhan
yang tertera pada proposal.

Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami
PT. Prima Utama Mandiri

Ridwan Mangkubumi
Direktur
Data Perusahaan

1. Nama Perusahaan : PT “Prima Utama Mandiri”


2. Bidang Usaha : Industri
3. Jenis Produk : Industri Pembuatan Serat Kelapa
4. Alamat Perusahaan : Jl. Kawasan Industri Kav.68, , Makassar,
Sulawesi Selatan
5. Nomor Telepon : (0411)-876543

Data Pemilik
1. Nama Pemilik : Ridwan Mangkubumi
2. Jabatan : Direktur
3. Tempat tanggal lahir :Bandung, 23 Oktober 1978
4. Alamat Rumah :Jl. Kawasan Industri No.68 Makassar, Sulawesi
Selatan
5. Nomor Telephon : 085299242183

Struktur Organisasi :
Direktur : Ridwan Mangkubumi
Kepala Bag.Pemasaran : Laksmana, ST.
Kepala Bag. Administrasi : Lili Sugiarti S.E.
Bendahara : Lenny Armika, S.E.
Karyawan : 35 Orang (nama terlampir)
USAHA PRODUKSI SERAT SABUT KELAPA (COCO FIBER)

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagai negara kepulauan dan berada di daerah tropis dan kondisi agroklimat yang
mendukung, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia. Pada
tahun 2000, luas areal tanaman kelapa di Indonesia mencapai 3,76 juta Ha, dengan total
produksi diperkirakan sebanyak 14 milyar butir kelapa, yang sebagian besar (95 persen)
merupakan perkebunan rakyat. Kelapa mempunyai nilai dan peran yang penting baik
ditinjau dari aspek ekonomi maupun sosial budaya.
Sabut kelapa merupakan hasil samping, dan merupakan bagian yang terbesar dari buah
kelapa, yaitu sekitar 35 persen dari bobot buah kelapa. Dengan demikian, apabila secara
rata-rata produksi buah kelapa per tahun adalah sebesar 5,6 juta ton, maka berarti terdapat
sekitar 1,7 juta ton sabut kelapa yang dihasilkan. Potensi produksi sabut kelapa yang
sedemikian besar belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat
meningkatkan nilai tambahnya.
Serat sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coco Fiber, Coir fiber,
coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan sabut kelapa. Secara
tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali
dan alat-alat rumah tangga lain. Perkembangan teknologi, sifat fisika-kimia serat, dan
kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, membuat serat sabut kelapa
dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan, kasur,
bantal, dan hardboard. Serat sabut kelapa juga dimanfaatkan untuk pengendalian erosi.
Serat sabut kelapa diproses untuk dijadikan Coir Fiber Sheet yang digunakan untuk
lapisan kursi mobil, Spring Bed dan lain-lain.
Serat sabut kelapa bagi negara-negara tetangga penghasil kelapa sudah merupakan
komoditi ekspor yang memasok kebutuhan dunia yang berkisar 75,7 ribu ton pada tahun
1990. Indonesia walaupun merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, pangsa
pasar serat sabut kelapa masih sangat kecil. Kecenderungan kebutuhan dunia terhadap
serat kelapa yang meningkat dan perkembangan jumlah dan keragaman industri di
Indonesia yang berpotensi dalam menggunakan serat sabut kelapa sebagai bahan baku /
bahan pembantu, merupakan potensi yang besar bagi pengembangan industri pengolahan
serat sabut kelapa.
Hasil samping pengolahan serat sabut kelapa berupa butiran-butiran gabus sabut kelapa,
dikenal dengan nama Coco Peat. Sifat fisika-kimianya yang dapat menahan kandungan
air dan unsur kimia pupuk, serta dapat menetralkan keasaman tanah menjadikan hasil
samping ini mempunyai nilai ekonomi. Coco Peat digunakan sebagai media pertumbuhan
tanaman hortikultur dan media tanaman rumah kaca.
Dari aspek teknologi, pengolahan serat sabut kelapa relatif sederhana yang dapat
dilaksanakan oleh usaha-usaha kecil. Adapun kendala dan masalah dalam pengembangan
usaha kecil/menengah industri pengolahan serat sabut kelapa adalah keterbatasan modal,
akses terhadap informasi pasar dan pasar yang terbatas, serta kualitas serat yang masih
belum memenuhi persyaratan.
Dalam rangka menunjang pengembangan industri serat sabut kelapa yang potensial ini,
diperlukan acuan yang dapat dimanfaatkan pihak perbankan, investor serta pengusaha
kecil dan menengah sehingga memudahkan semua pihak dalam mengimplementasikan
pengembangan usaha pengolahan serat sabut kelapa ini. Oleh karena itu, untuk
mengembangkan usaha pengolahan serat sabut kelapa ini, PT. Prima Utama Mandiri
sangat mengharapkan bantuan dari pihak perbankan.

ASPEK PEMASARAN
HARGA
Berdasarkan studi kasus di Kabupaten Bone harga serat sabut kelapa di tingkat produsen
berkisar antara Rp. 500 - Rp.600 per Kg, sedangkan harga di tingkat pembeli di Makassar
dan kota-kota besar berkisar antara Rp. 900 - Rp. 1200 per Kg, yang tergantung kepada
kualitas sabut yang dihasilkan.
Harga serat sabut kelapa di pasaran ekspor adalah sebesar US $ 210 per ton (FOB),
sedangkan harga CIF di negara tujuan (Rotterdam) adalah sebesar US $ 360 per ton.
Harga serat sabut kelapa Indonesia di pasaran ekspor relatif lebih rendah dibandingkan
dengan serat sabut kelapa ex. India, yang bernilai sekitar US $ 290 - 320 per ton (FOB),
akan tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi Srilanka yaitu sebesar US $ 220 -
270 per ton (FOB). Merujuk kepada perkembangan harga mattress fiber produksi
Srilanka, terdapat kecenderungan kenaikan harga dalam periode 1997 - 1999, yaitu rata-
rata sebesar 3 persen per tahun.
PERSAINGAN DAN PELUANG PASAR
Potensi persaingan industri serat sabut kelapa dapat ditinjau dari aspek persaingan produk
substitusi dan persaingan industri sejenis. Dari aspek persaingan produk substitusi,
khususnya sebagai bahan baku untuk industri jok kursi (mobil dan rumah tangga), dash
board mobil, tali dan produk sejenis, serat sabut kelapa menghadapi persaingan dengan
industri produk sintetis seperti karet busa dan plastik. Walaupun demikian, karakteristik
fisika-kimia serat sabut kelapa yang spesifik dan biodegradable serta berfungsi sebagai
heat retardant menjadikan serat sabut kelapa mempunyai fungsi yang spesifik yang tidak
dapat digantikan oleh produk sintetis. Selain itu kesadaran konsumen terhadap kelestarian
akan lingkungan dan kecenderungan untuk kembali menggunakan produk alami,
menyebabkan serat sabut kelapa mempunyai peluang pasar dan mampu bersaing dengan
produk-produk sintetis. Selain itu karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa menjadikan
serat sabut kelapa berpotensi sebagai bahan baku untuk pengembangan produk industri
seperti geotextile.
Dari aspek persaingan industri sejenis, serat sabut kelapa Indonesia dihadapkan kepada
negara-negara pesaing yang lebih maju dalam hal teknologi produksi serat sabut kelapa,
sehingga mempunyai kualitas yang lebih unggul. Persaingan tersebut juga dihadapi oleh
karena perkembangan aplikasi teknologi yang lebih maju dalam membuat produk industri
dengan bahan baku serat sabut kelapa. Negara-negara pesaing Indonesia tersebut antara
lain adalah Srilanka, India, Thailand dan Philipina.
Ditinjau dari kecenderungan permintaan dunia terhadap serat sabut kelapa yang
meningkat, serta kontribusi Indonesia yang masih sangat kecil dalam perdagangan dunia,
serat sabut kelapa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (potensi produksi sabut
kelapa) dan mempunyai peluang yang besar. Peluang tersebut dapat diraih dengan syarat
adanya perbaikan dan pengembangan teknologi proses sehingga menghasilkan serat yang
memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan pasar.
JALUR PEMASARAN PRODUK
Rantai pemasaran serat sabut kelapa secara garis besar dapat dilihat pada Grafik 3.1.
Usaha kecil serat sabut kelapa secara umum tidak dapat langsung memasarkan produknya
kepada eksportir sabut kelapa. Hal ini karena persyaratan mutu produk usaha kecil masih
belum dapat memenuhi persyaratan mutu yang diinginkan. Selain itu, ketiadaan fasilitas
mesin pengepress sabut - menyebabkan biaya transportasi per Kg produk untuk
dipasarkan langsung ke eksportir menjadi mahal dan tidak layak.

Grafik 3.1. Rantai Tataniaga Serat Sabut Kelapa


FASILITAS PRODUKSI
Proses produksi serat sabut kelapa secara teknologi relatif sederhana dan menggunakan
mesin / peralatan yang sudah diproduksi oleh produsen mesin peralatan di dalam negeri.
Produsen mesin peralatan untuk produksi serat sabut kelapa diperoleh dari wilayah Jawa.
Secara umum fasilitas produksi utama yang dibutuhkan adalah mesin pengurai dan
pemisah serat dari sabut kelapa, fasilitas penjemuran atau mesin pengering, dan alat press
serat sabut kelapa dan serbuk gabus sabut kelapa.
BAHAN BAKU
Bahan baku industri serat sabut kelapa adalah sabut kelapa yang merupakan hasil
samping dari usaha perdagangan buah kelapa untuk konsumsi rumah tangga serta industri
pengolahan kopra atau minyak kelapa. Bahan baku ini secara umum terdapat secara
melimpah di daerah sentra produksi buah kelapa, terutama di kabupaten Bone, Sinjai,
Bulukumba, Selayar dan Soppeng.
Bahan baku sabut kelapa yang diinginkan adalah yang berasal dari buah kelapa dalam
dengan tingkat kematangan yang sesuai untuk pembuatan minyak kelapa atau kopra.
TENAGA KERJA
Secara relatif industri serat sabut kelapa merupakan industri yang bersifat padat karya
terutama untuk industri yang masih menggunakan teknologi proses yang sederhana.
Untuk industri seperti ini, kebutuhan tenaga kerja terbesar adalah pada tahap sortasi dan
pembersihan serat dari butiran gabus, yang tidak memerlukan keterampilan khusus.
Tingkat keterampilan yang sederhana diperlukan untuk tenaga kerja yang bertugas
sebagai operator mesin/peralatan yang relatif dapat dilatih dengan mudah. Tingkat
keterampilan yang lebih tinggi diperlukan untuk operator perawatan dan perbaikan
mesin, khususnya mesin penggerak. Berdasarkan studi kasus di wilayah Kabupaten
Ciamis, setiap unit usaha industri serat sabut kelapa membutuhkan tenaga kerja dengan
status operator mesin sekitar 5 - 6 orang dan tenaga kerja sortasi dan pembersihan sekitar
20 - 30 HOK per hari.

ASPEK PRODUKSI
PROSES PRODUKSI
Proses produksi serat sabut kelapa secara garis besar dapat dilihat pada Grafik 4.1.
1. Persiapan Bahan
Pada tahap persiapan, sabut kelapa yang utuh dipotong membujur menjadi sekitar
lima bagian, kemudian bagian ujungnya yang keras dipotong. Sabut tersebut
kemudian direndam selama sekitar 3 hari sehingga bagian gabusnya membusuk
dan mudah terpisah dari seratnya, dan kemudian ditiriskan.
Praktek proses produksi yang dilakukan oleh pengusaha kecil di lokasi studi tidak
melaksanakan tahap persiapan bahan, akan tetapi sabut kelapa langsung diproses.
2. PelunakanSabut
Pelunakan sabut secara tradisionil dilakukan manual, yaitu dengan cara memukul
sabut dengan palu sehingga sabut kelapa menjadi lebih terurai. Pada tahap ini
sudah dihasilkan hasil samping berupa butiran gabus. Secara modern, pelunakan
sabut dilakukan dengan menggunakan mesin pemukul yang disebut mesin double
cruiser atau hammer mill. Seperti halnya dengan tahap perendaman, usaha kecil di
lokasi studi tidak melaksanakan tahap pelunakan sabut ini, akan tetapi sabut
langsung dimasukkan ke dalam mesin pemisah serat (defifibring machine).
3. Pemisahan Serat.
Pada tahap ini, sabut kelapa dimasukkan ke dalam mesin pemisah serat untuk
memisahkan bagian serat dengan gabus. Komponen utama mesin pemisah serat
atau defifibring machine adalah silinder yang permukaannya dipenuhi dengan
gigi-gigi dari besi yang berputar untuk memukul dan "menggaruk" sabut sehingga
bagian serat terpisah. Pada tahap ini dihasilkan butiran-butiran gabus sebagai hasil
samping.
4. Sortasi/Pengayakan
Pada tahap ini bagian serat yang telah terpisah dari gabus dimasukkan ke dalam
mesin sortasi untuk memisahkan bagian serat halus dan kasar. Mesin sortasi atau
pengayak (refaulting screen) adalah berupa saringan berbentuk cone yang
berputar dengan tenaga penggerak motor.
Sortasi dan pengayakan juga dilakukan pada butiran gabus dengan menggunakan
ayakan atau saringan yang dilakukan secara manual, sehingga dihasilkan butiran-
butiran halus.

JENIS DAN MUTU PRODUK


Jenis produk yang dihasilkan dari industri pengolahan serat dapat dikelompokan menjadi
dua yaitu : (1) Serat Sabut Kelapa (Gambar 4.1) dan (2) Butiran Gabus.
Mutu serat sabut kelapa atau Coconut Fibre, ditentukan oleh warna, persentase kotoran,
kadar air, dan proporsi antara bobot serat panjang dan serat pendek. Spesifikasi mutu
produk serat yang diekspor oleh salah satu perusahaan eksportir di Jakarta adalah:
1. Kadar air < 10 %
2. Kandungan gabus: < 5 %
3. Panjang serat ( 2- 10 cm) 30 %
4. Panjang serat (10 - 25 cm) 70 %
5. Ukuran Bale 70 x 70 x 50 cm
6. Bobot /Bale 50 Kg /Bale

Gambar 4.1. Produk Coco Fiber (Serat Sabut Kelapa)


Butiran gabus yang dikenal dalam perdagangan sebagai Coconut Peat mutunya
ditentukan oleh kandungan benda asing, ukuran butiran, kadar air, dan kandungan
mineral. Spesifikasi mutu Coconut Peat yang diekspor oleh salah satu perusahaan
eksportir di Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Tidak mengandung kandungan kimia
2. Bebas dari weed dan seeds
3. Kadar air <20 %
4. pH 5,98
5. EC 0,60 mS/cm
6. NaCl 0.54%
7. NH4 0.08%
8. Ca: 0.45%
9. SO4: 0.00%
10.P: 0.00%
5. gabus.
6. Pembersihan dan Pengeringan.
7. Tahap pembersihan dilakukan untuk memisahkan bagian gabus yang masih
menempel pada bagian serat halus yang telah terpisah dari bagian serat kasar.
Tahap ini dilakukan secara manual. Tergantung kepada tingkat kekeringan serat
dan butiran gabus, proses pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran atau
dengan menggunakan mesin pengering.
8. Serat sabut kelapa yang sudah bersih dan kering kemudian dipak dengan
menggunakan alat press. Ukuran kemasan adalah sekitar 90 x 110 x 45 cm. Secara
tradisional, pemadatan serat dilakukan secara manual dengan cara diinjak yang
menghasilkan bobot setiap kemasan hanya sekitar 40 Kg. Dengan menggunakan
mesin press bobot setiap kemasan mencapai sekitar 100 Kg.
Khusus untuk bagian butiran gabus, wadah kemasan adalah karung, dan setiap
kemasan menampung sekitar 100 lt. Pada tingkat usaha kecil pemadatan butiran
gabus dengan menggunakan alat press tidak dilakukan.

ASPEK PRODUKSI
PRODUKSI OPTIMUM
Tingkat produksi maksimum serat sabut kelapa terutama ditentukan oleh kapasitas mesin
pemisah serat dan mesin sortasi / pengayak serta jam kerja mesin atau jumlah shift kerja.
Seperti halnya industri manufaktur yang lain, maka kapasitas mesin pada setiap tahapan
atau rangkaian proses produksi harus seimbang (balance). Rata-rata kapasitas mesin
maksimum adalah berkisar 400 - 600 kg serat per hari (@ 8 jam/hari). Pada kondisi
kapasitas tersebut usaha menjadi tidak menguntungkan dan tidak layak jika tingkat
produksi berada di bawah 350 kg serat per hari dengan parameter teknis dan biaya adalah
tetap. Semakin besar tingkat produksi sampai batas maksimum kapasitas mesin, maka
tingkat keuntungan dan kelayakan usaha semakin baik.
KOMPONEN BIAYA
Analisa aspek keuangan diperlukan untuk mengetahui kelayakan usaha dari sisi
keuangan, terutama kemampuan pengusaha untuk mengembalikan kredit yang diperoleh
dari bank. Analisa keuangan ini juga dapat dimanfaatkan pengusaha dalam perencanaan
dan pengelolaan usaha industri pengolahan serat sabut kelapa.
Perhitungan aspek keuangan terdiri dari dua skenario berdasarkan kelengkapan alat dan
proses yang digunakan, yang berimplikasi kepada total kebutuhan dana, kapasitas,
kualitas dan harga produk serta jangkauan pasar. Skenario teknologi -1, usaha dilengkapi
dengan mesin pengering dan mesin pengepress, dengan kapasitas usaha yang lebih besar
yaitu 1500 kg serat per hari. Pada skenario -2, pengeringan dengan cara penjemuran dan
pengepressan dilakuan secara manual. Untuk penyusunan dan proyek kelayakan usaha
diperlukan adanya beberapa asumsi mengenai parameter teknologi proses maupun biaya.
Asumsi ini diperoleh berdasarkan kajian terhadap usaha industri serat sabut kelapa di
daerah penelitian serta informasi yang diperoleh dari pengusaha dan pustaka.
Tabel 5.1. Asumsi Parameter Teknis Dan Keuangan.
No Uraian Teknologi-1 Teknologi-2
1 Bunga Kredit 24% 24%
2 Modal Sendiri 35% 35%
3 Kredit 65% 65%
Masa Pengembalian Kredit Investasi
4 5 5
(tahun)
Masa Pengembalian Kredit Modal
5 3 3
Kerja (tahun)
6 Umur Proyek (Tahun) 15 15
7 Rendemen Produksi:
1.Coco Fibre (Kg/butir sabut) 0,125 0,125
o. Bobot/Kemasan press
100 40
(Kg/kemasan)
2. Coco Peat (Lt/butir sabut) 1,2 1,2
o. Bobot/Kemasan press (lt/kemasan) 120 120
8 Kapasitas produksi / hari (kg serat) 1500 600
9 Hari Kerja /Bulan (hari) 20 20
10 Bulan Kerja / tahun (bulan) 12 12
11 Kapasitas per tahun (Vol)
Coco Fibre (kg/tahun) 360.000 144.000
Coco Peat (lt) 3.456.000 1.382.400
12 Kapasitas per tahun (Kemasan)
Coco Fibre (kemasan) 3.600 3.600
Coco Peat (kemasan) 28.800 11.520

Komponen biaya usaha industri pengolahan mencakup biaya investasi dan biaya operasi
usaha. Biaya investasi mencakup (1) pengadaan alat dan mesin, (2) bangunan, dan (3)
modal kerja. Modal kerja direncanakan untuk kebutuhan dana operasi selama 4 bulan.
Perincian kebutuhan biaya investasi dan biaya operasi usaha yang dikelompokkan
menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap dilihat pada Lampiran 1 an Lampiran 2. Pada
Tabel 5.2 disajikan total kebutuhan biaya untuk setiap skenario rencana usaha.
PENDAPATAN
Pendapatan usaha industri serat sabut kelapa diperoleh dari produk utama, yaitu serat dan
hasil samping berupa gabus yang dikenal sebagai Coco Peat. Pendapatan usaha
diproyeksikan dengan asumsi bahwa pada tahun pertama usaha beroperasi pada kapasitas
80% dan pada tahun kedua kapasitas 90%, dan pada tahun ke tiga dan seterusnya
beroperasi pada kapasitas 100%. Perincian tentang rencana produksi, penerimaan dan
proporsi penerimaan usaha selama umur proyek disajikan pada Lampiran 3.
Pada skenario teknologi -1, kelengkapan mesin dan peralatan menyebabkan usaha
diproyeksikan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang dapat diterima atau
dipasarkan langsung ke konsumen industri pengguna atau eksportir. Pada skenario
teknologi -2, teknologi yang sederhana menyebabkan produk yang dihasilkan tidak
mempunyai mutu yang dapat diterima langsung oleh industri pengguna atau eksportir.
Perbedaan skenario teknologi berimplikasi kepada biaya produksi dan harga produk
dengan proyeksi pendapatan dan keuntungan yang dapat dilihat pada Lampiran 4 .
Berdasarkan informasi yang disajikan pada Lampiran 4, secara garis besar proyeksi
pendapatan dan keuntungan/kerugian usaha dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Seperti dapat dilihat pada Tabel 5.3 serta Lampiran 4, keuntungan usaha industri
pengolahan serat sabut kelapa dengan teknologi proses yang lebih baik dan pemasaran
langsung ke industri pengguna atau eksportir memberikan keuntungan yang lebih baik
dibandingkan dengan teknologi yang lebih sederhana (Teknologi-2).
Analisa sensitivitas usaha dilakukan dengan mencoba menurunkan harga jual produk,
kenaikan biaya variabel dan biaya tetap masing-masing sebesar 10 persen. Hasil analisis
seperti ditunjukkan data pada Tabel 5.4. menyatakan bahwa usaha ini sangat sensitif
terhadap perubahan harga jual produk. Apabila dibandingkan antara skenario teknologi-1
dan teknologi-2, maka usaha industri dengan teknologi - 2 relatif sangat rentan terhadap
perubahan kondisi usaha, yang dalam hal ini adalah harga jual, biaya variabel dan biaya
tetap. Persentase perubahan indikator-indikator kelayakan usaha akibat perubahan harga
jual dan biaya usaha dapat dilihat pada Lampiran 6.
abel 5.4. Indikator Profitabilitas dan Sensitivitas Industri Serta Sabut Kelapa .
Rata-
rata Rata-rata
No Uraian NPV (21%) PBP (th) IRR Net B/C
Profit on BEP
Sale
Teknologi - 1
1 Basis 607.826.671 3.5 55,08% 2.15 31,82% 30,38%
Harga Jual ( -
2 388.451.450 4.5 44,56% 1.73 25,91% 36,70%
10%)
Biaya
3 516.770.951 3.5 50,91% 1.98 28,25% 32,75%
Variabel(+10 %)
Biaya Tetap
4 567.964.290 3.5 53,15% 2.07 30,32% 30,38%
(+10 %)
Teknologi-2
1 Basis 126.572.975 3.5 55,44% 2.10 21,45% 28,09%
Harga Jual ( -
2 66.397.985 5.5 41,33% 1.58 14,29% 37,93%
10%)
Biaya
3 90.049.539 3.5 47,26% 1.78 16,23% 33,42%
Variabel(+10 %)
Biaya Tetap
4 119.846.947 3.5 53,88% 2.04 20,52% 33,42%
(+10 %)

Pola Pembiayaan Usaha Coco Fiber (Serat Sabut Kelapa)


Lampiran 6. Analisa Sensitivitas
Rata-rata Rata-
PBP Net
No Uraian NPV (21%) IRR Profit on rata
(th) B/C
Sale BEP
Teknologi - 1

1 Basis 3.5 55.08% 2.15 31.82% 30.38%


607,826,671
Harga Jual ( -
2 4.5 44.56% 1.73 25.91% 36.70%
10%) 388,451,450
Biaya
3 3.5 50.91% 1.98 28.25% 32.75%
Variabel(+10 %) 516,770,951
Biaya Tetap (+10
4 3.5 53.15% 2.07 30.32% 30.38%
%) 567,964,290
Teknologi-2

1 Basis 3.5 55.44% 2.10 21.45% 28.09%


126,572,975
2 Harga Jual ( - 5.5 41.33% 1.58 14.29% 37.93%
10%) 66,397,985
Biaya
3 3.5 47.26% 1.78 16.23% 33.42%
Variabel(+10 %) 90,049,539
Biaya Tetap (+10
4 3.5 53.88% 2.04 20.52% 33.42%
%) 119,846,947

ASPEK SOSIAL EKONOMI


Manfaat Sosial Ekonomi
Bahan baku sabut kelapa merupakan hasil samping dari industri pengolahan kopra atau
petani / pedagang buah kelapa. Keberadaan industri pengolahan serat ini menjadikan
hasil samping sabut kelapa memberikan nilai ekonomis yang lebih baik, sehingga
meningkatkan pendapatan petani/pedagang buah kelapa. Pemanfaatan sabut kelapa
sebagai bahan baku industri sehingga menjadi komoditi perdagangan menyebabkan
terbukanya kesempatan kerja baru, yaitu dalam bentuk adanya pedagang pengumpul
sabut kelapa serta usaha jasa transportasi.
Karakteristik usaha kecil industri pengolahan sabut kelapa secara umum tidak
sepenuhnya menggunakan mesin / peralatan dalam proses produksinya, khususnya pada
tahap pembersihan, penyaringan dan pengeringan. Pada kondisi teknologi produksi
tersebut, usaha ini membutuhkan tenaga kerja paling sedikit sekitar 20 - 30 HOK, dengan
jam kerja sekitar 6 - 8 jam per hari.
Manfaat Regional
Secara umum keberadaan dan pengembangan industri serat sabut kelapa memberikan
dampak yang positif bagi wilayah. Terbukanya peluang kerja serta peningkatan
pendapatan masyarakat dan sekaligus peningkatan pendapatan daerah merupakan dampak
positif bagi pengembangan industri serat sabut kelapa.
Serat sabut kelapa merupakan komoditi ekspor, sehingga akan memberikan kontribusi
bagi pendapatan devisa negara dan sekaligus juga menghemat devisa. Oleh karena serat
sabut kepala merupakan bahan baku bagi industri matras, jok mobil, tali dan lain-lain,
maka pengembangan industri ini dapat mendorong berkembangnya industri pengguna
serat sabut kelapa.

Demikianlah permohonan ini kami ajukan, semoga mendapat perhatian dan bantuan dari
Pihak Perbankan untuk mengembangkan usaha dan produktivitas kami.

Makassar, 02 Februari 2009


PT.Prima Utama Mandiri
Ridwan Mangkubumi
Direktur

Lampiran:
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
REPUBLIK INDONESIA
KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN
PERDAGANGAN
PROPINSI SULAWESI SELATAN KOTA MAKASSAR
SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP)MENENGAH
NOMOR : 1230 -153 / 2024/PM/IV/2005

1. Nama Perusahaan : PT PRIMA UTAMA MANDIRI


2. Merek (milik sendiri/lisensi) : MILIK SENDIRI
3. Alamat Kantor perusahaan : JL. KAWASAN INDUSTRI KAV.68
MAKASSAR
4. Nama Pemilik / Penanggung Jawab : RIDWAN MANGKUBUMI
5. Alamat Pemilik / Penanggung Jawab : JL. KAWASAN INDUSTRI NO.68
RT.D.RW.17 MAKASSAR

6. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 1.562.778.8-985


7. Nilai modal dan kekayaan bersih
Perusahaan seluruhnya tidak termasuk
Tanah dan Bangunan tempat Usaha : Rp. 500.000.000,-(Lima ratus juta rupiah)
8. Kegiatan Usaha : PERDAGANGAN BARANG
9. Kelembagaan : PERDAGANGAN BESAR
10. Bidang Usaha : BUDI DAYA PETERNAKAN,
PERIKANAN,DAN PERKEBUNA
11. Jenis Barang.Jasa Dagangan Utama : PRODUKSI SERAT SABUT KELAPA
SIUP ini diterbitkan dengan ketentuan :
PERTAMA : Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) ini berlaku untuk melakukan
kegiatan Usaha
Perdagangan di seluruh Wilayah Republik Indonesia selama perusahaan
masih menjalankan kegiatan Usaha Perdagangan.
KEDUA : Pemilik / Penanggung Jawab wajib menaympaikan laporan kegiatan
usaha perdagangannya dua kali dalam setahun dengan jadwal untuk
semester pertama paling lambat tanggal 31 Juli dan untuk semester kedua
paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya bagi SIUP Menengah
dan Besar atau bagi SIUP Kecil satu kali dalam setahun, selambat-
lambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya.
KETIGA : Tidak untuk melakukan kegiatan usaha selain yang tercantum dalam
SIUP ini.

Dikeluarkan di : MAKASSAR
Pada tanggal : 25 April 2005
Kantor Departemen Perindustrian dan
Perdagangan
Kota Makassar
Kepala,

Drs. Achmad Yardhy


NIP. 070005483