Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL USAHA

BUDI DAYA AYAM PETELUR

NAMA : SALMAWATI
NIM : 10 5311 4 07
PROGRAM STUDI :S1
JURUSAN : KURIKULUM TEK.
PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2009
PROPOSAL BISNIS

BUDI DAYA AYAM PETELUR

Nama Pimpinan

RAHIM

Disusun oleh :

SALMAWATI

KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2009
Kata Pengantar

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah, S.w.t. atas limpahan
rahmat dan magfirahnya shingga kita senantiasa dapat beraktifitas dan
menghasilkansuatu karya yang produktif.
Selanjutnya proposal ini kami buat dengan keadaan yang sangat jauh
dari kesempurnaan, itu tiada lain karena keterbatasan kami sebagai manusia biasa.
Akan tetapi dengan berbekal keberanian, kemauan dan kerja keras sehingga kami
termotivasi untuk membuat proposal ini.
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang turut
membantu kami dalam penyusunan proposal ini, serta permohonan maaf yang
setinggi-tingginya manakala terdapat kesalahan dan kehilafan dalam proposal ini.
Dan akhirnya kami sangat berharap semoga proposal ini mendapat
perhatian dari Bapak guna mendapatkan bantuan yang kami ajukan.

Taeng, 05 Februari 2009


Pengelola

Rahim
BUDIDAYA AYAM RAS PETELUR
ASPEK PEMASARAN

PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Pertumbuhan ekonomi di segala sektor telah memacu pula meningkatan pendapatan


masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan yang pada gilirannya akan mempengaruhi
kemampuan masyarakat untuk meningkatkan gizinya, terutama yang bersumber dari
protein hewani yang relatif murah dan mudah didapat sehingga yang berpendapatan
menengah kebawah lebih banyak mengkonsumsinya dibandingkan dengan daging sapi
atau susu.

Prospek Pengembangan Agribisnis Budidaya Ayam Ras Petelur

Salah satu penghasil hewani adalah ternak. Secara nasional, perkembangan


populasi berbagai jenis ternak menunjukkan peningkatan yang besar, terutama untuk
ternak unggas. Walaupun demikian, Indonesia dengan jumlah penduduk 200 juta orang
masih tergolong sebagai negara yang tingkat konsumsi daging ayam dan telur yang masih
rendah dibanding dengan kebutuhan gizi maupun konsumsi negara lain. Atas dasar ini,
pengembangan usaha peternakan ayam ras petelur mendapat prioritas dalam
pengembangan perekonomian khususnya usaha kecil peternakan ayam ras petelur.
Prospek pengembangan agribisnis ayam ras petelur di masa yang akan datang
dilihat dari sisi penawaran (supply side) dan sisi permintaan (demand side) telur di
Indonesia. Dari sisi permintaan, prospek agribisnis ayam ras petelur sangat berkaitan
dengan peranan telur ayarm ras dalam struktur konsumsi telur dan sifat permintaannya
yang sangat sesuai dengan perkembangan masa depan. Dalam struktur konsumsi telur
nasional, pangsa telur ayam ras mengalami peningkatan yang cukup berarti, dari 53,92%
pada tahun 2000 menjadi 62,71% pada tahun 2005.

ANALISA PERMINTAAN, PENAWARAN DAN PELUANG PASAR

Selain pangsanya meningkat konsumsi per kapita juga meningkat, dari 1,44 kg/kapita
pada tahun 2000 menjadi 2,31 kg/kapita pada tahun 1990 dan 3,30 kg/kapita pada tahun
2005. Hal ini menunjukkan bahwa struktur konsumsi telur di Indonesia telah mengalami
pergeseran yang memperbesar pangsa telur ayam ras. Apabila konsumsi telur tersebut
dibandingkan dengan standar nasional konsumsi telur adalah 3,5 kg/kapita/tahun maka
masih akan ada peluang pasar pengembangan usaha peternakan ayam ras petelur .
Perkembangan Populasi, Produksi dan Konsumsi Unggas di Indonesia�Tahun 2003 �
2008
Uraian 2003 2004 2005 2006 2007 20085
Populasi (000 ekor)
- ayam buras 201.366 208.966 222.530 222.893 243.261 253.854
- ayam ras petelur 43.185 46.885 54.146 54.730 63.334 69.034
- itik 25.553 25.369 27.342 26.618 27.536 28.341
Jumlah 270.104 281.220 304.018 304.241 334.131 351.029

Produksi telur (000 ton)


- ayam buras 84,57 87,77 93,46 93,62 119,54 127,95
- ayam ras petelur 279,84 303,82 350,87 354,69 423,46 457,01
- itik 119,59 118,78 127,96 124,57 145,62 143,83
Jumlah 484,00 510,37 572,29 572,88 688,62 728,79

Jumlah Konsumsi telur


- total (000 ton) 418,20 442,60 502,90 503,80 602,80 938,70
- Kg/kapita 2,31 2,40 2,73 2,69 3,16 3,30

Di samping semakin pentingnya peranan telur ayam ras dalam struktur konsumsi telur,
telur ayam ras memiliki sifat permintaan yang income estic demand. Bila Pendapatan
meningkat, maka konsumsi telur juga meningkat. Di masa yang akan datang, pedapatan
per kapita akan meningkat terutama pada negara-negara yang saat ini termasuk low and
middle income countries. Dengan demikian, konsumsi telur juga diperkirakan akan
meningkat. Indonesia, misalnya menurut perkiraan pada tahun 2005 pendapatan per
kapita akan meningkat menjadi US$ 2.500 dan konsumsi telur diperkirakan akan
mencapai 4,07 kg per kapita. Dengan memanfaatkan data proyeksi penduduk tahun 2005
dan proyeksi konsumsi telur per kapita pada tahun yang sama, maka diperkirakan
konsumsi telur pada tahun tersebut mencapai 979,70 ribu ton.

Sementara itu, bila dilihat kecendrungan produksi telur ayam ras yang meningkat
sebesar 4,50% per tahun atau sekitar 709,72 ribu ton pada tahun 2005, maka peluang
pasar telur ayam pada tahun ini mencapai 269,98 ribu ton. Peluang pasar ini diisi oleh
telur ayam buras dan teluk itik yang pangsanya masing-masing 15% dan selebihnya
merupakan peluang pasar telur ayam ras.

Peluang pasar ini belum termasuk pasar ekspor, baik dalam bentuk telur segar
maupun powder. Peluang pasar tersebut terlihat pada gambar diatas.

LOKASI PETERNAKAN

Usaha ayam petelur dalam Program Kemitraan Terpadu (PKT) umumnya menggunakan
teknologi yang intensif, baik yang baik menyangkut peralatan produksi maupun teknik
produksinya, termasuk sarana produksi ternaknya (bibit, pakan, obat-obatan, vaksin).
Selain itu untuk keseragaman teknologi dari usaha ayam petelur peternak plasma, maka
usaha ayam ras dari para peternak plasma di lokalisir di suatu Kawasan Industri Ternak
(KINAK), sehingga akan memudahkan pembinaan dan pengawasan oleh inti PIR, baik
dalam hal teknik produksi maupun pengelolaan dananya.

Lokasi dari KINAK usaha ayam petelur ditempatkan pada lahan yang memenuhi
persyaratan sebagai berikut :

1. Jauh dari daerah pemukiman penduduk (kampung), terutama daerah yang banyak
unggasnya, sehingga akan mencegah terjadinya kontaminasi penyakit dari luar.
2. Jauh dari jalan raya yang banyak dilalui kendaraan bermotor, karena suara yang
bising dapat menyebabkan ayam berkurang telurnya akibat stress.
3. Jauh dari lokasi binatang yang menganggu ayam, antara lain ular dan musang,
karena binatang tersebut menyebabkan stress pada ayam petelur.
4. Air bersih mudah diperoleh (mata air, sumur, PDAM dan lain-lain) untuk
keperluan minumnya ayam, tenaga kerja dan membersihkan kandang ayam.
5. Daerahnya tidak lembab dan cukup memperoleh sinar matahari, serta bukan
daerah yang kecepatan anginnya sangat tinggi.

Dari sisi penawaran, pengembangan agribisnis ayam ras petelur masih prospektif di
Indonesia. Dewasa ini satu-satunya komoditi agribisnis yang paling kuat subsistem
hulunya adalah agribisnis ayam ras. Menurut Ditjen Peternakan, dewasa ini Indonesia
memiliki industri pembibitan ayam ras 109 buah, yaitu galur murni (pure line) satu buah,
grant parent stock 13 buah, parent stock 95 buah dengan kapasitas produksi 600 juta day
old chick (doc) final stock pertahun. Di samping itu juga terdapat 60 buah industri pakan
ternak dengan kapasitas 5 juta per ton tahun. Kemudian industri obat-obatan sekitar 34
buah yang mampu memproduksi kebutuhan pharmasetik, biologik dan premiks.

ALAT PRODUKSI

Produk utama/usaha ayam petelur ras adalah berupa telur segar. Untuk usaha ini
diperlukan antara lain lahan kering, bangunan atau rumah kandang, kandang ayam
(batere). Instalasi listrik dan air, peralatan kandang, rumah jaga dan gudang, pagar dan
jalan serta ayam ras petelur (pullet, ayam remaja betina).

Untuk penyediaan dan pembelian lahan, land clearing, pembuatan bangunan kandang,
kandang, jalan dan pagar diperlukan waktu 3 - 6 bulan. Sedangkan pullet (umur 5 bulan)
disediakan dan dibeli sekitar 1 bulan sebelum ayam berproduksi. Umur ekonomis ayam
ras petelur dari mulai bertelur sampai diremajakan kembali selama 15 - 17 bulan (1,25
tahun dan 1,4 tahun).

PROSES PRODUKSI

Proses produksi dalam usaha ayam petelur ras adalah meliputi kegiatan :
1. Persiapan lahan, bangunan, kandang dan peralatan lainnya. Rumah kandang dan
peralatan kandang, sebelum digunakan untuk ayam, disterilkan terlebih dahulu
dengan disinfectant. Untuk mencegah penyakit dari luar, setiap orang yang masuk
ke pekarangan atau kandang harus cuci kaki dahulu dengan air yang diberi
desinfectant pada pintu masuk
2. Pembelian ayam remaja (puller) berumur 5 bulan. Ayam ini akan bertelur 2 - 1
minggu setelah dipelihara peternak. Ayam yang baru dibeli diberi vaksin dan
vitamin agar tidak mudah terserang oleh penyakit, sehingga rata-rata
kematiaannya relatif rendah, yaitu sekitar 0,4 - 0,5% per bulan. Pada akhir periode
ayam tua/kurang produktif yang dapat dijual sebagai ayam potong antara 93 -
94%. Tingkat kematian pada Pola 2000 (7%) lebih besar dapi pada Pola 5000
(6%) karena plasma pada Pola 5000 lebih terampil dan berpengalaman dari pada
Pola 2000 pada Pola 2000 dan Pola 5000.
3. Ayam yang diberi pakan (concentrate), vitamin, obat-obatan dan vaksin pada tiap
hari yaitu dengan konversi pakan berkisar antara 2,18 - 2,25 yaitu untuk
memperoleh 1 kg telur dibutuhkan pakan antara 2,18 - 2,25 kg pakan. Konversi
pakan Pola 2000 (2,25 ) lebih kecil dari pada Pola 5000 (2,2).
4. Pada tiap hari telur dikumpulkan dan dijual kepada inti. Pembayaran dilakukan
tiap minggu (10 hari sekali) sehingga modal kerjannya sekitar biaya eksploitasi
untuk 10 hari untuk pembelian pakan, biaya buruh, obat-obatan, listrik. Dalam
usaha pola PIR ini plasma hanya menerima dana diberi gaji per bulan dan laba
bersih setelah dikurangi dana tabungan pada tiap akhir tahun. Sarana produksi
ayam ini disediakan oleh inti dan telur ayam dibeli oleh inti. Harga telur
ditentukan dengan kontrak tiap 3 - 6 bulan sekali. Namun demikian pada saat
harga rendah ini mengalami kerugian, setiap saat harga tinggi, inti memperoleh
keuntungan besar. Maka agar supaya usaha inti agar tidak rugi (per tahun) plasma
dibagi dlaam beberapa kelompok (3 - 5 kelompok), sehingga produksi plasma PIR
KINAK merata sepanjang tahun, yaitu produksi pada saat harga rendah seimbang
dengan produksi pada saat harga tinggi inti tidak mengalami kerugian.
5. Membersihkan dan memperbaiki kandang serta peralatannya pada tiap hari. Ayam
sakit yang tidak bisa tertolong lagi diafkir dan dijual serta ayam yang mati
dibuang. Kotoran ayam dikumpulkan dan dijual tiap 4 - 5 hari.
6. Setelah ayam kurang produktif lagi (umur 20 -22 bulan) maka ayam tua tersebut
dijual sebagai ayam potong. Selanjutnya kandang dibersihkan dan disterilkan
selama 1 - 2 minggu agar ayam puller yang baru diremajakan terhindar dari
penyakit.>
7. Tenaga kerja yang digunakan dalam pola PIR KINAK ini lebih efisien dari pada
yang dilakukan secara individual di pekarangan rumah plasma, karena konstruksi
peralalatan lebih baik. Dengan pola ini tiap orang tenaga kerja dapat menangani
2.000 (Pola 2000) sampai 5.000 ekor ayam (Pola 5000), sedangkan secara
individu tersebut hanya 1.000 - 1.500 ekor ayam pertenaga kerja. Pada Pola 2000
kemungkinan untuk menggunakan tenaga kerja keluarga plasma, sehingga
penghasilannya lebih besar, sedangkan Pola 5000 menggunakan tenaga kerja
buruh, karena ukuran usaha dan labanya lebih besar dari Pola 2000 tersebut diatas
diawasi dan dibina dengan sangat intensif oleh inti sesuai dengan : Program
pendampingan yang profesional dari UB yang mempunyai kemampuan untuk
memberikan bantuan teknis kepada UK mitra usaha sehingga usaha plasmanya
lebih aman dan menguntungkan serta pengangsuran kredit berjalan lancar.

PRODUKSI

Produksi yang dapat dijual dalam usaha ayam ras petelur ini adalah berupa :

1. Telur ayam. Ayam bertelur tiap hari selama 15 - 17 bulan. Produksi telur Pola
2000 lebih kecil dari pada Pola 5000.
2. Ayam tua/afkir. Ayam tua/kurang produktif dijual setelah 20 - 22 bulan. Selama
bertelur terjadi kematian antara 6% (Pola 5000) sampai 7% (Pola 2000) sehingga
ayam afkir/tua yang dapat terjual pada Pola 2000, 5000, 10000 dan dilihat pada
parameter teknis.

Kompos. Produksi kompos (kotoran ayam dan sisa makanan) adalah sekitar 30 - 40%
dari berat yang diberikan kepada ayam.

TOTAL BIAYA INVESTASI DAN MODAL KERJA

Untuk usaha ayam petelur digunakan antara lain lahan untuk rumah kandang
(tempat baterei kandang ayam), rumah jaga, instalasi listrik, air, peralatan dan lain-lain
(lihat Tabel Investasi 2000, 5000, 10000 dan Produksi 2000, 5000, 10000) termasuk
ayam petelur (layer) yang hampir bertelur (pullet dara, 1 bulan sebelum bertelur).

a. Pola 2000

Modal yang diperlukan 1 unit usaha (2.000 ekor ayam) sekitar Rp. 48.361.986.,
yang terdiri dari Modal Investasi sebesar Rp 46.515.000 (lihat Tabel Investasi 2000) dan
Modal Kerja sebesar Rp 1.846.986 (lihat Tabel Eksploatasi 2000). Modal usaha untuk
150.000 ekor ayam (1 KINAK = 75 plasma) sebanyak Rp. 3.627.148.958 yang terdiri
Modal Investasi sebesar Rp. 3.488.625.000 dan Modal Kerja sebesar Rp. 138.523.958.
Jumlah modal usaha ini dapat bervariasi, tergantung kondisi daerahnya. Demikian pula
jumlah plasmanya dapat kurang dari 75 plasmanya, tergantung kemampuan intinya.
Modal usaha yang terlalu besar kemungkinan usaha ini tidak layak, sehingga tidak bisa
dibiayai.

b. Pola 5000

Modal yang diperlukan 1 unit usaha (5.000 ekor ayam) sekitar Rp. 120.782.056.,
yang terdiri dari Modal Investasi sebesar Rp 116.287.500 (lihat Tabel Investasi 5000)
dan Modal Kerja sebesar Rp 4.494.556 (lihat Tabel Eksploatasi 5000). Modal usaha
untuk 150.000 ekor ayam (1 KINAK = 30 plasma) sebanyak Rp. 3.623.461.667 yang
terdiri Modal Investasi sebesar Rp. 3.488.625.000 dan Modal Kerja sebesar Rp.
134.936.667.Modal usaha dan jumlah plasma dapat bervariasi tergantung kondisi dan
kemampuan intinya.
c. Pola 10.000

Modal yang diperlukan 1 unit usaha (10.000 ekor ayam) sekitar Rp. 241.564.111,
yang terdiri dari Modal Investasi sebesar Rp 232.575.000 (lihat Tabel Investasi 10000)
dan Modal Kerja sebesar Rp 8.989.111 (lihat Tabel Eksploatasi 10000). Modal usaha
untuk 150.000 ekor ayam (1 KINAK = 15 plasma) sebanyak Rp. 3.623.461.667 yang
terdiri Modal Investasi sebesar Rp. 3.488.625.000 dan Modal Kerja sebesar Rp.
134.936.667.

TOTAL BIAYA PROYEK DAN KREDIT

Investasi tetap yang dibutuhkan oleh suatu usaha ini meliputi tanah, konstruksi kandang,
peralatan, ayam petelur dan saranan jalan sedangkan modal kerja dibutuhkan untuk
pakan, obat-obatan, biaya-biaya produksi lainnya dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah.

Kebutuhan Biaya Proyek


Modal
Jumlah Jumlah Biaya
Investasi Kerja Kredit
Proyek
Peternak Ekor (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Pola
2000
1 2.000 46.515.000 1.846.986 48.361.986 48.361.986
5 150.000 3.488.625.000 138.523.958 3.627.148.958 3.627.148.958
Pola 5000

1 5.000 116.287.500 4.494.556 120.782.056 120.782.056


30 150.000 3.488.625.000 134.836.667 3.623.461.667 3.623.461.667
Pola 10000

1 10.000 232.575.000 8.989.111 241.564.111 241.564.111


15 150.000 3.488.625.000 134.936.667 362.461.667 362.461.667

Dari total biaya di bawah ini dan modal sendiri yang minimal maka diperlukan
kredit untuk Pola 2.000, 5.000, 10.000 masing-masing Rp. 48.361.986, Rp
120.782.056, dan Rp. 241.564.111.

PAKET PINJAMAN STANDAR


Paket pinjaman standar adalah dalam bentuk kredit investasi dan kredit modal dengan
jumlah yang bervariasi sesuai dengan skala usaha pada Tabel berikut :

Paket Pinjaman Standar

Modal

Keterangan Kredit Modal


Kredit Jumlah
Modal Investasi/
Investasi Kredit
Kerja Ekor
Peternak Ekor (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Pola
2000
1 2.000 46.515.000 1.846.986 48.361.986 24.181
5 150.000 3.488.625.000 138.523.958 3.627.148.958
Pola 5000

1 5.000 116.285.500 4.494.556 120.782.056 24.156


30 150.000 3.488.625.000 134.836.667 3.623.461.667
Pola 10000

1 10.000 232.575.000 8.989.111 241.564.111 24.156


15 150.000 3.488.625.000 134.836.667 3.623.461.667

Sesuai dengan tingkat kelayakannya, maka Pola 2000 memerlukan kredit berbunga
rendah, yaitu KKPA dengan bunga 16% per tahun. Jumlah kredit yang dibutuhkan oleh
Pola-pola usaha masing Rp. 48.361.986, Rp 120.782.056 dan Rp 241.564.111 dengan
modal sendiri sebagai tercantum dalam tabel diatas.
RENCANA KEBUTUHAN PINJAMAN
Untuk melakukan ekspandi dan akselerasi unit usaha akan meningkatkan
kapasitas 50 % dari usaha sekarang. Dengan peningkatan kapasitas tersebut
diperlukan dana sebesar Rp. 241.564.111,-
Dana pinjaman tersebut akan diangsur selama tiga tahun per bulan. Adapun
agunan untuk pinjaman tersebut adalah tanah dan bangunan yang ada di atas
tempat usaha.
PENUTUP
Demikian proposal yang disusun dalam rangka untuk memenuhi pihak-pihak yang
memerlukan dan bagi pemilik sebagai acuan pengembangan bisnis.

Makassar, 05 Februari 2009


Konsultan UMKM

Linda Mukarramah,SE.,M.M.
Lampiran:

STRUKTUR ORGANISASI
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP)
NO. SIUP : 33868.65938/67-8575/PK/II/2005

NAMA PERUSAHAAN : PT. INDO RAYA MAKMUR


ALAMAT KANTOR PERUSAHAAN : Jl. Melati No. 05 Taeng, Pallangga – Kab.
Gowa, Sulawesi Selatan Telp. 0411-
8219525

NAMA PEMILIK/PENANGGUNG JAWAB: RAHIM, SP.


ALAMAT PEMILIK/PENANGGUNG
JAWAB : Jl. Kawasan Industri No.65 Makassar,
Sulawesi Selatan, Telp. 0411-876543
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK(NPWP) : 5.9875.7996.8-5647
GOLONGAN USAHA : PERUSAHAAN KECIL
BIDANG USAHA : PERDAGANGAN BARANG
JENIS KEGIATAN USAHA : PERDAGANGAN DALAM NEGERI
DAN EKSPOR
JENIS BARANG/JASA DAGANGAN : BUDI DAYA AYAM PETELUR

SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) INI BERLAKU UNTUK


MELAKUKAN KEGIATAN PERDAGANGAN DI SELURUH WILAYAH REPUBLIK
INDONESIA SELAMA PERUSAHAAN MASIH MENJALANKAN KEGIATAN
USAHANYA.

DIKELUARKAN DI : MAKASSAR
PADA TANGGAL : 20 FEBRUARI 2005