Anda di halaman 1dari 10

HIKMAH PBI 02 20401110026 BAB 6 Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)

REBT dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950-an yang menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku. REBT adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku, dan pikiran. REBT adalah pendekatan yang bersifat direktif, yaitu pendekatan yang membelajarkan kembali konseli untuk memahami input kognitif yang menyebabkan gangguan emosional, mencoba mengubah pikiran konseli agar membiarkan pikiran irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah laku. PANDANGAN TENTANG MANUSIA 1. Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir rasional dan irasional. 2. Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orang tua dan budayanya. 3. Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui symbol dan bahasa. 4. Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalizing). 5. Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya. 6. Pikiran dan perasaan yang negative dan merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional. KONSEP DASAR

A. Asumsi Dasar Menurut Ellis (1993), asumsi dasar REBT dikategorikan sebagai berikut: 1. Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. 2. Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan. 3. Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar. 4. Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. 5. Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu cenderung menciptakan keyakinan yang irasional tentang kejadian tersebut. 6. Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu. 7. Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya. 8. Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior). Menurut Nelson dan Jones (1995), tiga hipotesis fundamental yang menjadi landasan berpikir teori REBT, yaitu: 1. Pikiran dan emosi saling berkaitan. 2. Pikiran dan emosi biasanya saling mempengaruhi satu sama lain, keduanya bekerja seperti lingkaran yang memiliki hubungan sebab akibat, dan pada poin tertentu, pikran dan emosi menjadi hal yang sama. 3. Pikiran dan emosi cenderung berperan dalam self-talk (perbincangan dalam diri individu yang kerap kali diucapkan oleh individu sehingga menjadi pikiran dan emosi). Menurut Ellis, terdapat enam prinsip teori REBT, antara lain: 1. Pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting terhadap emosi individu.

2. Disfungsi berpikir adalah penentu utama setres emosi. 3. Cara terbaik untuk mengatasi setres adalah dengan mengubah cara berpikir. 4. Percaya atas berbagai faktor yaitu pengaruh genetik dan lingkungan yang menjadi penyebab pikiran yang irasional. 5. Menekankan pada masa sekarang (present) dari pada pengaruh masa lalu. 6. Perubahan tidak terjadi dengan mudah.

B. Proses Berpikir Individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu: 1. Berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences). 2. Mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation). 3. Keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief). Irrational belief dapat dikategorikan menjadi empat, yakni: 1. Demands (tuntutan), adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolut terhadap kejadian. 2. Awfulising, adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan. 3. Low frustation tolerance (LFT), adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selal berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.

4. Global evaluations of human worth, adalah menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain.

C. Rasionalitas sebagai Filosofi Personal Individu memiliki personal aturan-aturan atau filosofi hidup yang dipengaruhi oleh pola asuh, ajaran agama, prinsip umum hidup atau opini yang dipegang teguh secara umum.

D. Teori ABC Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), kemudian ditambahkan D dan E untuk mengakomodasi perubahan dan hasil yang diinginkan dari perubahan tersebut. TUJUAN KONSELING Tujuan REBT adalah membantu individu mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). Tujuan ini dibagi dalam beberapa sub tujuan yaitu: 1. Memiliki minat diri (self interest) 2. Memiliki minat sosial (social interest) 3. Memiliki pengarahan diri (self direction) 4. Toleransi (tolerance) 5. Fleksibel (flexibility) 6. Memiliki penerimaan (acceptance) 7. Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

8. Dapat menerima diri sendiri (self acceptance) 9. Dapat mengambil resiko (risk taking) 10. Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation) PERAN DAN FUNGSI KONSELOR 1. Aktif-direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untk memberikan penjelasan terutama pada awal konseling. 2. Mengkonfrontasi pikiran irasional konseli secara langsung. 3. Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus konseli untuk berpikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri. 4. Secara terus menerus menyerang pemikiran irasional konseli. 5. Mengajak konseli untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan berpikir bukan emosi. 6. Bersifat didaktif. TAHAP-TAHAP KONSELING 1. Bekerjasama dengan konseli (engage with client). 2. Melakukan asesmen terhadap masalah, orang dan situasi (assess the problem, person and situation). 3. Mempersiapkan konseli untuk terapi (prepare the client for therapy). 4. Mengimplementasikan program treatmen (implement the treatment program). 5. Mengevaluasi kemajuan (evaluate progress). 6. Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling (prepare the client for termination). TEKNIK-TEKNIK KONSELING 1. Teknik Kognitif

Dispute cognitif (cognitive deputation) Analisis rasional (rational analysis) Dispute standard ganda (double-standard dispute) Skala katastropi (catastrophe scale) Devils advocate atau rational role reversal Membuat frame ulang (reframing)

2. Teknik Imageri Dispute imajinasi (imaginal disputation) Kartu kontrol emosional (the emotional control card) Proyeksi waktu (time projection) Teknik melebih-lebihkan (the blow-up technique)

3. Teknik Behavioral Dispute tingnkah laku (behavioral disputation) Bermain peran (role playing) Peran rasional terbalik (rational role reversal) Pengalaman langsung (exposure) Menyerang rasa malu (shame attacking) Pekerjaan rumah (homework assignment)

BAB 7 PENDEKATAN REALITAS (REALITY THERAPY) Pendekatan realitas dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Menurut Glasser, setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang secara konstan (terus-menerus) hadir sepanjang rentang kehidupannnya dan harus dipenuhi. Galsser menjelaskan kebutuan-kebutuhan dasar psikologis manusia, meliputi: a. Cinta (Belonging/Love), kebutuhan ini dibagi dalam tiga bentuk, yaitu social belonging, work belonging, dan family belonging. b. Kekuasaan (Power), kebutuhan akan kekuasaan meliputi kebutuhan untuk berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan. c. Kesenangan (Fun) d. Kebebasan (Freedom) KONSEP DASAR Perilaku manusia merupakan perilaku total, terdiri dari doing, thinking, feeling, dan physiology. Teori Kontrol

Menurut Glasser, penerimaan terhadap realita harus tercermin dalam perilaku total yang mengandung empat komponen, yaitu berbuat, berpikir, merasakan, dan menunjukkan repson-respon fisiologis. Ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya, orang tersebut mencapai identitas sukses. Pencapaian identitas sukses ini terikat pada konsep 3R, yaitu keadaan di mana individu dapat menerima kondisi yang dihadapinya, dicapai dengan menunjukkan perilaku total, berbuat, berpikir, merasakan, dan menunjukkan respon fisiologis secara bertanggung jawab, sesuai realita, dan benar. Konsep 3R a. Responsibility (Tanggung Jawab), adalah kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus merugikan orang lain. b. Reality (Kenyataan), adalah kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya. c. Right (Kebenaran), merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum, sehingga tingkah laku dapat diperbandingkan.

PROSES KONSELING Menurut Glasser, hal-hal yang membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi selama proses konseling adalah: a. Konseli dapat mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan apa yang dipersepsikan tentang kondisi yang dihadapinya. b. Konseli focus pada perilaku sekarang tanpa terpaku pada permasalahan masa lalu. c. Konseli mau mengevaluasi perilakunya, merupakan kondisi di mana konseli membuat penilaian tentang apa yang telah ia lakukan terhadap dirinya berdasarkan sistem nilai yang berlaku di masyarakat.

d. Konseli mulai menetapkan perubahan yang dikehendakinya dan komitman terhadap apa yang telah direncanakan. TAHAP-TAHAP KONSELING Ada 8 tahap dalam konseling realita, yaitu: a. Konselor menunjukkan keterlibatan dengan konseli. b. Focus pada perilaku seseorang. c. Mengeksplorasi total behavior konseli. d. Konseli menilai diri sendiri atau melakukan evaluasi. e. Merencanakan tindakan yang bertanggung jawab. f. Membuat komitmen. g. Tidak menerima permintaan maaf atau alasan konseli. h. Tindak lanjut.

TUJUAN KONSELING Konseling ini bertujuan membantu individu mencapai identitas berhasil, yaitu individu yang mengatahui langkah-langkah apa yang akan ia lakukan di masa yang akan datang dengan segala konsekuensinya. Bersama-sama konselor, konseli dihadapkan kembali pada kenyataan hidup, sehingga dapat memahami dan mampu menghadapi realita. PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Fungsi konselor dalam pendekatan realitas adalah melibatkan diri dengan konseli, bersikap direktif dan didaktik, yaitu berperan seperti guru yang mengarahkan dan dapat saja mengkonfrontasi, sehingga konseli mampu menghadapi kenyataan. Di sini, terapis sebagai fasilitator yang membantu konseli agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realitas.