Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu :

Disusun Oleh : Muhammad Hilmi (106013090)

FAKULTAS FAI PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Berikut ini kami paparkan sebuah makalah dengan judul "Tinjauan Fisiologis tentang Pendidikan Islam", semoga makalah kami ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi teman-teman yang lainnya untuk lebih mengetahui tentang Pendidikan Islam. Apabila dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun susunan kalimat, kami mohon maaf dan pemaklumannya. Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Semarang, 25 Juni 2013 Penulis Muhammad Hilmi

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Salah satu sistem yang memungkin proses kependidikan Islam berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan Islam. Dari Peryataan ini dapat di pahami lingkungan Islam adalah sesuatu institusi atau lembaga di mana pendidikan itu barlangsung. Dalam berbagai sumber bacaan kependidikan, jarang di jumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan. penjelasan mengenai lingkungan pendidikan Islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan yang dalam praktek sejarah digunakan sebagai tempat berlangsunnya kegiatan pendidikan, al-Quran secara berlangsung maupun tidak langsung menyinggungnya. Lingkungan yang bagaimanakah yang ideal untuk terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik, akan diuraikan nanti.

B. RUMUSAN MASALAH a. Menjelaskan pengertian lingkungan tarbiyah islamiyah.

b. Menjelaskan fungsi lingkungan tarbiyah islamiyah. c. Menjelaskan bagaimana lingkungan yang ideal untuk pelaksanaan pendidikan islam.

BAB II PEMBAHASAN

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM


A. Pengertian Lingkungan Tarbiyah Islamiyah Salah satu sistem yang memungkin proses kependidikan Islam berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan Islam. Dari Peryataan ini dapat di pahami lingkungan Islam adalah sesuatu institusi atau lembaga di mana pendidikan itu barlangsung. Dalam berbagai sumber bacaan kependidikan, jarang di jumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan. Kajian lingkungan pendidikan ini biasanya terintegrasi secara implisit dengan pembahasan mengenai macammacam lingkungan pendidikan. Namun demikian, dapat dipahami bahwa lingkungan tarbiyah islamiyyah itu adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat cirri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan islam dengan baik. Al-Quran tidak mengemukakan penjelasan mengenai lingkungan pendidikan Islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan yang dalam praktek sejarah digunakan sebagai tempat berlangsunnya kegiatan pendidikan, al-Quran secara berlangsung maupun tidak langsung menyinggungnya. Namun demikian , lingkungan sebagai sebuah tepat kegiatan sesuatu hal, mendapat pengarahan dan perhatian dari al- Qur;an. Sebagai tempat tinggal manusia pada umumnya, lingkungan dikenal dengan istilah al-qaryah diulang dalam alQuran sebanyak 52 kali yang di hubungkan dengan keadaan tingkah laku penduduknya. Sebagaian ada yang dihubungkan dengan penduduknya yang berbuat durhaka lalu mendapat siksaan dari allah (Q.S. 4:75; 7:4; ) sebagai berikut:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!".

QS. an-Nisa' (4) : 75

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. ( Al araf :4)

Sebagaian di hubungkan dengan penduduknya yang berbuat baik sehingga menimbulkan suasana yang aman dan damai (16: 112) dan sebagaian lagi dihubungkan dengan tempat tinggal para nabi (Q.S. 7: 88 ) berikut ini:

Pemuka-pemuka dan kaum Syuaib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syuaib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" ( Al araf :88) Semua ini menunjukan tentang pentingnya lingkungan atau tempat bagi suatu kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan Islam. Lingkungan yang bagaimanakah yang ideal untuk terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik, akan diuraikan nanti. B. Fungsi Lingkungan Tarbiyah Islamiyah Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa lingkungan atau tempat berguna untuk menunjang suatu kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan, karena tidak ada satupun kegiatan yang tidak memerlukan tempat di mana kegiatan itu diadakan. Sebagai lingkungan tarbiyah Islamiyyah, ia mempunyai fungsi antara lain menunjang terjadinya proses kegiatan belajar mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan. Sebelum belajar di madrasahmadrasah tersebut, kaum muslim belajar di kutab di mana Diajarkan bagaimana cara membaca dan menulis huruf al-Quran, dan kemudian diajarkan ilmu agama dan ilmu al-Quran. Perkembangan selanjutn ya institusi lembaga pendidikan ini di sederhanakan menjadi lingkungan sekolah pendidikan dan pendidikan luar sekolah.

1. Satuan Pendidikan luar Sekolah Diantara satuan pendidikan luar sekolah adalah keluarga yang berlangsung di rumah. Untuk ini perlu di bahasa mengenai apa yang dimaksud dengan keluarga dan rumah itu. Didalam al-Quran kata keluarga di presentasikan melalui kata ahl. Informasi yang di berikan oleh Muhammad fuad Abd al Baqy di dalam al Quran kata keluarga diulang sebanyak 128 kali dan sesuai dengan konteksnya, kata-kata tersebut tidak selamanya menujukan pada pada arti keluarga sebagai mana disebutkan diatas, melainkan punya arti yang bermacammacam. Pada surat al-Baqarah ayat 126, misalnya kata keluarga diartikan Sebagai penduduk suatu negeri. Selanjutnya pada surat yang sama pada ayat 109 kata itu berarti penganut suatu ajaran seperti Ahl al-Kitab. Selain itu surat an-Nisa ayat 58 mengartikan keluarga sebagai orang yang berhak menerima sesuatu. Selebihnya kata ahl dalam al-Quran ditujukan kepada keluarga dalam arti kumpulan laki-laki dan perempuan yang diikat oleh tali perkawinan dan di dalamnya terdapat orang yang menjadi tanggungannya, seper anak dan mertua. Pada beberapa ayat dalam Al-Quran berikut ini dijelaskan pengertian keluarga tersebut: Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat (Q.S. Thaha: 132). Karena keluarga sekurang-kurangnya terdiri dari suami dan isteri, maka kajian tentang keluarga ini dapat dikoordinasikan dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan tujuan terciptanya keluarga, peran dan tugas suami isteri, hak dan kewajibannya masing-masing, manajemen keluarga dan seterusnya yang kesemuanya itu mengacu pada terciptanya keluarga yang berkualitas yang dapat menompang tugasnya dalam membina putera puteri dalam keluarga tersebut. Untuk dapat melaksanakan fungsinya yang demikian itu, maka sebelum dibangun suatu keluarga perlu dipersiapkan syarat-syarat pendukungnya. Al-Quran antara lain memberikan syarat yang bersifat psikologis, saling mencintai (QS. An-Nisa: 3), kedewasaan yang ditandati oleh batas usia tertentu dan kecukupan bekal ilmu dan pengalaman untuk memikul tanggung jawab yang dalam bahasa Al-Quran disebut baligh (QS. An-Nisa: 6). Selain kesamaan agama dalam keluarga juga menjadi syarat yang penting diperhatikan. Di dalam Al-Quran terdapat petunjuk yang menyebabkan terhalangnya perkawinan, yaitu syirik atau meyekutukan Tuhan (QS. Al-Baqarah:221). Selanjutnya terdapat juga persyaratan kesetaraan (kafaah) dalam perkawinan baik dari segi latar belakang agama, social, pendidikan, dan sebagainya. Begitu pentingnya peranan yang harus dimainkan oleh keluarga dalam mendidik, maka dalam berbagai sumber bacaan mengenai kependidikan, keluarga selalu disinggung dan

diberi peran yang penting. Ki Hajar Dewantara, misalnya mengatakan bahwa alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan di situ pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Tiga bagian itu di dalam keluarga belum terpisah-pisah, akan tetapi masih bersifat global atau total. Berkaitan dengan peranan keluarga dalam pendidikan tersebut, al-Quran juga berbicara mengenai peranan yang dimainkan oleh tempat tinggal atau rumah di mana keluarga itu berada. Kata-kata bait atau rumah di dalam al-Quran diulang sebanyak 59 kali. Yaitu dengan kata-kata al-bait (bentuk tunggal) sebanyak 25 kali, dengan kata-kata buyut (bentuk jamak dari kata al-bait) sebanyak 20 kali, dengan kata buyut yang dihubungkan dengan kata ganti orang yang hadir banyak (kum), menjadi buyutukum sebanyak 8 kali. Pada kata buyutukum dikaitkan dengan bermacam-macam subjek. Terkadang dikaitkan dengan pemilik rumah tersebut, dikaitkan dengan fungsinya sebagai tempat tinggal manusia dengan berbagai latar belakang social ekonomi, pendidikan, dan lainnya yang berbeda-beda (QS. 24:61) sebagai tempat tinggal nabi yang dilarang seseorang memasukinya tanpa izin (QS. 15:82), sebagai tempat tinggal yang dapat dibuat dari kulit dan dipindah-pindahkan (tenda) (QS. 16:80), sebagai sumber tempat menyimpan sesuatu (gudang) (QS. 3:49) dan sebagai tempat membacakan ayat-ayat Allah dan hadits nabi (QS. 33:34). Selain itu sebagai isyarat bagi orang yang lalim, bahwa rumahnya bisa runtuh tiba-tiba (QS. 27:52). Selanjutnya pada kata buyutukum, rumah dikaitkan dengan keadaannya antara lain lotengnya yang terbuat dari perak. Demikian pula pintunya ada yang terbuat dari perak (QS 43: 33, 34). Dengan demikian menurut Al-Quran rumah tidak sepantasnya menjadi tempat pertemuan umum, tetapi apabila dibutuhkan dan keadaan mendesak, maka rumah dapat dijadikan sebagai tempat kegiatan belajar secara khusus. Berkenaan dengan ini Al-Abdari dalam bukunya al-Madkhal sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syalabi mengatakan tempat yang paling utama untuk memberi pelajaran ialah masjid, karena duduk untuk mengajar itu hnya berfaedah bila dapat memperlihatkan sunnah, memberantas bidah atau dapat mengajarkan sesuatu hukum dari hukum-hukum yang didatangkan Allah. Lingkungan pendidikan selanjutnya adalah masjid-masjid, mushalla, pesantren, madrasah, dan universitas-universitas yang secara keseluruhan memiliki fungsi social kependidikan dan bersifat umum.

2. Lingkungan Pendidikan Sekolah Sekolah sebagai tempat belajar sudah tidak dipersoalkan lagi keberadaannya. Secara histories keberadaan sekolah ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari keberadaan masjid, yaitu karena adanya diantara mata pelajaran-mata pelajaran yang untuk mempelajarinya diperlukan soal jawab, perdebatan, dan pertukaran pikiran. Di dalam Al-Quran tidak ada satupun kata yang secara langsung menunjukkan pada arti sekolah, yaitu madrasah. Tetapi sebagai akar kata dari madrasah, yaitu darasa di dalam al-Quran dijumpai sebanyak enam kali. Kata-kata darasa dalam al-Quran diartikan bermacam-macam, diantaranya berarti mempelajari sesuatu (QS. 6:105), mempelajari Taurat (QS. 7:169), perintah agar mereka (ahli kitab) menyembah Allah lantaran mereka telah membaca al-Kitab (QS. 3:79), pertanyaan kepada kaum Yahudi, apakah mereka memiliki kitab yang dapat dipelajari (QS. 68:37), informasi bahwa Allah tidak pernah memberikan kepada mereka suatu kitab yang mereka pelajari (baca) (QS. 34:44) dan berisi informasi bahwa al-Quran ditujukan sebagai bacaan untuk semua orang (QS. 6:156). Dari keteran gan tersebut jelas sekali bahwa kata-kata darasa yang merupakan akar kata dari madrasah terdapat di dalam al-Quran. Ini menunjukkan bahwa keberadaan madsarah sebagai tempat belajar atau tempat mempelajari sesuatu sejalan dengan semangat al-Quran yang senantiasa menunjukkan kepada umat manusia agar mempelajari sesuatu.

3. Lingkungan Masyarakat Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT. yang keberadaan hidupnya tidak dapat menyendiri. Manusia membutuhkan masyarakat di dalam pertumbuhan dan perkembangan kemajuannya yang dapat meninggikan kualitas hidupnya. Semua itu membutuhkan masyarakat, dan mereka harus hidup di masyarakat. Ibnu Sina pernah mengatakan: manusia berbeda dengan makhluk lainnya disebabkan manusia itu tidak dapat memperbaiki kehidupannya jika ia hidup menyendiri tanpa ada orang lain yang menolong memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya, di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan bahwa masyarakat adalah pergaulan hidup manusia atau sekumpulan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu; misalnya memperbaiki keadaan masyarakat. Masyarakat dalam arti seperti disebutkan di atas adalah merupakan suatu keharusan. Ahli-ahli filsafat menyatakan kebenaran ini karena menurut wataknya, manusia adalah makhluk social,

artinya bahwa ia membutuhkan suatu masyarakat, atau suatu kota sebagaimana mereka namakan. Di dalam al-Quran suatu perkumpulan atau masyarakat dapat digunakan kata jamaa. kata-kata jamaa di dalam al-Quran diulang sebanyak 130 kali yang diungkap dalam bentuk kata kerja seperti jamaa atau yajmau dan dalam bentuk kata benda atau isim seperti aljamu, jamiu, dan sebagainya. Banyaknya ayat-ayat al-Quran yang menyebutkan kata-kata perkumpulan atau jamaah tersebut menunjukkan pentingnya perkumpulan bagi masyarakat, sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk bermasyarakat.

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (Al isro : 13)

Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. (Al isro : 28)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Dapat dipahami bahwa lingkungan tarbiyah islamiyyah itu adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat cirri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan islam dengan baik. Lingkungan atau tempat berguna untuk menunjang suatu kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan, karena tidak ada satupun kegiatan yang tidak memerlukan tempat di mana kegiatan itu diadakan. Sebagai lingkungan tarbiyah Islamiyyah, ia mempunyai fungsi antara lain menunjang terjadinya proses kegiatan belajar mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan.

B. KRITIK DAN SARAN Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.