Anda di halaman 1dari 13

Askep Bidan

Kamis, 01 November 2012


pre eklamsia dan eklamsia
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan status gizi dankesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas. Penyebab tingginya angkakematian ibu juga terutama disebabkan karena faktor non medis yaitu faktor ekonomi, sosial budaya, demografi serta faktor agama. Sebagai contoh banyak kaumibu yang menganggap kehamilan sebagai peristiwa alamiah biasa padahal kehamilan merupakan peristiwa yang luar biasa sehingga perhatian terhadap kesehatan ibu hamil harus diperhatikan. Rendahnya pengetahuan ibu terhadap kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan selama kehamilan juga menjadi sebab tingginya kematian ibuselain pelayanan dan akses mendapatkan pelayanan kesehatan yang buruk. Ketut Sudha Berata, 2006) World Health Organization (WHO) memperkirakan 585.000 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan, proses kelahiran dan aborsi yang tidak aman. Sekitar satu perempuan meninggal setiap menit. (WHO,2004) Negara-negara di Asia termasuk Indonesia adalah negara dimana warga perempuannya memiliki kemungkinan 20-60 kali lipat dibanding negara-negara Barat dalam hal kematian ibu karena persalinan dan komplikasi kehamilan. Di negara-negara yang sedang berkembang, angka kematian ibu berkisar 350 per 10.000 kematian. Angka kematian ibu di Indonesia adalah 470 per 100.000 kelahiran. Angkayang sangat mengkhawatirkan karena meningkat dari angka yang tercatat peda beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 1997, AKI mencapai 397 orang per 100.000 kelahiran yang berarti bertambah sekitar 73 orang.Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Dengan kecenderungan seperti ini, pencapaian target MDG untuk menurunkan AKI akan sulit bisa terwujud kecuali apabila dilakukanupaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. Data menunjukkan sebagian besar kematian terjadi pada masyarakat miskindan mereka yang tinggal jauh dari Rumah Sakit. Penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan, eklampsia, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Kontribusi dari penyebab kematian ibu tersebut masing-masing adalah perdarahan 28 %, eklampsia 13 %, aborsi yang tidakaman 11%, serta sepsis 10%. Salah satu penyebab kematian tersebut adalahPreeklampsia dan eklampsia yang bersama infeksi dan pendarahan, diperkirakanmencakup 75-80 % dari keseluruhan kematian maternal. Kejadian preeklampsi-eklampsi dikatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat apabila CFR PE-Emencapai 1,4%-1,8%. (Zuspan F.P, 1978 dan Arulkumaran ,1995)Penelitian yang dilakukan Soedjonoes pada tahun 1983 di 12 RS pendidikandi Indonesia, di dapatkan kejadian PE-E 5,30% dengan kematian perinatal 10,83 perseribu (4,9 kali lebih besar di banding kehamilan normal). Sedangkan berdasarka penelitian Lukas dan Rambulangi tahun 1994, di dua RS pendidikan di Makassar insidensi preeklampsia berat 2,61%, eklampsia 0,84% dan angka kematian

akibatnya22,2%.Target penurunan angka kematian ibu menjadi 124 per 100.000 kelahiranhidup pada tahun 2015 tidak mudah tercapai mengingat sistem pelayanan obsentriemerjensi masih lemah. Akhirnya yang harus diingat dari informasi diatas adalahsesungguhnya masalah kematian ibu bukanlah masalah ibu sendiri akan tetapimerupakan masalah internasional dimana setiap negara seharusnya memilikitanggungjawab untuk menanggulangi dan mencegah kematian ibu. B.Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dikemukakan rumusanmasalah sebagai berikut: 1. Bagaimana frekuensi kematian ibu yang disebabkan oleh Preeklampsia dan eklampsia 2. Bagaimana distribusi kematian ibu yang disebabkan oleh Preeklampsia dan eklampsia 3. Bagaimana gambaran determinan kematian ibu yang disebabkan oleh Preeklampsia dan eklampsia 4. Apa program pemerintah untuk menanggulangi komplikasi kehamilan 5. Apa isu isu terkini kematian ibu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Definisi Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri. Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejalaini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik.Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan ataunifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau koma. Sebelumnya wanita tadimenunjukkan gejalagejala Preeklampsia. B.Etiologi Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya, olehkarena itu disebut penyakit teori. Namun belum ada yang memberikan jawabanyang memuaskan. Teori yang sekarang ini dipakai sebagai penyebab Preeklampsiaadalah teori iskemia plasenta. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua halyang berkaitan dengan penyakit ini. Rupanya tidak hanya satu fackor yangmenyebabkan pre eklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukansering kali sukar ditentukan mana yang sebab dan mana yang akibat. C.Gejala 1. Gejala Preeklampsia Biasanya tanda-tanda Preeklampsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. PadaPreeklampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada Preeklampsia beratGejala-gejalanya adalah: 1.Tekanan darah sistolik 160 mmHg 2.Tekanan darah diastolik 110 mmHg 3.Peningkatan kadar enzim hati/ ikterus 4.Trombosit < 100.000/mm 5.Oliguaria < 400 ml/24 jam 6.Proteunaria > 3 g/liter 7.Nyeri epigastrium 8.Skotoma dan gangguan visus lain atau nyeri frontal yang berat 9.Perdarahan retina 10.Edema pulmonum 11.Koma 2.Gejala eklampsia Pada umumnya kejangan didahului oleh makin memburuknya Preeklampsiadan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan,mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenaldan tidak segera diobati, akan timbul kejangan terutama pada persalinan bahaya ini besar.

D.Komplikasi Akibat Preeklampsia Dan Eklampsia Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi dibawahini biasanya terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia. 1. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia. 2. Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat 3. Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus. Belum di ketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah. Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderitaeklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut. 4. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal penderita eklampsia. 5. Kelainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlansungsampai seminggu. 6. Edema paru-paru 7. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. 8. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet. 9. Kelainan ginjal 10. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi. 11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uterin. E.Pencegahan 1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu sertateliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), laludiberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. 2. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinyaPreeklampsia kalau ada faktorfaktor predeposisi 3. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. 4. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera apabila di temukan. 5. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya padakehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.

BAB III PEMBAHASAN Seperti yang diketahui sebelumnya bahwa Preeklampsia dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu terbesar di negara- negara berkembang. disamping perdarahan dan infeksi. Berikut ini gambaran epidemiologi Preeklampsia dan eklampsia. A.Frekuensi Kejadian Preeklampsia dan Eklampsia. Secara umum kejadian komplikasi kehamilan mencakup 75-80% dari keseluruhan kematian maternal, angka kejadian Preeklampsia di dunia sebesar 0-13%. (Zuspan F.P,1978 Frekuensi Preeklampsia untuk tiap negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya seperti jumlah primigravida, perbedaan kriteria dalam penentuan diagnosis serta masih rendahnya status sosial-ekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Dalam kepustakaan, frekuensi dilaporkan berkisar antara 3-10%. Frekuensi eklampsia bervariasi antara satu negara dan yang lain. Frekuensi rendah pada umumnya merupakan petunjuk tentang adanya pengawasan antenatal yang baik, penyediaan tempat tidur antenatal yang cukup, dan penanganan Preeklampsia yang sempurna. Di negara-negara berkembang, frekuensi dilaporkan berkisar antara 0,3%-0,7% sedangkan di negara-negara maju angka tersebut lebih kecil yaitu 0,05%-0,1%. Secara khusus frekuensi kejadian komplikasi kehamilan akibat Preeklampsia daneklampsia dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1 Frekuensi Komplikasi Kehamilan (Preeklampsia dan Eklampsia) 1998-2006

Sumber data sekunder B.Distribusi Kejadian Preeklampsia Dan Eklampsia. 1. Distribusi Menurut Umur Distribusi kejadian Preeklampsia-eklampsia berdasarkan umur banyak ditemukan pada kelompok usia ibu yang ekstrim yaitu kurang dari 20 tahun dan lebihdari 35 tahun. Distribusi Preeklampsia dan eklampsia dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2Distribusi Kejadian Preeklampsia dan Eklampsia Menurut Umur Tahun 2006

Sumber data sekunder 2006 Pada usia Ibu lebih dari 35 tahun, dalam tubuh telah terjadi perubahan- perubahan akibat penuaan organ-organ. Dengan begitu, kemungkinan untuk mendapat penyakit-penyakit dalam masa kehamilan yang berhubungan dengan umur akan meningkat, seperti penyakit darah tinggi (hipertensi), keracunan kehamilan, (preeklamsi/eklamsi), diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah. Disebut risikotinggi karena kemungkinan terjadinya hasil kehamilan yang buruk/komplikasi padaibu usia ini akan meningkat. 2.Distribusi Menurut Usia Kehamilan Biasanya preeklamsia muncul pada triwulan ketiga kehamilan, dan bisa juga pada awal triwulan. Distribusi kejadian Preeklampsia-eklampsia terbanyak ditemukan pada usiakehamilan antara 37-42 minggu pada kehamilan pertama.

C.Determinan Kejadian Preeklampsia Dan Eklampsia Di negara-negara, berkembang tingginya kejadian Preeklampsia daneklampsia disebabkan karena masih rendahnya status sosial ekonomi disertai dengankurangnya pengetahuan dan persepsi tentang kesehatan terutama kesehatanreproduksi mengakibatkan terbatasnya pemahaman dan akses ibu terhadap pelayanankesehatan. Determinan yang mempengaruhi terjadinya Preeklampsia dan eklampsiayaitu: 1. Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem,yaitu remaja dan umur 35 tahun keatas. 2. Multigravida dengan kondisi klinis: a. Kehamilan ganda dan hidrops fetalis b. Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetesmellitus c. Penyakit penyakit ginjal 3. Hiperplasentosis: Molahidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, bayi besar, diabetes mellitus. 4. Riwayat keluarga pernah Preeklampsia atau eklampsia. 5. Obesitas dan Hidramnion 6. Gizi yang kurang dan anemi. 7. Kasus - kasus dengan kadar asam urat tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang anti oksi dan.

D.Program Pemerintah Program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu yaitu: 1. Safe Motherhood/ Making Pregnancy Safer (MPS) Pemerintah Indonesia dan Unicef telah membuat kesepakatan untuk menurunkan tingkat kematian ibu di Indonesia yang merupakan priorotas nomor satudalam persetujuan kerjasamanya. AUSAID mendanai program safe motherhood diempat provinsi dengan tingkat kematian ibu yang tinggi dan tidak dapat ditolerir,yaitu Jawa Barat, Banten, Maluku dan Papua. Maluku dan Papua merupakan dua diantara sekian provinsi di Indonesia yang penduduknya sedikit dan tersebar di wilayahyang mencakup daratan dan lautan. Sementara jumlah keseluruhan perempuan yangmati akibat melahirkan di dua provinsi ini berkurang, tingkat kematian ibumelahirkannya tetap lebih tinggi dari rata-rata tingkat nasional.Menanggapi tingginya tingkat kematian ibu melahirkan di provinsi-provinsi tersebut, program safe motherhood ditujukan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dandinas-dinas pemerintah di tingkat kabupaten dan yang lebih rendah, sehingga dapatmengurangi tingkat kematian ibu, bayi dan balita. Program safe motherhood bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian ibudengan cara: 1) Meningkatkan mutu dari, dan akses ke pelayanan perawatan kesehatan ibu dan bayi. 2) Mendukung jangkauan dan kapasitas bidan di desa dan dukun bayi 3) Memberdayakan masyarakat untuk mengenali kesulitan-kesulitan selamamasa kehamilan dan persalinan agar dapat mengambil tindakan tepat gunamembantu ibu dan bayi. 4) Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan,melaksanakan, mengelola dan mengawasi program persalinan yang aman 2. Gerakan Sayang Ibu (GSI) GSI adalah suatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat, bekerja samadengan pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan AKI karenahamil, melahirkan, dan nifas Unsur ke-1 GSI: Dilaksanakan masyarakat dan pemerintah. Masyarakat aktif sebagai pelaku, tidak hanya sasaran; diserahkan secara bertahapdari pemerintah ke masyarakat; perlu waktu panjang, konsisten danintensif. Unsur ke-2 GSI meningkatkan kualitas hidup perempuan. Penyadaran atas hak-hak reproduksi perempuan; perencanaan kehamilan dan kelahiranyang baik; perawatan bayi yang baik Unsur ke-3 GSI: Mempercepat penurunan AKI, karena kehamilan, melahirkan, dan nifas 3 .Meningkatkan Akses Masyarakat Miskin Kebijakan yang ditempuh adalah denganpengembangan sistem jaminankesehatan. Metode layanan kesehatan ini telah dimulai sejakterjadinya krisiseknonomi pada tahun 1998, melalui Program Jaring Pengaman Sosial yaitudenganmemberikan pelayanan kesehatan gratis kepada penduduk miskin. Dalam RPJMN2004-2009, program ini terus dilanjutkan dan ditingkatkan dengan sistem asuransikesehatan 4 .Audit Maternal Perinatal Audit Maternal Perinatal menurut istilah di bidang kesehatan yaitu proses penelaahan bersama kasus kesakitan dan kematian ibu dan perinatal serta pelaksanaannya. Tujuan umum meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dananak (KIA) untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan balita. Sedangkan tujuankhusus menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatalsecara tertatur dan kontinyu, menentukan intervensi untuk

masing-masing pihak untuk mengatasi kasus yang ditemukan serta mengoptimalkan koordinasi antara DinKes, RS dan puskesmas dalam peoses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan danevaluasi. E. Isu Isu Terkini Kematian Ibu Yang Disebabkan Oleh Komplikasi Kehamilan 1.Secara umum isu-isu kematian ibu yaitu : 1. Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasanAsia, yakni 307/100.000 kelahiran Provinsi penyumbang kasus kematian ibu melahirkan terbesar ialah Papua730/100.000 kelahiran, Nusa Tenggara Barat 370/100.000 kelahiran, Maluku340/100.000 kelahiran, dan Nusa Tenggara Timur 330/100.000 kelahiran 2.Faktor sosial budaya juga menjadi salah satu penyebab buruknya kondisikesehatan dan gizi kaum perempuan. 3.Gerakan Sayang Ibu dengan Program Siap Antar Jaga (Siaga) sejak tahun2000 pun belum mampu memperbaiki nasib kaum perempuan. Suami masihsulit diajak berdialog dengan istri, atau kurang peduli terhadap kondisikesehatan sang istri. (KOR) 2.Secara khusus isu terbaru mengenai preeklampsi dan eklampsi adalah : Di temukannya teori makanan yang dihubungkan dengan kejadian eklamsiadalah kurangnya asam Folat Folic Acid, pengurangan garam tidak berhubungandengan turunnya kejadian preeklampsi.

BAB IV PENUTUP A.Kesimpulan 1. Tingkat kematian ibu akibat komplikasi kehamilantetap tinggi walaupun mengalami penurunan setiap tahun. 2. Penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan, eklampsia, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Eklampsi merupakan salah satu dari tiga besar penyebab kematian ibu di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia.3.Di negara-negara berkembang, frekuensi PE-E dilaporkan berkisar antara 0,3%-0,7% sedangkan di negara-negara maju angka tersebut lebih kecil yaitu 0,05%-0,1%. Distribusi menurut golongan umur paling banyak pada usia >35 tahun dan banyak faktor yang mempengaruhi kejadian PE-E. B.Saran 1.Untuk pemerintah hendaknya program untuk menurunkanangka kematian ibu benar-benar dijalankan bukan hannya selogan saja. 2.Perlu ditingkatkan promosi dan pendidikan KIA hinggatingkat Rumah Tangga 3.Program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibuhendaknya dapat menjangkau seluruh provinsi yang ada di Indonesia 4. Setiap wanita hamil hendaknya melakukan kunjunganantenatal selama periode antenatal untuk mencegah komplikasikehamilan secara dini. 5. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang penyebabterjadinya komplikasi kehamilan sebagai upaya memenukan teori baruuntuk mencegah kematian ibu

DAFTAR PUSTAKA Wiknjosastro, hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono:Jakarta Wiknjosastro, hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono:JakartaJurnal kesehatan Indonesia Vo. 1, No 5. April 2007. Tantangan PencapaianMillenium Development Goals (MGDs) Bidang Kesehatan Profil RSUD A. Djemma Masamba Luwu Utara. 2006 www.cermindunia kedokteran.(Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia,2006) Searching 12 september 2007. www.yahoo.com (Profil penderita Preeklamsia-Eklamsia di RSU Tarakan, Kaltim,2000) Searching 12 september 2007 www.Digizedby USU Digital Library.(Pendarahan selama kehamilan, 2004) Searching 12 september 2007Jurnal Penelitian Dinamika Sosial Vol.2. No. 1. April 2001. Mengidentifikasi Penyebab Kematian Ibu dan Merumuskan upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu Pada Masyarakat Nelayan. Wibisono Bambang dr. Kematian Perinatal pada Preeklampsia - Eklampsia. FK.Undip Semarang, 1997:6-12.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis mendapat kesehatan dan kekuatan fisik serta pikiran sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul GIZI PADA PRE- EKLAMSIA DAN EKLAMSIA. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah GIZI DALAM KESEHATAN REPRODUKSI untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman tentang mata kuliah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis harapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Oktober 2012 Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGATAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar belakang 1 B. Rumusan Masalah 2 Bab II Tinjauan Pustaka 3 a. Definisi 3 b. Etiologi 3 c. Gejala 3 d. Komplikasi akibat pre eklamsia dan eklamsia e. Pencegahan 5 Bab III Pembahasan 6 a. Frekuensi Kejadian Pre Eklamsia dan Eklamsia b. Distribusi Kejadian Pre Eklamsia dan Eklamsia c. Determinan kejadian Pre Eklamsia dan Eklamsia d. Program pemerintah 9 e. Isu Terkini Kematian Ibu yang disebabkan Oleh Komplikasi Kehamilan 10 Bab IV Penutup 12 a. Kesimpulan 12 b. Saran 13 Daftar Pustaka

6 7 8

ii