Anda di halaman 1dari 11

MEKANISME SISTEM KELENJAR TIROID PADA MANUSIA BLOK 11 METABOLIK ENDOKRIN-1

Alamat Korespondensi : NAMA NIM : LANNY ARDIANNY : 102011425

KELOMPOK E2

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Jl. ARJUNA UTARA NO:6, JAKARTA 11510, TELP: 021-5694 2061, FAX: 021-563 1731

PENDAHULUAN
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus jaringan endokrin yang menyatu di bagian tengah oleh bagian sempit kelenjar. Kelenjar ini terletak di atas trakea dan tepat di bawah laring. Sel sekretorik utama tiroid tersusun menjadi gelembung-gelembung berongga yang disebut folikel. Folikel tampak seperti cincin yang meliputi lumen bagian dalam yang penuh dengan koloid. Dimana koloid berfungsi sebagai tempat penyimpanan ekstrasel untuk hormonhormon tiroid. Konstituen utama koloid adalah molekul besar dan kompleks yang dikenal sebagai tiroglobulin yang di dalamnya berisi hormon-hormon tiroid dalam berbagai tahapan pembentukan. Sel-sel folikel menghasilkan dua hormon yang mengandungiodium yang berasal dari asam amino tirosin yakni tetraiodotiroin(T4 atau tirokin) dan triiodotironin(T3). Di ruang interstisium di antara folikel-folikel terdapat sel sekretorik jenis lain yakni sel c yang mengeluarkan hormon kalsitonin dengan peranan dalam metaboisme kalsium. Kalsitonin sama sekali tidak berkaitan dengan hormon tiroid.

PEMBAHASAN
I. STRUKTUR MAKROSKOPIK

Kelenjar Endokrin di dalam Tubuh Manusia

Gambar vaskularisasi tampak depan Kelenjar tiroid adalah merupakan kelenjar endokrin yang terletak pada leher bagian depan, tepat di bawah kartilago krikoid, disamping kiri dan kanan trakhea.1 Pada orang dewasa beratnya lebih kurang 18 gram. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri dan kanan yang dipisahkan oleh isthmus(Pada permukaan anterior isthmus dijumpai dari superficial ke profunda: Kulit dan fascia superficialis, v. jugularis anterior dan otot-otot: M. Sternohyoideus dan M. Sternothyroideus sedangkan permukaan posterior berhubungan dengan cincin trachea ke 3 dan 4. Pada margo superiornya dijumpai anastomose kedua A. Thyroidea superior, lobus pyramidalis dan Levator glandulae. Di margo inferior didapati V. Thyroidea inferior dan A. Thyroidea ima). Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam

folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormon-hormon disintesa. Kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia. Lobus kanan kelenjar tiroid mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri. Pembuluh baliknya: V. Thyroidea superior: muncul dari polus superior dan berakhir pada vena jugularis interna (kadang-kadang V. Facialis) V. Thyroidea inferior: muncul dari margo bawah istmus dan berakhir pada V. Brachiocephalica sin. Dan V. Thyroidea media: muncul dari pertengahan lobus lateralis dan berakhir di V. Jugularis int. Dipersarafi oleh saraf adrenergik dan kolinergik. Saraf adrenergik berasal dari ganglia servikalis dan kolinergik berasal dari nervus vagus.2

II. STRUKTUR MIKROSKOPIK

Gambaran Histologis Kelenjar Tiroid 3 Secara mikroskopik, parenkim tiroid disusun oleh struktur epithelial berbentuk lingkaran yang disebut folikel tiroid. Setiap folikel berisi koloid yang terdiri dari glikoprotein tiroglobulin, prekursor untuk hormon yang aktif. Kelenjar tiroid merupakan satusatunya kelenjar dengan simpanan terbanyak. Pada manusia, simpanan tersebut cukup untuk digunakan lebih dari tiga bulan tanpa adanya sintesis yang baru.3 Bentuk sel folikular yang gepeng dan lumen penuh berisi koloid menandakan bahwa kelenjar inaktif. Sebaliknya, jika sel folikular berbentuk kuboid dan lumen kosong maka kelenjar aktif. Selain itu, sel folikular memiliki inti yang bulat dengan daerah basal yang kaya dengan retikulum endoplasma kasar dan apikal (yang menghadap ke lumen), terdapat kompleks Golgi dan granul sekretorik berisi koloid. Selain sel folikular, terdapat sel parafolikular yang berasal dari krista neuralis yang berukuran lebih besar dan terpulas lebih pucat. Disamping itu, sel ini lebih sedikit mengandung retikulum endoplasmik kasar dan granul hormon polipeptida. Sel tipe ini menghasilkan kalsitonin yang menghambat reabsorpsi tulang.4

III. SINTESIS
Fungsi Hormon Tiroid 1) Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. 2) Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran. Kedua fungsi bertujuan untuk meningkatkan penggunaan energi oleh sel, terjadi peningkatan laju metabolisme basal, pembakaran kalori, dan peningkatan produksi panas oleh setiap sel. 3) Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap katekolamin sehingga meningkatkan frekuensi jantung. 4) Meningkatkan responsivitas emosi. 5) Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang meningkatkan kecepatan kontraksi otot rangka. 6) Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel tubuh dan dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan.5 No. 1 2. 3. Hormon Triiodontironin (T3) Tiroksin (T4) Kalsitonin Prinsip kerja Mengatur metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, dan kegiatan system saraf Mengatur metabolisme, pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan sistem saraf Menurunkan kadar kalsium dalam darah dengan cara mempercepat absorpsi kalsium oleh tulang.5

Regulasi hormon Tiroid Sekresi langsung ke aliran darah (tidak ada ductus) Dalam kelenjar tiroid manusia ada 2 jenis sel endokrin yaitu: Follicular cells untuk T3 dan T4 Parafollicular cells untuk hormon calcitonin Awalnya iodida dari makanan diserap kedalam saluran cerna lalu iodida ini masuk ke darah & diambil oleh follicular cell. Di dalam follicular cell, iodida teroksidasi & bersama dengan tyrosine berikatan dengan thyroglobuline akan membentuk: o MIT (Mono Iodo Thyrosine) o DIT ( Di Iodo Thyrosine) MIT dan DIT ini akan membentuk T3 dan T4 hormone T3 & T4 disimpan dalam cairan koloid, sewaktu-waktu bila dibutuhkan dikeluarkan ke darah. T4 yg beredar yang sumber utamanya dari kelenjar tiroid bersama-sama dengan T 3

yg beredar yg kebanyakan berasal dari konversi T4 di dalam hati akan diikat dengan plasma protein menjadi TBG & TBPA - TBG = Thyroxine Binding Globuline TBPA = Thyroxine Binding Pre Albumine

Konsentrasi T3 & T4 akan bertanggung jawab terhadap aktivitas fisiologis dari hormon tersebut. Dalam kondisi normal, hypothalamus mensekresi TRH yang akan merangsang pituitary anterior (hipofisis anterior) untuk mengeluarkan TSH. Sekresi T 3 dan T4 oleh kelenjar tiroid akan diatur oleh mekanisme feed back terhadap kelenjar hipothalamus dan hipofisis. Peningkatan T3 dan T4 menghambat produksi TSH oleh pituitary dan sebaliknya.6

IV. BASE METABOLIC RATE (BMR)


Fungsi hormon tiroid dapat merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat juga dapat merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran. Kedua fungsi tersebut bertujuan untuk meningkatkan penggunaan energi oleh sel, terjadi peningkatan laju metabolisme basal, pembakaran kalori, dan peningkatan produksi panas oleh setiap sel.6 - Hipertiroidism BMR + 100 % - Hipotiroidism (Myxedema) BMR -20 30 %

JALUR METABOLISME7

V. METABOLISME KARBOHIDRAT7

VI. METABOLISME PROTEIN7

VII. METABOLISME LEMAK7

KESIMPULAN
Berdasarkan gejala yang dialami yaitu berkeringat berlebihan dan kehilangan berat badan yang mendadak , serta dari hasil pemeriksaan fisik ditemukannya pembesaran pada kelenjar tiroid , di duga perempuan tersebut mengalami gangguan fungsi kelenjar tiroid yaitu Hipertiroidisme.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dorlan W.A. Kamus Kedokteran Dorland.Jakarta:EGC, 2002 2. Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of anatomy and physiology. 12th ed. Asia: John Wiley & Sons; 2009, h. 643-674. 3. Mescher AL. Junqueiras basic histology 12th ed. Singapore: Mc.Graw Hill; 2010, h. 348-370. 4. Leeson Rolland, Lesson T, Paparo A. Buku Ajar Histologi:Bab 14 Sistem endokrin. Jakarta:EGC, edisi 5, h.455-479 5. Silbernagl S, Lang F. Teks & Atlas Berwana Patofisiologi. Jakarta : EGC, 2003. h.280-285 6. Sherwood L. Fisiologi manusia: Organ endokrin perifer. Jakarta : EGC , 2001.h.645651. 7. Murray K, Granner K, Rodwell W. Biokimia harper: Tinjauan Umum Metabolisme & Penyediaan Bahan Bakar Metabolik. Jakarta: EGC, 2006.h.139-151