Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TUGAS TERSTRUKTUR KELOMPOK BLOK MEDICAL RESEARCH PROGRAMME II Temporal Effect Of Local Hyperthermia On Murine Contact Hypersensitivity

Tutor Pembimbing: Ageng Brahmadhi, S.Si, MSc

Kelompok 11 M Cahya Riyadi S Liliana Yeni S Ratih Paringgit Lutfia Aulia S Firda Sofia Rizka Dana Prastiwi Provita Rahmawati Sania Nadianisa M Dyah Retno Yus F Ulfah Izdihar G1A010010 G1A010019 G1A010023 G1A010024 G1A010026 G1A010080 G1A010082 G1A010083 G1A010087 G1A010092

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2013

LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Kelompok 11 M Cahya Riyadi S Liliana Yeni S Ratih Paringgit Lutfia Aulia S Firda Sofia Rizka Dana Prastiwi Provita Rahmawati Sania Nadianisa M Dyah Retno Yus F Ulfah Izdihar G1A010010 G1A010019 G1A010023 G1A010024 G1A010026 G1A010080 G1A010082 G1A010083 G1A010087 G1A010092

Disusun untuk memenuhi persyaratan tugas terstruktur kelompok Blok MRP II Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

diterima dan disahkan Purwokerto, Juni 2013

Dosen Pembimbing

Ageng Brahmadhi, S.Si, MSc

Pertanyaan Panduan untuk Tugas Terstruktur : 1. 2. Desain penelitian apakah yang digunakan? Jelaskan! Sebutkan variabel-variabel penelitian yang digunakan (tidak termasuk variabel perancu)! 3. 4. Apakah skala pengukuran dari masing-masing variabel tersebut? Jelaskan! Apakah hipotesis dari penelitian yang dilakukan (hipotesis statistik sesuai tujuan penelitian untuk tiap uji statistik yang digunakan)? 5. Apakah uji statistik yang digunakan sudah tepat? a. b. 6. Bila sudah tepat, jelaskan alasannya! Bila belum tepat, apa alasannya? Jelaskan metode uji statistik yang tepat!

Apa interpretasi dari hasil uji statistik yang dilakukan?

Jawaban Pertanyaan Panduan 1. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah True Experimental dengan pendekatan Post Test-Only with Control Group dan desain Completely Randomized Design (Rancangan Acak Lengkap). Dikatakan true experimental karena dalam desain ini, sampel yang digunakan peneliti diambil secara random (acak) dari populasi baik pada kelompok kontrol maupun kelompok yang mendapat perlakuan. Ciri Utama True Experimental : a. Harus ada kelompok pembanding (kontrol) yang tidak diberi perlakuan. b. Pemilihan sampel dilakukan secara random untuk menentukan mana kelompok yang akan diberi perlakuan dan mana yang tidak diberi perlakuan. Posttest-Only with Control Kelompok Design Terdapat minimal 2 kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Contoh skema :
N animals

(-)

Xa

Xb

Xc

O1

O1

O1

O1

Keterangan : C : Control kelompok

(X) : Given treatment (-) : No treatment or given placebo O1 : Observation after treatment

Pada desain ini tidak dilakukan pengukuran sebelum perlakuan untuk dibandingkan dengan hasil pengukuran setelah perlakuan (bukan pre and posttest with control group). Pada penelitian ini variabel yang diukur adalah derajat keparahan hipersensitivitas kontak dengan cara : a. Menghitung jumlah sel langerhans pada masing-masing kelompok dengan perlakuan temperatur yang berbeda b. Mengukur ketebalan telinga kanan dan kiri. Telinga kanan disensitisasi dengan larutan fluorescein isothiocyanate (FITC) 100l kemudian 5 hari setelah itu, permukaan telinga bagian dorsal dicat dengan menggunakan larutan FITC yang sama. 2 hari setelah pengecatan, dilakukan pengukuran ketebalan kedua telinga.

Completely Randomized Design Completely randomized design merupakan rancangan percobaan yang sangat sederhana, dengan pemberian perlakuan yang sepenuhnya secara acak. Setiap sampel memiliki probabilitas yang sama untuk menjadi subyek penelitian (mendapat perlakuan). Pemilihan sampel dapat dilakukan dengan tabel acak atau undian pada nomor. Sampel yang digunakan sebagai subyek penelitian (tikus) di laboratorium dibuat menjadi semirip mungkin dengan tujuan penelitian yang akan diuji, misal pada kasus ini tikus dibuat menjadi hipersensitivitas. Keuntungan : a. Sangat fleksibel diperbolehkan dilakukan pengulangan pada sejumlah perlakuan. b. Analisis statistik relatif mudah, bahkan bila terdapat pengulangan variabel dan kesalahan variabel eksperimental pada perlakuan yang berbeda. c. Tetap menggunakan analisis sederhana bila ada data yang hilang. d. Mempunyai derajat kebebasan tinggi.

Penggunaan : a. Dalam kondisi dimana bahan/ragam satuan percobaan telah homogen. b. Pada pecobaan yang mempunyai derajat kebebasan rendah. c. Dimana sebagian kecil bahan percobaan dikhawatirkan akan rusak atau gagal. Bila desain ini benar dilakukan acak, secara konsisten lebih akurat karena biasanya variasi lingkungan telah dikenali. Pada desain ini, peneliti menggunakan tikus dengan kriteria : a. Tikus betina, dewasa awal usia 8 minggu, dengan berat badan 18-22 gram. b. Tikus dibeli dari departemen hewan Fakultas Kedokteran di China c. Tempat pemeliharaan dengan temperatur 250C selama 7 hari untuk beradaptasi dengan kondisi laboartorium. d. Air minum dan standart diet telah tersedia ad libitum. e. Protokol yang melibatkan tikus ini telah disetujui oleh komite penelitian hewan fakultas kedokteran di China.

2.

Variabel yang digunakan pada penelitian ini a. Variabel Bebas (Independent) - Hipertermia Lokal Temporal - Fluorescein isothiocyanate (FITC) Waktu pemberian FITC berbeda-beda pada tiap tikus dengan pemanasan yang berbeda pula 370C, 390C, 410C, 430C (preheat, concurrent heat, dan postheat) b. Variabel Terikat (Dependent) : :

- Derajat Keparahan Hipersensitivitas Kontak Dengan menghitung jumlah sel langerhans dan mengukur ketebalan kedua telinga.

3. Skala pengukuran dari variabel-variabel tersebut : a. Variabel Bebas (Independent) : - Hipertermia Lokal Temporal Skala pengukuran yang digunakan adalah skala numerik Interval karena data berupa angka bertingkat

dan berjarak dengan jarak 2 angka. Sampel yang digunakan adalah tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan pemanasan/hipertermia lokal yaitu kontrol (non heat); temperatur 370C; temperatur 390C; temperatur 410C; dan temperatur 430C. Tetapi, variabel temperatur disini, skala/angka tidak mempengaruhi uji analisis, karena perbedaan temperatur disini sebagai pengkodingan/lambang saja terhadap

perlakuan yang diberikan pada kelompok tikus. - Fluorescein isothiocyanate (FITC) Skala pengukuran kategorikal Nominal karena setiap tikus yang mendapat perlakuan, diberikan FITC yang sama, baik dalam jumlah larutan (100l), kadar (0,5%), kandungan (larutan aseton dan dibutyl phthalate perbandingam 1:1), area yang sama pada permukaan dorsal telinga (ukuran 1cm2) b. Variabel Terikat (Dependent) :

- Derajat Keparahan Hipersensitivitas Kontak Skala pengukuran yang digunakan adalah skala numerik Rasio karena memiliki nilai 0 absolut. Dengan menghitung jumlah sel langerhans pada kelompok tikus yang dipanaskan dengan temperatur berbeda. Jumlah sel langerhans yang telah dihitung tidak dikonversi menjadi skala kategorikal. Skala pengukuran numerik Rasio yang digunakan untuk mengukur ketabalan telinga kanan dan kiri.

4.

Hipotesis dari penelitian yang dilakukan (hipotesis statistik sesuai tujuan penelitian untuk tiap uji statistik yang digunakan) Hipotesis statistik didefinisikan sebagai pernyataan matematis tentang

parameter populasi yang akan diuji sejauh mana suatu data sampel mendukung kebenaran hipotesis tersebut. Hipotesis merupakan kesimpulan sementara yang masih harus diuji kebenarannya. Ada dua rumusan hipotesis, yaitu: hipotesis null (H0) dan hipotesis alternatif (H1 atau HA). Tujuan pengujian hipotesis adalah menolak H0. H null (0) yaitu hipotesis tidak ada beda atau tidak ada hubungan. Hipotesis alternatif (H1 /HA) menunjukkan adanya pengaruh nyata atau hubungan) (Nugroho, 2007).

Tujuan Penelitian : untuk mengetahui hubungan antara efek temporal hipertermia lokal fase sensitisasi pada temperatur tertentu dengan hipersensitivitas kontak murine H0 : tidak terdapat hubungan antara efek temporal hipertermia lokal fase sensitisasi pada temperatur tertentu dengan hipersensitivitas kontak murine Persamaan : H0 : 1 = 2 = 3 = 4 .= n

HA/H1: terdapat hubungan antara efek temporal hipertermia lokal fase sensitisasi pada temperatur tertentu dengan hipersensitivitas kontak murine Persamaan : H1 : 1 2 3 4 . n

5.

Apakah uji statistik yang digunakan sudah tepat? - Uji T yang digunakan peneliti sudah tepat karena tujuannya untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan jumlah sel langerhans pada hari ke 1, 3, 5, dan 7 pada kelompok kontrol (non-heat) dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain (hipertermia lokal 370C, 390C, 410C, dan 430C). Syarat Uji T : a. Data variabel berskala numerik (interval atau rasio) b. Distribusi normal c. Terdiri dari 2 kelompok (berpasangan atau tidak berpasangan) d. Sampel diambil secara acak Syarat untuk menggunakan uji T terpenuhi, dan tepatnya menggunakan uji statistik T-test independent karena yang ingin mengetahui perbedaan kelompok X dengan kontrol. Apabila syarat tidak terpenuhi bisa menggunakan uji alternatif Mann Whitney. Apabila data yang ingin dibandingkan adalah 2 rerata pada 1 kelompok yang sama (pengukuran 1 dan pengukuran 2) dapat menggunakan paired T-test (uji T berpasangan). - Uji ANOVA yang digunakan peneliti sudah tepat karena tujuannya untuk membandingkan perbedaan antara ketebalan telinga dengan hipertermia lokal pada temperatur yang berbeda tiap kelompok (non-heat, preheat, concurrent heat, postheat). Syarat uji ANOVA (analysis of varian) :

a. Lebih dari 2 kelompok b. Data bedistribusi normal c. Populasi memiliki varians yang sama d. Data harus homogen e. Sampel yang akan diuji harus independent (tidak berhubungan satu dengan yang lain) f. Data variabel berskala numerik (rasio atau interval) Syarat untuk menggunakan uji ANOVA terpenuhi, dan lebih tepatnya menggunakan uji One Way ANOVA karena kelompok yang akan dibandingkan tidak berpasangan. Apabila syarat uji ANOVA tidak terpenuhi, dapat menggunakan uji alternatif Kruskal-Wallis.

6.

Interprestasi dari uji statistik yang dilakukan Interpretasi : P0,05 maka H0 diterima (tidak terdapat hubungan) P<0,05 maka H0 ditolak dan HA/H1 diterima (berhubungan signifikan)

- Hasil analisis one way ANOVA didapatkan nilai p-value sebagai berikut : a. Perbandingan antara ketebalan telinga dengan temperatur hipertermia pada kelompok preheat didapatkan nilai P=0.003 dengan kata lain P<0,05 maka H0 ditolak. Jadi dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Terdapat hubungan yang signifikan antara penurunan ketebalan telinga dengan peningkatan temperatur hipertermia pada kelompok preheat. b. Perbandingan antara ketebalan telinga dengan temperatur hipertermia pada kelompok concurrent heat didapatkan nilai P=0,038 dengan kata lain p<0,05 maka H0 ditolak. Jadi dapat diinterpretasikan sebagai berikut : Terdapat hubungan yang signifikan antara penurunan ketebalan telinga dengan peningkatan temperatur hipertermia pada kelompok concurrent heat.

c. Perbandingan antara ketebalan telinga dengan temperatur hipertermia pada kelompok postheat didapatkan nilai P=0,030 dengan kata lain P<0,05 maka H0 ditolak. Jadi dapat diinterpretasikan sebagai berikut : Terdapat hubungan yang signifikan antara penurunan ketebalan telinga dengan peningkatan temperatur hipertermia pada kelompok postheat. d. Ketebalan telinga pada kelompok kontrol (non-heat) secara statistik tidak terdapat perbedaan rerata dengan kelompok yang dipanaskan dengan 370C dengan P<0,05 - Hasil analisis uji T independent sebagai berikut : Pada uji T independent tidak ditampilkan nilai P-value nya namun terdapat kesimpulan bahwa perlakuan hipertermia lokal menurunkan jumlah sel langerhans epidermis pada berbagai pemberian temperatur. Jumlah sel langerhans epidermal mencapai nilai minimum/nilai terendah pada hari ke 3 pasca hipertermia kemudian kembali pada tingkat yang normal dala 1 minggu. - Hubungan antara hipertermia lokal preheat temperatur 370C dengan derajat keparahan hipersensitivitas kontak didapatkan nilai P>0,05 maka H0 diterima. - Terdapat penekanan terhadap derajat hipersensitivitas oleh pre-hipertermia pada area tersensitisasi dan efeknya lebih menonjol pada tikus yang diberi perlakuan temperatur hipertermia lokal yang tinggi dengan nilai P<0,01 maka H0 ditolak

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Sigit. 2007. Dasar-Dasar Metode Statistika. Jakarta: Grasindo. Sastroasmoro, Sudigdo. 2012. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-4. Jakarta : Sagung Seto