Anda di halaman 1dari 12

BISNIS DALAM SEKTOR JASA MASIH TERBUKA LEBAR

DRS. MOHAMAD NAJMUDIN, MM Abstrak Kebutuhan akan kelengkapan untuk pemenuhan hidup sehari-hari semakin beragam dan berkembang sangat pesat. Hampir segala aspek, dimulai dari kebutuhan sarana komunikasi, pendidikan dan ilmu pengetahuan, politik, dunia kerja dan sarana perkantoran, rumah tangga, kesehatan, hiburan, pertelevisian, entertaiment hingga kebutuhan assesoris dan pernik-pernik kehidupan yang lain yang sangat banyak. Perkembangan yang sangat komplek tersebut mendorong permintaan terhadap jasa tertentu yang sangat beragam dan menciptakan peluang yang besar dalam bisnis jasa, sehingga akan menyerap tenaga kerja yang cukup besar, khususnya tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus. Jasa yang sangat bervariasi dan spesifik terus akan dibutuhkan oleh masyarakat secara luas dan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan dunia secara global, yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Perkembangan yang dinamis tersebut akan menggelitik sebagian pengusaha, dan menangkap peluang tersebut dengan cerdas. Maka kesempatan itu hanya akan datang kepada siapa saja yang melihatnya.

Pendahuluan Dalam bahasa Pemasaran produk berarti segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada konsumen, yang didalamnya terdiri barang secara fisik, jasa, dan konsep. Jadi dalam setiap produk terkandung kombinasi dari 3 hal tersebut. Sebuah komputer misalnya, maka barang secara fisiknya adalah monitor, CPU, keybord. Unsur jasanya adalah jasa tentang bagaimana cara penggunaan komputer, jasa pelatihan program komputer, dan jasa perawatan komputer. Sedangkan unsur konsepnya adalah dengan menggunakan komputer maka dapat membuat program dengan cepat, menghitung dengan cepat, menulis dengan cepat, dan fasilitas-fasilitas lain yang jauh lebih memudahkan. Dalam pembagian yang ditinjau dari dapat tidaknya dilihat/diraba atau menurut wujudnya, produk terbagi menjadi dua yaitu barang dan jasa. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas mengenai jasa, khususnya bagaimana peluang bisnis sektor ini berkembang di masyarakat. Menurut Philip Kotler, jasa dapat didefinisikan sebagai Setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikian sesuatu. Di Indonesia, industri jasa sangat beragam, bila dikaitkan dengan siapa penyelenggara dari sektor jasa, maka dapat dikelompokkan kedalam empat sektor utama , yaitu : 1. Sektor pemerintah Seperti kantor pos, kantor pelayanan pajak, kantor polisi, rumah sakit, sekolah, bank pemerintah

2. 3. 4.

Sektor nirlaba swasta Seperti sekolah, universitas, rumah sakit, yayasan Sektor bisnis Seperti, perbankan, hotel, perusahaan asuransi, konsultan, transportasi, Sektor manufaktur Seperti akuntan, operator komputer, penasihat hukum, arsitek

Faktor-faktor Yang Mendorong Perkembangan Sektor Jasa Biasanya setiap perkembangan bisnis jasa tertentu, terdorong oleh perkembangan faktorfaktor tertentu atau karena perkembangan sektor jasa yang lain. Berikut ini beberapa faktor yang sering menjadi penentu berkembangnya sektor jasa tertentu. 1. Waktu santai yang semakin banyak, atau waktu liburan sekolah dapat memunculkan banyak jenis jasa baru. Misalnya bisnis perjalanan wisata, pusat hiburan dan rekreasi, kursus dan pelatihihan singkat, jasa TV peristirahatan, karaoke, pertunjukkan musik. 2. Persentase wanita yg memasuki angkatan kerja semakin besar, dapat memunculkan jenis jasa baru. Misalnya jasa penitipan anak, baby sitter, binatu, restoran siap santap. 3. Tingkat harapan hidup semakin meningkat, dapat memunculkan jenis jasa baru. Misalnya jasa perawatan kesehatan dan konsultasi kesehatan. 4. Produk yang dibutuhkan dan dihasilkan semakin komplek, dapat memunculkan jenis jasa baru. Misalnya Jasa instalasi, pelatihan, konsultasi, reparasi. 5. Adanya peningkatan kompleksitas kehidupan, dapat memunculkan jenis jasa baru. Misalnya jasa pengacara, psikolog, ahli gizi, dokter pribadi, pelatih kebugaran, penasihat finansial. Karakteristik Jasa Jasa memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari barang, dan berdampak pada cara memasarkannya. Karakteristik tersebut meliputi : 1. Intangibiliity Jasa berbeda dengan barang. Bila barang merupakan suatu obyek, alat atau benda maka jasa adalah suatu perbuatan, pengalaman, proses, kinerja (performance). Oleh karena itu jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Implikasi bagi konsumen, ketidakpastian dalam pembelian jasa relatif tinggi, dan merasakan resiko yang lebih besar dalam keputusan pembeliannya, karena : o Terbatasnya search qualities, yakni karakteristik fisik yg bisa dievaluasi sebelum pembelian dilakukan. Untnk barang, konsumen dapat menilai bentuknya, warna, modelnya sebelum membelinya. Namun utk jasa, kualitas apa dan bagaimana yang akan diterima konsumen, umumnya tidak diketahui sebelum jasa tesebut dikonsumsi. kabel, Rumah produksi Sinetron, tempat

o Jasa biasanya mengandung unsur experience quality, adalah karakteristik yang dapat dinilai setelah pembelian, seperti kualitas, efisiensi dan kesopanan. o Dan credence quality, adl karakteristik yang sulit dinilai, bahkan setelah pembelian dilakukan. Misal, seseorang sulit menilai peningkatan kemampuan bahasa inggrisnya setelah mengikuti kursus pada periode tetentu. Intangibiliity /intangibilitas jasa: Adanya karakteristik Intangibiliity /intangibilitas pada jasa ini menyebabkan konsumen : Sulit mengevaluasi berbagai alternatif penawaran jasa Mempersepsikan tingkat resiko yang tinggi Menekankan pentingnya sumber informasi informal Menggunakan harga sebagai dasar penilaian kualitas.

o o o o

Melihat beberapa kesulitan yang akan dihadapi konsumen tersebut, manajemen perlu segera merespon dengan beberapa kebijakan seperti : o Mereduksi kompleksitas jasa Kesulitan dalam memajang jasa dan mendiverensiasikan jasa inovasi jasa sukar dipatenkan o Penekanan petunjuk fisik (tangible cues) Memfasilitasi rekomendasi dari mulut ke mulut o Fokus pada kualitas jasa

Intengibilitas Jasa Menyebabkan konsumen : 1. Sulit mengevaluasi berbagai alternatif penawaran jasa 2. Mempersepsikan tingkat resiko tinggi 3. Menekankan pentingnya sumber informasi informal 4. Menggunakan harga sebagai dasar penilaian kualitas Membutuhkan respon manajemen berupa : 1. Reduksi kompleksitas jasa 2. Penekenan tangible cues 3. Fasilitasi rekomendasi dari mulut ke mulut 4. Fokus pada kualitas jasa Gambar : Impslikasi Intengibilitas jasa 2. Inseparability Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa dijual lebih dulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. implikasi : o interaksi antara produsen dan konsumen merupakan faktor penting yang menentukan kepuasan konsumen

o karena waktu terjadi proses produksi ada konsumen lain yang berada disitu, maka perilaku mereka akan mempe-ngaruhi thd jasa yang diberikan. o perkembangan atau pertumbuhan jasa sulit diwujudkan o Implikasi bagi penyedia jasa : o Melatih agar staf dapat berinteraksi secara efektif o Mencegah agar konsumen tidak meng-ganggu konsumen lain, missal antara perokok dengan yang tidak perokok o Pertumbuhan dapat difasilitasi dengan pelatihan, fasilitas yg bisa melayani pelanggan yg lebih besar, bekerja lebih cepat

Inseparabilitas Jasa Menyebabkan konsumen : 1. Menjadi co- producers jasa 2. Seringkali menjadi co-concumers suatu jasa dengan konsumen lainnya 3. Sering harus melakukan perjalanan untuk mencapai lokasi produksi jasa Membutuhkan respon manajemen berupa : 1. Upaya memisahkan produksi dan konsumsi 2. Manajemen interaksi konsumen dan produsen 3. Menyempurnakan sistem penyampaian jasa Gambar : Impslikasi Inseparaabilitas jasa 3. Variability/heterogeneity Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan non standardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pd siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut diproduksi . Variabilitas kualitas jasa tergantung : 1. Kerjasama atau partisipasi pelanggan selama penyampaian jasa 2. Moral/motivasi karyawan dlm mela-yani pelanggan 3. Beban kerja perusahaan Pengurangan dampak variabilitas kuali-tas jasa melalui strategi : 1. Berinvestasi dalam seleksi, motivasi, dan pelatihan karyawan agar karyawan mematuhi prosedur stan-dar dan menangani permintaan yang unpredictable 2. Melakukan service customization, artinya meningkatkan interaksi antara penyedia jasa dengan pelanggan shg jasa yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan. 4. Perishability

Perishability berarti jasa tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Bila permintaan bersifat konstan, kondisi tersebut tidak menyebabkan masalah. Namun kenyataanya permintaan thd jasa sangat fluktuasi. Kegagalan mela-yani pada permintaan puncak, akan menyebabkan ketidakpuasan pelanggan. Dalam manajemen permintaan alter-natif yang bisa digunakan : 5. Mengurangi permintaan pada periode permintaan puncak, dengan menerapkan differential pricing. Meningkatkan permintaan pada periode permintaan sepi, dengan cara menurunkan harga Menerapkan system antrian, shg pelanggan harus menunggu untuk dilayanai Lack of ownership Pada pembelian barang konsumen memili-ki hak penuh atas produk yg dibelinya. Pada pembelian jasa, pelanggan hanya memiliki akses personal atas suatu jasa untuk jangka waktu tertentu. Karakteristik dan Implikasi Manajemen Karakteristik Intengibility Implikasi Manajemen o produk bersifat abstrak : lebih berupa tindakan atau pengalaman o kesulitan dalam evaluasi alternative persepsi konsumen thd resiko o tdk dpt dipajang : diferensiasi sukar dilakukan Inseparability o tdk ada hak paten: hambatan masuk rendah o konsumen terlibat dalam produksi : kontak dan interaksi penting sekali o pelanggan lain juga terlibat : masalah pengendalian o karyawan mencerminkan dan mewujudkan bisnis jasa : relasi pribadi o lingkungan jasa : mendiferensiasikan bisnis o kesulitan Heterogeneity dalam produksi masal : pertumbu-han membutuhkan jaringan kerja sama o standardisasi sukar dilakukan : sangat tergantung kepada sumber daya manusia yg terlibat Perishability o kualitas sulit dikendalikan : heterogenitas lingkungan o tidak dapat disimpan : tidak ada sediaan o masalah beban periode puncak : produkti-vitas rendah Lack or ownership o sulit menentukan harga jasa : masalah penetapan harga o pelanggan tidak dapat memiliki jasa : jasa disewakan penawaran jasa :

Klasifikasi Jasa

atas dasar Segmen Pasar 1. Jasa yg ditujukan pada konsumen akhir Misal : taksi, asuransi jiwa, pendidikan, salon kecantikan, 2. Jasa yang ditujukan pada konsumen organisasional Misal : biro periklanan, jasa akuntansi dan perpajakan, konsultasi manajemen Klasifikasi Jasa atas dasar Ketrampilan Penyedia Jasa 1. Professional Service Untuk bisa menyediakan jasa ini seseorang harus melalui pendidikan formal pada jenjang tartertu. Misal : konsultan manajemen, konsultan hukum, konsultan perpajakan, konsultan sistem informasi, pelayanan dan perawatan kesehatan, jasa arsitektur 2. Non-professional Service Untuk bisa menyediakan jasa ini seseorang tidak perlu melalui pendidikan formal tertentu. Misal : jasa sopir taksi, tukang parkir, pengantar surat, penjaga malam, keamanan, tukang ojek Klasifikasi Jasa atas dasar Tingkat Kontak Penyedia Jasa dengan Pelanggan 1. High Contact Service Yaitu jasa yang dikonsumsi dengan frekuensi yang tinggi atau memerlukan waktu yang lama untuk dapat menyelesaikan suatu jasa tertentu. Misal : universitas, bank, dokter 2. Low Contact Service Yaitu jasa yang dikonsumsi dengan frekuensi yang rendah atau jasa ini jarang sekali digunakan. Misal : bioskop, jasa pos Klasifikasi Jasa atas dasar Tingkat Keberwujudan 1. Rented goods service Konsumen menyewa dan menggunakan produk berdasar tarif yang disepakati selama Misal jangka waktu tertentu. Konsumen hanya dapat menggunakan produk tersebut, karena pemilikannya tetap ada pada perusahaan yang menyewakan produk tersebut. rental mobil, persewaan VSD/DVD, persewaan apartemen 2. Owned goods service Produknya konsumen direparasi, ditingkatkan kinerjanya dan dirawat oleh perusahaan jasa Jenis jasa ini juga menyangkut perubahan bentuk pada produk yang dimiliki

konsumen. Misal jasa reparasi, jasa pencucian mobil, perawatan taman, pakaian 3. Non goods service

pencucian

Jasa personal bersifat intangible (tidak berbentuk produk fisik/tidak dapat diraba). Misal supir, dosen, tutor, baby sitter, pemandu wisata, penerjemah, ahli kecantikan Klasifikasi Jasa atas dasar Sifat Tindakan Jasa 1. Tangible action Jasa ini ditujukan kepada sasaran yang dapat dilihat atau diraba ( tangible), seperti ditujukan kepada tubuh manusia dan ditujukan pada benda. a. Jasa ditujukan pada tubuh manusia o perawatan kesehatan o transportasi penumpang o salon kecantikan o klinik kebugaran o jasa potong rambut b. Jasa ditujukan pada benda o angkutan barang o perbaikan peralatan industri o jasa penjagaan o binatu o perawatan taman 2. Intangible action a. Jasa ditujukan pada pikiran manusia o pendidikan o penyiaran o jasa informasi o bioskop o siaran televisi o museum b. Jasa ditujukan pada aset terdidik berwujud o perbankan o jasa bantuan hukum o akuntansi o keamanan o asuransi Klasifikasi Jasa atas dasar Tujuan Organisasi

Berdasarkan tujuan organisasi jasa dapat diklasifikasikan menjadi commercial service dan non profit cervice 1. Commercial service Yang termasuk jasa ini misalnya : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Perumahan atau penginapan, meliputi penyewaan apartemen, hotel, motel, vila, losmen, cottage dan rumah Operasi rumah tangga, meliputi utilitas, perbaikan rumah, reparasi peralatan rumah, pertamanan, cleanning service Rekreasi dan hiburan Personal care seperti laundry, perawatan kecantikan Perawatan kesehatan, meliputi segala macam jasa medis dan kesehatan Pendidikan swasta Asuransi, perbankan dan lembaga finansial lainnya Transportasi, meliputi jasa angkutan orang dan angkutan barang Komunikasi Bisnis dan jasa profesional lainnya

2. Non profit cervice Adalah semua usaha jasa yang tujuan utamanya bukan mencari keuntungan, tapi untuk tujuan-tujuan tertentu seperti misi keagamaan, misi sosial. Bauran Pemasaan Jasa Bauran pemasaran merupakan seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik jasa yg ditawarkan kepada konsumen. Konsep bauran pemasaran / 4 P (Product, price, promotion, dan place) penerapannya menjadi terbatas jika diterapkan pd bisnis jasa, maka diperluas dengan empat unsur lainnya yaitu : people, procces, physical evidence, dan customer service. o Product Produk bisa berupa apa saja (baik yang berwujud fisik maupun tidak) yang dapat ditawarkan kepada konsumen utk memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu. o Price Keputusan bauran harga berkenaan dengan kebijakan strategis dan taktis seperti tingkat harga, syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok pelanggan. Pada umumnya aspek-aspek ini mirip dengan pemasaran barang. Perbedaannya karakteristik intangible jasa menyebabkan harga menjadi indikator signifikan atas kualitas. Karakteristik personal dan non transferable pada beberapa tipe jasa memungkinkan diskriminasi harga dalam pasar jasa tersebut, sementara banyak pula jasa yang disubsidi bahkan gratis. o Promotion Bauran promosi tradisional meliputi berbagai untnuk mengkomunikasikan manfaat jasa kepada pelanggan aktual dan potensial. Metode tersebut adalah periklanan, promosi

penjualan, personal selling dan public relations . Selain itu personal produksi juga menjadi bagian penting dalam bauran promosi. o Place Keputusan distribusi menyangkut kemu-dahan akses thd jasa bagi pelanggan potensial. Misal keputusan mengenai lokasi fisik. Selain itu keputusan meng-gunakan perantara utk meningkatkan aksesibilitas. o People Pada sebagian besar jasa, orang merupakan unsur vital dalam bauran pemasaran. Setiap orang merupakan part-time marketer, yang perilakunya memiliki dampak langsung terhadap output. o Procces Dalam bisnis jasa, manajemen pemasa-ran dan manajemen operasi/produksi sulit dibedakan dengan jelas. Proses produksi berjalan dengan melibatkan konsumen secara langsung. Seorang pelanggan restoran akan sangat terpengaruh dengan cara staf melayaninya. o Physical evidence Karakteristik intangible jasa membuat resiko yg dipersepsikan konsumen dalam keputusan pembeliaanya mejnadi semakin besar. Untuk mengurangi resiko tersebut, diperlukan bukti fisik dari karakteristik jasa. Misalnya, brosur yang memuat foto, penampilan staf yang rapi dan sopan, ruang yang nyaman o Customer service Keberadaan departemen layanan pelanggan menjadi sangat penting, namun tanggung jawab akan kepuasan pelanggan tetap ada pada semua anggota organisasi.

Salah satu contoh adalah bisnis Rumah sakit : Lonjakan populasi penduduk ikut mendongkrak masalah-masalah kesehatan. Kebutuhan rumah sakit pun terus menanjak dari tahun ke tahun. Tak heran, orang yang jeli melihat peluang dari jasa layanan kesehatan ini mampu meraup laba signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Oktober lalu menyebut, penduduk Indonesia mencapai 237,56 juta jiwa. Tak pelak, peluang bisnis layanan kesehatan terbuka lebar. Apalagi, rasio jumlah klinik dan rumah sakit dan masyarakat yang sakit belum seimbang. Menurut data Departemen Kesehatan (Depkes), pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.320 buah. Sementara, rasio tempat tidur rumah sakit ketimbang jumlah penduduk sekitar 1:1.580. Jauh dari rasio ideal 1:500. Di seputar Jakarta saja, seperti di Bekasi dan Tangerang, kebutuhan klinik sangat tinggi. Dari data BPS, satu klinik kesehatan di Bekasi dan Tangerang melayani 1.800 pasien per bulan, kata Bambang Moeljono Roeslan, pemilik klinik kesehatan Permata Bunda, Bekasi. Biaya kesehatan juga cenderung naik dari tahun ke tahun. Sekadar informasi, masyarakat Bekasi dan Tangerang merogoh kocek untuk biaya kesehatan hingga Rp 3,1 triliun per tahun. Tergambar sudah bahwa bisnis layanan jasa kesehatan menyimpan segudang peluang keuntungan. Potensi inilah yang coba digarap Bambang dengan menawarkan waralaba klinik kesehatan.

Kalau tertarik, Anda bisa mencoba waralaba yang ditawarkan oleh Bambang atau membangun klinik sendiri. Sebelumnya, simak tawaran dan kiat beberapa pelaku usaha ini. Klinik Kesehatan Permata Bunda Klinik kesehatan dan rumah bersalin ini berdiri tahun 1998. Saat ini Permata Bunda memiliki tujuh cabang klinik & rumah bersalin yang tersebar di wilayah Bekasi. Sejak Juli 2010, Permata Bunda menawarkan waralaba kepada masyarakat. Tawaran waralaba klinik dan rumah bersalin Permata Bunda terbagi dua jenis paket investasi. Calon investor dapat membeli paket investasi senilai Rp 615 juta atau menginvestasikan duit senilai Rp 800 juta untuk membeli paket kedua. Perbedaan kedua paket tersebut ada pada luas bangunan yang ingin dimanfaatkan calon mitra. Semakin luas bangunan, semakin banyak peralatan dan perlengkapan, baik secara medis maupun nonmedis, terang Bambang. Selain duit investasi awal dan badan usaha, calon mitra harus menyiapkan lokasi dan bangunan yang disetujui oleh manajemen Permata Bunda. Paket investasi Rp 615 juta mengharuskan luas bangunan 190 meter persegi (m). Sedangkan pada paket Rp 800 juta, luas bangunan minimal 400 m. Lokasi usaha setidaknya harus berdekatan dengan kawasan perumahan dan mudah diakses kendaraan pribadi dan umum. Perihal pengadaan peralatan dan perlengkapan medis, calon mitra tak perlu khawatir. Tiap paket sudah mencakup pasokan peralatan medis, perlengkapan gedung, perizinan, hingga materi promosi. Sekadar contoh, peralatan dan perlengkapan paket pertama antara lain peralatan ruang tunggu, apotek dan farmasi, peralatan poli umum dan bersalin dengan nilai total sekitar Rp 456 juta. Tak ketinggalan timbangan, penggerus obat, hingga alat USG atau ultrasonografi untuk persalinan. Paket juga sudah termasuk biaya waralaba atau franchise fee selama lima tahun senilai Rp 137,5 juta, pendampingan operasional selama dua pekan sebelum dan setelah proses peluncuran perdana, serta pendampingan rutin bulanan. Selain itu, ada asistensi proses perekrutan dokter, staf medis dan administrasi, hingga karyawan umum. Calon mitra juga mendapatkan pelatihan karyawan selama dua pekan. Termasuk pasokan obat untuk gerai milik investor. Pihak pewaralaba memperkirakan mitra waralaba Permata Bunda bakal mencapai titik impas dalam waktu 24 bulan hingga 25 bulan setelah operasional perdana. Syaratnya, total omzet mitra mencapai Rp 131,2 juta per bulan dan beban operasional tak lebih dari Rp 105,9 juta per bulan. Hitung punya hitung, laba bersih bisa mencapai Rp 25 juta per bulan. Jangan khawatir pula, Permata Bunda memberikan garansi, kalau laba bersih bulanan tak sesuai target, mereka akan menutup selisihnya alias ditanggung pewaralaba. Klinik Bersalin Mandiri Wahjuni Selain waralaba, investor bisa mempelajari pengalaman Sri Wahjuni. Wahjuni adalah seorang dokter spesialis anak yang berhasil mendirikan klinik dan rumah bersalin Wahjuni pada tahun 2007. Klinik ini berlokasi di Komplek Jatiwaringin Asri II, Pondok Gede, Bekasi. Bangunan klinik menjadi satu dengan tempat tinggal Wahjuni. Target pasar yang dibidik klinik dan rumah bersalin Wahjuni adalah ibu-ibu yang tinggal di sekitar Pondok Gede. Total modal untuk membangun klinik dan rumah bersalin ini berasal dari kocek pribadi Wahjuni. Nilainya mencapai Rp 2,2 miliar. Cuma, dana ini memang tidak dia kucurkan sekaligus, melainkan secara bertahap. Setiap laba yang diperoleh Wahjuni diputar untuk memenuhi kebutuhan modal. Dana terbesar dikucurkan untuk membeli tanah dan bangunan, yakni Rp 1,5 miliar. Sisa dana sebesar Rp 700 juta digunakan untuk membeli peralatan klinik, laboratorium, USG, farmasi, tempat tidur untuk

rawat inap, stok obat, serta perizinan. Kapasitas rawat inap klinik ini sebanyak 13 tempat tidur. Mulai kelas III sampai VIP, tutur Wahjuni. Omzet rata-rata per bulan sekitar Rp 125 jutaRp 150 juta. Pengeluaran rata-rata bulanan Rp 100 juta. Rinciannya, untuk membeli obat Rp 50 juta, gaji karyawan Rp 25 juta, sisanya untuk biaya listrik, telepon, dan pengeluaran lain-lain. Tiap bulan Wahjuni dapat meraup untung bersih 30%40% dari total omzet atau Rp 35 jutaRp 50 juta. Meski tidak bisa memastikan dengan tepat waktunya, Wahjuni mengaku sudah berhasil balik modal setelah tahun kedua beroperasi. Keuntungan yang lumayan membuat Wahjuni kembali mendirikan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puspa Husada di Bekasi Timur, April lalu. Cuma, rumah sakit ini belum memberi kontribusi signifikan karena baru beroperasi. Toh, potensinya menjanjikan. Saat ini saja RSIA yang menelan investasi Rp 9 miliar ini telah meraup omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan. Sayang, Wahjuni enggan menyebut besarnya laba yang dia petik. Dia hanya bercerita, saat ini tengah menambah tempat tidur kelas III. Soalnya, mayoritas pasien yang datang berasal dari kalangan menengahbawah. Tarif dipatok dari Rp 75.000Rp 350.000 per hari per kamar. Nah, ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan serius. Yakni, lokasi dan dokter yang akan berpraktik di klinik tersebut. Hal lain, proses perizinan. Soalnya, investor tidak sekadar mengurus izin mendirikan klinik, tapi juga izin lingkungan. Dokter dan bidan yang akan bekerja di klinik juga harus mendapat izin dari pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas setempat. Klinik kesehatan pun harus memiliki layanan cepat dan ramah. Makanya, investor harus melakukan studi kelayakan yang mencakup pasar, lokasi, harga bangunan, sampai perizinan. Untuk obat-obatan, asal ada izin apoteker, bisa membeli dari distributor obat resmi. (peluangusaha.kontan.co.id)

DAFTAR PUSTAKA Basu Swasta DH dan Irawan, 1990, Manajemen Pemasaran Modern, Edisi kedua, Liberty, Yogyakarta

Fandy Tjiptono, 2005, Pemasaran Pemasaran Jasa, Bayu Media Publishing, Malang Handi Irawan, 2003, Kepuasan Konsumen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Higgins dan Ferg uson, 1991, Total Quality Service, Erlangga, Jakarta

Kotler P, 1993, Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Jilid 1, Edisi VII, Erlangga, Jakarta

Sunarji Daromi dan Sri Hardjanti, 1989, Memilih Pasar Sasaran, Edisi Refisi II, BPFE UII, Yogyakarta