Anda di halaman 1dari 10

http://www.google.co.id/imgres? imgurl=http://pcpmiibanyuwangi.blogdetik.com/files/2008/12/demobbm.jpg&imgrefurl=http://pcpmiibanyuwangi.blogdetik.com/category/aktualita/lokal /&usg=__zxav1fX91Y2760CuSJX0ibKdF0U=&h=296&w=394&sz=124&hl=id&start= 11&zoom=1&itbs=1&tbnid=b1vhetpOqfz8kM:&tbnh=93&tbnw=124&prev=/search %3Fq%3Dpergerakan%2Bmahasiswa%26hl%3Did%26biw%3D1366%26bih %3D574%26tbm%3Disch&ei=3ExnTqmOEsHVrQfalcDaCg http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://matanews.com/wpcontent/uploads/aksi-rr.jpg&imgrefurl=http://matanews.com/2009/12/07/pemimpinjanganparanoid/&usg=__ttL73t_1Q_0pVSFT0mAdqvFzt5o=&h=548&w=730&sz=110&hl=i d&start=9&zoom=1&itbs=1&tbnid=Z0z5bx1KDY2P5M:&tbnh=106&tbnw=141&pre v=/search%3Fq%3Dpergerakan%2Bmahasiswa%26hl%3Did%26biw %3D1366%26bih%3D574%26tbm%3Disch&ei=3ExnTqmOEsHVrQfalcDaCg http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_di_Indonesia http://pcpmiibanyuwangi.blogdetik.com/category/aktualita/lokal/ http://matanews.

com/2009/12/07/pemimpin-jangan-paranoid/

Pola Gerak Gerakan Mahasiswa


Januari 17, 2011

Nadia Raissofi H menulis artikel Memetakan Kembali Gerakan Mahasiswa (Lampost, 13-1) yang menarik untuk ditanggapi. Meskipun memilih frase memetakan kembali dalam artikelnya, alternatif gerakan yang diusulkan Nadia justru meneguhkan pola gerak yang selama ini ada, atau setidaknya menguatkan persepsi publik terhadap Gerakan Mahasiswa yang seharusnya. Dalam dinamika geraknya, setidaknya terdapat empat karakteristik utama Gerakan Mahasiswa dari masing-masing periode: memanfaatkan momentum; vis a vis negara; bersifat ekstraparlementer; serta merupakan elan status, artinya gerakan hanya terjadi ketika seseorang berstatus mahasiswa, bukan menjadi gaya hidup ketika seseorang tak lagi menjadi mahasiswa. Karakteristik paling khas dari catatan sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia adalah posisi gerakan yang setia berada di wilayah ekstraparlementer. Gerakan Mahasiswa mengandaikan dirinya sebagai pandito dalam konsep relasi cendekiawan-penguasa yang diadopsi dari tradisi pemerintahan feodal Jawa terutama pada abad-abad pertengahan. Sebagai pandito Gerakan Mahasiswa hanya turun gunung di saat negara dalam kondisi chaos di mana proses rekonsiliasi membutuhkan campur tangan golongan pandito. Tuntutan-tuntutan utama yang melahirkan tradisi gerakan pun hampir sama, menarik garis demarkasi yang tegas dengan pihak-pihak yang melakukan penindasan atas rakyat. Kebetulan

pihak-pihak yang paling sering melakukan penindasan terhadap rakyatnya sendiri diidentifikasi sebagai negara. Karena itu Gerakan Mahasiswa seringkali disederhanakan sebagai gerakan yang asal berseberangan dengan penguasa. Bahwa berseberangan dengan penguasa seperti menjadi ideologi populisme gerakan. Gerakan yang bersandar pada momentum pada akhirnya akan kelelahan, sesaat setelah momentum lewat dan berganti. Hal ini juga yang terjadi misalnya pada Gerakan Mahasiswa 1998. Karena momentum itu pulalah, Gerakan Mahasiswa 1998 mengempes seperti balon yang kehilangan udaranya tidak lama setelah jatuhnya Presiden Soeharto. Gerakan Mahasiswa 1998 tidak mampu lagi mengelola kemarahan rakyat yang telah terakumulasi dan lampias. Pada periode ini Gerakan Mahasiswa 1998 pun telah kehabisan banyak energi berbulan-bulan mengelola kemarahan rakyat. Partai Rakyat Demokratik (PRD) misalnya, salah satu pemain paling penting dalam Gerakan Mahasiswa 1998 tidak mampu membangun loyalitas dan kekuatan ide-ide revolusionernya untuk diterapkan pasca Pemilu 1999. PRD bahkan tidak mampu memenuhi kuota electorald threshold dalam Pemilu 1999. Tragisnya, PRD tidak lolos verifikasi dalam Pemilu 2004 meskipun telah berganti nama menjadi Partai Oposisi Rakyat (Popor). Pemain-pemain lain dalam Gerakan Mahasiswa 1998 belum ada yang sempat mematerialisasi ide-ide perlawanan dalam regulasi yang mengikat atas nama negara. Kondisi ini sebenarnya keluhan standar dalam tradisi panjang Gerakan Mahasiswa Indonesia yang memposisikan diri berada di luar kekuasaan. Akibatnya, segenap regulasi menjadi wilayah wewenang pemegang kekuasaan, di mana mahasiswa tidak turut di dalamnya. Pemain utama Gerakan Mahasiswa 1998 segera tenggelam kiprahnya beberapa waktu setelah kemenangan pembuka Gerakan Reformasi berhasil diraih. Tidak ada yang salah, karena Gerakan Mahasiswa memang sebuah kontinuitas gerak. Aktivis boleh berganti, strategi dan taktik dapat saja berubah, varian penindasan dapat saja lebih cantik, tetapi spirit perjuangan tidak akan pernah pudar. Karena seperti yang diungkapkan Yozar Anwar, mantan Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat: Gerakan Mahasiswa akan selalu hadir dalam dunia yang masih dikotomik. Artinya bila ada kelompok yang menindas, Gerakan Mahasiswa akan melakukan perjuangan akselerasi bagi kaum yang tertindas. Begitu juga bila terdapat kelompok yang kaya, sudah menjadi tanggung jawab moral bagi Gerakan Mahasiswa untuk membela kaum yang miskin. Karena itu formulasi pola gerakan menjadi keharusan bagi Gerakan Mahasiswa untuk tetap mewarnai dinamika kehidupan berbangsa. Sudah saatnya gerakan mulai berpikir untuk berjuang dalam bentuk lain. Tidak melulu dalam gerakan asal berseberangan dengan penguasa maupun gerakan yang selalu berimplikasi politik. Merumuskan orientasi baru perjuangan sebagai Gerakan Mahasiswa Masa Damai misalnya menjadi penting terutama saat gerakan tidak dapat membesarkan dirinya dalam kondisi dan momentum yang tidak datang-datang. Gerakan Mahasiswa Masa Damai ini dapat berwujud gerakan intelektual dalam arti yang seluas-luasnya. Pengamat, teori, atau penelitian, sejatinya turut memprovokasi Gerakan Mahasiswa untuk setia bermain di wilayah yang memiliki implikasi politik sebagai akibat dari gerakannya. Tidak ada misalnya, genealogi Gerakan Mahasiswa diulas dari kiprah kejuangan di bidang reformasi teknologi; perlawanan hebat dalam menghasilkan varietas unggul di bidang pertanian; revolusi

mahasiswa kedokteran melakukan riset bagi tersedianya obat-obatan murah bagi masyarakat; juga usaha terus menerus, sakit dan berdarah-darah mengembangkan ilmu pengetahuan alam, dan kesenian. Rupa-rupanya sebagian besarkalau tidak semuadari Kita masih menganggap politik sebagai segala-galanya dan seksi pula. Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Nama: Abdullah Aziz

Peranan Mahasiswa Di Era Globalisasi


Kebelakangan ini, peranan mahasiswa yang dianggap sebagai agen arus perubahan yang diinginkan masyarakat bergema semula. Pandangan masyarakat terhadap mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan sebagai agen gerakan pembaharuan, hendaklah menyadarkan kita (mahasiswa) sebagai kelompok intelektual muda. Dalam hal itu, mahasiswa dituntut untuk dapat berperanan lebih nyata terhadap perubahan atau paling tidak menjadi pendokong dari sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Kesadaran yang tumbuh dalam masyarakat untuk melakukan perubahan terhadap sistem yang cenderung berorientasi pada kekuasaan yang membelenggu demokrasi, menuntut peranan yang lebih dari mahasiswa sebagai agen perubahan serta sebagai mekanisma kawalan. Kedudukan mahasiswa sebagai mekanisma kawalan, bermaksud sebagai pengimbang kepada kekuasaan yang ada pada pemerintah. Tugas tersebut, idealnya memang dilakukan oleh partai politik, namun sayang hal itu tidak berlaku, bahkan dimandulkan oleh kekuasaan yang tidak mengenal apa yang dikatakan "kritikan".. Dalam konteks itulah, letak peranan mahasiswa sebagai agent of social control serta sebagai agent of change. Namun kalau dinilai, gerakan mahasiswa yang baru saja dibahas, sepertinya tidak mempunyai visi yang jelas serta kehilangan konsep. Itu semua, disebabkan karena kesadaran mahasiswa akan suatu gerakan belum sepenuhnya terbuka, dan bahkan cenderung bersifat euforia. Hanya beberapa mahasiswa saja, yang benar-benar konsisten serta matang dalam menggagas gerakan pembaharuan. Gerakan Mahasiswa Kalau kita bandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dahulu, sangatlah jauh berbed a. Dulu, mahasiswa dengan idealismenya dapat menjadi payung kepada masyarakat marhain yang perlukan pembelaan. Peristiwa Baling 1974 adalah manifestasi jelas peranan mahasiswa yang dimaksudkan.Semangat juang yang digerakkan oleh pemimpin-pemimpin mahasiswa waktu itu, dengan setiap saat melakukan penyadaran terhadap rakyat, berhasil menghasilkan beberapa orang pemimpin ternama hari ini

Bandingkan hal tersebut dengan mahasiswa sekarang, yang mengalami degradasi, baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme, maupun semangat jati diri mereka. Mahasiswa sekarang, cenderung untuk berpikir pragmatis dalam menghadapi persoalan. Ada dua persoalan yang mendasari analisis mengenai sebab-sebab hal tersebut, sehingga mahasiswa lebih bersikap hedonis. Pertama, pengaruh budaya Barat yang tidak tersekat telah meracuni pemuda dan mahasiswa. Mereka dengan mudah meniru budaya asing tanpa menyadari risikonya, seperti berpesta-pestaan, dan menghabiskan masa kepada perkara-perkara yang lansung tidak bermenafaat. Kedua, adanya pengaruh dari sistem pendidikan yang membentuk mentaliti mahasiswa. Ternyata, pola atau sistem yang digunakan oleh Orde Baru untuk melenyapkan idealisme serta daya kritis sangatlah ampuh dan efektif, yaitu dengan menerapkan sistem kapitalis dalam bidang ekonomi yang cenderung konsumtif. Di samping itu, sistem yang diterapkan dalam pendidikan, yang berteraskan lulus peperiksaan membentuk pola pikir serta mentaliti mahasiswa, ternyata hanya menjadikan mereka sebagai kuli. Jarang sekali mahasiswa cuba berfikir tentang persoalan kerakyatan, keagamaan, atau pun bagaimana konsep memajukan bangsa di era globalisasi ini. Mereka lebih suka diajak bersenang-senang untuk kepentingan pribadi yang bersifat sesaat, seperti kegiatan rekreatif (jika dibanding dengan kegiatan ilmiah). Melihat fenomena tersebut, maka kita mempunyai kewajiban untuk mengubah mentalitas yang hedonis dan pragmatis tersebut kembali kepada jati diri mahasiswa, yang mempunyai idealisme tinggi. Salah satu jalan alternatif untuk itu adalah dengan menghadapkan langsung mahasiswa pada persoalanpersoalan kerakyatan. Di samping itu, supaya berjalan seimbang, fungsi unversiti sebagai fungsi pengabdian masyarakat harus dilaksanakan tidak hanya terbatas pada simbol, tetapi benar-benar real di dalam aplikasinya. Hal itu, dimaksudkan untuk menolak pandangan kampus sebagai menara gading. Dengan begitu, idealisme serta daya kritis mahasiswa yang terasa hilang akan dapat dibangunkan kembali.

Pergerakan Mahasiswa di Indonesia


6 Filed in Forum Kita

Oleh Rudy Hariyanto

Menurut fitrah kejadiannya, manusia diciptakan bebas dan merdeka, karena kemerdekaan pribadi adalah hak yang utama. Tidak ada satu apa pun yang lebih berharga daripada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas seperti di atas adalah mutlak diperlukan terutama pada saat manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan karakter jati diri. Masa pembentukan dan pengembangan bagi berproses pada masa remaja atau generasi muda. Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki elit dalam generasinya. Sifat kepoloporan, keberanian, dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam generasi muda, yaitu mahasiswa itu sendiri. Sifat yang didasarkan pada objektivitas tersebut harus diperankan dengan baik oleh mahasiswa apabila mereka berada dalam suasana merdeka, demokratis, dan rasional. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam masyarakt pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum muda yang terdidik. Mereka harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, dengan sifat dan wataknya yang kritis, mahasiswa harus menjadi kelompok yang bebas dari kepentingan apa pun kecuali kepentingan kebenaran dan objektivitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan masa depan. Dalam dinamikanya, mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen. Tidak terbantahkan lagi, bahwa pemuda, khususnya mahasiswa sebagai salah satu ujung tombak pergerakan telah banyak menorehkan tinta emas dan sumbangsih yang besar terhadap terwujudnya Bangsa Indonesia yang berkarakter dan mempunyai identitas nasional yang tegas. Dalam rentetan peristiwa sejarah besar di negeri ini, mahasiswa turut (sebagai varian dari terminologi pemuda) menjadi aktor intelektual dan penentu perubahan yang terjadi di negeri ini sejak rezim Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dan mungkin pemerintahan yang akan datang. Terkait dengan itu, mahasiswa yang menyandang nama besar agent of change sangat beralasan jika George Mc Turnan Kahin memberi label mahasiswa sebagai revolusi kaum pemuda. Secara historis, perubahan di berbagai negeri di sepanjang abad 20 telah menjadikan kaum pemuda sebagai motor penggerak. Meski bukan satu-satunya kekuatan perubahan, tapi elit dari sebuah pergerakan mestilah kaum terpelajar (mahasiswa). Di Indonesia, fenomena lahirnya kaum terpelajar di berbagai perguruan tinggi telah mendorong lahirnya organ-organ pergerakan kemerdekaan abad 20. Tokoh-tokoh penting gerakan itu kemudian menjadi founding fathers Republik Indonesia. Seorang Indonesianis menyebut lahirnya kaum terpelajar dari perguruan tinggi itu sebagai elit modern. Kepemimpinan tradisional yang semula hanya dipegang oleh kaum bangsawan dan kaum ulama bergeser ke model kepemimpinan baru yang berasal dari perguruan tinggi modern. Seiring dengan itu, wacana kenegaraan pun sering menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan aktivis mahasiswa saat ini. Secara faktual, mahasiswalah yang menjadi ujung tombak sekaligus arus utama dari gerakan perubahan yang berlangsung di mana pun. Dengan nalar intelektualitas dan independensinya, mahasiswa mampu menemukan argumentasi rasional mengenai kondisi yang kurang baik dan tidak sesuai dengan semangat konstitusi dan nilai kemanuasiaan. Hanya mahasiswa yang mampu menjadi pemeran utama perubahan sekaligus menjadi kekuatan yang paling ditakuti oleh rezim penguasa yang korup di belahan dunia mana pun. Kelahiran suatu gerakan menunjukkan belum adanya pertemuan yang seimbang antara nilai harapan dengan eskalasi kapabilitas pencapaian. Hubungan keduanya akan menentukan seberapa besar dalam menghadirkan suatu gerakan yang massif di tingkat massa. Pada saat derajat harapan massa meninggi, sementara proses pencapaian menuju ke arah nilai harapan rendah, maka

terbuka kemungkinan menimbulkan gesekan pada massa. Demikian pula jika kulminasi kapabilitas mengalami kenaikan, sementara nilai harapan realitas massa sudah mengkristal, maka tidak dapat dihindari jika mekanisme kehadiran gerakan massa akan muncul. Dapat dikatakan bahwa fase-fase gerakan merupakan proses reaksi dari pola harmonisasi dalam konstruksi idealitas dan realitas. Gerakan mahasiswa dalam kancah sejarahnya juga muncul dan tenggelam. Muncul ketika ada momentum dan tenggelam bersamaan dengan hilangnya momentum. Momentum berkorelasi dengan realitas perubahan sosial, yakni perkalian ledakan massa dan kecepatan. Biasanya, indikator yang selalu digunakan ada dan tiadanya gerakan mahasiswa adalah aksi pergerakannya. Semakin intens isu yang digulirkan, semakin diakui eksistensinya. Begitu pula sebaliknya. Faktor dominan dalam hal ini adalah keberpihakan media untuk meliputnya dalam siaran berita. Amat jarang aktivitas intelektual gerakan mahasiswa diliput dan diberitakan media sehingga kemudian gerakan mahasiswa seolah hilang dari peredaran wacana publik. Maka, dalam menghadapi berbagai perubahan-perubahan kultural, mahasiswa harus merumuskan kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Runtuhnya Orde baru membuktikan bahwa kekuatan massa yang dimotori oleh gerakan mahasiswa telah diperhitungkan layaknya sebuah revolusi di Iran dan Philipina. Maka saat itulah gerakan mahasiswa di Indonesia mulai diperhitungkan untuk mengambil peran meneruskan tongkat estafet sejarah perjuangan bangsa. Penulis adalah mahasiswa Teknik Sipil 2007 dan Ketua Umum BEM FT UM 2010

Arah Pergerakan Mahasiswa

Oleh Banu Prasetyo

PEMUDA adalah tonggak utama kemajuan. Dari zaman ke zaman, sejarah mencatat peran pemuda selalu memberikan dampak yang besar dalam perjalanan bangsa. Dr Sutomo, Bung Karno, dan Bung Hatta adalah representasi pemuda yang berjuang mengantarkan kemerdekaan. Begitu pula peristiwa pendudukan Gedung DPR/MPR di era Orde Baru (Orba) yang melibatkan mahasiswa. Kemajuan bangsa pasti ditunjang oleh intelektualitas pemuda yang semestinya bersifat komprehensif. Pemuda biasanya juga dijadikan parameter kemajuan bangsa. Lebih dari itu, para pemuda biasanya menjadi aktor perubahan dalam setiap kehidupan perpolitikan negara dan dalam porsi tertentu. Dalam konteks mahasiswa, tentu sangatlah penting mengetahui perannya, mengingat mahasiswa adalah kaum intelektual bangsa. Oleh karena itu, sangatlah penting menciptakan mahasiswa yang berkarakter

kebangsaan kuat dalam persiapan menuju era regenerasi kepemimpinan. Salah satu bentuk persiapan regenerasi tersebut adalah pergerakan mahasiswa. Kritis dan Kreatif Arah pergerakan mahasiswa juga berubah pada setiap masa. Ada kalanya sangat dibatasi dan dilemahkan oleh sistem yang ada, namun pada waktu lain mahasiswa mampu bangkit melawan pembelengguan sistem dan berdiri dengan kokoh mengibarkan bendera demokrasi yang telah lama mati. Salah satu bentuk pelemahan pergerakan mahasiswa adalah keluarnya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/ BKK) yang mengubah format organisasi kemahasiswaan dengan melarang mahasiswa terjun ke politik praktis. Kebijakan itu dikeluarkan Presiden Soeharto pada 1978 melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. Sepertinya bukan mahasiswa jika tak punya sifat kritis dan kreatif. Ketika pergerakan mereka dibelenggu, mahasiwa pun mengalihkan gerakannya pada kelompok studi. Pertengahan 1980-an, anak muda melirik kembali kelompok studi sebagai wahana aktivitas (Catatan Atas Gagalnya Politik Orde Baru, Eep Saefulloh Fatah, 1998). Kemunculan kelompok studi tersebut seolah menjadi cikal bakal pergerakan mahasiswa yang berhasil merobohkan Presiden Soeharto beserta rezimnya pada 1998. Apakah yang membuat pergerakan mahasiswa dapat bangkit lagi, meski sistem telah membelenggu? Pembungkaman pendidikan politik dan kurang transparannya pemerintahan membuat mahasiswa memiliki semangat bersama untuk kritis sekaligus skeptis terhadap kemapanan yang disajikan oleh Pemerintah Orba. Dapat dikatakan, mahasiswa terbagi dalam dua sikap yang menonjol, yaitu mahasiswa yang tergolong aktif berorganisasi dan mahasiswa yang apatis terhadap organisasi kampus dan hanya berorientasi pada akademis individu. Era sekarang justru banyak organ pergerakan yang menjadi komoditas dari kepentingan golongan politik tertentu, bahkan demo yang dilakukan mahasiswa dinilai tidak lagi objektif, karena sudah disusupi kepentingan kelompok maupun elite politik tertentu. Atas proposisi-proposisi pergerakan mahasiswa dari zaman Orba ke zaman Reformasi, secara arif kita dapat mengambil pelajaran bahwa menurunnya tingkat semangat persatuan dari berbagai gerakan mahasiswa adalah ketidakjelasan arah perjuangan mereka.

Sebaiknya kita mau belajar dari masa lalu. Kita pernah memiliki rasa nasionalisme yang begitu tinggi, yaitu menjelang dan di awal kemerdekaan. Rasa nasionalisme itu tumbuh kuat karena kita menghadapi musuh bersama (common enemy), yaitu penjajahan (Merjaut Kembali KeIndonesiaan Kita, Hamengku Buwono X, 2007). Dewasa ini, common enemy itu beralih menjadi bentuk-bentuk KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang seharusnya menjadi alat pemersatu pergerakan mahasiswa untuk mengawal jalannya pemerintahan agar lebih baik lagi. (37) Banu Prasetyo, ketua Lembaga Mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada

Garis Perak Sejarah Pergerakan Mahasiswa : Sebuah Narasi


Posted on February 23, 2010 by ryanalfiannoor

Rate This

Only a nation with self-reliance can become a great nation [Soekarno, Presiden Pertama RI] Orang bijak pernah berkata bahwa besarnya visi adalah lambang keoptimisan. Mungkin inilah yang dirasakan bangsa kita, saat kita menyatakan visi untuk menjadi negara superpower baru tahun 2030 dalam tataran kehidupan global dunia. Namun merealisasikan sebuah visi bukanlah semudah membalik telapak tangan. Perlu ada bab-bab rancangan yang jelas untuk menjadi kompas perjalanan menuju visi itu. Perjalanan tahun 2030 memang masih menunggu waktu, namun bukan berarti diam. Indonesia butuh bergerak lewat aktor-aktor penting yang bermain didalamnya. Sejarah Indonesia telah membuktikan, peran aktor-aktor tersebut selalu diisi oleh mahasiswa yang telah menjelma menjadi manusia paripurna dalam kehidupan masyarakat. Di dunia nyata, bervisi tanpa beraksi adalah hal yang sia-sia. Tetapi untunglah Ibu pertiwi kita masih belum lelah untuk melahirkan manusia-manusia hebatnya ke nusantara. Manusia itu hanya mengenal aksi-aksi luar biasa didalam hidupnya, yang secara tidak langsung memberikan keharuman nama untuk negara ini. Di waktu sejarahnya, mereka telah memberikan kontribusi terbesarnya untuk memalu anak-anak tangga menuju visi besar Indonesia di masa yang akan datang.

Dalam ruang dan waktu ke-Indonesia-an, anak tangga ini belumlah selesai. Sehingga tidak dapat dinafikan lagi bahwa masih dibutuhkannya pasokan manusia-manusia hebat yang bermental nasionalis dan berkompetensi tinggi untuk melanjutkan anak-anak tangga yang telah dibuat para pendahulunya. Siapakah mereka? Tentu saja merekalah yang memiliki jiwa kritis yang tinggi dan terlepas dari segala macam kepentingan: mahasiswa. Mari dimulai pada bab kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Kemerdekaan Indonesia bukanlah dari hadiah dari penjajah, tapi Indonesia merdeka karena hasil perjuangan manusiamanusia hebat di dalam sejarahnya. Manusia yang memiliki transformasi ilmu-ilmu eksakta dan sosial untuk membangun negerinya, manusia yang didalam jiwanya terpatri jiwa nasionalisme yang tinggi dan terbalut dalam spiritualitas yang tak pernah diragukan lagi. Entah waktu itu istilah mahasiswa telah digunakan atau belum, tapi yang pasti nama itulah yang pantas disematkan untuk mereka karena mereka memenuhi kriterianya. Maka tersebutlah nama Soekarno, Muhammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Muhammad Natsir, Muhammad Yamin, dan sederet cendekiawan lainnya yang seperti dikatakan oleh Anis Baswedan sebagai pengisi Ruling Class Tahap Pertama. Mereka bergerak dalam porsi keberanian melawan penjajah dalam bentuk fisik. Romantikanya dipenuhi oleh gebrakangebrakan luar biasa yang menjadi sebuah inspirasi hingga kini. Ada diantara mereka yang menggunakan cara radikal dan ada yang menggunakan cara moderat, memberikan batu pondasi sebagai pelajaran masa depan pergerakan mahasiswa. Begitulah bara api sejarah bangsa Indonesia mengajarkan kita. Mari beralih pada bab yang satunya lagi. Ada lagi romantika lain dari negeri Indonesia yang tidak kalah pentingnya. Sebuah romantika dalam sejarah kehidupan berbangsa Indonesia untuk menumbangkan penguasa yang diktator dalam fungsi, peran dan posisinya sebagai pemerintah dalam negara demokrasi ini. Inilah kisah yang disebut para aktor-aktor Mahasiswa tahun 1998 sebagai Masa Reformasi. Bersama puluhan tokoh pembaharu Indonesia, ribuan mahasiswa menjadi partikel-partikel dalam lautan aksi di depan gedung MPR berdekap fisik dengan polisi bukan untuk bergagah- gagahan, namun mereka memperjuangkan sebuah apa yang mereka sebut dengan perubahan. Ada warna almamater kuning, hijau, biru, merah, abu-abu, yang menjadi paduan warna menarik dalam nuansa keringat dan darah waktu itu. Disana ada calon dokter, ada calon insinyur, ada calon saintis, ada calon sosiolog, ada calon diplomat, ada calon pengacara, dan ada calon-calon lainnya, yang sebenarnya kalau mereka mau, waktu itu bisa mereka gunakan untuk bersantai-santai di depan TV di rumah mereka, memberikan komentar layaknya komentator sepak bola TV yang handal untuk bercuap-cuap ria mengkritik pemerintah. Tapi mereka tidak melakukannya. Dengan semangat idealisme yang tidak pernah padam, mereka menyingsikan lengan almamater mereka, bergandeng tangan untuk terus maju memberikan suara perubahan. Mereka sadar, mungkin bisa jadi saat itu adalah waktu akhir dari hidup mereka. Inilah kontribusi terbesar yang dapat mereka berikan untuk bangsa Indonesia. Mereka hanya tahu bahwa semangat mereka jauh lebih besar daripada kelelahan mereka saat itu.

Mereka mengatasnamakan rakyat Indonesia menuntut sebuah keadilan dan kebenaran, yang waktu itu hanya menjadi sebuah kamuflase yang diatur secara cerdik dan licik oleh para bedebah negeri Indonesia. Walhasil, dari sinilah titik baru dimulai. Sebuah turning point untuk membangkitkan Indonesia dari rezim tirani menuju demokrasi. Demokrasi yang bukan hanya dari refleksi dari cermin kebohongan saja, namun kembali pada makna yang seperti dikatakan oleh Aristoteles sebagai pemerintahan yang bersumber dari rakyat kepada negara. Dari sinilah, bab pergerakan mahasiswa bertambah tugasnya, kini mahasiswa bukan hanya dituntut untuk mampu turun kejalan menyuarakan kebenaran ilmiah saja, namun kini pergerakan mahasiswa telah menambah bab-nya tersendiri, menuju suatu bab baru yang lebih menantang, yaitu bab pergerakan peningkatan kompetensi dan pergerakan nyata pada masyarakat.