Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MODUL 3 BLOK XVII KEGAWATDARURATAN MATA

Disusun oleh kelompok 2 : Bobby Chandra HelsaEldatarina KarolindAndriani M.FarlyzarYusuf Aris Novianto Melinda PayungTasik RahimatulFadillah Rina Zubaidah

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS MULAWARMAN 2011

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahNyalah laporan dengan tema Kegawatdaruratan Mata ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini disusun dari berbagai sumber ilmiah sebagai hasil dari diskusi kelompok kecil (DKK) kami. Laporan ini secara garis besar berisikan tentang cara mengidentifikasi masalah dari artikel ilmiah. Dalam proses penyusunan laporan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada: 1. dr. Ronny Isnuwardhana , MIH selaku tutor kelompok II yang telah membimbing kami dalam melaksanakan DKK 2 pada modul 3mengenai Kegawatdaruratan Mata ini. 2. dr. SwandariParamita, M.Kes selaku tutor pengganti yang telah membimbing kami dalam melaksanakan DKK 1 3. Dosen-dosen yang telah mengajarkan materi perkuliahan kepada kami sehingga dapat membantu dalam penyelesaian laporan hasil diskusi kelompok kecil ini. 4. Teman-teman kelompok II yang telah mencurahkan pikiran, tenaga dan waktunya sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik dan dapat menyelesaikan laporan hasil diskusi ini. 5. Teman-teman mahasiswa kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2008 khususnya yang telah bersedia untuk sharing bersama mengenai materi yang kita bahas. Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, tentunya laporan ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifa tmembangun sangat penyusun harapkan demi tercapainya kesempurnaan dari isi laporan hasil diskusi kelompok kecil (DKK) ini. Hormat Kami,

Penyusu

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi.. Bab I Pendahuluan A. LatarBelakang B. TujuanModul Bab II Isi 1. Terminologiistilah 2. IdentifikasiMasalah 3. AnalisisMasalah 4. Strukturisasi 6. BelajarMandiri 7. Sintesis 5 6 6 9 9 10 11 4 4 2 3

5. Learning Objective

Bab III Penutup A. Kesimpulan DaftarPustaka 54

55

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Trauma mata perupakan penyebab umum kebutaan unilateral pada anak dan dewas amuda. Kelompok usia ini mengalami sebagian cedera mata yang parah. Dewasa muda terutama pria merupakan kelompok yang paling mungkin mengalami trauma tembus mata. Kecelakaan dirumah, kekerasan, ledakan aki, cedera yang berhubungan dengan olahraga dan kecelakaan lalulintas merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma mata. Selain itu semakin banyak trauma mata yang terjadi akibat kecelakaan oleh tali bungee atau senapan angina paintball. Trauma mata yang berat dapatmenyebabkan cedera multiple pada palpebral, bola mata dan jaringan lunak orbita. Trauma pada mata merupakan salah satu bentuk kegawatdaruratan karena bisa mengakibatkan komplikasi seperti ulkus kornea, uveitis dan glaucoma yang berujung pada kebutaan. Trauma mata yang kerap terjadi dilingkungan kita adalah trauma akibat benda asing. Oleh karena itu, penulis berupaya untuk mengupas tuntas mengenai trauma mata khususnya akibat benda asing sebagai bekal bagi para calon dokter untuk menghadapi dunia klinis . B. Manfaat Setelah menyelesaikan pembelajaran dan diskusi pada modul ini, mahasiswa lebih mengerti dan memahami tentang trauma akibat benda asing pada mata mulai dari etiologi, diagnosa, diagnosa banding, diagnose penunjang, terlebih mengenai penegakkan diagnosis dan penatalaksanaannya, sehingga kedepannya dapat mengatasi dan mencegah komplikasi dari penyakit ini.

BAB II ISI

Skenario Waspadalah Gerinda Mengintai Pak Podo, 35 tahun, seorang pekerja bangunan, diantar temannya ke UGD RS Karena mata kirinya terasa mengganjal terkena percikan serbuk gerinda saat menggerin dabesi. Saat di UGD, dokter jaga langsung memeriksa mata penderita dan mengambil serbuk besi yang menempel di mata. Dokter memberikan resep obat tetes mata dan menganjurkan penderita untuk control lima hari kemudian. Saat control dokter yang memeriksa matanya mendapatkan erosi pada kornea bekas tempat serbuk gerinda yang diambil, tanda infeksi mata seperti terlihat pada gambar . Penderita juga mengeluh penglihatannya diketahui ternyata penderita tidak memakai obat tetes mata yang diberikan. STEP 1 Erosikornea STEP 2 1. Mengapa bisa terjadi erosi pada kornea mata Pak Podo padahal serbuk gerinda sudah diambil ? 2. Apaakibat dari erosit ersebut? 3. Apa obat mata yang mungkin diberikan dokter pada kasus Pak Podo? 4. Mengapa Pak Podo merasa matanya kabur, silau dan nyeri ? 5. Apa saja pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan ? 6. Apa diagnosis sementara pada kasus Pak Podo? 7. Bagaimana cara mengambil benda asing darimata? 8. Bagaimanakah penatalaksanaan yang tepat terhadap kasus Pak Podo? : Terkelupasnya lapisan epitel kornea akibat terkena gesekan keras

STEP 3 1. Serbuk gerinda yang masuk ke mata menyebabkan gesekan pada epitel kornea yang mengakibatkan erosi epitel. 2. Kornea yang mengalami erosi epitelnya tidak intak lagi. Epitel yang normalnya berfungsi sebagai pusat pertahanan dalam keadaan tidak intak merupakan port d entry yang sangat baik bagi kuman yang pada akhirnya akan menyebabkan infeksi pada kornea maupun jaringan sekitarnya. 3. Obat yang mungkin diberikan pada Pak Podo adalah antibiotic tetes seperti kloramfenikol. Obat diberikan pada Pak Podo sebagai terapi profilaksis untuk mencegah infeksi sekunde rmeskipun benda asingnya sudah diangkat. 4. Kornea sebagai media refraksi yang normalnya jernih ketika tejadi infeksi maka akan menjadi keruh akibat infiltrasi sel-sel radang. Oleh karena itu refraksi cahaya pun terganggu sehingga penglihatan menjadi kabur. Jika terjadi infeksi pada jaringan yang lebih dalam lagis eperti uveitis maka kontraksi pupil akan lebih berat. Ketika ada cahay amasuk pupil yang normalnya berkontraksi untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk tidak bereaksi sehingga cahaya yang masuk akan berlebihan dan akibatnya akan terasa silau. Nyeri yang dirasakan pada Pak Podo terjadi akibat erosi pada kornea dimana terdapat banyak sel-sel saraf didalamnya. 5. Pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan pada Pak Podo antara lain : Pemeriksaan fisik mata Pemeriksaan funduskopi : untuk melihat lokasi benda asing : untuk mengetahui apakah benda asing Pemeriksaan fluoresensi : untuk melihat defek pada kornea sudah menembus ke intra okuli 6. Diagnosis sementara pada kasus Pak Podo adalah erosi kornea dengan komplikasi ulkus kornea dengan diagnosis banding uveitis dan glaukoma. 7. Pada pengeluaran benda asing berikan anestetik topical terlebih dahulu pada pasien dan gunakan spud (alat pengorek) atau jarum berukuran kecil untuk mengeluarkan benda asing sewaktu pemeriksaan slit lamp. Jangan gunakan aplikator berujung kapas karena aka nmenggosok epitel lebih luas tanpa mengeluarkan benda asing tersebut. Bila fragmen yang tertanam

dalam maka menggunakan teknik beda hmikro. Setelah benda asing dikeluarkan mata harus diberi salep antibiotic dan ditutup. 8. Penatalaksanaan awal pada kegawatdaruratan mata ini adalah keluarkan benda asing dari mata sesegera mungkin. STEP 4 Benda Asingpada Mata Tidakditangani denganbaik
Sembuh ErosiKornea

Ditanganidenganbaik

Diagnosis

Penatalaksan aan

Komplikasi UlkusKorne a Uveitis Hifema Glaukoma

Kebutaan

STEP 5 Learning Objektif 1. Menjelaskan jenis-jenis, gejala, penegakkan diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi dari benda asing di mata 2. Menjelaskan komplikasi dari masuknya benda asing di mata. a. Erosi kornea b. Hifema c. Perforasi d. Gangguan penglihatan

STEP 6 BelajarMandiri

BENDA ASING DI DALAM MATA

Apabila suatu benda asing masuk kedalam mata maka biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat dan serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan terjadi iriosiklitis serta panophthalmitis. Karena itu perlu cepat mengenalibenda asing tersebut dan menentukan lokasasinya di dalam bola mata utnuk kemudian mengeluarkanya.

Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari besarnya corpus alienium;kecepatnya masuk ;ada atau tidaknya proses infeksi dan jenis bendanya sendiri .bila benda ini berada pada segmen depan dari bola mata hal ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini terdapat di dalam segmen belakang.jika suatu benda masuk ke dalam bla mata ,maka akan terjadi salah satu dari etiga perubahan berikut: (1) Mechanical effect (2) Permulaan terjadinya proses infeksi (3) Terjadinya peubahan-perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses kimiawi (reaction of ocular tissue) o mechanical effect,-benda yang masuk ke dalam bola mata dapat melalui cornea ataupun sclera.setelah benda ini menembus kornea maka ia masuk kedalam kamera oculi anterior dan mengendap kedasar .bila benda ini erus ,maka ia akan menembus irus dan kalau mengeai lensa mata akan terjadi cataract traumatica.benda ini juga bisa juga tinggal di dalam corpus vitreus.bila benda ini melekat di retina,biasanya kelihatan sebagai bagian yang di kelilingi oleh eksudat yang berwana putih serrta adanya endapan sel-sel dara merah ,akhirnya terjadi degenerasi retina. o Infeksi.- dengan masuknya benda asing kemungkinan akantimbul infeksi. ke dalam bola mata , maka Corpus vitreus dan lensa dapat

merupakan media yang baik untuk prtumbuhan kuman sehingga sering timbul infeksi supuratif. Juga kita tidak boleh melupakan infeksi dengan kuman tetatnus dan gas ganggren o Reaction of ocular tissue.- reaksi bola mata terhadap corpus alienum adalah bermacam-mcam dan ini ditentukan oleh sifat kimia dari benda tersebut. Non organized material dapat menimbulkan proliferasi dan infeksi dengan pembentukan jaringan granulasi

A. MACAM-MACAM BENDA ASING YANG DAPAT MASUK MATA Benda asing yang masuk mata dapat dibagi dalam beberapa kelompok yaitu benda logam dan bukan logam. Contoh emas, perak, platina, timah hitam, seng, nikel, alumunium, tembaga, besi. Benda logam ini terbagi lagi menjadi : - benda logam magnit - benda logam bukan magnit Benda bukan logam : Contoh : batu, kaca, porselin, karbon, bahan tumbuh-tumbuhan, bahan pakain dan bulu mata. Benda inert yaitu benda yang terdiri dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi jaringan mata ataupun kalau ada reaksinya sangat ringan dan tidak mengganggu fungsi mata. Contoh : emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, macam-macam plastik tertentu. Kadang-kadang benda inert memberikan reaksi mekanik yang dapat mengganggu fungsi mata. Sebagai contoh : pecahan kaca di dalam sudut bilik mata depan akan menimbulkan kerusakan pada endotel kornea sehingga mengakibatkan edema kornea yang akan mengganggu fungsi penglihatan. Benda reaktif yaitu benda yang menimbulkan reaksi jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel, alumunium, tembaga, kuningan, besi, tumbuh-tumbuhan, bahan pakaian dan bulu ulat. B. CARA PEMERIKSAAN DAN PENENTUAN LOKALISASI Untuk dapat menentukan ada tidaknya suatu benda asing serta lokalisasi di dalam mata diperlukan : 1. Riwayat terjadinya trauma Hal ini diperlukan untuk dapat membantu mengetahui kemungkinan serta letak daripada daripada benda asing tersebut. Trauma karena suatu ledakan, akan menimbulkan suatu perforasi karena benda tersebut masuk dengan kecepatan yang sangat tinggi dan biasanya benda tersebut dapat mencapai segmen posterior. Trauma waktu sedang menggunakan palu pahat selalu dipikirkan kemungkinan benda-benda di dalam segmen posterior. Trauma

karena pecahan mobil atau pecahnya kaca mata waktu jatuh, bila pecahan kaca dapat masuk biasanya akan berada di segmen anterior, yang mempunyai kemungkinan jatuh di sudut bilik mata depan. 2. Pemeriksaan keadaan mata akibat trauma Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik diperlukan suatu lampu dengan penerangan yang baik (sentolop) dan kaca pembesar (loupe), lebih baik lagi kalau ada slit-lamp. Hal ini sangat penting karena pada trauma perforasi yang sangat kecil bila tanpa penerangan lampu yang baik serta loupe mungkin luka kecil akan luput dari pengamatan. Haruslah diingat bahwa pada setiap luka perforasi bagaimanapun kecilnya, kemungkinan suatu benda asing yang tidak dapat disingkirkan. Benda asing yang tidak sampai menembus masuk bola mata, sudah dapat langsung dilihat. Bila pada konjungtiva bulbi, kornea, sklera tidak tampak benda asing atau luka perforasi, selalu harus dicari kemungkinan adanya benda asing pada forniks atau konjungtiva palpebra. Untuk hal ini haruslah kelopak mata dibuka dan dilipat keluar. 3. Pemeriksaan oftalmoskop Dengan oftalmoskop dapat diperiksa keadaan badan kaca dan retina sehingga dapat juga dilihat bila ada benda asing di badan kaca dan retina. Benda asing tersebut dapat dilihat dengan oftalmoskop, bila tidak ada kekeruhan badan kaca. Dengan oftalmoskop kita dapat meramalkan prognosis fungsi penglihatan. Misalnya: bila dengan oftalmoskop tampak kekeruhan badan kaca atau perdarahan retina atau ablasio retina, maka prognosis penglihatan kurang baik. 4. Pemeriksaan radiologi Pada setiap luka perforasi, selalu harus dilakukan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologi ini penting untuk mengetahui ada tidaknya suatu benda asing yang "radiopaque" serta letaknya benda asing tersebut dalam mata. Pemeriksaan yang paling sederhana untuk mengetahui ada tidaknya benda yang radiopaque adalah melakukan Plane X-ray daripada orbita dengan posisi posteroanterior (PA) dan lateral. Apabila dengan cara ini dapat dipastikan ada benda asing tersebut intraokuler atau ekstraokuler. Untuk hal ini dibutuhkan teknik-teknik khusus, seperti metode

sweet, metode comberg dengan menggunakan lensa kontak. Bila benda asing tersebut adalah non radiopaque dibutuhkan pemeriksaan Ultrasonografi untuk dapat menentukan letaknya. Pemeriksaan yang teliti tetapi mahal adalah pemeriksaan C.T Scan - orbita. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui benda tersebut apakah pada bilik mata depan, lensa, segmen posterior, retina, retrobulbar, extra okuler, atau extra orbital. C. AKIBAT BENDA ASING PADA MATA Benda asing dapat mengakibatkan : 1. Trauma Erosi konjungtiva atau kornea. Erosi timbul apabila benda asing yang masuk tidak sampai menembus bola mata tetapi hanya tertinggal pada konjungtiva atau kornea. 2. Trauma tembus Adalah suatu trauma dimana sebagian atau seluruh kornea dan sclera mengalami kerusakan. Trauma ini dapat terjadi apabila benda asing melukai sebagian lapisan kornea atau sklera dan benda tersebut tertinggal di dalam lapisan tersebut. pada keadaan ini tidak terjadi luka terbuka sehingga organ di dalam bola mata tidak mengalami kontaminasi. Benda asing dengan kecepatan tinggi akan menembus seluruh lapisan sklera atau kornea serta jaringan lain dalam bola mata kemudian bersarang di dalam bola mata ataupun dapat sampai menimbulkan perforasi ganda sehingga akhirnya benda asing tersebut bersarang di dalam rongga orbita atau bahkan dapat mengenai tulang orbita. Dalam hal ini akan ditemukan suatu luka terbuka dan biasany terjadi prolaps iris, lensa, ataupun badan kaca. 3. Perdarahan Perdarahan intraokular dapat terjadi apabila trauma mengenai jaringan uvea, berupa hifema (perdarahan bilik mata depan) atau perdarahan dalam badan kaca. 4. Reaksi jaringan mata Reaksi yang timbul tergantung jenis benda tersebut apakah benda inert atau reaktif. Pada benda yang inert, tidak akan memberikan reaksi ataupun kalau ada

hanya ringan saja. Benda yang reaktif akan memberikan reaksi-reaksi tertentu dalam jaringan mata. Benda organik kurang dapat diterima oleh jaringan mata disbanding benda organik.benda logam dengan sifat bentuk reaksi yang merusak adalah besi berupa siderosis dan tembaga. Timah hitam dan seng merupakan benda reaktif yang lemah reaksinya. Siderosis merupakan reaksi jaringan mata akibat penyebaran ion besi ke seluruh mata dengan konsentrasi terbanyak pada jaringan yang mengandung epitel yaitu: epitel kornea, epitel pigmen iris, epitel kapsul lensa, epitel pigmen retina. Timbulnya siderosis tampak 2 bulan sampai 2 tahun setelah trauma. Gejala klinik berupa gangguan penglihatan yang mula-mula buta malam kemudian penurunan tajam penglihatan yang semakin hebat dan penyempitan lapang pandangan. Pada mata tampak endapan karat besi pada kornea berwarna kuning kecoklatan, pupil lebar reaksi lambat, bintik-bintik bulat, kecoklatan pada lensa dan iris berubah warna. Kalkosis merupakan reaksi jaringan mata akibat pengendapan ion tembaga di dalam jaringan terutama jaringan yang mengandung membrane seperti membrane descement kapsul anterior lensa, iris, badan kaca, dan permukaan retina. Tembaga memberikan reaksi purulen. Gejala klinik kalkosis timbul lebih dini dari pada siderosis yaitu beberapa hari sesudah trauma. Tembaga dalam badan kaca dapat menimbulkan ablasio retina sebagai akibat jaringan ikat di dalam badan kaca yang menarik retina. D. ABRASI KORNEA Abrasi dan benda asing di kornea menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasakan sewaktu mata dan palpebra digerakkan; defek epitel kornea dapat menimbulkan sensasi serupa. Flouresin akan mewarnai membran basal epitel yang defek dan dapat memperjelas kebocoran aqueous akibat luka tembus (uji Seidel positif). Pola tanda goresan vertikal di kornea mengisyaratkan adanya benda asing terbenam di permukaan konjungtiva tarsalis palpebra superior. Pemakaian lensa kontak yang berlebihan menimbulkan edema kornea.

Defek epitel kornea yang ringan diterapi dengan salep antibiotik dan balut tekan (pressure patch) untuk mengimobilisasi palpebra. Pada pengeluaran benda asing, dapat diberikan anestetik topical dan digunakan sebuah spud (alat pengorek) atau jarum berukuran kecil untuk mengeluarkan benda asing sewaktu pemeriksaan slitlamp. Jangan mennggunakan aplikator berujung kapas karena alat ini menggosok permukaan epitel secara luas, sering tanpa mengeluarkan benda asingnya. Cincin logam yang mengelilingi fragmen besi atau tembaga dapat dikeluarkan dengan bor baterai berujung logam. Bahan inert yang tertanam dalam (misalnya, kaca, karbon) dapat dibiarkan berada di dalam kornea. Bila fragmen yang tertanam dalam perlu dikeluarkan atau bila terjadi kebocoran aqueous yang memerlukan jahitan atau perekat sianoakrilat, prosedurnya harus dilakukan dengan teknik bedah mikro dalam kamar operasi, tempat pembentukan ulang bilik mata depan dapat dilakukan (bila perlu), dengan atau tanpa visoelastik dalam kondisi steril. Setelah benda asing dikeluarkan, mata harus diberikan salep antibiotik dan ditutup. Luka harus diperiksa setiap hari untuk mencari tanda-tanda infeksi sampai luka sembuh sempurna. Jangan pernah memberi larutan anestetik topikal kepada pasien untuk dipakai ulang setelah cedera kornea karena hal ini memperlambat penyembuhan, menutupi kerusakan lebih lanjut, dan dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea yang permanen, yang secara klinis menyerupai tampilan ulkus infeksi. Pemakaian steroid harus dihindari bila masih ada defek epitel. Karena abrasi kornea sering menjadi komplikasi anesthesia umum, harus dilakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menghindari cedera ini sewaktu induksi dan selama tindakan dengan menutup mata (dengan plester) atau memberikan salep pelumas mata di forniks konjungtiva. Kadang-kadang terjadi erosi epitel rekuren setelah cedera kornea dan hal ini diatasi dengan penutupan, bandage contact lens, mikropungsi kornea, atau excimer laser phototherapeutic keratectomy (PTK).

E. EROSI KORNEA Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras. Pasien merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata berair, blefarospasme, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media kornea yang keruh. Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel kornea yang bila diberi pewarnaan fluoresein akan berwarna hijau. Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit. Pemberiannnya harus hati hati karena dapat menambah kerusakan epitel. Epitel yang terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. Untuk mencegah infeksi bakteri diberikan antibiotika. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka diberikan sikloplegik aksi pendek seperti tropikamida. F. BENDA ASING INTRAOKULAR Keluhan rasa tidak enak atau penglihatan kabur pada satu mata dengan riwayat benturan antara logam dengan logam, ledakan, atau cedera proyektil berkecepatan tinggi seharusnya memberikan kecurigaan adanya benda asing intraokular. Bagian anterior mata harus diinspeksi dengan kaca pembesar atau slitlamp sebagai usaha untuk menentukan lokasi tempat masuknya luka. Upaya visualisasi benda asing intraokular harus dilakukan dengan oftalmoskopi langsung atau tidak langsung. CT scan atau pemeriksaan sinar X jaringan lunak orbita harus dilakukan untuk mengidentifikasi adanya benda asing radioopak juga untuk alasan-alasan mdikolegal. Lokalisasi benda asing intraokular dapat dicapai dengan ultrasonografi atau CT Scan multiplanar. Penggunaan MRI merupakan kontraidikasi absolute dalam mengidentifikasi dan melokalisasi benda asing intraokular karena medan magnet yang dihasilkan selama scanning dapat menyebabka benda asing tersebut berubah menjadi proyektil intraokular berkecepatan tinggi yang menimbulkan efek katastrofik pada mata. Benda asing yang telah diidentifikasi dan diketahui lokasinya di dalam mata harus dikeluarkan kapan pun memungkinkan. Partikel-partikel besi atau tembaga harus dikeluarkan untuk mencegah disorganisasi jaringan mata lanjut akibat perubahan-perubahan degenerative toksik (siderosis karena besi dan

kalkosis karena tembaga).sebagian dari campuran-campuran logam (alloy) baru bersifat lebih inert dan mungkin dapat ditoleransi. Jenis partikel lain, misalnya kaca atau porselin, mungkindapat ditoleransi sumur hidup dan biasanya dibiarkan saja; demikian juga dengan benda asing anorganik di jaringan lunak intraorbita. Benda asing organik di orbita umumnya menimbulkan peradangan orbita dan pembentukan abses sehingga harus diangkat. Tatalaksana. Bila terletak di sebelah anterior zonula lensa, benda asing harus dikeluarkan melalui insisi limbus dari bilik mata depan. Bila benda asing terletak di belakang lensa dan di sebelah anterior ekuator, pengeluaran dilakukan melalui area pars palana yang paling dekat dengan benda tersebut supaya kerusakan retina lebih sedikit. Bila terletak di sbeelah posterior ekuator, benda asing sebaiknya dikeluarkan dengan vitrektomi pars plana dan pinset intraokular. Tersedia pinset-pinset khusus untuk memegang pil dan magnet berbentuk sferis untuk membantu pengeluaran benda asing intraokular magnetic. Retina yang rusak harus diterapi dengan diatermi, fotokoagulasi, atau koagulasi endolaser untuk mencegah ablation retinae. G. PROGNOSIS Pada trauma dimana benda asing berada di permukaan mata tanpa adanya luka perforasi, umumnya prognosis baik karena benda tersebut dapat langsung dikeluarkan dan akibatnya sangat ringan tanpa meninggalkan bekas ataupun hanya berupa nebula bila pada kornea. Pada trauma dimana benda asing menyebabkan luka perforasi sehingga benda asing tersebut berada di dalam bola mata, maka pronogsisnya tergantung jenis-jenis benda asing. Benda inert bila tidak menimbulkan reaksi mekanik yang mengganggu fungsi mata, prognosisnya baik. Benda reaktif pada umumnya prognosis tidak baik. Hal ini masih tergantung dari benda reaktif tersebut, apakah magnit atau non magnit. Pada benda yang magnit berhubungn pengeluarannya lebih mudah (dengan magnit), maka hasilnya akan lebih baik dibanding benda non magnit karena cara pengeluarannya sukar. Bentuk trauma. Bila suatu perforasi yang hebat sehingga banyak badan kaca yang prolaps, mungkin terjadi ablasi retina ataupun fitis bulbi.

HIPOPION A. DEFINISI Hipopion didefinisikan sebagai pus steril yang terdapat pada bilik mata depan. Hipopion dapat terlihat sebagai lapisan putih yang mengendap di bagian bawah bilik mata depan karena adanya gravitasi. Komposisi dari pus biasanya steril, hanya terdiri dari lekosit tanpa adanya mikroorganisme patogen, seperti bakteri, jamur maupun virus, karena hipopion adalah reaksi inflamasi terhadap toxin dari mikroorganisme patogen, dan bukan mikroorganisme itu sendiri

Gambar diambil dari http://en.wikipedia.org/ B. PATOFISIOLOGI Bangunan yang berhubungan dengan hipopion adalah iris dan badan siliar. Radang iris dan badan siliar menyebabkan penurunan permeabilitas dari bloodaqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang dalam cairan aqueous, sehingga memberikan gambaran hipopion. Adanya pus di bilik mata depan biasanya memberikan gambaran lapisan putih. Hipopion yang berwarna kehijauan biasanya disebabkan oleh infeksi Pseudomonas. Sedangkan hipopion yang berwarna kekuningan bisanya disebabkan oleh jamur. Karena pus bersifat lebih berat dari cairan aqueous, maka pus akan mengendap di bagian bawah bilik mata depan. Kuantitas dari hipopion biasanya berhubungan dengan virulensi dari organisme penyebab dan daya tahan dari jaringan yang terinfeksi. Beberapa organisme menghasilkan pus lebih banyak dan lebih cepat. Diantaranya Pneumokokus, Pseudomonas, Streptokokus pyogenes dan Gonokokus.

Hipopion pada ulkus fungal biasanya dapat terinfeksi karena jamur dapat menembus membran Descemet. Bakteri memproduksi hipopion lebih cepat dari jamur sedangkan infeksi virus tidak menyebabkan hipopion. Apabila ditemukan hipopion pada infeksi virus, biasanya disebabkan adanya infeksi sekunder oleh bakteri. C. ETIOLOGI Hipopion merupakan reaksi inflamasi di bilik mata depan. Karena itu semua penyakit yang berhubungan dengan uveitis anterior dapat menyebabkan terjadinya hipopion. Hipopion dapat timbul setelah operasi atau trauma disebabkan karena adalanya infeksi. Misalnya pada keratitis. Bakteria, jamur, amoba maupun herpes simplex dapat menyebabkan terjadinya hipopion. Bakteri patogen yang umumnya ditemukan adalah Streptococcus dan Staphylococcus. Hipopion karena infeksi jamur jarang ditemukan. Beberapa keadaan yang dapat memberikan gambaran hipopion, diantaranya : Ulkus Kornea. Apabila terjadi peradangan hebat tapi belum terjadi perforasi dari ulkus, maka toksin dari peradangan kornea dapat sampai ke iris dan badan siliar, dengan melalui membran Descemet, endotel kornea ke cairan bilik mata depan. Dengan demikian iris dan badan siliar mengalami peradangan dan timbulah kekeruhan di cairan bilik mata depan disusul dengan terbentuknya hipopion. Uveitis Anterior. Peradangan dari iris dan badan siliar. menyebabkan penurunan permeabilitas dari blood-aqueous barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel radang dalam cairan aqueous. Rifabutin. Merupakan terapi profilaksis untuk Mycobacterium avium complex pada penderita dengan HIV. Uveitis merupakan efek samping yang dapat terjadi pada pemakaian Rifabutin. Trauma. Corpus alienum, toxic lens syndrome, post operasi.

D. PRESENTASI KLINIS Gejala subyektif yang biasanya menyertai hipopion adalah rasa sakit, iritasi, gatal dan fotofobia pada mata yang terinfeksi. Beberapa mengalami penurunan visus atau lapang pandang, tergantung dari beratnya penyakit utama yang diderita. Gejala obyektif biasanya ditemukan aqueous cell and flare, eksudat fibrinous, sinekia posterior dan keratitis presipitat. E. DIAGNOSA Diagnosa hipopion ditegakan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan menggunakan slit lamp. Pada anamnesa, ditanyakan adanya riwayat infeksi, pemakaian lensa kontak, trauma, pemakaian obat serta riwayat operasi. Pada pemeriksaan dengan slit lamp, ditemukan lapisan berwarna putih pada bagian inferior dari bilik mata depan. Jarang sekali hipopion ini ditemukan pada bagian lain dari bilik mata depan. Hipopion biasanya dinilai berdasarkan tingginya, diukur dari dasar bilik mata depan dengan satuan milimeter. Atau bisa juga dengan hitungan kasar, misalnya. ringan, moderat, setengah bilik mata depan dan seluruh mata depan. Cara terbaik untuk menilai hipopion adalah dengan terlebih dahulu meminta pasien duduk beberapa saat supaya hipopion dapat mengendap sempurna. Selanjutnya pasien diminta melihat ke bawah dan sinar diarahkan dari bagian atasdepan iris. F. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan hipopion tergantung dari ringan atau beratnya penyakit. Sel darah putih biasanya akan di reabsorpsi. Tetapi bila hipopion memberikan gambaran yang berat, maka bisa dilakukan drainase. Terapi yang lebih spesifik biasanya tergantung dari penyakit utama yang menyebabkan hipopion. Apabila terjadi inflamasi, dapat diberikan kortikosteroid. Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan dosis sebagai berikut: Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0,1 % atau prednisolone 1 %.

Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler : dexamethasone phosphate 4 mg (1 ml) prednisolone succinate 25 mg (1 ml) triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml) methylprednisolone acetate 20 mg

Cycloplegic dapat diberikan dengan tujuan untuk mengurangi nyeri dengan memobilisasi iris, mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior ( sinekia posterior ), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan peningkatan tekanan intraocular, menstabilkan blood-aqueous barrier dan mencegah terjadinya protein leakage (flare) yang lebih jauh. Agent cycloplegics yang biasa dipergunakan adalah atropine 0,5%, 1%, 2%, homatropine 2%, 5%, Scopolamine 0,25%, dan cyclopentolate 0,5%, 1%, dan 2%. G. PROGNOSA Hipopion adalah gejala klinis yang muncul sebagai respon inflamasi. Sel darah putih akan diabsorpsi sepenuhnya. Tetapi prognosis tergantung dari penyakit dan komplikasi yang dapat terjadi. HIFEMA Hifema adalah darah dalam bilik mata depan sebagai akibat pecahnya pembuluh darah pada iris, akar iris dan badan silia. A. TANDA DAN GEJALA Mata merah Rasa sakit Mual dan muntah karena kenaikan Tekanan Intra Okuler (TIO). Penglihatan kabur Penurunan visus Infeksi konjunctiva Pada anak-anak sering terjadi somnolen

B. PATOFISIOLOGI Trauma tumpul yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan perdarahan dalam bilik mata depan. Iris bagian perifer merupakan bagian paling lemah. Suatu trauma yang mengenai mata akan menimbulkan kekuatan hidraulis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta merobek lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non reaktif. Tenaga yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke dalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior sehingga menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan bola mata ke lateral sesuai dengan garis ekuator. Hifema yang terjadi dalam beberapa hari akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan diserap sehingga akan menjadi jernih kembali. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG - Laboratorium (tes fungsi hati, prothombin, trombosit dan waktu perdarahan) - Pemeriksaan visus - Pemeriksaan lampu celah - Pemeriksaaan goneoskopi (untuk mencari pembuluh darah yang rusak dan resesif sudut). C. MANAJEMEN TERAPI Sampai sekarang masih terdapat konsep yang berbeda tapi yang penting dalam penaganan hifema memberi pertolongan dan pengobatan secara cepat dan tepat sehingga dapat mencegah atau mengurangi komplikasi. Istirahat total selama 5 hari untuk melihat terjadinya hifema ulangan. Posisi berbaring 30-45 akan menyebabkan darah berkumpul di bawah dan akan menurunkan tekanan darah sistemik sehingga mengurangi resiko hifema ulangan. Pemberian tetes mata: 1. Xicloplegi (obat parasimpatolitik). 2. Medriatikum 3. Miotik lebih baik dihindari karena menyebabkan inflamasi 4. Tetes mata steroid untuk mengurangi rasa tidak enak akibat evitis dan untuk mencegah terjadinya hifema ulangan.

5. Pencucian bilik mata depan dianjurkan jika TIO naik lebih dari 24 jam. 6. Tindakan operatif (untuk mencegah kenaikan TIO). GANGGUAN PENGLIHATAN Gangguan penglihatan artinya penglihatan seseorang tidak bisa dikoreksi ke keadaan normal. Gangguan penglihatan bisa sangat bervariasi pada anak-anak dan bisa disebabkan oleh banyak hal. Gangguan penglihatan dapat disebabkan oleh kerusakan di dalam mata, koreksi bentuk mata yang kurang tepat atau karena masalah di otak. Bayi-bayi dapat dilahirkan dengan tidak bisa melihat atau gangguan penglihatan timbul saat usia berapa saja. Tanda dari Gangguan Penglihatan: Menutup atau melindungi salah satu mata Memicingkan mata Mengeluhkan bahwa ia sulit melihat atau pandangannya kabur Sulit membaca jarak dekat atau melakukan hal-hal lain yang membutuhkan penglihatan dekat atau sebaliknya mendekatkan sekali objek yang ingin dilihat ke mata supaya dapat melihat Berkedip lebih banyak dari orang kebanyakan atau kelihatan kesal saat melakukan aktivitas yang memerlukan penglihatan dekat(seperti membaca buku)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Corpus alienum harus secepatnya dikenali dan diketahui lokalisasinya untuk secepatnya mengeluarkan corpus alienum tersebut. Semua pekerja yang waktu melakukan pekerjaan di mana kemungkinan benda asing dapat mengenai mata, harus memakai kaca pelindung mata. Untuk menegakkan diagnosa corpus alienum intra oculi perlu dilakukan anamnesa yang baik, pemeriksaan klinis, fundus copi, rontgen fot,dan pemeriksaan dengan magnit. B. Saran Mengingat masih banyaknya kekurangan dari kelompok kami, baik dari segi diskusi kelompok, penulisan tugas tertulis, dan sebagainya, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen-dosen yang mengajar baik sebagai tutor maupundosen yang memberikan materi kuliah, dari rekan-rekan angkatan 2008, dan dari berbagai pihak termasuk kakak tingkat di FK UNMUL ini.

DAFTAR PUSTAKA 1. Vaughan D., Asbury T., Riordan-Eva, P. (2002) General Ophtalmology 17th ed. Connectitut : Appleton & Lange 2. Ilyas S., Mailangkay HHB., Saman RR., Simarmata M., Widodo PS. (2002) Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Jakaerta : CV Agung Seto 3. Ilyas S. (2000) Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FK UI