Anda di halaman 1dari 10

Tugas : PSIKOLOGI Nama : Ika Irawati Sarau NPM : Pk 115 010 020

BINGUNG KARENA TAK PUNYA BIAYA OPERASI PEMISAHAN Bayi kembar tiga lahir itu sudah biasa. Tapi, apabila dua diantara tiga bayi itu dalam kondisi dempet ( siam), itu termasuk langkah. Apalagi, tiga bayi itu lahir prematur dalam usia kandungan tujuh bualan. Itulah yang terjadi di RS ALLHUDA Gambiran, Bayuwangi jawa timur. ALI NURFATONI ABDULL AZIS, Banyuwangi. Sebenarnya Yudha Winarno, 22, sudah tahu bahwa istrinya Sika Jayati, 22, akan melahirkan bayi kembar tiga dan ada yang siam, jauh sebalum kelahiranya, selasa (29/1). Karean itu, dia lebih sering pulang ke rumah dari pada sebelumnya untuk menengok sang istri yang hamil kali pertama itu. Selama ini Yudha bekerja di sebuah perusahaan adver thising di Denpasar, Bali. Adapun istrinya tinggal di Banyuwangi. kami sudah tahu sebalum melehirkan. Jadi, tak begitu kaget. Kalau nggak tahu, kami pasti kagat, kata Yudha yang di iakan istrinya kemarin (30/1). Meski mengaku sudah tidak kagat pasangan mudah itu kini gundah mengetahui dua anaknya lahir tidak normal. Yakni, dempet dari dada hinga perut bagian bawah (Thoracoabdominopagus). Seorang lainya lahir normal. Yang

dempet bekalamin perempuan, sementara yang satu laki-laki. Ketiganya lahir saat kehamilan ibunya masuk usia tujuh bulan. Bayi kembar tiga itu lahir selasa (29/1) pukul 20.45 di RS AL- HUDA Gambiran, Banyuwangi. Dua bayi perempuan yang dempet berbobot 2 Kg, sedangkan bayi laki-laki belakangan berbobot 1.3 Kg. tiga Bayi itu kini dalam penenganan intensif dan dimasukan kemesin inkubator. Pasutri asal dusun krajan RT. 03, RW 01, Desa Bomo, kecamatan Rongojampi, Banyuwangi, itu kemarin tampak sedih. Itu terlihat dari wajah mereka. Beberapakali Yudha menerima telepon. Diapun sibuk keluar masuk kamar. Melalui sambungan telepon, Yudha terlihat berbincang serius. Sementara itu, sang istri masi lemas dan berbaring di tempat tidur. Ibu mudah itu di temani beberapa anggota keluarganya. Jika dihitung secara normal, sika sebenarnya belum waktunya melahirkan. Namun kerena ketuban sudah pecah, dia terpaksa melahirkan dengan usia kandungan tujuh bulan. kelahiranya dengan operasi caesar. Sejak awal mengandung, sika tidak mempunyai firasat apapun. Namun, saat khamilanya menginjak tiga bulan, sang suami bemimpi diberi tiga burung dalam sangkar meski begitu,mimpi tersebut tidak dianggap serius. Pasutri yang manikah pada 2011 itu mengangap mimpi tersebut hanya bunga tidur. saya sama sekali tidak curiga kalau saya mau punya anak tiga sekaligus kata sika sambil menoleh kea rah sang suami yang duduk disampingnya.

Sejak menikah pasangan tersebut tinggal di Denpasar , Bali. Pasalnya Yuda bekerja di Pulau dewata itu. Namun, ketika usia kandunganya tiga bulan, sang istri di pulangkan ke kampung halaman di Bumi Blambangan. saya tetap kerja di Bali. Beberapa kali saya pulang untuk malihat kondisi Istri saya, ujar Yuda. Dia menjelaskan, istrinya beberapa kali control disala satu dokter praktik di Muncar Medical center (MMC). Di desa Kedungrejo, kecamatan muncar

Banyuwangi, untuk melihat perkembangan kandunganya. Saat itulah diketahui bahwa Bayinya kembar siam. Kerena itu, pihak MMC lalu merujuk sika untuk ditangani RS ALLHUDA Gambiran. Saat itu usia kandungan sika memasuli enam bulan. Tapi, pihak rumah sakit meminta sika memeriksakan kandunganya ke RUSD DR Soetomo Surabaya. Beberapa kali Pasutri pulang pergi Banyuwangi sampai Surabaya untuk memeriksakan kondisi kandungan dan jabang Bayi kembar yang ada di dalamnya. Sejauh ini kondisi tiga bayi baik-baik saja. Sampai akhirnya, selasa (29/1) sore lalu, tiba-tiba perut sika sakit. Pihak keluraga langsung membawa sika ke RS ALL- Huda saya di antar pakai pikap terbuka, terangnya. Semakin lama sakit perutnya makin menjadi. Dokter lantas memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Sika hanya di bius local sehingga dia sadar dan bias melihat tiga bayinya di keluarkan dari perutnya. yang pertama keluar yang perempuan, baru anak saya yang laki-laki. Alhamdulilah tangisnya kencang , tuturnya. Hanya, kini Yuda dan sika bingung

kerena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk proses pemisahan bayinya yang dempet. terus terang, saya bingung. Dari man uangnya untuk operasi pemisahan nanti, ujar Yuda. Menurut humas RS ALL-HUDA DR Sugeng, kelahiran bayi kembar tiga terbilang langkah. disini (RS ALL-HUDA) kelahiran ini yang pertama , katanya kepada jawa Pos Radar banyuwangi. Sugeng menjelaskan penanganan bayi kembar tiga itu kini di ambil ahli pihak RSUD Dr Sutomo Surabaya. Terutama, penanganan bayi siamnya. Meski begitu, bayi tersebut masi berada di RS ALL-HUDA. bayi kembar siam ini butuh penanganan kusus, sehingga semFua bentuk perawatan dan apa yang harus kami lakukan mengacu pada petunjuk dari RSUD DR Soetomo, jelas sugeng. Sugeng menyebutkan, tim RSUD DR Soetomo akan dating ke Banyuwangi untuk memeriksa bayi tersebut. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan tiga bayi itu di bawah ke Surabaya untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Mengenai perawatan kusus tim kembar siam RSUD DR Soetomo Yuda mengaku akan mempertimbangkanya dulu, khususnya terkait biaya yang harus dikeluarkan pihak keluarga.

Komentar :
Pada dasarnya bayi yang dilahirkan oleh pasangan Winarno, dan Sika Jayati, yang melahirkan bayi kembar tiga perlu perhatian dari pemerintah setempat terkait karena tak punya biaya untuk melakukan pemisahan atau operasi. Dalam hal ini pemerintah adalah satu-satuya harapan keluarga guna memberi bantuan untuk ketiga buah hatinya yang kembar. Karena Setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medisnya, bukan tergantung kemampuan membayarnya hal ini sering terjadi di Indonesia. Pelayanan di bidang kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang mempunyai peran sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah rumah sakit. Rumah sakit merupakan lembaga dalam mata rantai Sistem Kesehatan Nasional dan mengemban tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat, karena pembangunan dan penyelenggaraan kesehatan di rumah sakit perlu diarahkan pada tujuan nasional dibidang kesehatan.Tidak mengherankan apabila bidang kesehatan perlu untuk selalu dibenahi agar bisa memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik untuk masyarakat. Pelayanan kesehatan yang dimaksud tentunya adalah pelayanan yang cepat, tepat, murah dan ramah. Mengingat bahwa sebuah negara akan bisa menjalankan pembangunan dengan baik apabila didukung oleh masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani. Untuk mempertahankan pelanggan, pihak rumah

sakit dituntut selalu menjaga kepercayaan konsumen secara cermat dengan memperhatikan kebutuhan konsumen sebagai upaya untuk memenuhi keinginan dan harapan atas pelayanan yang diberikan. Konsumen rumah sakit dalam hal ini pasien yang mengharapkan pelayanan di rumah sakit, bukan saja mengharapkan pelayanan medis dan keperawatan tetapi juga mengharapkan kenyamanan, akomodasi yang baik dan hubungan harmonis antara staf rumah sakit dan pasien, dengan demikian perlu adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit Banyak alasannya kenapa pelayanan di negeri kita (tercinta) bisa jadi terburuk salah satunya : "Menurut dr. Nugroho Wiyadi, MPH, ada pelaku pelayanan primer yang secara profesi tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang memadai, sehingga penanganan penyakit tidak sesuai standar, dan sering terjadi pemakaian berbagai obat secara tidak tepat yang pada akhirnya mengakibatkan

ketidakefektifan biaya, dan juga masalah-masalah lain seperti resistensi obat akibat pemakaian obat antibiotik. Pemahaman masyarakat yang lemah tentang sistem pelayanan kesehatan primer (puskesmas/Dokter Praktek Umum) dan sekunder (Rumah Sakit), mengakibatkan mereka tidak mengikuti sistem rujukan yang ada.. Indonesia sedang dalam proses menuju menuju jaminan kesehatan bagi semua warga negaranya, paling tidak nyicil dulu melalui program Jampersal. Dimana semua wanita tanpa melihat status social ekonominya, mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan gratis selama hamil, bersalin, nifas dan KB.

Almarhum mantan Menkes, pernah mengemukakan idenya mengenai Jamkesmas Semesta (Jaminan Kesehatan Masyarakat Semesta). Adalah suatu system pembiayayaan kesehatan untuk semua warga Negara tanpa melihat status social ekonominya. Mungkin sejenis asuransi untuk semua warga. Dana pembiayayaan ini diperoleh dari pajak (yang dikelola dengan benar dan tidak dikorup tentunya ya). Berbeda dengan beberapa Negara tetangga dan Negara maju lainnya, pengelolaan jaminan kesehatan Indonesia dikelola oleh Negara dan swasta. Jaminan kesehatan yang dikelola oleh Negara di tangani oleh PT ASKES yang melayani PNS, TNI/Polri, dan warga miskin. Dan beberapa ditangani oleh pihak swasta. Saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu ketika tragedy Shukoi masih hangat dibicarakan, ada perusahaan yang baru mendaftarkan Direkturnya ke pihak asuransi setelah diketahui bahwa direktur tersebut menjadi korban dalam tragedy tersebut. Miris dengarnya. Alangkah baiknya jika pembiayaan kesehatan di Indonesia di kelola oleh satu pihak saja, Negara. Sebab kewajiban Negara menyelanggarakan

pemerintahan yang adil dan merata dalam segala hal, termasuk kesehatan. Toh selama ini rakyat sudah membayar semua pajak-pajak. Membeli kendaraan ada pajaknya, membeli rumah ada pajaknya, lewat jalan tol ada pajaknya, makan di restoran ada pajaknya. Andai saja pajak tersebut di kelola dengan benar, niscaya jaminan kesehatan bagi semua rakyat dapat terwujud yang tentunya diiringi dnegan peningkatan kualitas pelayanan.

Orang sakit tidak punya pilihan, mau sembuh bayar sekian, yang berduit tentu ini bukan masalah, lha bagi orang yang buat makan saja susah bagaimana? Padahal, penyakit orang sekarang sudah tidak hanya berkisar di batuk pilek, penyakit jantung dan kolesterol juga sudah menjadi trend di kalangan menengah kebawah. Bagaimana mereka harus membayar biaya operasi jantung yang sampai ratusan juta jika tidka memiliki jaminan kesehatan? Untuk diketahui bersama, Jamkesmas masih beredar berdasarkan subjektifitas perangkat desa bukan berdasarkan standar yang ada. Semoga, Pemerintah kita segera membenahi mengenai pembiayayan kesehatan ini. Lebih banyak mengalokasikan APBNnya untuk pembiayayan kesehatan seperti anjuran WHO. Sayangnya di Indonesia, alokasi untuk kesehatan masih kurang dari anjuran WHO. Kalau membiayayai subsidi BBM yang trilyunan rupiah saja mampu mengapa mengalokasikan dana kesehatan masih enggan. Berbeda dengan negara- negara tetangga contohnya, di Inggris. Prinsip dasar yang dikembangkan di Inggris ini terdengar merdu di telinga kita semua dan menyejukkan mata setiap yang membacanya. Semua warga Negara Inggris mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan yang berkualitas apapun jenis penyakitnya dan apapun status social ekonominya. Tentunya saya dan juga anda (mungkin) ingin prinsip ini juga berlaku di Negeri kita tercinta Indonesia. Tapi sepertinya hal itu masih api jauh dari panggang. Kenapa? Apa karena Negara kita miskin (upss, maaf..maksud saya tidak sekaya Inggris)? Jawabnya tidak, jaminan kesehatan sangat tidak terkait dengan

kemamkmuran suatu Negara. Inggris memberlakukan hal tersbut sejak pasca Perang Dunia I. Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi Inggris saat Perang Dunia I, porak poranda dan pastinya kocar-kacir. Kondisi keuangan Negara terkuras untuk perang. Namun, pemerintah Ingris mampu memberlakukan prinsip tersebut. Sri Lanka, Negara serupa Indonesia ternyata sudah terlebih dahulu membebaskan rakyatnya dari biaya kesehatan. Semua warga, tanpa melihat kaya atau miskin tidak perlu dipusingkan dengan biaya kesehatan ketika mereka harus mendapatkan perawatan kesehatan termasuk rawat inap. Malaysia, Negara serumpun yang dahulu mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di Indonesia, hari ini bahkan sudah jauh lebih maju dalam hal jaminan kesehatan dibandingkan Indonesia. Di Malaysia, setiap orang, tidak memandang kaya atau miskin hanya perlu mengeluarkan biaya RM 3 per harinya.