Anda di halaman 1dari 27

Administrasi Kesehatan

Trifena Kristina Santoso 10.2008.107 email : vee_chritsa@yahoo.com Program Sarjana Pendidikan Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara,No.6, Jakarta Barat

Pendahuluan
Puskesmas merupakan institusi dimana fungsi utamaya adalah memberikan pelayanan kepada pasien sebaik-baiknya itu secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Maka dengan itu Puskesmas merupakan peranyang paling strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatanmasyarakat Indonesia.Pusat Kesehatan Masyarakat yang lebih dikenal dengan sebutan Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas, yakni unit organisasidi lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang melaksanakan tugas teknisoperasional dan bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disatu atau sebagian wilayah kecamatan.Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajatkesehatan masyarakat yang setinggitingginya dilaksanakan oleh Puskesmas dan jaringannya, merupakan ujung tombak pelayanan kesehatankepada masyarakat, berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional. Dalam tiap program puskesmas yang telah direncanakan, ada sistem yang mengatur mulai dari perencanaan hingga penilaian. Disinilah dibutuhkan peranan dokter puskesmas yang selain dapat menjadi dokter yang merawat pasien, dokter juga dapat menjadi seorang manager ataupun pendamping ahli dari kepala desa/camat.

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 1

Pengertian puskesmas Suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Oleh sebab itu, puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya. 1. Wilayah puskesmas Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas. Puskesmas merupakan perangkat pemerintah Daerah Tingkat II, sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati KDH, dengan saran teknis dari Kepala Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten/Kodya yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi. Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata rata 30.000 penduduk setiap puskesmas. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayan kesehatan yang lebih sederhana yang disebut Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling. Khusus untuk Kota Besar dengan jumlah penduduk satu juta atau lebih, wilayah kerja puskesmas bilsa meliputi satu kelurahan. Puskesmas di ibukota kecamatan dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi puskesmas kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi. 2. Pelayanan kesehatan menyeluruh Pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas ialah pelayan kesehatan yang meliputi pelayanan : Kuratif (pengobatan) Preventif (upaya pencegahan) Promotif (peningkatan kesehatan) Rehabilitatif (pemulihan kesehatan)

Yang ditujukan kepada semua penduduk dan tidak dibedakan jenis kelamin dan golongan umur, sejak pembuatan dalam kandungan sampai tutup usia. 3. Pelayanan kesehatan integrasi (terpadu) Sebelum ada puskesmas, pelayanan kesehatan di dalam satu satu kecamatan terdiri dari Balai Pengobatan, Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak, Usaha Hygiene Sanitasi Lingkungan, Pemberantasan
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 2

Penyakit Menular dan lain sebagainya. Usaha usaha tersebut masing masing bekerja sendiri sdan langsung melapor kepada Kepala Dinas Kesehatan Dati II. Petugas Balai Pengobatan tidak tahu menahu apa yang terjadi di BKIA, begitu juga petugas BKIA tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Petugas Hygiene Sanitasi dan sebaliknya. Dengan adanya sistem pelayanan kesehatan melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), maka berbagai kegiatan pokok puskesmas dilaksanakan bersama di bawah satu koordinasi dan satu pimpinan. Fungsi puskesmas 1. Sebagai Pusat Pembangunan Kesehatan Masyarakat di wilayah kerjanya 2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat 3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat wilayah kerjanya Proses dalam melaksanakan fungsinya, dilaksanakan dengan cara : a. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri b. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien c. Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat ketergantungan d. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat e. Bekerjasama dengan sektor sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program puskesmas Kedudukan puskesmas 1. Kedudukan secara administratif : Puskesmas merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II dan bertanggung jawab langsung baik teknis maupun administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan Dati II. 2. Kedudukan dalam hirarkhi pelayanan kesehatan : Dalam urutan hirarkhi pelayanan kesehatan, sesuai SKN maka puskesmas berkedudukan pada Tingkat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pertama.
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 3

dengan ketentuan bantuan tersebut

tidak menimbulkan

Upaya Kesehatan Pokok Puskesmas 1. Upaya Kesehatan Wajib Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komite nasional, regional, dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatanm derajad kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselelnggarakan oleh tiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah : Upaya Promosi kesehatan Upaya Kesehatan Lingkungan Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana Kesehatan Ibu dan Anak,adalah salah satu upaya kesehatan wajib puskesmas yang

memberi pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui dan bayi serta anak balita. Hal ini disebakan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator dalam menetapkan derajat kesehatan suatu wilayah atau negara. Sementara KB suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan

kesejahteraan keluarga serta menurunkan angka kematian ibu dan anak. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat UPGK adalah suatu paket kegiatan yang terpadu guna menanggulangi masalah gizi, terutama Kurang Kalori Protein (KKP). Kegiatan-kegiatannya bertolak dari usaha-usaha swadaya masyarakat dan sepenuhnya dilakukan oleh tenaga sukarela desa yang telah mendapat latihan dan di bawah pengawasan puskesmas. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Upaya Pengobatan 2. Upaya Kesehatan Pengembangan Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang sesuai dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada yakni : Upaya Kesehatan Sekolah Upaya Kesehatan Olah Raga Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat Upaya Kesehatan Kerja
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 4

Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Upaya Kesehatan Jiwa Upaya Kesehatan Mata Upaya Kesehatan Lanjut Usia Upaya pembinaan Pengobatan Tradisional. Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan masukan dari BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Apabila puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggungjawab dan wajib

menyelenggarakannya.

Dukungan rujukan 1. Sistem rujukan upaya kesehatan Adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional. 2. Jenis rujukan Sistem rujukan ini secara konsepsional menyangkut hal hal sebagai berikut ; 1) Rujukan medik yang meliputi : a. Konsultasi penderita, untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operatif dan lain lain b. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap c. Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau lebih ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan pengobatan setempat 2) Rujukan kesehatan : Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif yang antara lain meliputi bantuan : a. Survei epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas Kejadian Luar Biasa atau berjangkitnya penyakit menular
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 5

b. Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah c. Penyidikan sebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan keracunan dan bantuan obat obatan atas terjadinya keracunan masal d. Pemberian makanan, tempat tinggal dan obat obatan untuk pengungsi atas terjadinya bencana alam e. Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air bersih bagi masyarakat umum f. Pemeriksaan spesimen air di laboratorium kesehatan dan sebagainya. 3. Tujuan system rujukan upaya kesehatan 1) Umum : Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna. 2) Khusus : a. Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna b. Dihasikannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif secara berhasil guna dan berdaya guna. 4. Jenjang tingkat pelayanan kesehatan Jenjang (Hirarkhi) Tingkat rumah tangga Komponen/unsur pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan oleh individu atau oleh keluarganya sendiri Tingkat masyarakat Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong mereka sendiri oleh kelompok Paguyuban, PKK, Saka Bhakti Husada, anggota RW, RT dan masyarakat Fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, professional tingkat pertama Fasilitas pelayanan Praktek Dokter Swasta, Poliklinik Swasta, dll

rujukan Rumah Sakit Kabupaten, R.S. Swasta, Laboratorium, Klinik Swasta, dll rujukan Rumah Sakit Kelas B dan A serta Lembaga Spesialistik

tingkat pertama Fasilitas pelayanan

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 6

yang lebih tinggi

Swasta, Lab. Kes. Da., Lab. Klinik Swasta, dll

5. Jalur rujukan dapat berlangsung sebagai berikut : Rujukan medik : a. Intern antara petugas puskesmas b. Antara Puskesmas Pembantu dengan Puskesmas c. Antara masyarakat dengan Puskesmas d. Antara satu Puskesmas dengan Puskesmas yang lain e. Antara Puskesmas dengan Rumah Sakit, Laboratorium, atau Fasilitas kesehatan lainnya 6. Upaya kesehatan rujukan 1) Langkah langkah dalam meningkatkan rujukan : a. Meningkatkan mutu pelayanan di puskesmas dalam menampung rujukan dari Puskesmas Pemabantu dan Pos kesehatan dari masyarakat b. Mengadakan Pusat Rujukan Antara dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur perawatan penderita gawat darurat pada lokasi yang strategis c. Meningkatkan sarana komunikasi antara unit unit pelayanan kesehatan dengan perantaraan telpon atau radio komunikasi pada setiap unit pelayanan kesehatan d. Menyediakan puskesmas Keliling pada setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4 atau perahu bermotor yang dilengkapi dengan radio komunikasi e. Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan yang memadai bagi sistem rujukan, baik rujukan medik maupun rujukan kesehatam f. Meningkatkan upaya dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan rujukan. 2) Puskesmas perawatan Pengertian : Puskesmas yang diberikan tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat baik berupa tindakan operatif terbatas maupun rawat inap sementara. a. Kriteria : Puskesmas terletak kurang lebih 20 km dari rumah sakit Puskesmas mudah dicapai dengan kendaraan bermotor dari puskesmas sekitarnya Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang memadai Jumlah kunjungan puskesmas minimal 100 orang per hari rata rata

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 7

Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk wilayah 3 puskesmas di sekelilingnya minimal rata rata 20.000/puskesmas

Pemerintah Daerah bersedia untuk menyediakan anggaran rutin yang memadai

b. Fungsi : Merupakan Pusat Rujukan Antara melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dibawa ke Rumah Sakit. c. Kegiatan : (1) Melakukan tindakan operatif terbatas terhadap penderita gawat darurat antara lain: Kecelakaan lalu lintas Persalinan dengan penyulit Penyakit lain yang mendadak dan gawat

(2) Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk observasi penderita dalam rangka diagnostik dengan rata rata hari perawatan 3 hari atau maksimal 7 hari (3) Melakukan pertolongan sementara untuk mempersiapkan pengiriman penderita lebih lanjut ke Rumah Sakit (4) Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan dengan resiko tinggi dan persalinan dengan penyulit (5) Melakukan metode operasi pria dan metode operasi wanita untuk keluarga berencana. d. Ketenagaan : (1) Dokter kedua di puskesmas yang telah mendapat latihan klinis di Rumah Sakit 6 bulan dalm bidang bedah, obstetric-gynekologi, pediatric dan interne (2) Seorang perawat yang telah dilatih selama 6 bulan dalam bidang perawatan bedah, kebidanan, pediatric dan penyakit dalam (3) 3 orang perawat kesehatan/perawat/bidan yang diberi tugas secara bergilir (4) 1 orang pekarya kesehatan SMA+.

Peranan dokter puskesmas 1. Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang dokter Pendapat umum mengenai seorang dokter biasanya ialah seorang yang berilmu untuk menyembuhkan orang sakit. Demikian pula masyarakat mengharapkan seorang dokter Kepala Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan orang sakit. Namun demikian, dalam kenyataan tanggung jawab seorang dokter Kepala Puskesmas tidak hanya mengobati orang sakit saja
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 8

akan tetapi jauh lebih besar, yaitu memelihara dan meningkatkan kesehatan dari masyarakat di dalam wilayah kerjanya. Disamping itu, ia berfungsi juga sebagai seorang pemimpin dan seorang manager pula. Penting kiranya seorang dokter puskesmas dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita, pandangan dan cara berfikir dalam menentukan diagnosa dan pengobatan tidak semata mata ditujukan kepada penderita sebagai individu, akan tetapi pandangan ditujukan kepada keluarga penderita dan dihubungkan pula dengan masyarakat lingkungan penderita tersebut. Dalam melaksanakan pemeriksaan dan tindakan pengobatan pergunakanlah semua fasilitas yang ada dan kemampuan yang dimiliki sebaik baiknya. Hal ini sangat penting untuk memupuk kepercayaan masyarakat dan para pejabat di lingkungan kecamatan kepada dokter puskesmas yang bersangkutan. 2. Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang manager a. Organisasi dan tatalaksana Puskesmas mempunyai wilayah kerja satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan yang langsung bertanggung jawab dalam bidang teknis kesehatan maupun administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan Tingkat II (Dokabu). Puskesmas Pembantu dan bidan di desa di dalam wilayah kerja puskesmas merupakan bagian integral dari puskesmas. Puskesmas Pembantu melaksanakan sebagian tugas tugas puskesmas sesuai dengan kemampuan tenaga dan fasilitas yang ada dalam wilayah kerja tertentu merupakan sebagian dari wilayah kerja puskesmas. Jenis dan jumlah tenaga puskesmas yang sebenarnya tidak perlu sama untuk setiap puskesmas, tetapi disesuaikan dengan jumlah penduduk dan luas daerah yang dicakup serta keadaan geografis dan perhubungan di wilayah kerjanya. Kepala puskesmas perlu melakukan pembagian tugas bersama sama stafnya disesuaikan dengan jenis dan jumlah tenaga serta kegiatan yang perlu dilakukan. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan pula lokasi peerjaan dan waktu pekerjaan, sehingga bisa diadakan pembangian tugas dan giliran kerja yang merata di antara tenaga tenaga puskesmas yang ada dan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Walupun pekerjaan yang dilakukan berbeda beda akan tetapi semuanya dengan satu tujuan, ialah meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat di wilayah kerja puskesmas dan di bawah satu pimpinan, ialah Kepala Puskesmas. Tidak ada pengkotakan struktur dalam puskesmas. Pertemuan berkala antara Kepala Puskesmas dengan segenap stafnya (termasuk Puskesmas Pembantu dan bidan di desa) perlu dilakukan secara teratur paling sedikit sebulan sekali. Buku

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 9

Pedoman Mini Lokakarya Puskesmas dengan lampirannya merupakan pedoman untuk penyelenggaraan pertemuan berkala tersebut. Tujuan pertemuan berkala itu antara laina adalah : Menampung masalah/hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan pekerjaan sehari hari untuk dipecahkan bersama Merencanakan bersama kegiatan yang perlu dilakukan dalam bulan berikutnya atau minggu yang akan datang Menilai hasil hasil pekerjaan yang telah dilakukan dalam bulan yang lalu Meneruskan informasi/instruksi/petunjuk dari atasan untuk diketahui dan dilaksanakan bersama. b. Bimbingan teknis dan supervisi Selain pertemuan berkala dengan segenap staf puskesmas yang dilakukan di puskesmas, Kepala puskesmas perlu juga datang untuk melihat dan memberi bimbingan kepada staf puskesmas secara berkala di tempat mereka bekerja, di puskesmas, di Puskesmas Pembantu, di lapangan maupun di rumah penduduk dalam rangka kunjungan rumah. Hal ini penting sekali dilakukan secara teratur untuk memelihara disiplin kerja staf puskesmas. c. Hubungan kerja antar instansi Kecamatan Camat merupakan koordinator dari semua instansi/dinas tingkat Kecamatan. Kepala Puskesmas bertanggung jawab secara teknis kesehatan dan administratif kepada Dokabu. Hubungan dengan Camat merupakan hubungan koordinasi, namun demikian tanggung jawab secara moril dari kepala Puskesmas terhadap Camat tetap ada. Hubungan kerjasama yang baik perlu dipupuk antara puskesmas dengan semua instasi di tingkat kecamatan. Kepala Puskesmas harus secara aktif mencari hubungan kerjasama dengan instansi instansi di tingkat kecamatan. Usaha kesehatan tidak dapat berjalan sendiri dan perlu kerjasama dengan instansi instansi lain. Pertemuan berkala antar instansi tingkat Kecamatan perlu diadakan di bawah koordinasi pak Camat. d. Dokter Kepala Puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah kerjanya Disamping hubungan langsung antara dokter Kepala Puskesmas dan staf dengan anggota masyarakat sebagai pengunjung puskesmas dalam rangka pemeriksaan, pengobatan dan penyuuhan kesehatan, perlu pula dilakukan hubungan kerjasama dengan masyarakat dalam rangka membantu masyarakat menolong mereka sendiri dalam bidang kesehatan. Khususnya dengan para pemuka masyarakat dalam rangka memperbaiki nasib mereka baik dalam ruang
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 10

lingkup kesehatan maupun dalam hal hal yang berhubungan dengan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Seringkali masyarakat belum dapat mengenal masalah yang mereka hadapi, dan belum bisa menentukan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi. Kepala Puskesmas beserta segenap stafnya bekerjasama dengan instasi instasi lain di tingkat kecamatan, perlu memberi bimbingan kepada masyarakat untuk mengenal masalahnya dan menentukan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi sesuai dengan kemampuan swadaya mereka sendiri. Untuk itu, perlu dilakukan pertemuan pertemuan baik secara individu dengan pemuka masyarakat, maupun secara kelompok. Pertemuan ini biasanya dilakukan di luar jam kerja, sore atau malam. Bilamana diperlukan latihan, maka Kepala Puskesmas dan segenap stafnya harus dapat melayaninya. 3. Dokter Kepala Puskesmas sebagai tenaga ahli dan pendamping Camat Program pemerintah pada saat ini baru bisa menempatkan dokter puskesmas sebagai seorang sarjana secara merata di kecamatan kecamatan. Dengan sendirinya harapan dari seluruh masyarakat kecamatan adalah untuk mendapatkan manfaat dari keahliannya dalam bidang kesehatan masyarakat maupun pandangan dan cara berpikir yang luas dan kreatif dari seorang sarjana. Maka peranan dokter puskesmas di kecamatan disamping sebagai pimpinan puskesmas, juga merupakan tenaga ahli dan pendamping Camat.

Manajemen puskesmas Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yang baik. Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efesien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas yang dikenal yakni perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan.

1. Perencanaan Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Rencana tahunan puskesmas dibedakan atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana tahunan upaya pengembangan.
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 11

(1) Perencanaan upaya kesehatan wajib Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap puskesmas, yakni promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan. Langkah langkah perencanaan yang harus dilakukan puskesmas adalah sebagai berikut : a. Menyusun usulan kegiatan usulan Langkah pertama yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun kegiatan dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang berlaku, baik nasional maupun daerah, sesuai dengan masalah sebagai hasil dari kajian data dan informasi yang tersedia di puskesmas. Usulan ini disusun dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan. Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan puskesmas yang dilaksanakan sesuai dengan siklus perencanaan Kabupaten/kota dengan mengikutsertakan BPP serta dikoordinasikan dengan camat. b. Mengajukan usulan kegiatan Langkah kedua yang dilakukan puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk persetujuan pembiayaannya, perlu diperhatikan dalam mengajukan usulan kegiatan harus dilengkapi dengan usulan kebutuhan rutin, sarana dan prasarana dan operasional puskesmas beserta pembiayaannya. c. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping). (2) Perencanaan upaya kesehatan pengembangan Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan puskesmas yang telah ada, atau upaya inovasi yang dikembangkan sendiri. Upaya laboratorium medik, upaya

laboratorium kesehatan masyarakat dan pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini adalah upaya penunjang yang harus dilakukan untuk kelengkapan upaya upaya puskesmas. Langkah langkah perencanaan upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh puskesmas mencakup hal hal berikut :
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 12

a. Identifikasi upaya kesehatan pengembangan Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi upaya kesehatan pengembangan yang akan diselenggarakan oleh puskesmas. Identifikasi ini dilakukan berdasarkan ada tidaknya masalah kesehatan yang terkait dengan setiap upaya kesehatan pengembangan tersebut. Apabila puskesmas memiliki kemampuan, identifikasi masalah dilakukan bersama masyarakat melalui pengumpulan data secara langsung dilapangan (Survei Mawas Diri). Pengertian Survei Mawas Diri adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengenali keadaan dan masalah yang dihadapi, serta potensi yang dimiliki untuk mengatasi masalah tersebut. Tahap pelaksanaan Survei Mawas Diri : Pengumpulan data dapat berupa data primer yakni yang dikumpulkan langsung dari sumber data atau data sekunder yakni yang berasal dari catatan yang ada Pengolahan data Penyajian data berupa data masalah dan potensi

Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama masyarakat tersebut tidak dimiliki oleh puskesmas, identifikasi dilakukan melalui kesepakatan kelompok (Delbecq Technique) oleh petugas puskesmas dengan mengikutsertakan Badan Penyantun Puskesmas. Pengertian Delbecq Technique adalah perumusan masalah dan identifikasi potensi melalui kesepakatan sekelompok orang yang memahami masalah tersebut. Tahapan pelaksanaannya : Pembentukan Tim Menyusun daftar masalah Menetapkan kriteria penilaian masalah Menetapkan urutan prioritas masalah berdasarkan kriteria penilaian dilengkapi dengan uraian tentang potensi yang dimiliki Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, jumlah upaya kesehatan pengembangan yang dipilih dapat lebih dari satu. Disamping itu, identifikasi upaya kesehatan pengembangan dapat pula memilih yang bersifat inovatif yang tidak tercantum dalam daftar upaya kesehatan puskesmas yang telah ada, melainkan dikembangkan sendiri sesuai dengan masalah dan kebutuhan masyarakat serta kemampuan puskesmas. b. Menyusun usulan kegiatan

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 13

Langkah kedua yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun usulan kegiatan yang berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan. Rencana yang telah disusun tersebut diajukan dalam bentuk matriks (Gantt Chart). Penyusunan rencana pada tahap awal pengembangan program dilakukan melalui pertemuan yang dilaksanakan secara khusus bersama dengan BPP dan Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam bentuk musyawarah masyarakat. Pengertian musyawarah masyarakat adalah pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin, baik formal maupun informal dan anggota masyarakat untuk merumuskan prioritas masalah kesehatan dan upaya penanggulangannya. Tahap pelaksanaannya: Pemaparan daftar masalah kesehatan dan potensi yang dimiliki Membahas dan melengkapi urutan prioritas masalah Mambahas dan melengkapi potensi penyelesaian masalah yang dimiliki Merumuskan cara penanggulangan masalah sesuai dengan potensi Menetapkan rencana kegiatan penanggulangan masalah (dalam bentuk Gantt Chart)

Penyusunan rencana pada tahap pelaksanaan tahun berikutnya dilakukan secara terintegrasi dengan penyusunan rencana upaya kesehatan wajib. c. Mengajukan usulan kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke Dinas kesehatan kabupaten/kota untuk pembiayaannya. Usulan kegiatan tersebut dapat pula diajukan ke Badan Penyantun Puskesmas atau pihak pihak lain. Apabila diajukan ke pihak pihak lain, usulan kegiatan harus diperlengkapi dengan uraian tentang latar belakang, tujuan serta urgensi perlu dilaksanakannya upaya pengembangan tersebut. d. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan Langkah keempat yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota atau Penyandang dana lain (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping). Penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara terpadu dengan penyusunan rencana pelaksanaan upaya kesehatan wajib. 2. Pelaksanaan dan pengendalian
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 14

Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses penyelenggaraan, pemantauan serta penilaian terhadap penyelenggaraan rencana tahunan puskesmas, baik rencana tahunan upaya kesehatan wajib maupun rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan, dalam mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Langkah langkah pelaksanaan dan pengendalian adalah sebagai berikut : (1) Pengorganisasian Untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan puskesmas perlu dilakukan pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus dilakukan. Pertama, pengorganisasian berupa penentuan para penanggungjawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan serta untuk setiap satuan wilayah kerja. Dengan kata lain, dilakukan pembagian habis seluruh program kerja dan seluruh wilayah kerja kepada seluruh petugas puskesmas dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimilikinya. Penentuan para penagguangjawab ini dilakukan melalui pertemuan penggalangan tim pada awal tahun kegiatan. Kedua, pengorganisasian berupa penggalangan kerjasama tim secara lintas sektoral. Ada dua bentuk penggalangan kerjasama yang dapat dilakukan : a. Penggalangan kerjasama bentuk dua pihak yakni antara dua sector terkait, misalnya antara puskesmas dengan sektor tenaga kerja pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan kerja. b. Penggalangan kerjasama bentuk banyak pihak yakni antar berbagai sektor terkait, misalnya antara puskesmas dengan sektor pendidikan, sektor agama, sektor kecamatan pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah. Penggalangan kerjasama lintas sektor ini dapat dilakukan : a. Secara langsung yakni antar sektor sektor terkait b. Secara tidak langsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan koordinasi kecamatan (2) Penyelenggaraan Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah menyelenggarakan rencana kegiatan puskesmas, dalam arti para penanggungjawab dan para pelaksana yang telah ditetapkan pada pengorganisasian, ditugaskan menyelenggarakan kegiatan puskesmas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Untuk dapat terselenggaranya rencana tersebut perlu dilakukan kegiatan sebagai berikut: a. Mengkaji ulang rencana pelaksanaan yang telah disusun terutama yang menyangkut jadwal pelaksanaan, target pencapaian, lokasi wilayah kerja dan rincian tugas para

penanggungjawab dan pelaksana.


PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 15

b. Meyusun jadwal kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai dengan rencana pelaksanaan yang telah disusun. Beban kegiatan puskesmas harus terbagi habis dan merata kepada seluruh petugas. c. Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pada waktu menyelenggarakan kegiatan puskesmas harus diperhatikan hal hal sebagai berikut : 1) Azas Penyelenggaraan Puskesmas Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menetapkan keempat azas penyelenggaraan puskesmas yakni azas pertanggungjawaban wilayah, azas pemberdayaan masyarakat, azas keterpaduan dan azas rujukan. 2) Berbagai standar dan pedoman pelayanan puskesmas Pada saat ini telah berhasil dikembangkan berbagai standar dan pedoman pelayanan puskesmas sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan puskesmas yang harus diperhatikan pada waktu menyelenggarakan kegiatan puskesmas. Standar dan pedoman tersebut adalah : a. Standar dan pedoman bangunan puskesmas b. Satandar dan pedoman peralatan puskesmas c. Standar manajemen peralatan puskesmas d. Standar dan pedoman ketenagaan puskesmas e. Pedoman pengobatan rasional puskesmas f. Standar manajemen obat puskesmas g. Standar dan pedoman teknis pelayanan berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh puskesmas h. Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) i. Pedoman perhitungan satuan biaya pelayanan puskesmas 3) Kendali mutu Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan program kendali mutu. Prinsip program kendali mutu adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan pedoman pelayanan serta etika profesi, yang memuaskan pemakai jasa pelayanan. Pengertian kendali mutu adalah upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menerapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 16

melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia serta menilai hasil yang dicapai dan meyususn saran tindaklanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan. Prinsipnya : Mengikuti siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) Dilaksanakan melalui kerjasama tim (team based) Sesuai sumberdaya yang tersedia (resource based)

4) Kendali biaya Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan program kendali biaya. Prinsip program kendali biaya adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan pedoman pelayanan serta etika profesi, yang terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan. Pengertian kendali biaya adalah upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan kebijakan dan tatacara penyelenggaraan upaya kesehatan termasuk pembiayaannya, serta memantau

pelaksanaannya sehingga terjangkau oleh masyarakat. Tahap pelaksanaannya : Menetapkan upaya kesehatan yang diselenggarakan lengkap dengan rincian pembiayaannya Menjabarkan kebijakan dan tatacara penyelenggaraan (standar, pedoman dan nilai etika) yang mendukung Melaksanakan upaya kesehatan yang sesuai dengan kebijakan dan tatacara penyelenggaraan Menampung dan menyelesaikan keluhan masyarakat yang terkait dengan masalah biaya Menyempurnakan penyelenggaraan upaya kesehatan dengan memperhatikan keluhan biaya dari masyarakat. (3) Pemantauan Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan secara berkala. Kegiatan pemantauan mencangkup hal hal sebagai berikut : a. Melakukan telaahan penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai yang dibedakan atas 2 hal :

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 17

1) Telaahan internal yakni telaahan bulanan terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai oleh puskesmas, dibandingkan dengan rencana dan standar pelayanan. Data yang dipergunakan diambil dari Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) yang berlaku. Pengertian simpus adalah suatu tatanan yang menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan manajemen puskesmas dalam mencapai sasaran kegiatannya. Sumber informasi : SP2TP terdiri dari : Catatan : kartu individu, rekam kesehatan keluarga dan buku register Laporan : bulanan, tahunan dan KLB

Survey lapangan Laporan lintas sektor Laporan sarana kesehatan swasta

Kesimpulan dirumuskan dalam 2 bentuk. Pertama, kinerja puskesmas yang terdiri dari cakupan (coverage), mutu (quality) dan biaya (cost) kegiatan puskesmas. Kedua, masalah dan hambatan yang ditemukan pada waktu penyelenggaraan kegiatan puskesmas. Telaahan bulanan ini dilakukan dalam Lokakarya Mini Bulanan Puskesmas. Pengertian Lokakarya Mini Bulanan adalah pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di puskesmas yang dihadiri oleh seluruh staf di puskesmas, Puskesmas Pembantu dan bidan di desa serta dipimpin oelh kepala puskesmas. Tahapan pelaksanaannya : 1. Lokakarya Mini Pertama a. Masukan Penggalangan tim dalam bentuk dinamika kelompok tentang peran tanggung jawab staf dan kewenangan puskesmas Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru Informasi tentang tatacara penyusunan POA Puskesmas

b. Proses Investarisasi kegiatan puskesmas termasuk kegiatan lapangan/daerah binaan Analisis beban kerja tiap petugas Pembagian tugas baru termasuk pembagian tanggung jawab daerah binaan
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 18

Penyusunan POA Puskesmas tahunan c. Keluaran POA Puskesmas tahunan Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu) 2. Lokakarya Mini bulanan a. Masukan Laporan hasil kegiatan bulan lalu Informasi tentang hasil rapat dinas kab/kota Informasi tentang hasil rapat tingkat kecamatan Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru b. Proses Analisis hambatan dan masalah, antara lain dengan mempergunakan PWS Analisis sebab masalah, khusus untuk mutu dikaitkan dengan kepatuhan terhadap standar pelayanan Merumuskan alternatif pemecahan masalah c. Keluaran Rencana kerja bulan yang baru 2) Telaahan eksternal yakni telaahan triwulan terhadap hasil yang dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya serta sektor lain terkait yang ada di wilayah kerja puskesmas. Telaahan triwulan ini dilakukan dalam Lokakarya Mini Triwulan Puskesmas secara lintas sektor. Pengertian Lokakarya Mini Tribulanan adalah pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali di puskesmas yang dihadiri oleh instasi lintas sektor tingkat kecamatan, Badan penantun Puskesmas (BPP), staf puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh camat. Tahapan pelaksanaannya : 1. Lokakarya Mini Tribulanan Pertama a. Masukan Penggalangan tim yang dilakukan melalui dinamika kelompok Informasi tentang program lintas sektor Informasi tentang program kesehatan
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 19

Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru b. Proses Inventarisasi peran bantu masing-masing sektor Analisis masalah peran bantu dari masing-masing sektor Pembagian peran masing-masing sektor c. Keluaran Kesepakatan tertulis sektor terkait dalam mendukung program kesehatan termasuk program pemberdayaan masyarakat 2. Lokakarya Mini Tribulanan Rutin a. Masukan Laporan kegiatan pelaksanaan program kesehatan dan dukungan sektor terkait Inventarisasi masalah/hambatan dari masing-masing sektor dalam pelaksanaan program kesehatan Pemberian informasi baru b. Proses Analisis hambatan dan masalah pelaksanaan program kesehatan Analisis hambatan dan masalah dukungan dari masing-masing sektor Merumuskan cara pemecahan masalah c. Keluaran Rencana kerja tribulan yang baru Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu) d. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian kinerja puskesmas serta masalah dan hambatan yang ditemukan dari hasil telaahan bulanan dan triwulan. (4) Penilaian Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran. Kegiatan yang dilakukan mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. Sumber data yang dipergunakan pada penilaian dibedakan atas dua. Pertama, sumber data primer yakni yang berasal dari SIMPUS dan berbagai sumber data lain yang terkait, yang dikumpulkan secara
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 20

khusus pada akhir tahun. Kedua, sumber data sekunder yakni data dari hasil pemantauan bulanan dan triwulanan. b. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian serta masalah dan hambatan yang ditemukan untuk rencana tahun berikutnya. 3. Pengawasan dan pertanggungjawaban Pengawasan dan pertanggungjawaban adalah proses memperoleh kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan puskesmas terhadap rencana dan peraturan perundangundangan serta berbagai kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggaranya pengawasan dan pertanggungjawaban dilakukan kegiatan sebagai berikut : (1) Pengawasan Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung. Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan kabupaten/kota serta berbagai institusi pemerintah terkait. Pengawasan mencakup aspek administratif, keuangan dan teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya penyimpangan, baik terhadap rencana, standar, peraturan perundang-undangan maupun berbagai kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Pertanggungjawaban Pada setiap akhir tahun anggaran, Kepala Puskesmas harus membuat laporan

pertanggungjawaban tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan, serta perolehan dan penggunaan berbagai sumberdaya termasuk keuangan. Laporan tersebut disampaikan kepada Dinas kesehatan kabupaten/kota serta pihak-pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat melalui Badan Penyantun Puskesmas. Apabila terjadi penggantian Kepala puskesmas, maka Kepala Puskesmas yang lama diwajibkan membuat laporan pertanggungjawaban masa jabatannya.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) Adalah tatacara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan Puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok yang dilaporkan serta hasil yang dicapai oleh puskesmas. Dengan melakukan SP2TP sebaik-baiknya, akan didapat data dan informasi yang diperlukan untuk perencanaan, penggerak pelaksanaan, pemantauan, pengawasan, pengendalian dan penilaian penampilan puskesmas serta situasi kesehatan masyarakat umumnya. a. Tujuan Umum
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 21

Tersedianya data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan mutakhir secara periodik/teratur untuk pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui puskesmas di berbagai tingkat administrasi. b. Tujuan Khusus Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok puskesmas yang akurat, tepat waktu dan mutakhir secara teratur Terlaksananya pelaporan data tersebut secara teratur diberbagai jenjang administrasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Termanfaatkannya data tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan program kesehatan melalui puskesmas di berbagai tingkat administrasi. SP2TP dilakukan oleh semua puskesmas (termasuk puskesmas dengan perawatan, puskesmas pembantu dan puskesmas keliling). Pencatatan dan pelaporan mencangkup : Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas Data ketenagaan di puskesmas Data sarana yang dimiliki puskesmas Data kegiatan pokok puskesmas yang dilakukan baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas. Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan, tribulanan, semester dan tahunan) dengan menggunakan formulir yang baku. Pelaksanaan SP2TP terdri dari 3 kegiatan : 1. Pencatatan dengan menggunakan format Pencatatan dilakukan dalam gedung puskesmas/puskesmas pembantu yaitu mengisi : Family Folder (kartu individu dan kartu tanda pengenal keluarga) Buku register untuk: Rawat jalan/rawat inap Penimbangan Kohort ibu Kohort anak Persalinan Laboraturium Pengamatan penyakit menular Imunisasi P.K.M

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 22

Kartu indeks penyakit (kelompok penyakit) yang disertai distribusi jenis kelamin, golongan, umur dan desa. Kartu Perusahaan Kartu Murid Sensus harian (penyakit dan kegiatan puskesmas) untuk mempermudah pembuatan laporan. 2. Pengiriman laporan dengan menggunakan format secara periodik Jenis dan periode laporan sebagai berikut : Bulanan Data kesakitan (format LB.1) Data kematian (format LB.2) Data operasional (format LB.3) Gizi, imunisasi dan KIA Data manejemen obat (format LB.4)

Triwulan meliputi data kegiatan puskesmas (format LT) Tahunan Umum, fasilitas (format LSD.1) Sarana (format LSD.2) Tenagan (format LSD.3)

3. Pengolahan analisis dan pemanfaatan data Ruang lingkup kegiatan pengolahan dan analisa data meliputi : Mengkompilasi data dari puskesmas pembantu, kegiatan lapangan termasuk posyandu dan kegiatan dalam gedung puskesmas. Mentabulasi data upaya kesehatan yang diberikan kepada masyarakat, yang dibedakan atas masyarakat dalam wilayah dan luar wilayah puskesmas. Menyusun Kartu Index Penyakit Menyusun sensus harian untuk mengolah data kesakitan. Membuat penyajian dalam bentuk narasi, table dan grafik sesuai kebutuhan menurut waktu dan lokasi. Melakukan beberapa analisa untuk kebutuhan pemantauan, intervensi serta perencanaan dimasa mendatang. Membuat peta wilayah puskesmas termasuk sarana kesehatan. Pada hakekatnya data dari SP2TP mempunyai peran ganda karena :

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 23

Data tersebut dilaporkan dari puskesmas untuk kebutuhan administrasi di atasnya dalam rangka pembinaan, perncanaan serta penetapan kebijaksanaan. Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh puskesmas sendiri dalam rangka peningkatan upaya kesehatan puskesmas, melalui perencanaan (mikroplaning), penggerakan pelaksanaan (mini lokakarya) dan pengawasan pengendalian serta penilaian.

Analisa Keadaan dan Masalah 1. Analisa Derajat Kesehatan Analisa ini akan menjelaskan masalah kesehatan yang dihadapi, dimana akan tergambarkan ukuran-ukuran derajad kesehatan secara kwantitatif, penyebaran masalah tersebut menurut kelompuk umur, tempat dan waktu. Dengan kata lain, pendekatan analisa derajat kesehatan mempergunakan pendekatan epidemiologis. 2. Analisa Aspek kependudukan Analisa ini akan menghasilkan ukuran-ukuran demografis dalam wilayah tertentu. Beberapa ukuran yang penting adalah : jumlah penduduk, penyebaran berdasarkan kelompok umur dan wilayah serta waktu, pertumbuhan penduduk, kelahiran, kematian, mobilitas penduduk dan lain sebagainya. Angka-angka ini sangat berguna untuk dipergunakan sebagai denominator dari angka derajat kesehatan dan luaran program. 3. Analisa Upaya Pelayanan Kesehatan Analisa ini akan menghasilkan data atau informasi mengenai masukan, proses, luaran atau kalau mungkin dampak pelayanan/upaya kesehatan yang dapat berbentuk upaya promotif, preventif, kuratif atau rehabilitative. 4. Analisa Perilaku Analisa ini memberikan gambaran tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan dan upaya kesehatan. 5. Analisa Lingkungan Analisa lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan biologis, social budaya serta ekonomi. Lingkungan fisik misalnya : sumber/sarana air bersih, perumahan, limbah rumah tangga atau industri, sarana komunikasi, transportasi dan lain sebagainya. Lingkungan biologis meisalnya : gambaran vector penyakit yang ada di wilayah tersebut. Lingkungan social budaya menggambarkan derajat interaksi social dalam masyarakat, misalnya pendidikan, system social yang ada (gotong-royong) dan lain sebagainya.
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 24

Lingkungan ekonomi misalnya : mata pencaharian, pendapatan, pengangguran dan lain sebagainya.

Evaluasi Dengan Pendekatan Sistem a. Pengertian Secara umum yang diamksudkan dengan penilaian disini ialah melakukan penilaian yang dapat diterapkan pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan pada tahap akhir program untuk melihat apakah program yang direncanakan telah merupakan program yang tepat, dilaksanakan sesuai dengan rencana serta apakah tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai atau tidak. The American Public Health Association merumuskan penilaian sebagai suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan yang dipoeroleh dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuannya. Oleh Riecken disebutkan penilaian adalah pengukuran terhadap akibat yang timbul dari dilaksanakannya suatu program untuk mencapai tujuannya, baik akibat yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. Penilaian dapat dibedakan atas tiga macam yakni : 1. Formative Evaluation Penilaian yang dilakukan pada tahap awal yakni sebelum program tersebut dilaksanakan. Jadi penilaian yang dialkukan disini termasuk bagian dari pekerjhann perencanaan. 2. Promotive Evaluation Penilaian yang dilakukan pada saat program tersebut dilaksanakan. Tujuan ialah untuk melihat apakah program berjalan sesuai dengan rencana atau tidak. Jika tidak sesuai atau jika terjadi penyimpangan, maka tentu saja diperlukan penyempurnaan-penyempurnaan sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. 3. Summative Evaluation Penilaian yang dilakukan pada akhir program. Tujuannya ialah untuk melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai atau tidak. Dengan penilaian yang seperti ini, mudah dipahami bahwa dalam ilmu administrasi apa yang disebutkan dengan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. b. Ruang Lingkup dan Ukuran Penilaian Ruang lingkup penilaian serta ukuran penilaian dari hasil yang dicapai banyak macamnya. Secara umum penilaian dapat dilakukan terhadap tiga hal yang bersifat pokok yakni :
PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan Page 25

1. Terhadap pross pelaksanaan program, yakni mengukur apakah program tersebut berjalan sesuai dengan rencana atau tidak. Hal yang sering diamati pada penilaian proses adalah waktu pelaksanaannya, kegiatan atau aktivitas yang dilakukan serta sumber yang dipergunakan. 2. Terhadap hasil program (out come/out put) yakni melihat apakah tujuan tercapai atau tidak. 3. Terhadap pengaruh yang ditimbulkan oleh hasil yang dicapai (dampak) yakni melihat sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap status kesehatan ataupun masalah kesehatan yang terdapat. Pembagian lain dari ruang lingkup dan ukuran penilaian ialah dari Blum, yang membedakan penilaian atas 6 macam yakni : 1. Yang menyangkut aktivitas yang dilaksanakan oleh suatu program kesehatan. Pertanyakan yang ingin dicari jawabannya adalah : Apakah program tersebut terlaksana atau tidak? 2. Yang menyangkut terpenuhi atau tidaknya standart ataupun kriteria yang telah ditetapkan dengan dilaksanakannya program tersebut. Pertanyaan pokoknya ialah : Apakah aktivitas tersebut berjalan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan? 3. Yang menyangkut efisiensi dari program, jadi membahas biaya yang dipakai untuk melaksanakan program tersebut. 4. Yang menyangkut efektivitas dari program, yakni apakah program tersebut dapat memenuhi kehendak ataupun tujuan yang telah ditetapkan. 5. Yang menyangkut validitas hasil yang diperoleh, jadi apakah hasil yang didapatkan telah dapat memenuhi kehendak ataupun harapan untuk apa program tersebut dilaksanakan dan apakah dengan telah dicapainya tujuan program telah dapat menyelesaikan masalah yang diatasi. 6. Yang menyangkut keseluruhan system yang dipakai untuk melaksanakan program tersebut. c. Cara melakukan penilaian Cara melakukan penilaian banyak macamnya, tergantung dari apa yang akan dinilai dan ruang lingkup atau tingkat penilaian apa yang ingin dikerjakan. Untuk mengukur efisiensi program yakni yang menyangkut pembiayaan yang dilaksanakan, maka sering dilakukan analisa khusus yang disebut cost effectiveness analysis, yakni melakukan analisa program dari suatu pembiayaan dan kesimpulan ditarik dengan membandingkannya terhadap hasil analisa program lain yang sejenis.dalam kehidupan sehari-hari cost effectiveness analysis sering dikacaukan dengan cost benefit analysis. Perbedaannya ialah pada cost effectiveness analysis yang dipentingkan tidak hanya keuntungan (benefit) tetapi juga efektivitasnya.

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 26

Penterapannya dalm bidang kesehatan tidaklah semudah yang diperkirakan, karena ukuran keuntungan yang efektif dalam bidang kesehatan sering tidak jelas. Dalam melakukan penilaian model ini, maka beberapa patokan yang harus diikuti yakni : 1. Mula-mula dikumpulkan segala data dasar yang diperkirakan berhubungan dengan program yang dilaksanakan. 2. Uraikan dengan lengkap program yang akan dilaksanakan tersebut dalam bentuk kegiatan ataupun aktivitas dan usaha yang terperinci. 3. Ubahlah data yang tersedia atau kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk rupiah, yang dilakukan untuk tahap yang berbeda atau untuk beberapa macam program yang ada. 4. Bandingkan hasil perhintungan antara tahap-tahap ataupun macam program yang beda tersebut dan lanjutkan dengan menarik kesimpulan. d. Pengawasan Telah disebutkan bahwa penilaian (evaluation) erat hubungannya dengan pengawasan (controlling). Dalam banyak buku administrasi dan managemen, malah disebutkan penilaian adalah sebagian dari pengawasan. Penilaian adalah pengawasan yang dilakukan dengan mengadakan perhitungan terhadap keseluruhan penyelenggaraan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan pengawasan ialah melakukan pengukuran dan sekaligus koreksi setiap penampilan karyawan yang diperlihatkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana.

Penutup
Demikianlah telah kita ketahui bersama tentang managemen system administrasi kesehatan melalui program-program puskesmas yang telah direncanakan dan ditetapkan. Dalam tiap program yang ada di puskesmas, baik itu program wajib maupun program pengembangan, diperlukan suatu sistem yang mengatur mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerak pelaksanaan hingga tahapan penilaian. Bahkan hingga sampai pada pencatatan dan pelaporan dari tiap program yang telah direncanakan. Dari tiap program yang telah dilakukan, perlu kita evaluasi kembali untuk mengetahui apakah pelaksanaan dari program sudah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan atau tidak.

PBL Blok 26-Administrasi Kesehatan

Page 27