Anda di halaman 1dari 21

Bab I Pendahuluan

LATAR BELAKANG Seperti yang kita ketahui, mahasiswa kedokteran tentunya harus mengetahui prosesproses yang ada di dalam tubuh kita secara fisiologis, patologis, dan tentu saja terapi atau obat yang akan digunakan untuk menyembuhkan keadaan patologis tersebut. Masalah yang sering dijumpai oleh mahasiswa kedokteran lainya adalah tentang penguasaan patofisiologi dan farmakologi yang biasanya berupa hafalan yang memerlukan daya ingat yang bagus. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai beberapa bab terutama tentang Penyakit Gagal ginjal akut. Teori-teori ini merupakan beberapa materi-materi yang penting untuk dimengerti agar lebih mudah memahami bab-bab berikutnya. Bahan-bahan di dalamnya

diperoleh dari proses tutorial yang telah kelompok kami buat dan berisi materi-materi yang telah kami bahas bersama.

RUMUSAN MASALAH 1.Mengapa pasien mengalami mual muntah mencret selama 10 hari ? 2.Mengapa didapatkan gfr 60ml/menit ? 3.Mengapa didapatkan urema ? 4.Mengapa didapatkan tanda2 syok ? 5.Mengapa pasien masih tampak sesak dan urine belum keluar dalam kasus ini ? 6.Mengapa bisa terjadi hiperkalemia ? 7.Mengapa bisa terjadi hiponatremia ? 8.Mengapa didapatkan bun 30mg/dl ? 9.Bagaimana nilai normal urema, kreatinin,kreatinin klierens TUJUAN PENULISAN
1

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : Sebagai sumber informasi untuk mahasiswa Agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman khususnya bagi mahasiswa S1 kedokteran mengenai Penyakit Gagal Ginjal Akut

MANFAAT Penulisan makalah ini mempunyai manfaat yaitu agar pembaca bisa lebih mengerti mengenai Gagal Ginjal Akut terutama untuk mahasiswa kedokteran.

BAB II SEVEN JUMP


Skenario MUNTAH MENCRET 3 HARI Doni mahasiswa fk uniba sedang menjalani kepanitraan klinik dipuskesmas Batam kota .pagi ini Doni mendapatkan seorang pasien laki-laki,usia 62 tahun.dari aloanamnesis diketahui pasien sudah 3 hari mencret dan muntah-muntah kurang lebih 10 kali sehari.dari pemeriksaan fisik doni mendapatkan keadaan umum lemah ,TD;70/50 mmhg,nadi 120x/ menit ,nafas 30x/menit.cepat dan dalam akral dingin.Doni segera mengguyur dengan cairan laktat ringer memberi oksigen dan melaporkan kedokter puskesmas, setelah 2 jam syok teratasi dengan TD:120/80 mmHG ,namun pasien masih tampak sesak dan urine masih belum ada.dokter akhirnya merujuk pasien keRSUD kota Batam,karena kalium meningkat.hiponatremia,kreatinin 3mg/dl.kadar BUN (blood urea nitrogen)kreatinin klierens 50 ml/menit.bagaimana anda menjelaskan apa yg terjadi pada pasien tersebut ? Kata sulit : -hiperkalemia -kreatinin klierens -hiponatremia -GFR -BUN (blood urea nitrogen) Kata kunci : 1.Seorang pasien laki-laki usia 62 tahun 2.Sudah 3 hari mencret dan muntah kurang lebih 10 kali sehari

3.Pemeriksaan fisik didapatkan : -KU : lemah -TD :70/50 mmHg -nadi : 120x/ menit -nafas :30x/menit -akral dingin 4.Doni segera mengguyur cairan Ringer laktat ,memberi oksigen 5.Setelah 2 jam syok teratasi TD:120/80 mmHg, 6.Pasien masih tampak sesak,urine belum ada. 7.Dokter segera merujuk pasien keRSUD. Hasil pemeriksaan diRS didapatkan hasil GFR :60/ml,urema ,kadar kalium meningkat,hiponatremia, kreatinin 3mg/dl.kadar BUN

30mg/dl.kreatin klierens :50ml/menit. Kunci permasalahan : Seorang laki-laki berusia 62 tahun mengalami mual muntah mencret kurang lebih 10x sehari. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan :ku :lemah,hipotensi,takikardi cepat dan dalam ,akral dingin Pertanyaan : 1.Mengapa pasien mengalami mual muntah mencret selama 10 hari ? 2.Mengapa didapatkan gfr 60ml/menit ? 3.Mengapa didapatkan urema ? 4.Mengapa didapatkan tanda2 syok ? 5.Mengapa pasien masih tampak sesak dan urine belum keluar dalam kasus ini ? 6.Mengapa bisa terjadi hiperkalemia ?
4

7.Mengapa bisa terjadi hiponatremia ? 8.Mengapa didapatkan bun 30mg/dl ? 9.Bagaimana nilai normal urema, kreatinin,kreatinin klierens ? 10.Bagaimana proses syok bisa teratasi ? 11.Bagaimana pengaruh usia bisa mempengaruhi pada kasus ? Tujuan umum : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada fungsi ginjal Tujuan khusus : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang : 1.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Fisiologi keseimbangan cairan dan elektrolit 2Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Faal ginjal 3Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Epidemiologi gagal ginjal akut 4Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang etiologi gagal ginjal akut 5.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Patomekanisme gagal ginjal akut 6.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Manisfestasi klinis gagal ginjal akut 7Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Penegakan diagnosis gagal ginjal akut 8.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Penatalaksanaan gagal ginjal akut 9Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Pencegahan gagal ginjal akut 10Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Komplikasi gagal ginjal akut 11.Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Prognosis gagal ginjal akut
5

Peta konsep

Fisiologi :

Larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikel-partikel bermuatan listrik positif & negative yang disebut ion. Larutan elektrolit mengandung partikel-partikel yang bermuatan (kation & anion). Kadar normal

Ion

Normal (serum)

Na

135 mEq/L

140

K Cl

3,5 - 5,0 mEq/L 95 108

mEq/L Ca 8,5 10 mg/dl

Natrium (Na) Di dalam produk pangan atau di dalam tubuh, natrium biasanya berada dalam bentuk garam seperti natrium klorida (NaCl). Di dalam molekul ini, natrium berada dalam bentuk ion sebagai Na . Diperkirakan hampir 100 gram dari ion natrium (Na ) atau ekivalen dengan 250 gr NaCl terkandung di dalam tubuh manusia. Garam natrium merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh dengan minimum kebutuhan untuk orang dewasa berkisar antara 1.3-1.6 gr/hari (ekivalen dengan 3.3-4.0 gr NaCl/hari). Setiap kelebihan natrium yang terjadi di dalam tubuh dapat dikeluarkan melalui urin & keringat. Hampir semua natrium yang terdapat di dalam tubuh akan tersimpan di dalam soft body tissue dan cairan tubuh. Ion natrium (Na+) merupakan kation utama di dalam cairan ekstrasellular (ECF) dengan konsentrasi berkisar antara 135-145 mmol/L. Ion natrium juga akan berada pada cairan intrasellular (ICF) namun dengan konsentrasi yang lebih kecil yaitu 3 mmol/L. Sebagai kation utama dalam cairan ekstrasellular, natrium akan berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh, menjaga aktivitas saraf , kontraksi otot dan juga akan berperan dalam proses absorpsi glukosa. Pada keadaan normal, natrium (Na ) bersama dengan
7

pasangan (terutama klorida, Cl ) akan memberikan kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif osmolalitas di dalam cairan ekstrasellular.

2. Kalium (K)

Kalium merupakan ion bermuatan positif (kation) utama yang terdapat di dalam cairan intrasellular (ICF) dengan konsentrasi 150 mmol/L. Sekitar 90% dari total kalium tubuh akan berada di dalam kompartemen ini. Sekitar 0.4% dari total kalium tubuh akan terdistribusi ke dalam ruangan vascularyang terdapat pada cairan ekstraselular dengan konsentrasi antara 3.5-5.0 mmol /L. Konsentrasi total kalium di dalam tubuh diperkirakan sebanyak 2g/kg berat badan. Namun jumlah ini dapat bervariasi bergantung terhadap beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur dan massa otot (muscle mass). Kebutuhan minimum kalium diperkirakan sebesar 782 mg/hari.Di dalam tubuh kalium akan mempunyai fungsi dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan keseimbangan asam basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca ) dan natrium (Na ), kalium akan berperan dalam transmisi saraf, pengaturan enzim dan kontraksi otot. Hampir sama dengan natrium, kalium juga merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh. Setiap kelebihan kalium yang terdapat di dalam tubuh akan dikeluarkan melalui urin serta keringat

3. Klorida (Cl)

Elektrolit utama yang berada di dalam cairan ekstraselular (ECF) adalah elektrolit bermuatan negatif yaitu klorida (Cl ). Jumlah ion klorida (Cl ) yang terdapat di dalam jaringan tubuh diperkirakan sebanyak 1.1 g/ Kg berat badan dengan konsentrasi antara 98-106 mmol / L. Konsentrasi ion klorida tertinggi terdapat pada cairan serebrospinal seperti otak atau sumsum tulang belakang, lambung dan juga pankreas. Sebagai anion utama dalam cairan ekstraselullar, ion klorida juga akan berperan dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit. Selain itu, ion klorida juga mempunyai fungsi fisiologis penting yaitu sebagai pengatur derajat keasaman lambung dan ikut berperan dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Bersama dengan ion natrium (Na ), ion klorida juga merupakan ion dengan konsentrasi terbesar yang keluar melalui keringat.
8

Fungsi Fungsi dari larutan elektrolit adalah:

1) Menjaga tekanan osmotik tubuh. 2) Mengatur pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (bodys fluid compartement).

3) Menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi.

4) Ikut berperan dalam setiap proses metabolisme.

Fungsi berdasarkan kandungan ion-ion elektrolit:

a. Natrium

Fungsinya sebagai penentu utama osmolaritas dalam darah dan pengaturan volume ekstra sel. b. Kalium Fungsinya mempertahankan membrane potensial elektrik dalam tubuh. c. Klorida Fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air pada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam cairan ekstrasel. d. Kalsium Fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya berada di tulang dan gigi. Apabila diperlukan, kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah. e. Magnesium Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh. Fungsi Ginjal Fungsi ginjal secara keseluruhan di bagi dalam dua golongan yaitu :
9

Fungsi ekskresi a. Mengekskresi sisa metabolisme protein, yaitu ureum, kalium, fosfat, sulfat anorganik, dan asam urat. b. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. c. Menjaga keseimbangan asam dan basa. Fungsi Endokrin a. Partisipasi dalam eritropoesis. Menghasilkan eritropoetin yang berperan dalam pembentukan sel darah merah. b. Menghasilan renin yang berperan penting dalam pengaturan tekanan darah. c. Merubah vitamin D menjadi metabolit yang aktif yang membantu penyerapan kalsium. d. Memproduksi hormon prostaglandin, yang mempengaruhi pengaturan garam dan air serta mempengaruhi tekanan vaskuler.

Epidemiologi GGA Distribusi GGA a. Distribusi Menurut Orang GGA dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umur ataupun ras. Menurut penelitian Bates dkk (2000), Boston, Amerika serikat, GGA paling banyak diderita oleh laki-laki (71,7%), sedangkan perempuan ada sebesar 28,3%. Berdasarkan ras jumlah penderita yang berkulit putih adalah sebesar 82,5%, dan rata-rata terjadi pada penderita yang berumur 45 tahun.18 Menurut penelitian Orfeas Liangos dkk (2001), dari 558.032 penderita GGA, 51,8% adalah laki-laki, sedangkan perempuan sebesar 48,2%. Berdasarkan ras, jumlah penderita yang berkulit putih ada sebesar 62,3%, kulit hitam 14,4% dan yang lainnya berjumlah 23,4%. Berdasarkan umur, penderita GGA paling banyak diderita oleh kelompok umur 60-82 tahun.

b. Distribusi Menurut Tempat Menurut penelitian Atef dkk (1990), dari dua propinsi yang ada di Iran dengan
10

jumlah populasi sebanyak 2,3 juta orang, terdapat kasus GGA yaitu sebanyak 30 orang dimana 12 diantaranya meninggal, dengan angka insidensi 13 kasus/1.000.000 penduduk (CFR = 40%).

c. Distribusi Menurut Waktu Menurut penelitian Cengiz Utaz, pada tahun 1991 - 1997 di salah satu rumah sakit di Kayseri, Turkey, ditemukan penderita GGA yaitu berjumlah 323 orang penderita. Menurut Jay L. Xue dkk pada tahun 1992-2001 di salah satu rumah sakit yang ada di Amerika Serikat ditemukan 255.228 orang yang menderita penyakit GGA. Determinan GGA GGA adalah suatu penyakit tidak menular yang merupakan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) laju filtrasi glomerulus (LFG), disertai sisa metabolisme (ureum dan kreatinin). GGA merupakan suatu sindrom klinis oleh karena dapat disebabkan oleh berbagai keadaan dengan patofisiologi yang berbeda-beda. a. Host 1. Umur dan jenis kelamin Usia penderita GGA berkisar antara 40-50 tahun, tetapi hampir semua usia dapat terkena penyakit ini.27 Menurut penelitian D.W. Bates penyakit GGA paling banyak pada penderita yang berumur 45 tahun.18 Menurut penelitian Katherine L. OBrien, Haiti, ditemukan 109 orang penderita GGA yang berumur dibawah 18 tahun.Berdasarkan data penyakit ginjal anak di Indonesia yang dikumpulkan dari 7 pusat pendidikan Dokter Spesialis Anak yaitu Universitas Sumatera Utara, Universitas Indonesia , Universitas Padjajaran , Universitas Diponegoro , Universitas Hasanuddin, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana ditemukan sebanyak 107 orang anak yang menderita penyakit GGA. Kejadian pada laki-laki dan perempuan hampir sama. Menurut penelitian Orfeas Liangos dkk (2001), dari 558.032 penderita GGA, 51,8% adalah laki-laki, sedangkan perempuan sebesar 48,2%.
11

2. Pekerjaan Orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan bahan-bahan kimia akan dapat mempengaruhi kesehatan ginjal. Bahan-bahan kimia yang berbahaya jika terpapar dan masuk kedalam tubuh dapat menyebabkan penyakit ginjal. Misalnya pada pekerja di pabrik atau industri.

3. Perilaku minum Air merupakan cairan yang sangat penting di dalam tubuh. Lebih kurang 68% berat tubuh terdiri dari air. Minum air putih dalam jumlah cukup setiap hari adalah cara perawatan tubuh terbaik. Air ini sebagai simpanan cairan dalam tubuh. Sebab bila tubuh tidak menerima air dalam jumlah yang cukup tubuh akan mengalami dehidrasi. Di mulai dengan simpanan air tubuh yang mengalami penurunan yang mengakibatkan gangguan kesehatan. Organ-organ tubuh yang vital juga sangat peka terhadap kekurangan air, salah satunya adalah ginjal. Ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik bila tidak cukup air. Pada proses penyaringan zat-zat racun, ginjal melakukannya lebih dari 15 kali setiap jam, hal ini membutuhkan jumlah air yang banyak sebelum diedarkan ke dalam darah. Bila tidak cukup cairan atau kurang minum, ginjal tidak dapat bekerja dengan sempurna maka bahan-bahan yang beredar dalam tubuh tidak dapat dikeluarkan dengan baik sehingga dapat menimbulkan keracunan darah dan menyebabkan penyakit ginjal.

4. Riwayat penyakit sebelumnya. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan penyakit GGA, yaitu : a. Penyebab penyakit GGA Prarenal, yaitu : 1. Hipovolemia, disebabkan oleh : a. Kehilangan darah/ plasma : perdarahan , luka bakar. b. Kehilangan cairan melalui gastrointestinal, kulit, ginjal (diuretik, penyakit ginjal lainnya), pernafasan, pembedahan. c. Redistribusi cairan tubuh : pankreatitis, peritonitis, edema, asites.
12

2. Vasodilatasi sistemik : a. Sepsis. b. Sirosis hati. c. Anestesia/ blokade ganglion. d. Reaksi anafilaksis. e. Vasodilatasi oleh obat. 3. Penurunan curah jantung/kegagalan pompa jantung : a. Renjatan kardiogenik, infark jantung. b. Gagal jantung kongestif (disfungsi miokard, katub jantung). c. Tamponade jantung. d. Disritmia. e. Emboli paru.

b penyakit GGA renal, yaitu : 1. Kelainan glomerulus a. Glomerulonefritis akut Glomerulonefritis akut adalah salah satu jenis GGA renal yang biasanya disebabkan oleh kelainan reaksi imun yang merusak glomeruli. b. Penyakit kompleks autoimun c. Hipertensi maligna 2. Kelainan tubulus a. Nekrosis Tubular Akut (NTA) akibat iskemia Tipe iskemia merupakan kelanjutan dari GGA prarenal yang tidak teratasi.7 Iskemia ginjal berat dapat diakibatkan oleh syok sirkulasi atau gangguan lain apapun yang sangat menurunkan suplai darah ke ginjal. Jika iskemia berlangsung cukup berat sampai menyebabkan penurunan yang serius terhadap pengangkutan zat makanan dan oksigen ke sel-sel epitel tubulus ginjal dan jika gangguan ini terus berlanjut, kerusakan atau penghancuran sel-sel epitel dapat terjadi. Jika hal ini terjadi, sel-sel tubulus hancur terlepas dan menempel pada banyak nefron, sehingga tidak terdapat pengeluaran urin dari nefron yang tersumbat, nefron yang terpengaruh sering gagal mengekskresi urin bahkan ketika aliran darah ginjal kembali pulih normal, selama
13

tubulus masih baik. 2.5. Klasifikasi GGA Klasifikasi GGA dapat dibagi dalam tiga katagori utama, yaitu : 2.5.1. GGA Prarenal GGA Prarenal adalah terjadinya penurunan aliran darah ginjal (renal hypoperfusion) yang mengakibatkan penurunan tekanan filtrasi glomerulus dan kemudian diikuti oleh penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Keadaan ini umumnya ringan yang dengan cepat dapat reversibel apabila perfusi ginjal segera diperbaiki. Pada GGA prarenal aliran darah ginjal walaupun berkurang masih dapat memberikan oksigen dan substrat metabolik yang cukup kepada sel-sel tubulus. Apabila hipoperfusi ginjal tidak segera diperbaiki, akan mengakibatkan NTA. GGA prarenal merupakan kelainan fungsional, tanpa adanya kelainan histologik atau morfologi pada nefron.

GGA Renal GGA renal yaitu kelainan yang berasal dari dalam ginjal dan yang secara tibatiba menurunkan pengeluaran urin. Katagori GGA ini selanjutnya dapat dibagi menjadi : a. Keadaan yang mencederai kapiler glomerulus atau pembuluh darah kecil ginjal lainnya b. Keadaan yang merusak epitel tubulus ginjal, c. Keadaan yang menyebabkan kerusakan interstisium ginjal. Tubulus ginjal merupakan tempat utama penggunaan energi pada ginjal, yang mudah mengalami kerusakan bila terjadi iskemia atau oleh obat nefrotoksik, oleh

GGA Postrenal GGA postrenal adalah suatu keadaan dimana pembentukan urin cukup, namun alirannya dalam saluran kemih terhambat. Penyebab tersering adalah obstruksi. Obstruksi aliran urin ini akan mengakibatkan kegagalan filtrasi glomerulus dan transpor tubulus sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen, tergantung berat dan lamanya obstruksi.
14

MANISFESTASI KLINIS GGA Gejala klinis yang terjadi pada penderita GGA, yaitu : a. Penderita tampak sangat menderita dan letargi disertai mual, muntah, diare, pucat (anemia), dan hipertensi. b. Nokturia (buang air kecil di malam hari). c. Pembengkakan tungkai, kaki atau pergelangan kaki. Pembengkakan yang menyeluruh (karena terjadi penimbunan cairan). d. Berkurangnya rasa, terutama di tangan atau kaki. e. Tremor tangan. f. Kulit dari membran mukosa kering akibat dehidrasi. g. Nafas mungkin berbau urin (foto uremik), dan kadang-kadang dapat dijumpai adanya pneumonia uremik. h. Manisfestasi sistem saraf (lemah, sakit kepala, kedutan otot, dan kejang). i. Perubahan pengeluaran produksi urine (sedikit, dapat mengandung darah, berat jenis sedikit rendah, yaitu 1.010 gr/ml) j. Peningkatan konsentrasi serum urea (tetap), kadar kreatinin, dan laju endap darah (LED) tergantung katabolisme (pemecahan protein), perfusi renal, serta asupan protein, serum kreatinin meningkat pada kerusakan glomerulus. k. Pada kasus yang datang terlambat gejala komplikasi GGA ditemukan lebih menonjol yaitu gejala kelebihan cairan berupa gagal jantung kongestif, edema paru, perdarahan gastrointestinal berupa hematemesis, kejang-kejang dan kesadaran menurun sampai koma.

Pengegakan Diagnosis a. Keluhan Pokok Oliguri sampai anuri Mual-muntah Berak darah 15

b.

Tanda penting:

Sindroma uremia: - Kesadaran menurun sampai koma - Gastrointesnital: Mual- muntah, Stomatitis, Singultus/hiccup, Berak darah Kardiovaskuler : Hipertensi, Payah jantung, Overhidrasi, Perikarditis

Pernapasan : Asidosis (Kussmaul), Cheeyne-Stokes/stertoreus, Napas bau ureum, Pneumoni uremik c. d. Kulit/mukosa : Perdarahan, Dermatitis uremik, Anemi, Edema Pemeriksaan laboratorium Proteinuri/albuminuri Sedimen urine mengandung: Lekosit, , RBC, Silinder RBC/granuler Konsentrasi Na dalam urine tinggi (>20 mEq/l). Osmolaritas urine rendah (<400 mOsm/l). Rasio ureum urine/plasma kurang dari 10 Rasio ureum/kreatinin plasma kurang dari 10:1. Uji diuretic tidak member dieresis Pemeriksaan khusus Imunofluoresens: Pengendapan IgG,C3

Mikroskop electron : humps (pengendapan subepitelial) Sidikan technetium Tc99m Sidikan Iodohippurate Sodium 131 Teknik klirens isotop : kliens iothalamate

Komplikasi 1.Infeksi : abses luka kateter, pneumoni,isk 2.Pneumoni : edema paru,infksi, infark 3.Neurogi : confused,mual muntah ,hematemesis, melena
16

4.Kardiavaskuler :overload cairan,edema paru,hipertensi,aritmia 5.Hematologi : anemia, koagulasi 6.Endokrin : testosteron,plasma, LH,FSh menurun 7.Gagal ginjal kronik 8,Kehilangan darah diusus Penatalaksanaan : 1.Tatalaksana etiologi Resuitasi awal : -berikan penilaian ABC,berikan oksigen 100 persen,pasang akses vaskuler -berikan cairan pengganti sekitar 2 liter dan makrosip tetesan cepat( guyur ) -infus 300 ml dalam 3 -6 jam tahap : 2.Koreksi hiperkalemia dan koreksi asidosis metabolik 3.Asidosis metabolik Non medikamentosa : -Pembatasan asupan kalium dan protein pada makanan -asupan tinggi karbohidrat dan metabolisme protein -bedrest dengan posisi stengh duduk . Pencegahan Pencegahan Primer Pencegahan Primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk menghindari diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya GGA, antara lain : 13,14,31,33 a. Setiap orang harus memiliki gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan
17

dan olahraga teratur. b. Membiasakan meminum air dalam jumlah yang cukup merupakan hal yang harus dilakukan setiap orang sehingga faktor resiko untuk mengalami gangguan ginjal dapat dikurangi. c. Rehidrasi cairan elektrolit yang adekuat pada penderita-penderita gastroenteritis akut. d. Transfusi darah atau pemberian cairan yang adekuat selama pembedahan, dan pada trauma-trauma kecelakaan atau luka bakar. e. Mengusahakan hidrasi yang cukup pada penderita-penderita diabetes melitus yang akan dilakukan pemeriksaan dengan zat kontras radiografik. g. Hindari pemakaian obat-obat atau zat-zat yang bersifat nefrotoksik. Monitoring fungsi ginjal yang teliti pada saat pemakaian obat-obat yang diketahui nefrotoksik. h. Cegah hipotensi dalam jangka panjang. i. Penyebab hipoperfusi ginjal hendaknya dihindari dan bila sudah terjadi harus segera diperbaiki. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah langkah yang dilakukan untuk mendeteksi secara dini suatu penyakit. Pencegahan dimulai dengan mengidentifikasi pasien yang berisiko GGA. Mengatasi penyakit yang menjadi penyebab timbulnya penyakit GGA. Jika ditemukan pasien yang menderita penyakit yang dapat menimbulkan GGA seperti glomerulonefritis akut maka harus mendapat perhatian khusus dan harus segera diatasi.5 GGA prarenal jika tidak diatasi sampai sembuh akan memacu timbulnya GGA renal untuk itu jika sudah dipastikan bahwa penderita menderita GGA prarenal, maka sebaiknya harus segera diatasi sampai benar-benar sembuh, untuk mencegah kejadian yang lebih parah atau mencegah kecenderungan untuk terkena GGA renal.

Pencegahan Tersier Pencegahan tersier adalah langkah yang biasa dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat, kecacatan dan kematian. Pada kasus GGA
18

yang sangat parah timbul anuria lengkap. Pasien akan meninggal dalam waktu 8 sampai 14 hari. Maka untuk mencegah terjadinya kematian maka fungsi ginjal harus segera diperbaiki atau dapat digunakan ginjal buatan untuk membersihkan tubuh dari kelebihan air, elektrolit, dan produk buangan metabolisme yang bertahan dalam jumlah berlebihan. Hindari atau cegah terjadinya infeksi. Semua tindakan yang memberikan risiko infeksi harus dihindari dan pemeriksaan untuk menemukan adanya infeksi harus dilakukan sedini mungkin. Hal ini perlu diperhatikan karena infeksi merupakan komplikasi dan penyebab kematian paling sering pada gagal ginjal oligurik. Penyakit GGA jika segera diatasi kemungkinan sembuhnya besar, tetapi penderita yang sudah sembuh juga harus tetap memperhatikan kesehatannya dan memiliki gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan, olahraga teratur, dan tetap melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) setiap tahunnya, sehingga jika ditemukan kelainan pada ginjal dapat segera diketahui dan diobati.

Pengelolaan Terhadap GGA a. Pengaturan Diet Selama 48-72 jam pertama fase oligurik terjadi peningkatan urea darah akibat pemecahan jaringan yang hebat. Selama periode ini pemberian protein dari luar harus dihindarkan. Umumnya untuk mengurangi katabolisme, diet paling sedikit harus mengandung 100 gram karbohidrat per hari. Seratus gram glukosa dapat menekan katabolisme protein endogen sebanyak kira-kira 50%. Setelah 3-4 hari oligurik, kecepatan katabolisme jaringan berkurang dan pemberian protein dalam diet dapat segera dimulai. Dianjurkan pemberian 20-40 gram protein per hari yang mempunyai nilai biologis yang tinggi (mengandung asam amino esensial) seperti telur, susu dan daging. Pada saat ini pemberian kalori harus dinaikkan menjadi 2000-2500 kalori per hari, disertai dengan multivitamin. Batasi makanan yang mengandung kalium dan fosfat (pisang, jeruk dan kopi). Pemberian garam dibatasi yaitu, 0,5 gram per hari. b. Pengaturan kebutuhan cairan dan keseimbangan elektrolit 1. Air (H2O)
19

Pada GGA kehilangan air disebabkan oleh diuresis, komplikasi-komplikasi (diare, muntah). Produksi air endogen berasal dari pembakaran karbohidrat, lemak, dan protein yang banyak kira-kira 300-400 ml per hari. Kebutuhan cairan perhari adalah 400-500 ml ditambah pengeluaran selama 24 jam. 2. Natrium (Na) Selama fase oligurik asupan natrium harus dibatasi sampai 500 mg per 24 jam. Natrium yang banyak hilang akibat diare, atau muntah-muntah harus segera diganti. c. Dialisis Tindakan pengelolaan penderita GGA disamping secara konservatif, juga memerlukan dialisis, baik dialisis peritoneal maupun hemodialisis. Tindakan ini dilaksanakan atas indikasi-indikasi tertentu. Pemilihan tindakan dialisis peritonial atau hemodialisis didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan indivual penderita. d. Operasi Pengelolaan GGA postrenal adalah tindakan pembedahan untuk dapat menhilangkan obstruksinya. Kadang-kadang untuk dapat dilakukan operasi diperlukan persiapan tindakan dialisis terlebih dahulu. Prognosis ; Pada gagal ginjal akut berat yg membutuhkan dialisis mortalitas meningkat melebihi 50 persen.pada pasien ini memerlukan perbaikan kondisi yg benar .

20

Daftar Pustaka Guyton, C. Arthur and John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC -Dasar-dasar urologi Ed 2 Purwono Basuki

21