Anda di halaman 1dari 7

ECLAMPSIA Dasar pengelolaan eclampsia: 1. Terapi suportif untuk stabilisasi ibu 2. Pengelolaan airway, breathing, circulation 3.

Mengatasi dan mencegah kejang 4. Koreksi hipoksemia dan acidemia 5. Mengatasi dan mencegah penyulit (misalnya krisis hipertensi) 6. Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat Terapi medikamentosa 1. Rawat inap 2. Tirah baring kiri secara intermiten 3. Infus ringer laktat atau dektrose 5% 4. Anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang, dengan loading dose dan maintenance dose. 5. Anti hipertensi jam. Diberikan bila TD > 180/110 atau MAP > 126 Nifedipin 10-20 mg per oral, diulang setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 TD diturunkan bertahap:

Penurunan awal 25% dari tekanan sistolik Diturunkan hingga mencapai TD 160/105, MAP < 125

1. Diuretikum diberikan hanya atas indikasi edema paru, gagal jantung kongestif atau edema anasarka. 2. Diet: hindari protein dan kalori berlebih. Perawatan kejang 1. Tempatkan penderita di tempat tenang/ruang khusus 2. Tempat tidur harus lebar, dapat diubah menjadi posisi trandelenburg 3. Sisipkan spatula lidah antara lidah dan rahang atas 4. Fiksasi badan harus kendor agar saat kejang tidak terjadi trauma 5. Roda tempat tidur harus terkunci dengan baik Perawatan koma 1. Derajat koma diukur dengan Glasgow coma scale 2. Jaga jalan napas 3. Hindari dekubitus 4. Perhatikan nutrisi

Pengelolaan kehamilan Semua kehamilan eclampsia diterminasi tanpa memandang keadaan janin maupun usia kehamilan Kehamilan diterminasi setelah hemodinamika dan metabolisme ibu stabil Stabilisasi dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu keadaan berikut:

Pemberian obat kejang terakhir Kejang terakhir Pemberian obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar Cara persalinan dipilih sesuai keadaan saat itu

PENDAHULUAN Penyakit hipertensi dalam kehamilan cukup sering ditemukan, yaitu pada sebanyak 10,6% wanita hamil. preeclampsia terjadi pada primigravida sebanyak 5,8% primigravida dan 0,4% gravida dua. Eclampsia adalah komplikasi yang jarang namun serius dari preeclampsia serta merupakan penyulit 1 dari 2000 kehamilan di Eropa, dan antara 1:100 sampai 1:1700 kehamilan di Negara berkembang. Di Inggris penyakit hipertensi dalam kehamilan menyebabkan 18,6% kematian ibu, di mana eclampsia menyebabkan 10% kematian tersebut. Insidensi dari preclampsia dan eclampsia lebih tinggi di negara-negara berkembang, dengan angka kejadian preeclampsia tertinggi di Zimbabwe yaitu 7,1% dari seluruh kelahiran dan eclampsia di Colombia sebesar 0,81 % dari kelahiran. Tingginya insidensi di Negara dengan ekonomi lemah diperkirakan berasal dari kurangnya perawatan antenatal disertai keterlambatan pasien sampai di rumah sakit. Sejauh ini belum ada intervensi yang dilaporkan efektif untuk pencegahan dari preeclampsia. Dalam kapita selekta ini kami membahas penatalaksanaan preeclampsia dan eclampsia. Keberhasilan pengelolaan preeclampsia dan eclampsia bergantung pada ketepatan diagnosis, ketepatan dalam merujuk serta menangani pasien. Pengelolaan yang terlambat maupun tidak tepat dapat menyebabkan ibu hamil dan janin mengalami berbagai komplikasi termasuk kematian. TINJAUAN PUSTAKA KLASIFIKASI Berikut klasifikasi hipertensi dalam kehamilan berdasarkan Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di Indonesia. Hipertensi Gestasional: Desakan Darah 140/90 mmHg untuk pertama kalinya pada kehamilan, proteniuria (-) dan desakan darah kembali normal < 12 minggu pasca persalinan.

Preeclampsia ringan: Desakan Darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu , proteniuria 300mg/24jam atau dipstick 1+. Preeclampsia berat: Desakan Darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu, proteniuria 300mg/24jam atau dipstick 1+, dengan salah satu tanda preeclampsia berat. Eclampsia: Kejang pada preeclampsia disertai koma Hipertensi kronik dengan superimposed preeclapsia: Timbulnya proteinuria 300mg/24jam setelah kehamilan 20 minggu pada wanita hamil yang sudah mengalami hypertensi sebelumnya. Hipertensi kronik: Desakan Darah 140/90 mmHg, proteniuria-, sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20 minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. Sindroma HELLP: Preeclampsia-eclampsia dengan adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar dan trombositopenia (hemolisis, elevated liver enzyme, low platelet count). DIAGNOSIS Penegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis: 1. RPS: Nyeri kepala, gangguan visus, rasa panas dimuka, dyspnu, nyeri dada, mual muntah, kejang,berat badan bertambah dengan drastis. 2. RPD: hipertensi dalam kehamilan, penyulit pada pemakaian kantrasepsi hormonal, penyakit ginjal, infeksi saluran kencing. 3. RPK: riwayat ibu dan saudara perempuan dengan preeclampsia-eclampsia. 4. R. gaya hidup: keadaan lingkungan social, merokok, minum Pemeriksaan Fisik: desakan darah pulsasi perifer edema (paru) nyeri pada hepar keadaan rahim dan janinnya adanya klonus retinopati

Pemeriksaan penunjang

No Test Diagnostik 1 Hemoglobin dan hematokrit

Penjelasan Peningkatan Hb dan Ht berarti :

3 4

5 6 7

1. Adanya hemokonsentrasi yang mendukung diagnosis PE 2. Menggambarkan beratnya hipovolemia 3. Nilai ini akan menurun bila terjadi hemolisis Morfologi sel darah merah Untuk menentukan : adanya mikroangiopatik hemolitik pada apusan darah tepi anemia Morfologi abnormal eritrosit : schizocytosis dan spherocytosis Trombosit Trombositopenia menggambarkan PE berat Kreatinin serum Asam Urat Peningkatan manggambarkan : Beratnya hipovolemia serum Nitrogen Urea Darah Tanda menurunnya aliran darah ke ginjal (BUN) Oliguria Tanda PE berat Transaminase serum Peningkatan Transaminase serum menggambarkan PE berat dengan gangguan fungsi hepar Lactic Acid Dehidrogenase Menggambarkan adanya hemolisis (LDH) Albumin serum dan faktor Menggambarkan kebocoran endotel dan kemungkinan koagulasi koagulopati

Faktor yang meningkatkan risiko preeclampsia-eclampsia: Primigravida Primipaternernity Umur yang ekstrim Partner laki yang pernah menikah wanita yang kemudian hamil dan mengalami preeclampsia Pemaparan terbatas terhadab sperma Inseminasi donor dan donor oocyte Mola Hidatidosa Kehamilan multiple Infeksi saluran kencing pada kehamilan Hydrops fetalis Riwayat pernah preeclampsia Hipertensi kronik Penjakit ginjal Obesitas Diabetes gestational, DM tipe I Antiphospholipid antibodies dan huperhomocysteinemia Faktor yang menurunkan risiko preeclampsia-eclampsia: Sex oral Merokok

Definisi Preeclampsia adalah toksemia pada wanita hamil yang ditandai oleh adanya hipertensi, edema dan proteinuria. Eclampsia adalah konvulsi dan koma yang terjadi pada wanita hamil atau setelah melahirkan dengan disertai preeclampsia. Preeclampsia/eclampsia biasanya terjadi pada umur kehamilan 20 minggu atau masa nifas (segera setelah masa kelahiran). Gejala ini juga dapat ditemukan sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas. Predisposisi meningkat pada primigravida, umur yang ekstrem, kehamilan kembar, Komplikasi Komplikasi tergantung dari berat ringannya Preeclampsia/eclampsia. Yang paling sering ditemukan adalah oligouria yang bertanggung jawab atas berbagai komplikasi lainnya. Karena ini biasanya perlu dipasang kateter menetap (Foley kateter). Penyebab utama kematian pada Preeclampsia/eclampsia adalah penimbunan cairan di paru-paru akibat kegagalan jantung kiri. Sebab lainnya adalah pendarahan otak, terganggunya fungsi ginjal, dan masuknya isi lambung ke dalam saluran pernapasan. Pada pre dan eklamsia berat, perlu dirawat di rumah sakit. Biasanya akan dipikirkan untuk mengakhiri kehamilan karena harapan hidup janin tak besar dan gejala hilang segera setelah janin diangkat. Etiologi Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab gejala ini. Para ahli menduga penyebabnya adalah suatu substansi, disebut microparticles, dalam protein yang dilepaskan plasentai. Seth Guller (Yale School of Medicine) dalam percobaan yang dilakukannya barubaru ini menemukan adanya plasminogen activator inhibitor-1 (menyebabkan clotting pada permbuluh darah) dalam protein yang diambil dari plasenta penderita preeclampsia. Mereka juga menemukan adanya Flt-1 yang menghambat pertumbuhan pembuluh darah serta plasminogen activator inhibitor-2 dengan konsentrasi yang sangat tinggi (protein ini belum diketahui fungsinya). Dalam risetnya, Seth Guller baru mencoba mencari faktor-faktor spesifik dalam protein plasenta yang menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah ibu hamil.

Eklampsia ____________ Pengertian (1,2) __________ Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan neurologik) dan/atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia. Patofisiologi (4) Sama dengan pre eklampsia dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati, ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni terjadi nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. Gejala Klinis (4) _____________ - Kehamilan lebih 20 minggu atau persalinnan atau masa nifas - Tanda-tanda pre eklampsia (hipertensi, edema dan proteinuria) - Kejang-kejang dan/atau koma - Kadang-kadang disertai gangguan fungsi organ. Pemeriksaan dan diagnosis (4) 1. Berdasarkan gejala klinis di atas 2. Pemeriksaan laboratorium - Adanya protein dalam urin - Fungsi organ hepar, ginjal, dan jantung - Fungsi hematologi / hemostasis. Penatalaksanaan (1,2) _______________ Tujuan pengobatan : 1. Untuk menghentikan dan mencegah kejang. 2. Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya hipertensi krisis 3. Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin 4. Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin. Pengobatan Medisinal ____________________ Sama seperti pengobatan pre eklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram intravenous selama 2 menit minimal 20 menit setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan 1 kali saja. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital / thiopental 3-5 mg/kgBB/IV perlahan-lahan. Perawatan bersama : konsul bagian saraf, penyakit dalam / jantung, mata, anestesi dan anak. Perawatan pada serangan kejang : di kamar isolasi yang cukup terang / ICU Pengobatan Obstetrik (1,2) ____________________ 1. Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. 2. Bilamana diakhiri, sikap dasar : Kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi

(pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. Stabilisasi ibu dicapai dalam 48 jam setelah salah satu atau lebih keadaan dibawah : - Setelah pemberian obat anti kejang terakhir. - Setelah kejang terakhir - Setelah pemberian obat-obat antihipertensi terakhir - Penderita mulai sadar (responsif dan orientasi) Terminasi Kehamilan (4) ___________________ 1. Apabila pada pemeriksaan, syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan per vaginam dipenuhi maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal. 2. Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif, langsung dilakukan amniotomi lalu diikuti partograf. Bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar. 3. Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : - Penderita belum inpartu - Fase laten - Gawat janin Tindakan seksio sesar dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan atau kondisi ibu. Daftar Pustaka ______________ 1. Salgas Gestosis POGI. Panduan Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia. Ed. 1985. 2. POGI. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bag. 1. Cet. ke-2. Jakarta : Gaya baru. 1994. 1-8. 3. Fields DH. Gestationally Induced Hypertention. In : Barber HRK, Fields DH, Kaufman SA, eds. Quick Deference to Obgyn Procedure. Philadelphia : AB Lippincoti Company. 1990 : 166-173. 4. Abadi A, Sukaputra B. Waspodo D, Djuarsa E, Gumilar E, Uktolsea F, dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi RSUD Dr. Soetomo, 1994. Laboratorium / UPF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. 5. Handaya. Penanganan Pre Eklampsia Berat / Eklampsia. Dibacakan pada seminar dan lokakarya Penanganan Pre Eklampsia dan Eklampsia Berat. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Januari 1993. 6. Bhalla AK, Dhall 61, Dhall K. A Safer and More Effective Treatment Regimen for Eclampsia. Aust NZ J Obstet Gynecol 1994 : 34; z : 144-148. 7. Sombolinggi A. Pengobatan Pre Eklampsia Berat / Eklampsia dengan Magnesium Sulfat dan Diazepam pada Beberapa Rumah Sakit Bersalin di Ujung Pandang. Skripsi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. 1992. 8. Bakri S. Hipertensi pada Wanita Hamil. Dibacakan pada Simposium Penanganan Pre Eklampsia dan Eklampsia, Ujung Pandang, Desember 1996. 9. Gant NF, Cunningham FG. Basic Gynecology and Obstetrics. Connecticut Appleton and Lange, 1993. 426-431.