Anda di halaman 1dari 16

Oleh : Retno Windarti, Amd.

OT

Pengenalan Snoezelen
Snoezelen berasal bahasa belanda yakni : snuffelen (to sniff) : aktif, eksplorasi doezelen (to doze) : pasif, relaksasi dan nyaman.
Snoezelen merupakan suatu aktifitas yang mempengaruhi system saraf pusat (SSP) melalui pemberian rangsangan yang cukup terhadap sensor primer pada penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa kecap dan pembauan, serta terhadap sensor internal tubuh pada system keseimbangan (vestibular) dan sensasi sendi (proprioseptive) dengan maksud untuk memperoleh relaksasi dan atau aktivasi pada individu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup (van dijk&wind,2001).

Manfaat Snoezelen
a)

Manfaat Bagi Anak :


peluang untuk relaksasi, eksplorasi dan ekspresi diri. memperoleh stimulasi dasar yang kadang-kadang tidak didapatkan. sebagai aktifitas bagi anak yang menurun kesadaran terhadap lingkungan. perhatian secara individual. snoezellen dapat membangun kepercayaan antara terapis dan anak.

Cont. b) Manfaat Bagi Terapis :


observasi anak dalam lingkungan berbeda secara komplit. tidak harus memenuhi aturan normal perilaku social secara komplit. bebas dan tidak ada stress. dapat digunakan sebagai imbalan sebelum, selama atau setelah terapi.

Tujuan Snoezelen

anak merasa senang/menyenangkan diri sendiri. anak relaksasi secara fisik dan mental. meningkatkan kesadaran/perhatian. anak menunjukkan inisiatif untuk beraktifitas. anak menjadi lebih percaya diri. hubungan anak dan terapis menjadi lebih baik. kemampuan anak lebih berkembang. (Wind, 2001)

Proses Stimulus

INPUT

RECEPTOR

CNS

OUTPUT

FEEDBACK

Cont.
Proses stimulus dari rangsang (input) diterima receptor dan kemudian diproses di system saraf pusat sehingga menghasilkan keluaran (output) yang kadangkadang diteruskan dengan reaksi lanjutan (feedback). Input dapat berupa lingkungan fisik, social dan kultural. Sedangkan proses stimulus terdiri dari receptor (exteroreceptor, proprioceptor dan interoceptor) dan system saraf pusat (otak, medulla spinalis).

Cont.
Output merupakan reaksi dari stimulus yang berupa perilaku dan kinerja. Eksteroreseptor merupakan reseptor yang berada di bagian luar tubuh seperti kulit, mata, lidah, telinga dan hidung. Proprioreceptor terdiri dari otot dan sendi, sedangkan interoreceptor terdiri dari organ internal seperti system vestibular dan organ dalam tubuh.

Pengelompokan Grup Terapi


Cerebral palsy, Autism ADHD

Spina bifida
Down syndrome Gangguan taktil

Mental Retardasi
dan sebagainya

Anak Yang Diindikasikan Mendapat Terapi Snoezelen


1. Implusif/dorongan dari diri
2. 3.

4.
5. 6.

yang kuat Distract Sulit konsentrasi Takut Kesulitan berinteraksi Defensif/hipersensitif

7. 8. 9. 10. 11.

Kesulitan identifikasi sensori Sulit memulai aktifitas Kurangnya kontak mata Sulit berekspresi Sulit memberikan reaksi pada lingkungan 12. Tidak PD pada kemampuannya

1. Anak yang sangat cemas dan takut


2. Anak sangat marah dan agresif 3. Anak merasa snoezellen tidak sesuai dengan

levelnya (level perkembangannya). Dan jika snoezelen justru membuat anak jengkel dan risih. (Van Dijk&Wind, 2001)

Pelaksanaan Terapi Snoezelen


Dasar yang dipakai sebagai pedoman dalam snoezelen lebih sering menggunakan teori humanistic psychology oleh Carl Roger, yakni :
client centre (berpusat pada klien)
perhatian tidak tergantung kondisi tidak mengkritik pasien

memberi pilihan
memahami perilaku pasien

5 Tahap Pelaksanaan Snoezellen


1. Observasi 2. Menentukan komposisi dan tujuan snoezelen 3. Merencanakan snoezellen 4. Persiapan dan melakukan snoezelen 5. Evaluasi snoezelen

Aktifitas generalisasi seperti : 1. Jalan-jalan ditaman 2. Mandi 3. Dengar musik 4. Rasa 5. Cuci tangan 6. Membuat kue 7. Dan lain-lain

Kesimpulan
Snoezelen merupakan suatu aktifitas yang

mempengaruhi system saraf pusat (SSP). Manfaat bagi anak memberi peluang untuk relaksasi, eksplorasi dan ekspresi diri. Penyakit- penyakit tertentu dapat ditangani dengan baik.