Anda di halaman 1dari 11

Asal Mula kebahagiaan ganda(double happiness) atau shuang xi

Akhir-akhir ini kalau kita perhatikan cukup banyak yang melangsungkang pernikahan, biasanya dalam pernikahan tersebut terutama yang menggunakan adat tionghoa kita pasti melihat simbol yang biasa dikenal dengan nama shuang xi atau yang biasa kita dengar sebagai kebahagiaan ganda atau double happiness. Nah apakah arti dan bagaimana awal mula munculnya simbol tersebut? tulisan kali ini akan membahas hal tersebut.. Selamat membaca.. Asal Mula kebahagiaan ganda(double happiness) atau shuang xi berawal pada masa Dinasti Tang. Pada saat itu ada seorang pelajar yang pergi ke ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana juara atau yang memperoleh nilai terbaik akan diangkat menjadi menteri kerajaan. Dalam perjalanan melintasi sebuah desa di pegunungan, pemuda tersebut jatuh sakit. Beruntung pada saat itu ada seorang tabib dan anak perempuannya yang akhirnya membawa pemuda tersebut ke rumahnya dan merawatnya. Setelah sembuh pelajar tersebut harus pergi untuk melanjutkan perjalanan ke ibukota. Namun pelajar tersebut merasa berat untuk pergi karena sudah terlanjur jatuh hati pada anak gadis sang tabib yang menolongnya. Begitu juga dengan gadis tersebut yang ternyata juga jatuh cinta kepada sang pemuda. Namun karena cintanya kepada sang pemuda sang gadis ingin agar pemuda tersebut tetap berangkat, maka supaya pemuda tersebut mau berangkan gadis tersebut menuliskan sepasang puisi dan meminta sang pemuda untuk melengkapinya. Setelah membaca puisi tersebut akhirnya pemuda tersebut mau berangkat dengan syarat gadis tersebut harus menunggunya pulang dan sang gadis pun setuju.

Akhirnya pemuda tersebut berangkat mengikuti ujian dan mendapat tempat pertama.Sang Pemuda pun mendapatkan kesempatan untuk langsung diuji oleh kaisar. Ternyata ujian yang diberikan oleh sang kaisar kepada pemuda tersebut berupa puisi dan puisi tersebut jawabannya sangat cocok dengan jawaban dari puisi yang diberikan oleh sang Gadis sebelumnya. Akhirnya Sang Kaisar senang dengan jawaban sang pemuda dan akhirnya menobatkan pemuda tersebut untuk menjadi Menteri Kerajaan. Sebelum menduduki posisinya dan mulai bekerja pemuda tersebut meminta ijin untuk pulang dan sang Kaisar memberikannya ijin.Pemuda itu pun pulang dan menikahi sang Gadis.Dalam perayaan pernikahan tersebut sepasang karakter Tionghoa bahagia dipasang bersamaan dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian bersamaan yaitu pernikahan dan pengangkatan pemuda menjadi menteri. Sejak saat itukarakter tersebut disebut sebagai "shuang xi" dan menjadi sebuah simbol dan tradisi masyarakat Tionghoa dalam sebuah pernikahan. http://lannyscake.com/how-to-order/27asal-mula-kebahagiaan-gandadouble-happiness-atau-shuang-xishungx

c. Karakter Shuang Xi: Xi berarti kebahagiaan. Karakter seperti ini biasanya dipajang ketika seseorang hendak melakukan upacara pernikahan agar kelak jalinan jodohnya dapat bertahan sampai di hari tua. Bagi para praktisi Feng Shui, karakter Shuang Xi dapat dipakai untuk meningkatkan atau memperoleh jodoh. Penempatan karakter Shuang Xi biasanya digantung atau ditempelkan pada sektor Yan Nian dari angka Kua atau Ming Kua seseorang atau pada kombinasi bintang 1 (Tan Lang) dan bintang 4 (Wen Qu) yang juga mewakili sektor asmara penghuni rumah. Untuk mengetahui sektor Yan Nian dari Ming Kua, Anda bisa membaca pada booklet kami: 12 Pedoman Feng Shui dalam membeli Rumah.

Project Description: Seringkali kita melihat kaligrafi Tionghoa ini pada acara adat pernikahan Tionghoa, baik di dalam undangan, kartu ucapan terima kasih maupun sebagai dekoratif pada pelaminan atau gedung pesta pernikahan dari pasangan yang baru menikah. Kadang kaligrafi itu digunakan sebagai hiasan di rumah yang baru ditempati, atau sebagai hiasan perayaan Tahun Baru Tionghoa di berbagai tempat umum. Tulisan kaligrafi Tionghoa itu, kalau di dalam bahasa Inggris mempunyai arti Double Happiness (Tionghoa Tradisional: , pinyin: shungx, yang sering juga diterjemahkan sebagai Double Joy atau Double Happy). Kaligrafi ini adalah suatu ligatur "", penggabungan 2 huruf Tionghoa (x, artinya kegembiraan) yang dijadikan satu. Kalau berdiri sendiri, masing-masing punya makna "happy" atau senang/gembira. Ungkapan ini berasal dari Dinasti Tang kuno dan terbentuk karena ada sejarahnya (saya tidak membahas sejarahnya). Bila kedua karakter itu disandingkan menjadi satu, akan memberikan makna "baru" yaitu kesenangan ganda atau kebahagiaan yang berlipat. Ini maksudnya semacam doa restu dan permohonan agar orang yang tinggal di dalam rumah itu dan semua yang ada di dalamnya mendapatkan kebahagian besar, khususnya pengantin baru. Hal ini juga menggambarkan dua orang yang berbahagia sudah menjadi satu. http://www.freelancer.com/projects/Website-Design-HTML.1/SHUANG-DOUBLE-HAPPINESS.html
Diambil dari Buku berjudul 101 Kisah Bermakna dari Negeri China.

Di negeri Tiongkok, selalu ada huruf Double Happiness atau Kebahagiaan Ganda yang ditempelkan di

pintu. Pada waktu menikah dan akan menempati rumah baru, maka tulisan double happiness akan ditempelkan pada setiap sisi dinding, setiap daun jendela dan pintu, bahkan ada yang ditempel di setiap lemari, bufet dan tempat tidur. Ini dimaksudkan agar rumah dan semua yang ada di dalamnya mendatangkan sukacita besar bagi orang yang mendiaminya, khususnya pengantin baru. Hal ini juga menggambarkan dua orang yang bersukacita sudah menjadi satu, jadi sempurnalah sukacita sepasang pengantin itu. Ungkapan Kebahagiaan Ganda berasal dari Bahasa Mandarin Shuang Xi Zi. Provinsi Henan adalah tempat asal tulisan Kebahagiaan Ganda, khususnya bermula pada zaman Song (9601279M) dengan seorang ahli kebudayaan yang ternama saat itu, Wang An Shi. Konon, Wang An Shi pada saat muda itu akan mengikuti ujian negara di Jing Cheng (kini bernama Kai Feng, di Provinsi Henan). Orangtua Wang An Shi tidak merasa tenang jika anaknya harus tinggal di rumah orang lain. Karena itu mereka memberi tahu Wang An Shi alamat pamannya, agar ia pergi dan tinggal di sana. Orangtua Wang An Shi berharap anak mereka dapat berhasil dalam ujian dan pamannya akan mengurus semua kepentingannya untuk ujian dan Wang An Shi hanya tinggal belajar mempersiapkan diri. Setelah berjalan sehari sampailah Wang An Shi di pintu gerbang Jing Cheng. Di situ ada sebuah keluarga. Orang itu bernama Ma Yuan Wai. Ketika melintasi rumah itu, Wang An Shi melihat banyak sekali orang berkerumun di depan rumah itu. Ada apa gerangan ? pikirnya. Ia pun mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata orang berkerumun untuk melihat tulisan di kedua sisi rumah Ma Yuan Wai. Di situ ada tulisan yang sangat bagus, karya Ma Yuan Wai. Tulisan itu sejenis kata-kata mutiara atau amsal yang bermakna sangat dalam. Setelah beberapa saat melihat tulisan itu, Wang An Shi berteriak, Tulisan yang sangat bagus, amsal yang sangat indah ! Pada waktu itu seorang tua keluar dari kerumunan orang banyak dan berkata kepada Wang An Shi, Tuan Muda, saya sudah memperhatikan anda dan saya yakin anda adalah orang yang memiliki kemampuan khusus. Waktu anda berkata bahwa tulisan itu sangat bagus dan merupakan amsal yang sangat indah, saya kagum. Hanya orang yang mengerti yang bisa mengatakan itu tulisan yang bagus dan bermakna indah. Wang An Shi hanya diam mendapat pernyataan seperti itu. Orang tua itu pun mengatakan lagi bahwa sesungguhnya tulisan tersebut adalah tulisan anak perempuan Ma Yuan Wai. Ia sudah bertekah, kepada orang yang bisa mengetahui tulisan tersebut, ia akan memberikan anak perempuannya yang terkenal cantik untuk diperistri. Silahkan anda tunggu sebentar, saya akan memanggil tetua adat dulu, kata orang itu, lalau meninggalkan Wang An Shi. Walaupun Wang An Shi setuju untuk menebak arti tulisan tersebut, ia tidak tega membiarkan pamannya menunggu dirinya, lagi pula ia harus mempersiapkan diri menghadapi ujian. Karena itu, diam-diam ia meninggalkan tempat itu.

Sesampai di rumah pamannya, dia sangat senang. Singkat cerita, keesokan harinya ia mengikuti ujian negara. Wang An Shi menjawab semua pertanyaan di kertas ujian dengan sangat cepat dan setelah itu ia menyerahkan kertas ujiannya kepada pengawas ujian. Karena begitu cepat selesai, pengawas itupun memeriksa dengan teliti jawaban Wang An Shi. Wah, luar biasa, guman sang pengawas itu. Ia lalu memanggil Wang An Shi dan berkata, Orang muda, saya sudah memeriksa hasil ujianmu dan saya berpendapat anda punya bakat kepintaran yang luar biasa. Apakah bisa menuliskan Dui Lian buat saya ? (Dui Lian adalah sepasang tulisan yang ditempelkan di sebelah kiri dan sebelah kanan pintu dengan format dari atas ke bawah). Istri pengawas ujian pun sambil melihat kertas ujian Wang An Shi berkata, Fei hu qi, qi fei hu. Qi juan hu, chang shen. Begitu mendengar ucapan tersebut, ia teringat tulisan di depan rumah Ma Yaun Wai. Baiklah kata Wang An Shi seperti yang pernah dikatakannya kepada orangtua di depan rumah Ma Yuan Wai. Oke, kalau begitu, kata pengawas, Setelah saya memeriksa semua hasil ujian, saya akan hubungi anda, sekarang anda boleh pulang dulu. Wang An Shi sangat senang, sambil berlari-lari kecil ia pulang ke rumah pamannya. Betap terkejutnya dia begitu sampai di depan pintu rumah, ternyata di situ sudah duduk orang tua yang pernah berbicara dengannya di depan rumah Ma Yuan Wai. Orang tua itu sengaja mencari Wang An Shi dan mendapatkan dimana sebenarnya ia tinggal. Wang An Shi tahu bahwa tulisan di depan ruang ujian adalah jawaban arti tulisan di depan rumah Ma Yuan Wai. Tanpa basa-basi orang tua itu pun menyodorkan kertas agar Wang An Shi menuliskan apa yang pantas untuk menjawab Dui Lian di depan rumah Ma Yuan Wai. Tanpa ragu Wang An Shi menulis Fei hu qi, qi fei hu, qi juan hu, chang shen. Orang tua itu membawa pulang tulisan tersebut dan memperlihatkannya kepada Ma Yuan Wai dan putrinya. Mereka begitu kagum akan kepintaran dan tulisan Wang An Shi. Karena itu putri Ma Yuan Wai yang cantik pun setuju untuk dinikahkan dengan Wang An Shi. Ayahnya Ma Yuan Wai, menegutus orang untuk membicarakan pernikahan dengan paman Wang An Shi. Melihat keponakannya ragu dan bimbang, sang paman pun berkata, Wang An Shi, putr i itu pengetahuannya banyak, lembut hatinya, lembut karakternya dan ia juga orang yanga sangat terkenal di sini akan berbagi talenta yang dimilikinya. Ia pasti bisa menjadi istri yang sangat baik untukmu ! Setelah berembuk, mereka memutuskan bahwa tiga hari lagi acara pernikahan akan dilangsungkan. Pada hari pernikahan, ketika tamu sudah pada datang, tiba-tiba seorang datang dari jauh dan berteriak kepada paman Wang An Shi, Tuan Wang, hasil ujian negara keponakan anda adalah yang terbaik. Ia nomor satu ! Semua orang di tempat itu mendengar dengan jelas dan mereka bersukacita dan bangga. Ketika mereka sedang berpesta, seorang tamu berkata, Hari ini adalah hari pernikahan Wang An Shi dan karena itu juga hari ini adalah hari bahagianya. Hari ini kita semua mendengar bahwa hasil ujian negera yang diikutinya adalah yang terbaik di seluruh negeri, karena itu hari ini adalah juga hari bahagianya. Hari ini sungguh hari bahagia ditambah hari bahagia. Apa yang pantas diucapkan atau dituliskan untuk menggambarkan kebahagiaan seperti ini ?Beberapa saat semua orang berfikir, namun

tidak lama setelah itu Wang An Shi berdiri dan mengmbil kuas untuk menulis Shuang Xi, Xi berarti bahagia dan huruf itu ditulis secara bergandengan yang berarti Kebahagiaan Ganda. Sejak itu di negeri Tiongkok, pada setiap acara pernikahan selalu ada tulisan Shuang Xi, Kebahagiaan Ganda atau Double Happiness. Mutiara Hikmat : Kejarlah hikmat karena hikmat itu sering kali menolong dan membuat hidup orang lain dan diri kita sendiri bahagia.

http://www.xuezhengdao.com/577/shuang-xi-kebahagiaan-ganda/
Tradisi Pernikahan Tionghoa

Karakter Sung Hi, yang bermakna Kebahagiaan Ganda kepada pasangan pengantin

Kita sering melihat sebuah karakter Tionghoa yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pesta pernikahan. Karakter ini juga biasanya ada tertera di kertas Angpao yang akan diberikan kepada pasangan pengantin baru. Karakter tersebut adalah Sung Hie atau Suang Hi yang berarti Kebahagiaan Ganda (double joy). Ternyata terdapat asal usul sejarah dibalik penulisan huruf tersebut.

Contoh penggunaan karakter Suang Hi dalam undangan pernikahan orang Tionghoa

Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri. Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.

Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai. Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana. etelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian. Sang gadis mengangguk-angguk. Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar. Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda. Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi. Sang kaisar menulis: Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman. Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar. Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya. Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar. Tidak lama kemudian mereka menikah. Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda. Sejak saat itu, tulisan Sung Hie yang berarti Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.Perkembangan acara pernikahan orang Tionghoa di Indonesia

Pernikahan orang Tionghoa dimasa sekarang, sudah mengikuti konsep budaya barat, dimana untuk pasangan pengantin tidak wajib lagi dalam memakai baju/gaun berwarna merah.

Di Indonesia sendiri, pernikahan yang berlangsung antara orang Tionghoa dengan orang pribumi (kawin campur) atau pun sesama orang Tionghoa pada umumnya sudah mengikuti konsep budaya luar. Dalam pernikahan, pemakaian baju merah-merah untuk pengantin laki-laki dan gaun untuk pengantin perempuan sudah tidak diwajibkan lagi. Gaun/tata busana sudah menyesuaikan dengan budaya saat ini, yang lebih dominan berwarna putih-putih mengikuti corak pernikahan barat-universal. Adapun pemakaian gaun berwarna merah sekarang hanya dipakai oleh saudara perempuan yang belum menikah (baik dari mempelai laki-laki atau perempuan) saja sebagai pendamping, sebagai tanda turut berbahagia,

sementara untuk saudara laki-laki (baik dari mempelai laki-laki atau perempuan) biasanya memakai jas hitam. http://www.tionghoa.info/tradisi-pernikahan-tionghoa/

Budaya-Tionghoa.Net | Kegiatan upacara Man Yue (Mandarin) , Moageh (Hokkian, , Xiamen) atau Muagwee (Hokkian Zhangzhou), Muageuh (Quan Zhou). atau genap 1 bulan yang membagikan telur yang disepuh warna merah memiliki ciri khas yang membedakan antara anak pria atau wanita yang dirayakan.

Jika jumlah telur adalah genap , maka kemungkinan anak tersebut adalah anak pria. Demikian sebaliknya. Terkadang jika anak pria yang dirayakan, telur merah tersebut sering diberi titik warna hitam.

Kebiasaan ini dilakukan dihampir setiap subetnis Han terutama mereka yang pekerjaannya petani.

Makna pemberian telur ini adalah bahwa telah lahir satu kelahiran baru. Dan sepanjang yang saya tahu , tidak pernah ada perayaan besar- besaran apalagi di hotel entah kalau itu disebabkan modernisasi. Biasanya mereka memberikan telur kepada pihak keluarga wanita dan kerabatnya serta tetangga mereka. http://traditionghoanews.blogspot.com/2012/09/man-yue-tradisi-untuk-sang-baji.html
Man Yue, Tradisi Untuk Sang Bayi Dalam budaya orang Tionghoa, bayi yang berumur satu bulan patut dirayakan. Perayaan untuk memperingati bayi berumur sebulan ini sering disebut dengan upacara Man Yue. Orang tua yang berbahagia akan memperkenalkan kehadiran momongan baru mereka kepada teman dan sanak saudara mereka, sambil merayakan sebuah pesta telur merah. Secara tradisi, nama bayi tersebut juga akan diberitahukan pada saat itu juga. Tamu tamu yang menghadiri pesta telur merah itu akan membawakan berbagai kado. Angpao selalu diberikan kepada bayi laki-laki, sementara bayi perempuan akan mendapatkan berbagai perhiasan mahal. Para tamu undangan tidak meninggalkan pesta dengan tangan yang kosong, karena biasanya orang tua sang bayi akan memberikan bingkisan telur merah kepada mereka yang datang, untuk menandakan kebahagiaan dan sebuah permulaan hidup yang baru dengan hadirnya sang bayi. Pesta telur merah berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern

pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuah pesta untuk merayakan hal itu. Secara tradisi, masa nifas (umur bayi satu bulan/ ibu istirahat satu bulan setelah melahirkan tanpa keluar rumah) ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan kembali sang ibu kepada masyarakat luar, orang Tionghoa percaya bahwa ibu-ibu berada dalam kondisi tubuh paling lemah sepanjang masa hidupnya sehabis melahirkan. Ibu-ibu orang Tionghoa melakukan istirahat di dalam rumah selama sebulan penuh sehabis melahirkan tanpa keluar rumah. Ini untuk memastikan agar mereka tidak jatuh dalam kondisi yang terlalu lelah, atau tidak terjangkiti oleh berbagai kuman penyakit dari dunia luar yang dapat membahayakan mereka pada saat tubuh dalam kondisi paling lemah. Selain beristirahat, mereka minum sup daging hasil rebusan dari kaki babi, telur, cuka dan jahe. Kebanyakan dari ibu-ibu muda masa kini juga masih mengikuti cara tradisional ini sampai sekarang. Pada zaman dulu, sesuai dengan pentingnya anak laki-laki dalam tradisi orang Tionghoa, pesta telur merah kadang-kadang hanya dirayakan kepada bayi laki-laki saja, atau perayaan buat bayi laki-laki lebih megah dibanding bayi perempuan, tetapi sekarang, pesta dirayakan untuk bayi jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan/tempat merayakan pesta telur merah juga telah mengalami perubahan. Para orang tua mungkin akan memilih untuk merayakan pesta tersebut di sebuah restoran yang mewah. Para orang tua juga dapat menggunakan telur dengan warna merah muda (tidak harus merah tua) dalam perayaan itu. Telur dengan jumlah angka jamak adalah untuk bayi laki-laki dan telur dengan jumlah angka ganjil adalah untuk bayi perempuan. Tradisi ini juga masih terlihat pada keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia, dimana pada saat bayi mereka berusia satu bulan, biasanya mereka akan mengirimkan paket telur merah dan kue kepada sanak saudara atau rekan-rekan yang memberikan kado kelahiran untuk sang bayi. Sumber : http://traditionghoanews.blogspot.com/ - See more at: http://www.tionghoa.info/man-yue-tradisi-untuk-sang-bayi/#sthash.VhP2M1KY.dpuf

Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa

Sangjit adalah salah satu prosesi pernikahan dalam budaya Tionghoa. Sangjit dalam bahasa Indonesia berarti proses seserahan atau proses kelanjutan lamaran dari pihak mempelai pria (dengan orang tua,

saudara dan teman dekatnya yang masih single) dengan membawa persembahan ke pihak mempelai wanita. Acara Sangjit biasanya dilakukan setelah lamaran dan sebelum wedding, atau biasanya antara sebulan sampai minggu sebelum acara pernikahan secara resmi. Waktu pelaksanaan prosesi sangjit umumnya berlangsung pada siang hari, antara pukul 09.00-13.00. Berikut tata cara dalam prosesi Sangjit : 1. Calon merah. 2. Wakil keluarga wanita beserta para penerima seserahan (biasanya anggota keluarga yang telah menikah) menunggu di depan pintu rumah. 3. Dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan, rombongan pria pun datang membawa seserahan ke rumah si wanita. Rombongan ini biasanya wakil keluarga yang belum menikah yang menjadi pembawa nampan seserahan. Di beberapa adat orang tua pria tidak ikut dalam prosesi ini. 4. Seserahan diberikan satu per satu secara berurutan, mulai dari seserahan untuk kedua orang tua mempelai wanita, lalu untuk mempelai wanita, dan seterusnya. 5. Barang seserahan yang sudah diterima oleh pihak mempelai wanita, langsung dibawa ke dalam kamar untuk diambil sebagian. 6. Dilanjutkan dengan ramah tamah. Biasanya pihak keluarga mempelai wanita menyiapkan makan siang. 7. Pada akhir kunjungan, barang-barang seserahan yang telah diambil sebagian diserahkan kembali pada para pembawa seserahan. Dan sebagai balasannya, keluarga wanita pun memberikan seserahan pada keluarga pria berupa manisan dan berbagai keperluan pria (baju, baju dalam, dll). Kenapa diserahkan kembali sebagian? Apabila keluarga wanita mengambil seluruh barang yang ada, artinya mereka menyerahkan pengantin wanita sepenuhnya pada keluarga pria dan tak akan ada hubungan lagi antara si pengantin wanita dan keluarganya. Namun bila keluarga wanita mengembalikan separuh dari barang-barang tersebut ke pihak pria artinya keluarga wanita masih bisa turut campur dalam keluarga pengantin. 8. Wakil keluarga wanita juga memberikan angpao ke setiap pembawa seserahan, maksudnya mendoakan agar para pembawa seserahan enteng jodoh. mempelai pria mengenakan kemeja berwarna merah atau terkadang mengenakan cheongsam pria, dan untuk calon mempelai wanita mengenakan dress berwarna

Foto bersama keluarga mempelai dengan baki hantaran yang berisi seserahan

Dengan semakin berkembangnya zaman, orang orang cenderung menginginkan sesuatu yang simpel dalam persiapan untuk pernikahan mereka. Karena itu, sangjit pun telah mengalami modernisasi,

sehingga sangjit yang ada sekarang ini sudah tidak sekompleks seperti dahulu. Sesuai dengan tradisi Hakka, nampan isi bridess daily things ditukar dengan grooms daily things, yang artinya perhiasan dari pihak mempelai wanita, ditukar dengan perhiasan dari pihak mempelai pria. Tradisi pihak pria yang akan membawa nampan dan pihak wanita yang akan menukar isi nampan/mengambil sebagian isi nampan. Adapun barang-barang yang umumnya dipersiapkan pihak mempelai pria biasanya berisi : 1. Pakaian/kain untuk mempelai wanita. Maksudnya adalah segala keperluan sandang si gadis akan dipenuhi oleh si pria. 2. Uang angpao (ada juga yang bilang uang susu) dan uang pesta (masing-masing di amplop merah). Pihak mempelai wanita biasanya hanya mengambil uang angpao (uang susu) secara penuh/keseluruhan, sedangkan untuk uang pesta hanya diambil jumlah belakang/ekornya saja, sisanya dikembalikan. Misalnya uang pesta diberikan sebesar: Rp. 13.000.000,- , yang diambil hanya Rp. 3000.000,-. Apabila keluarga wanita mengambil seluruh uang pesta, artinya pesta pernikahan tersebut dibiayai keluarga wanita. 3. 3 nampan masing-masing berisikan 18 buah (apel, jeruk, pear atau buah yang manis lainnya sebagai lambang kedamaian, kesejahteraan dan rejeki). Nanti ini dikembalikan sebagian kepada pihak mempelai pria 4. 1 pasang lilin merah yang diikat dengan pita merah, sebagai simbol perlindungan untuk menghalau pengaruh negatif. Biasanya yang dipakai lilin dengan motif naga dan burung hong. Pihak wanita nanti mengambil 1 pasang, dan 1 pasang lagi dikembalikan kepada pihak pria 5. 1 pasang kaki babi (bisa digantikan dengan makanan kalengan yang berjumlah 8-12 kaleng), beserta 6-12 kaleng kacang polong. 6. 1 nampan berisikan kue mangkok berwarna merah sebanyak 18 potong, sebagai lambang kelimpahan dan keberuntungan. Ini pun akan dikembalikan sebagian ke pihak pria. 7. 1 nampan berisikan dua botol arak atau champagne. Pihak mempelai wanita mengambil semuanya, dan ditukar dengan dua botol sirup merah dan dikembalikan ke pihak mempelai pria.

Pemberian sebuah hadiah pernikahan kepada calon mempelai wanita atau keluarganya dan sebaliknya sejatinya diberikan dalam kemasan yang sebaik-baiknya.

Catatan : * No 3-7 diambil sebagian oleh pihak perempuan dan sisanya dibawa pulang oleh pihak laki laki. * Pada saat dibawa pulang sekalian diberikan juga seperangkat pakaian untuk mempelai pria, termasuk dompet, belt, dll. Disertakan juga kue-kue, permen atau coklat (manisan) untuk diberikan ke pihak laki

laki * Untuk para pembawa

untuk nampan dari pihak laki

dibawa laki, ibu dari mempelai wanita

pulang. akan

memberikan/membagikan angpao untuk hoki/keberuntungan. Kalau misalnya akan melangkahi kakak dari mempelai wanita, maka pihak laki laki juga harus membawa barang pelangkah, seperti 1 stel pakaian. * Ada pula mempelai wanita menyertakan pakaian untuk orang tua, tetapi bisa juga pakaian orang tua diberikan pada saat tea pai. * Dalam beberapa acara seremory sangjit yang sangat lengkap, dalam hantaran juga ikut disertakan beberapa pasang kemeja + celana (untuk para pembawa nampan, jumlahnya disesuaikan dengan jumlah pembawa nampan), sepasang sepatu (mempelai wanita), sepasang sandal (mempelai pria), dompet (di isi uang nantinya) + Belt (gesper), seperangkat kosmetik + parfum, jam tangan, sepasang baju papa + sandal, sepasang baju mama + sepatu. Cuma agar lebih memudahkan, biasanya hanya dikasih angpao saja. Sebelum keluarga calon pengantin pria memutuskan barang apa uang akan dibawa dalam hantarannya nanti, ada baiknya didiskusikan bersama pihak pengantin wanita terlebih dahulu. Setelah ditentukan, barang-barang seserahan akan diletakkan ataupun dikemas dalam nampan-nampan yang berjumlah genap, biasanya maksimal berjumlah 12 nampan. Pemilihan barang-barang serahan juga tergantung dengan aturan yang dianut oleh masing-masing keluarga. Ada juga yang menambahkan : Kaca, artinya kedua mempelai dapat berefleksi pada diri mereka masing-masing sehingga tidak saling menuntut. Uang-uangan dari emas yang biasanya ada kata fuk, yang artinya hoki/untung. Dua bundel pita berupa huruf Cina yang berarti double happiness, artinya agar terus bahagia sampai tua nanti. Untuk buah-buahan sendiri ada beberapa macam dengan artinya masing-masing seperti : Buah atep yang disepuh merah, artinya agar tetap langgeng sampai kapan pun. Buah ceremai, artinya agar rumah tangganya bahagia, banyak sahabat dan keturunan. Buah leket, artinya agar lengket sampai kapan pun, hubungannya selalu intim. Buah pala, artinya kedua mempelai akan terus berjalan lurus, baik-baik saja. Sebenarnya, makna dari dilakukannya tradisi sang jit adalah diharapkan agar suami-istri kelak akan saling berbagi suka & duka sampai akhir hayatnya nanti Hal yang menarik dari proses Sangjit ini adalah setiap hal yang dipersiapkan dan proses yang dijalankan memiliki maknanya masing-masing. Tradisi Sangjit diatas hanyalah sekedar tradisi saja. Dilakukan atau tidak, juga sebenarnya tidak menjadi permasalahan, mengingat sekarang zaman sudah semakin modern, yang menuntut orang untuk melakukan segala sesuatu dengan simple/praktis. Apalagi jika pasangan pernikahan bukan etnis tionghoa, bisa menjadi rumit apabila tetap dipaksakan untuk diterapkan. Semoga informasi seputar Sangjit ini dapat membantu Anda yang akan menjalankannya.

http://www.tionghoa.info/tradisi-sangjit-dalam-budaya-tionghoa/