Anda di halaman 1dari 22

Pokok Bahasan 1

KELEMBAGAAN PERBENIHAN PEMERINTAH


Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu memahami tentang kelembagaan pelayanan, pengawasan, dan sertifikasi Perbenihan milik pemerintah

elembagaan perbenihan adalah unitunit kerja yang secara terorganisir melakukan aktivitas di bidang perbenihan. Berdasarkan fungsi dan tugasnya maka kelembagaan perbenihan digolongkan menjadi 5 golongan yaitu :

Pembina, Penelitian/Pemuliaan, Produsen, Pedagang/Penyalur dan Pengawas Mutu Benih.Yang dimaksud Pembina dalam perbenihan ini adalah institusi yang menetapkan kebijakan perbenihan, pembinaan dalam bidang penelitian, produksi dan pengawasan mutu benih. Institusi pembina yang ada ditingkat pusat adalah Badan Benih Nasional, Direktorat Perbenihan dan Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Sedangkan pembina yang ada didaerah dalam rangka pembinaan perbenihan adalah Dinas Pertanian.

A. Badan Benih Nasional (BBN)


Landasan hukum kelembagaan Badan Benih Nasional (BBN) ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1971 tertanggal 5 Mei 1971. Adapun pertimbangan didirikannya BBN adalah dalam rangka peningkatan produksi pertanian diperlukan adanya kesatuan dalam kebijakan mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masalah pebenihan yang pengelolaannya diselenggarakan oleh Departemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian). Badan Benih Nasional dibentuk yang kedudukannya dibawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Pertanian. Adapun fungsi BBN adalah untuk membantu Menteri Pertanian dalam merencanakan dan merumuskan kebijakan dibidang perbenihan. Dalam melaksanakan fungsinya BBN mempunyai tugas-tugas: 1. Merencanakan dan merumuskan peraturan-peraturan mengenai pembinaan

produksi dan pemasaran benih;

1|Page

2. mengajukan pertimbangan-pertimbangan kepada Menteri Pertanian tentang pengaturan benih yang meliputi: (a) persetujuan untuk menetapkan atau menghapuskan sesuatu jenis, varietas dan kwalitas benih, dan (b) pengawasan mengenai produksi dan pemasaran benih. Pasal 4 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1971, menyatakan bahwa Struktur Organisasi Badan Benih Nasional terdiri dari: 1. Ketua Badan 2. Sekretaris Badan 3. Angota-anggota yang terdiri dari pejabat-pejabat dari departemen-departemen dan instansi yang mempunyai kepentingan dalam masalah pembinaan benih. Selanjutnya, keanggaotaan BBN, adalah sebagai berikut: 1. Dirjen Pertanian, Departemen Pertanian sebagai Ketua merangkap anggota; 2. Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri dalam Negeri, sebagai anggota; 3. Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan, sebagai anggota; 4. Pejabat yang ditunjuk oleh Ketua Bappenas, sebagai anggota; 5. Pejabat yang ditunjuk oleh Gubernur Bank Indonesia/Bank Sentral, sebagai anggota; 6. Pejabat yang ditunjuk oleh Ketua Badan Pengendali Bimas, sebagai anggota; 7. Pejabat yang ditunjuk oleh Induk koperasi Pertanian, sebagai anggota; 8. Kepala Pusat Penelitian Pertanian, sebgai anggota; 9. Direktur Utama Sang hyang seri, sebagai anggota; 10.Kepala dinas Sertifikasi benih, sebagai anggota; dan 11.Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian sebagai sekretaris merangkap anggota. Apabila dipandang perlu Menteri Pertanian dapat menambah keanggotaan BBN dari kalangan pengusaha swasta yang bersangkut paut dengan usaha perbenihan. Sedangkan biaya yang bersangkutan dengan pelaksanaaan tugas BBN dibebankan kepada anggaran Departemen Pertanian. Badan Benih Nasional adalah lembaga non struktural yang berkedudukan dibawah Menteri Pertanian memiliki fungsi membantu Menteri Pertanian dalam merencanakan dan merumuskan kebijakan di bidang perbenihan. Dalam menjalankan fungsinya tersebut BBN dibantu oleh 2 (dua) Tim Teknis yaitu : Tim Penilai dan

Pelepas Varietas (TP2V) dan Tim Pembinaan, Pengawasan Dan Sertifikasi (TP2S).

2|Page

Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) anggotanya terdiri dari unsur Direktorat Jenderal, Badan Litbang, Badan Karantina serta Asosiasi Perbenihan, mempunyai tugas : (1). Merumuskan prosedur untuk penentuan penilaian, persetujuan pemasukan, pelepasan dan penarikan kembali varietas-varietas tanaman dalam program pertanian. (2). Memberikan nasehat teknis kepada Badan Benih Nasional dalam bidang yang terkait dengan pelepasan varietas atau penarikan varietas yang telah dilepas. (3). Menyusun daftar dari varietas-varietas yang telah dilepas.

Tim Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi (TP2S) anggotanya terdiri dari unsur Direktorat Jenderal, Badan Litbang, Badan Karantina, mempunyai tugas : (1). Merumuskan kebijaksanaan umum tentang pengawasan pemasaran dan sertifikasi benih. (2) Merumuskan peraturan dan prosedur pelaksanaan pembinaan. (3). Merumuskan kebijaksanaan perbenihan lainnya yang berhubungan dengan perkembangan perbenihan. (4). Menyusun daftar varietas yang dapat disertifikasi. Dalam rangka pelaksanaan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1971 maka Menteri Pertanian menerbitkan Surat Keputusan Nomor 461/Kpts/Org/11/1971 Tentang Kelengkapan Susunan Organisasi, Perincian Tugas dan Tata Kerja Badan Benih Nasional. Adapun susunan kelengkapan organisasi BBN, adalah: 1. Sekretariat; mempunyai tugas: menyelenggarakan urusan tata usaha dan surat-menyurat; membuat rencana sidang, termasuk persiapan dan penyelenggaraan; dan menyelenggarakan urusan umum dan keuangan. 2. Tim Penilai dan Pelepas Varietas; mempunyai tugas: merumuskan prosedur untuk penentuan penilaian, persetujuan pemasukan, pelepasan, dan penarikan kembali varietas-varietas dalam program pertanian; memberikan nasehat teknis kapada BBN dalam bidang yang berhubungan dengan persetujuan tentang pelepasan varietas atau penarikan kembali varietas-varietas yang telah ditentukan; dan

3|Page

menyusun daftar dari varietas-varietas yang telah diresmikan penyebarannya.

3. Tim Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi; mempunyai tugas: merumuskan kebijaksanaan umum tentang pengawasan, sertifikasi dan

pelaksanaannya; merumuskan peraturan dan prosedur terperinci untuk pelaksanaan pembinaan, pengawasan, pemasaran benih dan sertifikasi apabila diminta oleh Menteri Pertanian; merumuskan kebijaksanaan perbenihan lainnya yang berhubungan dengan perkembangan pelbagai unsur program benih dan aktivitas yang berhubungan dengan itu; dan menyusun daftar dari varietas-varietas yang cocok untuk disertifikasi. Di lain pihak, tata kerja Sekretariat BBN diatur dalam Surat Keputusan Menteri mengangkat beberapa tenaga staf dengan persetujuan Ketua Badan Benih Nasional.

B. Direktorat Perbenihan
Kelembagaan pemerintah yang menangani perbenihan tanaman adalah Direktorat Perebenihan pada Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/OT.210/2/1994 dan di perbaharui dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 01/Kpts/OT.210/2001. Direktorat Perbenihan mempunyai tugas: melaksanakan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis serta evaluasi dibidang perbenihan tanaman pangan. Dalam melaksanakan tugasnya maka Direktorat Perbenihan menyelenggarakan fungsi penyiapan perumusan kebijakan dibidang perbenihan tanaman pangan yang meliputi ; a. penyiapan perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur dibidang perbenihan tanaman pangan; b. bimbingan teknis dibidang perebenihan tanaman pangan; c. evaluasi pelaksanaan kegiatan dibidang perbenihan tanaman pangan; dan d. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

4|Page

Direktorat Perbenihan membawahi beberapa Sub-Direktorat, yaitu: a. Sub Direktorat Penilaian Varietas dan Mutu Benih; (1) Seksi Penilaian Varietas dan Pelepasan Varietas; (2) Seksi Mutu Benih b. Sub Direktoraat Produksi Benih Serealia; (1) Seksi Padi (2) Seksi Jagung dan Serealia Lain c. Sub Direktorat Produksi benih kacang-kacangan dan Ubi-Ubian; (1) Seksi Kacang-Kacangan (2) Seksi Ubi-Ubian d. Sub Direktoraat Kelembagaan Benih; (1) Seksi Pengembangan Kelembagaan Benih (2) Seksi Identifikasi Kelembagaan Benih e. Sub Bagian Tata Usaha: (1) Sub Bagian Kepegawaian (2) Sub Bagian Persuratan (3) Sub Bagian Rumah Tangga

C. Lembaga Penelitian
Program pemuliaan tanaman sangatlah penting untuk memperbanyak serta memperluas jenis tanaman di Indonesia dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Sejak dimulainya program pemuliaan tanaman di Indonesia telah didapatkan banyak varietas-varietas unggul yang dapat meningkatkan produksi dan bahkan mendukung tercapainya swasembada pangan. Selanjutnya, kiprah para pemulia bangsa Indonesia juga telah menghasilkan varietas-varietas yang merupakan prestasi internasional, diantaranya melalui International Rice Research Institute (IRRI). Namun demikian dalam industri benih saat ini belumcukup mampu menjamin kontinuitas ketersediaan benih bermutu yang tejangkau. Sering terjadi kasus perbenihan, dimana varietas tertentu tidak tersedia pada saat yang diperlukan, atau benih yang tersedia tidak merupakan pilihan petani. Beberapa masalah penghambat dalam perkembangan industri benih buka pada kemampuan menghasilkan varietas unggugul, akan tetapi disebabkan antara lain oleh: adopsi varietas unggul oleh petani masih rendah, varietas

5|Page

unggul yang tersedia atau dilepas kurang sesuai dengan keinginan/preferensi konsumen, atau konsumen belum mengetahui keberadaan dan keunggulan dari suatu varietas baru. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (PUSLITBANGTAN) merupakan bagian dari Badan Litbang Pertanian yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan penelitian, perakitan/ penyilangan, yang pada akhirnya dapat dihasilkannya varietas-varietas unggul yang dapat meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian serta pengembangan dalam penerapan teknologi pertanian sehingga produksi dapat ditingkatkan secara optimal. Upaya untuk menghasilkan varietas unggul dapat ditempuh melalui, antara Lain: 1. program pemuliaan varietas di dalam negeri; 2. pemanfaatn dan pengembangan plasmanuftah nasional; dan 3. introduksi galur harapan/varietas dari luar negeri. Kegiatan pemuliaan tanaman tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kultivar/varietas unggul baru, melainkan juga untuk mempertahankan kemurnian varietas/kultivar yang sudah ada. Kegiatan pemuliaan dan penelitian tanaman ppangan dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) yang secara operasional dilakukan oleh unit kerja dibawahnya, yang memiliki tugas pokok, lokasi dan instalasi penunjang. Status Unit Kerja yang dibawah Puslitbangtan tersebut merupakan institusi pemerintah pusat, yang berada di daerah. Contoh Balai Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi, Jawa barat; Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Ubi-Ubian Kendal Payak-Malang, Jawa Timur; Balai Penelitian Tanaman Serat dan Tembakau Karang Ploso-Malang, Jawa Timur; Balai Penelitian Tanaman Hortikultura Solok, Sumatera Barat; Balai Penelitian Jagung dan Serealia Maros-Sulawesi Selatan, dls. Balai-balai penelitian tersebut bertanggungjawab terhadap tersedianya Benih Pejenis (Breeder Seed) dari varietas yang dihasilkannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disamping penyelenggaraan pemuliaan tanaman dilakukan oleh instansi pemerintah, juga perusahaan swasta multinasional telah mempunyai instalasi penelitian yang diharapkan terus bertambah dan berkembang.

6|Page

D. Balai Benih
Sejarah pendirian Balai Benih dimulai dari didirikannya beberapa Kebun Bibit pada jaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah merdeka pemerintah Republik Indonesia mendirikan Kebun-Kebun Bibit Desa, kemudian Kebun-Kebun Bibit Desa tersebut berubah mernjadi Balai Benih. Balai Benih yang memproduksi benih di daerah diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Provinsin dan Dinas Pertanian Kabupaten. Selanjutnya, dengan diberlakukannya peraturan perundanganm otonomi daerah maka Balai Benih tersebut berubah mejadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian dan sebagian besar masih dalam pembahasan di Pemerintah Daerah. Berdasarkan tugas dan fungsi serta lokasi dan tanggungjawab pembinaannya sebelum pelaksanaan otonomi daerah, maka Balai-Balai benih tersebut digolongkan dalam tga kategori, yaitu: a. Balai Benih Induk (BBI) b. Balai Benih Utama (BBU) c. Balai Benih Pembantu (BBP) Penggolongan tersebut berlaku untuk komoditas padi maupun palawiaja. Perbanyakan Benih Pejenis (BS) untuk menghasilkan Benih Dasar (BD) dilakukan di Balai Benih Induk (BBI) yang dikelola Dinas Pertanian Provinsi, sedangkan perbanyakan Benih Dasar untuk menghasilkan Benih Pokok (BP) dan BP menjadi Benih Sebar (BR) masing-masimng dilakukan di Balai Benih Utama (BBU) dan Balai Benih Pembantu (BBP) yang dikelola Dinas Pertanian Kabupaten. Sampai menunggu Perda Balai Benih di beberapa daerah tetap melaksanakan tugas dan fungsinya yang lama.

E. Balai Perngawasan Benih dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 461/Kpts/Org/11/1973 menetapkan bahwa Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih dilakukan langsung oleh Pusat, yaitu Sub Direktorat Mutu Benih, Direktorat Bina Produksi. Pada tahun 1978 Menteri Pertanian mengeluarkan keputusan , yaitu Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor

529/Kpts/Org/8/1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) melaksana tugas Penilaian Kultivar, Sertifikasi Benih, Pengujian

7|Page

Laboratoris, dan Pengawasan Peredaran Benih di daerah merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat. Selanjutnya, untuk kelancaran pelaksanaan tugas BPSBTPH di masing-masing provinsi dan wilayah kerjanya maka Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan membentuk Satuan Tugas di 14 Provinsi melalui Surat Keputusan Nomor I.HK.050.84. Pada tahum 1994 Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Nomor 468/Kpts/OT.210/6/94 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengawasan dan Tata Kerja Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Loka Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura di dua lokasi, yaitu Lokasi Kalimantan Barat (LPSB TPH I Kalimantan Barat) dan Lokasi Irian Jaya (LPSB TPH II Irian Jaya). Selanjutnya, dengan semangat otonomi daerah menteri pertanian meningkatkan status Satuan Tugas di sebelas provinsi menjadi Kelembagaan Balai Pengawasan dan Serifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura melalui Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 46/Kpts/OT.210/1/2001. Kedudukan, tugas dan fungsi BPSB TPH, terdiri dari Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Pelayanan Teknis, dan Kelompok Jabatan Fungsional utnuk 26 BPSB TPH untuk wilayah kerja masing-masing provnsi, dan selanjutnya sesuai dengan semangat otonomi daerah telah diserahkan kepada pemerintah daerah secara utuh (peronil, perelengkapan, pembiayaa, dan dokumentasi). Tugas BPSB TPH, antara lain: menyiapkan benih varietas bermutu unggul; melaksanakan pengujian untuk menemukan varietas unggul baru; dan melaksanakan sertifikasi dan pengawasan mutu benih. Selain menghasilkan benih bermutu BPSB TPH secara langsung dapat menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui kegiatan sertifikasi. Telah lima BPSB TPH menjadi UPT Dinas Pertanian melalui SK Gubernur maupun Peaturan Daerah, yaitu: provinsi Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat dengan nama sesuai dengan kondisi daerah. Sedangkan di Povinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Provinsi Riau UPT BPSBTPH tersebut dilebur ke Dinas Pertanian (strukturalnya) sedangkan fungsionalnya masuk kedalam Jabatan Fungsional. Provinsi yang lain, masih dalam pembahasan dengan Pemda termasuk Prtovinsi banten, Maluku Utara, dan Bangka Belitung. Pengawasan atau pengendalian mutu benih ini dilakukan sejak dari proses memproduksi benih hingga benih tersebut diedarkan di masyarakat. Pengawasan mutu benih bertujuan agar benih yang akan dipergunakan oleh petani dapat terkjamin mutunya, baik itu mutu genetik, mutu fisiologis maupun mutu fisik. Pengawasan Mutu Benih dilakukan oleh suatu Institusi yang telah diberi wewenang oleh pemerintah dan saat ini

8|Page

pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih dilakukan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih merupakan institusi pemerintah yang memiliki fungsi sebagai lembaga pengawasan dan sertifikasi benih untuk tanaman pangan dan hortikultura. BPSB dibentuk sebagai tindak lanjut dari Keputusan Presiden RI nomor 72 tahun 1971 tentang Pembinaan, Pengawasan, Pemasaran Dan Sertifikasi Benih. Dalam menjalankan fungsinya, BPSB memiliki tugas : (1) Melaksanakan Penilaian Kultivar; (2) Melaksanakan Pengujian Benih Laboratorium; (3) Melaksanakan Sertifikasi Benih, dan (4) Melaksanakan Pengawasan Mutu dan Pengawasan Peredaran Benih.

9|Page

DAFTAR NAMA INSTANSI BPSBTPH NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. PROPINSI NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI BENGKULU SUMSEL BABEL LAMPUNG DKI JABAR NAMA UPTD BPSBTPH Balai Perbenihan Pertanian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH IV Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Perbenihan Tanaman Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Perbenihan Tanaman Satgas Pengawas Mutu Benih Pertanian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pengujian Mutu dan Sertifikasi Hasil Pertanian dan Hasil Hutan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Perda.Prop.Jabar. No:15 TH.2000 Jo Perda.Prop.Jabar No:5 TH.2002, Tgl. 12-4-2002 SK.Gub.No: 53 TH.2002 12. 13. 14. BANTEN JATENG DIY Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH SK.Gub.Prop.Banten, No:169 TH.2001, Tgl. 21-8-2001 Perda.Prop.Jateng, No: 1 TH.2002, Tgl. 2-4-2002 SK.Gub.Prop.DIY, No:119 TH.2001, Tgl. 29-9-2001 dan No:156 TH.2001, Tgl. 24-11-2001. Perda Prop. DIY No:07 TH.2002 15. JATIM Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Perda.Prop.Jatim, No: 31 TH.2000, Tgl.18-12-2000. SK.Gub.Jatim.No:1 Tahun 2002 dan Perda.Prop.Jatim. No:16 TH.2002 Tgl. 14-10-2002 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. BALI KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT GORONTALO SULTENG SULSEL SULTRA NTB NTT MALUKU MALUT PAPUA PAPUA BARAT SULBAR Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TP Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Kantor Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Kantor Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Perbenihan, Pengawasan, dan Sertifikasi Benih/Bibit Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Pengawasan dan Sertifikasi Benih Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian Balai Pengawasan, Pengujian Mutu dan Sertifikasi Benih Tanaman Pertanian Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Peraturan Gub.Prop.Papua Barat, No:13 TH.2008, Tgl. 14-7-2008 Peraturan Gub.Prop. Sulawesi Barat No: 03 TH.2009, Tgl. 11-2-2009 SK.Gub.Prop.Sulsel, No:265 TH.2001, Tgl. 26-11-2001 SK.Gub.Prop.Sultera, No:422 TH.2001 Perda.Prop.NTB, No:13 TH.2001, Tgl. 24-10-2001 SK.Gub.No: 472 TH.2001. Perda.Prop.NTT, No: 05 TH. 2001, Tgl. 11-6-2001. SK.Gub.Prop.Maluku, No:224 TH.2001, Tgl. 22-12-2001 SK.Gub.Prop. Maluku Utara No:04 TH.2004, Perda.Prop.Bali, No: 04 TH.2002, Tgl. 28-2-2002. SK.Gub.No:35 TH.2002 Tgl. 6-11-2002 SK.Gub.Prop.Kalbar, No:266 TH.2001 Perda.Prop.Kalteng, No:264 TH.2001, Tgl. 31-12-2001 Jo Perda. Prop. Kalteng No: 02 TH.2003. Perda.Prop.Kalsel, No:20 TH.2001, Tgl. 8-11-2001 Sk.Gub.Prop.Kaltim, No:16 TH.2001, Tgl. 24-9-2001 Perda Prop.Sulut.No: 14 TH.2006 Perda.Prop.Gorontalo No:44 TH.2002 SK.Gub.Prop.Sulteng, No: 06 TH.2001, Tgl. 13-12-2001 SK.Gub.Prop.Bengkulu, No:167 TH.2001, Tgl. 4-7-2001 Perda.Prop.Sumsel, No:49 TH.2001, Tgl. 12-12-01 SK.Gub. No:188.44.91/DPK/03, Tgl. 10-4-2003 SK.Gub.Lampung No:03 TH.2001. SK.Gub.DKI Jakarta No:113 TH.2002, Tgl.20-8-2002 DASAR PEMBENTUKAN SK.Gub.NAD, No:15 TH.2002, Tgl. 7-3-2002 Perda.Prop.Sumut, No:3 TH.2001, Tgl. 31-7-2001 SK.Gub.Sumut.No:150.061-457K/2002 SK.Gub.Prop.Sumbar, No:22 TH.2001, Tgl. 1-10-2001 Jo. SK.Gub.Prop.Sumbar, No:32 TH.2003. Perda Propinsi Riau No:9 TH.2008, Tgl. 5-12-2008 Perda.Prop.Jambi No:15 TH.2002, Tgl. 30-9-2002

10 | P a g e

F. Dinas Pertanian
Dinas Pertanian yang berkedudukan di Propinsi maupun Kabupaten/Kota merupakan kepanjangan tangan dari Gubernur atau Bupati/Walikota yang memiliki peran sebagai pembina perbenihan didaerah terutama dalam pembinaan Produksi dan Distribusi benih. Dalam melakukan pembinaan perbenihan, Dinas Pertanian Propinsi memiliki 2 (dua)unit pelaksana teknis yaitu Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB TPH) dan Balai Benih Propinsi, sedangkan bagi Dinas Pertanian Kabupaten hanya memiliki 1 (satu) unit pelaksana teknis yaitu Balai Benih Kabupaten.

11 | P a g e

POKOK BAHASAN 2

KELEMBAGAAN PRODUSEN DAN PEMASARAN


Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa mampu memahami tentang kelembagaan produsen dan pemasaran (BUMN, swasta, dan penangkar).

1. Produsen Benih

ekade pertengahan tahun 1960 banyak dilepas varietas unggul baru yang berpotensi hasil tinggi, yang seharusnya memacu kinerja Balai Benih sebagai institusi pemerintah yang mempunyai tugas perbanyakan Benih Sumber. Namun,

karena terkendala pendanaan dan sumberdaya manusia yang terampil belum memadai maka pemerintah membuat kebijakan dalam program perbenihan pada tahun 1970 yaitu secara bertahap usaha perebenihan dilimpahkan kepada sektor swasta, sedangkan pemerintah bertanggungjawab dalam melaksankan penelitian, pembinaan/penyuluhan dan pengawasan mutu/pemasaran. Implemnetasi kebiajkan tersebut antara lain telah didirikannya Perum Sang Hyang Sri (SHS) pada tahun 1971 berstatus semi swasta sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfungsi mendampingi Balai-Balai Benih dalam memproduksi beniih pada bebrbagai kelas benih seperti Benih Dasar sampai Benih Sebar. Perum SHS telah berubah statusnya menjadi Perseroan Terbatas Sang Hyang Sri (PT SHS). PT SHS mempunyai unit-unit pengolahan benih dan dalam meproduksi Benih Sebar bekerjasama dengan petani-petani penangkar. Adapun rantai perbanyakan Benih Sebar, yaitu: BS------BD------BP untuk varietas publik (Public Variety), yaitu varietas yang selama ini dialkasanakan oleh pemerintah melalui Balai-Balai Benih, serta dirintis untuk dilaksanakan juga oleh swasta dengan tetap dibina oleh pemeritah. Disamping PT SHS, produsen benih swasta antara lain: PT Patra Tani, PT Pertani, PT BISI, PT Pioneer Hybrida Indonesia, PT Monsanto, PP Kerja, dls.

12 | P a g e

Produsen benih, khususnya tanaman pangan banyak yang belum mampu mempunyai Penelitian Pemuliaan Tanaman, disisi lain pemerintah khususnya Kementerian Pertanian telah membangun Institusi Pertanian yang cukup besar dan menjadi aset bangsa yang harus dimanfaatkan oleh seluruh produsen benih. Di lain pihak, bahwa varietas padi yang baru dilepas yang tidak melibatkan para produsen benih yang kan memasarkan dalam memilih/memnentukan varietas yang akan dilepas sehingga produsen benih menghadapi kendala: 1. perlu waktu untuk mengetahui secara jelas sifat dan karakter dari varietas tersebut; 2. kesenjangan waktu tersebut mengakibatkan adanya kebingungan para salesman di lapangan; 3. akibat informasi berlebihan para produsen langsung menangkar FS, dan-atau SS secara besar-besaran untuk mempersiapkan ES; dan 4. para produsen hanya menagkar varietas yang sangat diisukaan oleh petani konsumen (market oriented) sehingga jumlah yang ditangkar hanya sedikit dari banyak varietas yang dilepas. Produsen benih adalah perorangan atau badan hukum yang memiliki bidang usaha memproduksi benih. Yang dimaksud perorangan disini yaitu petani penangkar atau produsen penangkar yang secara individu memproduksi benih dengan tujuan untuk dikomersialkan/ diperjualbelikan. Sedangkan produsen benih berbadan hukum adalah suatu institusi atau lembaga yang secara terorganisir memproduksi benih untuk dikomersialkan. Badan hukum ini dapat merupakan lembaga/institusi pemerintah ataupun swasta. Badan Hukum pemerintah yaitu Balai-Balai Benih atau BUMN (contoh : PT. Sang Hyang Seri dan PT. Pertani), sedangkan untuk swasta seperti PT. BISI, PP. Kerja dan sebagainya. Untuk menjadi produsen benih diperlukan beberapa persyaratan yaitu : 1) memiliki sarana yang memadai, misalnya, menguasai lahan untuk memproduksi benih, memiliki fasilitas 2) Memiliki tenaga terampil yang mampu

pengolahan dan penyimpanan dan sebagainya,

untuk memproduksi benih, 3) Mematuhi peraturan dalam produksi dan sertifikasi benih. Bila dilihat dari lingkup usahanya produsen benih dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu produsen benih terpadu dan produsen benih parsial. Produsen benih terpadu disebut juga Industri Benih dimana lingkup usahanya meliputi penemuan/perakitan varietas, produksi benih sampai dengan pemasaran/pengedarannya. Sedangkan untuk produsen benih parsial lingkup usahanya hanya satu atau beberapa bagian dari kegiatan perbenihan. Pada produsen benih parsial ini, biasanya bekerja sama dengan lembaga penyelenggara pemuliaan dan penelitian untuk memperoleh varietas - varietas yang akan

13 | P a g e

dikembangkan. Beberapa produsen benih terpadu adalah PT. BISI, PT. DUPONT dan PT. MONSANTO. Sedangkan yang termasuk produsen benih parsial adalah PT. Pertani, PP. Kerja dsb. Berdasarkan mekanisme kerjanya, maka produsen benih dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu produsen benih mandiri dan produsen benih mitra usaha. Produsen benih mandiri artinya produsen benih yang memasarkan/memperdagangkan/menjual hasil produksinya sendiri, sedangkan produsen benih mitra usaha adalah produsen benih yang menjual hasil produksinya kepada mitra usahanya.

2. Pedagang Penyalur Benih Pedagang Penyalur Benih adalah pedagang yang bergerak di sub sistem agroinput atau pedagang sarana produksi pertanaian (saprotan). Pedagang saprotan akan menjembatani produsen benih dengan petani dalam menyiapkan sarana produksi yang cepat terakses oleh petani. Petani, sekarang pada umumnya telah banyak mengakses benih melalui pedagangpedagang yang sering disebut dengan Toko Pertanian. Benih yang dijual sangat bervariasi mulai benih hasil produksi dalam negeri maupun benih impor. Untuk benih impor yang semakin variatif adalah benih komoditi hortikultura. Dengan demikian keberadaan Pedagang Penyalur Benih yang berada di pusat produsen atau di desa sangatlah berpengaruh terhadap ketersediaan benih yang diinginkan oleh petani dan tersedia dalam pilihan variatas yang bervariasi. Namun demikian, hendaknya peredaran benih yang dilaksanakan oleh Pedagang Penyalur Benih dapat diawasi dengan ketat supaya tidak merugikan petani pemakai benih tersebut. Pedagang/Penyalur Benih adalah perorangan atau badan hukum yang berusaha dibidang perdagangan dan penyaluran benih. Perorangan, Badan Hukum atau Instansi Pemerintah yang akan memperdagangkan dan menyalurkan benih harus mendaftar kepada Menteri Pertanian melalui Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Pelimpahan kewenangan tersebut didelegasikan kepada BPSB yang berkedudukan di setiap propinsi. Beberapa peryaratan yang harus dipenuhi oleh pedagang/penyalur benih yaitu : (1) Mematuhi peraturan perbenihan yang berlaku, (2) Menjaga mutu benih yang

diperdagangkan, (3) Memiliki catatan administrasi yang terkait dengan aktivitasnya seperti data benih yang diperdagangkan, dan (4) Melaporkan setiap terjadi perubahan data peredaran benih yang diperdagangkan. Bagi calon pedagang/penyalur yang mampu memenuhi persyaratan tersebut akan diberikan Tanda Daftar sebagai Pedagang/Penyalur Benih.

14 | P a g e

Usaha pedagang/penyalur benih ini diawali dari mencari/ mengumpulkan/membeli sampai dengan memasarkan/ menjual/ menyalurkan benih kepada para konsumen benih. Keuntungan yang didapatkan oleh pedagang/ penyalur benih adalah selisih harga pembelian dan penjualan. Berdasarkan kemampuan usahanya, maka pedagang/penyalur dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : (1) Distributor/ Agen Tunggal, (2) Dealer/

Pedagang Besar, dan (3) Retail /Pedagang Eceran. Agen Tunggal atau Distributor Benih adalah pedagang penyalur benih tunggal yang ditunjuk langsung oleh produsen untuk memasarkan serta memperdagangkan benih yang diproduksinya. Dealer atau Pedagang Besar adalah pedagang/penyalur benih yang memasarkan/ memperdagangkan benih secara partai(grossir). Dealer atau Pedagang Besar tersebut biasanya berkedudukan di Ibukota Propinsi atau Kabupaten/kota. Retail/ Pedagang Eceran adalah pedagang/peyalur benih yang memasarkan benihnya secara eceran. Pedagang eceran ini biasanya sampai ketingkat pedesaan sehingga dapat dijangkau oleh konsumen benih.

3. Lembaga Sertifikasi Sistim Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSM BTPH) dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri pertanian Nomor 1100-

1/Kpts/Kp.150/10/1999 tentang Pembentukan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pembentukan LSSM BPTPH adalah, untuk: 1. menjamin mutu dan meningkatkan daya saing produksi benih; 2. memberikan perlindungan kepada produsen dan masyarakat perbenihan yang tidak memihak; 3. perlu adanya Kelembagaan Pelayanan Sertifikasi Sistim Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura; dan 4. mendorong dan menumbuhkan kemandiria pelaku agribisnis perbenihan, dengan pemeberian peran kewenangan kepada pelaku agribisnis yang telah mampu menjamin mutunya. Direktorat Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan dan direktorat Perbenihan dan sarana Produksi Ditjen Hortikultura telah ditunjuk sebagai pengelola LSSM BTPH. Tugas dan fungsi dari LSSM BTPH adalah melaksanakan Sertifikasi Sistim Mutu pada pelaku agribisnis perbenihan. Dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Menteri Pertaniaan melalui Ditjen Tanaman Pangan dan Ditjen Hortikultura. Tata cara dan ketentuan Sertifikasi Sistem Mutu Benih akan diatur oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sedangkan biaya operasionalnya juga

15 | P a g e

dibebankan kepada Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikulura. Dalam melakukan kegiatannya mengacu kepada panduan mutu yang telah disusun sbagai acuan resmi yang memuat pernyataan pokok dan bersifat tidak teknis. Panduan mutu ini didukung/dilengkapi dengan dokumen prosedur, intruksi kerja dan formulir yang digunakan untuk melengkapi LSSM BPTPH dalam mengelola Sistim Jaminan Mutu. Sedangkan bagi produsen benih yang ingin mendapatkan setifikat Sistim Mutu dari LSSM BTPH juga harus membuat Panduan Mutu dan memenuhi persyartanpersyaratan yang ditetapkan oleh LSSM BTPH. Dan bagi produsen yang memenuhi persyaratan dan bersedian menuruti kdetentuan pelaksanaan akan diberikan ijin (sertifikat) wewenang untuk melaksanakan sertifikasi dilingkungan usahanya sendiri. Sampai saat ini lembaga LSSM BTPH telah mengeluarkan Sertifikasi Sistem Mutu kepada sembilan produsen benih, yaitu: PT BISI, PT Sang Hyang Sri, PT Dupont Hybrida Indonesia, PT East West Indonesia, PT Branita Sandhini, PT Jagung Hybrida Sulawesi, PT Benih Citra Indonesia, PT Agri makmur Pertiwi, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, dan Sertifikasi yang diberikan berlaku dalam jangka waktu tiga tahun. Sejalan dengan perkembangan situasi saat ini yang menuntut adanya suatu lembaga yang mampu mengakreditasi produsen benih sehingga produsen benih tersebut mampu melaksanakan sertifikasi benih mandiri, maka ditingkat pusat dibentuk Lembaga Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBPTPH) adalah lembaga yang melakukan sertifikasi sistem manajemen mutu terhadap pelaku agribisnis atau unit usaha (perseorangan, kelompok atau badan hukum) di bidang perbenihan tanaman pangan dan hortikultura. Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) untuk benih tanaman pangan dan hortikultura. Sertifikasi benih mandiri pada produsen benih benih tersebut meliputi pengendalian mutu benih sejak dari proses produksi benih sampai dengan pemasangan label (sertifikat). Ruang lingkup kegiatan sertifikasi sistem manajemen mutu sesuai dengan ISO 90012008, yang mencakup kegiatan proses produksi maupun pasca panen baik untuk menghasilkan benih maupun untuk keperluan konsumsi dibidang tanaman pangan dan hortikultura. LSSM-BTPH berstatus Pemerintah, dibawah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura, dan dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1100.1/Kpts/KP.150/10/1999 tanggal 13 Oktober 1999, tentang Pembentukan LSSM-BTPH. Sejak tanggal 28 Januari 2005, LSSM-BPTH telah

16 | P a g e

terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor Sertifikat : Nomor LSSM-020-IDN, dengan ruang lingkup kegiatan diperluas Sertifikasi Benih Tanaman. Jumlah Produsen Benih/Pelaku Agribisnis yang telah melakukan sertifikasi mandiri sebanyak 9 (sembilan) Produsen Benih, yaitu : 1. PT. BISI (Produsen Benih Jagung, Benih Padi dan Benih Hortikultura) 2. PT. DuPont Indonesia (Produsen Benih Jagung Hibrida dan Padi Hibrida) 3. PT. East West (Produsen Benih Hortikultura) 4. PT. Branita Sandhini (Produsen Benih Jagung Hibrida) 5. PT. Sang Hyang Seri (Produsen Benih Padi) 6. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (Produsen Benih Padi) 7. PT. Jagung Hibrida Sulawesi (Produsen Benih Jagung Hibrida) 8. PT. Agri Makmur Pertiwi (Produsen Benih Jagung Hibrida dan Hortikultura) 9. PT. Benih Citra Asia (Produsen Benih Hortikultura) Tabel dibawah ini merupakan daftar alamat produsen benih yang melakukan sertifikasi mandiri:

No. 1.

Produsen Benih PT. Dupont Indonesia

Alamat

Benih Yang Diproduksi

Jl. Krebet Bulu, Desa Krebet, Kec. - Padi Hibrida Bululawang, Malang, 65171 Jawa - Jagung Hibrida Timur Telp (0341) 879470; 879747; Fax (0341) 879237 Jl. Raya Pancing Dlanggu, Desa - Jagung Hibrida Sumberwono, Bangsal, Mojokerto 61381 Jawa Timur Telp/Fax (021) 75922929 Desa Sumber Agung, Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur Telp (031) 7882528; Fax (031) 7882856 Email : info@tanindo.com Website : www.tanindo.com - Padi - Jagung Hibrida - Jagung Komposit - Hortikultura

2.

PT. Branita Sandhini

3.

PT. BISI Internasional

4.

PT. East West Seed PO Box 1 Desa Benteng, Kec. - Hortikultura Indonesia Campaka, Purwakarta 41181 Jawa Barat Telp (0264) 201871; Fax (0264) 201875 Email : office@ewsi.co.id Balai Besar Penelitian Jl. Raya Sukamandi, Subang, Jawa - Padi (BS) Tanaman Padi Barat Telp (0260) 522882

5.

17 | P a g e

No. 6.

Produsen Benih

Alamat

Benih Yang Diproduksi

PT. Sang Hyang Seri Jl. Raya Sukamandi, Subang, Jawa - Padi Non Hibrida Sukamandi Barat Website : www.shs-seed.com PT. Jagung Hibrida Jl. Wolter Monginsidi No. 26 Rowo - Jagung Hibrida Sulawesi Indah, Kec. Ajung, Jember, Jawa Timur PO Box 208 Telp (0331) 325588; 325566; Fax (0331) 325656 PT. Agri Pertiwi Makmur Jl. Pare-Kediri Km 6,3 Desa - Jagung Hibrida Sambirejo, Pare, Kediri, Jawa - Hortikultura Timur Telp (0354) 394818; Fax (0354) 391090; Website : www.agripertiwi.co.id Jl. Akmaludin No. 26 PO Box 26 - Hortikultura Jember 68175 Jawa Timur Telp (0331) 323216; Fax (0331) 323603

7.

8.

9.

PT. Benih Citra Asia

18 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

UU No. 29/2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No. 44/1995 tentang Perbenihan Tanaman PP No. 13/2004 tentang Penamaan, Pendaftaran dan Penggunaan Varietas Asal untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Keppres No. 27/1971 tentang Badan Benih Nasional Keppres No. 72/1971 tentang Pembinaan, Pengawasan Pemasaran dan Sertifikasi Benih Permentan No. 39/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina Permentan No. 37/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan dan Penarikan Varietas Kepmentan No. 461/1971 tentang Kelengkapan Susunan Organisasi, Perincian Tugas dan Tata Kerja Badan Benih Nasional Kepmentan No. 538/1976 tentang Tim Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi Benih (TP2S) Kepmentan No. 1100.1/Kpts/KP.150/10/1999 jo. 361/Kpts/KP.150/5/2002 tentang Pembentukan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kepmentan No. 362/2001 tentang Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) Kepmentan No. 550/Kpts/OT.140/9/2004 tentang Pembentukan Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Pertanian 19 | P a g e

Lampiran 1 DIAGRAM ALIR PROSES SERTIFIKASI SISTEM MANAJEMEN MUTU Penanggung Jawab Ketua LSSM-BTPH Produsen benih Alur Kerja
Hubungan awal

Mengajukan permohonan Sertifikasi Sistem Mutu Evaluasi kelengkapan persyaratan persypperpersyaradoku Ya men Menandatangani kontrak Membentuk tim Asesmen Tidak k Produsen benih memperbaiki Dokumen mutu Tidak Ya Tidak Telah dilengkapi

Manajer Administrasi Produsen Benih Manajer Teknis Produsen benih

Persetujuan Tim dan pelaksanaan asesmen Ya Audit Kecukupan (Adequasy Audit)

Auditor Kepala

Tim Asesmen Tim Asesmen LSSM-BTPH Governing Board

Melaksanakan asesmen dan penyaksian asesmen

Permintaan perbaikan

Melaporkan hasil asesmen kpd Manajer Teknis Hasil perbaikan Mengkaji hasil asesmen dan memberi pertimbangan hasil kajian kpd Ketua LSSM-BTPH Tidak Hasil Kajian Tidak

Governing Board Ketua LSSM Benih TPH


20 | P a g e

Ditolak

Keputusan Sertifikasi/Penerbitan Sertifikat

Selesai

PENJELASAN DIAGRAM ALIR LSSM BTPH : 1. Pelaku agribisnis/produsen benih meminta informasi secara tertulis kepada sekretariat LSSM BTPH. Ketua LSSM BTPH mengirimkan 1 set dokumen yang terdiri dari : 1.1 Formulir surat permohonan sertifikasi sistem manajemen mutu 1.2 Daftar isian data lengkap pemohon 1.3 Pedoman ISO 9001 : 2008 1.4 Struktur biaya sertifikasi sistem manajemen mutu 1.5 Diagram alir sertifikasi sistem manajemen mutu Pelaku agribisnis/produsen benih mengajukan permohonan disertai dengan : 2.1 Surat permohonan sertifikasi sistem mutu 2.2 Daftar isian data lengkap pemohon 2.3 Dokumen Mutu berdasarkan Pedoman ISO 9001 : 2008 2.4 Persetujuan struktur biaya sertifikasi sistem mutu 2.5 Membayar biaya permohonan Manajer Administrasi mengevaluasi kelengkapan, apabila dokumen belum lengkap, maka pelaku agribisnis/produsen benih supaya melengkapi. Apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi maka dilakukan kontrak pelaksanaan sertifikasi sistem manajemen mutu sebelum audit kecukupan dilaksanakan. Ketua LSSM BTPH bersama para manajer membentuk tim audit dan secara tertulis meminta persetujuan pelaku agrinisnis/produsen benih tentang anggota tim audit dan tanggal pelaksanaan asesmen. Jika pelaku agribisnis/produsen benih tidak menyetujui susunan tim asesmen/audit, LSSM BTPH akan mengatur kembali susunan tim asesmen/audit maupun jadwal pelaksanaan asesmen. Sebelum melakukan asesmen ke pelaku agribisnis/produsen benih (pemohon) tim auditor yang ditunjuk oleh Ketua LSSM BTPH akan melakukan audit kecukupan terhadap dokumentasi mutu pelaku agrinis/produsen benih. Apabila dokumentasi mutu pelaku agribisnis/produsen benih belum mencakup semua unsur-unsur pedoman persyaratan terkait (ISO 9001 : 2008 dan dokumen terkait lainnya), maka Auditor Kepala/Ketua Tim meminta pelaku agribisnis/produsen benih (pemohon) untuk melengkapi. Bila kekurangan unsur-unsur yang dimaksud telah dipenuhi/dilengkapi, maka dapat dilanjutkan asesmen lapang oleh tim asesmen LSSM BTPH. Jika diperlukan dapat dilakukan penyaksian asesmen oleh KAN. Laporan hasil asesmen dibuat oleh tim asesmen. Manajer Teknis menyerahkan laporan asesmen kepada ke Governing Board untuk dilakukan pengkajian. Governing board mengkaji laporan hasil asesmen. Berdasarkan hasil kajian laporan hasil asesmen, maka Governing Board akan memberikan pertimbangan hasil kajian tersebut kepada Ketua LSSM BTPH. Berdasarkan pertimbangan hasil kajian tersebut, maka Ketua LSSM BTPH akan memutuskan sertifikasi sistem manajemen mutu sebagai berikut :

2.

3. 4. 5.

6.

7.

8.

9. 10. 11. 12.

13.

Apabila memenuhi kriteria sertifikasi sistem manajemen mutu, kemudian LSSM BTPH
menetapkan pemberian sertifikat sertifikasi sistem manajemen mutu

Apabila tidak memenuhi kriteria sertifikasi sistem mutu, LSSM BTPH tidak akan
akan memberikan sertifikat sertifikasi sistem manajemen mutu.

21 | P a g e

STRUKTUR ORGANISASI LSSM BTPH

Governing Board

Ketua LSSM BTPH

Manajer Mutu

Manajer Teknis

Manajer Administrasi

Deputy Manajer Mutu

Deputy Manajer Teknis

Deputy Manajer Administrasi

Auditor

22 | P a g e