Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Fribroadenoma mamae adalah neoplasma jinak yang paling sering terjadi pada wanita muda, umumnya 20 tahun pertama setelah pubertas. Tumor ini ternyata lebih sering terjadi pada wanita kulit hitam dan terjadi pada umur yang lebih muda. Tumor multiple ditemukan pada 10-15% pasien. Fibroadenoma merupakan tumor jinak yang memperlihatkan adanya proses hyperplasia atau proliferatif pada satu unit ductus terminalis; perkambangannya dianggap suatu kelainan dari perkembangan normal. Penyebab tumor ini tidak diketahui. Sekitar 10% fibroadenoma menghilang mendadak tiap tahunnya dan kebanyakan berhenti bertumbuh setelah mencapai ukuran 2-3 cm. Fibroadenoma yang sering ditemukan berbentuk bundar atau oval, tunggal, relative mobile, dan tidak nyeri. Massa berukuran diameter 1-5cm. Biasanya ditemukan secara tidak sengaja. Diagnosis klinis pada pasien muda biasanya tidak sulit ditegakkan. Pada wanita diatas umur 30 tahun, tumor fibrocystic dan karsinoma payudara perlu dipertimbangkan. Kista dapat diidentifikasi dengan aspirasi atau ultrasonography. Fibroadenoma tidak normal terjadi setelah menopause namun mungkin dapat muncul setelah pemberian terapi sulih hormone PEMBAHASAN Skenario 3 : Seorang perempuan usia 23 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan benjolan pada payudara kiri bagian atas dekat ketiak. Benjolan tersebut tidak nyeri dan dapat digerakkan . Pemeriksaan Fisik : TD :120/80 mmHg, Nadi : 80 x/menit, RR : 20x/ menit, suhu tubuh : 3,6 C Pada inspeksi : payudara kiri dan kanan simetris, letak dan bentuk papila mamae tampak normal, tidak tampak adanya lesi kulit. Palpasi : teraba massa disebelah lateral atas, diameter 2cm, kenyal, mobile, palpasi daerah leher dan ketiak: tidak teraba perbesaran KGB. Fibroadenoma mammae adalah suatu neoplasma jinak yang berbatas tegas, padat, berkapsul dan lesi payudara terlazim dalam wanita berusia dibawah 25 tahun, sebagian besar (80%) tunggal. Biasanya neoplasma tampil sebagai massa payudara mobil, lobulasi

tidak nyeritekan, kenyal seperti karet berukuran 1-4cm. Ia tergantung hormon dan bisa berfluktuasi dalamdiameter sebanyak 1 cm dibawah pengaruh estrogen haid normal, kehamilan, laktasi atau penggunaan kontrasepsi oral. Pertumbuhan bisa jelas selama kehamilan atau laktasi. Terapidengan biopsi eksisi dan harus dinasehatkan karena jarang regresi involusional. Penampilanmakroskopik berbeda dari tumor mammae apapun tepinya tajam dan permukaan potongannya putih keabu-abuan sampai merah muda dan homogen secara makroskopik. Secara histologi adasusunan lobus perikanalikuler yang mengandung stroma padat dan epitel proliferatif. Varian bisamemperlihatkan proliferasi epitel yang jelas dari kelenjar matang tak teratur yang dikemas padatdan epitel sekresi.Fibroadenoma mammae yang dikeluarkan selama laktasi cukup selular dan telahdikelirukan pada potongan beku dengan adenokarsinoma berdiferensiasi baik. Ahli patologi yangmemeriksa suatu fibroadenoma yang dikeluarkan selama kehamilan harus selalu di informasikan bahwa lesi berasal dari payudara laktasi.

ANAMNESA Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama penderita dapat berupa benjolan / massa di payudara, rasa sakit, keluar cairan dari puting susu, timbulnya kelainan kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, peau dorange), pembesaran kelenjar getah bening, atau tanda metastasis jauh. Perlu juga ditanyakan sejak berapa lama benjolan tersebut muncul. Cepat atau tidak membesar, dan disertai sakit atau tidak. Setiap kelainan pada payudara harus dipikirkan ganas sebelum dibuktikan tidak. Dalam anamnesis juga ditanyakan adanya faktor faktor risiko pada pasien, dan pengaruh siklus haid terhadap keluhan atau perubahan ukuran tumor.Untuk meminimalkan pengaruh hormon estrogen dan progesteron, sebaiknya pemeriksaan dilakukan kurang lebih 1 minggu dihitung dari hari pertama haid.Pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor dan
perubahan ukuran tumor; kawin atau tidak; jumlah anak, disusukan atau tidak; riwayat penyakit

kanker dalam keluarga; obat-obatan yang pernah dipakai terutama yang bersifat hormonal; apakah pernah operasi payudara dan obstetri-ginekologi. Hal berikut ini tergolong dalam faktor risiko tinggi kanker payudara yaitu keadaan-keadaan dimana kemungkinan seorang wanita mendapat kanker payudara lebih tinggi dari yang tidak mempunyai faktor tersebut yaitu: umur > 30 tahun anak pertama lahir pada usia ibu > 35 tahun (2x) tidak kawin (2-4x) menarche < 12 tahun (1,7-3,4x) menopause terlambat > 55 tahun (2,5-5x) pernah operasi tumor jinak payudara (3-5x) mendapat terapi hormonal yang lama (2,5x) adanya kanker payudara kontralateral (3-9x) operasi ginekologi (3-4x) radiasi dada (2-3x) riwayat keluarga

PEMERIKSAAN Pemeriksaan fisik payudara Pemeriksaan Payudara harus dilakukan secara baik dan halus, tidak boleh kerasdan kasar, apalagi bila ada dugaan keganasan, karena kemungkinan akan menyebabkan penyebaran. INSPEKSI Pasien duduk di muka pemeriksa dengan posisi sama tinggi dengan pemeriksa . Pertama kali posisi tangan pasien bebas di samping tubuhnya, kemudian tangan pasien pada posisi di pinggang. Perhatikan simetri payudara kiri dan kanan, kelainan puting susu, letak dan bentuk putingsusu, adakah retraksi puting susu, kelainan kulit, tanda-tanda radang, edem kulit sehinggamemberikan gambaran seperti kulit jeruk (peau dorange) yang berhubungan denganadanya kanker payudara.

PALPASI Dilakukan pada posisi pasien berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh merata diatas bidang dada, bila perlu bahu atau punggung dapat di ganjal dengan bantal kecil.

Palpasi dilakukan dengan jari 2,3, dan 4 pemeriksa dan dilakukan secara sistematis mulaidari iga 2 sampai ke inferior di iga 6 atau secara sentrifugal dari tepi ke sentral.

Periksa puting susu dengan memegang puting susu diantara ibu jari dan jari telunjuk pemeriksa, perhatikan adakah cairan yang keluar dari puting susu (nipple discharge)

PEMERIKSA MASSA PADA PAYUDARA Bila ditemukan massa pada payudara, perhatikan letaknya, ukurannya, bentuknya,konsistensinya, adakah nyeri tekan atau tidak, apakah bebas atau terfiksir baik pada kulitmaupun pada kulit maupun pada dasar dan apakah ada pembesaran kelenjar getah beningregional.

PEMERIKSAAN KGB AXILA Dilakukan pada posisi pasien duduk, karena pada posisi ini fosa aksilaris menghadapke bawah sehingga mudah diperiksa dan akan lebih banyak kelenjar yang dapatdicapai. Lengan pasien pada sisi aksila yang akan diperiksa diletakkan pada lengan pemeriksasisi yang sama, kemudian pemeriksa melakukan palpasi aksila tersebut dengan tangankontralateral. Palpasi kelenjar getah bening mamaria eksterna di bagian anterior dan ditepi bawahM.Pektoralis mayor, kelenjar getah bening sentral di pusat aksila, dan kelenjar getah bening apikal diujung atas fossa aksilaris. Nilai jumlah kelenjar, ukuran, konsistensi, terfiksir atau tidak. Adakah nyeri tekanatau tidak. Selain KGB aksila, juga harus diperiksa KGB supra dan infraklavikula

PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI Terbukti 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara dapat bertahanhidup lebih dari lima tahun setelah terdiagnosis sehingga banyak dokter yang merekomendasikanagar para wanita menjalani sadari (periksa payudara sendiri saat menstruasi pada hari ke 7sampai dengan hari ke 10 setelah hari pertama haid) di rumah secara rutin dan menyarankandilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan pada usia 20 tahun atau lebih. Bagi wanita usia lebih dari 30tahun dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri maupun ke bidan atau dokter untuk setiaptahunnya.Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin danmelihat perubahan bentuk payudara dengan cara berbaring.Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin danmelihat perubahan bentuk payudara dengan cara berbaring. 1) 2) Melihat Perubahan Di Hadapan Cermin. Lihat pada cermin , bentuk dan keseimbangan bentuk payudara (simetris atau tidak).

Cara melakukan: Tahap 1 Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan puting susu, serta kulit payudaradidepan kaca. Sambil berdiri tegak depan cermin, posisi kedua lengan lurus ke bawah disamping badan. Tahap 2

Periksa payudara dengan tangan diangkat di atas kepala. Dengan maksud untuk melihat retraksikulit atau perlekatan tumor terhadap otot atau fascia dibawahnya. Tahap 3

Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan disamping kanan dan kiri. Miringkan badan kekanan dan kiri untuk melihat perubahan pada payudara

Tahap 4

Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak pinggang/ tangan menekan pingguldimaksudkan untuk menegangkan otot di daerah axilla.

Langkah-langkah dalam pemeriksaan payudara sendiri SADARI

Penunjang Tujuannya untuk diagnostik, antara lain : 1. Pemeriksaan laboratorium Pada pasien FAM, biasanya ditemukan adanya peningkatan LED, serum alkali posfatase meningkat dan hipercalsemia 2. Mammografi Apabila adanya proses keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan aerola, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang glandula mamae. Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor payudara yang secara palpasi tidak teraba, jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Pemeriksaan dengan mammografi

mempunyai ketepatan diagnosis sekitar 83-95 %. Mammografi merupakan indikasi pemeriksaan pada wanita yang memiliki tanda-tanda atau gejala kanker payudara. Namun cara ini kurang praktis dan biayanya relatif mahal, dan tidak dianjurkan untuk usia 30 tahun ke bawah. Pada pemeriksaan mammogram, fibroadenoma dapat tersamarkan dan mungkin terlihat seperti suatu massa bundar atau oval dengan batas yang kurang tegas dengan ukuran 4 hingga 100 mm. Biasanya tumor mengandung kalsifikasi yang kasar yang menandakan adanya infark atau involusi. Kalsifikasi berguna untuk mendiagnosis massa ini, namun biasanya, kalsifikasi ini menyerupai suatu keganasan mikrokalsifikasi. 3. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik. Kista dibedakan dari lesi pada ultrasonografi, tapi metode ini tidak dapat mendeteksi mikrokalsifikasi. Aspirasi jarum lebih sederhana dan lebih murah untuk mendeteksi kista. Pemecahan paling baik untuk lesi meragukan yang tidak dapat teraba pada mamogram. 4. Xeromammografi Pemakaian belakangan ini atas teknik mammografi konvensional dan Xeromammografi menunjukkan modalitas utama yang digunakan untuk mendeteksi lesi samar yang tidak dapat dipalpasi 5. MSCT SCAN Merupakan low dose CT, dimana radiasinya sama seperti mammografi 2 views. Mendeteksi mikrokalsifikasi dan lesi stelata. 6. PET Merupakan FDG (F18-2deoxy-2fluoro-Dglucose) tracer dengan cara kerja mendeteksi glycolisis yang meningkat pada tumor dibanding normal. Pemeriksaan ini kurang sensitif dan memiliki spatial resolution rendah serta radiation exposure yang tinggi. 7. MRI MRI memiliki sifat akurat dan memiliki sensitivitas yang tinggi.MRI lebih efektif daripada mammography sebagai screening pada wanita < 50 tahun yang memiliki risiko tinggi terhadap ca mammae yang terdapat riwayat keluarga. DIAGNOSIS Working diagnosis Fibroadenoma dapat didiagnosis dengan tiga cara, yaitu dengan pemeriksaan fisik (phisycal examination), dengan mammography atau ultrasound, dengan Fine Needle

AspirationCytology (FNAC).Pada pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa benjolan yang ada dengan palpasi padadaerah tersebut, dari palpasi itu dapat diketahui apakah mobil atau tidak, kenyal atau keras,dll.Mammography digunakan untuk membantu diagnosis, mammography sangat berguna untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua sekitar 60 atau 70 tahun, sedangkan pada wanita usia mudatidak digunakan mammography, sebagai gantinya digunakan ultrasound, hal ini karenafibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik bila menggunakanmammography.Pada FNAC kita akan mengambil sel dari fibroadenoma dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut kita dapat memperolehsel yang terdapat pada fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dibawah mikroskop tumor tersebut tampak seperti berikut : a.Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-lobus; b. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler)c. Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek uniform. Different diagnosis Penyakit
A. Fibrokistik Payudara

Penjelasan
Perubahan nonproliferatif Ditandai dengan peningkatan stroma fibrosa disertai oleh dilatasiduktus dan pembentukan kista dengan berbagai ukuran. Stromamengelilingi semua bentuk kista, terdiri atas jaringan fibrosayang kehilangan gambaran miksomatosa. Gejala : pembengkakan dan nyeri tekan payudara menjelangmenstruasi, teraba massa yang bergerak bebas, terasa granularitas pasa jaringan payudara, dan kadang-kadang keluar cairan yangtidak

berdarah dari puting

B. Kista Payudara

Kista kecil yang terbentuk dari hasil lobus dan bersatu kemudian membentuk kista yang besar dan berisi cairan.

Kista payudara paling banyak dijumpai pada wanita berusia 30-an, 40-an, dan 50an, dengan puncaknya tepat sebelum menopause.

C. Tumor Filoides

Kista licin, bisa digerakkan, berbatas tegasdan kadang nyeri tekan. Tumor ini kecil tetapi sebagian besar tumbuh hingga berukuran besar, mungkin masif sehingga payudara tampak membesar.

Sebagian mengalami lobulasi dan menjadi kistik, karena pada potongan memperlihatkan celah mirip daun, tumor ini disebuttumor filoides.

Perubahan yang paling merugikan adalah peningkatan selularitasstroma disertai anaplasia dan aktivitas mitotik yang tinggi,disertai oleh peningkatan pesat ukuran, biasanya dengan invasi jaringannya oleh stroma maligna.

D. Penyakit Paget pada putting

Keganasan yang tumbuh keluar sepanjang duktus pada puting,yang berasal dari duktus yang lebih dalam atau kanker duktusinvasif

Tanda-tanda: rasa gatal, panas, keluarnya rabas, perdarahan, ataukombinasi diantaranya pada puting.

Karsinoma yang mendasarinya tersebut dapat teraba hanya pada50%-60% pasien. Sel-sel paget dari tumor yang lebih dalam menginvasi epidermis puting, menyebabkan krusta, dan tampak seperti eksim.

E. Abses Payudara

Infeksi-infeksi bakterial sering terjadi pada pascapartum semasaawal laktasi jika organisme berhasil masuk dan mencapai jaringan payudara melalui fisura pada puting. Organisme yang paling sering adalah Stafilokokus aureus

Payudara menjadi merah, panas jika disentuh, membengkak, dannyeri tekan. Gejala-gejalanya berupa demam tinggi, menggil, dan malaise.

ETIOLOGI Merupakan penyakit payudara tersering kedua yang menyebabkan benjolan di payudara.Tersering pada usia antara 20-35 tahun, fibroadenoma mammae jarang terdapat pada pada wanitasetelah menopause. Lesi-lesi ini dapat tumbuh lambat selama kehamilan. EPIDEMIOLOGI Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia sekitar remaja atau sekitar 20 tahun.Tumor ini lebih sering dan cenderung terjadi pada umur lebih awal pada kulit hitam dibanding kulit putih atau oriental. Tumor multiple ditemukan pada 1015% pasien. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan

laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya.4 PATOFISIOLOGI Belum ada patogenesis yang pasti dari fibroadenoma tetapi dapat dikaitkan denganrangsangan hormon estrogen yang tinggi. Pada masa adolesens, fibroadenoma mammae bisaterdapat dalam ukuran yang besar. Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasiatau menjelang menopause, saat rangsang estrogen yang tinggi. Penimbunan mutasi merupakan pemicu munculnya tumor. Penimbunan mutasi di jaringan fibrosa dan jaringan epitel dapat menyebabkan proliferasi sel dan hyperplasia yang abnormal sehingga akan tampak tumor yang membentuk lobus - lobus hal ini dikarenakan terjadi gangguan pada nukleus sel yang menyebabkan sel kehilangan fungsi deferensiasi yang disebut anaplasia. Dengan rangsangan estrogen fibroadenoma mamae ukurannya akan lebih meningkat hal ini terlihat saat menstruasi dan hamil. Nyeri pada payudara disebabkan karena ukuran dan tempat pertumbuhan fibroadenoma mamae.6

Gambar 1. Lokasi terjadinya patologi Fibroadenoma pada payudara ANATOMI PAYUDARA Gambaran umum Mammae adalah kelenjar kulit yang dimodifikasi, terletak di bagian anterior dan termasuk bagian dari lateral thoraks. Kelenjar susu yang bentuknya bulat ini terletak di fasia pektoralis. Mammae melebar ke arah superior dari iga dua, inferior dari kartilago kosta enam dan medial dari sternum serta lateral linea midaksilaris. Kompleks nipple-areola terletak

diantara kosta empat dan lima. Terdapat Langer lines pada kompleks nipple-areola yang melebar ke luar secara sirkumfranse (melingkar). Langer lines ini signifikan secara klinis kepada ahli bedah dalam menentukan area insisi pada biopsi mammae.Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari lingkarannya ke arah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap mammae terdiri dari 15-20 lobus kelenjar yang setiap lobus terdiri dari beberapa lobulus. Setiap lobulus kelenjar masing-masing mempunyai saluran ke papila mamma yang disebut duktus laktiferus (diameter 2-4 mm). Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi bentuk untuk mammae. Payudara dibagi menjadi empat kuadran. Empat kuadran yang dihasilkannya adalah (supero lateral), (supero medial), (infero lateral), dan bawah dalam (infro medial). Kuadran superolateral ini mengandung masa jaringan kelenjar mammae yang lebih banyak atau langsung di belakang areola dan sering menjadi tempat neoplasia. Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Jaringan kelenjar, duktus dan jaringan penyokong Jaringan kelenjar terdiri dari 15-25 lobus yang tersebar radier mengelilingi puting. Tiap-tiap segmen mempunyai satu aliran yang akan berdilatasi, sampai di belakang areola. Pada retro areolar ini , duktus yang berdilatasi akan menjadi lembut kecuali selama masa menyusui, ia akan mengalami distensi. Masing-masing duktus ini tak berisi dan bermuara ke duktus eksretorius. Tiap lobus dibagi menjadi 50-57 lobulus, yang bermuara ke dalam suatu duktus yang mengalirkan isinya ke dalam duktus eksretorius lobus itu. Setiap loblus terdiri atas alveolus yang bermuara ke duktus laktiferus (saluran airu susu) yang bergabung dengan duktus-duktus lainnya untuk membentuk saluran yang lebih besr dan berakhir dalam saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekati puting, membesar dan menyatu menjadi sinus laktiferus kemudian saluran-saluran itu tersebut menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di atas permukaannya. Di antara kelenjar susu dan fasia pektrolis, juga di antara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan payudara yang bersatu dengan lapisan

luar fasia superfisialis yang berfugsi sebagai struktur penyokong dan memberi rangka untuk payudara. a. Vaskularisasi Vaskularisasi mammae terutama berasal dari (1) cabang arteri mammaria interna; (2) cabang lateral dari arteri interkostalis posterior; dan (3) cabang dari arteri aksillaris termasuk arteri torakalis lateralis, dan cabang pectoral dari arteri torakoakromial. b. Aliran limfa Aliran limfe dari mammae kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis. Di aksila terdapat rata-rata 50 (berkisar dari 10 sampai 90) buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis. Enam kelompok kelenjar limf pada aksila yang diakui oleh ahli bedah adalah (1) kelompok vena aksila (lateral); (2) kelompok mammaria eksternal (anterior atau pectoral); (3) kelompok skapular (posterior atau subskapular); (4) kelompok sentral; (5) kelompok subklavikal (apical); dan (6) kelompok interpektoral (Rotters node). Kelenjar limfe regional dibagi atas : 1. Aksila (ipsilateral) : kelenjar interpektoral (Rotters) dan kelenjar disepanjang vena aksila dan dibagi menjadi 3 tahapan berdasarkan hubungannya dengan muskulus pektoralis minor : a. Tahap I (low-axilla) : kelenjar limf terletak lateral dari muskulus pektoralis minor, terdiri dari kelompok kelenjar limf vena aksila, mammaria eksterna dan scapular. b. Tahap II (mid-axilla): kelenjar limf terletak superficial atau profunda dari muskulus pektoralis minor, terdiri dari kelompok lelenjar limf sentral dan interpektoral. c. Tahap III (apical axilla) : kelenjar limf terletak medial atau batasan atas dari muskulus pektoralis minor, terdiri dari kelompok lelenjar limf subklavikular. 2. Mammaria interna (ipsilateral) : kelenjar limf pada sela iga sepanjang sternum pada fasia endothorasik. 3. Supraklavikular : kelenjar limf pada fossa supraklavikular, segitiga yang dibentuk dari muskulus omohyoid dan tendon (batas lateral dan superior), vena jugularis interna (batas medial) dan klavikula serta vena subklavia (batas bawah). c. Innervasi

Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan nervus interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi oleh saraf simpatik. Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni nervus interkostobrakialis, nervus kutaneus brakialis medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering terjadi mati rasa pada daerah tersebut. Saraf nervus pektoralis yang menginervasi muskulus pektoralis mayor dan minor, nervus torakodorsalis yang menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan nervus torakalis longus yang menginervasi muskulus serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.3 GEJALA KLINIK Fibroadenoma mammae biasanya tidak menimbulkan gejala dan ditemukan secarakebetulan. Pada 10-15% kasus, fibroadenoma mammae bersifat majemuk. Tumornya bersifatkeras, kenyal, dan tidak nyeri tekan, bulat, berbatas tegas dan pada palpasi terkesan bahwa iamudah berlari-lari. Pemikiran kita yang pertama, adalah untuk membedakan fibroadenomadengan kanker. Diperlukan eksisi tumor, atau memastikan diagnosa dengan aspirasi jarum halus.Resiko utama adalah, bila fibroadenoma yang tidak tereksisi bertumbuh dan menimbulkan nyeri,khususnya selama kehamilan. Umumnya tidak ditemukan adanya kanker yang tumbuhmenginvasi fibroadenoma, dan pula sangat jarang (satu per seribu) untuk menemukan kanker yang berasal dari jaringan fibroid (sebagian besar karena kanker in situ). Karena resiko kanker meningkat menjadi 1 dalam 30, kemungkinan adanya kanker pada fibroadenoma menjadi lebihsedikit, dari pada tidak adanya fibroadenoma. PENATALAKSANAAN Ada beberapa hal yang harus di perhatikan : Ukuran Benjolan Ada/tidak nya rasa nyeri Usia pasien Hasil biopsi dan pemeriksaan Patologi Anatomi

Medika Mentosa Hanya diberikan jika pasien mengeluh gejala-gejala simptomatik, seperti : Demam : Antipiretik Nyeri : Analgesik Bila dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon estrogen, bisa diberikan : Anti-Estrogen untuk menurunkan kadar estrogen yang berlebihan. Non Medika Mentosa Karena fibroadenoma mammae adalah tumor jinak maka pengobatan yang dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu diperhatikan adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor fisik dan psikologi pasien. Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada pasien maka diperlukan pengangkatan. Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan. KOMPLIKASI Jika benjolan dibiarkan, mungkin nantinya akan perlu dibuang apabila benjolan tersebut berubah, makin besar, atau tidak mau hilang. Pada kasus yang jarang sekali, benjolan tersebut dapat berkembang menjadi kanker payudara.6 PREVENTIF Pencegahan tumor mammae secara umum dibagi menjadi : 1. Pencegahan Primer - Promosi kesehatan untuk orang sehat untuk mewaspadai dan menghindari berbagai faktor resiko. - Melaksanakan pola hidup sehat - Melakukan pemeriksaan SADARI ( Pemeriksaan Payudara Sendiri ), dengan segera laporkan ke dokter atau tenaga medis lain kalau menemukan benjolan atau tanda-tanda tumor. Langkah-langkah pemeriksaan SADARI:

2.

Pencegahan Sekunder Dilakukan untuk individu dengan resiko, dilakukan dengan : Deteksi dini skrinning dengan mamografi tanpa resiko : setiap 2 tahun lakukan pemeriksaan resiko : setiap tahun lakukan pemeriksaan Lakukan pemeriksaan SADARI1,2

PROGNOSIS Prognosis FAM biasanya baik, walaupun pasien FAM memiliki resiko lebih besar untuk mengidap kanker payudara nantinya. Benjolan yang tidak dbuang harus diperiksakan secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA 1. Norwitz Errol R, Schorge John O. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta. Erlangga. 2008; 35. 2. De Jong Wim, Sjamsuhidajat R, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2005. 3. Ramli HM; Kanker Payudara. Dalam : Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta. Binarupa Aksara. 1995; p 342-62. 4. Sabiston C David jr. Buku Ajar Bedah. Edisi II. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 1995; p. 383-384. 5. Anderson Silvia, McCarty Lorraine, et al. Patofisiologi. Edisi VI. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2006; p. 1302. 6. Benson Ralph C, Pernoll Martin L. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Edisi IX. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2009; 487-91.