Anda di halaman 1dari 158

LEMBAR PERSETUJUAN Makalah ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Lansia di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar

Jakarta Barat ini telah diterima dan disetujui untuk memenuhi salah satu tugas Mata Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta, 23 April 2011 Koordinator MA. Gerontik

Ns. Lastri Yanti, S. Kep. NIP. 05008

Mengetahui, Direktur Akper Hang Tuah Jakarta

Siti Narsih, S. Kep. Letkol Laut (K/W) Nrp. 8489/P

LEMBAR PENGESAHAN Makalah ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Lansia di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Jakarta Barat ini telah dikoreksi dan di setujui untuk memenuhi salah satu tugas Mata Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta, 23 April 2011

Pembimbing I

Ns. Sugeng Haryono, S. Kep. NIP. 05011

Pembimbing II

Handayani Sitorus, S. Kp. NIP. 05023

LAPORAN PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN GERONTIK MAHASISWA AKPER HANG TUAH PADA WARGA BINA SOSIAL ( WBS ) : PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR JAKARTA BARAT

DI SUSUN OLEH : ANGKATAN XIII

AKADEMI KEPERAWATAN HANG TUAH JAKARTA TA. 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan laporan praktek klinik keperawatan gerontik mahasiswa Akper Hang Tuah pada warga bina sosial ( WBS ) : pelaksanaan asuhan keperawatan pada lansia di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Jakarta Barat. Laporan memenuhi tugas praktik mata ajar keperawatan gerontik. Kelompok banyak mendapat dukungan, arahan, bimbingan, dan doa dari berbagai pihak dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu dalam kesempatan ini ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Siti Mortofingah S.AP selaku Kepala Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Jakarta Barat 2. Letkol Laut (K/W) Siti Narsih, S. Kep. Selaku Direkur Akper Hang Tuah Jakarta dan dosen pembimbing. 3. Yana Setiawan, S.KM, S. Kep. Selaku Pudir I Akper Hang Tuah Jakarta. 4. Ns. Sugeng Haryono, S. Kep. Selaku Pudir III Akper Hang Tuah Jakarta dan dosen pembimbing 5. Ns. Lastri Yanti, S. Kep. Selaku Koordinator mata ajar gerontik dan dosen pembimbing 6. Ns. Eny Susyanti, S. Kep. Selaku dosen pembimbing. 7. Handayani Sitorus, S. Kp. Selaku dosen pembimbing 8. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik materi maupun support sistem serta teman-teman yang telah bekerja sama dengan baik dalam pembuatan makalah ini. ini disusun untuk

Kelompok menyadarai keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Jakarta,

April 2011

Kelompok

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERSETUJUAN

KATA PENGANTAR.......................................................................................................

DAFTAR ISI.....................................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang......................................................................................................


ii

B. Tujuan Penulisan................................................................................................... C. Ruang Lingkup...................................................................................................... D. Metode Penulisan.................................................................................................. E. Sistematika Penulisan............................................................................................

2 3 3 3

BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Gerontik......................................................................................... 5

BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian............................................................................................................. 29 1. Pengkajian Fisik.............................................................................................. 29 2. Pengkajian Biologis......................................................................................... 33 3. Psikologis WBS............................................................................................... 36 B. Data Fokus............................................................................................................. 39 C. Analisa Data.......................................................................................................... 40 D. Diagnosa Keperawatan.......................................................................................... 43 E. Intervensi Keperawatan......................................................................................... 44 F. Implementasi Keperawatan................................................................................... 47 G. Evaluasi Keperawatan........................................................................................... 53

iii

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian............................................................................................................. 58 B. Masalah Keperawatan........................................................................................... 60 C. Rencana Keperawatan........................................................................................... 61 D. Pelaksanaan Keperawatan..................................................................................... 61 E. Evaluasi Keperawatan........................................................................................... 62

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan............................................................................................................ 63 B. Saran...................................................................................................................... 63

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tua adalah sebuah proses kehidupan yang setiap orang pasti akan melaluinya yaitu sebuah rangkaian dari hidup seseorang dimana terjadi penurunan faal tubuh. (Suzanne C. Smeltzer. 2000. Hal.68). Proses menua merupakan sebuah proses yang terus menerus secara almiah terjadi. Ini merupakan proses perkembangan yang didalamnya tidak lepas dari hasil kerja growth hormone dan tiroid hormone. Kedua-duanya sama saling berpengaruh dalam proses perkembangan hidup seseorang. Saat tua growth (GH) dan tiroid hormone ditekan oleh pusat hormonal yaitu hipotalamus sehingga seluruh organ yang berhubungan dengan hormon tersebut mengalami kemuduran fungsi (Constantinides,1994. Hal. 74). Jumlah lanjut usia didunia pada tahun 2011 diperkirakan sekitar 600 juta orang, dimana dua diantara tiga lansia akan hidup dan bertempat tinggal di negara-negara yang sedang berkembang. Sedangkan jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan 7,28 % dari seluruh populasi dan pada tahun 2011 diperkirakan menjadi 11,34 %. Didalam Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar (RPLUJ) didapatkan data jumlah lansia 88 orang. Para lanjut usia yang ada di RPLU Jelambar ini sebagian besar berasal dari Panti Bina Laras Cipayung, petugas Satpol PP yang diperoleh dari jalanan dan sebagian kecil atas kemauan dari keluarga dan lansia itu sendiri. Para lansia yang berada di RPLU Jelambar sebagian besar memiliki masalah kesehatan yang dikarenakan proses penuaan. Untuk mengetahui perkembangan kesehatan atau adanya kelainan dari fungsi tubuh, oleh karena itu diadakan pemeriksaan rutin setiap bulannya dari puskesmas setempat disertai dengan pemberian
1

obat sesuai dengan keluhan para lansia. Pembinaan fisik dan spiritual serta keterampilan telah dilakukan di RPLU Jelambar ini.

Para lanjut usia dihari tuanya sering mengalami hidup sendiri, baik tanpa keluhan ataupun dengan keluhan seperti lansia sering terlihat menyendiri, lansia mengatakan kesepian karena keluarganya sudah tidak memperdulikannya lagi. Masalah yang sering dialami para lanjut usia di RPLU Jelambar ini adalah masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan proses penuaan. Oleh karena itu kita sebagai perawat harus mampu mengaplikasikan peran kita yaitu peran promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus : 1. Tujuan Umum Merupakan pertanggungjawaban mahasiswa/i Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta Angkatan XIII dalam pelaksanaan praktek Keperawatan Gerontik di Jelambar. 2. Tujuan Khusus Mahasiswa/i mampu: a. Konsep dasar: 1) Konsep dasar gerontologi: a) Memahami pengertian gerontologi b) Memahami teori-teori proses menua c) Memahami gejala- gejala kemunduran fisik pada lansia d) Memahami konsep-konsep menua sehat

e) Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan. f) Memahami batasan usia lanjut. g) Memahami perubahan yang terjadi pada Lanjut Usia 2) Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia a) Memahami pengertian, perubahan sistem muskuloskeletal b) Memahami masalah yang terjadi pada lansia b. Asuhan keperawatan 1) Pengkajian 2) Diagnosa keperawatan 3) Perencanaan keperawatan 4) Pelaksanaan keperawatan 5) Evaluasi keperawatan

C. Ruang Lingkup Penulisan Adapun ruang lingkup penulisan pada makalah ini yaitu hanya membahas tentang asuhan keperawatan pada lansia di Rumah perlindungan Lanjut Usia, Jelambar Jakarta Barat. Dari tanggal 28 Maret 2011 s/d 21 April 2011.

D. Metode Penulisan Metode yang dilakukan dalam menyusun makalah ini adalah :

1. Metode deskriptif yaitu studi kasus dimana penulis mengambil data-data mengenai para lansia yang ada di RPLU Jelambar dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang dituangkan dalam bentuk naratif. Dalam pengumpulan data, tekhnik yang digunakan yaitu dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Sumber data yang digunakan adalah data primer didapat dari klien langsung, data skunder diperoleh rekam medik dan tenaga kesehatan. 2. Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku dan referensi yang berhubungan dengan keperawatan gerontik.

E. Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan & sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan teori terdiri dari: Konsep Dasar meliputi Pengertian, Teori-teori proses menua, Gejala-gejala kemunduran fisik pada lansia, konsep-konsep menua sehat, Faktor-faktor yang mempengaruhi proses menua, batasan usia lanjut, perubahan- perubahan yang terjadi pada usia lanjut, perubahan sistem muskuloskletal pada lansia. Proses asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi. BAB III : Tinjauan kasus, terdiri dari : Persiapan, Pengkajian, Analisa data, Prioritas masalah, Diagnosa keperawatan, Rencana keperawatan, Implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan. BAB IV : Pembahasan, terdiri dari Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan,

Pelaksanaan dan Evaluasi keperawatan. BAB V : Penutup, terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar 1. Konsep Dasar Gerontik a. Pengertian Gerontologi yaitu ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua (Koizer, 1987. Hal.56). Gerontologi yaitu ilmu yang mempelajari ilmu mengenai proses penuaan dan meliputi aspek biologi, psikologi, dan sosiologi ( Suzanne C. Smeltzer. Hal.82). Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit pada lanjut usia (kozier,1987. Hal. 43). Geriatrik adalah ilmu yang mempelajari, mengenai usia, meliputi fisiologi, anatomis, penatalaksanaan usia muda (Suzanne. C smelzer, 2001. Hal.52). Aging process (proses penuaan) adalah suatu proses menghilangnya secara berlahan- lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termaksud infeksi) dan memperbaikin kerusakan yang diderita (Constantinides,1994. Hal. 42).

b. Teori-teori proses menua 1) Teori Genetic Clock


7

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesiesspesies tertentu. Tiap-tiap spesies mempunyai inti sel, inti sel diumpamakan suatu jam genetik yang telah diputar menurut replikasi tertentu dimana jam ini akan menghitung mitos dan menghentikan replikasi tertentu.

Konsep-konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa ini mirip cara menerapkan mengapa pada beberapa proses spesies terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang nyata. Pengontrolan genetik umum dikontrol dalam tingkat seluler, vitro yang menunjukan bahwa hubungan antara kemampuan membelah diri dalam kultur dengan umur spesies. Untuk membuktikan apakah yang mengontrol replikasi tersebut nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleuslah yang menentukan jumlsh replikasi, kemudian menua dan mati, bukan sitoplasma. (Suhana, 1994. Hal. 34)

2) Mutasi Somatik (Teori Error Catastophe) Hal penting lain yang perlu diperhatikan dan menganalisa faktor-faktor penyebab terjadinya mutasi somatik sudah minim diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek, sebaliknya menghindari tekanannya radiasi tercemar zat kimia yang bersifat karsinogenik (toksik dapat memperpanjang umur) menurut teori ini terjadi mutasi yang progresif pada sel somatic akan menyebabkan terjadinya penurunan fungsional sel tersebut. Menurut hipotesis Error Catos Hophe menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah, sebagai reaksi dan kesalahan-kesalahan lain yang berkembang secara ekspensial dan akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah akan mengurangi fungsi sel.

3) Kerusakan akibat radikal bebas Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas dan didalam tubuh jika fagosit pecah dan sebagai produk sampingan didalam rantai pernafasan dalam mitokondria (Oen, 1993). Tubuh sendiri sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menangkal radikal bebas dalam bentuk enzim-enzim. Radikal bebas

10

juga di netralkan menggunakan senyawa dan enzimatik, seperti vitamin C, Provitamin A, dan vitamin E. Walaupun telah ada sistem pangkal namun sebagian radikal bebas terbentuk sehingga proses prognosa terus terjadi, kerusakan organel semakin lama makin banyak akhirnya sel mati (Oen, 1993). 4) Rusaknya sistem imun tubuh Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translansi, dapat menyebabkan berkurangnya imun tubuh mengenai diri sendiri (self recognitive) jika mutasi somatik menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkan perubahan ilmiah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa (Goldstein, 1989). Sistem imun tubuh sendiri daya penyataannya mengalami penurunan pada proses menua, daya senangnya terdapat sel-sel kanker menjadi menurunkan sehingga sel kanker leluasa membelah. Inilah yang menyebabkan kanker meningkat sesuai dengan meningkatnya umur (Suhana, 1994).

5) Teori menua akibat metabolisme Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mr. key (1953) kepada seekor binatang yang intake kolomnnya akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur karena penurunan kalori berat badan antara lain disebakan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme, terjadinya penurunan pengeluran hormon yang merangsang proliferasi sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan, modifikasi cara hidup yang kurang gerak menjadi lebih banyak bergerak mungkin juga dapat meningkatkan umur panjang. Dari penyebab terjadinya proses penuaan ada beberapa peluang yang memungkinkan untuk memperlambat diantaranya mencegah meningkatnya radiasi bebas, manipulasi sistem imun tubuh, melalui metabolisme makanan.

11

6) Teori sosiologi tentang penuaan a) Teori pembebasan (Commings dan Hendry, 1961) mengemukakan bahwa individu lansia dengan menarik diri dari masyarakat. Pada saat yang sama dimana masyarakat menarik dukungan dari kelompok usianya mencapai normal dan kepuasan hidup yang tinggi. b) Teori (Hafighurst) mengemukakan bahwa kepuasan hidup pada individu lansia normal mencangkup memelihara gaya hidup aktif saat usia pertengahan. c) Teori keseimbangan (Athecly, 1989) menemukan bahwa penyesuaian yang berhasil pada usia tua tergangtung pada kemampuan individu untuk melanjutkan pola hidup sepanjang masa kehidupannya.

c. Gejala-gejala kemunduran fisik pada lansia 1) Kulit mulai mengkerut dan wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap. 2) Rambut kepala yang mulai memutih atau berubah. 3) Gigi mulai lepas dan ompong. 4) Mudah lelah dan jatuh. 5) Pengelihatan dan pendengaran semakin berkurang. 6) Gerakan menjadi lambat dan kurang lincah. Disamping itu, kemunduran kognitif sebagai berikut: 1) Suka lupa ingatan tidak berfungsi baik. 2) Ingat terhadap hal-hal dimasa muda lebih baik dari pada hal-hal baru. 3) Sering adanya diorentasi terhadap waktu, tempat dan personal.

12

4) Sulit menerima ide-ide baru.

d. Konsep-konsep Menua Sehat Konsep menua sehat oleh faktor-faktor antara lain: 1) Endogenic aging, yang dimulai cellular aging, lewat tissue dan anatomic aging kearah proses menuanya organ tubuh proses ini seperti jam terus berputar. 2) Eksogenic factor, yang dapat dibagi dalam sebab lingkungan ( environment ) dimana seorang hidup dan faktor sosial budaya yang paling tepat disebut gaya hidup ( like style ). Faktor eksogenik aging tadi, sekarang lebih dikenal dengan faktor resiko.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penuaan ( Kep. Gerontik, Wahyudi Nugroho, 2000 ). 1) Hereditas 2) Nutrisi 3) Status kesehatan 4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan 6) Stress.

f. Batasan lanjut usia 1) Menurut WHO, yaitu:

13

a) Usia pertengahan ( middle age ) b) Lanjut usia ( early ) c) Lanjut usia ( old ) d) Usia setengah tua ( very old )

: usia 45-49 th : antara usia 60-70th : antara usia 75-90 th : diatas usia 90 th

2) Menurut prof. Dr Sumiati Ahmad Muhammad. a) Masa bayi b) Masa pra sekolah c) Masa sekolah d) Masa pubertas : 0 1 tahun : 1 6 tahun : 5 10 tahun : 10 - 20 tahun

e) Masa setengah umur (prasenium) : 40 65 tahun f) Masa lansia (senium) : 65 tahun keatas

3) Menurut Pra Jasmandani ( psikolog UI ) Menanyakan lansia : merupakan kelanjutan usia dewasa, kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu; a) Fase inventus b) Fase vertilitas c) Fase praesenium d) Fase senium : antara usia 25 dan 40 tahun. : antara usia 40 dan 50 tahun. : antara usia 55 dan 65tahun. : antara usia 65tahun hingga tutup usia.

4) Menurut Prof. Dr Koesomanto Setyonegoro.

14

Lansia dikelompokkan menjadi : a) Elderly aduhood b) Middle years c) Geatric age d) Young old e) Old f) Very old : 18 atau 20-25 tahun. : 25-60 / 65 tahun. : lebih dari 65 / 70 tahun. : usia 70-75 tahun. : 75-80 tahun. : usia lebih dari 80 tahun.

5) Menurut Birren and Jenner ( 1977) membedakan antar usia biologis, usia psikologis dan usia sosial. a) Usia Biologik Yang menunjukan kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam keasaan hidup tidak mati. b) Usia Psikologi Yang menunjukan kepada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian- penyesuaian kepada situasai yang dihadapi.

c) Usia Sosial Yang menunjukan kepada peran- peran yang diharapkan/diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya.

6) Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut. a) Perubahan-perubahan fisik.

15

(1) Sel (a) Lebih sedikit jumlahnya. (b) Lebih besar ukurannya. (c) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya jumlah cairan intraseluler. (d) Menurunnya proporsi protein diotak, ginjal, darah dan hati. (e) Jumlah sel otak menurun. (f) Terganggunya mekanisme perbaikan sel. (g) Otak menjadi atropi beratnya berkurang 5 10 %.

(2) Sistem Persyarafan (a) Berat otak menurun 10 -20% (setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya ). (b) Cepatnya menurun hubungan persyaratan. (c) Lambatnya dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stress. (d) Mengecilnya syaraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive dengan perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan dingin. (e) Kurang sensitive terhadap sentuhan.

16

(3) Sistem pendengaran (a) Prebiaposis ( ganguan pada pendengaran ) hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada- nada yang tinggi suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 65 tahun. (b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. (c) Terjadinya penggumpalan serumen dapat mengeras karena meningkatkan keratin. (d) Pendengaran bertambah menurun pada lansia.

(4) Sistem penglihatan. Perubahan struktur jaringan dalam mata (a) Lensa cyrstalina Bentuk cakram biconuex berukuran berdiameter 9 mm dan tebal bag. Sentaral 4 mm. Susunan: i. Kapsul ii. Korteks iii. Nukleus Pada usia muda lensa tidak bernukleus pada usia 20 tahun. Nukleus mulai terbentuk semakin bertambah umur nukleus makin besar dan padat. Sedangkan volume lensa tetap sehingga bagian korteks makin menipis elastisitas lensa jadi berkurang indeks bias berubah (bias sinar jadi lemah) lensa yang mulai transparan mejadi keruh (skelerosis).

17

(b) Iris Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang badan mengalami oleh pigmentasi tampak ada bercak berwarna muda sampai putih. (c) Pupil Konstruksi mula-mula berdiameter 3 mm pada usia tua berdiameter 3 mm, pada usia tua mejadi 1 mm, reflek direk lemah. (d) Badan kaca ( vitreous ) Terjadi regenerasi konsistensi lebih encer ( synchisis) dapat menimbulkan keluhan photopsia ( melihat kelitan cahaya saat ada perubahan posisi bola mata) (e) Retina Terjadi degenerasi ( serile degeneration ) gambaran fundus mata mula-mula merah jingga cemerlang , menjadi suram dan ada jalurjalur berpigmen ( tygroid appearence) terkesan seperti kulit harimau jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga adaptasi gelap dan terang memanjang dan terjadi penyempitan lapang pandang.

(5) Sistem integumen Kulit adalah organ yang paling luas pada tubuh, mewakili kirakira 16 % dari berat badan orang dewasa. Kulit merupakan satusatunya organ yang dapat disentuh, digosok, dipijat, diregangkan, dan dicium. Kulit fleksibilitas ini, bersifat fleksibel dan tahan terhadap perubahansuatu jabatan tangan yang sederhana akan perubahan yang terjadi sepanjang kehidupan sehari-hari. Tanpa menimbulkan pengelupasan kulit akibat tekanan dan regangan. Karena

18

kulit dapat terlihat dengan sangat jelas, kulit tersebut bertindak sebagai suatu jendela terhadapa kematian seseorang. Walaupun benar bahwa tidak seorang pun meninggal karen kulit yang telah tua atau terjadi kegagalan kulit karena suatu diagnosis, pemahaman tentang bukti-bukti perubahan fisiologis pada kulit seiring peningkatan usia memberikan banyak informasi bagi perawat tentang klien lansia. Secara struktural, kulit adalah suatu organ kompleks yang terdiri dari epidermis, dermis, dan subkutis. Hal yang dikaitkan dengan penuaan adalah khususnya perubahan yang terlihat pada kulit seperti atropi, keriput, dan kulit yang kendur. Perubahan yang terlihat ini sangat bervariasi, tetapi pada prinsipnya terjadi karena hubungan antara penuaan intrinsik (alami) dan penuaan ekstrinsik (lingkungan). Secara fungsional, kulit memiliki berbagai kegunaan, dan kehadirannya sangat penting untuk bertahan hidup secara keseluruhan. Karena kulit mampu untuk melakukan sensasi, kulit dapat melindungi tubuh dari cedera dan serangan tiba-tiba dari lingkungan. Kulit yang utuh lebih jauh lagi dapat melindungi individu secara imunologis dengan cara mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh. Kulit memainkan suat peran utama dalam termoregulasi dan adaptasi terhadap lingkungan. Kulit juga bertindak sebagai organ ekskresi, sekresi, absorpsi, dan akumulasi. Akhirnya, kulit mewakili kontak pertama individu dengan orang yang lain secara sosial dan secara seksual. Bagaimana cara kita melihat diri sendiri cenderung untuk menentukan bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri dan merupakan suatu komponen penting dari harga diri dan konsep diri. (a) Penuaan Normal i. Stratum Korneum Lapisan paling luar dari epidermis, stratum korneum terutama tediri dari timbunan korneosit. Dengan peningkatan usia, jumlah keseluruhan sel-sel dan lapisan sel secara esensial tetap tidak berubah, tetapi kohesi sel mengalami penurunan. Waktu perbaikan lapisan sel menjadi lebih lambat, menghasilkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Penurunan kekohesivan sel dalam

19

hubungannya dengan penurunan penggantian sel berisiko terhadap lansia. Pelembab pada stratum korneum berkurang, tetapi status barier air tampaknya tetap terpelihara, yang berakibat pada penampilan kulit yang kasar dan kering. Kekasaran ini menyebabkan pemantulan cahaya menjadi tidak seimbang, yang menyebabkan pemantulan cahaya menjadi tidak seimbang, yang menyebabkan kulit kurang bercahaya yang sering dihubungkan dengan kemudaan dan kesehatan yang baik.

ii. Epidermis Epidermis mengalami perubahan ketebalan sangat sedikit seiring penuaan seseorang. Namun, terdapat perlambatan dalam proses perbaikan sel, jumlah sel basal yang lebih sedikit, dan penurunan jumlah dan kedalaman rete ridge. Rete ridge dibentuk oleh penonjolan epidermal dari lapisan basal yang mengarah ke bawah ke dalam dermis. Pendataran dari rete ridge tersebut mengurangi area kontak antara epidermis dan dermis, menyebabkan mudah terjadi pemisahan antara lapisan-lapisan kulit ini. Akibatnya adalah proses penyembuhan kulit yang rusak ini lambat dan merupakan predisposisi infeksi bagi individu tersebut. Kulit dapat mengelupas akibat penggunaan plester atau zat lain yang dapat menimbulkan gesekan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan suatu perekat yang tidak lebih kuta dari taut epidermal-dermal itu sendiri untuk mencegah atau meminimalkan cedera akibat penggunaan plester. Terjadi penurunan jumlah melanosi seiring penuaan, dan sel yang tersisa mungkin tidak dapat berfungsi secara normal. Rambut mungkin tidak dapat berfungsi secara normal. Rambut mungkin menjadi beruban, kulit mungkin mengalami pigmentasi yang tidak

20

merata, dan perlindungan pigmen dari sinar ultraviolet (UV) mungkin menurun.

Penurunan keseluruhan

kompetensi

imun

merupakan sel

hasil

dari seiring

penurunan

jumlah

Langerhans

pertambahan usia seseorang. Karena imunitasnya menurun, respons lansia terhadap pemeriksaan kulit dengan alergen-alergen memungkinkan yang dikurangi, sering memperlihatkan lambatnya reaksi terhadap pemeriksaan kulit tersebut. Reaksi tersebut mungkin juga sulit untuk dibedakan sehingga menuntut pengkajian yang lebih cermat. Kerusakan struktur nukleus keratinosit dapat juga dilihat pada kulit yang mengalami penuaan. Gangguan ini mungkin mencerminkan suatu perubahan kecepatan proliferasi sel dan mungkin turut berperan terhadap pertumbuhan sel yang berlebihan, yang dapat menjelaskan kecenderungan lansia untuk mengalami neoplasia dan pertumbuhan perkutan seperti keratosis soboroik dan lesi kulit papilomatosa (akrokordon).

iii. Dermis Pada saat individu mengalami penuaan, volume dermal mengalami penurunan, dermis menjadi tipis, dan jumlah sel biasanya menurun. Konsekuensi fisiologis dari perubahan ini termasuk penundaan atau penekanan timbulnya penyakit pada kulit, penutupan dan penyembuhan luka lambat, penurunan termoregulasi, penurunan respons inflamasi, dan penurunan absorpsi kulit terhadap zat-zat topikal.

21

Perubahan degeneratif dalam jaringan elastis dimulai sekitar usia 30 tahun. Serabut elastis dan jaringan kolagen secara bertahap dihancurkan oleh enzim-enzim, menghasilkan perubahan dalam penglihatan karena adanya kantung dan pengeriputan pada daerah sekitar mata. Pada saat elastisitas menurun, dermis meningkatkan kekuatan peregangannya; hasilnya adalah lebih sedikit melentur ketika kulit mengalami tekanan. Organisasi kolagen menjadi tidak teratur dan turgor kulit hilang. Vaskularitas juga menurun, dengan lebih sedikit pembuluh darah kecil yang umumnya terdapat pada dermis yang memiliki vaskuler sangat tinggi. Dermis berisi lebih sedikit fibroblas, makrofag, dan sel batang. Secara visual kulit tampak pucat dan kurang mampu untuk melakukan termoregulasi. Lansia oleh karena hal tersebut berisiko tinggi untuk mengalami hipertermia atau hipotermia.

iv. Subkutis Secara umum, lapisan jaringan subkutan mengalami

penipisan seiring dengan peningkatan usia. Hal ini turut berperan lebih lanjut terhadap kelemahan kulit dan penampilan kulit yang kendur/menggantung di atas tulang rangka. Penurunan lapisan lemak terutama dapat dilihat secara jelas pada wajah, tangan, kaki, dan betis, pembuluh darah menjadi lebih cenderung untuk mengalami trauma. Deposit lemak cenderung untuk meningkat pada abdomen baik pada wanita dan pria, seperti halnya bagian paha pada wanita. Distribusi kembali dan penurunan lemak tubuh lebih lanjut menimbulkan gangguan fungsi perlindungan dari kulit tersebut.

22

v. Bagian Tambahan pada Kulit Bagian tambahan pada kulit meliputi rambut, kuku, Korpus Pacini, Korpus Meissner, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Rambut pada lansia pada umumnya terus bertambah beruban, dengan penipisan rambut pada kepala yang disebabkan oleh penurunan jumlah folikel rambut. Hal yang memperberat masalah ini adalah adanya peningkatan jumlah folikel rambut dalam fase istirahan dari siklus pertumbuhan. Wanita cenderung mengalami peningkatan rambut pada wajah, terutama di atas bibir atas dan pada dagu. Pada pria, rambut dalam hidung dan telinga menjadi lebih jelas, lebih banyak dan kaku. Pertumbuhan kuku menjadi berkurang dengan peningkatan usia, dan kuku menjadi lunak, rapu, kurang berkilau, dan cepat mengalami kerusakan. Striasi longitudinal dan penebalan kulit munkin terjadi. Korpus Meissner dan Pacini menurun sekitar dua pertiga dari usia 30 sampai usia 90 tahu, menyebabkan penurunan sensai sentuhan (Meissner) dan sensasi tekan (Pacini). Lansia yang melakukan tugas rutin berisiko untuk terbakar dan berisiko tinggi mengalami nekrosis akibat tekanan karena kebutuhan yang dirasakannya untuk mengubah posisi telah berkurang. Kelenjar keringat yang sedikit ditambah dengan penurunan kemampuan fungsional pada kelenjar yang tersisa menyebabkan lansia memiliki penurunan respons dalam berkeringat. Terdapat pula suatu kecenderungan ke arah kulit kering dan perubahan termoregulasi. Berkurangnya jumlah kelenjar apokrin pada aksila dan kemaluan mengakibatkan bau badan berkurang pada lansia. Kelenjar sebasea menjadi lebih besar seiring dengan peningkatan ukuran pori-pori akibat penuaan. Namun, hingga menyebabkan kulit menjadi kering.

23

(6)

Sistem Pernafasan Pada sistem pernafasan yang terjadi seiring dengan penambahan usia yaitu : (a) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan dangkal (b) Penurunan aktivitas silia yang menyebabkan berkurangnya reflek batuk sehingga berpotensi terjadi penumpukan sekret (c) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang yang menyebabkan terganggunya proses difusi (d) Penurunan oksigen (O2) arteri yang mengganggu proses oksigenasi dan transport O2 ke jaringan (e) Terjadi penurunan kemampuan reaksi sistem saraf pusat, baik anatomis, mekanik dan fungsional. (f) Perubahan status fungsional lansia seperti gangguan makan, ketidakmandirian toileting dan immobilitas merupakan suatu penyebab terjadinya infeksi. (g) Rentannya lansia terhadap infeksi disebabkan karena menurunnya fungsi kekebalan tubuh yang mengakibatkan respon pertahanan tubuh terhadap infeksi menjadi berkurang. (h) Dampak yang diakibatkan meliputi masa rawat yang lebih panjang, biaya rawat yang lebih besar serta sering timbulnya komplikasi berat sehingga menimbulkan penurunan kualitas hidup. Infeksi saluran nafas atas dan influenza malah sering berlanjut menjadi pneumonia yang gejala dan tanda pneumonia pada lansia sering

24

tidak khas yang menyebabkan keterlambatan diagnosis, belum lagi meningkatnya resistensi mikroba terhadap antibiotika.

(7)

Sistem pencernaan (a) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. (b) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari saraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit. (c) Esofagus melebar. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. (d) (e) (f) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

(8)

Sistem Muskuloskeletal Perubahan normal muskuloskeletal terkait usia pada lansia termasuk penurunan tinggi badan, redistribusi massa otot dan lemak subkutan, peningkatan prositas tulang, atrofi otot, pergerakan yang lambat, pengurangan kekuatan, dan kekakuan sendi-sendi. Perubahan pada tulang, otot, dan sendi mengakibatkan terjadinya perubahan

25

penampilan, kelemahan, dan lambatnya pergerakan yang menyertai penuaan. (a) Sistem Skeletal Penurunan progresif dalam tinggi badan adalah hal yang universal terjadi di antara semua ras dan pada kedua jenis kelamin dan terutama ditujukan pada penyempitan diskus intervertebral dan penenkanan pada kolumna spinalis. Bahu menjadi lebih sempit dan pelvis menjadi lebih lebar, ditunjukkan oleh peningkatan diameter anteroposterior dada. Ketika manusia mengalami penuaan, jumlah massa otot tubuh mengalami penurunan. Hilangnya lemak subkutan perifer cenderung untuk mempertajam kontur tubh dan memperdalam cekungan di sekitar kelopak mata, aksila, bahu, dan tulang rusuk. Tonjolan tulang (vertebra, krista iliaka, tulang rusuk, skapula) menjadi lebih menonjol. Jenis tulang termasuk jenis tulang kortikal dan trabekular, dan masing-masing mempunyai suatu peran struktural yang berbeda. Daerah yang memiliki dampak besar akibat tekanan yang terjadi dari berbagai arah mengandung pola tulang trabekular. Fungsi utama tulang kortikal adalah sebagai perlindungan terhadap beban gerakan rotasi dan lengkungan. Proses penyerapan kalsium dari tulang untuk mempertahankan kadar kalsium darah yang stabil dan penyimpanan kembali kalsium darah yang stabil dan penyimpanan kembali kalsium untuk membentuk tulang baru dikenal sebagai remodeling (pembentukan kembali). Proses remodeling ini terjadi sepanjang rentang kehidupan manusia. Kecepatan absorpsi tidak berubah dengan penambahan usia. Kecepatan formasi tulang baru mengalami perlambatan seiring dengan penambahan usia, yang menyebabkan hilangnya massa total tulang pada lansia. (b) Sistem Muskular

26

Kekuatan muskular mulai merosot sekitar usia 40 tahun, dengan suatu kemunduran yang dipercepat setelah usia 60 tahun. Perubahan gaya hidup dan penurunan penggunaan sistem neuromuskular adalah penyebab utama untuk kehilangan kekuatan otot. Kerusakan otot terjadi karena penurunan jumlah serabut otot dan atrofi secara umum pada organ dan jaringan tubuh. Regenerasi jaringan otot melambat dengan penambahan usia, dan jaringan atrofi digantikan oleh jaringan fibrosa. Perlambatan, pergerakan yang kurang aktif dihubungkan dengan perpanjangan waktu kontraksi otot, periode laten, dan periode relaksasi dari unit motor dalam jaringan otot. Sendi-sendi seperti pinggul, lutut, siku, pergelangan tangan, leher, dan vertebra menjadi sedikit fleksi pada usia lanjut. Peningkatan fleksi disebabkan oleh perubahan dalam kolumna vertebralis, ankilosis (kekakuan) ligamen dan sendi, penyusutan dan sklerosis tendon dan otot, dan perubahan degeneratif sistem ekstrapiramidal.

(c) Sendi Secara umum, terdapat kemunduran kartilago sendi, sebagian besar terjadi pada sendi-sendi yang menahan berat, dan pembentukan tulang di permukaan sendi. Komponen-komponen kapsul sendi pecah dan kolagen yang terdapat pada jaringan penyambung meningkat secara progresif yang jika tidak dipakai lagi, mungkin menyebabkan inflamasi, nyeri, penurunan mobilitas sendi, dan deformitas. (d) Masalah yang Terjadi pada Lansia i. Fraktur Trauma tulang atau sendi akibat jatuh, stress tulang, osteoporosis.

27

- Sering terjadi pada pangkal pinggul - Fraktur tertutup atau terbuka ii. Proses penyembuhan Regenerasi sel, fibroblast dan osteoblast menutup area fraktur membentuk kolagen lalu membentuk jaringan tulang yang baru dan mengakibatkan menyambungnya dua sisi tulang yang fraktur. Klasifikasi lokasi : - Intra capsulan - Esktra capsulan (e) Perubahan Proses Penuaan Telah lama diketahui bahwa kekuatan otot pada lansia akan menurun bertambahnya usia, maka otot lama kelamaan akan menurun sehingga kekuatan otot berkurang. Pada wanita usia lanjut gaya berjalan berubah dengan kaki bengkok ke dalam, jalan sedikit bergoyang, postur sedikit bengkok ke dalam, perubahan sistem muskular. Pada wanita diakibatkan karena berkurangnya hormon estrogen dan minemal, menopose serta diet rendah kalsium karena menurunnya fungsi tulang, perubahan gaya berjalan pada pria pun berubah gaya jalan dengan langkah-langkah kecil.

(9)

Sistem perkemihan Dengan bertambahnya usia, banyak jaringan yang hilang dari korteks ginjal, glomerulus dan tubulus. Jumlah total glomerulus berkurang 30-40% pada usia 80 tahun, dan permukaan glomerulus berkurang secara progresif setelah 40 tahun, dan yang terpenting adalah terjadi penambahan dari jumlah jaringan sklerotik. Meskipun kurang dari

28

1% glomerulus sklerotik pada usia muda, persentase ini meningkat 1030% pada usia 80 tahun. Terdapat beberapa perubahan pada pembuluh darah ginjal pada lansia. Pada korteks ginjal, arteri aferen dan eferen cenderung untuk atrofi yang berarti terjadi pengurangan jumlah darah yang terdapat di glomerulus. Atrofi arteri aferen dan eferen pada jukstaglomerulus terjadi tidak simetris sehingga timbul fistel. Jadi ketika aliran darah di korteks berkurang, aliran di justaglomerular akan meningkat. Ini berpengaruh pada konsentrasi urin yang berkurang pada usia lanjut akibat gangguan pengaturan sistem keseimbangan. Perubahan aliran darah ginjal pada lanjut usia. Ginjal menerima sekitar 20% dari aliran darah jantung atau sekitar 1 liter per menit darah dari 40% hematokrit, plasma ginjal mengalir sekitar 600 ml/menit. Normalnya 20% dari plasma disaring di glomerulus dengan GFR 120 ml/menit atau sekitar 170 liter per hari. Penyaringan terjadi di tubular ginjal dengan lebih dari 99% yang terserap kembali meninggalkan pengeluaran urin terakhir 1-1,5 liter per hari. Dari beberapa penelitian pada lansia yang telah dilakukan, memperlihatkan bahwa setelah usia 20 tahun terjadi penurunan aliran darah ginjal kira-kira 10% per dekade, sehingga aliran darah ginjal pada usia 80 tahun hanya menjadi sekitar 300 ml/menit. Pengurangan dari aliran darah ginjal terutama berasal dari korteks. Pengurangan aliran darah ginjal mungkin sebagai hasil dari kombinasi pengurangan curah jantung dan perubahan dari hilus besar, arcus aorta dan arteri interlobaris yang berhubungan dengan usia. Perubahan fungsi ginjal pada lanjut usia. Pada lansia banyak fungsi hemostasis dari ginjal yang berkurang, sehingga merupakan predisposisi untuk terjadinya gagal ginjal. Ginjal yang sudah tua tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan fungsi

29

hemostasis, kecuali bila timbul beberapa penyakit yang dapat merusak ginjal. Penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada saat seseorang mulai memasuki usia 30 tahun dan 60 tahun, fungsi ginjal menurun sampai 50% yang diakibatkan karena berkurangnya jumlah nefron dan tidak adanya kemampuan untuk regenerasi. Beberapa hal yang berkaitan dengan faal ginjal pada lanjut usia antara lain : (Cox, Jr dkk, 1985). Fungsi konsentrasi dan pengenceran menurun. Keseimbangan elektrolit dan asam basa lebih mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia muda. Ureum darah normal karena masukan protein terbatas dan produksi ureum yang menurun. Kreatinin darah normal karena produksi yang menurun serta massa otot yang berkurang. Maka yang paling tepat untuk menilai faal ginjal pada lanjut usia adalah dengan memeriksa Creatinine Clearance Test. Renal Plasma Flow (RPF) dan Glomerular Filtration Rate (GFR) menurun sejak usia 30 tahun. Perubahan laju filtrasi glomerulus pada lanjut usia.

Salah satu indeks fungsi ginjal yang paling penting adalah laju filtrasi glomerulus (GFR). Pada usia lanjut terjadi penurunan GFR. Hal ini dapat disebabkan karena total aliran darah ginjal dan pengurangan dari ukuran dan jumlah glomerulus. Pada beberapa penelitian yang menggunakan bermacam-macam metode, menunjukkan bahwa GFR tetap stabil setelah usia remaja hingga usia 30-35 tahun, kemudian menurun hingga 8-10 ml/menit/1,73 m2/decade. Penurunan bersihan kreatinin dengan usia tidak berhubungan dengan peningkatan konsentrasi kreatinin serum. Produksi kreatinin sehari-hari (dari pengeluaran kreatinin di urin) menurun sejalan dengan penurunan bersihan kreatinin. Untuk menilai GFR/creatinine clearance rumus di bawah ini cukup akurat bila digunakan pada usia lanjut. Cratinine Clearance (pria) = (140-umur) X BB (kg) ml/menit 72 X

30

serum cretinine (mg/dl) Cretinine Clearance Test (wanita) = 0,85 X CC pria. Perubahan fungsi tubulus pada lanjut usia Aliran plasma ginjal yang efektif (terutama tes eksresi PAH) menurun sejalan dari usia 40 ke 90-an. Umumnya filtrasi tetap ada pada usia muda, kemudian berkurang tetapi tidak terlalu banyak pada usia 70, 80 dan 90 tahunan. Transpor maksimal tubulus untuk tes ekskresi PAH (para aminohipurat) menurun progresif sejalan dengan peningkatan usia dan penurunan GFR. Penemuan ini mendukung hipotesis untuk menentukan jumlah nefron yang masih berfungsi, misalnya hipotesis yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan gangguan pada transpor tubulus, tetapi berhubungan dengan atrofi nefron sehingga kapasitas total untuk transpor menurun. Transpor glukosa oleh ginjal dievaluasi oleh Miller, Mc Donald dan Shiock pada kelompok usia antara 20-90 tahun. Transpor maksimal Glukosa (TmG) diukur dengan metode clearance. Pengurangan TmG sejalan dengan GFR oleh karena itu rasio GFR : TmG tetap pada beberapa dekade. Penemuan ini mendukung hipotesis jumlah nefron yang masih berfungsi, kapasitas total untuk transpor menurun sejalan dengan atrofi nefron. Sebaliknya dari penurunan TmG, ambang ginjal untuk glukosa meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Ketidaksesuaian ini tidak dapat dijelaskan tetapi mungkin dapat disebabkan karena kehilangan nefron secara selektif. Perubahan pengaturan keseimbangan air pada lanjut usia. Perubahan fungsi ginjal berhubungan dengan usia, dimana pada peningkatan usia maka pengaturan metabolisme air menjadi terganggu yang sering terjadi pada lanjut usia. Jumlah total air dalam tubuh menurun sejalan dengan peningkatan usia. Penurunan ini lebih berarti pada perempuan daripada laki-laki, prinsipnya adalah penurunan indeks massa tubuh karena terjadi peningkatan jumlah lemak dalam tubuh. Pada lanjut usia, untuk mensekresi sejumlah urin atau kehilangan air dapat meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler dan menyebabkan penurunan volume yang mengakibatkan timbulnya rasa haus subyektif.

31

Pusat-pusat yang mengatur perasaan haus timbul terletak pada daerah yang menghasilkan ADH di hypothalamus. Pada lanjut usia, respon ginjal pada vasopressin berkurang biladibandingkan dengan usia muda yang menyebabkan konsentrasi urin juga berkurang, Kemampuan ginjal pada kelompok lanjut usia untuk mencairkan dan mengeluarkan kelebihan air tidak dievaluasi secara intensif. Orang dewasa sehat mengeluarkan 80% atau lebih dari air yang diminum (20 ml/kgBB) dalam 5 jam.

(10) Sistem kardiovaskuler (a) Perubahan struktur Perubahan struktural mempengaruhi konduksi sistem jantung karena peningkatan jumlah jaringan fibrosa dan jaringan ikat jumlah total sel pacemaker mengalami penurunan. Berkas his kehilangan serat konduksi yang membawa implus keventrikel sistem aorta dan arteri perifer menjadi kaku dan tidak lurus, terjadi karena peningkatan serat kolagen dan hilangnya serat elastic dalam lapisan medial arteri. Lapisan intima arteri menebal dengan peningkatan deposit kalsium.proses perubahan dan berhubungan dengan penuaan ini meningkat kekakuan dan ketebalan yang disebut dengan arteriosklerosis salah satu kompensasi, aorta dan arteri besar lain mengalami dilatasi untuk menerima lebih banyak darah. Vena menjadi meregang dan mengalami dilatasi dalam cara hampir yang sama katup-katup vena menjadi kompeten/gagal untuk menutup secara sempurna.

(b) Perubahan fungsi Penuaan dalam sistem kardiovaskuler adalah penurunan kemampuan untuk meningkatkan pengeluaransebagai respon

32

terhadap peningkatan kebutuhan tubuh curah jantung pada saat istirahat sedikit menurun, denyut jantung juga menurun miokardium mengalami penebalan sehingga mengakibatkan peningkatan waktu demikian diastolik,peningkatan volume akhir diastolik, irama jantung tidak sesuai dan kordinasi aktifitas yang mengendalikan siklus kardial menjadi disritmia dan tidak terkoordinasi kehilangan pacemaker dan infiltrasi lemak kedala jaringan kondusif menghasilkan disritmia atrial dan ventrikular. (11) Gangguan Psikologis Pemberian perawatan sering menyebut perilaku yang berhubungan dengan demensia sebagai masalah. Mengonsepkan kembali perilaku ini sebagai respon yang bermakna terhadap kejadian-kejadian, stresor, atau konfusi yang muncul dari lingkungan akan bermanfaat dalam merencanakan intervensi keperawatan yang lebih tepat. Banyak perilaku yang berhubungan dengan demensia yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang menderita gangguan kognitif untuk menghadapi sesuatu yang sulit untuk dipahami dan dalam beberapa cara diterima sebagai ancaman. Individu yang dipindahkan dari tempat tidur ke kursi roda dapat meyakini bahwa ia sedang dalam bahaya atau akan jatuh selama pemindahan tersebut. Sebagai respons adaptif, orang tersebut akan menolak dan mulai memukuli pemberi perawatan. Seseorang dapat mendengar bunyi sirine dan banyak gerakan kekerasan di televisi. Dia tidak mampu membedakan suara ini dengan realita, orang tersebut kemudian akan berusaha keluar dari area tersebut dan berusaha menemukan tempat yang lebih tenang dan aman. Perilaku harus dianggap masalah hanya jika tindakan tersebut mempengaruhi atau berpotensi mempengaruhi kesehatan, hak, atau keamanan orang yang menunjukkan perilaku tersebut atau orang lain di lingkungan tersebut. Banyak perilaku terkait demensia yang dapat dicegah dengan menurunkan tekanan lingkungan, memenuhi dengan cermat kebutuhan

33

primer diri, dan menyeimbangkan waktu aktif dengan waktu tenang. Catat selalu hal-hal yang memicu respons perilaku dan selidiki apakah kejadian pencetus itu dapat dihilangkan. Sebagai contoh, jika Mr. Cohen dan Mr. Carter selalu berargumentasi pada saat mereka berkumpul, cobalah untuk mengarahkan mereka pada kelompok kerja yang berbeda.

(a) Kebutuhan akan Gerakan Banyak orang dengan demensia yang perlu mengeluyur, bergerak, berayun maju dan mundur, atau memiliki tangan yang sangat aktif. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang suka mengeluyur memiliki gaya hidup fisik yang lebih banyak di masa lalunya dan mereka menggunakan aktivitas fisik sebagai alat untuk mengurangi dan melakukan koping terhadap stress. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan mengeluyur merupakan alat koping yang harus diakomodasi perawat.

(b) Agitasi dan Agresi Agitasi cenderung lebih sering terjadi di sore hari dan istilah sundown syndrome telah dibuat untuk menggambarkan fenomena ini. Perilaku agresif dapat berupa perilaku fisik atau verbal dan dapat darahkan pada diri sendiri atau orang lain, intervensi yang bermanfaat untuk hal tersebut antara lain: i. ii. Menurunkan tekanan lingkungan Mengantisipasi kebutuhan orang tersebut untuk mencegah fruktrasi dan rasa tidak nyaman. iii. Tetap menyalakan lampu pada siang hari hingga menjelang waktu tidur. Pengatur cahayan yang dapat meningkatkan cahaya pada saat matahari terbenam mudah untuk dipasang.

34

iv. v.

Kaji adanya rasa lapar, haus, dan kebutuhan primer diri lainnya. Tingkatkan rasa aman dengan keyakinan verbal, menyamankan orang tersebut di kursi dengan selimut hangat, atau melalui penggunaan bantal yang empuk, hewan peliharaan yang berbulu atau boneka.

vi.

Tingkatkan rasa keakraban melalui staff dan rutinitas yang konsisten, kunjungan yang bersahabat, dan menjaga agar barangbarang tetap dalam rentang yang dikenal.

vii.

Kaji apa yang mencetuskan agresi dan cegah kejadian pencetus tersebut agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

viii.

Gunakan distraksi dan pengarahan ulang untuk mengembalikan perhatian seseorang ke kejadian yang lebih menyenangkan.

ix.

Jangan menghardik atau mencoba mengajari orang tersebut. Keduanya akan tidak efektif karena orang tersebut memiliki kemampuan yang kurang untuk belajar.

x.

Bicara dengan orang tersebut dengan suara yang tenang dan meyakinkan kapan pun. Jaga agar pesan yang disampaikan tetap jelas dan sederhana.

(c) Delusi dan Halusinasi Delusi dan halusinasi merupakan hal yang umum tetapi bukan gejala demensia yang tidak dapat dihindari. Pastikan bahwa kacamata dan alat bantu dengar orang tersebut sudah terpasang dan berfungsi dengan baik. Jika, orang tersebut menjadi atau takut, maka orang tersebut tidak boleh dibiarkan dalam keadaan ini.

35

Seringkali, membawa orang tersebut ke lingkungan yang lain, menyalakan lampu, dan memberikan keyakinan yang tenang merupakan hal yang diperlukan untuk memberikan rasa nyaman pada keadaan menyulitkan tersebut. Jika orang tersebut mengalami delusi atau halusinasi persisten, maka obat-obat psikotropika dapat di indikasikan. Jangan mengatakan pada orang tersebut bahwa pikiran atau halusinasinya adalah tidak berat atau benar. Melainkan, validasi perasaan tersebut dengan kalimat seperti, Saya dengar Anda marah. Saya di sini untuk membantu anda dan saya akan membuat anda tetap aman.

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian 1. Pengkajian Fisik Tanggal Pengkajian Nama Tempat Alamat : 30 Maret 2011 : Rumah Perlindungan Lanjut Usia : Jelambar Jakarta Barat

a.

Fasilitas ruang yang dimiliki Rumah perlindungan lanjut usia terdiri dari 6 asrama yang di desain dengan bentuk ruangan barak dan kamar. Barak tersebut terdiri dari 2 barak wanita, 4 barak laki laki, jarak tempat tidur lanng satu dengan yang lainnya berdekatan. Hingga mempengaruhi rentang gerak lansia, terdapat tangga yang terjal, dan terdapat pula lantai yang licin yang dapat mengakibatkan cidera.

b. Bila ada lansia yang sakit, maka pihak Rumah Perlindungan Lanjut Usia merujuk ke beberapa sarana pelayanan kesehatan seperti, Puskesmas Grogol, Rumah Sakit Tarakan dan Rumah Sakit PUM c. Pemeriksaan kesehatan bagi para lansia dilakukan oleh Puskesmas Grogol secara rutin 2 kali sebulan yaitu hari Rabu minggu I dan III, yang terdiri dari 1 orang dokter dan 1 orang perawat. Setiap lansia menggunakan Kartu Jaminan Keluarga Miskin (GAKIN) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut.

36

37

38

1) Jumlah Penghuni Rumah Perlindungan Lanjut Usia a) Distribusi Berdasarkan usia ( dalam tabel)

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Umur 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84 >84 Jumlah

Laki-laki 16 10 7 6 8 1 48

% 33,3 20,7 14,6 12,5 16,7 2,1 100

Perempuan 5 9 17 4 1 4 40

% 12,5 22,5 42,5 10 2,5 10 100

39

b) Distribusi berdasarkan pendidikan

No 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SD / sederajat SMP / sederajat SMA / sederajat Perguruan Tinggi Tidak tahu Jumlah

Orang 18 40 7 14 4 5 88

% 20,45 45,45 7,95 15,9 4,54 5,68 100

Keterangan : Lima orang lanjut usia tidak mengetahui apakah mereka pernah sekolah atau tidak.

c) Distribusi berdasarkan agama

No. 1 2 3 4

Agama Islam Protestan Katolik Budha Jumlah

Orang 56 8 10 14 88

% 63,63 9,1 11,36 15,91 100

40

d) Distribusi berdasarkan suku bangsa

No. Suku Bangsa 1. Jawa 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sunda Batak Manado Tionghoa Betawi Minangkabau Bugis Jumlah

Orang 30 10 3 3 18 22 1 1 88

% 34,04 11,36 3,41 3,41 20,45 25 1.14 1,14 100

e) Distribusi Jenis pekerjaan yang pernah dijalani / sedang di jalani

NO

Jenis Pekerjaan

Orang

41

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Karyawan Petani Wirausaha Pedagang Buruh Satpam Purnawirawan Supir Pembantu rumah tangga Ibu rumah tangga Bidan Tukang parkir Tukang bajaj PNS Fotografer Seniman Pemulung Pelayaran Tukang urut Jumlah

9 8 8 15 4 2 2 3 2 25 1 1 1 2 1 1 1 1 1 88

10,21 9,1 9,1 17,04 4,54 2,27 2,27 3,40 2,27 28,40 1,14 1,14 1,14 2,27 1,14 1,14 1,14 1,14 1,14 100

2.

Pengkajian Biologis a. Masalah kesehatan yang paling menonjol pada lansia di RPLU Jelambar

42

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Masalah kesehatan Penyakit Jantung Penyakit Tulang Penyakit Persyarafan Pencernaan Pernafasan Penyakit kulit Gangguan Psikologis Pendengaran Penglihatan Integumen Jumlah

Orang 24 42 4 1 1 1 6 1 6 1 88

% 27,27 47,72 4,55 2,28 1,14 1,14 6,81 1,14 6,81 1,14 100

b. Status Hygiene Perorangan Cara memenuhi status hygiene di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar di bantu oleh petugas yang membantu personal hygiene para lansia. Para lansia yang dapat melakukan aktivitas atau ADL dengan mandiri, mereka melakukan dalam pemenuhan hygiene dengan sendiri, seperti mandi dua kali sehari. Sedangkan bagi para lansia yang tidak dapat memenuhi kebutuhan personal hygiene dibantu oleh petugas yang ada di RPLU Jelambar satu kali sehari pada pagi hari, sorenya mereka tidak mandi. Di RPLU Jelambar 30 % mengalami masalah hygiene perorangan.

43

c. Pola Tidur Sebagian besar lansia yang ada di RPLU Jelambar mengalami gangguan masalah tidur. Hal ini disebabkan karena proses penuaan serta adanya faktor lain yaitu nyamuk, panas, berisik dan lain-lain. Pada umumnya lama tidur para lansia yang ada di RPLU Jelambar adalah 5 6 jam.

d. Kebutuhan Nutrisi Di RPLU Jelambar dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi tidak terdapat diet bagi anggota kelompok yang menderita penyakit tertentu. Pengaturan makanan dijadwalkan 3 x sehari yaitu pagi, siang dan sore. Jenis makanan yang dimakan oleh para lansia yaitu nasi, sayur mayur ( seperti : bayam, wortel, kangkung, katuk ) dan lauk pauk ( seperti : ikan, tahu, tempe ). Yang disiapkan oleh bagian gizi yang ada di RPLU Jelambar ini.

e. Kebiasaan Hidup 1) Merokok Para lansia yang berada di RPLU Jelambar sebanyak 20 %. Dari hasil pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh mahasiswa Akper Hang Tuah Jakarta anggota kelompok yang berada diasrama atau baraknya masing-masing mengatakan tidak merasa terganggu dengan anggota atau para lansia yang merokok. Tidak terdapat adanya peraturan dilarang merokok. 2) Olahraga Kegiatan olahraga yang dilakukan oleh lansia di RPLU Jelambar dilakukan setiap hari rabu dan sabtu. Olahraga yang dilakukan adalah senam terapi lansia yang di pimpin oleh ibu Umi, kegiatan olahraga dilakukan oleh beberapa lansia bersama sama sekitar ( 25 orang ),

44

sedangkan yang lain melakukan olahraga secara mandiri. Aktivitas yang disenangi para lansia adalah terapi sambil mendengarkan musik disko.

f. Aktivitas Harian Aktivitas para lansia sehari hari sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan di RPLU Jelambar adalah sebagai berikut :

No. Hari 1 Senin minggu 2 3 4 5 6 7 Senin - minggu Rabu & Sabtu Jumat Senin- minggu Senin- minggu Selasa & kamis

Pukul 04.00 s/d 05.00 05.00 s/d 05.30 05.30 s/d 06.00 06.00 s/d 06.45 06.45 s/d 07.30 07.30 s/d 08.30 08.30 s/d 12.30

Keterangan Bangun pagi, mandi Sholat shubuh SKJ Lansia & Periksa Kesehatan Kebersihan Minum teh Makan pagi Pembinaan dzuhur Makan siang agama & sholat

8 9 10 11

Senin minggu Senin minggu Senin minggu Senin minggu

12.30 s/d 13.00 Ekstra pudding 15.00 s/d 15.30 Sholat ashar 15.30 s/d 16.00 Makan sore 16.00 s/d 17.00

45

12 13 14 15 16 3. a.

Senin minggu Senin minggu Senin minggu Senin minggu Senin minggu

17.00 s/d 18.00 18.00 s/d 18.30 18.30 s/d 19.30 19.30 s/d 21.30 21.30 s/d 04.00

Kegiatan pribadi Sholat maghrib Istirahat Sholat isya Tidur

Psikologis WBS Status Emosi Sebagian besar status emosi para lansia di RPLU Jelambar dengan tingkat emosi yang stabil, tetapi ada satu orang lansia yang status emosinya labil, contohnya marah-marah tanpa lasan yang jelas, menangis,dan lain-lain. Adanya penurunan gambaran diri para lansia yaitu sesuai dengan teori terjadi penurunan fungsi pada organ. Selain itu masalah penurunan gambaran diri yang terjadi pada lansia adalah terjadinya perubahan peran, seperti yang tadinya bekerja setelah berada atau masuk kepanti menjadi tidak bekerja, yang tadinya berperan sebagai seorang istri setelah berada atau masuk RPLU Jelambar menjadi menyendiri, dan lain-lain.

b.

Pengambilan Keputusan Cara pengambilan keputusan dipanti ini, para lansia mengambil keputusan secara mandiri, serta tidak ada pemimpin yang dominan dalam pegambilan keputusan. Di RPLU Jelambar terdapat lansia yang dianggap sebagai pemimpin dalam kelompok yaitu Opa Robert, yang berada di asrama Sadewa sebagai tokoh agama kristen dan Opa Soleh yang berada di asrama Sadewa sebagai tokoh agama islam.

46

c.

Stressor Psikologis Dalam Kelompok WBS Ada stressor psikologis dalam kelompok, bentuk stressor adalah rasa tidak nyaman dengan teman sekamar, dimana anggota kelompok merasa kesal terhadap stressor tersebut. Selain itu bentuk stressor lainnya yaitu adanya pembatasan pola komunikasi yang disebabkan karena kesibukannya masingmasing dengan persentase 23, 8 % masalah psikologis yang terjadi di RPLU Jelambar.

d.

Mekanisme Koping Kelompok WBS Ada cara khusus untuk mengatasi masalah-masalah dalam pemecahan koping kelompok. Namun, koping masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya peran ketua kelompok gerontik dan apabila ketua kelompok tidak bisa menyelesaikannya, maka ketua kelompok melaporkan masalah tersebut ke petugas RPLU Jelambar yang menjaga atau bertanggungjawab, dengan cara pendekatan dan di musyawarahkan secara bersama-sama dengan kelompok yang mempunyai suatu masalah. Pemecahan masalah yang melibatkan peran dari petugas panti dapat berhasil dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi didalam kelompok. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa/I Akper Hang Tuah Jakarta bersama dengan lansia, didapatkan hasil terdapatnya tingkah laku maladaptif yang terjadi pada para lansia dipanti, diantaranya seperti tindakan pencurian, tindakan kekerasan, kelainan seksual, waham curiga, waham agama, halusinasi, dan lain-lain. Tindakan maladaftif tersebut sangat mengganggu anggota kelompok lain.

e.

Rekreasi Dari hasil observasi yang dilakukan oleh masiswa/I Akper Hang Tuah Jakarta Angkatan XIII, kebanyakan rekreasi yang dilakukan oleh para lansia

47

adalah seperti menonton TV, mendengarkan lagu-lagu, ataupun hal-hal yang dianggap dapat menyenangkan. Para lansia melakukan rekreasi menonton TV, mendengarkan radio, dilakukan pada saat waktu senggang, sebagian besar rekreasi tersebut dapat memberikan kesenangan bagi para lansia yang ada di RPLU Jelambar.

4. a.

Aktivitas para lansia di RPLU Jelambar Kegiatan keagamaan ( Spiritual ) Terdapat kegiatan sosial seperti adanya pengajian yang dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis dan diikuti oleh para lansia yang beragama Islam, adanya shalat Jumat bersama khususnya untuk umat muslim. b. Kegiatan Jasmani Olahraga yang dilaksanakan setiap hari Rabu dan Sabtu, diikuti oleh seluruh penghuni RPLU Jelambar yang di bimbing oleh seorang instruktur senam yang telah di tentukan oleh pengurus RPLU Jelambar.

c. Kegiatan keterampilan Keterampilan dilakukan setiap ada di RPLU Jelambar. Adapun sebagian besar para lansia tidak ikut serta dalam salah satu kegiatan organisasi tersebut, dikarenakan dari berbagai faktor pendukung, seperti timbulnya rasa malas, rasa malu setiap adanya mobilitas atau intoleransi aktivitas. d. Hubungan di luar kelompok hari senin, meliputi keterampilan

bernyanyi, membuat keset dan lain-lain yang diikuti oleh semua lansia yang

48

Hubungan yang terjalin diluar kelompok RPLU Jelambar dengan masyarakat terjadi cukup baik, di mana para lansia biasa berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar RPLU Jelambar. Sebagian kecil para lansia biasa bersosialisasi diluar RPLU Jelambar dengan cara makan diwarung warga. e. Hubungan antar kelompok Hubungan antar kelompok para lansia tampak kurang harmonis, hal ini dikarenakan kurangnya komunikasi antar anggota, sedangkan hubungan dengan petugas panti dapat terjalin dengan baik, tidak ada masalah yang spesifik antara anggota kelompok para lansia khususnya di RPLU Jelambar.

49

B. DATA FOKUS

DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF WBS mengeluh nyeri pada sendi dan WBS yang memiliki penyakit tulang tulang dan otot sebesar 47,72% yang memiliki masalah

50

WBS mengatakan tangga di RPLU WBS tidak memiliki tanda garis pengaman WBS cahaya WBS WBS mengatakan sering pusing WBS mengatakan sering lupa WBS mengatakan susah mengingat kejadian yang baru terjadi WBS mengatakan hanya mengingat kejadian yang dulu saja. WBS mengeluh

penglihatan sebesar 6,81 % yang memiliki masalah

mengalami WBS

pemandangan kabur, silau terhadap

persyarafan sebesar 4,55 % yang memiliki masalah

pendengaran sebesar 1,14 % WBS yang memiliki masalah penyakit jantung pembuluh darah 27,27 % Banyaknya WBS yang tidak mengikuti kegiatan olahraga yang memiliki gangguan

penglihatan sebesar 6, 81 % Anak tangga tidak terdapat garis batas Terdapat lantai yang licin di kamar mandi WBS tidak mampu menceritakan hal yang baru terjadi WBS sering lupa WBS tidak dapat menyebutkan hal yang baru saja terjadi Kunjungan pelayanan kesehatan di jadwalkan setiap 2 minggu sekali Pelaksanaan kegiatan olahraga tampak tidak sesuai dengan jadwal dua kali dalam seminggu dikarenakan; hujan, pelatih tidak datang

51

C. ANALISA DATA

NO 1 DS :

DATA

ETIOLOGI Penurunan fungsi organ

MASALAH Resiko tinggi meningkatnya kejadian cidera pada lansia

WBS mengeluh nyeri pada muskuloskeletal sendi dan tulang dan faktor WBS mengatakan tangga di lingkungan RPLU tidak memiliki tanda garis pengaman WBS pusing DO : WBS yang memiliki penyakit tulang 47,72% WBS yang memiliki masalah penglihatan sebesar 6,81 % WBS yang memiliki masalah persyarafan sebesar 4,55 % WBS yang memiliki masalah pendengaran sebesar 1,14 % WBS yang memiliki masalah penyakit jantung pembuluh darah 27,27 % Terdapat lantai licin di kamar dan otot sebesar mengatakan sering

52

mandi dan sekitar teras 2 Terdapat genangan air Inflamasi sendi dan di struktur artikular. juksta Nyeri kronis

depan kamar mandi DS : WBS mengatakan makanan yang ada di RPLU Jelambar terasa asin WBS mengatakan jarang

mengikuti kegiatan olahraga WBS mengatakan malas

untuk mengikuti olahraga WBS pusing DO : Kunjungan 3 minggu sekali Kegiatan olahraga setiap 2 kali seminggu kegiatan yang olahraga kadang tidak mengalami hambatan sehingga dilaksanakan sesuai jadwal Banyaknya lansia yang tidak mengikuti kegiatan olahraga 3 Lansia yang memiliki masalah penyakit jantung pembuluh Kelemahan Otot Intoleransi Aktivitas pelayanan sering mengatakan

kesehatan di jadwalkan setiap

53

darah presentasenya 27,27 %

DS : WBS lemas WBS mengeluh pusing 4 DO : WBS yang memiliki masalah penyakit jantung pembuluh darah presentasenya 27,27 % Efek kondisi lemah Risiko yang berkepanjangan pada gaya hidup dan pencapaian perkembangan pada tugas konsep diri gangguan mengeluh badannya

DS : WBS mengatakan sering lupa WBS mengatakan kejadian susah yang

mengingat baru terjadi WBS

mengatakan kejadian

hanya yang

mengingat dulu saja. WBS

mengatakan oleh

sering teman-

ditertawakan

temannya apabila lupa akan

54

sesuatu DO : WBS terjadi WBS tampak sering lupa mengingat kejadian yang baru saja terjadi WBS tidak dapat mengingat hal yang baru saja terjadi tidak mampu

menceritakan hal yang baru

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

No 1

Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi meningkatnya kejadian cidera pada lansia b/d Penurunan fungsi organ muskuloskeletal dan faktor lingkungan

Tanggal ditemukan 30 Maret 2011

Tanggal Teratasi

Paraf

Nyeri kronis b/d inflamasi sendi dan struktur 30 Maret 2011 jukstaartikular

3 Intoleransi Aktivitas b/d 30 Maret 2011 Kelemahan Otot 4 Risiko gangguan konsep diri b/d Efek kondisi lemah yang 30 Maret 2011

55

berkepanjangan pada gaya hidup dan pada pencapaian tugas perkembangan

E. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Diagnosa Keperawatan I : Resiko tinggi meningkatnya kejadian cedera pada lansia b/d Penurunan fungsi organ muskuloskeletal dan faktor lingkungan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 kali pertemuan WBS dapat melakukan upaya upaya untuk mencegah terjadinya jatuh melalui penyebaran informasi dalam waktu 4 minggu, 20 % lansia di Rumah Perlindungan Lanjut Usia mendapat info tentang resiko jatuh, Menurunnya laporan angka kejadian jatuh. Kriteria Evaluasi : WBS dapat mengerti dan memahami tentang resiko jatuh dan penyakit stroke, WBS dapat berpartisipasi dalam pembuatan batas pada tangga dan pagar. Strategi Pelaksanaan : Memberikan PENKES tentang resiko tinggi

terjadinya cidera yang dilaksanakan di Aula Wijaya Kusuma. Melibatkan WBS yang masih mampu beraktivitas untuk melaksanakan intervensi. Intervensi Keperawatan : a. b. Berikan penyuluhan kesehatan tentang resiko cedera dan cara pencegahannya Berikan penyuluhan tentang penyakit Stroke

56

c. Libatkan WBS untuk membuat batas pada tangga dan pagar d. Libatkan WBS untuk membersihkan lumut-lumut yang ada dilantai khususnya dilantai kamar mandi

2.

Diagnosa Keperawatan 2

Nyeri kronis b/d inflamasi sendi dan struktur juksta artikular.

Tujuan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 kali pertemuan WBS dapat memahami dan mengerti tentang penyakit rematik.

Kriteria Evaluasi

WBS dapat mengerti dan memahami tentang penyakit rematik, WBS mampu melakukan ADL dengan mandiri

Strategi Pelaksanaan

Memberikan PENKES tentang penyakit rematik di Aula Wijaya Kusuma. Melibatkan WBS yang masih mampu beraktivitas untuk melaksanakan intervensi.

Intervensi

: a. b. Berikan penyuluhan tentang penyakit rematik Libatkan petugas RPLU Jelambar untuk membantu cara mengatasi nyeri dengan kompres air hangat.

57

c.

Anjurkan WBS untuk istirahat bila nyeri datang

3.

Diagnosa Keperawatan 3 Tujuan

: :

Intoleransi Aktivitas b/d Kelemahan Otot WBS dengan intoleransi aktivitas mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri secara mandiri dan WBS mampu mengungkapkan masalahnya.

Kriteria Evaluasi

TTV dalam batas normal, WBS dapat beraktivitas tanpa keluhan pusing

Strategi Pelaksanaan Intervensi Keperawatan

: :

Mendemonstrasikan cara membuat jus timun, apel.

a. Ajarkan pada WBS tentang cara pembuatan jus timun dan apel. b. Periksa TTV setiap hari khususnya yang mengalami hipertensi sebanyak 24 orang.

4.

Diagnosa Keperawatan 4

Risiko gangguan konsep diri b/d Efek kondisi lemah yang berkepanjangan pada gaya hidup dan pada pencapaian tugas perkembangan

Tujuan

WBS mampu membedakan waktu, tempat, personal dan WBS mampu melatih kemampuan kognitif dan afektif

Kriteria Evaluasi

Tidak mengalami disorientasi tempat, waktu dan personal.

58

Strategi Pelaksanaan

Menyusun potongan-potongan puzzle sesuai dengan gambar yang ada dan mengadakan lomba cerdas cermat yang isinya tentang pengetahuan umum.

Intervensi Keperawatan

: a. b. Libatkan WBS dalam penyusunan puzzle Libatkan WBS dalam lomba cerdas cermat

59

F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tanggal / waktu 05 April 2011

No. Dx 1

Tindakan Keperawatan dan hasil - Memberikan penyuluhan

Pelaksana Kelompok besar / kecil

kesehatan tentang resiko cedera pada WBS perbarak yang di lakukan oleh mahasiswa/i RH : WBS dapat menjawab

pengertian dari resiko cidera WBS dapat menjawab 3 dari 6 penyebab terjadinya cidera WBS tampak mengajukan resiko

pertanyaan

tentang

cidera pada lansia 06 April 2011 1 Memberikan penyuluhan Kelompok besar / kecil

kesehatan tentang penyakit stroke pada WBS pada masing-masing barak yang di lakukan oleh mahasiswa/ i RH : WBS tampak mengajukan

60

pertanyaan tentang penyakit stroke pada lansia. WBS stroke WBS dapat menjawab 2 dari 5 penyebab dari stroke. dapat dari menjawab penyakit

pengertian

06 April 2011

Melibatkan

WBS

dalam

Kelompok besar / Kecil

penyusunan puzzle RH : - WBS dalam - WBS senang mengatakan mengingat mengatakan dengan kesulitan dalam sangat kegiatan

penyusunan puzzle.

menyusun puzzle

07 April 2011 3

Memberikan penyuluhan tentang rematik RH : WBS tampak mengajukan penyakit menjawab penyakit

Kelompok besar / kecil

pertanyaan WBS pengertian

tentang

stroke pada lansia. dapat dari

61

rematik WBS dapat menjawa 2 dari 5 penyebab dari rematik 1 07 April 2011 Melibatkan WBS dalam membuat garis pada anak tangga RH : WBS mengatakan anak tangga lebih terlihat jelas, tampak hanya 7 orang WBS yang dapat mengikuti kegiatan pengecatan pada anak tangga khususnya di barak Arjuna dan Nakula Sadewa 3 08 April 2011 Melakukan tindakan keperawatan rentang gerak aktif dan pasif (ROM) RH : - Sebagian senang WBS mengatakan latihan Kelompok besar / kecil Kelompok besar / kecil

mengikuti

rentang gerak aktif dan pasif, terlihat hanya sebagian WBS yang dapat mengikuti kegiatan rentang gerak aktif dan pasif (ROM) 4

62

12 April 2011

Mengevaluasi penyusunan April 2011 RH : puzzle

kegiatan yang

Kelompok besar/ kecil

dilaksanakan pada tanggal 07

- Terlihat hanya sebagian WBS yang dapat menyusun puzzle 1 dengan benar

13 April 2011 Mengevaluasi tentang penyuluhan stroke yang dilaksanakan pada tanggal 6 April 2011 RH : - Sebagian lansia mengatakan dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut, terlihat hanya sebagian WBS yang dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari penyakit stroke 2

Kelompok besar / kecil

63

14 April 2011

Mengevaluasi penyuluhan rematik yang dilaksanakan pada tanggal 07 April 2011 RH : - Terlihat hanya sebagian WBS yang 4 dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari penyakit rematik

Kelompok besar / kecil

15 April 2011

Melibatkan ada dilantai

WBS khususnya

dalam lantai

Kelompok besar / kecil

membersihkan lumut-lumut yang kamar mandi. RH : 12 orang kegiatan WBS melakukan membersihkan

lumut-lumut yang ada dilantai khususnya lantai kamar mandi

18 April 2011

Memperagakan senam

lansia

Kelompok besar / kecil

64

pada WBS RH : 4 WBS yang mengikuti senam lansia sebanyak 25 orang dari 88 orang. WBS tampak berpartisipasi dan aktif dalam mengikuti kegiatan senam lansia. 20 April 2011 Melibatkan WBS dalam kegiatan cerdas cermat RH : WBS yang mengikuti Kelompok besar / kecil

kegiatan cerdas cermat sekitar 30 orang dari 88 orang. WBS tampak dapat menjawab pertanyaan yangdi ajukan oleh pelaksana perlombaan.

G. EVALUASI KEPERAWATAN

No.

Tanggal

No. Dx

Evaluasi

Paraf & Nama Jelas

65

1.

23 April 2011

S: Sebagian WBS mengatakan dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari penyakit Stroke. O: WBS tampak mengajukan resiko

pertanyaan WBS

tentang

cidera pada lansia dapat menjawab pengertian dari resiko cidera WBS dapat menjawab 3 dari 6 penyebab terjadinya cidera - Terlihat hanya sebagian WBS yang dapat mengikuti kegiatan pengecatan pada tangga khususnya di barak Arjuna dan Nakula Sadewa - Terlihat hanya sebagian WBS yang dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari penyakit stroke 7 WBS melakukan kegiatan lumut-lumut

membersihkan

yang ada dilantai khususnya lantai kamar mandi.

66

A : Masalah Resiko Tinggi cedera pada WBS teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan oleh petugas RPLU Jelambar dengan : Menyediakan sepasang sandal Menyediakan penerangan yang cukup Membersihkan 2. 23 April 2011 S: Sebagian WBS mengatakan mandi setiap hari lantai kamar

dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari rematik O: WBS tampak mengajukan penyakit menjawab

pertanyaan WBS

tentang dapat

rematik pada lansia. pengertian dari penyakit rematik WBS dapat menjawa 2 dari 5 penyebab dari rematik WBS terlihat memahami apa yang disampaikan oleh mahasiswa/i.

67

5 WBS dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat lanjut dari penyakit rematik

A :

Masalah sebagian

Nyeri kronis teratasi

P : Intervensi dilanjutkan oleh petugas RPLU Jelambar dengan : Mengontrol pola makan yang diberikan kepada para WBS. 3 23 April 2011 Mengingatkan jadwal pemberian obat pada lansia yang telah diberi obat oleh pihak puskesmas. S: Sebagian WBS mengatakan senang mengikuti latihan rentang gerak aktif dan pasif O: WBS yang mengikuti senam lansia sebesar WBS. WBS tampak berpartisipasi dan aktif dalam mengikuti kegiatan senam lansia. A : Masalah Intoleransi Aktivitas 25 dari 88

68

teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan oleh 4. 23 April 2011 petugas RPLU Jelambar dengan : Lakukan senam lansia secara rutin Anjurkan membuat jus timun dan apel S: WBS cermat O: Terlihat hanya sebagian WBS yang dapat menyusun puzzle dengan benar. WBS yang mengikuti kegiatan cerdas cermat sekitar 30 % dari keseluruhan jumlah WBS yang ada di RPLU Jelambar, WBS tampak antusias dalam mengikuti cermat A : Masalah Risiko gangguan konsep diri teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan oleh petugas RPLU Jelambar dengan : kegiatan cerdas mengatakan kegiatan senang cerdas

mengikuti

69

Lakukan kegiatan yang dapat mengasah kemampuan kognitif misalnya menyusun puzzle dan mengadakan kegiatan cerdas cermat

BAB IV PEMBAHASAN

A. Pengkajian Pengkajian adalah pengumpulan data subyektif dan objektif. Adapun data terkumpul mencakup klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau kebudayaan. ( Mc. Farland, Mc. Farlane., 2001 ) Aging process ( proses penuaan ) adalah suatu proses menghilangnya secara berlahan- lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termaksud infeksi) dan memperbaikin kerusakan yang diderita (Constantinides,2002. Hal. 42). Dari hasil pengkajian yang dilakukan kelompok tidak didapatkan kesenjangan antara teori dan kasus. Penyebab dari menua pada lansia dengan masalah sistem muskuloskeletal (47,72%) sesuai dengan teori genetic clock , bahwa tiap-tiap spesies mempunyai inti sel, diumpamakan sebagai jarum genetik yang telah diputar menurut replikasi tertentu, hal ini dibuktikan dengan adanya tanda dan gejala sebagai berikut; WBS mengatakan sering mengeluh nyeri pada daerah persendian, mengeluh bengkak pada lutut kaki. Penyebab menua pada masalah sistem kardiovaskuler 27,27% sesuai dengan teori radikal bebas yang menyebutkan bahwa suatu perubahan fungsi yang disebabkan oleh polutan lingkungan merupakan sumber eksternal radikal bebas. Hal ini dibuktikan dengan adanya para WBS di rumah perlindungan lanjut usia yang banyak merokok. Penyebab menua pada masalah sistem persyarafan 4,55% sesuai dengan teori genetic clock menyebutkan bahwa terdapat pengurangan selubung myelin, sehingga terjadi penurunan asupan nutrisi yang mengakibatkan terganggunya neurotransmiter ke

70

71

otak. Hal ini dibuktikan dengan adanya tanda dan gejala WBS mengatakan sulit mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sementara penyebab menua pada gangguan sistem psikologis sesuai dengan teori sosiologi, bahwa individu lansia dengan menarik diri dari lingkungan, pada saat yang sama dimana masyarakat menarik dukungan dari kelompok usianya mencapai normal dan kepuasan hidup yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya tanda dan gejala terlihat WBS yang mengatakan kesepian dan cenderung menyendiri. Penyebab proses penuaan yaitu herediter, nutrisi, status kesehatan, pengalaman hidup, lingkungan dan stress. Untuk tanda dan gejala, kelompok juga tidak menemukan adanya kesenjangan, dimana dalam teori disebutkan bahwa tanda-tanda kemunduran fisik yang terjadi pada lansia seperti kulit mengerut, wajah timbul keriput serta garis-garis yang menetap, rambut kepala memutih ( beruban ), gigi mulai lepas ( ompong ), gerakan menjadi lambat dan kurang lincah, serta ingatan mulai berkurang Setelah dilakukan pengkajian ditemukan kesenjangan, dimana pada tanggal 30 Maret 2011 data yang didapatkan dari hasil pihak panti berjumlah 88 WBS, yang terdiri dari pria 48 WBS dan wanita 40 WBS, sedangkan jumlah data yang kelompok dapatkan pada tanggal 13 April 2011 adalah 95 WBS terdiri dari pria 51 orang dan wanita 44 orang. Hal ini dikarenakan adanya WBS yang masuk, keluar, meninggal dan masuk Rumah Sakit untuk dirawat lebih lanjut. Hambatan yang dialami dalam mengumpulkan data yaitu sebagian WBS mengalami penurunan fungsi pendengaran dan wicaranya, sehingga harus melakukan pengkajian berulang dan menanyakan kembali data WBS kepada petugas panti. Sebagian WBS pun tidak kooperatif dikarenakan WBS mengalami gangguan proses pikir. Solusi yang mempermudah melakukan pengkajian untuk mendapatkan data yang akurat dan lengkap yaitu dengan dilakukan pemeriksaan fisik secara head to toe disertai data subyektif dan objektif yang didapatkan pada lansia.

72

Faktor pendukung pada saat kelompok melakukan pengkajian yaitu petugas panti dan sebagian WBS cukup kooperatif dalam memberikan data, serta kerjasama kelompok yang cukup baik. B. Masalah Keperawatan Dari hasil pengkajian tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus dalam masalah keperawatan. Masalah keperawatan merupakan suatu keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga , menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien ( Carpenito, 2000) Untuk masalah keperawatan di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar

ditemukan 4 masalah prioritas, yaitu; resiko tinggi cidera, nyeri kronis , intoleransi aktivitas dan resiko gangguan konsep diri. Masalah resiko tinggi cidera di dukung dengan data ; WBS mengeluh nyeri pada sendi dan tulang, WBS mengatakan tangga di RPLU tidak memiliki tanda garis pengaman, WBS mengatakan sering pusing. Masalah nyeri kronik di dukung dengan data ; WBS mengatakan makanan yang ada di RPLU Jelambar terasa asin, WBS mengatakan jarang mengikuti kegiatan olahraga, WBS mengatakan malas untuk mengikuti olahraga, WBS sering mengatakan pusing. Intoleransi aktivitas di dukung dengan data ; para lansia mengalami pandangan kabur, silau terhadap cahaya. Resiko gangguan konsep diri didukung dengan data ; WBS mengatakan sering pusing, WBS mengatakan sering lupa, WBS mengatakan susah mengingat kejadian yang baru terjadi, WBS mengatakan hanya mengingat kejadian yang dulu saja, WBS mengatakan sering ditertawakan oleh teman-temannya apabila lupa akan sesuatu.

73

C. Rencana Keperawatan Rencana keperawatan merupakan petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diagnosis tersebut (Carpenito, 2000) Tidak ditemukan kesenjangan pada saat melakukan penyusunan rencana asuhan keperawatan. Adapun faktor pendukung tersusunnya rencana tindakan keperawatan dikarenakan adanya kecukupan sumber-sumber buku serta para WBS yang kooperatif didapatkan untuk membuat penyusunan rencana tindakan yang baik dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan kelompok tidak menemukan adanya faktor penghambat. Rencana tindakan pada masalah keperawatan disesuaikan dengan kondisi WBS seperti resiko cedera yaitu penyuluhan tentang resiko jatuh dan cara pencegahannya, Peragaan tentang ROM pada lansia, Kerja bakti untuk memperjelas batas pada tangga dan membersihkan lumut lumut yang ada di lantai serta lawa lawa yang ada di setiap barak, pengadaan penerangan yang cukup, menyediakan sandal. Masalah nyeri kronik dilakukan rencana yaitu Pendidikan dan penyuluhan tentang penyakit stroke, dan latihan rentang gerak (ROM). Masalah keperawatan intoleransi aktivitas dilakukan rencana keperawatan seperti peragaan tentang ROM pada lansia dan lakukan senam lansia di RPLU, TAK. Masalah gangguan konsep diri dilakukan rencana keperawatan seperti Libatkan WBS dalam penyusunan puzzle, libatkan WBS dalam lomba cerdas cermat D. Pelaksanaan Keperawatan Pelaksanaan keperawatan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status

74

kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. ( Bandon,2001, dalam potter dan perry 2001 ) Pelaksanaan masalah keperawatan resiko cidera dilakukan tindakan keperawatan yaitu mengevaluasi tentang penyuluhan stroke tanggal 14 April 2011,melibatkan WBS dalam membersihkan lumut-lumut yang ada di lantai khususnya lantai kamar mandi pada tanggal 18 April 2011 Masalah keperawatan nyeri kronik telah dilakukan tindakan keperawatan mengevaluasi tentang penyuluhan rematik tgl 15 April 2011 Masalah keperawatan intoleran aktivitas telah dilakukan tindakan keperawatan melakukan rentang gerak aktif dan pasif ( ROM ) pada tanggal 12 april 2011, melakukan senam lansia pada tanggal 20 April 2011 Masalah resiko gangguan konsep diri telah dilakukan tindakan keperawatan mengevaluasi kegiatan penyusunan puzzle pada tanggal 13 April 201,melakukan perlombaan cerdas cermat pada tanggal 20 April 2011 Dari tindakan tersebut di atas sebagian besar rencana keperawatan telah dilakukan, dengan mengikut sertakan sekitar 40 % dari penghuni panti dan sisanya tidak bisa mengikuti kegiatan dikarenakan faktor kondisi yang tidak memungkinkan. E. Evaluasi Keperawatan Dari hasil pengkajian dan empat masalah keperawatan yang ditegakkan sampai dengan penyusunan rencana dan melakukan pelaksanaan keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik. Masalah keperawatan yang telah teratasi adalah resiko cidera dan nyeri kronik sedangkan yang teratasi sebagian adalah intoleransi aktifitas dan gangguan konsep diri dikarenakan kondisi dari klien yang telah mengalami penurunan fungsi dan masalah keperawatan yang belum teratasi akan dilanjutkan oleh pihak RPLU Jelambar.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah dilakukan pengkajian secara lengkap oleh kelompok didapatkan beberapa gangguan yang dialami para warga bina sosial ( WBS ) %. Dari data tersebut masalah keperawatan yang di temukan yaitu : resiko cidera , nyeri kronik, intoleransi aktivitas, resiko gangguan konsep diri. Masalah keperawatan resiko cedera dan nyeri kronik teratasi, sedangkan intoleransi aktifitas dan gangguan konsep diri teratasi sebagian. Tindakan tersebut di atas sebagian besar disesuaikan dengan kondisi WBS di rumah perlindungan lansia jelambar yang mengikutsertakan sekitar 40 % dari penghuni panti dan sisanya tidak bisa mengikuti kegiatan dikarenakan faktor kondisi yang tidak memungkinkan. B. Saran 1. Untuk mahasiswa/i Agar dalam memberikan asuhan keperawatan kepada para WBS, Mahasiswa harus lebih caring dan memahami konsep proses penuaan sesuai dengan teori penuaan yang ada. 2. Untuk pengurus panti pelindungan lansia a. Masalah resiko tinggi cidera. b. Menyediakan fasilitas sepasang sandal, penerangan yang cukup, dan memperhatikan lantai kamar mandi agar tidak licin agar WBS tidak mengalami cedera.
75

di antaranya

gangguan muskuloskletal 47,72 %, kardiovaskuler 27,27 %, gangguan psikologis 6,81

76

77

c. Masalah nyeri kronik Menyediakan obat-obatan khususnya analgetik, petugas RPLU dapat

memfasilitasi air hangat bagi WBS yang mengeluh nyeri. d. Intoleransi aktifitas Para WBS dapat mengkonsumsi buah-buahan yang dapat menurunkan tekanan darah. e. Gangguan Konsep diri Melakukan terapi aktifitas kelompok ( TAK ) minimal 1 minggu sekali Lebih memperhatiakn bagiWBS yang mengalami gangguan psikologi.

78

Lampiran 1 DAFTAR NAMA PANITIA GELOMBANG I KEPERAWATAN GERONTIK

No 1 2 3 4. 5 6 7 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15.

Nama Akhirul Walidati Ani Karnita Putri Bucira Merlyn Bernadette Fitri Machfudah Evi Melianawati Dilla Nurohma Evi Dwi Wulansari Bayu Prasetyo Martha Fitri Puspita sarri Karisma Isbiah Nihlatu Zaidah Zen Venty Sucahyanti Anita Rahmawati Ibadatun Pahala Ningsih

NIM 08005 08008 08054 08041 08029 08027 08019 08026 08014 08030 08038 08048 08076 08010 08034

Jabatan Ketua Wakil ketua Sekretaris I Sekretaris II Bendahara I Bendahara II Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Konsumsi

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

Mumuy Muflihah Santi Arum Yunike Suciyanti Enggar Andi Prabowo Nanik Sulandari Winda Puspita Meta R Yasril Rifai Ismawati Ajeng Lola Cintami Wulandari Endang Praniti Nurleman Riska Nita Dewi Tyas Ramadhianta Yetris Novianti T Ahmad Mujamil Enggar Andi Prabowo Ridho Fernando

08044 08065 08083 08025 08046 08078 08042 08079 08036 08004 08016 08023 08051 08063 08075 08080 08003 08031 08064

Sie Konsumsi Sie Konsumsi Sie Konsumsi Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Dokumentasi Sie Dokumentasi Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan

Rudi Dwi Handoko

36. 37.

Suhendar Supriyani

08071 08072

Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STROKE

A. Topik Penyuluhan kesehatan tentang stroke

B. Tujuan 1. Tujuan umum Adapun tujuan umum dari kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai stroke ini adalah para lansia memiliki pengetahuan lebih mengenai penyakitnya. 2. Tujuan khusus Adapun tujuan khusus adalah: a. Lansia mampu menyebutkan pengertian stroke b. Lansia mampu menyebutkan penyebab dari stroke c. Lansia mampu menyebutkan tanda dan gejala dari stroke. d. Lansia mampu menyebutkan akibat dari stroke. e. Lansia mampu menyebutkan pencegahan dari stroke. f. Lansia mampu melakukan perawatan pada pasien stroke.

C. Latar belakang

Proses menua merupakan sebuah proses yang terus menerus secara almiah terjadi. Ini merupakan proses perkembangan yang didalamnya tidak lepas dari hasil kerja growth hormone dan tiroid hormone. Kedua-duanya sama saling berpengaruh dalam proses perkembangan hidup seseorang. Saat tua growth ( GH ) dan tiroid hormone ditekan oleh pusat hormonal yaitu hipotalamus sehingga seluruh organ yang berhubungan dengan hormon tersebut mengalami kemuduran fungsi. ( Constantinides,1994. Hal. 74 ). Sistem neurologi merupakan salah satu dari penyakit yang dialami oleh para lansia, diantaranya adalah stroke. Stroke adalah termasuk penyakit cerebrovaskuler ( pembuluh darah otak ) yang ditandai dengan kematian jaringan otak ( infark cerebral ) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah oksigen ke otak.

D. Klien 1. Karakteristik klien Semua klien yang koopertif di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 2. Proses a. Menginformasikan dan berkolaborasi dengan penanggung jawab panti tentang acara yang akan di lakukan. b. Kontrak waktu dengan klien yaitu kegiatan TAK yang akan di laksanakan pada hari Rabu, 06 April 2011

E. Pengorganisasian 1. Waktu Hari / tanggal : 13.00- 13.45 : Rabu, 06 April 2011

Tempat Durasi

: Di Aula Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. : 30 45 menit

a. Fase orientasi selama 5 menit b. Fase kerja selama 30 menit c. Fase terminasi selama 10 menit 2. Tim TAK a. Leader : Nanik Sulandari Tugas : 1) Memonitor perkembangan kelompok untuk mencapai tujuan 2) Memberikan kenyamanan pada setiap anggota dalam melaksanakan TAK. 3) Memiliki kemampuan komunikasi asertif sehingga kelompok dapat mencapai tujuan yang di sampaikan 4) Dapat mengorganisasi keputusan yang di ambil dalam kelompok 5) Memperkenalkan diri dan anggota kelompok 6) Menjelaskan kegiatan TAK yang akan di lakukan 7) Menjelaskan aturan permainan dan memimpin jalannya kegiatan TAK

b. Co leader : Fitri Puspita Sarri Tugas : 1) Menyampaikan informasi kepada leader dan fasilitator 2) Mengingatkan leader tentang waktu pelaksanaan dan jalannya kegiatan TAK

c. Fasilitator : Dilla Nurohma, Karisma Isbiah Tugas : Memotivasi anggota anggota yang kurang aktif, memotivasi respon sesuai dengan perilaku anggota yang lain d. Observer : Santi Arum, Ahmad Mujamil, Mumuy Muflihah Tugas : Mengamati jalannya kegitan TAK dan pelaksanaan peran terapi, mencatat perilaku dan aktivitas klien baik verbal maupun non verbal

Penyuluh, Lembar balik Pembimbing

Ket : K : Klien

3. Setting Tempat a. Leader dan Co-leader berdiri didepan audience b. Fasilitator berada disetiap sekeliling audience c. Observer berada dibelakang d. Lingkungan nyaman dan tenang

F. Metode Ceramah dan diskusi

G. Alat dan bahan 1. Kursi 2. Microfon 3. Flip chart 4. Lembar balik

H. Penatalaksanaan 1. Persiapan a. Memilih klien yang kooperatif b. Membuat kontrak dengan klien c. Mempersiapkan alat dan tempat kegiatan 2. Orientasi a. Salam terapeutik : leader mengucapkan salam b. Evaluasi / validasi : leader menanyakan perasaan klien c. Kontrak: 1) Leader menjelaskan tujuan kegiatan 2) Leader menjelaskan aturan main a) Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai

b) Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok harus meminta ijin kepada fasilitator c) Kegiatan terus berlangsing selama 45 menit

3. Kerja a. Leader memberikan instruksi kepada fasilitator untuk mengajak para lansia mengikuti penyuluhan tentang stroke b. Penyuluhan dilakukan selam 30-45 menit

c. Leader menginstruksikan kepada lansia untuk memperhatikan penyuluhan yang diberikan waktu 30 menit d. Setelah 30 menit, diadakan evaluasi dan fasilitator menilai lansia yang mampu memahami apa yang telah dijelaskan oleh penyaji e. Leader memberikan reinforcement berupa pujian kepada lansia 4. Terminasi a. Evaluasi subjektif 1) Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK 2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok b. Evaluasi objektif 1) Rencana yang akan datang Mengisi kegiatan waktu luang klien dengan hal yang bermanfaat. 2) Kontrak yang akan datang a) Leader membuat kesepakatan dengan peserta kegiatan untuk mengikuti kegiatan untuk mengikuti kegiatan TAK berikutnya dengan topic yang dipilih b) . Leader membuat kesepakatan dengan peserta tempat dan waktu pelaksanaan TAK.

3. Evaluasi dan Dokumentasi a. Dokumentasi pada proses keperawatan tiap klien b. Format evaluasi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik Sasaran Hari / Tanggal Waktu Tempat Penyuluh A. Tujuan Umum

: Perawatan dan pencegahan Stroke : WBS rumah perlindungan lansia jelambar : Rabu, 06 April 2011 : 30- 45 Menit : Di Aula Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar : Mahasiswa AKPER Hang Tuah Jakarta angkatan XIII

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 45 menit diharapkan WBS Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar dapat memahami pengertian, penyebab, tanda dan gejala, akibat lanjut serta perawatan untuk pasien dengan stroke B. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah diberikan penyuluhan tentang Stroke selama 30 - 45 menit diharapkan WBS Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar dapat: 1. 2. 3. 4. Menyebutkan pengertian dari Stroke Menyebutkan penyebab dari Stroke Menyebutkan tanda dan gejala dari Stroke Menyebutkan akibat Stroke

5. 6.

Menjelaskan cara pencegahan Stroke Menjelaskan cara perawatan pada stroke.

C. Materi (terlampir) 1. Pengertian dari Stroke 2. Penyebab dari Stroke 3. Tanda dan gejala dari Stroke 4. Akibat Stroke 5. Cara pencegahan Stroke 6. Cara perawatan pada stroke.

D. Kegiatan Penyuluhan

No 1

Uraian Kegiatan Pendahuluan Mengucapkan salam Memperkenalkan diri Mengemukakan kontrak waktu - Menyampaikan tujuan Pelaksanaan

Metode Ceramah

Media -

Waktu 5 menit

2 1. Menyebutkan pengertian dari Stroke

Ceramah, diskusi dan tanya jawab.

Leaflet, chart

flip

20 menit

2. Menyebutkan penyebab dari Stroke 3. Menyebutkan tanda dan gejala dari Stroke 4. Menyebutkan akibat Stroke 5. Menjelaskan cara pencegahan Stroke 6. Menjelaskan cara perawatan pada stroke. Penutup 3 Evaluasi Menyampaikan kesimpulan materi Memberi salam Ceramah 5 menit

E. Evaluasi Prosedur Bentuk Evaluasi Waktu Jumlah Jenis soal EVALUASI PERTANYAAN : Langsung : Lisan : 5 menit : 6 soal : Essay

1. Apakah pengertian dari Stroke ? 2. Apakah penyebab dari Stroke ? 3. Sebutkan tanda dan gejala dari Stroke ! 4. Sebutkan akibat dari Stroke 5. Jelaskan cara pencegahan Stroke ! 6. Sebutkan cara perawatan pada stroke. JAWABAN 1. STROKE adalah kehilangan fungsi tubuh yang diakibatkan adanya sumbatan pembuluh darah ke otak. 2. Penyebab : a. Riwayat tekanan darah tinggi b. Merokok c. Kegemukan d. Kolesterol tinggi e. StressPenyebab 3. Tanda dan Gejala Stroke a. Sebagian tubuh kesemutan & lumpuh b. Bicara tidak jelas c. Penglihatan kabur d. Sulit Berjalan e. Mudah lelah

f. Kadang ngompol 4. Akibat dari Stroke a. Otak kekurangan udara b. Kematian otak c. Jalan nafas tersumbat d. Pengecilan otot e. Kekakuan otak 5. Cara pencegahan Stroke a. Hindari makanan yang berlemak b. Hindari rokok c. Hindari stress d. Olahraga teratur 6. Cara perawatan stroke a. Mengawasi jalan nafas dengan melihat apakah ada sesak b. Tinggikan kepala atau posisi setengah duduk c. Merubah posisi setiap 2 jam d. Melakukan gerakan latihan tangan dan kaki e. Bila panas berikan obat penurun panas

LAMPIRAN MATERI

1. Pengertian STROKE adalah kehilangan fungsi tubuh yang diakibatkan adanya sumbatan pembuluh darah ke otak. 2. Penyebab : a. Riwayat tekanan darah tinggi b. Merokok

c. Kegemukan d. Kolesterol tinggi e. StressPenyebab 3. Tanda dan Gejala Stroke a. Sebagian tubuh kesemutan & lumpuh b. Bicara tidak jelas c. Penglihatan kabur d. Sulit Berjalan e. Mudah lelah f. Kadang ngompol 4. Akibat dari Stroke a. Otak kekurangan udara b. Kematian otak c. Jalan nafas tersumbat d. Pengecilan otot e. Kekakuan otak

5.

Cara pencegahan Stroke a. Hindari makanan yang berlemak b. Hindari rokok

c. Hindari stress d. Olahraga teratur 6. Cara perawatan stroke a. Mengawasi jalan nafas dengan melihat apakah ada sesak b. Tinggikan kepala atau posisi setengah duduk c. Merubah posisi setiap 2 jam d. Melakukan gerakan latihan tangan dan kaki e. Bila panas berikan obat penurun panas

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Sasaran

: Gangguan Sistem Saraf : Meningkatkan Daya Ingat : Barak Sadewa, Nakula dan Arjuna Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar

Waktu Hari / Tanggal Tempat Penyuluh

: 30 Menit : 08 April 2011 pukul 09.00 : Aula Wijaya Kusuma Jelambar : Kelompok besar

I. Analisa Situasi Kegiatan ini dilakukan dengan cara menyusun puzzel yang akan diberikan kepada Opa yang berada dibarak Sadewa, Nakula dan Arjuna 8 orang dengan usia 60-75 tahun yang terbagi dalam dua tim dan masing-masing tim terdiri dari 4 orang yang masih mampu melakukan aktifitas sendiri. Penyuluhan ini akan dilaksanakan selama 30 menit di Aula Wijaya Kusuma Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. Penyuluhan ini juga akan dihadiri oleh pembimbing institusi dan pembimbing klinik.

1 5

3 4

3 4

3 1

2
4

3 1

3 1

Keterangan : 1 = Perawat 2 = Institusi 3 = Klien 4 = Peraga 5 = Leader Pembimbing

A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah dilakukan kegiatan ini dengan menyusun puzzel selama 30 menit diharapkan Opa pada Barak Sadewa, Nakula dan Arjuna Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar dapat membantu meningkatikan penurunan daya ingat. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah dilakukan Pelatihan daya ingat dengan menyusun puzzel, diharapkan klien mampu memasang puzzel kembali yang sudah dibongkar b) Metode 1. Bermain 2. Simulasi c) Media atau Alat Bantu a. Alat Peraga/Puzzle d) Pengorganisasian 1. Waktu : 10 : 00 WIB

Hari / tanggal : kamis, 07 April 2010 Tempat Durasi : Aula Wijaya Kusuma : 30 menit

a) Fase orientasi selama 5 menit b) Fase kerja selama 45 menit c) Fase terminasi 10 menit

2. 1.

Tim TAK Leader

Tugas

1) Memonitor perkembangan kelompok 2) Memiliki kemampuan komunikasi asserive sehingga kelomok dapat mencapai tujuan yang disampaikan. 3) Dapat mengorganisasikan keputusan yang diambil dalam kelompok 4) Menjelaskan kegiatan TAK yang akan dilakukan 5) Menjelaskan aturan permainan dan memimpin jalannya kegiatan 2. Co leader Tugas :

1) Menyampaikan informasi kepada leader dan fasilitator 2) Mengingatkan leader tenteng waktu pelaksanaan dan jalannya kegiatan TAK 3. Fasilitator Tugas :

1) Memotivasi anggota anggota yang kurang aktif, memotifasi respon sesuai dengan prilaku aggota yang lain. 4. Observer a. Mengamati jalannya kegiatan TAK dan pelaksanaan para terapis, mencatat prilaku dan aktivitas klien baik verbal maupnn non verbal

e)

Kegiatan

No 1.

Tahapan Pre Operasional

Kegiatan Penyuluhan a. Mengucapkan salam b. Mengingatkan nama perawat c. Menjelaskan tujuan

Waktu 5 menit

Metode Ceramah

Alat Bantu

2. Operasional

dan kontrak waktu Menjelaskan tentang : 20 menit a. Mendemonstrasikan / menstimulasikan pemasangan puzzel Bermain dan demonstrasi Alat Peraga

3.

Post Operasional

a. Mengeksplor perasaan melakukan pemasangan puzzel. b. Mengucapkan salam. setelah

5 menit

Ceramah Tanya Jawab

Penapsiran 1. Memilih klien yang koperatif 2. Membuat kontrak dengan klien 3. Mempersiapkan alat dan tempat kegiatan

Orientasi 1. Salam terapuetik

2. Evaluasi 3. Kontrak a. Leader menjelaskan tujuan kegiatan b. Leader menjelaskan aturan main 1) Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir 2) Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok harus minta izin pada fasilitator 3) Kegiatan harus berlangsung selama 35 menit Kerja 1. Leader memberikan instruksi kepada fasilitator untuk membagikan puzel kepada lansia 2. Puzzle yang diberikan pertama kali masih dalam kondisi utuh dan lansia diberikan kesempatan untuk mengingat gambar pada puzzel 3. Leader mengnstruksikan kepada fasilitator untuk mengambil puzzel dan merubah posisi gambar pada puzzle tersebut 4. Leader menginstruksikan lansia untuk menyusun puzzel sesuai gambar 5. Setelah 10 menit, rangkaian puzzle dihentikan dan fasilitator menghitung rangkaian yang telah disusun oleh lansia 6. Leader memberikan reinforcement berupa pujian kepada lansia Terminasi 1. Evaluasi subjektif a. Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK

b.

Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

2. Evaluasi objektif a. Rencana yang akan datang Mengisi kegiatan waktu luang klien dengan hal yang bermanfaat b. Kontrak yang akan datang 1) Leader membuat kesepakatan dengan klien untuk mengikuti kegiatan TAK berikutnya. 2) Leader membuat kesepakatan dengan peserta tempat dan waktu pelaksanan TAK.

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK REMATIK

A. Topik Penyuluhan kesehatan tentang Rematik B. Tujuan 1. Tujuan umum Adapun tujuan umum dari kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai rematik ini adalah para lansia memiliki pengetahuan lebih mengenai penyakitnya. 2. Tujuan khusus Adapun tujuan khusus adalah: a. b. c. d. e. f. Lansia mampu menyebutkan pengertian rematik Lansia mampu menyebutkan penyebab dari rematik Lansia mampu menyebutkan tanda dan gejala dari rematik Lansia mampu menyebutkan akibat dari rematik Lansia mampu menyebutkan pencegahan dari rematik Lansia mampu melakukan perawatan pada pasien rematik

C. Latar belakang Proses menua merupakan sebuah proses yang terus menerus secara almiah terjadi. Ini merupakan proses perkembangan yang didalamnya tidak lepas dari hasil kerja growth hormone dan tiroid hormone. Kedua-duanya sama saling berpengaruh

dalam proses perkembangan hidup seseorang. Saat tua growth ( GH ) dan tiroid hormone ditekan oleh pusat hormonal yaitu hipotalamus sehingga seluruh organ yang berhubungan dengan hormon tersebut mengalami kemuduran fungsi. ( Constantinides,1994. Hal. 74 ). Sistem muskuloskeletal merupakan salah satu dari penyakit yang dialami oleh para lansia, diantaranya adalah rematik. rematik adalah termasuk penyakit rusaknya sistem auto imun didalam tubuh. ( Santun Setiawati & Agus Citra Dermawan, 2008 )

1. Klien a. Karakteristik klien Semua klien yang koopertif di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. b. Proses Menginformasikan dan berkolaborasi dengan penanggung jawab panti tentang acara yang akan di lakukan. c. Kontrak waktu dengan klien yaitu kegiatan TAK yang akan di laksanakan pada hari Rabu, 07 April 2011

D. Pengorganisasian Waktu Hari / tanggal Tempat Durasi 1. : 13.00- 13.45 : Rabu, 07 April 2011 : Di Aula Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. : 30 45 menit

Fase orientasi selama 5 menit

2. 3.

Fase kerja selama 30 menit Fase terminasi selama 10 menit

Tim TAK a. Leader Tugas : 1) Memonitor perkembangan kelompok untuk mencapai tujuan 2) Memberikan kenyamanan pada setiap anggota dalam melaksanakan TAK. 3) Memiliki kemampuan komunikasi asertif sehingga kelompok dapat mencapai tujuan yang di sampaikan 4) Dapat mengorganisasi keputusan yang di ambil dalam kelompok 5) Memperkenalkan diri dan anggota kelompok 6) Menjelaskan kegiatan TAK yang akan di lakukan 7) Menjelaskan aturan permainan dan memimpin jalannya kegiatan TAK

b. Co leader : Anita Rahmawati Tugas : 1) Menyampaikan informasi kepada leader dan fasilitator 2) Mengingatkan leader tentang waktu pelaksanaan dan jalannya kegiatan TAK

c. Fasilitator : Nurleman, Nihlatu Zaidah Zen, Ridho Tugas : 1) Memotivasi anggota anggota yang kurang aktif, memotivasi respon sesuai dengan perilaku anggota yang lain d. Observer : Winda Puspita Tugas : 1) Mengamati jalannya kegitan TAK dan pelaksanaan peran terapi, mencatat perilaku dan aktivitas klien baik verbal maupun non verbal

Penyuluh, Lembar balik Pembimbing

Ket : K : Klien

E. Setting tempat 1. Leader dan Co-leader berdiri didepan audience 2. Fasilitator berada disetiap sekeliling audience 3. Observer berada dibelakang 4. Lingkungan nyaman dan tenang F. Metode Ceramah dan diskusi

G. 1. Kursi 2. Microfon 3. Flip chart 4. Lembar balik

Alat dan bahan

H. 1. Persiapan

Penatalaksanaan

a. Memilih klien yang kooperatif b. Membuat kontrak dengan klien c. Mempersiapkan alat dan tempat kegiatan 2. Orientasi a. Salam terapeutik : leader mengucapkan salam b. Evaluasi / validasi : leader menanyakan perasaan klien 3. Kontrak: a. Leader menjelaskan tujuan kegiatan b. Leader menjelaskan aturan main 1) Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai 2) Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok harus meminta ijin kepada fasilitator 3) Kegiatan terus berlangsing selama 45 menit 4. Kerja a. Leader memberikan instruksi kepada fasilitator untuk mengajak para lansia mengikuti penyuluhan tentang stroke b. Penyuluhan dilakukan selam 30-45 menit c. Leader menginstruksikan kepada lansia untuk memperhatikan penyuluhan yang diberikan waktu 30 menit

d. Setelah 30 menit, diadakan evaluasi dan fasilitator menilai lansia yang mampu memahami apa yang telah dijelaskan oleh penyaji e. Leader memberikan reinforcement berupa pujian kepada lansia 5. Terminasi 1) Evaluasi subjektif 1) Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK 2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok 2) Evaluasi objektif 1) Rencana yang akan dating Mengisi kegiatan waktu luang klien dengan hal yang bermanfaat. 2) Kontrak yang akan datang a) Leader membuat kesepakatan dengan peserta kegiatan untuk mengikuti kegiatan untuk mengikuti kegiatan TAK berikutnya dengan topic yang dipilih b) Leader membuat kesepakatan dengan peserta tempat dan waktu pelaksanaan TAK.

2. 1. 2.

Evaluasi dan Dokumentasi Dokumentasi pada proses keperawatan tiap klien Format evaluasi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Sasaran Waktu Hari / Tanggal Tempat Penyuluh

: Gangguan Sistem Muskuloskeletal : Rematik ( Rhematoid Athritis ) : Warga Binaan Rumah Perlindungan Lansia Jelambar : 30 Menit : Kamis, 7 April 2011 : Rumah Perlindungan Lansia Jelambar, Barak Kunti : Mahasiswa Akper Hang Tuah Jakarta

Analisa Situasi Penyuluhan mengenai rematik ini akan diberikan kepada warga binaan Rumah

Perlindungan Lansia Jelambar berjumlah 21 orang yang memiliki latar belakang pendidikan SD 8 orang, SMP 2 orang, SMA 3 orang, perguruan tinggi 1 orang dan yang tidak bersekolah 7 orang . Penyuluhan ini akan dilaksanakan selama 30 menit. Penyuluhan ini juga akan dihadiri oleh pembimbing institusi.

3 1

Keterangan : 1. Lembar balik 2. Penyaji 3. Pembimbing

Rumah Perlindungan Lia Jelambar444

2 A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 40 menit diharapkan warga Binaan Rumah Perlindungan Lansia Jelambar khususnya di Barak Kunti dapat memahami dan mengerti tentang rematik. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah dilakukan tindakan penyuluhan, diharapkan warga Binaan Rumah Perlindungan Lansia Jelambar khususnya di Barak Kunti : a. Menyebutkan dan memahani pengertian rematik b. Menyebutkan dan memahami penyebab rematik c. Menyebutkan dan memahami tanda dan gejala dari rematik d. Menyebutkan dan memahami akibat lanjut dari dari rematik e. Menyebutkan dan memahami pencegahan pada penderit rematik f. Menyebutkan dan memahami penatalaksanaan rematik B. Materi Penyuluhan ( terdapat pada lampiran I ) 1. Pengertian rematik 2. Penyebab rematik 3. Tanda dan gejala dari rematik 4. Akibat lanjut dari dari rematik 5. Pencegahan pada penderita rematik 6. Penatalaksanaan rematik C. Metode 1. Ceramah 2. Diskusi

3. Tanya Jawab D. Media atau Alat Bantu 1. Lembar balik 2. Leaflet 3. Mic

E. Kegiatan Belajar Mengajar

No 1.

Tahapan Kegiatan Penyuluhan Pre a. Mengucapkan salam Operasional b. Memperkenalkan diri c. Menjelaskan tujuan dam kontrak waktu d. Apersepsi materi Menjelaskan tentang :

Waktu 5 menit

Metode Ceramah

Alat Bantu Mic

Ceramah 15 menit Tanya Jawab

Lembar Balik

2.

Operasional a. Pengertian rematik b. Penyebab rematik c. Tanda dan gejala rematik d. Akibat lanjut dari rematik e. Pencegahan pada penderita rematik f. Penatalaksanaan rematik a. Melakukan kesempatan bertanya Oprasional b. Menerangkan semua

Post 3.

Ceramah 10 menit Tanya Jawab

Leaflet

materi yang telah disampaikan c. Mengevaluasi secara lisan mengenai materi yang telah disampaikan d. Memberikan leaflet e. Mengucapkan salam F. Evaluasi 1. Jenis : Evaluasi formatif

2. Tehnik : Lisan a. Sebutkan pengertian rematik Rematik adalah peradangan pada satu atau beberapa persendian secara tiba tiba / berangsur angsur dengan ditandai bengkaknya persendian. b. Sebutkan penyebab rematik 1) 2) 3) 4) 1) Kaku sendi 2) Nyeri sendi 3) Kesemutan 4) Perubahan gaya jalan 5) Sulit tidur d. Sebutkan akibat lanjut Rematik 1) Persendian menjadi rusak 2) Lebam / kebiruan 3) Peradangan tulang 4) Kecacatan e. Sebutkan makanan yang dihindari untuk penderita rematik Faktor keturunan Faktor usia Cedera sendi Olahraga / aktivitas yang berlebihan

c. Sebutkan tanda dan gejala rematik

1) 2) 3) 4) 5) 6)

Jeroan, hati, usus Udang, kerang, cumi, kepiting Daging, telur Kacang kacangan Bayam, kangkung, daun singkong Durian, alpukat.

f. Sebutkan cara perawatan rematik 1) ( selama 15 20 menit ) 2) 3) 4) Olahraga teratur Berikan alat bantu seperti tongkat Latihan pergerakan seperti berjalan kaki Kompres air hangat pada persendian yang sakit

LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian rematik Rematik adalah peradangan pada satu atau beberapa persendian secara tiba tiba / berangsur angsur dengan ditandai ( Smeltzer, Suzzane C, 2000. Hal : 215 ) Rematik adalah peradangan pada satu atau beberapa persendian yang terjadi secara berangsur angsur yang ditandai dengan bengkaknya persendian ( Santun Setiawati & Agus Citra Dermawan, 2008. Hal : 128 ) B. Penyebab rematik 1. Faktor keturunan 2. Faktor usia 3. Cedera sendi 4. Olahraga / aktivitas yang berlebihan C. Tanda dan gejala rematik 1. Kaku sendi 2. Nyeri sendi bengkaknya persendian dan nyeri pada sendi.

3. Kesemutan 4. Perubahan gaya jalan 5. Sulit tidur D. Akibat lanjut rematik 1. Persendian menjadi rusak 2. Fraktur (patah tulang) 3. Kecacatan E. Pencegahan Pada Penderita Rematik 1. Jeroan, hati, usus 2. Udang, kerang, cumi, kepiting 3. Daging, telur 4. Kacang Polong 5. Bayam, kangkung, daun singkong 6. Durian, alpukat 7. Minuman dan makanan beralkohol F. Cara perawatan rematik 1. Kompres air dingin pada persendian yang sakit ( selama 15 20 menit ) 2. Olahraga teratur 3. Bila kegemukan kurangi berat badan 4. Berikan alat bantu seperti tongkat 5. Latihan pergerakan seperti berjalan kaki

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Latar belakang Pada pertemuan yang telah dilakukan didapatkan data sebagai berikut: klien mengatakan tidak mengetahui penyebab resiko cedera, cara mencegah resiko cedera, kesadaran compos metis, klien mengatakan tidak tahu cara mengaatasi cedera. Oleh karena itu pada pertemuan ini perawat akan melakukan penkes tentang meteri pencegahan resiko cedara dengan menjelaskan tentang pengertian, penyebab, pencegahan dan cara mengatasi resiko cedara. 1. Data yang perlu dikaji Pengetahuan klien tentang masalah kesehatannya 2. Masalah keperawatan Resiko tinggi cedera

B. Rencana keperawatan 1. Diagnose keperawatan Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penilaian yang tidak benar sekunder terhadap akibat defisit kongitif 2. Tujuan umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat memahami tentang masalahnya dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 3. Tujuan khusus a. Klien memahami pengertian resiko cedera b. Klien mengetahui penyebab resiko cedera c. Klien memahami pentingnya pencegahan resiko cedera d. Klien memahami cara mengatasi resiko cedera

C. Rancangan keperawatan 1. Topik 2. Sasaran 3. Metode 4. Media 5. Waktu 6. Tempat : Menjelaskan tenteng pencegahan resiko cedera : WBS : Diskusi dan ceramah : Lembar balik dan lieflet : 5 April 2011, pukul 11.00 WIB : Barak Bisma

7. Strategi pelaksanaan: a. Memberi salam b. Mengingatkan nama perawat c. Mengingatkan kontrak d. Menjelaskan tentang pengertian resiko cedera e. Menjelaskan tentang penyebab resiko cedera f. Menjelaskan tentang resiko cedera g. Menjelaskan tentang cara mengatasi resiko cedera h. Mengevaluasi yang dijelaskan perawat i. Menutup dan membuat kontrak berikutnya j. Meberikan salam 8. Setting kegiatan

A C

B
Keterangan : A: penyuluh

B: pembimbing C: audience

9. Kriteria Evaluasi a. Klien terlihat kooperatif b. Klien memahami pengertian resiko cedera c. Klien mengetahui penyebab resiko cedera d. Klien memahami pentingnya pencegahan resiko cedera e. Klien memahami cara mengatasi resiko cedera

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan Subpokok bahasan Sasaran Waktu

: Sistem musculoskeletal : Resiko Cedera pada Lansia : Penghuni Barak Bsma, Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar : 30 menit

Hari/tanggal Tempat Penyuluh Analisasituasi

: Selasa 5 April 2011 : Barak sinta,Rumah Perlindungan lanjut Usia Jelambar : Kelompok besar

Penyuluhan panduan praktis tentang resiko cedera pada lansia akan dilaksanakan di rumah perlindungan lanjut usia yang akan dihadiri oleh penghuni barak sinta dengan latarbelakang tidak sekolah, SD dan SMP dan dihadiri oleh pembimbing klinik.

Keterangan :

A. Penyuluh

C
B

B. Lansia C. Pembimbin g

A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan pembelajaran umum Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1x30 menit diharapkan penghuni barak shinta mampu memahami tentang resiko cedera pada lansia. 2. Tujuan pembelajaran khusus Setelah dilakuakan penyuluhan selama 1 x 30 menit diharapkan penghuni barak sinta mampu : a. Menjelaskan pengertian pada lansia b. Penyebab cedera pada lansia

c. Menyebutkan akibat cedera pada lansia d. Menegetahui cara Pencegahan cedera pada lansia 3. Meteri penyuluhan (terlampir) 4. Metode a. Ceramah b. Diskusi/Tanya jawab 5. Media ataualat bantu a. Lembarbalik b. Leaflet 6. KegiatanBelajarMengajar

No 1

Tahapan Pre operasional

Kegiatan penyuluhan a. Mengucapkan salam b. Memperkenal kandiri c. Menjelaskan tujuan dan kontak waktu d. Persepsi tentang materi yang akan diberikan Menjelaskan tentang :

waktu 5 menit

Metode Ceramah

Media

Lembar 20 menit Ceramah balik

Operasional a. Pengertian pada lansia b. Peneyebab cedera pada lansia c. Akibat cedera pada

lansia d. Pencegahan cedera padal ansia. a. Mengevaluasi secara 3 Post operasional b. Merangkum materi yang telah diberikan c. Memberikan leaflet d. Memberikan salam Penutup lisan 5 menit Dan diskusi Ceramah

7. Evaluasi a. jenisevaluasi : formatif b. tehnikevaluasi : lisan 1) 2) 3) 4) Jelaskan tentang pengertian resiko cedera padal ansia. Sebutkan penyebab resiko cedera pada lansia Sebutkan akibat resiko cedera pada lansia Sebutkan cara pencegahan cedera pada lansia

RESIKO CEDERA PADA LANSIA

A. Pengertian Cedera pada lansia adalah suatu kejadian yang mengakibatkan hilangnya rasa nyaman dan hilangnya keseimbangan dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah mengakibatkan munculnya rasa sakit, hilangnya kesadaran hingga terluka. (Wahyudi Nugroho.2006 )

B. Penyebab Cedera pada lansia Factor penyebab pada lansia dapat dibagi dalam dua golongan besar,yaitu: 1. Factor intrinsic Factor intrinsic dapat disebabkan oleh: a. Proses penuaan seperti usia b. Gangguan penglihatan c. Gangguanpendengaran d. Pusing 2. Ekstrinsik

a. Lantai yang tidak datar,licin atau menurun b. Alas kaki kurang pas dan alas kaki tertukar c. Cahaya yang kurangterang 5-30 watt d. Tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang e. Karpet yang tidak dilem dengan baik f. Keset yang tebal/menekuk pinggirnya

C. Akibat cedera pada lansia 1. Perdarahan dibawah kulit 2. Patah tulang 3. Kecacatan 4. Masuk tempatperawatan 5. Meninggaldunia

D. Cara Pencegahan 1. Pantau pemberian obat yang menyebabkan penurunan kesadaran 2. Gunakan kacamata 3. Kurangiaktivitas yang berlebihan 4. Posisi tempat tidur yang berlebihan

5. Berikan pegangan pada dinding kamar mandi.

Lampiran 2 DAFTAR NAMA PANITIA GELOMBANG 2 KEPERAWATAN GERONTIK

No 1 2 3 4. 5 6 7 8. 9. 10

Nama Ochtavia Nurcahyani Tomi Azwar Indra Setiawan Azizir Rohimah Putri Dame Girsang Dwi Fitri Pitaloka Engga Aditia .P Maryani Nurjanah Ratih Dewi Nastiti

NIM 08053 08061 08035 08013 08017 08021 08024 08040 08050 08058

Jabatan Ketua Wakil ketua Sekretaris I Sekretaris II Bendahara I Bendahara II Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Ilmiah

11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29.

Riska Amalia Yolanda Sarlina. SS Amelia Frida Gusdilla Murni Ardianti Sherlly Suci Imanda Dewi Suci A Lia Febrianti Nurul Wijayanti Shinta Ristianny Aropah Novi Endah N Raymond Mekarya M Siti Khosiah Agung Putra Pratama Arif Tirtana Disi Aliansa Dyah Nova A Febrian

08062 08082 08007 08031 08045 08066 08018 08039 08052 08067 08012 08049 08059 08069 08001 08011 08020 08022 08028

Sie Ilmiah Sie Ilmiah Sie Konsumsi Sie Konsumsi Sie Konsumsi Sie Konsumsi Sie Dokumentasi Sie Dokumentasi Sie Dokumentasi Sie Dokumentasi Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Kebersihan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan

30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38.

Haerul Anwar Heru Adi S Siti Mariam Vincensia Sheila D Rani E Mila A Putri Noviani Bondan Kusuma R Anita Novianti

08032 08033 08070 08077 08057 08043 08056 08015 08009

Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Perlengkapan Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Kreatif Sie Kreatif

Untuk memudahkan menyusun pelaksanaan, kelompok besar dibagi dalam kelompok kecil tersebut terdiri dari 7 8 orang. Setiap kelompok akan melakukan pengkajian untuk mengidentifikasi masalah yang ada pada masing masing asrama, melaporkan kekelompok besar tentang hal hal apa yang didapatkan tentang hal yang dilakukan. Kelompok besar akan membuatnya sebagai laporan besar.

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Latar Belakang Suatu kehidupan akan berlangsung sempurna apabila kesehatan yang ada pada diri kita berlangsung membaik sampai kita berusia lanjut, sampai menutup mata. Kesehatan yang optimal bukan didapatkan secara mudah, tetapi butuh pengorbanan dan usaha yang maksimal untuk menjalankan hidup yang sehat. Kesehatan lanjut usia meliputi kesehatan badan, rohani, dan sosial lanjut usia bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Untuk dapat menjalankan hidup yang berkualitas di perlukan bekal. Maka dari itu, bagi seorang lansia bekal ini berupa pengalaman, pengetahuan, keahlian, kearifan dan kesehatannya. Namun demikiankebugaran dan kesehatan bisa semakin menurun.

Kesehatan yang dimaksud disini adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, sosial, dan tidak sekedar bebas penyakit atau cacat. Kondsi sehat inilah yang pada hakikatnya menjadi penopang untuk mengamalkan pengalaman, ilmu, keahlian dan kearifan secara optimal. Kesehatan pada dasarnya dipengaruhi pada 4 faktor utama yaitu keturunan,

lingkungan, upaya kesehatan dan perilaku. Terhadap faktor keturunan tentunya kita tidak bisa berbuat apa-apa, dalam arti bahwa sesuatu yang diturunkan akan merekat pada diri kita untuk selama-lamanya. Dalam hal yang berkaitan dengan lingkungan, dalam banyak hal kita sering tidak mempunyai pilihan kecuali kita bisa memperbaiki dirinya sendiri maupun secara kolektif. Pada perilaku yang sehat, didapatkan kesehatan yang meliputi kesehatan yang dipengaruhi oleh lingkungan, individu, dan sosial. Kesehatan yang diperoleh dengan perilaku yang sehat interaksi orang dengan lingkungannya maupun upaya kesehatan dapat menghasilkan kualitas hidup yang memadai dan juga umur panjang. Program 3 sehat pada hakikatnya adalah program perilak. Disebut 3 sehat karena mempunyai 3 komponen yaitu : mental, olahraga, dan gizi. Ketiganya merupakan tri tunggal untuk mendapatkan manfaat yang optimal, ketiganya harus dijalankan tanpa mengabaikan salah satu sebagai program perilaku, keberhasilan program ini akan tergantung pada niat dan ketekunan yang menjalaninya. Oleh karena itu, pada pertemuan ketiga hari ini pada gelombang II, perawat akan melakukan pengevaluasian ulang pada penyuluhan stroke dan reumathoid arthritis di per barak Rumah Perlindungan Lansia Jelambar. 1. Data yang perlu dikaji a. Berapa banyak jumlah lansia di Rumah Perlindungan Jelambar yang mengalami Stroke, dan Reumathoid Arthritis. b. Berapa jauh lansia mengerti tentang cara perawatannya.

2. Masalah keperawatan

a. Resiko tingi jatuh pada lansia. b. Intoleransi aktivitas

B. Rencana Keperawatan 1. Diagnosa keperawatan a. Resiko tinggi jatuh pada lansia berhubungan dengan kurang pengetahuan lansia tentang faktor pencentus jatuh. b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

2. Tujuan umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa pengevaluasian penyuluhan stroke dan reumathoid arthritis, perawat dapat membantu mengurangi resiko cedera dan meningkatkan aktivitas.

3. Tujuan khusus a. Klien dapat memahami tentang pengertian Stroke dan Reumathoid Arthritis. b. Klien dapat memahami tentang penyebab Stroke dan Reumathoid Arthritis. c. Klien dapat memahami tentang tanda dan gejala Stroke dan Reumathoid Arthritis. d. Klien dapat memahami tentang komplikasi Stroke dan Reumathoid Arthritis. e. Klien dapat memahami tentang pencegahan Stroke dan Reumathoid Arthritis. f. Klien dapat memahami tentang pengobatan Stroke dan Reumathoid Arthritis.

C. Rencana kegiatan 1. Topik : Memberikan penyuluhan tentang Stroke dan Reumathoid Arthritis. 2. Sasaran 3. Metode 4. Tempat 5. Media 6. Strategi pelaksanaan a Memberi salam b Memperkenalkan nama perawat c Mengingatkan kontrak d Mengevaluasi penyuluhan tentang stroke dan reumathoid arthritis e Memberikan pertanyaan tentang penyuluhan tentang stroke dan reumathoid arthritis f Menutup dan membuat kontrak selanjutnya g Memberi salam : Lansia di Rumah Perlindunagn Lansia Jelambar : Penyuluhan kesehatan : Barak Rumah Perlindungan Lansia Jelambar : Lembar balik, leaflet :

7. Setting kegiatan

:
N

Keterangan

: N : perawat K : klien

D. Kritreria Evaluasi 1. Evaluasi struktur Persiapan laporan pendahuluan Menggunakan kontrak pada lansia di Rumah Perlindungan Lansia Jelambar tanggal 14 April 2011 pukul 14.00 WIB.

2. Evaluasi Hasil - Lansia dapat memahami stroke dan reumathoid arthritis. 3. Evaluasi proses - Lansia khususnya di Rumah Perlindungan Lansia Jelambar tampak kooperatif. - Kegiatan sesuai jadwal.

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Latar Belakang Suatu kehidupan akan berlangsung sempurna apabila kesehatan yang ada pada diri kita berlangsung membaik sampai kita berusia lanjut, sampai menutup mata. Kesehatan yang optimal bukan didapatkan secara mudah, tetapi butuh pengorbanan dan usaha yang maksimal untuk menjalankan hidup yang sehat. Kesehatan lanjut usia meliputi kesehatan badan, rohani, dan sosial lanjut usia bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Untuk dapat menjalankan hidup yang berkualitas di perlukan bekal. Maka dari itu, bagi seorang lansia bekal ini berupa pengalaman, pengetahuan, keahlian, kearifan dan kesehatannya. Namun demikian kebugaran dan kesehatan bisa semakin menurun. Kesehatan yang dimaksud disini adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, sosial, dan tidak sekedar bebas penyakit atau cacat. Kondsi sehat inilah yang pada hakikatnya menjadi penopang untuk mengamalkan pengalaman, ilmu, keahlian dan kearifan secara optimal. Kesehatan pada dasarnya dipengaruhi pada 4 faktor utama yaitu keturunan, lingkungan, upaya kesehatan dan perilaku. Terhadap faktor keturunan tentunya kita tidak bisa berbuat apaapa, dalam arti bahwa sesuatu yang diturunkan akan merekat pada diri kita untuk selama-lamanya. Dalam hal yang berkaitan dengan lingkungan, dalam banyak hal kita sering tidak mempunyai pilihan kecuali kita bisa memperbaiki dirinya sendiri maupun secara kolektif. Pada perilaku yang sehat, didapatkan kesehatan yang meliputi kesehatan yang dipengaruhi oleh lingkungan, individu, dan sosial. Kesehatan yang diperoleh dengan perilaku yang sehat interaksi orang dengan lingkungannya maupun upaya kesehatan dapat menghasilkan kualitas hidup yang memadai dan juga umur panjang. Program 3 sehat pada hakikatnya adalah program perilak. Disebut 3 sehat karena mempunyai 3 komponen yaitu : mental, olahraga, dan gizi. Ketiganya merupakan tri tunggal untuk mendapatkan manfaat yang optimal, ketiganya harus dijalankan tanpa mengabaikan salah satu sebagai program perilaku, keberhasilan program ini akan tergantung pada niat dan ketekunan yang menjalaninya.

Oleh karena itu, pada pertemuan pertama hari ini pada gelombang II, perawat akan melakukan pengecatan ulang pada pagar pegangan di barak arjuna, nakula dan sadewa beserta opa yang ada di barak arjuna, nakula dan sadewa. 1. Data yang perlu dikaji Seberapa besar kemampuan opa melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan resiko jatuh di Rumah Perlindungan Lansia Jerlambar. 2. Masalah keperawatan Resiko tinngi jatuh pada lansia.

B. Rencana Keperawatan 1. Diagnosa keperawatan Resiko tinggi jatuh pada lansia berhubungan dengan kurang pengetahuan lansia tentang faktor pencentus jatuh. 2. Tujuan umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa pengecatan ulang pagar pegangan, perawat dapat membantu mengurangi resiko cedera. 3. Tujuan khusus a. Lansia mampu mencegah resiko jatuh. b. Lansia mampu melakukan pengecatan ulang pagar pegangan untuk melatih pula pergerakan ekstermitas lansia.

C. Rencana kegiatan

1. Topik 2. Sasaran 3. Metode 4. Tempat 5. Media 6. Strategi pelaksanaan a. Memberi salam

: Melakukan pengecatan ulang pagar pegangan : Lansia di barak arjuna, nakula dan sadewa : Demonstrasi : Barak arjuna, nakula dan sadewa] : Cat, kuas, koran, dan thiner :

b. Memperkenalkan nama perawat c. Mengingatkan kontrak d. Melakukan pengecatan ulang pagar pegangan e. Penutup f. Memberi salam 7. Setting kegiatan :

N K K K K K K K

Keterangan

: N : perawat K : klien

D. Kritreria Evaluasi 1. Evaluasi struktur Persiapan laporan pendahuluan Menggunakan kontrak pada lansia di Rumah Perlindungan Lansia Jelambar tanggal 12 April 2011 pukul 11.00 WIB.

2. Evaluasi Hasil - Lansia dapat mencegah penyebab resiko jatuh.

3. Evaluasi proses - Lansia khususnya di Rumah Perlindungan Lansia Jelambar tampak kooperatif. - Kegiatan sesuai jadwal

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP ) PENGECATAN

Pokok bahasan

: Gangguan Pada Sistem Muskuloskeletal

Sub pokok bahasan : Pengecetan Sasaran Waktu Hari / tanggal Tempat : Opa dan Oma di Rumah Perlindungan lanjut Usia Jelambar : 30 menit : Senin, 12 April 2011 : Barak Nakula, Sadewa dan Arjuna Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Penyuluh : Mahasiswa Angkatan 13

Analisa Situasi Pengecetan yang akan dilaksanakan di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar, khususnya dibarak Nakula, Sadewa dan Arjuna di ikuti oleh sekitar 10 orang penghuni barak dan mahasiswa angkatan 13.
Keterangan 1. 3 2. 2 3. 1. Pembimbing 2. Lembar Balik 3. penyuluh 4. lansia

A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah dilakukan pengecetan selama 60 menit diharapkan lansia dapat memanfaatkan tiang pegangan tangan yang sudah d cat 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah di lakukan pengecatan selama 60 menit diharapkan lansia dapat : a. b. c. B. Metode Pembelajaran Demonstrasi C. Media / Alat Bantu 1. 2. 3. 4. D. Evaluasi 1. 2. Jenis Teknik : Evaluasi Formatif : Evaluasi Lisan Kuas Cat Thiner Koran Melatih kekuatan otot untuk melakukan aktifitas Melatih keseimbangan gerak Mengenali warna tiang pegangan tangan

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP ) SENAM LANSIA

Pokok bahasa Sub pokok bahasa Sasaran WaktU Hari / tanggal Tempat Penyuluh Analisa situasi

: Latihan gerak : Senam lansia : Para lansia : 40 menit : Rabu, 20 april 2011 : Rumah perlindungan lansia jelambar : Mahasiswa AHT Angkatan 13

Penyuluhan panduan praktik tentang senam lansian akan di laksanakan di rumah perlindungan lansia jelambar yang akan di hadiri oleh para lansia (10 orang) dengan latar belakang pendidikan 5 SMU, 3 SMP dan 2 SD senam ini juga di hadiri oleh pembimbing klinik.

Leader Co leader lansia Co leader

A. Tujuan pembelajaran 1. Tujuan pembelajaran umum Setelah dilakukan senam lansia 1x40 menit di harapkan para lansia tetap sehat

2. Tujuan pembelajaran khusus Setelah di berikan pendidikan selama 1x40 menit di harapkan para lansia yang ikut senam lansia dapat : a. Melancarkan peredaran darah para lansia b. Memperkuat tulang dan sendi para lansia c. Menambah daya tahan tubuh para lansia d. Dapat memperaktekan cara rutin senam lansia

B. Metode Demonstrasi/ praktek

C. Media/ Alat bantu 1. Kursi 2. Tipe recorder 3. Mic 4. Kamera

D. Evaluasi 1. Jenis evaluasi formatif 2. Teknis evaluasi lisan

Lampiran Materi

A. Pengertian

Serangkaian gerak yang teratur dan terarah secara terencana yang diikuti ole orang lanjut usia yang dilakukan dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut. B. Tujuan Senam Lansia 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menghambat proses penuaan Mempertahankan kualitas hidup Mengembangkan kualitas hidup Meningkatkan kekeuatan otot Menjaga dan meningkatkat kelenturan tulang dan sendi diseluruh tubuh Untuk memelihara kebugaran jantung dan paru.

C. Manfaat Dapat membantu tubuh tetap bugar dan segar karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal, dan mambantu menghilangkan radiksl bebas

D. Indikasi 1. Di atas 50 tahun 2. Osteoporosis 3. Pengecilan otot faktor usia

E. Kontra indikasi 1. Pasien osteoporosis yang rentan terhadap patah tulang 2. Kesadaran menurun

3. Terpasang traksi

F. Alat alat yang Digunakan 1. Kursi 2. Tempat tidur

G. Gerakan Senam Lansia 1. Latihan di tempat tidur / matras a. Bentangkan kedua lengan dan tangan, sambil nafas dalam b. Tempatkan kedua lengan di depan tubuh, kemudian tekuk ke dua lengan dengan tangan mengepal c. Tepuk tangan di atas dada d. Pegang erat kedua tangan diatas perut kemudian tarik kebelakang kepala dan kebawah e. Tekuk lutut dengan kedua tangan tarik sampai diatas dada

2. Latihan dengan duduk a. Angkat dan tekuk kedua siku kemudian buka lalu tarik ke depan dada b. Angkat kedua bahu ke atas sehingga mendekati telinga kemudian putar kedepan

c. Putar tubuh bagian atas kekanan dan kekiri secara bergantian dengan posisi ke dua lengan di pinggang d. Angkat paha dan lutut secara bergantian dan sambil kedua tangan menahan tubuh e. Bungkukan badan sambil tangan meraih ujung kaki kemudian kembali seperti semula

3. Latihan dengan berdiri a. Kedua lengan disamping, tarik leher dan tubuh sejauh mungkin, kekanan dan kekiri b. Kedua lengan direntangkan kesamping, putar kearah luar dan dalam c. Kedua tangan berpegangan, tekuk kedua lutut perlahan lahan kemudian luruskan kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, R. Boedhi dan H. Hadi Martono. 2004. Buku Ajar Geriatrik Ilmu Kesehatan Usiau Lanjut. Jakata : Balai Penerbit Fakultas Kedikteran UI Misnadiarly. (2007). Rematik : Asam urat Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta : Pustaka Obor Populer Muhlisah, Fauziah. (2007). Tanaman Obat Keluarga / TOGA. Jakarta : Penebar Swadaya

Nugroho, Wahjudi. 2000. Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC Santun Setiawati, Agus Citra Dermawan. (2008). Penuntun Praktis Asuhan

Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC Stanley, Mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC

Suzanne, C Smeltzer. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. Jakarta : EGC