Anda di halaman 1dari 32

BAB II STATUS PASIEN KEPANITERAAN FK TRISAKTI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH Nama Mahasiswa NIM

: Eka Marliana : 030.07.078 Pembimbing : dr.Hot Saroha, Sp.A Tanda Tangan :

I.IDENTITAS PASIEN Nama Pasien Umur Suku bangsa Alamat Orang Tua / Wali Ayah Nama Agama Alamat Pekerjaan Penghasilan : : Tn. Z : Islam : Jl. Kayu Manis No 5, Matraman-Jakarta : Pegawai swasta : Tidak tahu Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Agama Alamat : : Ny. D : Islam : Jl. Kayu Manis No 5, Matraman-Jakarta : Ibu Rumah Tangga : Rp. 0 /hari : An. S : 5 tahun : Jawa : Jl. Kayu Manis No 5, Matraman-Jakarta Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam

Tempat / tanggal lahir : Jakarta, 25 Maret 2007

Suku Bangsa : Jawa

Suku Bangsa : Jawa

Hubungan dengan orang tua : pasien merupakan anak kandung. II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. D (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu Tanggal Masuk : Bangsal lantai V Timur, kamar 511 : 12 April 2012, pkl 12.00 WIB dan 13 April 2011, pk 12.00 WIB : 11 April 2012

a.

Keluhan Utama:
1

Demam sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit. b. Keluhan Tambahan : Mual, muntah dan diare c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUD Budi Asih diantar oleh orang tuanya dengan keluhan demam sejak 7 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Demam dirasakan naik turun yang lebih tinggi pada sore menjelang malam hari dan berkurang pada pagi hari. Pada malam harinya pasien menggigil dan berkeringat saat tidur. Ibu pasien sempat mengukur suhu badan anaknya teraba hangat dengan perabaan telapak tangan. Kemudian ibu pasien memberikan obat penurun panas (Proris) sehingga demam turun secara perlahan namun tidak lama demam muncul kembali. Setiap makan pasien mengeluhkan mual dan muntah. Muntah lebih dari 3x berisi makanan dan cairan berwana kecoklatan sebanyak kurang lebih 2 gelas. Nafsu makan pasien menurun sejak sakit dan pasien menjadi malas minum. Pasien juga mengeluh lemas dan pegal-pegal di badan sehingga pasien tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Batuk, pilek, nyeri tenggorokan disangkal oleh pasien. Tidak ada keluar cairan dari telinga sebelumnya. Tidak ada mata berair. Tidak ada bintik-bintik merah pada kedua tangan dan kaki. Tidak ada perdarahan gusi ataupun hidung. 1 hari smrs ibu pasien membawa anaknya ke poli RSUD budi asih karena demam yang dirasakan serta pasien mengeluh mencret sebanyak 3x berisi ampas dan air, tidak ada lendir dan darah, warna kuning, sebanyak kurang lebih 2 gelas. Namun dokter menyatakan pasien terkena gejala tipes dan diberikan beberapa obat untuk mengobati keluhannya. Pada malam harinya ibu pasien merasa demamnya semakin tinggi walaupun sudah diberi obat. Karena tidak kunjung membaik akhirnya orang tua memutuskan untuk membawa pasien keesokan harinya ke RSUD budi Asih dan kemudian pasien di rawat inap d. Riwayat Penyakit dahulu

Penyakit Alergi Cacingan

Umur -

Penyakit Difteria Diare

Umur -

Penyakit Jantung Ginjal

Umur -

Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Parotitis Kesan :

Kejang

Darah

Kecelakaan Morbili Operasi

Radang paru Tuberkulosis Lainnya

Pasien tidak pernah penyakit demam sebelumnya. Pasien tidak ada riwayat keluar kota (daerah endemis malaria) e. Riwayat Penyakit Keluarga Kedua orangtua pasien tidak memiliki riwayat demam sebelumnya. Namun paman pasien juga menderita penyakit demam tipes sejak 2 minggu yang lalu. Kedua orangtua pasien tidak ada riwayat darah tinggi dan kencing manis f. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Tidak ada Sering periksa ke bidan tiap bulan, vaksin TT(+) Rumah bersalin Bidan Spontan/normal Cukup bulan (38 minggu) Berat lahir : 3900 gram Panjang badan : 49 cm Keadaan bayi Lingkar kepala : tidak tahu Langsung menangis (+) Kulit kemerahan Kesan :
3

Riwayat kehamilan dan persalinan normal

g.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan gigi I : Umur 6 bulan Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara Baca dan Tulis Perkembangan pubertas Rambut pubis Payudara Menarche :::: Umur 5 bulan : Umur 7 bulan : Umur 10 bulan : Umur 13 bulan : Umur 12 bulan : Umur 48 bulan (Normal: 3-4 bulan) (Normal: 6-9 bulan) (Normal: 9-12 bulan) (Normal: 13 bulan) (Normal: 9-12 bulan) (Normal: 5-9 bulan)

Gangguan perkembangan mental/emosi : tidak ada Kesan : Riwayat perkembangan baik

h. Riwayat Makanan : Umur (bulan )


4

ASI/PASI

Buah / Biskuit Bubur Susu

Nasi Tim

02 24 46 68 8 10 10 -12

ASI ASI ASI+PASI ASI+PASI ASI+PASI ASI+PASI

+ +

+ + +

Umur Diatas 1 Tahun Jenis Makanan Nasi/Pengganti Sayur Daging Telur Ikan Tahu Tempe Susu (merk/takaran) Lain-lain Kesan: Riwayat makanan baik namun pasien memiliki kebiasaan suka memasukan tanganya kedalam mulutnya serta sering jajan diluar. i. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT PT Polio 0 bulan 2 bulan 4 bulan
5

Frekuensi dan Jumlah 3x/hari, satu piring 2x/hari, 1 mangkuk/kali 1x/minggu, 1 potong/kali 1butir, setiap hari 1x/minggu 1 potong, setiap hari 1 potong, setiap hari Susu dancow 1x/hari, takaran tidak ingat _

Dasar ( umur ) 0 bulan / 2 bulan 4 bulan 6 bulan

Ulangan ( umur ) 18 bulan 5 tahun -

6 bulan

18 bulan

Campak

1 bulan

9 bulan 6 bulan

Hepatitis 0 bulan

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap j. Riwayat Keluarga (corak reproduksi) a. Corak reproduksi No Tanggal 1. Jenis Hidup Lahir Mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan sehat

lahir (umur) kelamin 10 bulan perempuan +

b. Riwayat Pernikahan Ayah Tn. Z Satu 28 Tahun SMA Islam Jawa Baik Ibu Ny. D Satu 26 tahun SMA Islam Jawa Baik

Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan

k. Riwayat Perumahan dan Sanitasi Pasien tinggal bersama ayah, ibu serta adiknya di sebuah rumah tinggal milik sendiri dengan dua kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, beratap genteng, berlantai keramik, berdinding tembok, terletak di jalan gang yang padat penduduk dan agak kumuh. Keadaan rumah sempit, pencahayaan cukup, ventilasi cukup.Sumber air bersih dari air PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan sampah setiap harinya diangkut oleh petugas kebersihan. Kesan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik yang memungkinkan pasien menderita penyakit infeksi.
6

III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 12 April 2012 pukul 12.00 dan 13 April 2012 pukul 12.00 Keadaan Umum Kesadaran Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi BB/U TB/U 110%) BB/TB = (17 kg/ 17,5 kg) x 100% = 97,1 % normal (90-110%) = (17 kg/18 kg) x 100 % = 94 % = (112 cm/109 cm) x 100 % = 102 % gizi baik (80-120 %) tinggi normal (90: 17 kg : 112 cm : Tampak sakit sedang : Compos mentis

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien baik Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Suhu Pernapasan Kulit : 95/80 : 112 x/menit, reguler : 39,8C : 38 x/menit, teratur, tipe abdomino-thorakal : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor normal, kelembaban normal, tidak ada efloresensi yang bermakna Kepala dan Leher Kepala : Normosefali, rambut warna hitam kecoklatan,

distribusi merata, tidak mudah dicabut

Mata

: Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-

Hidung

: Bentuk normal,

septum deviasi (-), nafas cuping

hidung -/-, sekret -/Telinga Mulut : Membran timpani intak, serumen -/: Bibir merah muda, tidak kering, sianosis (-), trismus (-) , halitosis (-) Lidah Gigi geligi Uvula Tonsil Tenggorokan Leher : Normoglossia, coated tongue (+), tremor (-) : Caries (-) : Letak di tengah : T1/T1, tidak hiperemis : Faring tidak hiperemis : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba membesar, trakea letak normal Thorax Paru Inspeksi : Bentuk gerak dada pernapasan normal, simetris, simetris, irama efloresensi teratur, tipe

primer/sekunder dinding dada (-), pulsasi abnormal(-), abdomino-thorakal, retraksi (-) Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung
8

: Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris : Sonor di semua lapang paru : Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstremitas

: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba, thrill (-) : Redup : SISII reguler, murmur (-), gallop (-)

: Bentuk datar : Supel, nyeri tekan (-) : Timpani di semua kuadran abdomen, ascites (-). : Bising usus (+) normal : Akral hangat, spastisitas (-), sianosis (-), parese (-), paralisis (-)

Refleks Bisep Trisep Patella Refleks patologis Schaeffer Chaddok Kaku kuduk Brudzinsky I Brudzinsky II Kerniq Laseq

Kanan + + + _ _ _ _ _ _ _

Kiri + + + _ _ _ _ _ _ _

Rangsang meningeal

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Dilakukan pemeriksaan H2TL pertama kali pada tanggal 10 April 2012 jam 10.00 di poli anak
9

JENIS PEMERIKSAAN

HASIL PEMERIKSAAN

NILAI NORMAL

Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit Hitung jenis Basofil Eosinofil Batang Segemen Limfosit Monosit 0 0 1 74 22 3 0 -1 1-3 2-6 32-62 <30 2-8 10,9 g/dL 33 % 5,8 rb /uL 173 rb/uL 4,6 juta/uL 13-16 g/dL 40 48 % 5-10 rb/ul 150-400 rb/uL 4,6-5,5 juta/uL

Pemeriksaan H2TL tanggal 11 April 2012 jam 09.00

10

JENIS PEMERIKSAAN

HASIL PEMERIKSAAN

NILAI NORMAL

Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit 10,3 g/dL 31 % 4,9 rb /uL 184 rb/uL 13-16 g/dL 40 48 % 5-10 rb/ul 150-400 rb/uL

Pemeriksaan Tubex TF tanggal 11 April 2012 jam 11.00 Jenis pemeriksaan Hasil Imuno-serologi Umum Tubex TF S.Typhi IGM Nilai normal Catatan

<2 3

4-5 >6

- Negatif, tidak menunjukan tifoid aktif - borderline, pengukuran tidak dapat disimpulkan, ulang pengujian bila ragu sampling ulang beberapa hari kemudian - positif, menunjukan infeksi demam tifoid aktif - positif, indikasi kuat demam tifoid aktif

11

Pemeriksaan H2TL ulang tanggal 12 April 2012 jam 07.00 JENIS PEMERIKSAAN HASIL PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit Eritrosit LED Hitung jenis Basofil Eosinofil Batang Segemen Limfosit Monosit 0 0 1 66 28 5 0 -1 1-3 2-6 32-62 <30 2-8 9,2 g/dL 28 % 3,6 rb /uL 150 rb/uL 4 juta/uL 35 mm/jam 13-16 g/dL 40 48 % 5-10 rb/ul 150-400 rb/uL 4,6-5,5 juta/uL <10 NILAI NORMAL

12

Pemeriksaan H2TL ulang tanggal 13 april 2012 jam 07.00 JENIS PEMERIKSAAN HASIL PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Lekosit Trombosit 9,0 g/dL 28 % 4,1 rb /uL 171 rb/uL 13-16 g/dL 40 48 % 5-10 rb/ul 150-400 rb/uL NILAI NORMAL

V. RINGKASAN Pasien seorang anak perempuan berusia 5 tahun datang dibawa ibunya ke IGD dengan keluhan demam sejak 1 minggu smrs. Demam naik turun yang lebih tinggi pada sore menjelang malam hari dan berkurang pada pagi hari, pasien menggigil dan berkeringat saat tidur. Ibu pasien sudah memberikan obat penurun panas tapi demam tidak turun Pasien mengeluhkan mual dan muntah. Muntah lebih dari 3x berisi makanan dan cairan berwana
13

kecoklatan sebanyak kurang lebih 1 gelas. Pasien mengeluh lemas dan pegal-pegal di badan. 2 hari SMRS pasien juga mengeluh mencret sudah 3x berisi ampas dan air, tidak ada lendir dan darah, warna kuning, sebanyak kurang lebih 1 gelas. Nafsu makan pasien menurun sejak sakit dan pasien menjadi malas minum. Pasien mempunyai kebiasaan jajan diluar dan suka memasukan tangan ke mulut serta paman pasien menderita hal yang sama 2 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan fisik; mata: ca+/+, lidah: coated tongue (+), pemeriksaan laboratorium 10/4/2012 Hb: 10,9 g/dL, Ht: 33%, diff count E/B/S : 0/1/74. Laboratorium 11 April 2012 Hb: 10,3 g/dL, Ht: 31%, leukosit: 4,9 rb/uL, pemeriksaan Tubex TF +5. Laboratorium 12 April 2012 Hb: 9,2 g/dL, Ht: 28%, leukosit: 3,6 rb/uL, eritrosit 4 juta/uL, LED 35 mm/jam, diff count E/B/S : 0/1/66. Laboratorium 13 April 2012 Hb: 9,0 g/dL, Ht : 28%, Leukosit : 4,1 rb VI. DIAGNOSIS BANDING Demam Tifoid Gastroenteritis

VII. DIAGNOSIS KERJA Demam Tifoid

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Feses lengkap

IX. TERAPI Non medikamentosa - Tirah baring - Kebutuhan cairan terpenuhi - Edukasi kepada orangtua agar menjaga kesehatan lingkungan Medikamentosa - IVFD Kaen 3B 3cc/kg bb - inj.Colsan 4x300 mg
14

- Sanmol 3x150 mg - CTM 3x1 mg X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

FOLLOW UP

15

Pemeriksaan 12 April 2012 - Demam (+), Keluhan S menggigil (+) - mual (+) - muntah (-) - batuk dahak (+), dahak mudah dikeluarkan, pilek(+) - lemas - belum bab, bak lancar KU Kesadaran Sakit Sedang Apatis Sakit Sedang Compos mentis TD = 100/60 HR = 132x /menit RR = 32x /menit Suhu = 38,7 C BB = 17 kg Normocephali CA +/+ , SI -/Sakit Sedang Compos mentis TD = 110/70 HR = 120x /menit RR = 30x /menit Suhu = 38,8 C BB = 17 kg Normocephali CA -/- , SI -/13 April 2012 - Demam ( +) - mual (+) -batuk pilek (+) - lemas dahak 14 April 2012 - Demam ( +) - mual (+) (+), -batuk pilek (-) - lemas dahak (+),

- belum BAB, bak - belum BAB, bak lancar lancar

Tanda vital TD : 95/60 HR = 112x /menit RR = 48x /menit S= 38,9oc BB = 17 kg Kepala Mata Hidung O Normocephali CA +/+, SI -/-

Sekret +/+, nafas Sekret +/+, nafas Sekret -/-, nafas cuping hidung -/cuping hidung -/cuping hidung -/-

bibir kering (-), bibir kering (-), bibir kering (-), Mulut dan sianosis (-), coated sianosis (-), coated sianosis (-), coated lidah tongue (+) tongue (+) tongue (+) Paru Suara -/nafas Suara -/16

nafas Suara -/-

nafas

vesikuler rh -/-, wh vesikuler rh -/-, wh vesikuler rh -/-, wh

Bunyi jantung 1 2 Bunyi jantung 1 2 Bunyi jantung 1 2 Jantung reguler, murmur (-), reguler, murmur (-), reguler, murmur (-), gallop (-) gallop (-) gallop (-)

FOLLOW UP

17

Pemeriksan 16 April 2012 -Demam (+), menggigil (+) Keluhan S - mual dan muntah(-) - mencret 2x berisi air dan ampas, lendir(-) - Bak lancar, bening - batuk dahak(+) - nafsu makan baik KU Kesadaran Tanda vital Sakit sedang Compos mentis TD = 100/60 HR= 124x /menit RR = 26x /menit Suhu = 38,2 C BB = 17 kg Kepala Mata Hidung O Normocephali CA -/- , SI -/-, 17 April 2012 -Demam (+) - batuk dahak(+) - menggigil (-) - mual(-),muntah(-) - mencret 2x,berisi ampas dan air - bak lancar,bening - nafsu makan baik Sakit Sedang Compos mentis TD: 100/80 HR = 108x /menit RR = 28x /menit S= 37oC BB = 17 kg Normocephali CA -/- , SI -/-,

Sekret -/-, nafas cuping hidung Sekret -/-, nafas cuping hidung -/-/-

Mulut dan bibir kering (-), sianosis (-), bibir kering (-), sianosis (-), lidah coated tongue (-) coated tongue (-) Paru Suara nafas vesikuler rh -/-, wh Suara napas vesikuler rh -/-, wh -/Bunyi jantung I-II -/reguler, Bunyi jantung I-II reguler,

Jantung Abdomen Extremitas

murmur (-),

gallop (-)

murmur (-),

gallop (-)

Datar, Supel,NT(-), 6x/menit Akral hangat +/+

BU + 4- Datar, Supel,NT(+) BU + 418

6x/menit Akral hangat

FOLLOW UP

19

Pemeriksan 18 April 2012 -Demam (+) Keluhan S - batuk dahak(+), - mencret 2x, isi air agak kental bewarna kuning - bak lancar -nafsu makan baik KU Kesadaran Tanda vital Sakit sedang Compos mentis TD = 90/60 HR = 108x /menit RR = 27x /menit Suhu = 36,9 C BB = 17 kg Kepala Mata Hidung Normocephali CA -/- , SI -/-, 19 April 2012 -Demam ( - ) -Mencret 1x sore kemarin berisi air dan ampas - Bak lancar, bening - batuk dahak(+) - nafsu makan baik Sakit sedang Compos mentis TD = 100/70 HR= 112x /menit RR = 32x /menit Suhu = 36,9 C BB = 17 kg Normocephali CA -/- , SI -/-, -/-, -/nafas cuping

Sekret -/-, nafas cuping hidung Sekret -/hidung

Mulut dan bibir kering (-), sianosis (-), bibir kering (-), sianosis (-), lidah coated tongue (-) coated tongue (-) O Paru Suara nafas vesikuler rh -/-, Suara nafas vesikuler rh -/-, wh -/wh -/-

Jantung Abdomen Extremitas

Bunyi jantung I-II reguler, Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-) murmur (-), gallop (-)

Datar, Supel,NT(-), BU + 3- Datar, Supel,NT(-), BU + 14x/menit akral hangat


20

2x/menit akral hangat

TINJAUAN PUSTAKA Definisi 1,2 Demam tifoid (Tifus abdominalis, Enteric fever, Eberth disease) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi pada usus halus (terutama didaerah illeosekal) dengan gejala demam selama 7 hari atau lebih, gangguan saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran. Etiologi 1,2,3

21

Penyakit demam tifoid disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typhi yang mana merupakan kuman gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, bersifat aerob. S. typhi mempunyai tiga macam antigen, yaitu: Antigen O = Ohne Hauch = Somatik antigen (tidak menyebar) Antigen H = Hauch (menyebar), terdapat pada flagella dan bersifat termolabil. Antigen Vi = Kapsul; merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis Dalam serum penderita terdapat zat anti (agglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Patogenesis dan Patofisiologi 1,5,6 Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui fecal-oral transmittion melalui orang ke orang maupun melalui perantaraan makanan dan minuman yang tidak higienis yang terkontaminasi dengan feces atau urine, sesampainya di lambung sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung, dan sebagian lagi masuk usus halus. Penyakit yang timbul tergantung pada beberapa faktor, antara lain (1) jumlah organisme yang ditelan, (2) kadar keasaman dalam lambung. Untuk dapat menimbulkan infeksi, diperlukan S. typhi sebanyak 105-109 yang tertelan. Sesampainya di lambung sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung. Namun tidak semua bakteri tersebut mati. Jumlah bakteri yang mampu bertahan hidup bergantung pada keasaman lambung tersebut. Bakteri yang mampu bertahan hidup masuk ke dalam lumen usus, lalu mengadakan perlekatan pada mikrovili dan menyerang epitel hingga mencapai lamina propria. Melalui plak peyeri pada ileum distal bakteri masuk ke dalam KGB mesenterium dan mencapai aliran darah melalui duktus torasikus menyebabkan bakteriemia pertama yang asimptomatis. Kemudian kuman akan masuk kedalam organ organ sistem retikuloendotelial (RES) terutama di hepar dan limpa sehingga organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Dari sini kuman akan masuk ke dalam peredaran darah, sehingga terjadi bakteriemia kedua yang simptomatis (menimbulkan gejala klinis). Disamping itu kuman yang ada didalam hepar akan masuk ke dalam kandung empedu dan berkembang biak disana, lalu kuman tersebut bersama dengan asam empedu di keluarkan dan masuk ke dalam usus halus. Kemudian kuman akan menginvasi epitel usus kembali dan menimbulkan tukak yang
22

berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak peyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan terjadinya perdarahan dan perforasi usus yang menimbulkan gejala peritonitis. Pada masa bakteriemia, kuman mengeluarkan endotoksin yang susunan kimianya sama dengan antigen somatik (lipopolisakarida). Endotoksin sangat berperan membantu proses radang lokal dimana kuman ini berkembang biak yaitu merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan terjadinya demam. Sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

Bagan Patofisiologi Demam Tifoid


KUMAN S. TYPHI

Makanan +Minuman

Lambun g

mati

Usus halus

Folikel getah bening intestinum

Multiplika si 23

Aliran Getah Bening

Hidup dan Berkembang

Multiplika si

Usus

Aliran Darah (Bakteremia

Aliran Darah ( Bakteremia

RES Hati dan

Gejala Klinik1,6,8 Gejala demam tifoid pada anak-anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10-14 hari, selama dalam masa inkubasi dapat ditemukan gejala prodromal, yaitu: anoreksia, letargia, malaise, nyeri kepala, batuk tidak berdahak, bradikardi. Kemudian menyusul gejala-gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu : 1. Demam Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remittent dan tidak terlalu tinggi. Pada minggu I, suhu tubuh cenderung meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore hari dan malam hari. Dalam minggu II, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu III suhu berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu III. 2. Gangguan saluran cerna Pada mulut didapatkan nafas berbau tidak sedap, bibir kering, dan pecah- pecah (rhagaden), lidah ditutupi oleh selaput putih kotor (coated tongue)., ujung dan tepinya kemerahan. Pada abdomen dapat dijumpai adanya kembung (meteorismus). Hepar dan lien yang membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya terdapat juga konstipasi pada anak yang lebih tua dan remaja, akan tetapi dapat juga normal bahkan terjadi diare pada anak yang lebih muda.
24

3. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walau tidak berapa dalam berupa apatis sampai somnolen. Disamping gejala-gejala diatas yang biasa ditemukan mungkin juga dapat ditemukan gejalagejala lain: Roseola atau rose spot; pada punggung, perut bagian atas dan dada bagian bawah dapat ditemukan rose spot (roseola), yaitu bintik-bintik merah dengan diameter 2-4 mm yang akan hilang dengan penekanan dan sukar didapat pada orang yang berkulit gelap. Rose spot timbul karena embolisasi bakteri dalam kapiler kulit. Biasanya ditemukan pada minggu pertama demam. Bradikardia relatif; Kadang-kadang dijumpai biasanya ditemukan pada awal minggu ke II. bradikardia relatif yang

Komplikasi 2,7,9 Komplikasi tipoid dapat terjadi pada : 1. Intestinal (usus halus) : Umumnya jarang terjadi, tapi sering fatal, yaitu: a. Perdarahan usus. Bervariasi dari mikroskopik sampai terjadi melena dan kalau sangat berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda syok: berupa penurunan suhu tubuh dan tekanan darah yang drastis. b. Perforasi usus. Timbul pada minggu ketiga atau setelah itu dan sering terjadi pada distal ileum. Apabila hanya terjadi perforasi tanpa peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dalam rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara bebas ( free air sickle) diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam posisi tegak. c. Peritonitis
25

Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defense muskular) dan nyeri tekan. 2. Ekstraintestinal Miokarditis dapat timbul dengan manifestasi klinis berupa aritmia, perubahan ST-T pada EKG, syok kardiogenik, infiltasi lemak maupun nekrosis pada jantung. Hepatitis tifosa asimtomatik dapat dijumpai pada kasus demam tifoid dengan ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminae, maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai, sedang kolesistitis kronis yang terjadi pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karier). Diagnosa kerja 5 Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa demam, gangguan

gastrointestinal dan mungkin disertai perubahan atau gangguan kesadaran, dengan criteria ini maka seorang klinisi dapat membuat diagnosis tersangka demam tifoid. Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi S. typhi dari darah. Pemeriksaan Penunjang 9,10 1. Pemeriksaan yang menyokong diagnosis. Pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relatif, neutropenia pada permulaan sakit. Mungkin juga terdapat anemia dan trombositopenia ringan. 2. Pemeriksaan untuk membuat diagnosa a. Deteksi S. Typhi Kultur merupakan pemeriksaan baku emas namun sensitifitasnya rendah. Hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis. Hasil negatif palsu dapat terjadi bila jumlah spesimen sedikit, waktu pengambilan spesimen tidak tepat atau telah mendapat pengobatan antibiotik. Keterlibatan biakan strain Salmonella biasanya merupakan dasar untuk diagnosis. Biakan darah terutama pada minggu 1-2 dari perjalanan penyakit. Biakan sumsum tulang masih positif sampai minggu ke-4
26

Biakan sumsum tulang merupakan metode yang paling sensitif Kultur tinja biasanya positif pada minggu ke-3 sampai ke-5

b. Deteksi DNA S.typhi Metode yang digunakan yaitu PCR dimana DNA S.typhi dilipat gandakan. Metode PCR dapat mendeteksi DNA bakteri baik yang hidup maupun mati. Hasil positif tidak selalu menunjukkan adanya infeksi aktif, sedangkan hasil negatif tidak menyingkirkan adanya infeksi karena terdapat beberapa zat yang dapat menghambat reaksi c. Tes Widal Tes Widal merupakan pemeriksaan serologis yang pertama kali diperkenalkan dan masih banyak digunakan. Uji widal klasik mengukur antibodi terhadap antigen O dan H S typhi. Diagnosis demam tifoid ditegakkan bila kenaikan titer S. Typhi titer O 1:200 atau kenaikan 4 kali titer fase akut ke fase konvalesens. Deteksi anti O dan anti H dalam serum tidak selalu menunjukkan adanya infeksi S.typhi. S.typhi memiliki beberapa antigen O dan H yang sama dengan Salmonella lain, sehingga peningkatan titer tidak spesifik untuk S.typhi. Anti O dan H negatif tidak menyingkirkan adanya infeksi. Hasil negatif palsu dapat disebabkan antibodi belum terbentuk karena spesimen diambil terlalu dini atau antibodi tidak terbentuk akibat defek pembentukan antibodi.

d. Tubex Test Tubex test untuk demam tifoid mendeteksi serum antibodi dengan pemeriksaan yang sederhana dan cepat, berdasarkan pada penghambatan pengikatan antara 2 tipe partikel reagen, partikel magnetik diselubungi dengan antigen S. typhi lipopolysaccharide (LPS), dan partikel indikator berwarna yang diselubungi dengan anti-O9 IgM monoclonal antibody (MAb). Reaktan kemudian di campur di sebuah tabung mikro khusus selama 2 menit. 7 Kemudian tabung ditempatkan pada sebuah magnet dan sehingga partikel magnet akan berada pada dasar tabung, bersama atau tanpa partikel indikator berwarna, tergantung dari ada atau tidaknya hambatan pengikatan dari anti-O9 MAb.8 Hasil reaksinya dibaca berdasarkan warna resultan dari supernatant yang mengikuti sedimentasi dari butir-butir magnetik. Pada keadaan
27

tidak adanya antibodi penghambat, terdapat perubahan (dari biru ke merah) karena adanya kosedimentasi dari partikel indikator dengan partikel magnetik, namun bila terdapat antibodi, antibodi akan mencegah perubahan warna tersebut, tergantung dari konsentrasinya.9 Pada sebuah studi mengenai perbandingan alat tes diagnosis pada demam tifoid (Multi-Test Dip-S-Ticks (deteksi IgG), Typhidot (IgG dan IgM), dan Tubex (deteksi IgM)), didapatkan bahwa sensitifitas dan spesifisitas untuk Multi-Test Dip-S-Ticks adalah 89% dan 53%, untuk TyphiDot adalah 79% dan 89%, dan untuk Tubex adalah 78% dan 94%. Dari hasil ini disimpulkan bahwa 2 alat tes cepat yang memberikan hasil yang menjanjikan adalah TyphiDot dan Tubex. Walaupun ketiga alat diagnosis ini relatif mudah digunakan, namun Tubex adalah yang paling sederhana.8

Diagnosa banding 1,5 Influenza Gastroenteritis Bronkopneumonia Tuberkulosis Demam berdarah dengue Malaria

Tatalaksana 1,5 Sebagian besar pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan tirah baring, isolasi yang memadai, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi serta pemberian antibiotik. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat di rumah sakit agar pemenuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping observasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan dengan seksama. Pengobatan yang diberikan yaitu: 1. Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta
28

2. Perawatan yang baik untuk hindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah dan anoreksia. 3. Pemberian antipiretik bila suhu tubuh > 38,5 C. 4. Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas. 5. Antibiotika: Kloramfenikol; masih merupakan pilihan pertama pada pengobatan penderita demam tifoid. Dosis yang diberikan 100 mg/kgBB/hari dibagi 4x pemberian selama 10-14 hari. Dosis maksimal 2 g/hari. Hari pertama setengah dosis dulu, selanjutnya diberikan sesuai dosis diatas, karena kalau diberi dalam dosis yang penuh maka kuman akan banyak yang mati dan sebagai akibatnya endotoksin meningkat dan demam akan bertambah tinggi. Kloramfenikol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit < 2000/ ul. Selain itu dapat juga diberikan: Ampislin; dengan dosis 100-200 mg/kgBB/hari dibagi 4 x pemberian secara oral atau suntikan IV selama 14 hari. Amoksilin; dengan dosis 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 x yang memberikan hasil yang setara dengan kloramfenikol walaupun penurunan demam yang lebih lama. Kotrimoxazol (trimethoprim 80 mg + sulphametoxazole 400 mg) ; dengan dosis 10 mg/kgBB/hari dibagi 2 x pemberian Pada kasus-kasus demam tifoid yang disebabkan S.typhi yang resisten terhadap berbagai obat diatas (MDR= multidrug resistance), terdiri atas: Seftriakson; dengan dosis 50-80 mg/kgBB/hari, dosis tunggal selama 10 hari. Sefiksim; dengan dosis 10-12 mg/kgBB/hari peroral, dibagi dalam 2 dosis selama 14 hari. Gol.quinolon; Siprofloksasin, 10 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis atau ofloksasin, 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis, sudah dipakai untuk pengobatan. Demam biasanya turun dalam 5 hari. Lama pengobatan 2-10 hari. 6. Bila terdapat komplikasi harus diberikan terapi yang sesuai. Misalnya: pemberian cairan intravena untuk penderita dehidrasi dan asidosis. Pemberian antipiretik masih kontroversial,
29

di satu pihak demam diperlukan untuk efektifitas respon imun dan pemantauan keberhasilan pengobatan, namun di pihak lain ketakutan akan terjadinya kejang dan kenyamanan anak terganggu, sering membutuhkan antipiretik. Dianjurkan pemberian bila suhu di atas 38,5C. Pemberian kortikosteroid dianjurkan pada demam tifoid berat, misalnya bila ditemukan status kesadaran delir, stupor, koma, ataupun syok. Deksamethason diberikan dengan dosis awal 3 mg/kgBB, diikuti dengan Pencegahan 5 Secara umum, setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi. Kuman S.typhi akan mati apabila dipanasi dalam air setinggi 57C untuk beberapa menit atau dangan proses iodinasi/ klorinasi. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air, pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi, dan pendidikan kesehatan masyarakat. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin yang digunakan adalah vaksin yang berasal dari kuman yang dimatikan atau dilemahkan. Vaksin yang terbuat dari S.typhi yang telah dimatikan ternyata tidak memberikan perlindungan yang baik, sedangkan yang dilemahkan dapat memberikan perlindungan sebesar 87-95% / 36 bulan. Pemberian IM dengan dosis 0,5cc. Vaksin ini terutama diberikan pada daerah endemik tifoid. 1 mg/kgBB setiap 6 jam selama 2 hari.

Prognosis 5 Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Di negara maju, dengan terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas < 1%. Di negara berkembang, angka mortalitasnya > 10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan dan pengobatan. Munculnya komplikasi, seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis, endokarditis, dan pneumonia, mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku kuliah : Ilmu Kesehatan Anak : Jilid 2 : Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2002 : 593-598 2. Behrman RE, dkk . Typhoid Fever. Nelson textbook of pediatrics. 17th edition: WB Saunders Co. 2004: 916-919. 3. Current : Medical Diagnosis & Treatment. Forty-third edition. McGraw-Hill . 2004 : 1362-1363 4. Berman RE, dkk. Demam Enterik. Nelson textbook of pediatrics. Edisi 15. Volume 2. 1996 : 970-973.
31

5. Garna H, dkk. Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi kedua. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2008 :368-375 6. Demam tifoid. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. RSUP Cipto Mangunkusumo. 2007 : 173 -176.
7. Lim, PL., et al. 1998. One-Step 2-Minute Test To Detect Typhoid-Specific Antibodies Based on Particle Separation in Tubes. Available from: http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=105030

8. Tam FCH, Lim PL. 2003. Tubex Provide the Sole Detection of IgM, not IgG, O9antibodies, thus enabling diagnosis of purely acute typhoid fever. 9. SJ Olse, et al. 2004. Comparative Evaluation of Diagnostic Tests in Acute Serological Diagnosis of Typhoid Fever (Salmonella Typhii)

32