Anda di halaman 1dari 7

FISIOLOGI KARDIOVASKULER Sistem sirkulasi System sirkulasi merupakan system dalam tubuh manusia yang berperan dalam fungsi

homeostasis, terutama untuk system transportasi. System sirkulasi ini terdiri dari 3 komponen utama, yaitu : i. Jantung Berfungsi sebagai pompa yang member tekanan kepada darah untuk menimbulkan gradient tekanan yang diperlukan agar darah dapat mengalir ke jaringan. ii. Pembuluh darah Berfungsi sebagai saluran untuk mengarahkan dan mendistribusikan darah dari jantung ke seluruh tubuh iii. Darah Sebagai medium transportasi

Jantung Jantung memiliki 2 jenis sel otot, anatara lain : a. Sel kontrkatil 95 % dari bagian jantung, melakukan kerja mekanis b. Sel otoritmik merupakan pemberi rangsangan / pencetus serta penghasil potensial aksi System konduksi jantung terdiri dari : a. b. c. d. Nodus SA sebagai pace maker Nodus AV Berkas HIS Serabut purkinje

Mekanisme kontraksi jantung :

Efek rangsangan simpatis dan parasimpatis pada jantung dan struktur yang mempengaruhinya : Daerah yang terpengaruh Nodus SA Parasimpatis Simpatis Penurunan kecepatan Peningkatan kecepatan depolarisasi ke ambang; depolarisasi ke ambang; penurunan kecepatan denyut peningkatan kecepatan jantung denyut jantung Penurunaneksitabilitas; Peningkataneksitabilitas; peningkatanperlambatannodus penurunanperlambatannodus AV AV

Nodus AV

Jalur penghantar ventrikel Otot atrium Otot ventrikel

Tidak ada efek Penurunan kontraktilitas; melemahkan kontraksi Tidak ada efek

Medulla adrenal

Tidak ada efek

Vena

Tidak ada efek

Meningkatkan eksitabilitas; meningkatkan hantaran melalui berkas His dan sel purkinje Meningkatkan kontraktilitas; memperkuat kontraksi Meningkatkan kontraktilitas; memperkuat kontraksi Mendorong sekresi epinefrin, suatu hormone yang memperkuat efek system saraf simpatis pada jantung, oleh medulla adrenal Meningkatkan aliran balik vena, yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung melalui mekanisme frankStarling

Tekanan Darah Tekanan darah merupakan tekanan yang diberikan oleh darah yang mengalir ke dalam seluruh bagian permukaan pembuluh darah. Tekanan darah merupakan hasil kali antara curah jantung dengan tahanan perifer.

SIRKULASI SELAMA OLAHRAGA (AKTIFITAS FISIK) Selama kerja fisik, terjadi 3 (tiga) efek utama yang penting bagi sistem sirkulasi untuk menyediakan banyak aliran darah yang dibutuhkan oleh otot. Efek efek ini adalah : 1. Pengeluaran rangsangan simpatis yang besar Ada tiga pengaruh sirkulasi yang utama akibat dari rangsangan simpatis yang besar. Pertama, jantung dirangsang sehingga kecepatan denyut jantung dan kekuatan pemompaanya menjadi sangat meningkat. Kedua, sebagian besar arteriol pada sirkulasi perifer menjadi terkontraksi dengan kuat kecuali arteriol dalam otot yang aktif. Jadi, jantung terangsang untuk menyediakan aliran darah yang semakin besar yang memang dibutuhkan oleh otot, dan aliran darah yang melalui sebagian besar daerah tubuh yang tidak berotot untuk sementara akan berkurang. Ketiga, dinding otot vena dan daerah kapasitatif lainnya pada sirkulasi menjadi berkontraksi secara kuat, yang akan sangat meningkatkan tekanan sistemik pengisian rata rata. 2. Kenaikan tekanan arteri Hal ini adalah akibat dari beberapa efek perangsangan, antara lain : (1) vasokonstriksi arteriol dan arteri kecil pada sebagian besar jaringan tubuh disamping otot otot yang aktif, (2) peningkatan aktivitas pemompaan oleh jantung, dan (3) peningkatan yang besar pada tekanan sistemik rata rata yang terutama disebabkan oleh kontraksi vena. Efek efek ini bekerja bersama sama yang akhirnya selalu menigkatkan tekanan arteri selama kerja fisik. 3. Kenaikan curah jantung Banyak macam efek fisiologis yang terjadi pada saat bersamaan selama kerja fisik, karena curah jantung meningkat bersamaan dengan peningkatan kerja fisik. Peningkatan curah jantung ini

kemudian menjadi hal dasar untuk menyediakan sejumlah besar oksigen dan zat makanan lain yang dibutuhkan otot otot yang bekerja. Pada kenyataannya, kemampuan sistem sirkulasi untuk menimbulkan peningkatan curah jantung selama kerja fisik yang berat adalah hal yang sama pentingnya dengan kekuatan otot itu sendiri dalam menentukan batas kerja otot.

GELOMBANG DEPOLARISASI VS GELOMBANG REPOLARISASI Sel sel otot jantung mempunyai susunan ion yang berbeda antara intraseluler dengan ekstraseluler. Na+ merupakan elektrolit utama di ruang ekstraseluler sedangkan K+ merupakan elektrolit di intraseluler. Pada keadaan membran istirahat terdapat perbedaan potensial listrik antara intraseluler dengan ekstraseluler. Perbedaan tersebut karena perbedaan kadar ion, keadaan ini disebut polarisasi dengan bagian ekstraseluler berpotensial positif dibandingkan intraseluler. Selisih potensial ini disebut potensial membran yang dalam keadaan istirahat berkisar -90 mV. Bila membran otot jantung dirangsang, sifat permeabilitas membran berubah, membran menjadi lebih permeabel terhadap Na+ sehingga ion Na+ masuk ke dalam sel yang menyebabkan potensial membran berubah dari -90 mV menjadi +20 mV. Perubahan ini dinamakan depolarisasi. Setelah proses depolarisasi selesai maka potensial membran kembali mencapai keadaan membran istirahat, keadaan ini disebut repolarisasi. I. Gambaran Aktivitas Bioelektrik Jantung Arah defleksi ditentukan oleh : Arah penyebaran impuls Letak elektrode

Fase Depolarisasi Hukum dasar EKG dari Goldberger : 1. Arah impuls menuju elektroda (positif) : defleksi positif 2. Arah impuls menjauhi elektroda (negatif) : defleksi negatif 3. Arah impuls menuju kemudian menjauhi elektroda : bifasik

Fase Repolarisasi Gambaran elektrogram pada fase repolarisasi ada 2 kemungkinan 1. Jika arah repolarisasi sama dengan arah depolarisasi, maka arah defleksi dari fase repolarisasi akan berlawanan dengan arah fase depolarisasi 2. Jika arah repolarisasi berlawanan arah depolarisasi, maka arah defleksi dari fase repolarisasi akan sama dengan arah defleksi fase depolarisasi

Jika terjadi sel otot jantung yang rusak maka akan banyak Na+ yang terakumulasi di dalam

bagian yang rusak, karena pompa Na+ pada bagian yang rusak tidak berfungsi dengan sempurna, sehingga bagian yang rusak ini tidak mampu mengadakan repolarisasi sempurna namun masih dapat mengadakan depolarisasi. Pada keadan istirahat terjadi perbedaan potensial di tapal batas antara bagian sel yang sehat dengan yang rusak, dimana yang rusak menjadi kurang positif (relatif negatif) dibanding yang sehat.

PENGATURAN SIRKULASI SECARA HUMORAL Maksudnya adalah pengaturan oleh zat-zat yang disekresi atau yang diabsorbsi ke dalam cairan tubuh seperti hormon dan ion. Faktor-faktor humoran terpenting yang dapat mempengaruhi sirkulasi adalah sebagai berikut :

Zat Vasokonstriktor 1. Norepinefrin dan epinefrin Norepinefrin merupakan hormon vasokontriktor yang amat kuat, sedangkan epinefrin tidak begitu kuat dan di beberapa jaringan. Bahkan menyebabkan vasodilatasi ringan. Ketika saraf simpatis dirangsang saat stress atau olahraga, ujung saraf simpatis masingmasing melepaskan norepinefrin yang merangsanng jantung dan mengkontriksi vena serta arteriol. Hormon-hormon ini kemudian bersirkulasi ke seluruh aliran tubuh dan menyebabkan efek perangsangann yang hampir sama dengan perangsangan simpatis langsung terhadap sirkulasi, sehingga tersedia dua sistem pengaturan : (1) perangsangan saraf secara langsung dan (2) efek tidak langsung dari norepinefrin dan/atau epinefrin di dalam darah yang bersirkulasi. 2. Angiotensin II Merupakan vasokonstriktor kuat yang dapat meningkatkan tekanan arteri manusia 50 mmHg tau lebih/sejuta gram. Namun secara nyata kerja angiotensin II bersamaan pada arteriol tubuh untuk meningkatkan tekanan perifer total, yang dengan demikian akan meningkatkan tekanan arteri. Jadi, hormon ini berperan secara integral dalam pengaturan tekanan arteri.

3. Vasopressin Merupakan vasokonstriktor terkuat dalam tubuh. Dibentuk di sel saraf di dalam hipotalamus otak namun kemudian diangkut ke bawah oleh akson saraf ke kelenjar hipofisis posterior tempat zat tersebut berada yang akhirnya disekresi ke dalam darah. Namun dalam kenyataannya hanya sedikit vasopressin yang disekresikan, sehingga berperan kecil dalam pengaturan vaskular. Bekerja maksimal saat terjadi perdarahan untuk mengembalikan tekanan arteri mendekati normal. Fungsi utamanya meningkatkan reabsorpsi air dari tubulus renal kembali ke dalam darah, karena iru membantu mengatur volume cairan tubuh. Fungsi lainnya adalah sebagai hormon antidiuretik. 4. Endotelin Merupakan vasokonstiktor yang kuat. Adanya kerusakan pada endotel menyebabkan

perangsangan untuk pelepasan zat ini. Pelepasan endotelin akan membantu mencegah perdarahan yang berlebihan dari arteri dengan diameter sebesar 5mm yang telah terbuka dan robek akibat cedera.

Zat Vasodilator 1. Bradikinin Merupakan dialtasi kuat arteriol dan peningkatan permeabilitas kapiler. Diyakini bahwa bradikinin berperan khusus dalam pengaturan aliran darah dan bocornyacairan dari kapiler pada jaringan yang meradang.selain itu, berperan normal dalam pengaturan aliran darah di kulit dan di kelenjar liur serta kelenjar gastrointestinal.

2. Histamin Sebenarnya peran besarnya adalah pada reaksi alergi. Namun, histamin memiliki efek vasodilator kuat terhadap arteriol dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan parositas kapiler dengan hebat, sehingga timbul kebocoran cairan dan protein plasma ke jaringan dan memicu edema. Efek histamin dalam menimbulkan vasodilatasi lokal dan edema khususnya terjadi selama reaksi alergi berlangsung.

Pengaturan Vaskular oleh Ion dan Faktor Kimiawi Lainnya 1. Kenaikan konsentrasi ion kalsium menyebabakan vasokontriksi. Hal ini akibat pengaruh umum kalsium untuk merangsang kontraksi otot polos. 2. Kenaikan konsentrasi ion kalium menyebabkan vasodilatasi. Hal ini akibat kemampuan ion kalium untuk menghambat kontraksi otot polos. 3. Kenaikan konsentrasi ion magnesium menyebabkan vasodilatasi hebat karena ion magnesium umumnya menghambat kontraksi otot polos. 4. Kenaikan konsentrasi ion hidrogen (penurunan pH) menyebabkan dilatasi arteriol. Sebaliknya, sedikit penurunan dalam konsentrasi ion hidrogen menyebabkan kontriksi arteriol. 5. Anion yang memiliki pengaruh yang bermakna terhadap pembuluh darah adalah asetat dan sitrat. Keduanya menimbulkan vasodilatasi ringan. 6. Kenaikan konsentrasi karbon dioksida (CO2) menimbulkan vasodilatasi sedang dibagian besar jaringan, namun menimbulkan vasodilatasi hebat di otak. Karbon dioksida di dalam darahyang bekerja pada pusat vasomotor otak, juga memiliki efek tidak langsung sangat kuat. Efek tersebut dihantarkan melalui sistem vasokonstriktor saraf simpatis, untuk menimbulakn vasokontriksi luas di seluruh tubuh.