Anda di halaman 1dari 21

Nomor Rekam Medis Nama Pasien Nama dokter yang merawat Nama dokter muda Masuk RS pada tanggal

Usia

: xx-xx-xx : Tn. S : Dr. Galianti SpKJ : Norasikin Binti Alias : 15 Juni 2013 : 35 tahun

Rujukan/datang sendiri/keluarga : Tn. E (Kakak pasien)

Riwayat Perawatan 1. Tahun 1996 pasien pernah berobat ke RS Polri 2. 15 Juni 2013 sampai sekarang.

STATUS PSIKIATRI
I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur Tempat/Tanggal lahir Agama Bangsa/Suku Status Pernikahan Pendidikan terakhir Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RSJSH : Tn.S : Laki-laki : 35 tahun : Jakarta, 10 Oktober 1978 : Islam : Indonesia / Sunda : Belum menikah : SMA : Tidak bekerja : Cengkareng, Tanggerang. : 15 Juni 2011

II.

RIWAYAT PSIKIATRI Autoanamnesis :15 Juni 2013 di IGD 17 Juni 2013 di bangsal Erlang laki-laki pukul 11.30 12.30 WIB. Alloanamnesis :15 Juni 2013 dengan kakak kandung pasien.

A. Keluhan Utama Pasien datang diantar oleh kakak kandung pasien ( Tn.E ) ke IGD RS.Jiwa dr Soeharto Heerdjan karena pasien mengamuk-ngamuk dan memukul ibunya, kejadian terjadi sejak 1 hari yang lalu. Keluhan tambahan Pasien tidak bisa tidur, marah-marah, bicara sendiri, tertawa sendiri, telanjang dirumah.

B. Riwayat Gangguan Sekarang 20 tahun yang lalu, pasien baru lulus dari sekolah dan diajak oleh teman juga tetangganya untuk sama-sama mencari kerja di Tangerang. Pasien diterima untuk bekerja namun tetangganya tidak. Mulai dari kejadian itu, tetangganya bersikap seolah-olah tidak berpuas hati dan menbicarakan tentang pasien dan turut melibatkan perihal bapa kandung pasien yang sakit jiwa. Oleh karena pasien suka berlagak kaya, pasien juga sering dikatakan orang susah berlagu kaya oleh tetangganya. Pasien sempat murung dan bersedih dengan kejadian itu, tapi hilang timbul dan tidak berkepanjangan. 6 bulan setelah kerja, pasien diberhentikan kerja karena tidak dapat bekerja dengan benar.

Ada waktu pasien terlihat sedih dan beberapa jam kemudian pasien terlihat biasa dan bisa beraktivitas seperti biasa. Pasien sering mengatakan pada keluarganya bahwa dia ingin jadi kaya, punya mobil sendiri. kakaknya juga mengaku bahwa pasien seolah-olah kesal dan sedih menjadi orang miskin dan susah. Pasien dikatakan sering meminta-minta uang dari ibunya dan apabila tidak dikasi, pasien akan mengamuk-ngamuk dan memukul ibunya.

Pasien juga mengaku sering mendengar bisikan, namun tidak mengerti bisikan itu seperti apa. Pasien mengatakan suara bisikan tersebut brisik akibat banyak suara yang berbicara di telinganya. Pasien tidak dapat menjelaskan suara itu berbicara tentang apa atau siapa tapi mengaku mendengar jelas terdapatnya suara-suara burung dari suara itu. Suara tersebut terdengar hampir setiap waktu yaitu sebanyak dua kali sehari. Pasien mengaku sering mengalami gangguan tidur juga karena suara-suara yang mengganggunya itu. Pasien juga mengaku sering melihat bayangbayang putih hitam terutama waktu pagi setelah bangun tidur. Menurut pasien, bayangan tersebut jarang-jarang muncul.

Pasien juga mengaku tiap malam jumat akan melihat api diluar rumahnya yang kebetulan berdekatan dengan kuburan. Dan dari api tersebut keluar seorang nenek tua. Tapi bila ditanya siapa nenek tua itu, pasien menjawab tidak kenal. Saat diwawancara, pasien sesekali akan terdiam beberapa waktu, namun tiap pertanyaan dijawab. Bila ditanya kenapa pasien diam dan termenung, pasien menjawab bahwa dia pusing tapi tidak tahu disebabkan apa.

Menurut keterangan kakak pasien, saat serangan

pertama,

keluarga pasien membawa pasien ke RS Polri namun tidak dirawat inap. Dari situ, pasien diberikan 2 jenis obat yaitu Haloperidol dan THP. Pasien rutin meminum obatnya dan keluarganya juga sering membawa pasien kontrol ke poliklinik apabila obat habis. Akibat dari itu, pasien disuruh minum obat setiap hari, 2 biji waktu pagi dan 2 biji di malam hari.

Pada tahun 2005, pasien berkerja buat kali kedua bersama kakaknya di pabrik bangku namun bertahan. cuma untuk 5 bulan, setelah itu pasien berhenti lagi.

1 tahun yang lalu, pasien pernah mempunyai ide-ide ingin mati dan pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum tinner, namun sempat diselamatkan oleh kakaknya.

Pasien juga dikatakan sering berbicara sendiri, kadang-kadang sampai tidak tidur malam. Keluarganya juga mengaku bicaranya pernah tidak menyambung dan sering berbicara sendirian. Pasien juga dikatakan pernah sampai telanjang apabila pasien sedang dalam serangan. Menurut pasien, pasien tidak sadar kenapa pasien telanjang dan menyangkal ada suara atau arahan yang menyuruh pasien telanjang.

2 bulan yang lalu, pasien mulai tidak minum obat. Hal ini garagara pasien merasa malas dan merasa sudah sehat dari sebelumnya.

1 hari SMRS, pasien mengamuk-ngamuk karena tidak dituruti apabila pasien meminta uang dan pasien memukul ibunya yang sedang sakit.

Pasien tidak pernah merasa hilang minat, tidak pernah berasa bersalah atas segala yang terjadi, tidak berasa terlalu lelah dan hilang motivasi dan hilang nafsu makan. Pasien juga menyangkal yang sebaliknya seperti terlalu gembira, berasa sangat kaya dan suka

memberikan barang-barang ke orang lain. Pasien juga menyangkal adanya perasaan orang sekitar iri terhadap pasien , diperhatikan terus dan cemburu. Pasien juga menyangkal perasaan disenangi sama semua orang contohnya artis. Pasien tidak pernah merasa dirinya atau sekitarnya berubah atau terlihat aneh

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. Gangguan Psikiatrik Menurut kakak pasien (Tn.E), pasien pertama kali

menunjukkan perilaku yang tidak biasa pada tahun 1996. Saat itu pasien seperti orang bingung , sulit tidur, dan sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Saat itu sosialisasi pasien dengan lingkungan sekitar baik. Pasien juga masih bekerja di pabrik kayu di Karawaci. Kakak dan kakak ipar pasien mengatakan pasien mula menunjukkan perilaku yang tidak biasa sejak 20 tahun yang lalu yaitu pada tahun 1996. Pada waktu itu, pasien baru lulus dari sekolah dan diajak oleh teman yang juga tetangganya untuk sama-sama mencari kerja di Tangerang. Pasien diterima untuk berkerja namun tetangganya tidak. Mulai dari kejadian itu, tetangganya bersikap seolah-olah tidak berpuas hati dan membicarakan pasien pada teman lain dan turut melibatkan perihal bapa kandung pasien yang sakit seperti pasien. Selanjutnya pihak keluarga dan orang tua pasien merasa

sangat khawatir terhadap kondisi pasien, lalu mengajak pasien untuk

berobat jalan ke RS Polri untuk pertama kalinya pada tahun 1996. Pasien mulai minum obat terkontrol, tapi 2 bulan sebelum ke RS yang sekarang yaitu pada tahun 2013 pasien tidak mau lagi berobat ke poliklinik dan tidak meminum obat sehingga timbul keluhan tersebut. Pada tanggal 15 Juni 2013 pasien dibawa oleh kakak kandung pasien ke RS. Jiwa Soeharto Heerdjan untuk dirawat inap dan masuk ke bangsal erlang hingga sekarang.

Grafik perjalanan penyakit

1996 1996

2012

15/4/2013 17/6/2013

-mulai bekerja, berhenti setelah 6 bulan -teman-teman membicarakan tentang pasien dan bapa pasien -mendengar suara-suara dan melihat bayangan -mengamuk marah-marah,memukul ibunya -rawat jalan di RS Polri

2012 - minum tinner , sempat diselamatkan kakak pasien

15/4/2013- tidak minum obat

-mengamuk marah-marah ,memukul ibunya 17/6/2013-pasien terlihat tenang -kooperatif - tidak mendengar suara-suara

2. Gangguan Medik Menurut kakak kandung pasien, pasien tidak pernah

mengalami kecelakaan. Pasien juga menyangkal riwayat cedera di daerah kepala yang menyebabkan pasien pingsan. Demam tinggi dan kejang disangkal pasien. Riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis disangkal. 3. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol Pasien mengaku suka merokok sehari sebungkus. Pasien tidak minum beer, anggur wine dan alcohol. Pasien tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang D. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Pasien lahir spontan, cukup bulan, ditolong oleh bidan di Klinik Bersalin, tidak ada komplikasi kelahiran, tidak ada trauma dan tidak ada cacat bawaan. Ibu pasien tidak pernah sakit saat mengandung pasien dan pasien merupakan anak yang diinginkan. Pasien merupakan anak keenam dari enam bersaudara.

2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun) Pasien tergolong anak yang sehat dengan proses tumbuh kembang dan tingkah laku normal dengan anak seusianya. Pasien tidak pernah mengalami trauma maupun kejang saat kecil. 3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun) Masa ini dilalui dengan baik, tumbuh kembang baik dan normal seperti anak seusianya. Pasien memiliki cukup banyak teman dan tidak pernah tinggal kelas, prestasi belajar pasien rata-rata. 4. Masa Kanak Akhir (Pubertas Remaja) a. Hubungan Sosial Pasien cukup senang bergaul dan mempunyai banyak teman di lingkungan sekolah dan lingkungan rumahnya. b. Riwayat Pendidikan Pasien pernah bersekolah sampai tamat SMA. Pasien tidak melanjutkan sekolah karena alasan biaya. c. Riwayat Psikoseksual Berdasarkan keterangan pasien, Pasien mulai menyukai lawan jenis smp. Tapi tidak ada yang dianggap dekat oleh pasien. d. Latar Belakang Agama Pasien beragama Islam, dan cukup taat dalam beribadah saat pasien belum sakit. Pada saat sakit pasien menjadi sudah jarang beribadah. e. Riwayat Pelanggaran Hukum Pasien mengatakan tidak pernah terlibat dalam proses pengadilan yang berkaitan dengan hukum.

5. Masa Dewasa a. Riwayat Pekerjaan Pasien pernah bekerja sebagai karyawan di pabrik kayu sampai 6 bulan setelah pasien berhenti sekolah pada umur 19 tahun. b. Aktivitas sosial Menurut kakak kandung pasien, sebelum sakit pasien mempunyai cukup teman dan memiliki hubungan yang baik dengan tetangga maupun warga sekitarnya, namun setelah sakit pasien dijauhi orang sekitar. c. Riwayat Pernikahan Pasien belum pernah menikah E. Riwayat Keluarga Pasien terlahir dari pasangan Tn.A dan Ny.E Pasien merupakan anak terakhir dari enam bersaudara. Berdasarkan keterangan ibu kandung pasien , bapa pasien mempunyai riwayat gangguan jiwa di keluarga POHON KELUARGA

E y . R

Keterangan gambar: Pria

Wanita Pasien

Keluarga yang sudah meninggal Keterangan : A. Ayah Pasien (Tn A.), xx tahun, laki-laki. Ayah pasien telah meninggal dunia saat pasien kelas 5 SD. Dahulu ayah pasien bekerja sebagai buruh. B. Ibu Pasien (Ny E), xx tahun, perempuan, Ibu pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. 1. Pasien (TnS.), 35 tahun, laki- laki, belum menikah, tidak bekerja 2. Kakak pasien (Tn. R.), 44 tahun, laki- laki, sudah menikah dan bekerja sebagai buruh. 3. Kakak pasien ( Tn D), 42 tahun, laki-laki,sudah menikah,karyawan PT Swalayan 4. Kakak pasien ( Ny N), 41 tahun, perempuan, sudah menikah, tidak bekerja 5. Kakak pasien (Ny C), 39 tahun, perempuan,sudah menikah, bekerja sebagai guru di Jakarta 6. Kakak pasien (Ny T) 37 tahun, perempuan,sudah menikah,ibu rumah tangga

F. Riwayat Sosial Ekonomi Sekarang Pasien tinggal di suatu perumahan di daerah cengkareng,Tanggerang. Rumah pasien berada di lingkungan yang padat penduduk. Pasien tinggal bersama dengan ibu pasien. Kondisi ekonomi keluarga pasien termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Pasien tidak bekerja dan mendapatkan uang dari ibunya. G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya Pasien mengetahui jika dirinya sedang berada di RSJSH daerah Grogol. Pasien mengatakan dirinya dibawa kesini karena marah- marah dan memukul ibunya. Pasien sadar bahwa dirinya memiliki sifat yang kurang sabar, sering marah-marah. Pasien tidak mau berlama lama di RSj dikarenakan sebenarnya dia tidak merasakan sakit.

A. STATUS MENTAL Dilakukan pada tanggal 17 Juni 2013 di bangsal Erlang RSJ pada pukul 1100 WIB Deskripsi Umum 1. Penampilan Pasien seorang laki-laki berusia 35 tahun, penampilan fisik sesuai dengan usianya, bentuk tubuh pasien baik, perawakan sedang, berambut cepak dan berwarna hitam, kulit kecoklatan, pada saat wawancara, pasien memakai kaos lengan pendek berwarna coklat dan celana pendek , tanpa memakai alas kaki. Kebersihan dan kerapian diri pasien cukup baik. 2. Kesadaran Kesadaran Neurologis / sensorium : Compos mentis

3. Perilaku dan aktivitas motorik Sebelum wawancara Selama wawancara : Pasien terlihat duduk tenang bersama teman. : Pasien duduk tenang dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan, kontak mata terbatas. Pasien cukup kooperatif dalam menjawab semua pertanyaan Sesudah wawancara : Pasien kembali duduk bersama teman

4. Sikap terhadap pemeriksa Kooperative, pasien menjawab semua pertanyaan pewawancara dengan jelas dan singkat.

5. Pembicaraan Pasien menjawab pertanyaan dengan bahasa yang jelas Pembicaraan lancar dan pemeriksa dapat menangkap maksud dari pembicaraan pasien B. Alam Perasaan 1. Keadaan perasaan (mood) 2. ekspresi afektif Afek Keserasian : Terbatas : tidak serasi, tumpul : Hipotim

C. Fungsi Intelektual (Sensorium dan Kognitif) 1. Taraf pendidikan Taraf pengetahuan Umum Taraf kecerdasan : SMP : Baik : Sesuai dengan pendidikannya

2. Daya konsentrasi 3. Daya ingat jangka panjang Daya ingat jangka pendek Daya ingat sesaat 4. Daya orientasi waktu Daya orientasi tempat Daya orientasi personal Daya orientasi situasi 5. Pikiran abstrak 6. Kemampuan menolong diri

: Baik : Baik : Baik : Baik : Baik (pasien dapat mengetahui waktu wawancara pada siang hari) : Baik (pasien sadar bahwa pasien Sekarang sedang berada di RSJSH : Baik (pasien mengetahui sedang diwawancarai oleh dokter muda) : Baik ( pasien tahu bahwa situasi Sekeliling saat wawancara tenang) : Baik : Baik ( pasien dapat mandi, makan, minum, memakai atau mengganti pakaian sendiri )

7. Kemampuan Visouspatial 8. Bakat dan Kreatif 4 Gangguan Persepsi Halusinasi Ilusi Depersonalisasi Derealisasi

: Baik : Baik

: Halusinasi visual, halusinasi auditorik : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Proses Pikir 1. Arus pikir Produktivitas Kontinuitas pikiran Hendaya berbahasa 2. Isi pikir Preokupasi Waham : Tidak ada : Tidak ada : Cukup : Koheren : Tidak ada

Pengendalian Impuls Kemampuan mengendalikan impuls cukup baik selama wawancara

Daya Nilai 1. Daya nilai sosial 2. Uji daya nilai 3. Daya nilai realita auditorik dan visual : Cukup baik (pasien mengetahui bahwa mencuri itu tidak baik) : Terganggu (pasien tidak membuang sampah pada tempatnya) : Terganggu , pasien memiliki halusinasi

8 9 IV.

Tilikan menderita sakit) Taraf dapat dipercaya

: Derajat 1( pasien menyangkal bahwa ia : Dapat dipercaya

STATUS FISIK A. Status Internus Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital: : Baik : Compos mentis

Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan Pemeriksaan Fisik: Bentuk badan Kepala Mata Mulut Leher Thoraks

: 120/80 mmHg : 80x/ menit : 36.9C : 18 x/menit

: Normal : Normocephali : Konjungtiva tidak pucat -/-, sklera tidak ikterik -/: Bibir berwarna kehitaman, pucat, agak kering. : KGB dan tiroid tidak teraba membesar : Cor : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo : suara nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen Urogenital Ekstremitas Dermatologis B. Status Neurologis

: Buncit, tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba membesar, bising usus (+) : Tidak dilakukan pemeriksaan : Akral hangat, deformitas (-) : Tidak dilakukan pemeriksaan

Tanda rangsang meningeal Refleks fisiologis V.

: Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan Pemeriksaan

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan darah lengkap Laboratorium: Hb Ht LED : 13,5mg/dL : 40 gr% : 21 mm/ jam

Leukosit Trombosit

: 5300 mm/jam :231.000 U/L

VI.

IKTHISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien seorang laki-laki berusia 35 tahun, beragama islam, belum menikah dan tidak bekerja, penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Perawakannya kurus sedang dengan rambut berwarna hitam cepak, kulit sawo matang, berpakaian cukup rapi, berupa kaos lengan pendek berwarna coklat, memakai celana pendek dan tanpa memakai alas kaki. Pasien datang ke RS. Jiwa dr Soeharto Heerdjan pada tanggal 15 Juni, diantar oleh kakak pasien karena pasien sering mengamuk-ngamuk, memukul orang tua. Menurut kakak pasien, pasien mengamuk-ngamuk dan memukul ibunya karena tidak memberikan uang pada pasien. Selain mendengar suarasuara yang tidak jelas, pasien juga melihat bayangan putih hitam. Pasien dibawa berobat jalan ke RS Polri dan control teratur di poliklinik. Pada tahun 2012, pasien melakukan percobaan bunuh diri setelah meminum tinner namun sempat diselamatkan kakak pasien. 2 bulan SMRS, pasien berhenti minum obat, karena malas dan sudah merasa lebih sehat dari sebelumnya. Sewaktu pemeriksaan status mental , pasien menjawab pertanyaan dengan bahasa yang jelas. Pasien menunjukkan sikap yang kooperatif. Mood pasien hipotim,afek terbatas, tidak serasi. Terdapat halusinasi visual dan auditorik. Tilikan pasien derajat 1. Dari pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dalam batas normal. Status fisik dan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaaan laboratorium dalam batas normal

VII.

FORMULASI DIAGNOSTIK Pada pasien terdapat pola perilaku atau psikologis yangs secara bermakna dan khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan hendaya(disfungsi) dalam

berbagai fungsi psikososial dan pekerjaan. Pada pasien ini didapatkan adanya halusinasi auditorik dan visual yang menyebabkan fungsi psikososialnya terganggu. Dalam hal ini, pasien sudah tidak dapat bekerja lagi. Terdapat pula penderitaan ( disstress) yang dialami pasien. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa. Diagnosis Aksis 1 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien tidak ada masalah dengan trauma kepala, riwayat tindakan operatif, tindakan kondisi medis lain yang dapat secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi fungsi otak. Oleh karena itu,gangguan mental organik (F00-F09) dapat disingkirkan. Pada pasien tidak ditemukan memiliki riwayat penggunan zat psikoaktif. Sehingga diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (F10-19) dapat disingkirkan. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan status mental terdapat adanya gangguan penilaian realita. Pada pasien ini didapatkan adanya riwayat halusinasi auditorik dan halusinasi visual. Tilikan pasien juga terganggu yaitu derajat 1.Pasien juga didapatkan gejala-gejala negative seperti bicara sendiri dan perilaku aneh. Dari data di atas memenuhi criteria bahwa pasien mengalami psikosis. Dari data di atas dapat ditegakkan skizofrenia tipe paranioid pada pasien ini.

Diagnosis Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental Tidak terdapat gangguan kepribadian pada pasien Diagnosis Aksis III : Kondisi Medis Umum Tidak ada diagnosis karena dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis tidak ditemukan kondisi medis yang berhubungan dengan kondisi pasien saat ini.

Diagnosis Aksis IV : Problem Psikososial dan Lingkungan Pada pasien ini ditemukan adanya masalah pekerjaan karena pasien tidak dapat bekerja sejak timbul gangguan. Selain itu, akibat tidak bekerja pasien juga mengalami masalah ekonomi karena tidak memiliki penghasilan. Selain itu, terdapat juga masalah yang berkaitan dengan lingkungan sosial,dimana tetangga mulai menghindari pasien akibat perilaku pasien sendiri.

Aksis V : Penilaian Fungsi Secara Global Berdasarkan Global Assesment of Functioning (GAF) dalam satu tahun terakhir ( The High Level past Year = HLPY) adalah 61-70 ( beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik ). Dan GAF pada saat pemeriksaan ( current) didapatkan nilai 51-60 ( gejala sedang, disabilitas sedang) VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid Aksis II : Tidak ada doiagnosis Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : masalah berkaitan linkungan sosial dan ekonomi Aksis V : GAF HLPY 61- 70 , GAF current 51-60 XI. DAFTAR PROBLEM 1. Organobiologik 2. Psikologik 3. Sosiobudaya : Tidak ditemukan kelainan organik Didapatkan faktor herediter : riwayat halusinasi auditorik dan halusinasi visual : hendaya dalam fungsi sosial dan pekerjaan

VIII.

PROGNOSIS Factor yang memperingan prognosis -pasien pernah bekerja -Pasien dibawa berobat sejak mulai menunjukkan gejala

Factor yang memperberat prognosis: -ada factor herediter ( ayah pasien) -riwayat putus obat Ad Vitam: Ad Bonam Ad fungsional : Dubia ad bonam Ad sanasionam : Ad malam IX. PENATALAKSANAAN 1. Psikofarmaka -Haloperidol 2x2mg -THP 2x2mg -Merlopam 1x1 2. Psikoterapi Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan masalahnya dan meyakinkan pasien bahwa ia sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya. Memotivasi pasien agar selalu berpikir positif Menganjurkan pasien untuk bersikap baik dengan teman-temannya Melibatkan keluarga dalam pemulihan, dengan memberikan pengarahan kepada keluarga agar tetap memberi dukungan untuk pulih dan tidak selalu mengkritik setiap kegiatan pasien yang kurang tepat,

Me-reedukasi keluarga tentang pentingnya mengawasi dan ikut serta dalam mendisiplinkan pasien untuk mengkonsumsi obat yang diberi dan kontrol rutin setelah pulang dari RS.Jiwa dr Soeharto Heerdjan guna perbaikan kualitas hidup pasien.

3. Sosioterapi : Melibatkan pasien dalam berbagai aktivitas di RSJSH, seperti kegiatan rehabilitasi dengan melatih keterampilan pasien, selain itu untuk memotivasi pasien agar mudah bergaul dengan pasien lain dan diikut sertakan dalam kegiatan rohani.